cover
Contact Name
Rezki Suci Qamaria
Contact Email
rezkisuciqamaria@iainkediri.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalmahakim@iainkediri.ac.id
Editorial Address
Jl. Sunan Ampel No. 7 Ngronggo Kediri 64127, +62354 686564
Location
Kota kediri,
Jawa timur
INDONESIA
MAHAKIM: Journal of Islamic Family Law
ISSN : 25974246     EISSN : 26158736     DOI : https://doi.org/10.30762/mahakim.vxix.xxx
Core Subject : Social,
The aim of the Journal of Mahakim is to publish the results of scientific research, especially in the field of Islamic family law which includes: Wedding Divorce Inheritance Family rules (obligations and rights in the family) Mahar and guardianship Religious Court Comparison of Islamic family law Islamic family law approach to interdisciplinary disciplines
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 106 Documents
Pola Kerjasama dan Pembagian Peran Suami Istri Perspektif Interaksi Sosial (Studi Komparatif Keluarga PKH dan Karier di Desa Karanglolor Kecamatan Sukorejo Kabupaten Ponorogo) Insharie Sugiono; Abid Rohmanu
MAHAKIM Journal of Islamic Family Law Vol 9 No 2 (2025): December 2025
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/mahakim.v9i2.623

Abstract

The division of roles between husbands and wives within a family is an important indicator of equitable gender relations and household well-being. However, these patterns of role division may vary depending on a family’s socioeconomic conditions, including between families participating in the Family Hope Program (PKH) and dual-income families. This study aims to examine and compare patterns of cooperation and the division of roles between husbands and wives in the public and domestic spheres within these two types of families. The study employs a qualitative field research method and analyzes data based on the theory of sociology of law. The results show that in PKH families, the division of roles remains highly traditional, husbands dominate the public sphere, while wives bear nearly all domestic responsibilities. Conversely, in career families, cooperation in the public sphere is more reciprocal and based on mutual agreement. However, in the domestic sphere, traditional views still exert a strong influence, so the burden of household chores continues to fall primarily on the wife, with the husband’s contribution remaining minimal. These findings indicate that changes in gender roles in the public sphere have not yet been fully accompanied by a transformation in the domestic sphere.
Implikasi Hukum Islam dan Hukum Positif terhadap Nikah Misyar Di Indonesia Hamdan Kifli; Siti Nurhayati
MAHAKIM Journal of Islamic Family Law Vol 9 No 2 (2025): December 2025
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/mahakim.v9i2.715

Abstract

The practice of nikah misyar, which involves an agreement to waive basic marital rights such as cohabitation and financial maintenance, raises critical legal concerns regarding the dichotomy between Sharia validity and statutory legal protection in Indonesia. This study is motivated by the heightened vulnerability of wives and children resulting from misyar marriages that are predominantly conducted without official state registration, akin to unregistered marriage. Employing a normative juridical research method with statutory and conceptual approaches, this study examines primary, secondary, and tertiary legal sources through literature review. The findings indicate that nikah misyar is considered valid under Islamic law provided the essential pillars and conditions of marriage are fulfilled, despite lingering controversies regarding gender justice. Based on Law Number 1 of 1974 concerning Marriage, a marriage that is not registered has no binding legal force. The absence of legal recognition causes adverse consequences, including the forfeiture of spousal maintenance, deprivation of the wife's inheritance rights, and ambiguity in the child's civil status. These findings highlight the significant need for stricter marriage registration enforcement to guarantee legal certainty, protect women's and children's rights, and prevent the misuse of marriage in Indonesia.
Rekontruksi Konsep Sakinah, Mawaddah, Warahmah Perspektif Paradigma I’timaniyya Taha Abdurrahman Muhammad Ananda Ilfansyah; Asmuni Asmuni
MAHAKIM Journal of Islamic Family Law Vol 9 No 2 (2025): December 2025
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/mahakim.v9i2.873

