cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sain Veteriner
ISSN : 012660421     EISSN : 24073733     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 824 Documents
Deteksi Staphylococcus aureus dan Staphylococcus sp. Secara Langsung Dari Susu Segar Kambing Peranakan Etawa dengan Teknik PCR Fatkhanuddin Aziz; Fajar Budi Lestari; Sarah Nuraida S; Endah Purwati; Siti Isrina Oktavia Salasia
Jurnal Sain Veteriner Vol 38, No 2 (2020): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.53802

Abstract

Genus Staphylococcus merupakan salah satu patogen bakteri penyebab mastitis yang menyebabkan kerugian ekonomi pada kambing Peranakan Etawa. Diantara Staphylococcus sp. yang dapat tumbuh dengan baik dalam susu segar, diketahui Staphylococcus aureus dapat membahayakan kesehatan manusia yang mengkonsumsi (food borne disease) karena kemampuannya dalam memproduksi enterotoksin yang tahan terhadap enzim pencernaan maupun pemanasan. Tujuan penelitian ini adalah mendeteksi Staphylococcus sp. dan S. aureus secara langsung dari susu kambing peranakan etawa dengan teknik PCR.Metode yang dilakukan adalah mengekstraksi DNA dari 60 sample susu segar dengan prinsip spin column-based nucleic acid purification dan kemudian dilakukan amplifikasi gen spesifik 23S rRNA Staphylococcus sp. dan S. aureus. Hasil PCR diketahui 37 (61%) sampel susu positif mengandung Staphylococcus sp. dan hanya 1 (1,6%) sampel mengandung S. aureus. Metode deteksi dengan PCR dapat digunakan untuk mendeteksi kontaminan Staphylococcus sp. dan S. aureus dengan waktu yang singkat
Pengaruh Bunting dan Laktasi Terhadap Hematologi dan Mineral Kambing Peranakan Ettawa di Kulonprogo, Yogyakarta, Indonesia Sarmin Sarmin; Amelia Hana; Pudji Astuti; Claude Mona Airin
Jurnal Sain Veteriner Vol 38, No 3 (2020): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.54190

Abstract

The effects of pregnancy and lactation on hematochemical and mineral parameters were evaluated in Ettawa cross-bred goats in Disctrict Kulonprogo, Yogyakarta, Indonesia. Blood plasma samples were collected from 14 th pregnant goats (2 month n=4; 3 month n=6; 4 month n=4) and 16 lactation goats (1 month, n= 4; 2 month, n=5; 3 month, n=3 and 4 month, n=4). Blood serum samples were collected from 18 pregnanct goats (1 month, n=3; 2 month, n=2; 3 month, n=6; 4 month, n=4) and 16 lactation goats (1 month, n=4; 2 month, n=5; 3 month, n=3; 4 month, n=4).  The does averaged 2.5-4 years old and their mean body weights were 30-40 kg. The current result showed that pregnant does recorded higher (p<0.05) values of RBCs and hematocrites compared to lactating does. The higher RBCs during the first and third month of pregnantion and the higher hematocrites values during the first of pregnantion. There were not significant differences in MCV, MCH, MCHC, neutrophyls,  limphocytes, monocytes, WBCs, eosinophyls, and minerals Mg2+, in organic  , Na+, K+ and Cl-during pregnantion and lactation.  The results indicated that pregnantion and lactation has significant effect on RBCs and hematocrites of Ettawa crossbred goats in district Disctrict Kulonprogo, Yogyakarta, Indonesia
Faktor Risiko Cemaran Escherichia coli pada Daging Kambing dan Domba Kurban di Provinsi DKI Jakarta Wahyu Septiani; Herwin Pisestyani; Renova Ida Siahaan; Chaerul Basri
Jurnal Sain Veteriner Vol 38, No 3 (2020): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.54388

