cover
Contact Name
Betty Masruroh
Contact Email
flourishing.journal@um.ac.id
Phone
+62341-552115
Journal Mail Official
flourishing.journal@um.ac.id
Editorial Address
Jln. Semarang 5 Malang 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Flourishing Journal
ISSN : -     EISSN : 27979865     DOI : -
Core Subject : Social,
Flourishing Journal is an open-access and peer-reviewed journal dedicated to publishing research articles in the field of psychology. Flourishing Journal accepts research articles that have the potential to make a significant contribution to the exploration and development of psychology and behavioral sciences. Articles submitted to this journal must display a well-thought-out study design, appropriate data analysis, and interpretation.
Articles 202 Documents
Analisis Dampak Perilaku Narsistik pada Kesehatan Mental Remaja Fraditya Lexcy Aurilio; Iin Isolawati; Jasmine Nazira Nurshafa; Nadia Khairina
Flourishing Journal Vol. 3 No. 11 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i112023p478-485

Abstract

Social media is used as a means of communication because it allows people to interact with more people. However, social media also has negative impacts, such as triggering narcissistic behavior. Because individuals like them love themselves, and narcissism is also a mental disorder. This study aims to analyze the impact of narcissistic behavior on adolescent mental health using a descriptive qualitative approach and has a literature review type. The sample obtained was seven journal articles relevant to the topic studied. The articles show that the impact of narcissistic behavior on adolescents' mental health is feeling superior, having feelings of envy, having a high imagination, wanting to be admired, lacking empathy, feeling special, arrogant, sensitive, and believing that they are unique Another factor that influences narcissistic tendencies is loneliness. Lonely people have a strong tendency to engage in social interaction through social networks. Lonely people have difficulty withdrawing from social interactions, so they are less likely to engage in social interactions. AbstrakMedia sosial digunakan sebagai sarana komunikasi karena memungkinkan masyarakat berinteraksi dengan lebih banyak orang. Namun media sosial juga mempunyai dampak negatif seperti memicu perilaku narsistik. Karena individu seperti mereka benar-benar saling mencintai diri mereka dan narsisme juga merupakan gangguan mental. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak perilaku narsistik terhadap kesehatan mental remaja dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan memiliki jenis kajian literatur. Sampel yang didapatkan adalah 7 artikel jurnal yang relevan dengan topik yang dikaji. Artikel-artikel tersebut menunjukkan bahwa dampak perilaku narsistik terhadap kesehatan mental remaja adalah merasa paling hebat, memiliki perasaan iri, memiliki imajinasi tinggi, sangat ingin dikagumi, kurang berempati, merasa istimewa, angkuh, sensitif, dan yakin bahwa dirinya unik. Faktor lain yang memberikan pengaruh kecenderungan narsistik ialah kesepian. Orang yang kesepian mempunyai kecenderungan kuat untuk terlibat dalam interaksi sosial melalui jejaring sosial. Orang yang kesepian mengalami kesulitan karena menarik diri dari interaksi sosial, sehingga dapat memicu tingkat kecemasan yang tinggi dan berujung pada isolasi sosial.
Hubungan Father Involvement dengan Self-control pada Mahasiswa yang Mengonsumsi Alkohol di Kota Malang Nike Arum Maulida; Retno Sulistiyaningsih
Flourishing Journal Vol. 3 No. 10 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i102023p406-420

