cover
Contact Name
Betty Masruroh
Contact Email
flourishing.journal@um.ac.id
Phone
+62341-552115
Journal Mail Official
flourishing.journal@um.ac.id
Editorial Address
Jln. Semarang 5 Malang 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Flourishing Journal
ISSN : -     EISSN : 27979865     DOI : -
Core Subject : Social,
Flourishing Journal is an open-access and peer-reviewed journal dedicated to publishing research articles in the field of psychology. Flourishing Journal accepts research articles that have the potential to make a significant contribution to the exploration and development of psychology and behavioral sciences. Articles submitted to this journal must display a well-thought-out study design, appropriate data analysis, and interpretation.
Articles 13 Documents
Search results for , issue "vol. 6 no. 3 (2026)" : 13 Documents clear
Maksimalkan Aksi Siap Mengejar Profesi Impian: Peran Efikasi Diri terhadap Kematangan Karier Siswa Khasdyah Dwi Dewi Setyoningtias; Rizka Fibria Nugrahani; Yaumul Rahmi; Melly Amalia Vardia; Lina Mahardiana; Vira Hawa Aprilila; Shinta Nurin Auria; Shaden Gibran Moreno
Flourishing Journal Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v6i32026p691-705

Abstract

The results of this study focused on proving that there is an influence between efikasi diri and career maturity in students of SMAN 6 Malang. The goal is to provide an illustration that high school students can also focus on their career maturity, not only vocational high school students who are indeed required to focus on their careers. Through accidental sampling, 32 students were obtained who participated in a career training program that focused on the application of career maturity and strengthening students' efikasi diri. Based on this career training activity, it was found that students had career maturity and efikasi diri as much as 68.75% in the moderate category. This means that SMAN 6 students have good career maturity and efikasi diri, even though it is not yet apparent because they are still relatively new to the high school level. This study was able to prove that efikasi diri can explain the emergence of career maturity in high school students, as much as 51.2% of the remaining factors and aspects were not explained in this study. Therefore, this is one proof that students' career maturity can be increased by strengthening efikasi diri so they can undergo learning that is in accordance with their intended career. Therefore, schools can facilitate students with various career training. One of them is competency-based career strengthening training because it strengthens students' career maturity and efikasi diri. Abstrak Pada tingkat Sekolah Menengah Akhir, kematangan karier sering tidak menjadi fokus utama sekolah dalam membina siswanya, sementara karier seharusnya terkait ketika siswa memutuskan untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi (PT). Melalui efikasi diri siswa selama pendidikan di sekolah, kematangan karier itu akan tumbuh. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa efikasi diri yang dibentuk oleh siswa SMA dapat meningkatkan kematangan karier. Melalui accidental sampling, didapatkan 32 siswa baru yang mengikuti program pelatihan karier yang berfokus pada penerapan kematangan karier dan penguatan efikasi diri siswa. Berdasarkan kegiatan pelatihan karier ini, didapatkan bahwa siswa memiliki kematangan karier dan efikasi diri sebanyak 68,75% berada pada kategori sedang. Artinya, siswa telah memiliki kematangan karier dan efikasi diri yang baik walaupun memang belum tampak karena masih terbilang baru memasuki jenjang SMA. Penelitian ini mampu membuktikan bahwa efikasi diri dapat menjelaskan munculnya kematangan karier pada siswa SMA sebesar 51,2% sisanya merupakan faktor maupun aspek yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa untuk meningkatkan kematangan karier, siswa membutuhkan penguatan efikasi diri agar dapat menjalani proses pembelajaran yang sesuai dengan karier yang dituju. Implikasinya, sekolah dapat memfasilitasi siswa dengan berbagai pelatihan karier, salah satunya adalah pelatihan penguatan karier berdasarkan kompetensi siswa dalam memperkuat kematangan karier dan efikasi diri siswa.
Studi Fenomenologis Pengalaman Stres pada Mahasiswa yang Aktif Berorganisasi Nisrina Izzatur Rizqiyah; Rafael Christian Marcello Doloksaribu; Ikhwanul Ihsan Armalid; Nila Hanum Zakiyah
Flourishing Journal Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v6i32026p561-581

