cover
Contact Name
Evangelista Lus Windyana Palupi
Contact Email
evangelistapalupi@unesa.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
mathedunesa@unesa.ac.id
Editorial Address
Gedung C8 lantai 1FMIPA UNESA Ketintang 60231 Surabaya Jawa Timur
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
MATHEdunesa
ISSN : 23019085     EISSN : 26857855     DOI : https://doi.org/10.26740/mathedunesa.v12n1
Core Subject : Education,
MATHEdunesa is a scientific journal of mathematics education published by the Mathematics Department of Faculty of Mathematics and Natural Sciences of Universitas Negeri Surabaya. MATHEdunesa accepts and publishes research articles and book review in the field of Education, which includes: ✅ Development of learning model ✅ Problem solving, creative thinking, and Mathematics Competencies ✅Realistic mathematics education and contextual learning, ✅Innovation of instructional design ✅Learning media development ✅ Assesment and evaluation in Mathematics education ✅ Desain research in Mathematics Education
Articles 325 Documents
Miskonsepsi Siswa SMP pada Konsep Segiempat Ditinjau dari Kemampuan Matematika serta Alternatif Untuk Mengatasinya Desy Puspita Sari; Masriyah Masriyah
MATHEdunesa Vol 11 No 1 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.471 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n1.p46-57

Abstract

Mathematical ability is the ability required by students to solve a problem, students with high abilities will find it easy to solve problems because they have a good understanding of concepts, whereas students with low abilities will find it difficult to solve problems because they do not understand concepts correctly, which is what causes students to make conceptual errors. A condition when students experience a conceptual error is called a misconception. This research is a qualitative study that has the purpose to describe the misconceptions at each level, such as high mathematical ability, moderate mathematical ability, and low mathematical ability on quadrilateral material and alternatives to overcome them. The subjects in this study were 3 students who were selected using purposive sampling. In this study, students were given a mathematical ability test so that they could be grouped according to their level, then misconceptions were analyzed using a misconception test with the modified CRI method and continued with a diagnostic interview. The results showed that students with low mathematical abilities experienced more misconceptions than other abilities. The three subjects experienced misconceptions in determining the shapes which include rectangular shapes and the nature of rectangular. The causes of misconceptions are caused by pictures, students' abilities, and incomplete reasoning. The alternatives that can be done to overcome misconceptions are providing cognitive conflict, providing scaffolding, and re-explanation. Keywords: misconception, quadrilateral, mathematical ability, alternative to overcome misconceptions.
STUDENTS' MATHEMATICAL LITERACY BASED ON COVID-19 CONTEXT Mayang Purbaningrum; janet Trineke Manoy
MATHEdunesa Vol 11 No 1 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.018 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n1.p26-35

Abstract

Mathematical literacy is a person's ability to formulate, apply, and interpret mathematics in everyday life. This descriptive qualitative research aims to describe the mathematical literacy of 9th grade students in solving Covid-19 context problems. Four students were selected using purposive sampling techniques based on high and middle mathematical abilities. Data collection is done through math literacy tests and interviews. Research shows that students with high math skills can fulfill the mathematical literacy indicators of the stage of formulating, applying, and interpreting, with the correct answers. Middle math ability students can only fulfill the mathematical literacy indicators of the formulating stage and have not been able to answer correctly. High and middle mathematical ability students have very good abilities in formulating a problem. High mathematical ability students have excellent abilities in applying their knowledge to solve problems, while middle mathematical ability students have less ability to apply their knowledge. High mathematical ability students have sufficient ability to interpret the results obtained, while middle mathematical ability students have less ability to interpret the results obtained. High math ability students can use the information about Covid-19 provided to solve problems in the real world. Middle math ability students have not been able to use the information about Covid-19 provided to solve problems in the real world. Teachers need to provide math literacy problems on a regular basis to train students in solving everyday problems.
LITERASI MATEMATIS BERBASIS BUDAYA SIDOARJO DALAM PERSPEKTIF ETNOMATEMATIKA Dewi Safina; Mega Teguh Budiarto
MATHEdunesa Vol 11 No 1 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (657.699 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n1.p12-25