Abstract

Students who experience unfavorable psychosocial development tend to be vulnerable to social influences and are more easily involved in unhealthy behavior, such as consuming alcohol. The cause of alcohol consumption is weak self-control. Currently, not everyone has an ideal family, there are also families that experience incompleteness within them. One of the causes is the absence of a father's role or figure. The presence of a father has an important role in the development of children's self-control abilities, where children can model self-control from those closest to them as role models. The aim of this research is to test empirically whether there is a relationship between father involvement and self-control in students who consume alcohol. The hypothesis in the research is that there is a relationship between father involvement and self-control. The research is quantitative research with a correlational descriptive design on students who have consumed or are currently consuming alcohol. The sample used was 152 respondents aged 17-20 years using convenience sampling techniques. The measuring instrument used is a modification of the father involvement scale by Lamb (2000) and an adaptation of the self-control scale by Tangney (2004). The data analysis used in this research is descriptive and correlational analysis. An analysis test was carried out using Kolmogrov Smirnov and the results showed that there was a relationship between father involvement and self-control (p < .05). AbstrakMahasiswa yang mengalami perkembangan psikososial yang tidak menguntungkan cenderung rentan terhadap pengaruh pergaulan dan lebih mudah terlibat dalam perilaku yang tidak sehat, seperti mengkonsumsi alkohol. Penyebab terjadinya konsumsi alkohol dikarenakan lemahnya self-control. Saat ini tidak semua orang mempunyai keluarga yang ideal, ada pula keluarga yang mengalami ketidakutuhan didalamnya. Salah satu penyebab yaitu tidak adanya peran ataupun figur seorang ayah. Kehadiran seorang ayah memiliki peranan penting dalam perkembangan kemampuan self-control anak, dimana anak dapat mencontoh mengendalikan dirinya dari orang-orang terdekat sebagai model keteladanan. Tujuan penelitian ini untuk menguji secara empirik apakah terdapat hubungan father involvement dengan self-control pada mahasiswa yang mengkonsumsi alkohol. Hipotesis dalam penelitian adalah terdapat hubungan antara father involvement dan self-control. Penelitian merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional pada mahasiswa yang pernah atau sedang mengkonsumsi alkohol. Sampel yang digunakan berjumlah 152 responden dengan usia 17-20 tahun dengan menggunakan teknik convenience sampling. Alat ukur yang digunakan merupakan modifikasi dari skala father involvement oleh Lamb (2000) serta adaptasi skala self-control oleh Tangney (2004). Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif dan korelasional. Dilakukan uji analisis menggunakan Kolmogrov Smirnov dan didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan antara father involvement dengan self-control (p < .05).
Gangguan Skizofrenia Ditinjau melalui Pendekatan Neuropsikologi Muhammad Aldwin Priyatama; Natasya Azahra; Laila Indra Lestari
Flourishing Journal Vol. 3 No. 10 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i102023p441-449

Abstract

Schizophrenia is a severe mental disorder that affects an individual's thoughts, feelings, and behavior. Data indicates that the prevalence of schizophrenia in Indonesia is relatively high. This research aims to examine schizophrenia from a neuropsychological perspective, with a focus on the need for information regarding schizophrenia and its impact on the behavior of individuals with the condition. The research employs a literature review method. Based on the findings of the conducted research, it is evident that the causes of schizophrenia are primarily attributed to biological factors such as monozygotic twins, psychosocial factors, and environmental factors. Individuals with schizophrenia have abnormal brain. Abnormalities in brain structure among individuals with schizophrenia include white matter structure, decreased volume in the hippocampus, amygdala, thalamus, nucleus accumbens, and intracranial volume, hypoactivation in the left frontal lobe, as well as decreased electrical potential in the parietal lobe. When the brain, which typically functions cohesively, experiences abnormal structural conditions, it impacts the overall functioning of the brain and subsequently affects the behavior of individuals with schizophrenia. Abnormalities in brain structure lead to changes in cognitive function, memory, the limbic system, executive system, and abnormalities in the release of dopamine and serotonin. AbstrakSkizofrenia merupakan gangguan jiwa berat yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku individu. Data menunjukkan bahwa penderita skizofrenia di Indonesia cukup tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji gangguan skizofrenia ditinjau melalui perspektif neuropsikologi dan urgensi pada penelitian ini terletak pada kebutuhan akan informasi mengenai skizofrenia dan pengaruhnya terhadap perilaku penderitanya. Penelitian ini menggunakan metode literature review. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa penyebab dari skizofrenia secara garis besar disebabkan oleh faktor biologis seperti kembar monozigot, psikososial, dan lingkungan. Penderita skizofrenia memiliki struktur otak abnormal. Abnormalitas struktur otak pada pengidap skizofrenia mencakup struktur white matter, penurunan volume pada hipokampus, amigdala, thalamus, nucleus accumbens, volume intrakranial, hipoaktivasi pada lobus frontal kiri, dan penurunan potensial listrik pada lobus parietal. Otak yang pada dasarnya bekerja secara bersamaan ketika strukturnya mengalami kondisi yang abnormal akan memengaruhi sistem kerjanya secara keseluruhan sehingga berpengaruh pada perilaku penderita skizofrenia. Abnormalitas pada struktur pada otak menyebabkan perubahan pada fungsi kognitif, memori, sistem limbik, sistem eksekutif, dan abnormalitas pada pelepasan dopamin dan serotonin.
Krisis pada Quarter-life, Peran Dukungan Sosial dalam Membantu melewatinya Amelia Dwi Rahmah; Ulfa Masfufah
Flourishing Journal Vol. 3 No. 10 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i102023p450-458