Abstract

Students who are actively involved in organizations often face significant dual role pressures between academic and organizational responsibilities, which, if not managed well, can trigger high stress and hinder personal development. This study aims to explore students' subjective meanings of stress, identify the sources of stressors, and map the responses and coping strategies used. Using a qualitative approach with a phenomenological research type, data were collected through non-participant observation and semi-structured interviews with three active organizational students from different faculty backgrounds at Universitas Negeri Malang. Data analysis was conducted using a qualitative analysis model comprising three stages: data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The research results show that the experience of stress is transactional and subjective; informants interpret stress as either an adaptive challenge or a burden depending on their cognitive appraisal. The main sources of stress include primary academic workload, organizational structural responsibilities, and internal expectations for the future. The responses that emerge include physical manifestations such as somatic complaints and emotional responses in the form of emotional suppression. To manage the pressure, the informants applied a combination of problem-focused coping strategies through planning and social support, as well as emotion-focused coping through distraction activities and temporary withdrawal. These findings emphasize the importance of self-regulation and self-efficacy in maintaining the mental well-being of students with dual roles. Abstrak Mahasiswa yang aktif berorganisasi sering kali menghadapi tekanan peran ganda yang signifikan antara tanggung jawab akademik dan organisasi, yang jika tidak dikelola dengan baik dapat memicu stres tinggi dan menghambat pengembangan diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemaknaan subjektif mahasiswa terhadap stres, mengidentifikasi faktor sumber stresor, serta memetakan respons dan strategi koping yang digunakan. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologi, data dikumpulkan melalui observasi non-partisipan dan wawancara semi-terstruktur terhadap tiga mahasiswa aktif organisasi dari latar belakang fakultas yang berbeda di Universitas Negeri Malang. Analisis data dilakukan menggunakan model analisis kualitatif melalui 3 tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman stres bersifat transaksional dan subjektif; partisipan memaknai stres sebagai tantangan adaptif maupun beban tergantung pada penilaian kognitif (appraisal) mereka. Sumber stres utama mencakup beban akademik primer, tanggung jawab struktural organisasi, hingga ekspektasi internal terhadap masa depan. Respons yang muncul meliputi manifestasi fisik seperti keluhan somatis serta respons emosional berupa penekanan emosi. Untuk mengelola tekanan tersebut, partisipan menerapkan kombinasi strategi problem-focused coping melalui perencanaan dan dukungan sosial, serta emotion-focused coping melalui aktivitas pengalihan dan penarikan diri sementara. Temuan ini menekankan pentingnya regulasi diri dan efikasi diri dalam menjaga kesejahteraan mental mahasiswa yang memiliki peran ganda.
Intervensi Regulasi Emosi pada Perempuan Dewasa Awal dengan Perilaku Impulsif di Media Sosial: Sebuah Laporan Kasus Rizki Khairunnisa; Rahma Widyana
Flourishing Journal Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v6i32026p668-690

