cover
Contact Name
Alwen Bira
Contact Email
philoxeniap09@gmail.com
Phone
+6282197240292
Journal Mail Official
philoxeniap09@gmail.com
Editorial Address
Jalan Trans Halmahera Barat, Desa Tibobo, Kecamatan Sahu Timur, Kabupaten Halmahera Barat - Prov. Maluku Utara
Location
Kab. halmahera barat,
Maluku utara
INDONESIA
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : -     EISSN : 29855888     DOI : 10.59376
Core Subject : Religion, Education,
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Maluku Utara. Kami memproses serta memublikasikan manuskrip yang berhubungan dengan Teologi dan Pendidikan Kristiani. e-ISSN Philoxenia adalah 2985-5888. Selanjutnya, nomor DOI jurnal Philoxenia adalah 10.59376. Oleh karena itu, bagi bapak/ibu dosen, peneliti, mahasiswa yang memiliki manuskrip yang sesuai dengan fokus dan scope kami, dapat melakukan submission dengan klik di sini. Jurnal Philoxenia telah terindeks pada: 1. Google Scholar 2. Crossref
Articles 36 Documents
Keteladanan Kepemimpinan Paulus dan Implikasinya bagi Pemimpin Masa Kini Zebua, Boyman Aspirasi; Angelina, Claudia; Santosa, Monica
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 1 (2023): Teologi dan Pendidikan Kristiani - November 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvary - Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59376/philo.v2i1.19

Abstract

Paul was one of the biblical figures who had a leadership pattern that was widely praised for being effective and able to lead the congregation he served well. However, there are still many Christians who doubt him. In the end, the Apostle Paul's leadership was interpreted as materialistic leadership even though the Bible itself clearly states that Paul was an exemplary leader both physically and spiritually, but still they did not recognize Paul's leadership. Therefore, it is very important to have an understanding of Paul's exemplary leadership, especially when experiencing moments in leading the churches served. The purpose of this study is to answer and discuss Paul's exemplary leadership and its implications for today's leaders. The research method used in writing this article is a qualitative method. The findings of this article show that leadership is an inseparable part of human life, where leadership plays an important role for the continuity and journey of human life to get closer and there is an opportunity to glorify God, then become an active missionary in relying on God. Paul's exemplary leadership can be seen in any situation he still relies on God and dares to preach the gospel and strengthen and empower others to do what he did.AbstrakPaulus adalah salah satu tokoh Alkitab yang memiliki pola kepemimpinan yang banyak dipuji karena ampuh dan mampu memimpin jemaat yang dilayaninya dengan baik. Akan tetapi masih banyak orang Kristen yang meragukannya. Namun begitu, kepemimpinan Paulus dalam Alkitab tetaplah kebenaran, tidak bisa diubah, bahkan dengan gamblang Alkitab menyatakan bahwa Paulus adalah seorang pemimpin teladan baik secara jasmani dan rohani, walaupun masih ada orang yang meragukan kepemimpinan Paulus. Oleh sebab itu sangat penting memiliki pemahaman tentang keteladanan kepemimpinan Paulus, terlebih saat mengalami momen dalam memimpin jemaat yang dilayani. Tujuan penelitian ini adalah menjawab dan membahas tentang keteladanan kepemimpinan yang dilakukan oleh Paulus dan implikasinya bagi para pemimpin masa kini. Metode penelitian yang digunakan dalam menulis artikel ini adalah metode kualitatif. Temuan artikel ini memperlihatkan bahwa kepemimpinan bagian yang tidak terpisahkan dari hidup manusia, dimana kepemimpinan memegang peranan penting untuk kelangsungan dan perjalan hidup manusia semakin dekat dan ada kesempatan untuk memuliakan Allah, lalu menjadi pelaku yang aktif bermisi dalam mengandalkan Tuhan. Keteladanan kepemimpinan Paulus ini dapat dilihat dalam situasi apapun dia tetap mengandalkan Tuhan dan berani memberitakan injil serta memperkuat dan memberdayakan orang lain untuk melakukan apa yang ia lakukan.
Alkitab dan Tantangan Zaman: Apologetika Terhadap Agnostik dalam Konteks Kekristenan Indonesia di Era Disrupsi Tuah, Helenda
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Kristen (Mei 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvary - Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59376/philo.v2i2.30

