cover
Contact Name
Eko Nur Hermansyah
Contact Email
ekonurhermansyah@unw.ac.id
Phone
+6285740244337
Journal Mail Official
prohealthjurnal@gmail.com
Editorial Address
Jl. Diponegoro No. 186 Gedanganak, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan
ISSN : 26548232     EISSN : 2654797X     DOI : 10.35473
Core Subject : Health,
This journal focus includes are and scope such as epidemiology, health education and promotion, health policy and administration, environmental helath, public health nutrition, sexual and reproductive health, occupational and safety health and bisotatistics.
Articles 113 Documents
Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Dengan Perilaku Pencegahan Penularan HIV/AIDS Pada Pasangan ODHA Di Klinik Dahlia UPTD Puskesmas Bergas Tahun 2022: The Relationship Level Of Knowledge And Attitude With Prevention Behavior Of HIV/AIDS Transmission In Couples Of Plhiv In PLHIV In Dahlia Clinic Uptd Puskesmas Bergas, 2022 Romsanah Romsanah; Heri Sugiarto; Sri Lestari
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2023): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, January 2023
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.652 KB) | DOI: 10.35473/proheallth.v5i1.2098

Abstract

HIV/AIDS cases are like an iceberg phenomenon, where the number found is far lower than the actual number of sufferers. In Semarang Regency, the number of people living with HIV/AIDS in 2019 has increased compared to before. According to risk factors, Sero Discordant (one partner is HIV positive, while the other is not) is 92.19%, sex worker customers (PS) are 10.57%, and men who have sex with men (MSM) are 8.75%. This study aims to analyze the relationship between knowledge and attitudes toward HIV/AIDS transmission prevention behavior in PLHIV couples. The research design is the quantitative analytic cross-section sectional approach. The population was this study was at the Dahlia Clinic which had partners, totaling 33 people. The sample was taken as a total population, but there were 5 people who were not willing to be respondents, so that the sample was 28 people living with HIV/AIDS. The variables studied were knowledge, attitudes, and HIV/AIDS prevention behavior. Data collection was carried out using a questionnaire in the form of a google form. Data were analyzed descriptively and analytically. For the purposes of testing the hypothesis used fisher's exact test. From the research, the results for the variable knowledge of PLWHA were 23 respondents (82.10%) with a high level of knowledge and 5 respondents (17.90%) had a moderate level of knowledge. For the attitudes of PLWHA, 25 respondents (89.29%) had a positive attitude, while 3 respondents had a negative attitude (10.71%). There is no relationship between the level of knowledge and behavior to prevent HIV/AIDS transmission with a p-value of 0.29, nor is there a relationship between attitudes and behavior to prevent transmission of HIV/AIDS with a p-value of 1.00. It was concluded that the knowledge and attitude variables were not related to the behavior of preventing the transmission of HIV/AIDS in PLWHA partners.  prevent transmission of HIV/AIDS with a p-value of 1.00. It was concluded that the knowledge and attitude variables were not related to the behavior of preventing the transmission of HIV/AIDS in PLWHA partners.  Keywords: prevention, transmission, PLHIV, HIV/AIDS ABSTRAK               Kasus HIV/AIDS seperti fenomena gunung es, dimana jumlah yang ditemukan jauh lebih rendah daripada jumlah penderita yang sebenarnya. Di Kabupaten Semarang, jumlah penderita HIV/AIDS tahun 2019 jumlahnya meningkat bila dibandingkan sebelumnya. Menurut  faktor resikonya,  Sero Discordant (salah satu pasangan adalah penderita HIV, sementara yang lain tidak) sebesar 92,19%, pelanggan Pekerja Seks (PS) sebesar 10,57%, Lelaki Seks Lelaki (LSL) 8,75%. Penelitian ini bertujuan  untuk menganalisis hubungan pengetahuan dan sikap dengan perilaku pencegahan penularan HIV/AIDS pada pasangan ODHA. Desain penelitiannya yaitu analitik kuantititatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ODHA di Klinik Dahlia yang mempunyai pasangan, sebanyak 33 orang. Sampel diambil secara total populasi, namun ada 5 orang yang tidak bersedia menjadi responden, sehingga sampel didapatkan sebanyak 28 orang ODHA. Variabel yang diteliti yaitu pengetahuan, sikap, dan perilaku pencegahan HIV/AIDS. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dalam bentuk google form. Data dianalisis secara deskriptif dan analitik. Untuk keperluan uji hipotesis digunakan uji fisher exact. Dari penelitian didapatkan hasil untuk variabel pengetahuan ODHA sebanyak 23 responden (82,10 %) dengan tingkat pengetahuan tinggi dan 5 responden (17,90%)  memiliki tingkat pengetahuan sedang. Untuk sikap ODHA, didapatkan responden dengan sikap yang positif sebanyak 25 responden (89,29 %), sedangkan 3 responden mempunyai sikap negatif (10,71%). Tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan penularan HIV/AIDS dengan p value 0,29, juga tidak ada hubungan antara sikap dengan  perilaku pencegahan penularan HIV/AIDS dengan p value 1,00. Disimpulkan bahwa variabel pengetahuan dan sikap tidak berhubungan dengan perilaku pencegahan penularan HIV/AIDS pada pasangan ODHA. Kata kunci : pencegahan, penularan, ODHA, HIV/AIDS
Hubungan Kebiasaan Menonton Mukbang terhadap Nafsu Makan, Pola Makan dan Status Gizi Mahasiswa di Jakarta: The Relationship Between Mukbang Viewing Habits Between Eating Appetite, Eating Patterns, And Nutritional Status Of Students In Jakarta Erna Thania; Wardina Humayrah
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2023): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, January 2023
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.187 KB) | DOI: 10.35473/proheallth.v5i1.2100