Abstract

Humans face a variety of challenges and developmental journeys in every phase of life, including the emerging adulthood phase or at 18-25 years old, in which individuals build relationships, commit themselves to life's goals, and develop themselves. The shift from adolescence to adulthood frequently gives rise to doubt and unease, leading to a period of uncertainty known as a quarter-life crisis. This article aims to explore the role of social support from various sources affecting individuals who are experiencing quarter-life crises during the emerging adulthood phase. The research method used in the study of literature examines 10 journal articles that are relevant to the author's research. The data used in this research is secondary data, which is a type of data obtained indirectly. The data obtained was analyzed descriptively and thematically to describe findings in the literature and to identify key themes as well as relationships between information. The results show that the social support role of family, peers, and surroundings has a positive impact on reducing the rate of quarter-life crises in individuals between the ages of 18 and early 30 years. AbstrakManusia menghadapi berbagai tantangan dan perjalanan perkembangan dalam setiap fase kehidupan, termasuk dalam tahap emerging adulthood, dimana individu menjalin hubungan, berkomitmen pada tujuan hidup, dan mengembangkan diri. Peralihan dari remaja ke dewasa seringkali menimbulkan ketidakpastian dan kecemasan, memuncak dalam krisis pada quarter-life. Krisis ini dipicu oleh tuntutan dan tanggung jawab peralihan, serta tekanan sosial. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran dukungan sosial sehingga mampu memengaruhi individu yang sedang mengalami krisis pada quarter-life selama tahap emerging adulthood. Metode penelitian yang digunakan berupa studi literatur menelaah 10 artikel jurnal yang relevan dengan kata kunci. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, merupakan jenis data yang diperoleh secara tidak langsung. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan tematik untuk menggambarkan temuan dalam literatur dan mengidentifikasi tema-tema utama serta hubungan antar informasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat diamati bahwa adanya peran dukungan sosial dari keluarga, teman sebaya, dan lingkungan sekitar memiliki pengaruh positif dalam mengurangi tingkat krisis pada quarter-life pada individu yang berusia antara 18 hingga awal 30 tahun.
Dampak Discount Promotion pada Platform E-Commerce terhadap Perilaku Impulsive Buying Areta, Tiara Dini; Nadia Khairina
Flourishing Journal Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i12024p41-46

Abstract

The more advanced the times, the more advanced the development of technology in it. The rapid development of technology makes it easier for someone to find and provide the latest information. As a result of technological developments, it also affects changes in the way individuals carry out the transaction process. Technological developments and internet access are more widely used by Gen Z. There are some assumptions that shopping online provides more benefits than shopping in person. The purpose of this study is to determine whether discount promotion in E-commerce platform has an influence on impulsive buying and to determine the impact of this. In the research conducted, the author adopted a qualitative method using an open-ended questionnaire technique to review Gen Z who use e-commerce platforms for shopping. The results show that respondents have a tendency to impulsive buying behavior which can be proven through several aspects of impulsive buying. Respondents tend to lack consideration in planning the purchase of discounted goods and feel excited when they see discounted goods that they are interested in, thus encouraging them to make unplanned purchases. AbstrakSemakin majunya perkembangan zaman semakin maju pula perkembangan teknologi di dalamnya. Pesatnya perkembangan teknologi semakin memudahkan seseorang dalam mencari maupun memberi informasi terkini. Akibat dari perkembangan teknologi juga mempengaruhi perubahan cara individu dalam melakukan proses transaksi. Perkembangan teknologi dan akses internet lebih banyak digunakan oleh Gen Z. Muncul beberapa anggapan bahwa berbelanja secara daring lebih banyak memberi keuntungan daripada berbelanja secara langsung. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui apakah discount promotion pada platform E-Commerce memiliki pengaruh terhadap impulsive buying dan untuk mengetahui dampak dari hal ini. Dalam penelitian yang dilakukan, penulis mengadopsi metode kualitatif dengan menggunakan teknik kuesioner terbuka untuk meninjau Gen Z yang menggunakan platform e-commerce untuk berbelanja. Hasil menunjukan bahwa responden memiliki kecenderungan perilaku impulsive buying yang dapat dibuktikan melalui beberapa aspek impulsive buying. Responden cenderung kurang memiliki pertimbangan dalam merencanakan pembelian barang diskon dan merasa senang saat melihat barang diskon yang mereka minati sehingga mendorong mereka untuk melakukan pembelian tak terencana.
Analisis Identitas Kolektif dan Memetic Media: Studi Kasus Reddit r/place 2022 Naufal Al Harist; Nadia Khairina
Flourishing Journal Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i12024p1-10