Abstract

The rapid development of the disruption era has affected various aspects of life, including religious thought, which now faces challenges from agnostic thought. Agnosticism emerges as a view that doubts the existence of God and sees religion as archaic and inhibits the progress of thinking. This phenomenon further strengthens the idea that religion is irrelevant in the context of the times. The purpose of this study is to describe the role of Christian apologetics in facing the challenges of agnostic thinking in the era of disruption. This research uses a descriptive qualitative approach with literature study as the main method. Data were obtained through the analysis of various literature sources, searching for biblical references, and studying phenomena in the field. This approach aims to provide practical solutions for Christians to remain steadfast in their faith despite the challenges of the times and agnostic thinking that can threaten their beliefs. In conclusion, biblically-grounded Christian apologetics can help Christians strengthen their faith in the midst of disruption and ensure that they maintain firm convictions in the face of contemporary ideological challenges.AbstrakPerkembangan era disrupsi yang pesat telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk pemikiran agama, yang kini menghadapi tantangan dari pemikiran agnostik. Agnostik muncul sebagai pandangan yang meragukan keberadaan Tuhan dan menilai agama sebagai hal yang kuno serta menghambat kemajuan pola pikir. Fenomena ini semakin menguatkan ide bahwa beragama tidak relevan dalam konteks perkembangan zaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peran apologetika Kristen dalam menghadapi tantangan pemikiran agnostik di era disrupsi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi literatur sebagai metode utama. Data diperoleh melalui analisis berbagai sumber literatur, penelusuran referensi Alkitab, serta kajian fenomena yang ada di lapangan. Pendekatan ini bertujuan untuk memberikan solusi praktis bagi orang Kristen agar tetap teguh dalam iman mereka meskipun dihadapkan dengan tantangan zaman dan pemikiran agnostik yang dapat mengancam kepercayaan mereka. Kesimpulannya, apologetika Kristen yang berlandaskan pada Alkitab dapat membantu orang Kristen memperkuat iman mereka di tengah arus disrupsi dan memastikan bahwa mereka tetap mempertahankan keyakinan yang kokoh dalam menghadapi berbagai tantangan ideologi kontemporer.
Kontribusi Karakter Nuh dalam Noahic Covenant dan Implementasinya Bagi Orang Percaya Masa Kini. Nugroho, Imanoel Seno; Willyam, Verry; Raflesia, Ketut Mashana
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 1 (2023): Teologi dan Pendidikan Kristiani - November 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvary - Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59376/philo.v2i1.22

Abstract

Through Noah's character God has a new purpose for humanity through the Noahic Covenant. The purpose of this paper is to reflect on the character of Noah, who is considered to have the character of a righteous person in an intimate relationship with God. From his example for believers, we can learn to have a righteous life before God. The method used in this study is a qualitative research of literature by examining the source of the scriptures. The low criticism approach is carried out to describe the meaning contained in it. Through this paper, it is hoped that it can provide an overview of the character and leadership style of Noah as God's people, who were saved from disaster, by a very intimate relationship with God. As well as being a representation of God's plan and love for mankind in eternal salvation.AbstrakMelalui karakter Nuh Allah memiliki tujuan baru bagi umat manusia melalui Noahic Covenant. Tujuan dalam tulisan ini ialah merefleksikan karakter Nuh, yang dianggap memiliki karakter sebagai orang benar dalam relasi intim dengan Allah. Dari keteladanannya bagi orang percaya, kita dapat belajar agar memiliki kehidupan benar dihadapan Allah. Metode yang digunakan dalam kajian ini ialah penelitian kualitatif literatur dengan mengkaji sumber kitab suci. pendekatan kritik rendah dilakukan guna menguraikan makna yang terdapat di dalamnya. Melalui paper ini diharapkan dapat memberikan gambaran Melalui karakter dan gaya kepemimpinan Nuh sebagai umat Allah, yang diluputkan dari bencana, oleh relasi dengan Allah yang sangat intim. Serta menjadi representasi rencana dan kasih Allah bagi umat manusia dalam keselamatan kekal.
Membangun Integritas dan Moralitas: Fondasi Kepemimpinan Kristen Menghadapi Era Post-Truth Purwonugroho, Daniel Pesah
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Kristen (Mei 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvary - Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59376/philo.v2i2.31

