cover
Contact Name
Betty Masruroh
Contact Email
flourishing.journal@um.ac.id
Phone
+62341-552115
Journal Mail Official
flourishing.journal@um.ac.id
Editorial Address
Jln. Semarang 5 Malang 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Flourishing Journal
ISSN : -     EISSN : 27979865     DOI : -
Core Subject : Social,
Flourishing Journal is an open-access and peer-reviewed journal dedicated to publishing research articles in the field of psychology. Flourishing Journal accepts research articles that have the potential to make a significant contribution to the exploration and development of psychology and behavioral sciences. Articles submitted to this journal must display a well-thought-out study design, appropriate data analysis, and interpretation.
Articles 202 Documents
Pemahaman terhadap Diskriminasi Agama: Menyoroti Faktor yang Memengaruhi Agnes Monica Shella Puspita; Rakhmaditya Dewi Noorizki
Flourishing Journal Vol. 3 No. 8 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i82023p338-344

Abstract

Cases of religious discrimination in Rohingya receive serious attention regarding protecting human rights in freedom of belief. Indonesia, as a multicultural country, faces challenges in maintaining the principles of equality and respect for religious freedom. This article exists to understand the psychological factors behind discrimination, including stereotypes, prejudice, social identity, conformity, and personal experiences. All of these factors interact with each other and can trigger discriminatory behavior that is detrimental and destroys religious diversity in society. This study uses a literature review method where the author will collect and analyze data from 4 journals and 1 news item regarding religious discrimination over the last five years. The results of literature studies show that the factors that cause religious discrimination can originate from stereotypes formed from negative views and assumptions, religious prejudice that underlies the assessment and treatment of a person's religious beliefs, and social interactions that influence behavior toward other religions. This research plays an important role in developing policies and education that will involve various parties in efforts to face the challenges of religious discrimination holistically in Indonesia. AbstrakKasus diskriminasi agama di Rohingya mendapatkan perhatian yang serius terkait perlindungan hak asasi manusia dalam kebebasan memeluk keyakinan. Indonesia sebagai negara multikultural menghadapi tantangan dalam mempertahankan prinsip kesetaraan dan penghormatan terhadap kebebasan beragama. Artikel ini ada untuk memahami faktor psikologis di balik diskriminasi termasuk stereotip, prasangka, identitas sosial, konformitas, dan pengalaman pribadi. Semua faktor ini saling berinteraksi dan dapat memicu perilaku diskriminatif yang merugikan dan merusak keragaman agama dalam masyarakat. Studi ini menggunakan metode tinjauan literatur dimana penulis akan mengumpulkan dan menganalisis data dari 4 jurnal dan 1 berita mengenai diskriminasi agama selama lima tahun terakhir. Hasil studi literatur menunjukkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya diskriminasi agama dapat berasal dari stereotip yang terbentuk dari pandangan dan asumsi negatif, prasangka agama yang mendasari penilaian dan perlakuan terhadap keyakinan agama seseorang, serta interaksi sosial yang memengaruhi perilaku terhadap agama lain. Penelitian ini berperan penting dalam pengembangan kebijakan dan edukasi yang akan melibatkan berbagai pihak dalam upaya menghadapi tantangan diskriminasi agama secara holistik di Indonesia.
Problematika Kesiapan Pernikahan Individu Dewasa Awal Shaqilla Aulia Hakim; Ulfa Masfufah
Flourishing Journal Vol. 3 No. 8 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i82023p345-351

Abstract

This article discusses the readiness of individuals in early adulthood to enter marriage. Marriage is a relationship forged by a man and a woman to balance life biologically, psychologically, and socially. Although an age above 19 years is considered ideal for marriage, the main factor in marriage is the agreement and readiness between both partners before marriage. The method used in this article is a literature review by analyzing the psychological impact of the lack of readiness for marriage in early adulthood. The results of this article show that marriage must be prepared physically, mentally, and financially, and factors such as self-disclosure, trust, equality, intimacy, good conflict management, and open communication also contribute to marital satisfaction. Emotional readiness and emotional intelligence are important in maintaining the continuity of marriage and household success. Marriage without careful consideration has the risk of causing depression in partners, especially women. Therefore, individuals must carefully consider wedding preparations to avoid long-term negative impacts and ensure the family remains harmonious. AbstrakArtikel ini membahas tentang kesiapan individu pada masa dewasa awal dalam memasuki pernikahan, sebagai salah satu tugas perkembangan pada masa ini. Meskipun usia di atas 19 tahun dianggap ideal untuk menikah, faktor utama dalam pernikahan adalah persetujuan dan kesiapan yang disepakati oleh kedua pasangan sebelum melangsungkan pernikahan. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah review literatur dengan menganalisis dampak psikologis yang muncul akibat kurangnya kesiapan dalam pernikahan pada masa dewasa awal. Hasil dari artikel ini dapat diketahui bahwa pernikahan harus dipersiapkan secara fisik, mental, dan finansial, serta faktor-faktor seperti self-disclosure, kepercayaan, kesetaraan, keintiman, pengelolaan konflik yang baik, dan komunikasi yang terbuka juga berkontribusi pada kepuasan pernikahan. Kesiapan emosional dan kecerdasan emosi memainkan peran penting dalam menjaga kelangsungan pernikahan dan keberhasilan rumah tangga. Pernikahan tanpa pertimbangan yang matang berisiko menyebabkan depresi pada pasangan, terutama perempuan. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk memikirkan persiapan pernikahan dengan matang agar terhindar dari dampak negatif jangka panjang.
Hubungan Antara Passionate Love dan Dating Violence Pada Korban Mahasiswa Universitas Negeri Malang Leyly Rahmawati; Andrini Farida, Ika
Flourishing Journal Vol. 3 No. 9 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i92023p392-405

