cover
Contact Name
Eko Nur Hermansyah
Contact Email
ekonurhermansyah@unw.ac.id
Phone
+6285740244337
Journal Mail Official
prohealthjurnal@gmail.com
Editorial Address
Jl. Diponegoro No. 186 Gedanganak, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan
ISSN : 26548232     EISSN : 2654797X     DOI : 10.35473
Core Subject : Health,
This journal focus includes are and scope such as epidemiology, health education and promotion, health policy and administration, environmental helath, public health nutrition, sexual and reproductive health, occupational and safety health and bisotatistics.
Articles 119 Documents
Efek Monosodium Glutamate terhadap Estrogen Induk Tikus Bunting dan Jarak Anogenital Anak Tikus Jantan Permata Sari, Amelya; Mega Ade Nugrahmi; Meka Melani Sari
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 7 No. 2 (2025): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, July 2025
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Monosodium glutamate (MSG) diketahui dapat merusak fungsi ovarium melalui induksi sekresi luteinizing hormone (LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH) dari hipofisis anterior, serta estradiol dari folikel ovarium. Salah satu indikator feminisasi pada anak tikus jantan adalah pemendekan jarak anogenital yang menyerupai kelamin betina. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pemberian MSG terhadap kadar estrogen tikus bunting dan feminisasi pada anak tikus jantan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan 18 ekor tikus bunting yang dibagi menjadi tiga kelompok: kontrol, perlakuan 1 (MSG 2 mg/g BB), dan perlakuan 2 (MSG 4 mg/g BB). Penelitian dilakukan selama 28 hari di animal house dan Laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang. Kadar estradiol serum diukur menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Analisis data dilakukan menggunakan One Way ANOVA untuk kadar estradiol dan uji Kruskal–Wallis untuk jarak anogenital.Hasil: Terdapat perbedaan kadar estradiol serum yang signifikan antara kelompok kontrol dan perlakuan 1 (p=0,012), kontrol dan perlakuan 2 (p<0,001), serta perlakuan 1 dan perlakuan 2 (p<0,001). Uji Kruskal–Wallis menunjukkan adanya pengaruh signifikan pemberian MSG terhadap jarak anogenital (p<0,001). Pemberian MSG berpengaruh terhadap peningkatan kadar estrogen tikus bunting dan pemendekan jarak anogenital pada anak tikus jantan. Disarankan agar ibu hamil menghindari konsumsi MSG dalam dosis tinggi.   Kata kunci: Estrogen, Feminisasi, MSG             ABSTRACT Monosodium glutamate (MSG) has been reported to impair ovarian function by inducing the secretion of luteinizing hormone (LH) and follicle-stimulating hormone (FSH) from the anterior pituitary, as well as estradiol from ovarian follicles. One indicator of feminization in male offspring is the shortening of the anogenital distance, resembling that of females. This study aimed to analyze the effect of MSG administration on estrogen levels in pregnant rats and feminization in male offspring. This experimental study involved 18 pregnant rats randomly assigned into three groups: control, treatment 1 (MSG 2 mg/g body weight), and treatment 2 (MSG 4 mg/g body weight). The study was conducted for 28 days at the animal house and Biomedical Laboratory, Faculty of Medicine, Andalas University, Padang. Serum estradiol levels were measured using the enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) method. Data were analyzed using one-way ANOVA for estradiol levels and the Kruskal–Wallis test for anogenital distance. Results: A significant difference in serum estradiol levels was found between the control and treatment 1 groups (p = 0.012), control and treatment 2 groups (p < 0.001), and treatment 1 and treatment 2 groups (p < 0.001). The Kruskal–Wallis test revealed a significant effect of MSG administration on anogenital distance (p < 0.001). MSG administration affected the increase in estrogen levels in pregnant rats and the shortening of the anogenital distance in male offspring. It is recommended that pregnant women avoid high doses of MSG consumption   Keywords: Estrogen, Feminitation, MSG
Analisis Kecukupan Energi dan Protein serta Faktor Sosial Ekonomi pada Siswa Sekolah Dasar di Daerah Pertanian Kabupaten Brebes Afandi, Alfan; Widyawati, Sigit Ambar; Ita Puji Lestari
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 7 No. 2 (2025): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, July 2025