Abstract

ABSTRACT Watching mukbang videos is a habit that has become a trend, especially among teenagers and adults. Supported by easy internet access and unlimited types of mukbang videos on social media, it is one of the factors for the spread of mukbang fans, especially among students. The display of food and eating activities presented in the mukbang video triggers a visual stimulus that can stimulate the desire to eat for the audience. In general, the food shown in mukbang videos tends not to pay attention to nutritional content, higher in calories, fat, sugar, and sodium. This study aims to analyze the relationship between watching mukbang habits with appetite, diet, and nutritional status in students who regularly watch mukbang. The design of this study is cross-sectional with the subject of 85 regular students outside the Nutrition Study Program at Sahid University who are included in the routine category of watching mukbang. Data analysis using the Spearman Rank correlation test. For most of the subjects, watching with a moderate duration (240-479 minutes/week) was 51.8%. There was no significant association (p>0.05) between mukbang viewing habits and eating desires, diet, and nutritional status. There is a possibility that watching mukbang is an indirect factor that can affect students' appetite, diet, and nutritional status. Some of the contributing factors that may be found include genetics, sleep duration, physical activity, health problems, psychological, body and mage preferences, family income, and parental education. Keywords: Mukbang, appetite, diet, nutritional status ABSTRAK Menonton video mukbang merupakan kebiasaan yang menjadi tren hingga saat ini terutama pada kalangan remaja dan dewasa. Ditunjang dengan akses internet yang mudah dan jenis video mukbang yang tidak terbatas di media sosial menjadi salah satu faktor tersebarnya penggemar mukbang terutama pada kalangan mahasiswa. Tampilan makanan dan kegiatan makan yang dibawakan dalam video mukbang memicu stimulus visual sehingga dapat merangsang keinginan makan terhadap penonton. Secara umum, makanan yang ditampilkan pada video mukbang cenderung tidak memerhatikan kandungan gizi, lebih tinggi kalori, lemak, gula dan natrium. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kebiasaan menonton mukbang dengan nafsu makan, pola makan, dan status gizi pada mahasiswa yang rutin menonton mukbang. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan subjek sebanyak 85 mahasiswa reguler di luar Program Studi Gizi di Universitas Sahid yang masuk dalam kategori rutin menonton mukbang. Analisis data menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Sebagian besar subjek, menonton dengan durasi sedang (240-479 menit/minggu) sebanyak 51,8%. Tidak ada hubungan yang signifikan (p>0,05) antara kebiasaan menonton mukbang dengan keinginan makan, pola makan, dan status gizi. Terdapat kemungkinan menonton mukbang merupakan faktor tidak langsung yang dapat memengaruhi nafsu makan, pola makan dan status gizi mahasiswa. Beberapa faktor perancu yang mungkin ditemukan antara lain, genetik, durasi tidur, aktivitas fisik, masalah kesehatan, psikologis, preferensi body image, pendapatan keluarga, dan pendidikan orang tua. Kata kunci: Mukbang, nafsu makan, pola makan, status gizi
Program CANTIK untuk Peningkatan Pengetahuan dan Sikap dalam Mengonsumsi Tablet Tambah Darah pada Remaja Putri di Kabupaten Bogor: The Influence Of The CANTIK Program On The Knowledge, Attitude, And Behavior Of Adolescent Women In Consumption Blood Added Tablets In Bogor Regency Wardina Humayrah; Islamiati Putri
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2023): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, January 2023
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.854 KB) | DOI: 10.35473/proheallth.v5i1.2105

