cover
Contact Name
Alwen Bira
Contact Email
philoxeniap09@gmail.com
Phone
+6282197240292
Journal Mail Official
philoxeniap09@gmail.com
Editorial Address
Jalan Trans Halmahera Barat, Desa Tibobo, Kecamatan Sahu Timur, Kabupaten Halmahera Barat - Prov. Maluku Utara
Location
Kab. halmahera barat,
Maluku utara
INDONESIA
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : -     EISSN : 29855888     DOI : 10.59376
Core Subject : Religion, Education,
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Maluku Utara. Kami memproses serta memublikasikan manuskrip yang berhubungan dengan Teologi dan Pendidikan Kristiani. e-ISSN Philoxenia adalah 2985-5888. Selanjutnya, nomor DOI jurnal Philoxenia adalah 10.59376. Oleh karena itu, bagi bapak/ibu dosen, peneliti, mahasiswa yang memiliki manuskrip yang sesuai dengan fokus dan scope kami, dapat melakukan submission dengan klik di sini. Jurnal Philoxenia telah terindeks pada: 1. Google Scholar 2. Crossref
Articles 36 Documents
Etika dan Spiritualitas Guru Pendidikan Agama Kristen di Era Digital Legi, Hendrik; Widiono, Gideon; Wamo, Antonius
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 2 (2025): Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani - Mei 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvary - Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59376/philo.v3i2.50

Abstract

The digital era has brought great changes in various aspects of life, including in the world of education. Christian Religious Education (PAK) teachers are required to not only master theological material, but also understand and integrate digital ethics and build a solid spirituality in the midst of cyber challenges. This article aims to examine the importance of ethics and spirituality in shaping the character of PAK teachers that are relevant to the needs of the times, as well as highlight the competencies that must be possessed in order to remain effective in educating the digital generation. Using the literature study method, this study examines theories about digital ethics, Christian spirituality, and educational principles based on the values of the Kingdom of God. The results of the study show that contemporary PAK teachers must be able to be role models in ethical behavior in virtual spaces, maintain integrity, respect digital rights, and live Christian values in every online activity. God's Word is the main basis for building ethical and spiritual sensitivity, as written in Romans 12:2 and Colossians 3:17. In addition, teachers are called to be light and salt in cyberspace, presenting a positive influence in the midst of information flows that are not always in accordance with Christian values. Through good digital competence, character strengthening, and deep spirituality, PAK teachers in the digital era are expected to shape students to become responsible, faithful, and integrity digital citizens. This research enriches the theoretical study of the role of Christian teachers in 21st century education.AbstrakEra digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) dituntut untuk tidak hanya menguasai materi teologi, tetapi juga memahami dan mengintegrasikan etika digital serta membangun spiritualitas yang kokoh di tengah tantangan dunia maya. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji pentingnya etika dan spiritualitas dalam membentuk karakter guru PAK yang relevan dengan kebutuhan zaman, serta menyoroti kompetensi yang harus dimiliki agar tetap efektif dalam mendidik generasi digital. Dengan menggunakan metode studi literatur, penelitian ini mengkaji teori-teori tentang etika digital, spiritualitas Kristen, serta prinsip-prinsip pendidikan berbasis nilai-nilai Kerajaan Allah. Hasil kajian menunjukkan bahwa guru PAK kekinian harus mampu menjadi teladan dalam perilaku etis di ruang virtual, menjaga integritas, menghargai hak digital, serta menghidupi nilai-nilai Kristiani dalam setiap aktivitas daring. Firman Tuhan menjadi dasar utama dalam membangun kepekaan etis dan spiritualitas, sebagaimana tertulis dalam Roma 12:2 dan Kolose 3:17. Selain itu, guru dipanggil untuk menjadi terang dan garam di dunia maya, menghadirkan pengaruh positif di tengah arus informasi yang tidak selalu sesuai dengan nilai-nilai kekristenan. Melalui kompetensi digital yang baik, penguatan karakter, dan spiritualitas yang mendalam, guru PAK di era digital diharapkan dapat membentuk peserta didik menjadi warga digital yang bertanggung jawab, beriman, dan berintegritas. Penelitian ini memperkaya kajian teoretis tentang peran guru Kristen dalam pendidikan abad ke-21.
Detoksifikasi Digital dan Pemulihan Rohani: Rekonstruksi Pendidikan Agama Kristen Berbasis Teologi dalam Konteks Kesehatan Mental Siswa Rahayu, Yohana Fajar; Sumual, Elisa Nimbo
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 4, No 1 (2025): Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani - November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvary - Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59376/philo.v4i1.53