Abstract

Escherichia coli merupakan salah satu bahaya biologis yang mempengaruhi keamanan daging  kambing dan domba Kurban. Penelitian ini ditujukan untuk mengukur tingkat kontaminasi dan menentukan faktor risiko yang mempengaruhi tingkat cemaran E. coli pada daging kambing dan domba kurban di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari hasil pemeriksaan kesehatan hewan dan daging Kurban. Tingkat kontaminasi E.coli diperoleh dari hasil pemeriksaan  laboratorium dengan metode MPN, sedangkan data faktor risiko diperoleh dari penilaian kelayakan tempat kurban menggunakan checklist yang dikembangkan oleh tim Fakultas Kedokteran Hewan IPB University. Data dianalisis menggunakan uji chi-square untuk menentukan asosiasi dan rasio odds (OR) untuk mengukur kekuatan asosiasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 66,7% tempat penyelenggaraan kurban telah menghasilkan daging kambing dan domba yang mengandung E. coli dengan level melampaui batas Standar Nasional Indonesia/SNI (1 × 101 MPN / g). Faktor risiko selalu membersihkan kotoran hewan memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kontaminasi E. coli. Faktor risiko lain termasuk keberadaan sertifikat kesehatan hewan, kepadatan hewan, dan bagaimana hewan ditangani setelah disembelih (hewan tidak ditumpuk) juga cenderung memiliki hubungan dengan tingkat kontaminasi E. Coli meskipun tidak signifikan secara statistik. Penyelenggara Kurban harus meningkatkan praktik higiene dan sanitasi dalam mengolah daging untuk mengendalikan tingkat kontaminasi E.coli. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta perlu meningkatkan upaya untuk memperbaiki kesadaran masyarakat melalui komunikasi, edukasi dan informasi terkait praktik-praktik penanganan daging yang baik untuk Kurban.
Akumulasi Fibrin dalam Anterior Chamber Pada Kucing Penderita Tripanosomiasis dan Feline Immunodeficiency Virus Kurnia Kurnia; Dyah Kunthi Wirapratiwi; Setyo Budhi; Guntari Titik Mulyani; Dwi Priyowidodo
Jurnal Sain Veteriner Vol 39, No 1 (2021): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.54614

Abstract

Tripanomiasis merupakan penyakit yang disebabkan oleh Tripanosoma sp, protozoa hemoflagellata dari kelas Zoomatigophora dan famili Tripanosomatidae. Tripanosomiasis banyak dijumpai di daerah tropis dan menyerang berbagai hewan domestik seperti kuda, sapi, kerbau, onta, anjing, kucing dan tikus. Feline immunodeficiency virus (FIV) dikenal sebagai  feline AIDS adalah spesies virus dalam genus Lentivirus, menyebabkan penurunan sistem imun pada kucing dimana tubuh tidak dapat mengatasi serangan dari berbagai sumber penyakit lain sehingga muncul infeksi tambahan. Umumnya kucing tidak menimbulkan gejala klinis infeksi FIV meskipun telah berlangsung beberapa tahun. Seekor kucing domestik jantan, 3 tahun didiagnosis Tripanosomiasis dan positif FIV. Kedua mata terlihat berwarna keputihan, berawal dari mata kiri, berukuran kecil yang berkembang secara progresif selama 2 minggu, diikuti penurunan nafsu makan serta kondisi badan yang semakin kurus. Kucing berasal dari kucing jalanan, dan gemar memakan tikus maupun burung, serta belum dilakukan vaksinasi. Hasil pemeriksaan klinis menunjukkan mukosa anemik, dehidrasi, oedema di daerah submandibular hingga bahu, BCS 4/9, dan uveitis anterior. Hasil pemeriksaan hematologi dan kimia darah menunjukkan anemia normositik-hipokromik, trombositophenia, normal leukosit total dengan peningkatan relatif monosit, nilai SGPT dan SGOT yang sangat tinggi, peningkatan creatinin dan penurunan total kolesterol. Hasil pemeriksaan rapid test menunjukkan positif antibodi FIV (Feline Immunodeficiency Virus), negatif Feline Leukemia Virus, serta negatif  toksoplasma. Pemeriksaan apus darah menunjukkan mild anemia tanpa polikromasia, dan ditemukan flagellata Trypanosoma sp. Akumulasi fibrin di dalam anterior chamber yang bersifat progresif-bilateral disertai dengan aqueous flare dan normal retina merupakan gambaran anterior uveitis sebagai gejala klinis yang menciri dari Tripanosomiasis pada kucing dan infeksi FIV.
KORELASI ANTARA PADAT TEBAR DENGAN INFESTASI EKTOPARASIT PADA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DI TAMBAK SUPER INTENSIF Adiacahya, Eren; Koesdarto, Setiawan; Mahasri, Gunanti
Jurnal Sain Veteriner Vol 38, No 2 (2020): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.54894