Abstract

Giving blood supplement tablets (BST) to teenage girls (TG) is a program of the Indonesian government to reduce the prevalence of anemia in 2025. The coverage of giving iron supplementation to TG in West Java Province is still below the national target, especially in high schools in Bogor Regency. Low knowledge and attitudes about anemia prevention are one of the factors for non-compliance in taking BST among TG which affects hemoglobin levels. So the competition for team adolescents in the knowledge of anemia (CANTIK) program was carried out wto compareknowledge, attitudes, and behavior in consuming BST among TG before and after the program. The design of this study is quasi-experimental with one group pre-test-post test. The research subjects were 58 adolescents aged 12-17 years in MTs Al-Islamiyyah, Bogor Regency. Knowledge and attitude were measured through pre and post-questionnaires analyzed in the score range 1-100 and then tested differently using the paired sample T-test. The results showed that there was an increase in the average knowledge score from 39 to 68 while the attitude score from 45 to 77. During the 2 months of the program, the average adolescent consumed BST as much as 6 tablets, with the highest consumption being 20 tablets and the lowest being 0 tablets. There was a significant difference (P<0.05) in knowledge and attitudes about the prevent the other f anemia in taking BST but there was no significant difference in the behavior of TG before and after the program was implemented. Nutrition education through the CANTIK program is quite good at increasing knowledge and attitudes but needs to be continued routinely so that it can change the compliance behavior in taking BST to prevent anemia among TG. Keywords: anemia, blood supplement tablets, cantik, teenage girls ABSTRAK Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) pada remaja putri (rematri) merupakan program pemerintah Indonesia untuk mengurangi prevalensi anemia di tahun 2025. Cakupan pemberian TTD rematri Provinsi Jawa Barat masih di bawah target nasional, khususnya pada SMP/MTs di Kabupaten Bogor. Rendahnya pengetahuan dan sikap tentang pencegahan anemia merupakan salah satu faktor ketidakpatuhan dalam mengonsumsi TTD pada rematri yang memengaruhi kadar hemoglobin. Sehingga program competition for team adolescent in the anemia knowledge (CANTIK) dilakukan dengan tujuan membandingkan pengetahuan, sikap, dan perilaku dalam mengonsumsi TTD pada rematri sebelum dan sesudah program. Desain studi ini adalah eksperimental semu dengan one group pre test-post test. Rematri penelitian adalah rematri berjumlah 58 orang berusia 12-17 tahun di MTs Al-Islamiyyah, Kabupaten Bogor. Pengetahuan, sikap, dan perilaku diukur melalui kuesioner pre dan post lalu dianalisis dalam rentang skor 1-100 dan diuji beda menggunakan paired sample T-test. Hasil menunjukkan bahwa terjadi peningkatan rerata skor pengetahuan sebesar 39 menjadi 68 sedangkan skor sikap dari 45 menjadi 77. Selama program berjalan dalam kurun waktu 2 bulan, rata-rata rematri mengonsumsi TTD sebanyak 6 tablet, dengan konsumsi tertinggi adalah 20 tablet dan terendah 0 tablet. Terdapat perbedaan signifikan (P<0,05) pada pengetahuan dan sikap tentang pencegahan anemia dalam mengonsumsi TTD namun tidak ada perbedaan signifikan pada perilaku rematri sebelum dan sesudah dilaksanakan program. Edukasi gizi melalui program CANTIK cukup baik dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap namun perlu dilanjutkan secara rutin agar dapat mengubah perilaku kepatuhan konsumsi TTD untuk pencegahan anemia pada rematri. Kata kunci: Anemia, cantik, tablet tambah darah, remaja putri
Hubungan Pemberian MP-ASI Dini Terhadap Kejadian Stunting Pada Balita Di Masa Pandemi Covid-19 Tahun 2022: The Relationship of Early MP-ASI Giving to Stunting Incidents in Toddlers During the Covid-19 Pandemic in 2022 Riani Widi Astuti; Dina Sulviana Damayanti
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2023): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, January 2023
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.217 KB) | DOI: 10.35473/proheallth.v5i1.2121