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Asupan makanan merupakan salah satu faktor utama yang secara langsung memengaruhi status gizi seseorang, terutama pada anak-anak yang berada dalam masa pertumbuhan dan perkembangan. Anak yang tidak memperoleh makanan yang cukup, baik dari segi jumlah (kuantitas) maupun kualitas (jenis dan kandungan gizi), berisiko mengalami kekurangan zat gizi penting seperti energi, protein, vitamin, dan mineral. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis tingkat kecukupan energi dan protein pada anak usia sekolah di daerah pertanian kabupaten Brebes. Penelitian ini bersifat survei analitik dengan pendekatan cross sectional study. Jumlah sampel sebanyak 90 responden dengan menggunakan simple random sampling. Analisis data yang digunakan menggunakan  distribusi frekuensi. Berdasarkan metode food recall 2 x 24 jam didapati gambaran kecukupan energi dan protein paling banyak kategori cukup yaitu 83,3%, Sebanyak 83,3% siswa memiliki kecukupan energi yang cukup berdasarkan recall 2x24 jam sedangkan tingkat kecukupan protein paling banyakkategori cukup sebesar 76,6%.. Konsumsi makanan yang beragam pada anak diperlukan untuk pemenuhan status gizi pada anak. Diperlukan edukasi gizi untuk meningkatkan asupan protein anak di daerah pertanian.   Kata kunci: Tingkat kecukupan energi dan protein, daerah pertanian             ABSTRACT Diet is one of the main factors that directly affects a person's nutritional status, especially in children who are in their growth and development stages. Children who do not get enough food, both in terms of quantity and quality (type and nutritional content), are at risk of experiencing deficiencies in essential nutrients such as energy, protein, vitamins, and minerals. The objective of this study is to analyze the adequacy of energy and protein intake among school-aged children in the agricultural area of Brebes District. This study is an analytical survey using a cross-sectional study approach. The sample size was 90 respondents, selected using simple random sampling. Data analysis was conducted using frequency distribution. Based on the 2x24-hour food recall method, the most common category for energy and protein sufficiency was “adequate” at 83.3%. Approximately 83.3% of students had adequate energy intake based on the 2x24-hour recall, while the most common category for protein sufficiency was “adequate” at 76.6%. A diverse diet is necessary for children to meet their nutritional needs. Nutrition education is needed to increase protein intake among children in agricultural areas.   Keywords: Level of energy and protein sufficiency, agricultural areas
Status Gizi dan Kadar Hemoglobin sebagai Faktor Risiko Kelelahan Kerja pada Pemulung di TPA Blondo, Semarang Avida Noor Hidayah; LESTARI, SRI; Pertiwi, Kartika
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 7 No. 2 (2025): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, July 2025
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Tempat Pembuangan Akhir (TPA) adalah sarana fisik untuk berlangsungnya kegiatan pembuangan akhir sampah. Menurut the International Journal of Occupational Safety and Health, pekerja sampah yang bekerja di TPA kota cenderung rentan terpapar berbagai risiko kesehatan seperti kelelahan kerja jika dilihat dari aktivitasnya. Kelelahan kerja merupakan masalah umum yang yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja. Salah satu faktor yang mempengaruhi kelelahan kerja yaitu status gizi dan kadar hemoglobin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dan kadar hemoglobin dengan kelelahan kerja pada pemulung di TPA Blondo Kabupaten Semarang. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif menggunakan desain penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional dan teknik sampling yaitu purposive sampling dengan pertimbangan tertentu. Populasi dalam penilitian ini adalah pemulung. Sampel yang digunakan sebanyak 71 pemulung. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Industrial Fatigue Research Committee (IFRC), microtoice, timbangan, easy touch GCHb. Analisis bivariat menggunakan korelasi rank Spearman. Hasil perhitungan korelasi rank Spearman menunjukkan ada hubungan antara status gizi (p = 0,002) dan kadar hemoglobin (p = 0,000) dengan kelelahan kerja. Nilai koefisien korelasi sebesar status gizi (r = -0,356) dan kadar hemoglobin (r = -0,483) yang berarti memiliki kekuatan hubungan cukup kuat dengan kelalahan kerja. Terdapat hubungan antara status gizi dan kadar hemoglobin dengan kelelahan kerja   Kata kunci: Status gizi, Hemoglobin, Kelelahan kerja, Kesehatan kerja, Pemulung             ABSTRACT Final Disposal Site (TPA) is a physical facility for final waste disposal activities. According to the International Journal of Occupational Safety and Health, waste workers who work in city landfills tend to be vulnerable to various health risks such as work fatigue if seen from their activities. Work fatigue is a common problem that can cause work accidents. One of the factors that influence work fatigue is