Abstract

The rapid growth of social media has increased individuals’ tendency to express emotions impulsively when facing psychological distress, potentially leading to social conflict and cyberbullying. This study aimed to describe the psychological assessment process and the implementation of a cognitive behavioral-based emotion regulation intervention for an emerging adult woman displaying impulsive behavior on social media. The study employed a case study approach involving a 22-year-old woman identified as RAN, who experienced difficulties in emotion regulation after receiving cyberbullying triggered by emotional posts on social media X. Assessment procedures included observation, semi-structured interviews, the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ), graphic tests, the Wartegg Test, and the Raven’s Standard Progressive Matrices (SPM). The intervention consisted of cognitive behavioral-based emotion regulation training. The findings demonstrated improved emotion regulation abilities, indicated by increased ERQ scores from the low to moderate category. Behavioral changes were reflected in reduced impulsive responses, improved emotional awareness, and more adaptive coping strategies following experiences of cyberbullying. Abstrak Perkembangan media sosial meningkatkan kecenderungan individu untuk mengekspresikan emosi secara impulsif ketika menghadapi tekanan psikologis. Kondisi tersebut dapat memunculkan konflik sosial dan pengalaman cyberbullying. Penelitian ini bertujuan menggambarkan proses asesmen psikologis dan pelaksanaan intervensi regulasi emosi berbasis pendekatan cognitive behavioral pada perempuan dewasa awal dengan perilaku impulsif di media sosial. Penelitian menggunakan desain penelitian studi kasus individual dengan pendekatan deskriptif dan kualitatif pada perempuan berinisial RAN berusia 22 tahun yang mengalami kesulitan regulasi emosi setelah menerima cyberbullying akibat unggahan emosional di media sosial X. Asesmen dilakukan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, Emotion Regulation Questionnaire (ERQ), tes grafis, Tes Wartegg, dan Raven’s Standard Progressive Matrices (SPM). Intervensi diberikan melalui pelatihan regulasi emosi berbasis cognitive behavioral. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan regulasi emosi yang ditandai dengan peningkatan skor ERQ dari 15 yang berada pada kategori rendah menjadi 28 pada kategori sedang. Perubahan perilaku tampak pada menurunnya respons impulsif, meningkatnya kemampuan mengenali emosi, serta berkembangnya strategi pengelolaan emosi yang lebih adaptif dalam menghadapi tekanan psikologis akibat cyberbullying.
Pengembangan Alat Ukur College Readiness Scale untuk Siswa SMA atau Sederajat Naysila Ramadhanti Kilis; Aulia Renata Kadir; Hafidzah Aliyah; Nurhayati Napu; Mohammad Rizki B. Dunggio
Flourishing Journal Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v6i32026p501-520

Abstract

Students' readiness to pursue higher education is one of the key factors influencing academic success during the transition to tertiary education. However, the availability of College Readiness measurement instruments developed based on the cultural context and characteristics of Indonesian students remains limited. This study aimed to develop a College Readiness Scale for senior high school students based on the Social Cognitive Career Theory (SCCT). The study employed a quantitative approach using a psychological scale development method involving 204 senior high school students from various regions of Indonesia. Content validity was assessed using Aiken’s V. Construct validity was examined using Exploratory Factor Analysis (EFA) and Confirmatory Factor Analysis (CFA). The results showed that the College Readiness Scale demonstrated good validity and reliability. The EFA identified three main factors, namely goal orientation, academic self-efficacy, and internal barriers, with factor loadings ranging from 0.506 to 0.887. The CFA indicated that the model achieved an acceptable fit (RMSEA = 0.075, SRMR = 0.068). Furthermore, the reliability analysis yielded McDonald’s ω and Cronbach’s Alpha coefficients of 0.941, indicating excellent internal consistency. Therefore, the College Readiness Scale is considered suitable for measuring the readiness of senior high school students to pursue higher education. Abstrak Kesiapan siswa dalam melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan akademik di masa transisi menuju pendidikan tinggi. Namun, hingga saat ini ketersediaan instrumen pengukuran College Readiness yang dikembangkan berdasarkan konteks budaya dan karakteristik siswa di Indonesia masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan College Readiness Scale bagi siswa SMA/Sederajat berdasarkan Social Cognitive Career Theory (SCCT). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pengembangan alat ukur psikologi terhadap 204 siswa SMA/Sederajat dari berbagai wilayah di Indonesia. Validitas isi diuji menggunakan Aiken’s V. Validitas konstruk diuji menggunakan Exploratory Factor Analysis (EFA) dan Confirmatory Factor Analysis (CFA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa College Readiness Scale memiliki validitas dan reliabilitas yang baik. EFA menunjukkan terbentuknya tiga faktor utama, yaitu orientasi tujuan, keyakinan akademik, dan hambatan internal, dengan factor loading berkisar antara 0,506 hingga 0,887. CFA menunjukkan model memiliki kesesuaian yang memadai (RMSEA = 0,075, SRMR = 0,068). Adapun, hasil uji reliabilitas menunjukkan nilai McDonald’s ω dan Cronbach’s Alpha sebesar 0.941, yang mengindikasikan konsistensi internal sangat baik. Dengan demikian, College Readiness Scale dinilai layak digunakan untuk mengukur kesiapan siswa SMA/Sederajat dalam melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Dunning–Kruger Effect dalam Penggunaan AI Mahasiswa Psikologi pada Penyelesaian Tugas Akademik Elsatuz Zahiya; Fahmida Hasna Choirunnisa; Fathimah Zahira Mufida; Fitria Rahma Az-Zahro; Ikhwanul Ihsan Armalid
Flourishing Journal Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v6i32026p607-629