Abstract

The golden period of extraordinary child development occurs from 0 to 2 years old. Mother's nutritional status, food priority, duration of exclusive breastfeeding, not eating meat and repeated episodes of diarrhea are variables that determine the occurrence of stunting in children aged 6-59 months. After the baby is born, breast milk is the ideal first meal for babies with very adequate nutritional content for up to 6 months and then continued for up to 24 months with complementary foods (MP-ASI). This study aimed to determine the relationship between early complementary breastfeeding and the incidence of stunting in children aged 6-59 months at Posyandu, East Jakarta. The research design used was descriptive analytics by collecting primary data and observations which were conducted in August 2022. The research sample was taken by purposive sampling at aged 1-5 years with a total of 107 toddlers. Data would be analyzed using the Chi-Square test. This study’s results indicate a significant relationship between early MP-ASI and stunting with a p-value = 0.001. The period of growth and development apart from the physical and mental of the child's brain must also be considered. If a child has nutritional problems such as insufficient nutrition, it can cause developmental delays such as stunting. Keywords: Toodler, MP-ASI, stunting ABSTRAK Periode emas pertumbuhan dan perkembangan anak yang luar biasa terjadi pada usia 0 hingga 2 tahun. Status gizi ibu, prioritas makanan, lama pemberian ASI eksklusif, tidak ada asupan daging dan episode diare berulang merupakan variabel yang menentukan terjadinya stunting pada anak usia 6-59 bulan. Setelah bayi dilahirkan, ASI merupakan makanan pertama yang ideal bagi bayi dengan kandungan nutrisi yang sangat cukup sampai dengan 6 bulan kemudian dilanjutkan sampai 24 bulan dengan makanan pendamping ASI (MP-ASI). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pemberian MP-ASI dini dengan kejadian stunting pada balita di Posyandu daerah Jakarta Timur. Desain penelitian yang digunakan adalah analitik deskriptif dengan mengumpulkan data primer dan observasi yang dilakukan pada bulan Agustus 2022. Sampel penelitian ini diambil secara purposive sampling pada balita yang berusia 1-5 tahun dengan jumlah 107 balita. Analisis yang digunakan adalah uji Chi Square. Hasil dari penelitian ini menunjukkan hubungan yang signifikan antara pemberian MP-ASI dini dengan terjadinya stunting dengan p-value=0,001. Masa pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, dan otak anak harus diperhatikan. Jika anak memiliki masalah gizi seperti tidak cukup nutrisi, maka dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan seperti stunting. Kata Kunci : Balita, MP-ASI, stunting
Gambaran Pengetahuan Tentang Pencegahan COVID-19 pada Anak Usia Sekolah: Description Of Knowledge About COVID-19 Prevention In School-Age Children Fiki Wijayanti Wijayanti; Natalia Devi Oktarina
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2023): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, January 2023
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.986 KB) | DOI: 10.35473/proheallth.v5i1.2123