nutritional status and hemoglobin levels. This study aims to determine the relationship between nutritional status and hemoglobin levels and work fatigue in scavengers at Blondo TPA, Semarang Regency. This type of research was quantitative using an analytical observational research design with a cross sectional approach and a sampling technique, namely purposive sampling with certain considerations. The population in this research are scavengers. The sample used was 71 scavengers. Data collection used the Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) questionnaire, microtoice, scales, easy touch GCHb. Bivariate analysis used Spearman rank correlation. The results of Spearman's rank correlation calculations show that there is a relationship between nutritional status (p = 0.002) and hemoglobin levels (p = 0.000) with work fatigue. The correlation coefficient values for nutritional status (r = -0.356) and hemoglobin levels (r = -0.483) indicate a fairly strong relationship with work fatigue. There is a relationship between nutritional status and hemoglobin levels with work fatigue.   Keywords: Nutritional status, Hemoglobin, Work fatigue, Occupational health, Scavengers
Peningkatan Pengetahuan Anemia pada Remaja Putri melalui Intervensi Video Animasi krislinggardini, Krislinggardini; Dhea Rizki Amalia
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 8 No. 1 (2026): Vol. 8 No. 1 (2026): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, January 2026
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang Anemia defisiensi besi merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dialami remaja putri.  Edukasi yang efektif diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan dan mendorong perilaku pencegahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi dengan media video animasi terhadap pengetahuan anemia pada remaja putri. Metode penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan metode penelitian pendekatan Quasi-Experimental Desaign dengan rancangan One Group Pre Test dan Post Test. Populasi dalam penelitian ini adalah 188 remaja putri. Sampel penelitian sebanyak 65 responden. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Berdasarkan rentang umur, mayoritas direntang usia 12-14 tahun berjumlah 24 orang (12,3%). Berdasarkan data menarche mayoritas berada di umur 12 tahun dengan jumlah 23 orang (35,4%). Berdasarkan data lama menstruasi mayoritas direntang 7 hari berjumlah 32 orang (49,2%). Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh antara media video animasi terhadap pengetahuan anemia menggunakan uji Wilcoxon memiliki p-value yaitu 0,000. Kesimpulan pada penelitian ini terdapat pengaruh yang signifikan antara media video animasi terhadap pengetahuan anemia pada remaja putri di Desa Pamijen.   Kata kunci: Video Animasi, Pengetahuan Remaja Putri, Anemia pada Remaja Putri ABSTRACT Adolescence is the period between childhood and adulthood, typically between the ages of 10 and 19. Physical and psychological changes mark this transitional phase. Various health issues emerge during adolescence, one of which is anemia. To determine the effect of education using animated video media on anemia knowledge in adolescent girls in Pamijen Village.This quantitative study used a Quasi-Experimental Design with a One Group Pre-Test and Post-Test approach. The population in this study consisted of 188 adolescent girls, with a sample size of 65 respondents. Data analysis was conducted using the Wilcoxon test. Based on age range, most participants were 12-14 years old, totaling 24 individuals (12.3%). Most participants experienced menarche at 12, with 23 individuals (35.4%). Most participants had a menstruation duration of 7 days, totaling 32 individuals (49.2%). The study showed a significant effect of animated video media on anemia knowledge, with a Wilcoxon test p-value of 0.000 (p 0.05). Therefore, it can be concluded that the hypothesis is accepted, indicating that animated video media significantly impacts anemia knowledge in adolescent girls. There is a significant effect of animated video media on anemia knowledge in adolescent girls in Pamijen Village. Keywords: Animated Video, Adolescent Girls' Knowledge, Adolescent Anemia.   Keywords: Animated Video, Adolescent Girls' Knowledge, Adolescent Anemia
Analisis Faktor Demografi, Medis, dan Gaya Hidup terhadap Kejadian Diabetes Mellitus Tipe 2 pada Lansia: Studi Cross-sectional di Posyandu Lansia Ngudi Waras Pudakpayung Banyumanik Yuliaji Siswanto; Ita Puji Lestari; Anggi Margaretha; Ferdias Arkhan Setya Ardana; Siti Rodlotul Jannatun Naim
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 8 No. 1 (2026): Vol. 8 No. 1 (2026): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, January 2026