Abstract

Post-truth is a phenomenon of subjective truth circulating within society at large, driven by technological advancements. Information disseminated widely in society often lacks prior validation. Truth in this post-truth era aligns with individual preferences without undergoing validation. Christian leaders bear a significant responsibility amidst the Christian community in this post-truth era. Integrity and morality are essential attributes for Christian leaders to navigate the post-truth era. The integrity and morality of Christian leaders should be founded upon the Biblical Word of God. Without integrity and morality, Christian leaders will struggle to guide the Christian community through this post-truth era. Christian leaders need to shine a light for the Christian community amidst this post-truth era. Through descriptive qualitative methodology, it can be concluded that integrity and morality form the foundation for Christian leaders to guide the Christian community through the post-truth era. Moral and integrity-driven leaders will instill similar moral values and integrity within the Christian community, enabling them to shine amidst the post-truth era.AbstrakPost-truth adalah fenomena kebenaran yang tidak objektif yang beredar di masyarakat luas. Post-truth terjadi akibat dari kecanggihan teknologi. Informasi yang beredar luas di masyarakat tidak mengalami validasi terlebih dahulu. Kebenaran di dalam era post-truth ini adalah kebenaran yang sesuai dengan selera individu tanpa mengalami validasi. Pemimpin Kristen memiliki tanggung jawab yang besar untuk berada di tengah-tengah umat Kristen di era post-truth ini. Integritas dan moralitas adalah hal yang harus dimiliki oleh pemimpin Kristen dalam menghadapi era post-truth. Integritas dan moralitas pemimpin Kristen harus dibangun berdasarkan Alkitab Firman Allah. Tanpa integritas dan moralitas, pemimpin Kristen tidak akan berhasil membawa umat Kristen bertahan di dalam era post-truth ini. Pemimpin Kristen perlu menjadi terang bagi umat Kristen di tengah era post-truth ini. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, dapat disimpulkan bahwa integritas dan moralitas adalah dasar pemimpin Kristen membangun umat Kristen menghadapi era post-truth. Pemimpin yang bermoral dan berintegritas akan membawa umat Kristen memiliki moral dan integritas yang sama sehingga umat Kristen dapat menjadi terang di tengah era post-truth.
Spiritualitas Orang Tua Sebagai Landasan Dalam Membentuk Karakter Anak Di Keluarga Hutabarat, Betty; Handayani, Sri; Tafonao, Talizaro
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 1 (2023): Teologi dan Pendidikan Kristiani - November 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvary - Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59376/philo.v2i1.23