Abstract

Teknologi budidaya udang yang sudah banyak digunakan di pertambakan di Indonesia, adalah teknologi budidaya yang menggunakan pola super intensif, dengan menggunakan padat tebar yang tinggi, yaitu lebih dari 150 ekor/meter persegi. Padat tebar yang tinggi tersebut dapat mengakibatkan kondisi air sebagai  media mengalami penurunan, sehingga menyebabkan udang mengalami stres dan penurunan pertahanan tubuh, sehingga udang akan mudah terserang penyakit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk  mengetahui korelasi antara padat tebar dengan infestasi ektoparasit protozoa pada udang vaname (Litopenaeus vannamei) pada tambak super intensif. Penelitian ini merupakan penelitian Survei, dengan Rancangan Penelitian Cross Sectional Study, pengambilan sampel menggunakan metode proporsive sampling, yang  dilakukan di daerah pertambakan di Kabupaten Tuban. Sampel udang yang diambil masing-masing sebanyak 50 ekor dari 3 petak tambak dengan padat tebar 150, 200 dan 300 ekor/m2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ektoparasit yang ditemukan pada udang vaname yang dipelihara pada tambak dengan padat tebar tinggi (super intensif) adalah  Zoothamnium, Epistylis dan Vorticella, dengan intensitas berturut-turut sebesar 278,32 ; 391,34 dan 466,02 dengan derajat infestasi berat, pada semua udang yang dipelihara baik pada padat tebar 150, 200 dan 300 ekor/m2. Tidak ada korelasi antara padat tebar dengan infestasi ektoparasit pada udang vaname pada tambak super intensif,  dengan nilai R = 0,394, adanya peningkatan padat tebar tidak diiringi dengan infestasi ketiga genus ektoparasit tersebut.
Study of doking molecule flavonoid Coleus amboinicus in TGF-1b receptor and lowering MDA concentration on Cisplatin-induce Wistar Rats Wida Wahidah Mubarokah; Rondius Solfaine; Lailatul Muniroh
Jurnal Sain Veteriner Vol 38, No 2 (2020): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.55685

Abstract

The aims of this study is to evaluate molecular docking of flavonoid Coleus amboinicus (CA) extracts in transforming growth factor-1b and lowering MDA concentration on cisplatin-induced in Wistar rat. Eighteen male Wistar rats (Rattus norvegicus), 3 months of age with a body weight (BW) of 150-200 g, were allocated into three groups, with six animals per group. The control group received aquadest (P0), the treatment group were treated with single doses of cisplatin (5 mg/kg bw., ip) (P1) and  received 100 mg/kg bw of the CA extracts (P2) respectively for 7 days. Bloods collected for analysis of serum alkaline phospatase (AP), Blood Nitrogen Urea (BUN) and Malondialdehid (MDA) concentrations. The levels of Malondialdehid (MDA) concentrations were analysed by Avidin-Horseradish Peroxidase (HRP) Sandwich-ELISA. All groups were sacrified for histopathology. Coleus amboinicus extract significantly decreased the level of AP, BUN and MDA concentrations compared to the control group (p<0.05). The level of MDA could be detected by its level significantly decreased in CA treatment group (p<0.05). Coleus amboinicus (CA) extract has a flavonoid as a marker compound of CA extract has stronger bind to the TGF-β1receptor than its of 3WA_601 ligand in silico analyzed. In histopathological examination showed that cisplatin-induced could alter severe multifocal hemorrhage, interstitial congestion, cell inflammatory, acute glomerular and tubular injury with necrotic cells. Immunohistochemical staining labeled with TGF-1β monoclonal antibodies (Mab) showed marked expression of brownish color aggregates on the surface of tubular epithelial cells and around glomerular mesangial cells in the CA treatment group. This study was concluded that CA extract is inhibited renal tissue injuries by lowering MDA and increasing TGF-1b expression on cisplatin-induced rats. Flavonoid as marker of CA extract has stronger bind to TGF-1b receptor by in silico.
SEROPREVALENSI PENYAKIT AVIAN INFLUENZA SUBTIPE H5N1 PADA AYAM BURAS DI PASAR BERINGKIT DAN GALIRAN, BALI Baiq Indah Pertiwi; Gusti Ayu Yuniati Kencana; I Nyoman Suartha
Jurnal Sain Veteriner Vol 38, No 3 (2020): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.55896