Abstract

School-age children have a higher risk of contracting COVID-19 due to a lack of knowledge about how to prevent it, besides that school-age children still like to play with friends their own age. Considering that children are individuals who are susceptible to contracting the disease, therefore knowledge about Covid-19 needs to be given to children to implement preventive behavior and reduce the number of Covid-19 diseases. School-age children have a higher risk of transmission of COVID-19 due to a lack of knowledge about how to prevent it, Besides that, school-age children still like to play with friends their age. In order to fight against an increase in COVID-19 cases, various preventive measures absolutely must be implemented, both by the government and the community. The purpose of this study was to describe the knowledge of Covid-19 prevention in school-age children at SD Solafide Ungaran. The method in this study is to use an analytic descriptive design. The sampling method uses total sampling. Respondents in the study were 85 school-age children who attended Solafide Elementary School in grades 4, 5, and 6. The research instrument used a questionnaire sent via Google form via zoom. The variable in this study is knowledge about preventing covid-19. Data analysis uses frequency distribution. The results of this study were that most of the knowledge the on prevention of COVID-19 in children and in the good category, namely 61 children (71.8%). Keywords: Children, Knowledge, Covid 19   ABSTRAK               Anak usia sekolah memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap penularan COVID-19 karena minimnya pengetahuan tentang cara mencegahnya, disamping itu juga anak usia sekolah masih suka bermain dengan teman – teman seusianya. Mengingat anak merupakan individu yang rentang tertular penyakit maka dari itu pengetahuan tentang covid 19 perlu diberikan kepada anak untuk mewujudkan perilaku pencegahan dan menekan angka penyakit covid 19. Anak usia sekolah memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap penularan COVID-19 karena minimnya pengetahuan tentang cara mencegahnya, disamping itu juga anak usia sekolah masih suka bermain dengan teman – teman seusianya. Guna melawan adanya peningkatan kasus COVID-19, maka berbagai tindakan preventif mutlak harus dilaksanakan, baik oleh pemerintah ataupun masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan pencegahan covid 19 pada anak usia sekolah di SD Solafide Ungaran. Metode dalam penelitian ini adalah menggunakan desain deskriptif analitik. Metode pengambilan sampling menggunakan total sampling. Responden dalam penelitian adalah anak usia sekolah jumlah 85 anak yang bersekolah di SD solafide pada kelas 4,5 dan 6. Intrumen penelitian mengunakan kuesioner yang dikirim melalui google form melalui zoom. Variabel dalam penelitian ini adalah pengetahuan tentang pencegahan covid-19. Analisis data menggunakan distribusi frekuensi. Hasil dalam penelitian ini adalah sebagian besar pengetahuan pencegahan COVID 19 anak pada keategori baik yaitu 61 anak (71.8%). Kata kunci : Anak, Pengetahuan, Covid-19
Perilaku Berisiko Hipertensi Pada Remaja di Kabupaten Semarang: Hypertension Risk Behavior In Adolescents In Semarang District Yuliaji Siswanto; Sri Wahyuni; Sigit Ambar Widyawati
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2023): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, January 2023
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (787.479 KB) | DOI: 10.35473/proheallth.v5i1.2131

Abstract

The lifestyle of adolescents in consuming salty and fatty foods and smoking behavior can trigger hypertension. Since the Covid-19 pandemic, there has been a change in the activities carried out, everything is online and learning activities have had an effect on the formation of a new youth lifestyle pattern. This study aims to describe the risk behavior of hypertension in adolescents in Semarang Regency during the Covid-19 pandemic. The chosen method is descriptive with a cross-sectional approach. The sample selected by adolescents who attended high school in Semarang Regency were 121 respondents who were taken by quota sampling, using the considerations of respondents who filled in data on date of birth, sex, blood pressure, weight, and height up to the specified limit. The data collection technique uses a questionnaire through Google forms. The results of the study showed that 14.0% had smoking habits, 54,5% had sweet consumption habits, 52.1% had salty consumption habits, 47.9% had fatty food habits, 29.8% had the habit of not consuming vegetables as much as 67.8% had a habit of not consuming fruit, as much as 23.1% have a habit of consuming fast food, as much as 38.8% have a habit of not doing routine physical activity, as much as 34.7% have a habit of not getting enough sleep, as much as 55.4% did not have a balanced diet to maintain weight, and as many as 11.6% did not manage stress. The results showed that 47.9% of respondents had abnormal pressure, with details of 32 (26.4%) respondents included in that pre-hypertension category, and as many as 26 (21.5%) respondents had experienced hypertension. Therefore, it is necessary to take preventive measures to control blood pressure by avoiding or reducing various risk factors. Keywords: behavior, hypertension, adolescents ABSTRAK Gaya hidup remaja dalam mengkonsumsi makanan asin dan berlemak serta perilaku merokok dapat menjadi pemicu timbulnya hipertensi. Sejak pandemi Covid-19 terjadi perubahan aktivitas yang dilakukan, semua serba online dan kegiatan belajar berpengaruh pada pembentukan pola gaya hidup remaja yang baru. Penelitian ini bertujuan  untuk menggambarkan perilaku berisiko hipertensi pada remaja di Kabupaten Semarang pada masa pandemi Covid-19. Metode yang dipilih dekriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang dipilih remaja yang bersekolah SMA yang ada di wilayah Kabupaten Semarang sebanyak 121 responden yang diambil dengan quota sampling, dengan menggunakan pertimbangan responden yang mengisi data tanggal lahir, jenis kelamin, tekanan darah, berat badan dan tinggi badan sampai dengan batas jumlah yang ditentukan. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner melalui google form. Hasil penelitian remaja didapatkan sebanyak 14,0% mempunyai kebiasaan merokok, sebanyak 54,5% mempunyai kebiasaan konsumsi manis, sebanyak 52,1% mempunyai kebiasaan konsumsi asin, sebanyak 47,9% mempunyai kebiasaan konsumsi makanan berlemak, sebanyak 29,8% mempunyai kebiasaan tidak konsumsi sayur, sebanyak 67,8% mempunyai kebiasaan tidak konsumsi buah, sebanyak 23,1% mempunyai kebiasaan konsumsi makanan cepat saji, sebanyak 38,8% mempunyai kebiasaan tidak aktivitas fisik rutin, sebanyak 34,7% mempunyai kebiasaan tidur tidak cukup, sebanyak 55,4% tidak melakukan diet seimbang untuk mempertahankan berat badan, dan sebanyak 11,6% tidak melakukan pegelolaan stress. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 47,9% responden memiliki tekanan tidak normal, dengan rincian sebanyak 32 (26,4%) responden termasuk dalam kategori pre hipertensi, dan sebanyak 26 (21,5%) responden sudah mengalami kejadian hipertensi. Oleh karena itu, perlu adanya upaya tindakan pencegahan agar bisa mengendalikan tekanan darahnya dengan menghindari atau mengurangi berbagai faktor risikonya. Kata kunci: perilaku berisiko, hipertensi, remaja
Gambaran Kejadian Stunting Pada Anak Usia Sekolah di Daerah Pertanian: Description Of Stunting Incidence In School-Age Children In Agricultural Area Alfan Afandi
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2023): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, January 2023
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.063 KB) | DOI: 10.35473/proheallth.v5i1.2142