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Diabetes melitus tipe 2 (DM tipe 2) merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan prevalensi tinggi di dunia dan menjadi masalah kesehatan utama pada kelompok lansia. Kota Semarang mencatat jumlah kasus DM tipe 2 tertinggi di Jawa Tengah, dengan peningkatan kasus hingga tingkat pelayanan primer. Puskesmas Pudakpayung, yang mencakup wilayah Posyandu Lansia Ngudi Waras Banyumanik, melaporkan 501 kasus DM tipe 2 pada tahun 2022. Penelitian ini merupakan studi analitik observasional kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh lansia yang terdaftar di Posyandu Lansia Ngudi Waras tahun 2024 (N=100). Sampel sebanyak 62 lansia dipilih menggunakan purposive sampling berdasarkan kesediaan mengikuti pemeriksaan gula darah acak . Data dianalisis secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji Chi-Square . Aktivitas fisik menunjukkan hubungan signifikan dengan kejadian DM tipe 2 pada lansia (p<0,05), di mana lansia dengan aktivitas fisik rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami DM tipe 2. Pola makan tidak berhubungan signifikan dengan DM tipe 2 (p>0,05). Faktor medis seperti riwayat keluarga (p=0,263) , obesitas (p=0,905), dan hipertensi (p=0,264) tidak menunjukkan hubungan bermakna. Faktor demografis usia (p=0,805), jenis kelamin (p=0,907), dan status pekerjaan juga tidak berhubungan signifikan, meskipun terdapat kecenderungan prevalensi lebih tinggi pada lansia dengan tingkat pendidikan rendah. Aktivitas fisik merupakan faktor dominan yang berpengaruh terhadap kejadian diabetes tipe 2 pada lansia. Intervensi promotif–preventif di Posyandu Lansia perlu difokuskan pada peningkatan aktivitas fisik terstruktur sebagai strategi utama pencegahan DM Tipe 2 Kata kunci: Aktivitas Fisik , Lansia, Faktor Risiko Metabolik, Diabetes Tipe 2 ABSTRACT Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is a non-communicable disease with a high global prevalence and is a major health concern among the elderly. Semarang City has recorded the highest number of T2DM cases in Central Java, with an increasing trend reaching primary healthcare levels. Pudakpayung Health Center, which oversees the Ngudi Waras Elderly Integrated Health Post (Posyandu Lansia) in Banyumanik, reported 501 cases of T2DM in 2022. This study is a quantitative observational analytical study using a cross-sectional design. The population consisted of all elderly individuals registered at the Ngudi Waras Elderly Posyandu in 2024 ($N=100$). A sample of 62 elderly participants was selected using purposive sampling based on their willingness to undergo random blood glucose testing. Data were analyzed descriptively and inferentially using the Chi-Square test. Physical activity showed a significant correlation with the incidence of T2DM in the elderly ($p < 0.05$), where those with low physical activity levels had a higher risk of developing T2DM. Dietary patterns did not show a significant correlation with T2DM ($p > 0.05$). Medical factors such as family history ($p = 0.263$), obesity ($p = 0.905$), and hypertension ($p = 0.264$) did not show significant associations. Demographic factors including age ($p = 0.805$), gender ($p = 0.907$), and occupational status were also not significantly related, although there was a trend of higher prevalence among those with lower educational levels. Physical activity is the dominant factor influencing the incidence of T2DM in the elderly. Promotive and preventive interventions at the Elderly Posyandu should focus on increasing structured physical activity as a primary strategy for preventing Type 2 Diabetes Mellitus. Keywords: Physical Activity, Elderly, Metabolic Risk Factors, Type 2 Diabetes  
Implementasi Program Makan Bergizi Gratis di Sekolah (Literature Review): Implementasi Program Makan Bergizi Gratis di Sekolah (Literature Review) Hastuti, Rela; Agustin Mahardika Hariyadi; Hariyadi
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 8 No. 1 (2026): Vol. 8 No. 1 (2026): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, January 2026