Abstract

Research on the interaction between collective identity and memetic media often focuses on the drivers of the interaction. Meanwhile, this research seeks to conduct a case study analysis of the relationship between collective identity and memetic media by utilizing a quasi-natural experiment on Reddit r/place 2022 not as a driver but as a medium of expression of both. This research uses the qualitative case study method and the Place Atlas Initiative website as a data collector with two units of analysis, namely the work of The Night Watch and the flag of the United States, which then show the interaction between collective identity and memetic media in it. In general, Sense of belonging is the main motivator for individuals to behave in accordance with the collective agency of their group identity. This collective identity is formed through the 'commonality' of attributes/experiences shared by each individual in the group. In accordance with the duality of memetic structures, the cultural products of these groups are then expressed by adapting them to the r/place 2022 canvas while still preserving the main essence of it. AbstrakPenelitian tentang interaksi antara identitas kolektif dan memetic media lebih sering terfokus pada pendorong dari interaksi tersebut. Sedangkan penelitian ini berusaha melakukan studi kasus analisis mengenai keterkaitan antara identitas kolektif dan memetic media dengan memanfaatkan sebuah pseudo-eksperimen alami pada Reddit r/place 2022 bukan sebagai pendorong melainkan sebagai wadah terekspresikannya kedua hal ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif studi kasus dengan alat pengumpul data yaitu situs Place Atlas Initiative. Penelitian ini memfokuskan pada dua unit analisis yaitu karya The Night Watch dan bendera Amerika Serikat yang kemudian dipaparkan interaksi antara identitas kolektif dan memetic media didalamnya. Secara umum, Sense of belonging merupakan pemicu utama individu berperilaku sesuai dengan agensi kolektif dari identitas kelompoknya. Identitas kolektif ini terbentuk melalui 'kesamaan' atribut/pengalaman yang dimiliki tiap individu pada suatu kelompok. Sesuai dengan dualitas struktur memetic, hasil budaya kelompok kemudian diekspresikan dengan mengadaptasikannya sesuai dengan kanvas r/place 2022 dengan tetap mempertahankan esensi utama dari hasil budaya tersebut.
Fear Of Missing Out sebagai Prediktor Psychological Well-Being pada Mahasiswa Pengguna Instagram Irena Syva Salbilah Ulfa; Ika Andrini Farida
Flourishing Journal Vol. 3 No. 10 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i102023p421-433