Abstract

Advanced digital and communication technologies have brought about significant changes in the fields of education and spirituality. However, behind the ease of access to information and communication lies a serious issue: a mental health crisis among students who are addicted to digital devices. This has led to many of them feeling spiritually exhausted and even experiencing emotional burnout. Religious education, which has traditionally focused on cognitive aspects, is deemed insufficiently responsive to the spiritual needs of students. This study aims to reconstruct a Christian religious education approach grounded in theology to facilitate spiritual recovery through digital detoxification practices. The research method used is descriptive qualitative with a literature review approach. It can be concluded that digital detoxification can be an effective spiritual tool in freeing students from the pressures of digital addiction. Therefore, understanding the digital era and the mental health crisis among students must be prioritised. Furthermore, the concepts of theology and spirituality of recovery in Christian education must be able to detoxify digital as a process of Christian spirituality. Thus, this can reconstruct and integrate the Christian religious education curriculum in spiritual recovery.AbstrakTeknologi digital dan komunikasi yang sangat maju telah menciptakan perubahan besar dalam ruang pendidikan dan spiritualitas. Namun, di balik kemudahan akses informasi dan komunikasi, muncul persoalan serius berupa krisis kesehatan mental di kalangan naradidik yang mengalami kecanduan digital. Yang mengakibatkan banyak dari mereka jenuh dan teransing secara spiritual bahkan tekanan kelelahan emosional. Pendidikan agama yang selama ini berfokus pada aspek kognitif dinilai belum cukup responsif dalam menjawab kebutuhan spiritual peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi pendekatan pendidikan agama Kristen berbasis teologi dalam rangka memfasilitasi pemulihan rohani melalui praktik detoksifikasi digital. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka, maka dapat disimpulkan bahwa detoksifikasi digital dapat menjadi sarana spiritual yang efektif dalam membebaskan siswa dari tekanan kecanduan digital.  Oleh karena itu pemahaman akan era digital dan krisis kesehatan mental siswa harus diperhatikan. Terlebih konsep dan  teologi dan spiritualitas pemulihan dalam pendidikan kristen harus bisa mendetoksifikasi digital sebagai proses spiritualitas kristen. Sehingga hal ini dapat merekonstruksi dan integrasi kurikulum pendidikan agama kristen dalam pemulihan rohani
Implikasi Teologi Praktis Jemaat Mula-Mula Yerusalem bagi Kehidupan GPdI Eben Haezer Antutan Mokodaser, Frits; Triposa, Reni; Boiliu, Esti Regina
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 4, No 1 (2025): Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani - November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvary - Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59376/philo.v4i1.55