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang : Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan priorita snasional yang diinisiasi pasangan Prabowo–Gibran dengan alokasi anggaran tahun 2025 sebesar Rp71 triliun. Program ini ditujukan bagi siswa prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah, hingga pesantren, dengan tujuan meningkatkan status gizi sekaligus mendukung kualitas sumber daya manusia. Artikel ini bertujuan menelaah implementasi MBG di sekolah melalui metode literature review. Metode : Pencarian artikel dilakukan di Google Scholar dengan kata kunci “makan bergizi gratis”, “sekolah”, dan “status gizi”. Dari 2980 artikel yang ditemukan, diseleksi berdasarkan tahun terbit (2024–2025), sehingga tersisa 1770 artikel. Setelah melalui proses inklusi dan eksklusi, lima artikel dipilih sebagai sumber utama. Hasil : Hasil telaah menunjukkan bahwa siswa sekolah dasar dan menengah merupakan sasaran utama yang tepat karena kerentanannya terhadap masalah gizi. Implementasi MBG mencakup kebijakan, distribusi, dan penyusunan menu bergizi, namun masih menghadapi kendala berupa keterbatasan infrastruktur di daerah 3T, standar menu yang belum seragam, serta koordinasi antar sektor. Meski demikian, MBG terbukti berdampak positif terhadap peningkatan status gizi, konsentrasi belajar, kehadiran sekolah, serta mendapat penerimaan baik dari masyarakat. Simpulan: Secara keseluruhan, MBG berpotensi menjadi strategi nasional penting di bidang pendidikan dan kesehatan, dengan catatan tata kelola, monitoring, dan dukungan anggaran berkelanjutan perlu terus diperkuat.
Strategi Kebijakan Internal dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit: Systematic Literatur Review Andriani, Nurul Dwi; Rezyana Budi Syahputri; Nisa Nur Kusuma; I Gusti Agung Ngurah Putra Pradnyantara
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 8 No. 1 (2026): Vol. 8 No. 1 (2026): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, January 2026
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pelaksanaan pelayanan yang bermutu menjadi indikator keberhasilan rumah sakit dalam menjamin bahwa pelayanan kesehatan berjalan dengan adil, efektif, efisien serta berorientasi kepada kepuasan pasien. Pentingya penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang berbasis mutu menjadi tuntutan bagi pelayanan kesehatan. Untuk mencapai mutu pelayanan kesehatan yang baik, pentingnya untuk menyusun strategi kebijakan internal rumah sakit guna mencapai sasaran mutu pelayanan pasien. Penelitian ini disusun dan difokuskan dalam Upaya mendapatkan strategi kebijakan internal yang memiliki pengaruh penting dalam pelaksanaan mutu pelayanan kesehatan. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Tahapan dalam penelitian ini yaitu merumuskan masalah penelitian, menelusuri literatur, menilai kualitas penelitian, menggabungkan hasil dan meletakkan temuan dalam konteks. Penelitian ini menggunakan kerangka PICO (Population, Intervention, Comparison, Outcome). Artikel yang dipilih dalam rentang waktu tahun 2021 hingga tahun 2025. Proses pencarian data dilakukan melalui beberapa basis data terindeks, yaitu Google Scholar, PubMed dan Science Direct. Seluruh proses ini kemudian sajikan menggunakan alur Diagram PRISMA Flow. Hasil penelitian didapatkan 16 Artikel yang dilakukan analisis. Hasil analisis menunjukkan bahwa pelaksanaan patient safety yang sesuai standart, pelaksanaan akreditasi pada pelayanan Kesehatan dan penerapan Rekam Medis Elektronik berpengaruh terhadap mutu pelayanan kesehatan di RS. Kesimpulan dari penelitian ini adalah strategi Kebijakan Internal yang dapat diimplementasikan dalam Upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan dibagi menjadi tiga aspek ( patient safety, akreditasi dan Rekam Medik Elektronik). Ketiga aspek hasil penelitian ini relevan sebagai dasar perumusan kebijakan internal rumah sakit dalam peningkatan mutu pelayanan melalui penguatan patient safety, pemenuhan standar akreditasi, dan optimalisasi penerapan rekam medis elektronik. Kata kunci: Mutu, Pelayanan Kesehatan, Rumah Sakit ABSTRACT The implementation of quality services is an indicator of a hospital's success in ensuring that healthcare services are delivered fairly, effectively, efficiently, and with a focus on patient satisfaction. The importance of providing quality-based healthcare services has become a demand for health services. To achieve good quality in healthcare services, it is crucial to develop internal policy strategies within the hospital aimed at meeting the quality objectives for patient care. This research is organized and focused on efforts to obtain internal policy strategies that significantly influence the implementation of quality healthcare services. The research method employs a Systematic Literature Review (SLR) approach. The stages of this research include formulating, searching the literature, assessing the quality of research, combining results, and placing findings in context. This study uses PICO framework (Population, Intervention, Comparison, Outcome). The selected articles span the years 2021 to 2025. The data search process is conducted through several indexed databases, namely Google Scholar, PubMed, and Science Direct. The entire process is then presented using a PRISMA Flow Diagram. The research identified 16 articles for analysis. The results of the analysis indicate that the implementation of patient safety that meets standards, the implementation of accreditation in health services, and the application of Electronic Medical Records influence the quality of healthcare services in hospitals. The conclusion of this research is that internal policy strategies that can be implemented to improve the quality of healthcare services are divided into three aspects ( patient safety, accreditation, and Electronic Medical Records).  The findings provide empirical support for hospital management in formulating internal policies aimed at enhancing service quality through strengthening patient safety practices, meeting accreditation standards, and optimizing the use of electronic medical records.   Keywords: Quality, Healthcare, Hospital