Abstract

Tingkat literasi matematis di Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara lain, oleh karena itu diperlukan adanya pembaruan dalam sistem pembelajaran salah satunya memasukkan unsur etnomatematika di dalamnya. Literasi matematika dan etnomatematika merupakan dua gagasan penting dalam mengetahui peran matematika di kehidupan sehari-hari. Kedua hal tersebut juga bermanfaat dalam pendidikan matematika khususnya dalam pengembangan bentuk soal-soal seperti AKM (Asesmen Kompetensi Minimum). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk etnomatematika pada budaya Sidoarjo ditinjau dari aspek literasi matematis yaitu aspek konten, konteks, dan proses matematika. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi partisipan dan wawancara. Instrument utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, dengan instrument pendukung berupa lembar observasi dan pedoman wawancara. Teknik analisis data menggunakan analisis domain dan analisis taksonomi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan kajian etnomatematika pada budaya Sidoarjo khususnya batik sari kenongo, candi pari, dan petambak cemandi ditemukan beberapa konsep matematika yaitu satuan baku dan tidak baku, konsep tinggi, perbandingan, transformasi geometri, kekongruenan, bangun datar dan bangun ruang. Berdasarkan kajian tersebut, aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat Sidoarjo memenuhi aspek literasi matematis diantaranya aspek konten, proses, dan konteks matematika. Dengan demikian, budaya Sidoarjo dapat digunakan sebagai salah satu media pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan literasi matematis yang berupa soal AKM (Asesmen Kompetensi Minimum). Kata Kunci: Literasi Matematis, Etnomatematika, Budaya Sidoarjo
LITERASI MATEMATIS BERBASIS BUDAYA JOMBANGAN DALAM PERSPEKTIF ETNOMATEMATIKA Mochamad Fachrul Rozi; Mega Teguh Budiarto
MATHEdunesa Vol 11 No 1 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.829 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n1.p58-69

Abstract

Kualitas pendidikan Indonesia masih tergolong rendah, salah satu faktornya yakni rendahnya kemampuan literasi matematis. Hal tersebut dibuktikan berdasarkan studi PISA tahun 2018 bahwa negara Indonesia mengalami penurunan peringkat dengan perolehan skor di bawah rata-rata. Untuk mengatasi hal tersebut, alternatif yang perlu dilakukan yakni dengan menerapkan etnomatematika dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan literasi matematis budaya Jombangan dalam perspektif etnomatematika. Jenis penelitian ini yaitu penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi partisipan dan wawancara. Untuk instrumen utama dalam penelitian ini yaitu peneliti sendiri, sedangkan instrumen pendukungnya berupa pedoman observasi, pedoman wawancara, dan lembar catatan penelitian. Teknik analisis data menggunakan analisis domain dan analisis taksonomi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan kajian etnomatematika pada budaya Jombangan khususnya Candi Rimbi, pengrajin manik-manik, dan batik Jombangan ditemukan beberapa konsep matematika yang di antaranya adalah satuan baku dan tidak baku, konsep panjang, perbandingan, transformasi geometri, simetri, dan bangun datar. Berdasarkan kajian tersebut, aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat Jombang memenuhi beberapa aspek dari literasi matematis yakni aspek konten, proses, dan konteks. Kata Kunci: literasi matematis, etnomatematika, budaya Jombangan.
PROSES BERPIKIR KRITIS SISWA SMA DALAM MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF REFLEKTIF DAN IMPULSIF Vebyka Iwala Awaliya; Masriyah Masriyah
MATHEdunesa Vol 11 No 1 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.701 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n1.p70-79