Abstract

The concepts of sakinah, mawaddah, and rahmah (SAMAWA) constitute important objectives of marriage within Islamic family law. However, SAMAWA tends to be understood primarily as a normative-theological ideal, while its translation into relational ethics between husbands and wives has received insufficient attention. This study aims to reconstruct the concept of SAMAWA through Taha Abdurrahman’s I’timaniyya paradigm and formulate it as a framework of relational ethics in Islamic marriage. This study employs a qualitative approach using library research through normative and conceptual analysis. The sources include Qur’an Surah al-Rum (30): 21, exegetical literature and studies on SAMAWA, Taha Abdurrahman’s works on the I’timaniyya paradigm, and relevant previous studies. The data were analyzed using qualitative content analysis by comparing the conceptualization of SAMAWA in Islamic family law with the ethical principles of I’timaniyya. The findings indicate that the I’timaniyya paradigm enables SAMAWA to be reconstructed from an ideal objective of marriage into a relational ethic grounded in amanah (trust), moral responsibility, and ethical reciprocity. Sakinah is understood as relational tranquility and security, mawaddah as an ethical commitment to nurturing the relationship, and rahmah as the practice of caring for one’s spouse. This reconstruction expands the understanding of SAMAWA from a normative dimension toward relational practice without abandoning its theological foundation. The findings contribute to the development of Islamic family law, as well as premarital education and family counseling, although their practical application still requires empirical testing.
Fenomena Sesi Foto Pasca Akad Nikah di Jembatan Sungai Sambas Besar: Kajian Hukum Islam dan Relevansinya terhadap Ketertiban Lalu Lintas Asman Asman
MAHAKIM Journal of Islamic Family Law Vol 10 No 1 (2026): June 2026
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/mahakim.v10i1.698

Abstract

Fenomena sesi foto pasca akad nikah di Jembatan Sungai Sambas Besar telah menjadi tren populer bagi pasangan pengantin baru di Kabupaten Sambas. Namun, penggunaan fasilitas publik tersebut sering kali memicu kemacetan dan berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan, sehingga menimbulkan permasalahan dari kacamata ketertiban lalu lintas dan hukum Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hukum Islam terhadap pelaksanaan sesi foto pasca akad nikah di Jembatan Sungai Sambas Besar serta mengkaji relevansinya terhadap pemeliharaan ketertiban lalu lintas. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum yuridis-normatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui observasi lapangan langsung terhadap pelaku sesi foto dan masyarakat sekitar, serta studi kepustakaan terkait regulasi lalu lintas dan literatur fiqih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan mengambil foto di atas jembatan hingga mengganggu kelancaran lalu lintas termasuk perbuatan yang dilarang dalam Islam. Berdasarkan prinsip maqashid shariah, menjaga keselamatan jiwa (hifz an-nafs) dan ketertiban umum merupakan kewajiban utama. Kaidah fiqih dar’u al-mafasid muqaddam ‘ala jalbi al-masalih (menolak kemudaratan lebih diutamakan daripada mengambil kemanfaatan) menegaskan bahwa mencari kebahagiaan atau keindahan lewat dokumentasi nikah tidak boleh mengorbankan keselamatan dan hak pengguna jalan lain. Relevansinya terhadap ketertiban lalu lintas adalah bahwa kepatuhan terhadap regulasi jalan raya sejalan dengan ajaran Islam yang mewajibkan taat kepada pemerintah (uli al-amri) demi kemaslahatan bersama. Oleh karena itu, diperlukan pengaturan khusus dan kesadaran masyarakat agar aktivitas dokumentasi tetap dapat dilakukan tanpa mengganggu ketertiban umum.
Adaptabilitas Hukum Islam dalam Sistem Perkawinan Bugis-Makassar dan Relevansinya terhadap Pembaruan Hukum Keluarga di Indonesia Ardi Ardi; Muhammad Akil; Said Syaripuddin
MAHAKIM Journal of Islamic Family Law Vol 10 No 1 (2026): June 2026
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/mahakim.v10i1.792