Abstract

This study discusses the life of the early church as recorded in Acts 2:42-47, which explains the practical theological standards for the church today, especially for the life of the GPdI Eben Haezer church in Antutan village. Referring to the early church in Jerusalem, we can see that the early church was full of faithfulness in teaching and deepening the word of God, close fellowship, and prayer as a way of life, as well as a very high and tangible level of social concern. This pattern of life not only reflects unity in a community centred on Christ, the head of the church, and illustrates the fullness of the Holy Spirit, but it also illustrates a balanced life between our relationship with God and our relationships with other human beings. This study uses a qualitative approach with a literature study method. The conclusion of this study reveals that emulating the life of the early church in Jerusalem will strengthen the church today, especially the GpdI Eben Haezer congregation in Antutan village, to become a church community that is faithful to the word of God, filled with the power of the Holy Spirit, and become a practical guide in faith development, fellowship, and ministry amid economic challenges and globalisation.AbstrakPenelitian ini membahas mengenai kehidupan yang ada di jemaat mula-mula seperti yang sudah tercatat di dalam Kisah Para Rasul 2:42-47 dimana di jelaskan mengenai standar teologis praktis bagi gereja saat ini khusunya bagi kehidupan di gereja GPdI Eben Haezer desa Antutan. Jika merujuk kepada jemaat mula-mula di Yerusalem maka bisa mengetahui bahwa jemaat mula-mula penuh dengan kesetiaan dalam pengajaran dan pendalam firman Tuhan, persekutuan yang erat, dan doa sebagai gaya hidup, serta kepedulian sosial yang sangat tinggi dan nyata. Pola kehidupan ini bukan hanya mencerminkan persatuan dalam komunitas yang berpusat kepada sang kepada gereja yaitu Kristus dan menggambarkan kepenuhan Roh Kudus, namun hal ini juga menggambarkan kehidupan yang seimbang antara hubungan dengan Allah dan hubungan antara umat manusia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur Kesimpulan penelitian ini mengungkapkan bahwa meneladani kehidupan jemaat mula-mula di Yerusalem maka akan memperkuat gereja saat ini khususnya jemaat GpdI Eben Haezer desa Antutan agar menjadi komunitas gereja yang setia kepada firman Tuhan, di penuhi noleh kuasa karya Roh Kudus serta menjadi pedoman pratis dalam pembinaan iman, persekutuan, dan pelayanan di tengah tantangan ekonomi dan globalisasi.
Etika Penggunaan Media Sosial untuk Penginjilan: Antara Efektivitas dan Tantangan Moral Pongoh, Fanli Feydi; lumingas, Gloria Gabriel; Arifianto, Yonatan Alex
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 4, No 1 (2025): Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani - November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvary - Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59376/philo.v4i1.56

Abstract

The development of digital technology has significantly transformed communication patterns and church ministry. This study aims to analyze the effectiveness of social media as an instrument of evangelism and to examine the ethical challenges emerging in the digital context. The research employs a descriptive qualitative method through literature analysis, national statistical data, and theological reflection grounded in Christian ethics. The findings reveal that social media is effective in expanding the reach of evangelism, yet simultaneously generates moral issues such as disinformation, hate speech, privacy violations, and digital fatigue. The novelty of this research lies in developing a four–pillar ethical framework for digital evangelism, content transparency, digital literacy, pastoral digital care, and community accountability contextualized for the Indonesian church in the 21st century. This framework not only addresses the practical needs of ministry in digital spaces but also contributes theoretically to digital theology by emphasizing the integration of media effectiveness and moral responsibility in contemporary evangelism.AbstrakPerkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam pola komunikasi dan pelayanan gereja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas media sosial sebagai sarana penginjilan dan menelaah tantangan etis yang muncul dalam konteks digital. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis literatur, data statistik nasional, serta refleksi teologis berdasarkan prinsip etika Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial terbukti efektif dalam memperluas jangkauan penginjilan, namun pada saat yang sama menimbulkan persoalan moral seperti disinformasi, ujaran kebencian, pelanggaran privasi, dan kelelahan digital. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan kerangka etika penginjilan digital berbasis empat pilar, transparansi konten, literasi digital, pastoral digital care, dan akuntabilitas komunitas yang kontekstual bagi gereja Indonesia abad ke-21. Kerangka ini tidak hanya menjawab kebutuhan praktis pelayanan di ruang digital, tetapi juga memberikan kontribusi teoretis terhadap pengembangan teologi digital yang menegaskan integrasi antara efektivitas media dan tanggung jawab moral dalam misi penginjilan masa kini.
Allah yang Mati: Sebuah Kajian Soteriologis atas Paradoks Kematian Yesus Kristus Yustinus, Yustinus
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 4, No 1 (2025): Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani - November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvary - Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59376/philo.v4i1.57