Abstract

Proses berpikir kritis merupakan suatu tahapan yang menggunakan keterampilan berpikir untuk membantu seseorang dalam menciptakan, menilai, dan menarik kesimpulan sesuai dengan keyakinan yang dimiliki meliputi empat tahap yaitu pengenalan (Recognition), analisis (Analysis), evaluasi (Evaluation), dan alternatif penyelesaian (Thinking about alternative). Proses berpikir kritis seseorang dapat dilihat melalui kegiatan pemecahan masalah matematika. Ada beberapa aspek yang memengaruhi proses berpikir kritis seseorang diantaranya adalah adanya perbedaan gaya kognitif. Gaya kognititf yang digunakan adalah gaya kognitif reflektif dan impulsif. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan proses berpikir kritis siswa SMA dalam memecahkan masalah matematika ditinjau dari gaya kognitif reflektif dan impulsif. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini terdiri dari dua orang siswa kelas X yang memiliki gaya kognitif reflektif dan gaya kognitif impulsif dengan kemampuan matematika setara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa dengan gaya kognitif reflektif melewati 4 tahap proses dari berpikir kritis yaitu Pengenalan, Analisis, Evaluasi, dan Memikirkan Alternatif Penyelesaian. Soal dipecahkan siswa dengan langkah-langkah yang sistematis, rinci, cermat, dan jelas meskipun waktu yang dibutuhkan cenderung lama. Pada tahap Evaluasi dan Memikirkan Alternatif Penyelesaian, siswa kembali memeriksa jawaban secara teliti dan memikirkan alternatif jawaban yang lain meskipun ketika mencobanya, masih belum sampai pada hasil akhir. Sedangkan siswa bergaya kognitif impulsif hanya melalui 2 proses berpikir kritis, yaitu Pengenalan, dan Analisis. Siswa memecahkan soal dengan langkah-langkah singkat, kurang jelas, tidak beralasan logis, meskipun waktu yang dibutuhkan cenderung cepat. Pada tahap Evaluasi dan Memikirkan alternatif penyelesaian, siswa tidak berpikir untuk memeriksa kembali atau memikirkan cara lain untuk menyelesaikan soal. Kata Kunci: Proses berpikir kritis, Masalah matematika, Gaya kognitif reflektif dan impulsif.
PROFIL PENALARAN ANALOGI SISWA DALAM PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DITINJAU DARI GAYA BELAJAR Dinda Fasya Purnomo Putri; Masriyah Masriyah
MATHEdunesa Vol 11 No 1 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.229 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n1.p134-144

Abstract

Dalam pembelajaran matematika mencakup dua aspek penalaran yakni penalaran deduktif dan penalaran induktif. Kemampuan penalaran induktif merupakan bagian dari aspek kognitif, dan merupakan salah satu dari tiga jenis penalaran induktif yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu penalaran analogi. Salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan penalaran dalam memecahkan masalah adalah gaya belajar. Gaya belajar setiap siswa mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan penalaran matematika. Penelitian ini bertujuan mendiskripsikan kemampuan penalaran analogi siswa dalam pemecahan masalah ditinjau dari gaya belajar visual, gaya belajar auditorial, dan gaya belajar kinestetik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan menggunakan instrumen tes dan wawancara. Subjek pada penelitian ini adalah tiga siswa kelas XI IPA SMA Hang Tuah 2 Sidoarjo tahun ajaran 2021/2022 yang terdiri dari satu siswa bergaya belajar visual, satu siswa bergaya belajar auditorial, dan satu siswa bergaya belajar kinestetik dengan kemampuan matematika setara serta berjenis kelamin perempuan. Profil penalaran analogi dianalisis sesuai dengan indikator yang peneliti gunakan yaitu: (1) Encoding (Pengkodean), (2) Inferring (Penyimpulan), (3) Mapping (Pemetaan), (4) Applying (Penerapan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga subjek tersebut dapat memenuhi indikator dari tahap Encoding (Pengkodean) dan Inferring (Penyimpulan). Ketiga subjek mampu mengidentifikasi informasi masalah sumber dan masalah target, serta mampu menyelesaikan masalah sumber berdasarkan konsep yang ditemukan. Subjek dengan gaya belajar visual dan auditorial mampu memenuhi indikator pada tahap Mapping (Pemetaan) dan Applying (Penerapan). Sehingga subjek yang memiliki gaya belajar visual dan subjek yang memiliki gaya belajar auditorial masing-masing memiliki kemampuan penalaran analogi tinggi. Sedangakan subjek yang memiliki gaya belajar kinestetik tidak memenuhi indikator pada tahap Mapping (Pemetaan) dan Applying (Penerapan) sehingga subjek yang memiliki gaya belajar kinestetik memiliki kemampuan penalaran analogi sedang.
Profil Siswa SMA dalam Memecahkan Masalah Matematika Ditinjau Dari Gaya Berfikir Utari Nur Masita Mardiyanti; Rini Setianingsih
MATHEdunesa Vol 11 No 1 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (778.802 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n1.p268-277