Analisis Hubungan Kebisingan dengan Kelelahan Kerja pada Nelayan di Tambak Lorok Semarang Annisa Aulia; Pertiwi, Kartika; Sugiarto, Heri; Sri Lestari
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 8 No. 1 (2026): Vol. 8 No. 1 (2026): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, January 2026
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kebisingan yang dihasilkan dalam kegiatan penangkapan ikan berasal dari mesin diesel. Tanpa disadari, mesin yang digunakan merupakan penyumbang kebisingan. Kebisingan menyebabkan masalah kesehatan seperti gangguan pendengaran, peningkatan tekanan darah, dan kelelahan kerja. Kelelahan kerja dapat meningkatkan risiko menurunnya produktivitas dan kecelakaan kerja. Di mana 414 pekerja mengalami kecelakaan kerja karena kelelahan kerja tinggi (Kemenakertrans,2021). Penelitian bertujuan untuk mengetahui analisis hubungan kebisingan dengan kelelahan kerja pada nelayan di Tambak Lorok, Semarang. Desain penelitian adalah kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian adalah nelayan di Tambak Lorok yang diambil menggunakan teknik quota sampling dan diperoleh 88 nelayan. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner Subjective Self Rating Test dari Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) untuk mengukur kelelahan kerja dan Sound Level Meter untuk mengukur kebisingan. Analisis data yang digunakan yaitu analisis bivariat dengan uji korelasi  Pearson untuk mengetahui hubungan variabel bebas dan terikat. Hasil penelitian didapatkan distribusi kebisingan dengan kelelahan kerja. Didapati terdapat 11 orang atau 20.4% responden memiliki kebisingan tinggi dengan kelelahan kerja rendah, 37 orang atau 66.5% responden memiliki kebisingan tinggi dengan kelelahan kerja sedang, 6 orang atau 11.1% responden memiliki kebisingan tinggi dengan kelelahan kerja tinggi. Hasil penelitian nilai p-value yaitu 0,002 yang menunjukkan nilai p-value < 0,05 sehingga terdapat hubungan antara kebisingan dengan kelelahan kerja. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara kebisingan dan kelelahan kerja pada nelayan di Tambak Lorok, Semarang. Sebagian besar responden memiliki kebisingan tinggi dengan kelelahan kerja sedang.   Kata kunci: Kebisingan, Kelelahan Kerja, Nelayan. ABSTRACT The noise produced in fishing activities comes from diesel engines without realizing that the engine used is a contributor to noise. Noise causes health problems such as hearing loss, increased blood pressure, and work fatigue. Work fatigue can increase the risk of decreased productivity and work accidents. Where 414 workers experienced work accidents due to high work fatigue (Ministry of Manpower and Transmigration, 2021). The study aims to determine the analysis of the relationship between noise and work fatigue in fishermen in Tambak Lorok Semarang. The research design is quantitative with a cross sectional approach. The research sample was fishermen in Tambak Lorok which was taken using the quota sampling technique and obtained from 88 fishermen. The instruments used were in the form  of a Subjective Self Rating Test  questionnaire from the Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) to measure work fatigue and a Sound Level Meter to measure noise. The data analysis used was bivariate analysis with a Pearson correlation test to determine the relationship between free and bound variables. The results of the study showed that there were 11 people or 20.4% of respondents who had high noise with low work fatigue, 37 people or 66.5% of respondents who had high noise with moderate work fatigue, 6 people or 11.1% of respondents who had high noise with high work fatigue. The results of the study showed a p-value of 0.002 which showed a p-value of <0.05 so that there was a relationship between noise and work fatigue. The conclusion of this study is that there is a relationship between noise and work fatigue in fishermen in Tambak Lorok, Semarang. Most of the respondents had high noise with moderate work fatigue.   Keywords: Noise, Work Fatigue, Fisherman.