Abstract

Many young adults have low Psychological Well-Being, and one of the causes is Fear of Missing Out. Someone who is Fear of Missing Out will be very interested in participating in social media, such as Instagram. This research aims to test the hypothesis that there is a predictive relationship between Fear of Missing Out and Psychological Well-Being in students at the Faculty of Psychology, State University of Malang who actively use Instagram. Correlational research is the method used in this research. The data analysis technique in this research uses simple linear regression. The purposive sampling technique was chosen to collect data for this research and obtained 187 subjects with the criteria of actively using Instagram. The instruments used were the Fear of Missing Out scale and the Psychological Well-Being scale. The results of this study show that the hypothesis is proven, namely Fear of Missing Out can predict Psychological Well-Being with a value of R2 = 0.099. This can be interpreted that FoMO as a predictor has an effective contribution of 9.9% to the Psychological Well-Being of students at the Faculty of Psychology, the State University of Malang who use Instagram. AbstrakBanyak individu, khususnya usia dewasa awal yang memiiki Psychological well-being (PWB) rendah, salah satu penyebabnya adalah Fear of Missing Out (FoMO). Seseorang yang FoMO akan sangat tertarik untuk berpartisipasi di media sosial, seperti instagram. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menguji hipotesis bahwa ada hubungan prediktif antara FoMO dan psychological well-being (PWB) pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang yang aktif menggunakan instagram. Metode kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional adalah metode yang digunakan dalam riset ini. Teknik analisis data dalam riset ini menggunakan regresi linear sederhana. Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa aktif S1 Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang, laki-laki dan perempuan, dan berusia 18-25 tahun. Teknik purposive sampling dipilih dalam pengumpulan data penelitian ini dan mendapatkan subjek berjumlah 187 orang dengan kriteria aktif menggunakan instagram. Instrumen yang digunakan yaitu skala Fear of Missing Out dan skala Psychological Well-Being. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hipotesis terbukti, yaitu FoMO dapat memprediksi PWB dengan nilai R2 = 0,099. Hal ini dapat diartikan bahwa FoMO sebagai prediktor memiliki kontribusi efektif sebesar 9,9% terhadap PWB mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang pengguna instagram.
Pengaruh Dukungan Sosial terhadap Resiliensi Remaja Putus Sekolah di Kota Makassar Muhammad Aditya Pratama; Muh. Nur Hidayat Nurdin; Nur Akmal; Eva Meizara Puspita Dewi
Flourishing Journal Vol. 3 No. 10 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i102023p434-440

Abstract

Resilience is important for out-of-school adolescents so that they can make them able to bounce back from the problems faced after dropping out of school. One factor that can increase the resilience ability of out-of-school adolescents is social support. This study aimed to determine the effect of social support on the resilience of out-of-school adolescents. The sampling technique in this study used Snowball Sampling with a total of 228 subjects. The measuring instrument used is the Social Support Scale, with a reliability value of 0.827. The resilience Scale was used to measure the level of resilience in this study with a reliability value of measuring instruments of 0.928. This study used a simple linear regression analysis technique, which showed the study results that there was an effect of social support on resilience with a significance value of 0.000 (p < 0.05). The impact of the independent variable on the variable is tied to the value of R = 0.490, which shows a positive value, and, the results of R Square in this study are R2 = 0.240, which means that social support has an influence of 24% on resilience with weak categories. AbstrakPentingnya kemampuan resiliensi dipunyai oleh remaja putus sekolah sehingga mampu membuat remaja putus sekolah dapat bangkit kembali dari permasalahan yang dihadapi pasca putus sekolah. Salah satu faktor yang mampu meningkatkan kemampuan resiliensi remaja putus sekolah ialah dukungan sosial. Kajian ini bertujuan untuk melihat dampak dukungan sosial pada resiliensi remaja putus sekolah. Metode penghimpunan sampel pada kajiaan ini menerapkan teknik Snowball Sampling pada jumlah subjek yakni 228 orang. Alat ukur yang digunakan adalah Social Support Scale dalam mengukur dukungan sosial dengan nilai reliabilitas alat ukur yakni 0,827. Skala Resiliensi untuk mengukur tingkat resiliensi dalam penelitian ini dengan nilai reliabilitas alat ukur sebesar 0,928. Kajian ini menerapkan metode analisa regresi linear sederhana yang menunjukkan hasil kajian pada dampak dukungan sosial pada resiliensi dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05). Dampak variabel bebas pada variabel terikat pada nilai R= 0,490 yang menunjukkan nilai positif serta, hasil R Square dalam penelitian ini sebesar R2 = 0, 240 yang artinya dukungan sosial memiiki dampak yakni 24% terhadap resiliensi dengan kategori lemah.
Perilaku Konformitas Anggota Komunitas Penggemar K-Pop Pujirahayu, Fadila; Rakhmaditya Dewi Noorizki
Flourishing Journal Vol. 4 No. 7 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i72024p288-295