Abstract

Setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda dalam menyelesaikan suatu permasalahan, dalam hal ini adalah permasalahan Matematika. Perbedaan tersebut disebabkan oleh gaya berpikir yang dimiliki oleh setiap siswa. Gaya berpikir ini berpengaruh pada cara siswa dalam memproses suatu permasalahan, mulai dari memahami, merencanakan, melaksanakan, dan memeriksa kembali. Untuk itu, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengelompokkan siswa berdasarkan gaya berpikirnya dan mengidentifikasi karakteristik langkah-langkah dalam menyelesaikan permasalahan matematika. Metode penelitian dilakukan dengan 4 pedekatan, yakni: angket, TKM, TPM, dan wawancara. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa gaya berpikir siswa dalam menyelesaikan permasalah matematika yakni: (1) tipe sekuensial konkret (SK) menuliskan informasi dari soal secara lengkap, langkah penyelesaian terurut dan memvisualisasikan; (2) tipe sekuensial Abstrak (SA) menuliskan informasi dari soal secara lengkap, terurut dan tidak mevisualisasikan; (3) tipe acak konkret (AK) tidak menuliskan informasi dari soal, langkah penyelesaian kurang runtut, acak, dan memvisualisasikan; (4) tipe acak konkret (AA) menuliskan informasi dari soal secara acak, langkah penyelesaian kurang runtut, dan tidak memvisualisasikan. Setelah dikelompokan, didapatkan bahwa tipe SK dan AA 27,5%, tipe SA 20 %, tipe AK 25%. Kata Kunci: Siswa SMA, gaya berpikir, permasalahan matematika.
MERENCANAKAN PEMECAHAN MASALAH KONTEKSTUAL: Siswa Laki-Laki vs Siswa Perempuan suki isffi ani; Abdul Haris Rosyidi
MATHEdunesa Vol 11 No 1 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.625 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n1.p97-110

Abstract

Tujuan dari penelitian kualitatif ini adalah mendeskripsikan proses perencanaan pada tahapan pemecahan masalah kontekstual materi lingkaran siswa laki-laki dan siswa perempuan. Subjek dari penelitian ini, tiga siswa laki-laki dan tiga siswa perempuan kelas IX, dimana masing-masing mewakili satu proses perencanaan. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes dan wawancara. Proses perencanaan dianalisis berdasarkan; alur perencanaan siswa saat kebingungan dalam menggunakan rumus luas atau keliling, perencanaan dalam menentukan diameter atau jari-jari, dan ketepatan siswa dalam semua alur perencanaan. Hasil penelitian ini menunjukkan, baik siswa laki-laki dan siswa perempuan dapat mengidentifikasi informasi akan tetapi siswa perempuan lebih tertib dalam menuliskannya. Pada tahap mengaitkan pengetahuan, keduanya dapat mengaitkan dengan pengetahuan sebelumnya. Tahap menyebutkan konsep, siswa laki-laki dan perempuan memiliki kesamaan dalam memilih konsep yang digunakan. Pada tahap terakhir yaitu membuat rencana, siswa laki-laki cenderung menggunakan bantuan ilustrasi gambar dalam memodelkannya sedangkan siswa perempuan tidak. Pada tahap ini siswa laki-laki dan siswa perempuan sudah dapat mengaitkan dengan koteks meski ada yang salah dalam penyimpulannya. Pada penelitian ini didapatkan bahwa siswa laki-laki dan siswa perempuan masih mengalami kekeliruan dalam mengaitkan hasil perhitungan yang diperoleh dengan koteks nyata. Kata Kunci: merencanakan, masalah kontekstual, laki-laki, perempuan
ANALOGY TRANSFER IN LEARNING NEW MATERIAL WITH AND WITHOUT INTERMEDIATE PROBLEM Moch. Hisbul Ansor; Abdul Haris Rosyidi
MATHEdunesa Vol 11 No 1 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.814 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n1.p121-133