Abstract

The purpose of writing this article is to explain the importance of exemplary parental life in shaping character in the family. The study departs from the author's empirical observations, that there are some children today who are very good at parental attention and do not reflect Christian character as explained in this article. The method used in writing this article is a descriptive qualitative research method with a literature review approach. The results obtained in this article are that parents must place the family as a place to testify about the exemplary life in Christ, the family as an educational institution for children and Jesus as an exemplary teacher in the family. In this way parents align education and actions in shaping the character of children in the family. Because this is absolutely what parents must do as witnesses of Christ in the family.AbstrakTujuan penulisan artikel ini adalah menjelaskan tentang pentinya keteladan hidup orangtua dalam membentuk karakter di keluarga. Kajian bertolak dari pengamatan penulis secara empiris, bahwa ada beberapa anak-anak saat ini sangat terbaikan dalam perhatian orangtua dan tidak mencerminkan karakter Kristen sebagaimana penjelasan dalam artikel ini. Metote yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan kajian pustaka. Hasil yang didapatkan dalam artikel ini bahwa orangtua harus menempatkan keluarga sebagai tempat untuk bersaksi tentang keteladanan hidup dalam Kristus, keluarga sebagai lembaga pendidikan bagi anak-anak dan Yesus guru teladan dalam keluarga. Dengan cara adalah orangtua menyelaraskan pendidikan dan perbuatan dalam membentuk karakter anak dalam keluarga. Sebab hal ini sangat mutlak yang harus dilakukan oleh orangtua sebagai saksi Kristus dalam keluarga.
Menjawab Tuduhan Comma Johanneum 1 Yohanes 5:7-8 Sebagai Ayat Palsu Melalui Tulisan Bapa-Bapa Gereja Adi, Didit Yuliantono; Indratno, Yohanes Twintarto Agus
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Kristen (Mei 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvary - Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59376/philo.v2i2.33

Abstract

The idea for writing this scientific work came from the author's ministry experience, which often encountered questions about the inerrancy of the Bible, especially regarding the authenticity of 1 John 5:7-8 or the Comma Johanneum. The purpose of writing this scientific work is to find evidence that 1 John 5:7-8 is the Word of God revealed to the apostle John. The method used in this writing is a qualitative method with a literature study approach. From this research, evidence was found that, although the Comma Johanneum is not found in ancient Greek texts, this verse can be traced to an ancient Latin document called the Vetus Latina and from the writings of the church fathers, namely Tertullian, Ciprian, Athanasius, Origen, Augustine , Pricilian, Jerome, Gregory Nazianus and Johanes Chrisostomos whose writings still exist and have been preserved to this day. Thus the accusation that this verse is fake or a hoax has been successfully refuted.AbstrakIde penulisan karya ilmiah ini berasal dari pengalaman pelayanan penulis yang sering kali menemukan pertanyaan tentang inerrancy Alkitab, terlebih khusus mengenai keaslian 1 Yohanes 5:7-8 atau Comma Johanneum. Tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah untuk menemukan bukti-bukti bahwa 1 Yohanes 5:7-8 adalah Firman Allah yang diwahyukan kepada rasul Yohanes. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Dari penelitian ini ditemukan bukti bahwa, meskipun Comma Johanneum tidak ditemukan dalam teks kuno berbahasa Yunani, ayat ini bisa dilacak keberadaannya dari dokumen kuno berbahasa Latin yang disebut dengan Vetus Latina dan dari tulisan bapa-bapa gereja yaitu Tertulianus, Ciprianus, Athanasius, Origenes, Augustinus, Pricilian, Hieronimus, Gregorius Nazianus dan Yohanes Chrisostomos yang tulisan mereka masih ada dan dilestarikan hingga saat ini. Dengan demikian tuduhan bahwa ayat ini palsu atau susupan berhasil dipatahkan.
Pengetahuan Ditinjau dalam Perspektif Posmodernisme Bira, Alwen
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 1 (2023): Teologi dan Pendidikan Kristiani - November 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvary - Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59376/philo.v2i1.24