Abstract

The K-Pop fan community is a community consisting of individuals who have the same interest in the world of K-Pop. Joining a community encourages individuals to behave in conformity to fit and be accepted by their community, including in this K-Pop fan community. This study aims to determine the forms of conformity behavior in members of the K-Pop fan community. This research uses a descriptive qualitative approach. The research data was obtained through an interview process with three informants who are members of the K-Pop fan community. The results showed that the forms of conformity behavior shown by members of the K-Pop fan community can be seen from three aspects, namely (1) cohesiveness, shown through support or loyalty by buying albums, merchandise, watching concerts, streaming mv, voting in award events, participating in activities in the community, and self-adjustment by increasing interaction with fellow members, following the style of dress and language, (2) agreement, in the form of respecting other people's opinions and following group agreements, (3) obedience, shown by obeying the rules and doing what the community expects or wants. AbstrakKomunitas penggemar K-Pop merupakan komunitas yang terdiri dari individu-individu yang memiliki ketertarikan yang sama dalam dunia K-Pop. Bergabung dengan sebuah komunitas mendorong individu untuk berperilaku konformitas agar sesuai dan diterima komunitasnya, termasuk dalam komunitas penggemar K-Pop ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-betuk perilaku konformitas pada anggota komunitas penggemar K-Pop. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data penelitian diperoleh melalui proses wawancara bersama tiga narasumber yang merupakan anggota komunitas penggemar K-Pop. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk perilaku konformitas yang ditunjukkan oleh anggota komunitas penggemar K-Pop dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu (1) kekompakan, ditunjukkan melalui dukungan atau loyalitasnya dengan membeli album, merchandise, menonton konser, streaming mv, voting dalam ajang penghargaan, mengikuti kegiatan-kegiatan dalam komunitas, serta penyesuaian diri dengan memperbanyak interaksi dengan sesama anggota, mengikuti gaya berpakaian dan berbahasa, (2) kesepakatan, berupa menghargai pendapat orang lain dan mengikuti kesepakatan kelompok, dan (3) ketaatan, ditunjukkan dengan menaati peraturan dan melakukan hal yang diharapkan atau diinginkan komunitas.
Coping Mechanism Remaja Akhir Pasca Putus Cinta Sitompul, Rianti Natasya; Rakhmaditya Dewi Noorrizki
Flourishing Journal Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i22024p59-63

Abstract

The problem of adolescents' helplessness in coping with stress is a problem that can interest researchers to examine more deeply because adolescents who cannot cope tend to harm themselves, such as attempting suicide. This study aims to understand coping mechanisms after a breakup in late adolescence. The research method used in this study is a qualitative approach with descriptive analysis. The subjects of this study were five adolescents aged nineteen to twenty years who were students at the State University of Malang and had experienced or were currently experiencing a breakup. This study shows that five subjects going through a breakup or have experienced a breakup use problem-focused, emotion-focused, meaning-focused, and social coping (seeking support). Based on the results of the interviews that have been conducted, three subjects use problem-focused coping; one subject uses emotion-focused coping, and one subject uses meaning-focused and social coping, where the subject manages the meaning of the situation and seeks emotional support from friends or family. AbstrakMasalah ketidakberdayaan remaja dalam mengatasi stres adalah permasalahan yang dapat menarik minat peneliti untuk menelaah lebih dalam dikarenakan remaja yang tidak bisa melakukan coping cenderung untuk menyakiti diri, seperti mencoba untuk bunuh diri. Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk memahami coping mechanism setelah putus cinta pada remaja akhir. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif. Subjek penelitian ini adalah lima remaja yang berusia sembilan belas tahun hingga dua puluh tahun, merupakan mahasiswa di Universitas Negeri Malang dengan kategori pernah atau sedang mengalami putus cinta. Penelitian ini menunjukkan bahwa lima subjek yang sedang putus cinta atau sudah mengalami putus cinta menggunakan strategi coping berfokus pada masalah, coping berfokus pada emosi, coping berfokus pada makna, dan coping sosial (mencari dukungan). Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, tiga subjek menggunakan coping yang berfokus pada masalah, satu subjek menggunakan coping yang berfokus pada emosi, satu subjek menggunakan coping yang berfokus pada makna dan sosial, yang dimana subjek mengelola makna situasi dan mencari dukungan emosional dari teman atau keluarga.