Hubungan Paparan Pestisida dan Risiko Pencemaran Lingkungan Kerja dengan Keluhan Kesehatan pada Teknisi Pengendalian Vektor Sektor Komersial Adi Kuncoro, Bagas; Dian Pertiwi, Kartika
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 8 No. 1 (2026): Vol. 8 No. 1 (2026): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, January 2026
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Paparan pestisida pada teknisi pengendalian vektor merupakan isu penting dalam kesehatan kerja karena aktivitas aplikasi yang dilakukan secara rutin berpotensi menimbulkan pajanan kimia, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui pencemaran lingkungan kerja. Pajanan yang berulang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada sektor jasa pengendalian hama komersial dengan intensitas kerja lapangan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara paparan pestisida dan risiko pencemaran lingkungan kerja dengan keluhan kesehatan teknisi pengendalian vektor sektor komersial. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Seluruh teknisi aktif dilibatkan sebagai responden (n=33) menggunakan teknik total sampling. Variabel bebas meliputi paparan pestisida dan risiko pencemaran lingkungan kerja, sedangkan variabel terikat adalah keluhan kesehatan. Paparan pestisida diukur berdasarkan frekuensi keterlibatan dalam pencampuran dan penyemprotan, intensitas kontak bahan kimia, serta kondisi lingkungan kerja. Risiko pencemaran dinilai dari potensi kontaminasi akibat aktivitas operasional dan pengelolaan limbah. Keluhan kesehatan diukur berdasarkan gejala yang dirasakan dalam tiga bulan terakhir. Seluruh variabel diukur menggunakan kuesioner skala Likert lima tingkat dan dikategorikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi berdasarkan interval skor teoritis. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil menunjukkan paparan pestisida berada pada kategori rendah (24,2%), sedang (45,5%), dan tinggi (30,3%). Risiko pencemaran lingkungan kerja didominasi kategori sedang (45,5%). Keluhan kesehatan mayoritas berada pada kategori rendah (93,9%). Terdapat hubungan signifikan antara paparan pestisida dan keluhan kesehatan (p=0,001; ρ=0,552), sedangkan risiko pencemaran lingkungan kerja tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p=0,872; ρ=0,031). Kata kunci: paparan pestisida, pencemaran lingkungan kerja, keluhan kesehatan ABSTRACT Pesticide exposure among vector control technicians is an important occupational health concern, as routine application activities may cause both direct chemical exposure and indirect exposure through workplace environmental contamination. Repeated exposure increases the risk of health problems, particularly in commercial pest control services with high fieldwork intensity. This study aimed to analyze the relationship between pesticide exposure and workplace environmental contamination risk with health complaints among commercial vector control technicians. This study is an analytical observational quantitative study with a cross-sectional design was conducted. All active technicians were included as respondents (n=33) using total sampling. Independent variables consisted of pesticide exposure and workplace environmental contamination risk, while the dependent variable was health complaints. Pesticide exposure was measured based on the frequency of mixing and spraying activities, intensity of chemical contact, and workplace environmental conditions. Workplace contamination risk was assessed based on potential contamination from operational activities and waste management practices. Health complaints were measured based on symptoms experienced within the last three months. All variables were assessed using a five-point Likert-scale questionnaire and categorized into low, moderate, and high levels based on theoretical score intervals. Data were analyzed descriptively and bivariately using Spearman correlation tests. The results showed pesticide exposure levels of low (24.2%), moderate (45.5%), and high (30.3%). Workplace environmental contamination risk was predominantly moderate (45.5%). Health complaints were mostly low (93.9%). Pesticide exposure was significantly associated with health complaints (p=0.001; ρ=0.552), while workplace contamination risk showed no significant association (p=0.872; ρ=0.031).   Keywords: pesticide exposure, workplace environmental contamination, health complaints

Page 12 of 12 | Total Record : 119