Abstract

Jesus' death on the cross presents a paradox between God's eternal nature and the reality of a dying God, sparking intense debate in pluralistic societies. This study analyzes the relationship between Jesus' divinity and death from a soteriological perspective using systematic theology and historical-biblical analysis. The research demonstrates that the doctrines of communicatio idiomatum and Chalcedonian Christology resolve this paradox by maintaining the integrity of both natures in one Divine Person of Jesus. The findings reveal that Jesus' death in human nature constitutes the ultimate expression of God's saving love. Precisely because Jesus is God, His sacrifice is able to redeem all humanity, while His humanity enables this redemptive event to occur. These findings not only strengthen the theological foundation of redemption doctrine but also provide a relevant resolutive framework for contemporary dialectics about Christ's identity. The theological implications require the church to embody cruciform spirituality through practices of kenosis and solidarity with the suffering.AbstrakKematian Yesus di atas salib menghadirkan paradoks antara natur Allah yang kekal dan realitas Allah yang mati, serta memicu perdebatan intens dalam masyarakat yang plural. Penelitian ini menganalisis relasi keilahian dan kematian Yesus dalam perspektif soteriologis melalui pendekatan teologi sistematis dan analisis historis-biblis. Kajian membuktikan bahwa doktrin communicatio idiomatum dan kristologi Kalkedon menyelesaikan paradoks ini dengan mempertahankan integritas kedua natur dalam satu Pribadi Ilahi Yesus. Temuan penelitian mengungkap bahwa kematian Yesus dalam natur manusia justru menjadi puncak pernyataan kasih Allah yang menyelamatkan. Hanya karena Yesus adalah Allah, maka pengorbanan-Nya sanggup menebus semua manusia, sementara kemanusiaan-Nya memungkinkan peristiwa penebusan itu terjadi. Temuan ini tidak hanya memperkuat fondasi teologis doktrin penebusan, tetapi juga memberikan kerangka resolutif yang relevan bagi dialektika kontemporer tentang identitas Kristus. Implikasi teologisnya menuntut gereja untuk menghidupi spiritualitas salib melalui praktik kenosis dan solidaritas dengan mereka yang menderita.
Analisi Teologis terhadap relasi manusia dengan Allah dan sesamanya dalam konsep Imago Dei Karl Barth kejadian 1:26-28 Tudang, Tirsa
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 4, No 1 (2025): Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani - November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvary - Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59376/philo.v4i1.42

Abstract

Dalam tradisi Kristen, konsep imago Dei yang menunjukkan di mana manusia diciptakan sesuai segambar dan serupa dengan Allah, dan juga memiliki hubungan dengan Allah yang mencerminkan hubungan ilahi adapun relasinya yang bersifat ontologis, yang di mana Allah sebagai Pencipta memiliki kedudukan lebih tinggi dari ciptaan-Nya. manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat mencerminkan sepenuhnya gambar Allah tanpa berinteraksi dengan sesamanya. Hubungan tersebut meliputi aspek saling menghormati menghargai dan berkomunitas yang mencerminkan sifat ketuhanan yang bersifat relasional. hubungan ini bersifat multidimensional, melibatkan aspek spiritual, sosial, dan moral yang saling terkait. Pribadi manusia berdiri dan berpusat pada realitas kristiani yang diamana Allah ciptakan manusia sesuai dengan gambar dan rupa Allah sendiri dan pada hakekatnya Tuhan Allah telah berulang kali dikemukakan bahwa Allah adalah sekutu Israel, atau sekutu umat-Nya. Menurut tatanan penciptaan, manusia berada pada puncak karya kreatifnya, sebaliknya kitab suci juga menceritakan tentang pemenuhan dan kesempurnaan umat manusia. Oleh karena itu, subyek kekristenan adalah Allah dan umat-Nya. Iman Kristen bukan hanya tentang Tuhan, tetapi juga tentang umat Allah, yang dimaksud umat Allah atau umat manusia bukan hanya bangsa Israel saja, tetapi seluruh umat manusia. Ternyata bahwa uraian tentang manusia dapat dikataka sama dengan tuanya dengan adanya manusia itu sendiri. Dari manakah asal-usul manusia dan kemanakah tujuan hidupnya, serta bagaimana rahasia hidupnya. Tentunya mempunyi implikasi yang jelas dari faktor penciptaan yang mengatakan bahwa seutuhnya ciptaan bergantung kepada Allah. Juga menjelaskan tentang manusia serta hubungannya dengan Allah, aspek-aspek sejarah teologis membahas asal-usul manusia serta umat manusia dengan sesamanya dan juga dengan Tuhannya.Kata kunci : Allah, Manusia, sesamanya, Imago dei 

Page 4 of 4 | Total Record : 36