Abstract

Postmodernism cannot be separated from modernism. Modernism's paradigm that science is absolute and objective means that humans cannot judge it. This is where a new thought called postmodernism was born which became a continuation of modernism which gave a new view of science. This study uses a type of qualitative research with hermeneutic methods, descriptions and comparisons to answer the problem. The conclusion of this study shows that postmodernism is a movement that criticizes science for the tradition of modernism whose influence on rationalism, materialism and capitalism is supported by science and destroys human dignity. Postmodernism emerged due to the failure of modernism which raised human dignity and failed to bring human life to a better direction, free from violence.AbstrakPostmodernisme tidak dapat dipisahkan dari pemikiran modernisme. Pemikiran  modernisme menekankan ilmu pengetahuan yang bersifat mutlak dan objektif yang berarti manusia tidak dapat menilainya. Dari sinilah awal mula lahir pemikiran baru yang disebut postmodernisme yang menjadi keberlanjutan dari modernisme yang memberi pandangan baru tentang ilmu pengetahuan. Penelitian  ini menggunakan  jenis penelitian kualitatif dengan metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, deskripsi dan komparasi untuk menjawab masalah. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa posmodernisme merupakan gerakan kritik ilmu pengetahuan atas tradisi modernisme yang pengaruhnya pada rasionalisme, materialisme dan kapitalisme yang didukung oleh ilmu pengetahuan dan menghancurkan martabat manusia. Muncul Postmodernisme disebabkan karena gagalnya modernisme yang mengangkat harkat dan martabat manusia
Tantangan Teologis dalam Memahami dan Mengatasi Ajaran Sesat Kontemporer: Tinjauan Terhadap Realitas Spiritual dan Peran Gereja Arifianto, Yonatan Alex; Nainggolan, Richardo; Sujaka, Adi
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Kristen (Mei 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvary - Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59376/philo.v2i2.34

Abstract

: In the era of globalization and digitalization, the massive amount of information and religious content challenges the church and Christianity. The understanding of truth distorted by heretics who teach heretical teachings in the contemporary era is increasingly complex, threatening the stability of society, the harmony of the Body of Christ, as well as the foundation of religious belief and individual spirituality. The purpose of this paper emphasizes that the church can maintain the unity and integrity of the Christian faith and protect its congregation from destructive and misleading influences. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it can be concluded that the theological challenge of Christianity in understanding and overcoming heretics who teach heresies in the contemporary era.   In theological challenges in understanding and overcoming contemporary heresies as a review of spiritual reality and the role of the church. That is, the church and Christianity can analyze and understand the nature of contemporary heresy. Where heresy in a theological perspective on spiritual reality can have an impact on Christianity. so it is hoped that the role of the church in actualizing and the role of the church in overcoming heresy and providing in-depth education for church members.AbstrakDalam era globalisasi dan digitalisasi, yang massif akan informasi dan konten keagamaan menjadi tantangan akan gereja dan kekristenan. Pemahaman kebenaran yang diselewengkan oleh bidat yang mengajarkan  ajaran sesat di era kontemporer semakin kompleks, mengancam stabilitas masyarakat, kerukunan Tubuh Kristus, serta fondasi keyakinan agama dan spiritualitas individu. Tujuan dari penulisan ini menekankan bahwa  gereja dapat menjaga kesatuan dan integritas iman Kristen serta melindungi jemaatnya dari pengaruh yang merusak dan menyesatkan. Menggunkan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature  maka dapat disimpulkan bahwa Tantangan teologis kekristenan dalam memahami dan mengatasi para bidat yang mengajarkan ajaran sesat di era kontemporer.   Dalam tantangan teologis dalam memahami dan mengatasi ajaran sesat kontemporer sebagai tinjauan terhadap realitas spiritual dan peran gereja. Yaitu gereja dan kekristenan dapat menganalisis dan mengerti akan hakikat ajaran sesat kontemporerdewasa ini. Di mana ajaran sesat dalam perspektif teologis terhadap realitas spiritual dapat berdampak bagi kekristenan. sehingga diharapakan peran gereja dalam mengaktualisasi dan peran gereja dalam mengatasi ajaran sesat dan memnerikan edukasi mendalam bagi warga gereja.
Tinjauan Biblika Terhadap Tujuan Ucapan Kutuk Elisa Dalam 2 Raja-Raja 2:23-25 Harefa, Yaaro; Ilo, Yolin
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 1 (2023): Teologi dan Pendidikan Kristiani - November 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvary - Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59376/philo.v2i1.16