Abstract

The development of Artificial Intelligence (AI) in education provides various conveniences for students in completing academic tasks, however, it also has the potential to trigger the Dunning–Kruger Effect. This study aims to explore the use of AI and examine the manifestation of the Dunning–Kruger Effect in the use of AI among psychology students in completing academic assignments. This research employed a qualitative method with a descriptive approach. The participants consisted of five psychology students who actively used AI in their academic activities and were selected through purposive sampling. Data were collected through semi-structured interviews, observations, and document analysis in the form of AI conversation histories. The data were analyzed using thematic analysis. The findings indicate that assignment deadlines, the need for idea generation, difficulties understanding course materials, and social and environmental factors influence AI use. AI is utilized for generating ideas, understanding learning materials, and evaluating academic tasks. The use of AI provides positive impacts such as facilitating brainstorming and improving task completion efficiency; however, it also leads to academic dependency and a decline in students’ confidence in independent thinking abilities. In addition, we identified indications of the Dunning–Kruger Effect, characterized by increased self-confidence in academic abilities, surface-level understanding of concepts, and overconfidence in the quality of AI-assisted work before receiving deeper academic evaluation. Abstrak Perkembangan Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan memberikan berbagai kemudahan bagi mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akademik, tetapi di sisi lain juga berpotensi memunculkan kecenderungan Dunning–Kruger Effect. Penelitian ini bertujuan untuk memahami penggunaan AI serta menggambarkan Dunning–Kruger Effect dalam penggunaan AI pada penyelesaian tugas akademik mahasiswa psikologi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Partisipan penelitian berjumlah lima mahasiswa psikologi yang aktif menggunakan AI dalam aktivitas akademik dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan studi dokumentasi berupa riwayat percakapan dengan AI. Data dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AI dipengaruhi oleh faktor deadline tugas, kebutuhan mencari ide, kesulitan memahami materi, dan pengaruh lingkungan sosial. AI dimanfaatkan untuk mencari ide, memahami materi, serta mengevaluasi tugas. Penggunaan AI memberikan dampak positif berupa kemudahan brainstorming dan peningkatan efisiensi pengerjaan tugas, tetapi juga memunculkan ketergantungan akademik serta penurunan kepercayaan diri terhadap kemampuan berpikir mandiri. Selain itu, ditemukan kecenderungan Dunning–Kruger Effect yang ditandai dengan meningkatnya rasa percaya diri terhadap kemampuan akademik, munculnya pemahaman yang bersifat permukaan, serta keyakinan berlebihan terhadap kualitas tugas berbantuan AI sebelum memperoleh evaluasi akademik yang lebih mendalam.
Emotional Intelligence pada Mahasiswi yang Mengalami Impulsive Buying di Era Belanja Digital: Analisis Fenomenologis Interpretatif Egy Saputra; Erinna Devi Bhanuwati; Giselle Cherie Caroline H; Ikhwanul Ihsan Armalid
Flourishing Journal Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v6i32026p521-542