Abstract

Stunting is an indicator of chronic malnutrition which describes a history of malnutrition that has occurred over a long period. An assessment of stunting risk factors, especially environmental factors in children, needs to be carried out considering that the child's growth period, especially elementary school-aged children, it is much influenced by the environment in which students live/work. This study aimed to describe the incidence of stunting in elementary school-age children in agricultural areas. This research is a descriptive observational study with a cross-sectional approach. The study was conducted at SD N 1 Kluwut with the research sample being all students who attended SDN 1 Kluwut. Observations on environmental factors were carried out on 10 children with stunting status who were randomly selected. Weight and height measurements using digital scales and a stadiometer. The research data were analyzed descriptively. The results showed that 14.5% of children were in a short category and 0.4% in a very short category at SD N 1 Kluwut. From the observations of 10 stunted children randomly selected, it was found that 7 of them came from parents with a farmer background where the children also participated in agricultural activities such as mritili, drying, and harvesting onions. The results of measuring nutritional intake also revealed that 10 respondents had quite good energy and protein intake. Keywords: stunted, child, environment ABSTRAK Stunting merupakan salah satu indikator adanya masalah kekurangan gizi kronis yang menggambarkan riwayat kekurangan gizi yang terjadi dalam jangka waktu yang lama, penilaian faktor resiko stunting terutama faktor lingkungan pada anak perlu dilakukan mengingat pada periode pertumbuhan anak terutama anak usia sekolah dasar banyak dipengaruhi oleh lingkungan dimana siswa tinggal/beraktfitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kejadian stunting pada anak usia sekolah dasar di daerah pertanian. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pendekata crossectional. Studi dilakukan di SD N 1 Kluwut dengan sampel penelitaian adalah seluruh siswa yang sekolah di SDN 1 Kluwut. Observasi terhadap faktor lingkungan dilakukan terhadap 10 anak dengan status stunting yang dipilih secara acak (random). Pengukuran berat badan dan tinggi badan menggunakan timbangan digital dan stadiometer. Data hasil penelitian dinalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 14,5 % anak dengan kategori pendek dan 0,4 % kategori sangat pendek di SD N 1 Kluwut. Dari hasil observasi terhadap 10 anak stunting yang dipilih secara random diketahui 7 diantaranya berasal dari orang tua yang berlatar belakang sebagai seorang petani dimana anak-anak juga mengikuti aktifitas pertanian seperti mritili, menjemur dan memanen bawang. Hasil pengukuran asupan gizi juga diketahui 10 responden memiliki asupan energi dan protein cukup baik. Kata kunci: stuntig, anak, lingkungan
Faktor Risiko Diabetes Mellitus di Wilayah Kerja Puskesmas Gunungpati Kota Semarang : Risk Factors Of Diabetes Mellitus In The Work Area Of Puskesmas Gunungpati, Semarang City Bunga Farchati; Kartika Dian Pertiwi; Ita Puji Lestari
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2023): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, January 2023
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.153 KB) | DOI: 10.35473/proheallth.v5i1.2143