Abstract

Tingginya nominal uang panai dalam perkawinan masyarakat Bugis-Makassar kerap dipersepsikan sebagai kewajiban adat yang setara dengan mahar, padahal dalam hukum Islam mahar merupakan kewajiban syar’i yang menjadi hak istri dan berkedudukan berbeda dari pemberian adat. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola adaptabilitas hukum Islam terhadap sistem perkawinan Bugis-Makassar dan merumuskan relevansinya bagi pembaruan hukum keluarga Islam di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif yuridis-empiris (socio-legal) di Kota Makassar. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap 15 informan kunci, observasi partisipatif, dan telaah dokumen, sedangkan survei deskriptif terhadap 35 responden digunakan sebagai data pendukung. Data dianalisis secara tematik hibrida dan deskriptif dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uang panai merupakan praktik adat yang pada dasarnya dapat diterima sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah, tidak menimbulkan kemudaratan, dan tidak menghalangi pemenuhan hak para pihak; sedangkan mahar bersifat wajib dan menjadi hak pribadi istri. Ditemukan empat bentuk adaptasi, yaitu pemisahan tegas uang panai dan mahar, penyesuaian nominal berdasarkan kemampuan ekonomi, penekanan niat dan kerelaan, serta penerapan kaidah al-‘adah muhakkamah. Analisis maqashid syariah memperlihatkan ambivalensi uang panai terhadap hifz al-nasl, hifz al-mal, dan hifz al-‘ird. Penelitian ini mengusulkan Model Adaptasi Integratif berbasis prinsip hierarki normatif, proporsionalitas, transparansi, kerelaan, dan kemaslahatan kontekstual sebagai rujukan pembaruan hukum keluarga Islam yang kontekstual, berkeadilan, dan berakar pada kearifan lokal.
Rekonstruksi Relasi Suami Istri dalam Hukum Keluarga Islam Perspektif Teori Mubadalah Faqihuddin Abdul Kodir Habibullah Habibullah; Qurrotul Aini; Akhmad Rofii Damyati
MAHAKIM Journal of Islamic Family Law Vol 10 No 1 (2026): June 2026
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/mahakim.v10i1.1013

Abstract

Hubungan perkawinan dalam hukum keluarga Islam di Indonesia masih menghadapi persoalan ketimpangan konstruksi hak, kewajiban, dan posisi antara suami dan istri. Sejumlah ketentuan hukum keluarga, khususnya dalam Kompilasi Hukum Islam dan Undang-Undang Perkawinan masih dapat dipahami secara hierarkis sehingga berpotensi menimbulkan relasi yang belum setara. Kondisi tersebut penting dikaji ulang melalui pandangan yang menempatkan suami dan istri sebagai mitra dalam kehidupan keluarga. Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi relasi suami istri dalam hukum keluarga Islam serta merekonstruksinya berdasarkan teori mubādalah Faqihuddin Abdul Kodir. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan konseptual dan pendekatan perundang-undangan. Data penelitian bersumber dari bahan hukum primer dan sekunder yang didapat melalui studi kepustakaan, seterusnya, dianalisis secara deskriptif-analitis. Hasil penelitian membuktikan bahwa perspektif mubādalah merekonstruksi relasi suami-istri dari pola hierarkis menuju hubungan yang berlandaskan kesalingan, kemitraan, kerja sama, dan keadilan. Rekonstruksi tersebut menempatkan hak dan kewajiban suami istri sebagai tanggung jawab bersama sesuai kondisi dan kapasitas masing-masing. Hasil ini penting sebagai tawaran konseptual bagi pengembangan hukum keluarga Islam yang lebih responsif terhadap prinsip keadilan, kesetaraan, dan kemaslahatan keluarga.

Page 11 of 11 | Total Record : 106