Abstract

Avian Influenza (AI) is a strategic communicable and zoonotic disease. The cause is a virus with Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) subtype H5N1. The poultry market has important roles in the preservation, propagation, and spreads of the Avian Influenza (AI) virus from poultry to other species and humans. The purpose of this study was to determine the level of seroprevalence of Avian Influenza (H5N1) in free-range chickens at the Beringkit and Galiran market. A total of 120 free-range chickens were used as a sample. They have taken 60 serum samples per market. Serum removal is made from 5 merchants under the provisions of 3 samples from merchants who sell 6 to 10 free-range chickens. The sampling period is carried out for 2 months every 2 weeks 4 times. Sample testing was performed at the Denpasar Veterinary Centre with Haemagglutination (HA) and Haemagglutination Inhibition (HI) as barriers. The data titer of the antibodies obtained was analyzed by Non-Parametric Statistic Test Chi-Square (χ2) using IBM SPSS for windows. The results of the study showed that the AI subtype of the H5N1 subtype in both Beringkit Markets is 3.3% and Galiran Market is 6.7%, with seroprevalence in the two markets of 5.0% which is statistically not dissimilar (P<0.05). To prevent the transmissions of AI disease at the Beringkit Market and Galiran is recommended for vaccination and more attention to the market management and the free-range chicken maintenance system.
STATUS KLINIS DAN DETEKSI LipL32 SAPI SEROPOSITIF LEPTOSPIROSIS DI KABUPATEN KULON PROGO Guntari Titik Mulyani; Wayan Tunas Artama; Estu Widodo
Jurnal Sain Veteriner Vol 39, No 1 (2021): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.55930

Abstract

  Leptospirosis is a zoonotic disease caused by Leptospira interrogans. Animals can act as carriers, spread leptospires in urine, and be a source of infection for other animals and humans. In leptospirosis cows can cause abortion, early birth, infertility, decreased milk production and death. The aims of this study was to determine the clinical status and detect the presence of leptospires with Polymerase Chain Reaction (PCR) from urine cows that are expressed as leptospirosis seropositive. A total of 12 cattle seropositive leptospirosis with Microscopic Agglutination Test (MAT) were carried out clinical examinations covering general conditions, pulsus examination, breathing and temperature and organ systems. The urine is collected aseptically, then DNA isolation is carried out using a kit from Genoid. Detection of leptospires in the urine is carried out by detecting the presence of the primary lipoprotein LipL32 making up the Leptospira membrane. The primer was designed with a 21-base forward forward: 5'-TGG ATC TGA TCA ACT ATT ACG-3 ‘containing 38.1% GC with Tm 57.2oC. 22 bases reverse reverse obtained: 5 '-CAC TTC ACC TGG TTT GTA GGT-3' containing GC 45.5% with Tm 62.1oC. Amplification was carried out as many as 40 cycles and continued with electrophoresis to determine the band formed at a wavelength of 506 bp. The results showed that all cows that were positive for leptospirosis with MAT were in a clinically healthy condition. In electrophoresis there are 7 out of 12 positive samples found in the urine leptospira indicated by the formation of a band at 506 bp. From the results of this study it can be concluded that leptospirosis-positive cows do not always show clinical symptoms, but have the potential to excrete leptospires along with urine, so they can act as a source of transmission of leptospirosis to humans, other animals, and the environment. 
Prevalence and risk factors of Cryptosporidium spp. on dairy farms in Bogor Arifin Budiman Nugraha; Umi Cahyaningsih; Etih Sudarnika
Jurnal Sain Veteriner Vol 39, No 1 (2021): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.55961

Abstract

Cryptosporidial infection is one of the most common causes of diarrhea in humans and livestock worldwide. This study was conducted to estimate the prevalence of Cryptosporidium infection and to identify potential risk factors associated with shedding of oocysts in Bogor. A total of 308 faecal samples were collected from 136 calves less than 6 months, 44 from those 6-12 months and 128 from those than 12 months. Data of factors potentially associated with the likelihood of Cryptosporidium spp. infection were recorded (i.e., enviromental status, size of herd, and herd management). Cryptosporidium spp. oocyst was identified by using modified acid fast (Ziehl Neelsen) staining technique and microscopically examined under 400x magnifition. Results showed that the prevalence of cryptosporidiosis in Bogor was 21.1% (CI 95%; 16.5%-25.6%). The highest prevalence was 29% (CI 95%; 26.8%-31.7%) in cattle aged less than 6 months. The oocysts abundance were around <5 oocysts per microscopy visual area. Data was analyzed using logistic regression models.  Statistical analysis showed that there were association between cryptosporidiosis and calves aged less than 6 months with an odds ratio (OR) of 2.7 (CI 95%; 1.5-5.2) times compared with cattle aged more than 12 months.
Analisis Epidemiologi Kasus Hipofungsi Ovarium pada Sapi Potong di Kabupaten Jepara Aldi Salman; Surya Agus Prihatno; Bambang Sumiarto
Jurnal Sain Veteriner Vol 39, No 1 (2021): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.56788