Abstract

The rapid development of digital technology and online shopping platforms has increased impulsive buying behavior among university students, particularly Generation Z, who are highly exposed to digital marketing stimuli and social media influences. This study aimed to explore emotional intelligence among university students who engage in impulsive buying behavior. The research employed a phenomenological approach using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), involving three active students of BINUS University Malang selected through purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, documentation studies, and interviews with significant others. Data were analyzed following the iterative IPA process: reading and re-reading transcript, exploratory noting, constructing experiential statements, and developing them into Personal Experiential Themes (PETs) and Group Experiential Themes (GETs). The findings revealed that emotional intelligence in impulsive buying behavior  appeared  through  five  Group  Experiential  Themes:  self-awareness, self-regulation, self-motivation, empathy, and social skills. Participants were generally able to recognize emotional triggers such as stress, sadness, fear of missing out (FoMO), and curiosity, yet often struggled to regulate impulsive urges when faced with emotional pressure, social influence, promotions, and digital shopping convenience. In addition, digital platform accessibility emerged as an additional contextual factor strengthening impulsive buying behavior among students. Abstrak Perkembangan teknologi digital dan platform belanja daring telah meningkatkan perilaku impulsive buying pada mahasiswi, khususnya Generasi Z yang sangat terpapar stimulus pemasaran digital dan pengaruh media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menggali emotional intelligence pada mahasiswi yang melakukan impulsive buying. Penelitian menggunakan pendekatan fenomenologis dengan metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), dengan melibatkan tiga mahasiswa aktif BINUS University Malang yang dipilih melalui purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, studi dokumentasi, serta wawancara dengan significant others. Analisis data mengikuti proses IPA yang bersifat iterative: pembacaan berulang transkrip, pencatatan eksploratif, penyusunan experiential statements, hingga pengembangan menjadi Personal Experiential Theme (PET) dan Group Experiential Theme (GET). Hasil penelitian menunjukkan bahwa emotional intelligence dalam perilaku impulsive buying tergambar melalui lima Group Experiential Theme, yaitu self-awareness, self-regulation, self-motivation, empathy, dan social skills. Partisipan mampu mengenali pemicu emosional seperti stres, sedih, Fear of Missing Out (FoMO), dan rasa penasaran, namun masih mengalami kesulitan dalam mengendalikan dorongan impulsif ketika menghadapi tekanan emosional, pengaruh sosial, promosi, serta kemudahan berbelanja secara digital. Selain itu, aksesibilitas platform digital muncul sebagai faktor kontekstual tambahan yang memperkuat perilaku impulsif buying pada mahasiswa.
Pengaruh Grit terhadap Job satisfaction dengan Work Engagement sebagai Mediator: Studi Kasus pada Guru Gen Z Sekolah Dasar di Kota Samarinda Bayu Aji Santoso; Evi Kurniasari Purwaningrum; Siti Khumaidatul Umaroh
Flourishing Journal Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v6i32026p543-560

Abstract

This study examined the effect of grit on job satisfaction, with work engagement as a mediating variable among Generation Z elementary school teachers in Samarinda, Indonesia. A quantitative correlational design was employed with 148 teachers selected through disproportionate stratified random sampling. Data were collected using the Grit Scale, Utrecht Work Engagement Scale (UWES-9), and Job Satisfaction Survey (JSS), which demonstrated satisfactory validity and reliability. Data were analyzed using PROCESS Macro 5 Model 4 with 5,000 bootstrap resamples. Results showed that grit had a positive and significant effect on job satisfaction (p < .001), explaining 50.86% of the variance, and on work engagement (p < .001), explaining 13.20% of the variance. However, work engagement did not significantly affect job satisfaction (p = .1465). Mediation analysis showed that work engagement did not mediate the relationship between grit and job satisfaction, as the 95% bootstrap Confidence interval (-0.0358 to 0.4807) included zero. Thus, grit directly predicts job satisfaction. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh grit terhadap kepuasan kerja dengan keterikatan kerja sebagai variabel mediasi pada guru sekolah dasar Generasi Z di Samarinda, Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel terdiri dari 148 guru Generasi Z yang dipilih melalui teknik disproportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan Grit Scale, Utrecht Work Engagement Scale (UWES-9), dan Job Satisfaction Survey (JSS), yang menunjukkan validitas dan reliabilitas yang memadai. Analisis data dilakukan menggunakan PROCESS Macro 5 Model 4 dengan 5.000 bootstrap resampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa grit berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja (p < 0,001), dengan kontribusi sebesar 50,86%, serta terhadap keterikatan kerja (p < 0,001) sebesar 13,20%. Namun, keterikatan kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja (p = 0,1465). Analisis mediasi menunjukkan bahwa keterikatan kerja tidak memediasi hubungan antara grit dan kepuasan kerja karena interval kepercayaan bootstrap 95% (-0,0358 hingga 0,4807) mencakup nol. Dengan demikian, grit secara langsung memprediksi kepuasan kerja.
Peran Burnout terhadap Kinerja Karyawan pada PT X dalam Program Makan Bergizi Gratis Nirmala Iga; Jati Fatmawiyati
Flourishing Journal Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v6i32026p728-746