Abstract

Abstract: Elisha's act of cursing the children in 2 Kings 2:23-25 raises many perceptions and even makes it difficult for readers to understand texts like this. How could a man of God utter such a curse word? Therefore, the researcher investigated this topic using a qualitative method with an exegetical approach. The researcher found that this text is not problematic if the reader can understand the purpose behind Elisha's words. Prophecy is entirely God's decision and action for the benefit of His people. This is a special task that God has given him to do on this earth. Accepting and honoring God's messengers is a form of acceptance of God through the Word that is delivered. The truth they preach is the truth of God's grace for man to attain salvation in Christ. Humans are given two choices, namely accepting the truth of God's Word or turning away from God, because God has given free will for humans to choose. The punishment given to those who reject God is the eternal punishment to come.Abstrak: Tindakan Elisa dalam mungutuk anak-anak dalam 2 Raja-Raja 2:23-25 menimbulkan banyak persepsi bahkan akhirnya menjadi hal sulit bagi pembaca untuk memahami teks-teks seperti ini. Bagaimana mungkin seorang hamba Tuhan mengutarakan kata kutuk seperti ini? Oleh sebab itu peneliti menyelidiki topik ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatakan eksegesis. Peneliti menemukan bahwa teks ini tidak bermasalah jika pembaca bisa mememahami tujuan dibalik ucapan Elisa ini. Nabi adalah sepenuhnya keputusan dan tindakan Allah untuk kepentingan umat-Nya. Ini adalah satu tugas istimewa yang Tuhan berikan untuk dikerjakan di muka bumi ini. Menerima dan hormati utusan Tuhan sebagai bentuk penerimaan akan Tuhan melalui Firman yang disampaikan. Kebenaran yang mereka beritakan adalah kebenaran kasih karunia Tuhan bagi manusia untuk mencapai keselamatan di dalam Kristus. Manusia diberi dua pilihan yaitu menerima kebenaran Firman Tuhan atau berpaling dari Tuhan, karena Tuhan sudah memberikan kehendak bebas bagi manusia untuk memilih. Hukuman yang diberikan kepada yang menolak Allah adalah hukuman kekal yang akan datang.
Makna Keselamatan: Tujuan Penciptaan Manusia Berdasarkan Konsep Imago Dei Wijaya, Yulius
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Kristen (Mei 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvary - Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59376/philo.v2i2.29

Abstract

The Imago Dei that God gave to us from the beginning should be the basis and goal of every human being's life.  The meaning of the image and likeness of God that has been damaged by sin has been restored through the redemptive work of Jesus Christ on the cross. This research is intended to see the extent of the relationship between salvation, Imago Dei and Christian life which becomes an effective means of evangelization and attracts people who do not yet know Christ and get their essence as a full human being who is happy and reaches its fullness. This research was conducted using a qualitative approach that describes how unbelievers see the Christian life in relation to the Imago Dei identity attached to it. The conclusion of this research is how believers in their lives as witnesses of Christ understand their identity as the image of God restored, live to do God's will, develop themselves correctly and bring up the character of imago Dei into a lifestyle.AbstrakImago Dei yang diberikan Allah kepada sejak semula seharusnya menjadi dasar dan  tujuan hidup setiap manusia.  Makna segambar dan serupa dengan Allah yang telah rusak karena dosa telah dipulihkan melalui karya penebusan Yesus Kristus di atas kayu salib. Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat sejauh mana hubungan antara keselamatan, Imago Dei dan kehidupan kekristenan yang menjadi sarana penginjilan yang efektif dan menjadi daya tarik bagi orang-orang yang belum mengenal Kristus dan mendapatkan hakikatnya sebagai manusia seutuhnya yang bahagia dan mencapai kemaksimalannya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang memaparkan bagaimana orang yang belum percaya melihat kehidupan orang Kristen dalam hubungannya dengan identitas Imago Dei yang melekat kepadanya. Kesimpulan dari penelitian ini bagaimana orang percaya dalam kehidupannya sebagai saksi Kristus memahami identitas dirinya sebagai gambar Allah dipulihkan, hidup untuk melakukan kehendak Allah, mengembangkan diri dengan benar dan memunculkan karakter imago Dei menjadi gaya hidup.

Page 2 of 4 | Total Record : 36