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) is a metabolic disease characterized by high blood sugar levels or hyperglycemia, which occurs due to failure of insulin secretion. This disease is chronic with the number of sufferers continuing to increase in the world along with increasing population, age, the prevalence of obesity, and decreased physical activity. DM is one of the degenerative diseases that continues to increase in Gunungpati District. The increase in DM cases is partly due to unhealthy lifestyles and eating patterns in society. This study describes the risk factors for DM in the working area of the Gunung Pati Community Health Center, Semarang City in 2021. This research uses a quantitative descriptive method with a cross-sectional design. The sample in this study was 167 DM sufferers who were taken using the total sampling technique. Data collection was carried out using a questionnaire through interviews, then the data were analyzed univariately using a frequency distribution table. The results of the study were DM sufferers in the working area of the Gunung Pati Health Center found that the majority were women 122 people (73.1%), aged between 56 to 65 years as many as 68 people (40.7%), as many as 72 people (43.1%) doing activities in the low category, as many as 66 people (39.5%) were obese, as many as 87 people (52.1%) consumed excessive sugar. Most of the respondents carried out risky activities including doing low physical activity and consuming excessive sugar Keywords: DM, sugar, physical activity   ABSTRAK               Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit metabolic yang ditandai dengan kadar gula darah tinggi atau hiperglikemi, yang terjadi akhibat kegagalan sekresin insulin. Penyakit ini bersifat kronis dengan jumlah penderita yang terus meningkat di duia seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, usia, prevalensi obesitas dan penurunan aktivitas fisik. DM menjadi salah satu penyakit degeneratif yang terus meningkat di Kecamatan Gunungpati. Peningkatan kasus DM diantaranya disebabkan oleh gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat di masyarakat. Penelitian ini menggambarkan factor risiko DM di Wilayah kerja Puskesmas Gunung Pati Kota Semarang pada tahun 2021. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah penderita DM sejumlah 167 orang yang diambil menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilaksanakan dengan menggunakan kuesioner melalui wawancara, selanjutnya data  dianalisis secara univariat menggunakan table distribusi frekuensi. Hasil penelitian adalah penderita DM di wilayah kerja Puskesmas Gunung Pati ditemukan mayoritas perempuan 122 orang (73,1%), berusia antara 56 sampai 65 tahun sebanyak 68 orang (40,7%), sebanyak 72 orang (43,1%) melakukan aktivitas fisik dengan kategori rendah, sebanyak 66 orang (39,5%) mengalami obesitas, sebanyak 87 orang (52,1%) mengkonsumsi gula secara berlebihan. Sebagian besar responden melakukan aktivitas berisiko meliputi melakukan aktivitas fisik yang rendah dan mengkonsumsi gula secara berlebihan Kata kunci: DM, gula, aktivitas fisik
Analisis Hygiene dan Sanitasi Peralatan pada Pedagang Penjual Makanan Jajanan di Pasar Tradisional di Kabupaten Semarang: Analysis of Equipment Hygiene and Sanitation on Snack Food Vendors in Traditional Markets in Semarang Regency Yuliaji Siswanto; Kartika Dian Pertiwi
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2023): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, July 2023
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/proheallth.v5i2.2218

Abstract

Hygiene food equipment is one of the important things in determining the quality of a food. Food equipment will have an impact on the quality of the food to be made. Based on data from the Ministry of Health of the Republic of Indonesia, the prevalence of diarrhea in 2018 was 37.88% or around 1,516,438 cases. Food Born Disease is still a public health problem in Indonesia. Food safety is a public need, because safe food will protect and prevent disease or other health problems. This study aims to describe the hygiene and sanitation equipment used by food vendors in traditional markets in Semarang Regency. This research is descriptive in nature by determining the sample using purposive sampling technique, as many as 108 food vendors in traditional markets in Semarang district. Data were obtained using a questionnaire with observation and interview methods, and data were analyzed descriptively. The results of this study indicate that the implementation of hygiene and sanitation for processing and serving food in traditional markets in Semarang Regency does not meet health requirements. ABSTRAK                 Hygiene peralatan makanan menjadi salah satu hal penting dalam menentukan kualitas suatu makanan. Peralatan makanan akan berdampak pada kualitas makanan yang akan dibuat. Berdasarkan data Kementreian Kesehatan Republik Indonesia prevalensi diare pada tahun 2018 sebanyak 37,88% atau sekitar 1.516.438 kasus. Penyakit akibat makanan (Food Born Disease) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Keamanan makanan merupakan kebutuhan masyarakat, karena makanan yang aman akan melindungi dan mencegah terjadinya penyakit atau gangguan kesehatan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran hygiene sanitasi peralatan yang digunakan pedagang penjual makanan di pasar tradisional di Kabupaten Semarang. Penelitian ini bersifat deskriptif dan sampel diambil dengan teknik Quota Sampling, sebanyak 108 pedagang makanan di Pasar Tradisional di Kabupaten Semarang. Data diperoleh menggunakan kuesioner dengan metode observasi dan wawancara, dan data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan penerapan hygiene dan sanitasi peralatan pengolah dan penyajian makanan jajanan di Pasar Tradisional di Kabupaten Semarang belum memenuhi syarat kesehatan.
Persepsi Budaya Masyarakat Terhadap Kunjungan Ibu Hamil di Pustu Wonorejo Puskesmas Pringapus Kabupaten Semarang: Community Cultural Perceptions of Pregnant Women's Visits at Pustu Wonorejo Pringapus Health Center, Semarang Regency Sri Rahayu
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2023): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, July 2023
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/proheallth.v5i2.2314