Abstract

The Free Nutritious Meals Program requires high operational readiness from partner companies, including PT X, which may increase the risk of burnout among employees due to non-conventional working hours, high workloads, and mass production pressure. These conditions are suspected to have an impact on declining employee performance, both in terms of task performance, contextual performance, and the emergence of counterproductive work behavior. This study aims to analyze the role of burnout in employee performance at PT X in the implementation of the Free Nutritious Meals Program. This study uses a quantitative approach with a correlational descriptive design. Research data were collected from employees using a total sampling technique through a burnout questionnaire instrument adapted and modified from the Maslach Burnout Inventory (MBI), as well as an employee performance questionnaire referring to the Individual Work Performance Questionnaire. Data analysis was conducted using simple linear regression with the assistance of IBM SPSS Statistics. The results indicate that all dimensions of burnout, namely emotional exhaustion, reduced personal accomplishment, cynicism, low social support, and workload demands, have a significant effect on task performance and contextual performance and increase counterproductive work behavior. These findings confirm that burnout has a significant impact on employee performance, making burnout management an important factor in maintaining operational effectiveness and the sustainability of the company. Abstrak Program Makan Bergizi Gratis menuntut kesiapan operasional yang tinggi dari perusahaan mitra, termasuk PT X, sehingga berpotensi meningkatkan risiko burnout pada karyawan akibat jam kerja nonkonvensional, beban kerja yang tinggi, dan tekanan produksi massal. Kondisi tersebut diduga berdampak pada penurunan kinerja karyawan, baik dari aspek kinerja tugas, kinerja kontekstual, maupun munculnya perilaku kerja kontraproduktif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran burnout terhadap kinerja karyawan PT X dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional. Data penelitian diperoleh dari karyawan melalui teknik total sampling dengan menggunakan instrumen kuesioner burnout yang diadaptasi dan dimodifikasi dari Maslach Burnout Inventory (MBI), serta kuesioner kinerja karyawan yang mengacu pada Individual Work Performance Questionnaire. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier sederhana dengan bantuan IBM SPSS Statistics. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh dimensi burnout, yaitu kelelahan emosional, penurunan pencapaian pribadi, sinisme, rendahnya dukungan sosial, dan tuntutan kerja, berpengaruh signifikan terhadap kinerja tugas dan kinerja kontekstual, serta meningkatkan perilaku kerja kontraproduktif. Temuan ini menegaskan bahwa burnout berdampak secara signifikan terhadap kinerja karyawan, sehingga pengelolaan burnout menjadi faktor penting dalam menjaga efektivitas kinerja dan keberlanjutan operasional perusahaan.
Intervensi untuk Meningkatkan Kemandirian dalam Aktivitas Sehari-hari pada Anak Tunanetra Usia Sekolah Dasar: Scoping Review Flory Aura Najla; Retno Chania; Ainum Rahmatul Jannah; Iftita Rahmi
Flourishing Journal Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v6i32026p641-651