Abstract

Hipofungsi ovarium menjadi kasus gangguan reproduksi yang memiliki angka kejadian paling tinggi di Jawa Tengah, dengan kerugian peternak karena panjangnya Calving Interval dan biaya pengobatan yang tinggi. Kualitas pakan seringkali dianggap menjadi menjadi penyebab hipofungsi ovarium, tetapi juga terdapat faktor lain yang mengakibatkan munculnya penyakit. Penelitian bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan faktor risiko hipofungsi ovarium pada sapi potong, serta model untuk memprediksi penyakit hipofungsi ovarium di Kabupaten Jepara.  Sapi betina produktif sebanyak 304 ekor sampel dari 176 peternak dipilih secara formal random sampling pada 14 desa di 7 kecamatan dengan tahapan ganda. Dilakukan anamnesis pada peternak dan pemeriksaan sapi  secara per rektal untuk mengetahui status reproduksi, serta kuesioner untuk tingkat peternakan dan individu ternak. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi hipofungsi ovarium 8,88% dan faktor risiko yang mempunyai hubungan adalah frekuensi pakan tambahan/PKTB (OR=12,77) dan pakan utama/PKUT (OR=9,59). Variabel yang menurunkan hipofungsi ovarium adalah jenis ternak/JNT (OR=0,37), kepemilikan ternak satu/PUNYA1 (OR=0,34), umur ternak/UMT (OR=0,32), status laktasi/STLAK (OR=0,07) dan umur sapih/SAPH (OR=0,027). Model persamaan pada tingkat ternak adalah Ln P/1-P = 5,709 - 3,198xSAPH - 1,825xSTLAK - 0,992xJNTR. Model persamaan pada tingkat peternakan adalah Ln P/1-P = 1,213 + 1,813xPKUT + 1,736xPKTB - 1,331xPUNYA1

Filter by Year

1995 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 43, No 3 (2025): Desember Vol 43, No 2 (2025): Agustus Vol 43, No 1 (2025): April Vol 42, No 3 (2024): Desember Vol 42, No 2 (2024): Agustus Vol 42, No 1 (2024): April Vol 41, No 3 (2023): Desember Vol 41, No 2 (2023): Agustus Vol 41, No 1 (2023): April Vol 40, No 3 (2022): Desember Vol 40, No 2 (2022): Agustus Vol 40, No 1 (2022): April Vol 39, No 3 (2021): Desember Vol 39, No 2 (2021): Agustus Vol 39, No 1 (2021): April Vol 38, No 3 (2020): Desember Vol 38, No 2 (2020): Agustus Vol 38, No 1 (2020): April Vol 37, No 2 (2019): Desember Vol 37, No 1 (2019): Juni Vol 36, No 2 (2018): Desember Vol 36, No 1 (2018): Juni Vol 35, No 2 (2017): Desember Vol 35, No 1 (2017): Juni Vol 34, No 2 (2016): Desember Vol 34, No 1 (2016): Juni Vol 33, No 2 (2015): Desember Vol 33, No 1 (2015): JUNI Vol 32, No 2 (2014): DESEMBER Vol 32, No 1 (2014): JUNI Vol 31, No 2 (2013): DESEMBER Vol 31, No 1 (2013): JULI Vol 30, No 2 (2012): DESEMBER Vol 30, No 1 (2012): JUNI Vol 29, No 2 (2011): DESEMBER Vol 29, No 1 (2011): JUNI Vol 28, No 2 (2010): DESEMBER Vol 28, No 1 (2010): JUNI Vol 27, No 2 (2009): DESEMBER Vol 27, No 1 (2009): JUNI Vol 26, No 2 (2008): DESEMBER Vol 26, No 1 (2008): JUNI Vol 25, No 2 (2007): DESEMBER Vol 25, No 1 (2007): JUNI Vol 24, No 2 (2006): DESEMBER Vol 24, No 1 (2006): JUNI Vol 23, No 2 (2005): DESEMBER Vol 23, No 1 (2005): JUNI Vol 22, No 2 (2004): DESEMBER Vol 22, No 1 (2004): Juli Vol 21, No 2 (2003): DESEMBER Vol 21, No 1 (2003): JULI Vol 20, No 2 (2002): Desember Vol 20, No 1 (2002): Juli Vol 19, No 2 (2001): DESEMBER Vol 18, No 1&2 (2000) Vol 18, No 2 (2000) Vol 18, No 1 (2000) Vol 17, No 1 (1999) Vol 16, No 2 (1999) Vol 16, No 1 (1998) Vol 15, No 1&2 (1996) Vol 14, No 2 (1995) More Issue