Abstract

Pregnancy sevicess can be interpreted as a form of health service provided to pregnant women and their fetuses. This examination is carried out by professionals according to established standards, with a minimum of 6 visits during pregnancy. Community life involves rules that include norms and views of life, as well as being a guide in regulating behavior in group life. Cultural factors that still apply in some areas can be a cause of complications in pregnant women, childbirth and the postpartum period. The culture and norms prevailing in society have an impact on a mother's decision to have a pregnancy check-up with a health professional. The type of research in this article is descriptive analytic research supported by qualitative research to complement quantitative data with a cross sectional approach. The results of this study indicate that people's cultural perceptions are not the main factor in the low number of visits by pregnant women at Pustu Wonorejo, Pringapus Health Center, Semarang Regency. This is also in accordance with the results of interviews with patients (pregnant women), and husbands/families of pregnant women. Characteristics of respondents who provided services for visiting pregnant women at Pustu Wonorejo Puskesmas Pringapus Semarang Regency aged 25-35 years (50.0%) with community cultural perceptions of visiting pregnant women (90.6%) who are diligent in having their pregnancies checked. The bivariate analysis showed that there was no significant relationship (p value 0.05) between people's cultural perceptions of pregnant women's visits at Pustu Wonorejo Puskesmas Pringapus Semarang Regency. ABSTRAK                 Pemeriksaan kehamilan dapat diartikan sebagai bentuk pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu hamil dan janinnya. Pemeriksaan ini dilakukan oleh tenaga medis profesional sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, dengan minimal 6 kali kunjungan selama masa kehamilan. Kehidupan masyarakat melibatkan aturan-aturan yang mencakup norma-norma dan pandangan hidup, serta menjadi pedoman dalam mengatur perilaku dalam kehidupan berkelompok. Faktor budaya yang masih berlaku di beberapa daerah dapat menjadi penyebab komplikasi pada ibu hamil, persalinan, dan masa nifas. Budaya dan norma yang berlaku dalam masyarakat memiliki dampak pada keputusan seorang ibu dalam melakukan pemeriksaan kehamilan dengan tenaga kesehatan. Jenis penelitian pada artikel ini merupakan penelitian deskriptif analitik yang didukung penelitian kualitatif untuk melengkapi data kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi budaya masyarakat bukan termasuk faktor utama dari rendahnya kunjungan ibu hamil di Pustu Wonorejo Puskesmas Pringapus Kabupaten Semarang. Hal ini pula sesuai dengan hasil wawancara dengan pasien (ibu hamil), dan suami/keluarga dari ibu hamil. Karakteristik responden yang memberikan pelayanan kunjungan ibu hamil di Pustu Wonorejo Puskesmas Pringapus Kabupaten Semarang berumur 25-35 tahun (50,0%) dengan persepsi budaya masyarakat terhadap kunjungan ibu hamil (90,6%) yang merupakan masyaraktnya rajin memeriksakan kehamilannya. Pada analisis bivariat menunjukkan tidak ada hubungan secara signifikan (nilai p 0,05) antara persepsi budaya masyarakat terhadap kunjungan ibu hamil di Pustu Wonorejo Puskesmas Pringapus Kabupaten Semarang.

Page 7 of 12 | Total Record : 113