Abstract

Abstrak Transfer analogi merupakan transfer belajar yang memetakan pengetahuan dari masalah sumber ke masalah target. Transfer analogi dapat digunakan untuk mempelajari materi baru berdasarkan pengetahuan yang sudah ada sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transfer analogi siswa dalam mempelajari materi baru dengan dan tanpa masalah antara. Masalah antara merupakan masalah yang memiliki tingkat kesulitan di antara masalah sumber dan target dengan penggunaan analogi yang sama. Penelitian ini menggunakan metode campuran, metode kuantitatif dilanjutkan dengan metode kualitatif. Subjek sebanyak 45 siswa kelas X di SMA Swasta Gresik, kemudian dipilih 4 siswa sebagai subjek kualitatif. Data kuantitatif dianalisis berdasarkan persentase keberhasilan dan kegagalan siswa pada tiap kasus transfer analogi, sedangkan data kualitatif dianalisis berdasarkan fase transfer analogi yaitu penstrukturan, pemetaan, penerapan, dan pemeriksaan kembali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase keberhasilan transfer analogi pada siswa dengan masalah antara lebih besar daripada subjek tanpa masalah antara. Pada siswa dengan masalah antara dapat melakukan transfer analogi dengan baik di tiap fasenya. Sedangkan, pada siswa tanpa masalah antara mengalami hambatan pada fase penerapan. Siswa dengan dan tanpa masalah antara yang tidak dapat mengerjakan masalah target dengan benar mengalami kegagalan transfer analogi pada fase pemetaan. Kata Kunci: Transfer analogi, materi baru, masalah sumber, masalah antara, masalah target. Abstract Analogy transfer is a transfer of learning knowledge from the source problem to the target problem. Analogy transfer can be used to learn new material based on pre-existing knowledge. This study aims to analyze the transfer of analogies in studying new material with and without intermediate problems. The intermediate problem is a problem that has a difficulty level between the source and target problems using the same analogy. This study uses a mixed-method with a quantitative method followed by a qualitative method. The subjects were 45 students of tenth grade class at Gresik Private High School, then 4 students were selected as qualitative subjects. Quantitative data were analyzed based on the percentage of student success and failure in each analogy transfer case, while qualitative data is analyzed based on each phase in the analogy transfer, namely structuring, mapping, applying, and verifying The results showed that the percentage of successful analogy transfer in studies with intermediate problems was greater than in students without intermediate problems. Students with intermediate problems can transfer analogies well in each process. Meanwhile, students without intermediate problems experienced obstacles in the applying process. Students who cannot work on the target problem correctly both experience the analogy transfer failure in the mapping phase. Keywords: Transfer analogy, new material, source problem, intermediate problem, target problem.
Perbandingan Literasi Matematika Siswa Kelas VIII SMP dalam Pembelajaran Model Eliciting Activities (MEAs) dan Pembelajaran Konvensional Yazid Wafa' As Salafy; Susanah Susanah
MATHEdunesa Vol 11 No 1 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.366 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n1.p302-310

Abstract

Literasi matematika merupakan kemampuan seseorang untuk merumuskan, menggunakan, dan menginterpretasikan matematika melalui pembelajaran yang berhubungan dengan.kehidupan.sehari-hari. Penelitian ini bertujuan.untuk menjelaskan perbandingan pembelajaran Model Eliciting Activities (MEAs) dan pembelajaran konvensional dalam literasi matematika siswa kelas VIII SMP. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kuasi eksperimen.dengan.desain.nonequivalent.pre-test.dan.post-test control.group.design. Dari hasil rata-rata skor post-test literasi matematika siswa kelas eksperimen adalah 13,81, sedangkan kelas kontrol adalah 7,19. Kemudian untuk hasil rata-rata skor normalized gain literasi matematika siswa kelas eksperimen adalah 0,5253, sedangkan kelas kontrol -0,0006. Berdasarkan pengolahan data diperoleh bahwa terdapat perbandingan literasi matematika siswa yang memperoleh pembelajaran Model Eliciting Activities (MEAs) dengan model pembelajaran konvensional, dan literasi matematika siswa dengan pembelajaran Model Eliciting Activities (MEAs) lebih baik daripada literasi matematika siswa dengan pembelajaran konvensional.

Page 8 of 33 | Total Record : 325