Abstract

Visual impairment in children significantly affects cognitive, motor, and socio-emotional development, as well as the ability to perform Activities of Daily Living (ADL) independently. Children with visual impairment face substantial barriers in self-care, mobility, and social participation, which can hinder their long-term adaptive development and quality of life. This study aims to map interventions used to enhance ADL independence in primary school-age children with visual impairment. We used a scoping review methodology following PRISMA guidelines, conducting literature searches across Scopus, Sage Journals, PubMed, and Google Scholar. After screening and eligibility assessment, four articles met the inclusion criteria and were analyzed. The findings reveal that independence in children with visual impairment is shaped by three interrelated factors: intrinsic child factors, environmental factors, and relational factors, particularly parental roles. Effective interventions identified include home-based prompting programs, visual stimulation and vision skills training, task adaptation, and environmental modification. These interventions are most effective when tailored to the child's developmental stage and delivered within familiar environments with active parental involvement. Abstrak Gangguan penglihatan pada anak berdampak signifikan terhadap perkembangan kognitif, motorik, dan sosio-emosional, serta kemampuan melaksanakan Activities of Daily Living (ADL) secara mandiri. Anak dengan gangguan penglihatan menghadapi hambatan nyata dalam perawatan diri, mobilitas, dan partisipasi sosial yang dapat menghambat perkembangan adaptif dan kualitas hidup jangka panjang. Penelitian ini bertujuan memetakan intervensi yang telah digunakan untuk meningkatkan kemandirian ADL pada anak tunanetra usia sekolah dasar. Metode yang digunakan adalah scoping review berdasarkan panduan PRISMA, dengan penelusuran literatur pada basis data Scopus, Sage Journals, PubMed, dan Google Scholar. Setelah melalui proses screening serta penilaian kelayakan, empat artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis. Hasil kajian menunjukkan bahwa kemandirian anak tunanetra dipengaruhi oleh tiga faktor yang saling berkaitan, yaitu faktor intrinsik anak, faktor lingkungan, dan faktor relasional terutama peran orang tua. Intervensi yang teridentifikasi efektif meliputi program prompting berbasis keluarga, stimulasi visual dan pelatihan keterampilan visual, adaptasi tugas dan modifikasi lingkungan. Intervensi-intervensi tersebut paling efektif bila disesuaikan dengan tahap perkembangan anak dan dilaksanakan dalam lingkungan yang akrab dengan keterlibatan aktif orang tua.
Eksplorasi Growth Mindset dalam Menjaga Kesehatan Mental Generasi Z Moh Fahmi Ilman Nafia; Habibatun Nuriyyah; Alfaini Zulfa Nada; Muhammad Mahpur
Flourishing Journal Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v6i32026p630-640

Abstract

This study aims to deeply understand how a growth mindset plays a role in maintaining the mental health of Generation Z living under academic, social, and digital pressures. Using a qualitative phenomenological approach, the study involved ten college students aged 18–25 who had experienced academic or personal failure. Data were obtained through in-depth interviews and analyzed using a qualitative coding technique through the stages of fact condensation, fact clustering, categorization, and theme extraction. The findings indicate that a growth mindset plays a significant role in maintaining the mental health of Generation Z amidst the academic, social, and emotional pressures they face. Individuals with a growth mindset demonstrate a strong belief that abilities can be developed through effort, reflection, and perseverance. This belief helps them manage stress, face failure more adaptively, and view challenges as opportunities for learning. The findings indicate that a growth mindset functions as a psychological mechanism linking cognitive belief, adaptive behavioral strategies, and emotional regulation. which together build emotional balance, increase self-confidence, and transform negative experiences into positive energy that drives personal development. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam bagaimana growth mindset berperan dalam menjaga kesehatan mental Generasi Z yang hidup di bawah tekanan akademik, sosial, dan digital. Menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, penelitian ini melibatkan sepuluh mahasiswa berusia 18–25 tahun yang pernah mengalami kegagalan akademik maupun kegagalan dalam kehidupan pribadi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan teknik koding kualitatif melalui tahapan pemadatan fakta, pengumpulan fakta sejenis, kategorisasi, dan penarikan tema. Hasil penelitian menunjukkan bahwa growth mindset memiliki peran yang signifikan dalam menjaga kesehatan mental Generasi Z di tengah berbagai tekanan akademik, sosial, dan emosional yang mereka hadapi. Individu yang memiliki growth mindset menunjukkan keyakinan yang kuat bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui usaha, refleksi diri, dan ketekunan. Keyakinan tersebut membantu mereka dalam mengelola stres, menghadapi kegagalan secara lebih adaptif, serta memandang tantangan sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang. Temuan ini menunjukkan bahwa growth mindset berperan sebagai mekanisme psikologis yang menghubungkan keyakinan kognitif, strategi perilaku adaptif, dan regulasi emosi, serta secara bersama-sama membangun keseimbangan emosional, meningkatkan kepercayaan diri, serta mengubah pengalaman negatif menjadi energi positif yang mendorong pengembangan diri.

Page 1 of 2 | Total Record : 13