Abstract

This study aims to determine whether the passion component has a relationship with dating violence. The method used is the correlational quantitative method. Malang State University Student Population. Samples were obtained using a purposive sampling technique of 107 people. The instruments used are the passionate love and conflict in adolescent dating relationship inventory (CADRI) scales. Analysis of the research data used is Spearman's rank correlation analysis. The results of the analysis showed that there was no significant relationship between passionate love and dating violence (P = 0.238 > 0.05), this was because victims who had passionate love, whether high or low, did not affect the victim's decision to survive or leave their partner. Suggestions for future researchers, the research sample can be further expanded so that the data can be more varied, and the dependent variable can be changed by perpetrators of dating violence, to follow up on this research. AbstrakBerdasarkan hasil temuan riset sebelumnya, belum ditemukan riset yang meneliti hubungan antara passionate love dan dating violance. Adapun riset yang sejalan yaitu, kekerasan seksual dapat terjadi dalam hubungan berpacaran baik bagi mereka yang pernah melakukan hubungan seksual ataupun mereka yang sesertag dalam hubungan berpacaran. Riset ini dimaksudkan guna mengetahui apakah komponen passion memiliki hubungan dengan kekerasan dalam berpacaran (dating violence) bagi korban. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif korelasional. Populasi Mahasiswa Universitas Negeri Malang. Sampel diperoleh dengan menggunakan teknik purposive sampling 107 orang. Instrumen yang dipakai yaitu skala passionate love serta conflict in adolescent dating relationship inventory (CADRI). Analisis data riset yang digunakan yaitu analisis korelasi rank spearman. Hasil analisis menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara passionate love serta kekerasan dalam berpacaran (dating violence) (P = 0,238 > 0,05), hal ini disebabkan korban yang memiliki passionate love baik itu tinggi maupun rendah, tidak memengaruhi pengambilan keputusan korban untuk bertahan atau meninggalkan pasangannya. Saran untuk peneliti berikutnya, sampel riset dapat lebih diperluas lagi agar data lebih bervariasi serta variabel dependen dapat diubah dengan pelaku kekerasan dalam berpacaran, untuk menindaklanjuti riset ini.
Asesmen Kognitif Anak Usia Sekolah Eva, Nur; Sri Andayani; Azizan Fatimah Assyahro
Flourishing Journal Vol. 3 No. 9 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i92023p360-365

Abstract

A child's cognitive development can be explored through intelligence tests. This research aims to obtain information about the level of cognitive development of children aged 8-15 years. The intelligence tests used to obtain this information are Colored Progressive Matrices (CPM) and Culture Fair Intelligence test (CFIT). The data analysis of the research results was carried out using a descriptive quantitative approach. On the CFIT intelligence test, the results show that there are ten children, or about 43.5%, who are in the average category, then above average as many as six children (26.1%), superior 3 children (13.1%), very superior one child (4.3%), below average two children (8.7%) and intellectually deficient one child (4.3%). As for the CPM, the most categories are in class 1, with 11 children or about 47.8%. These results show that most of the children have reached a level of cognitive development that is appropriate for their age. These results indicate that the majority of children have reached the level of cognitive development appropriate for their age. AbstrakPerkembangan kognitif seseorang anak dapat digali melalui tes intelegensi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran informasi mengenai tingkat perkembangan kognitif anak dengan rentang usia sekolah 8-15 tahun. Tes inteligensi yang digunakan untuk mendapatkan informasi ini adalah Coloured Progressive Matrices (CPM) dan Culture Fair Intelligence test (CFIT). Analisis data hasil penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif deskriptif. Pada tes kecerdasan CFIT hasilnya menunjukkan bahwa terdapat 10 anak atau sekitar 43,5% yang berada pada kategori rata-rata, kemudian di atas rata-rata sebanyak 6 anak (26,1%), superior 3 anak (13,1%), sangat superior 1 anak (4,3%), di bawah rata-rata 2 anak (8,7%), serta intelectual deficient 1 anak (4,3%). Sedangkan untuk CPM kategori terbanyak ada pada grade 1 sebanyak 11 anak atau sekitar 47,8%. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar anak-anak sudah mencapai tingkat perkembangan kognitif sesuai usianya. Penggalian pada tiap aspek kemampuan kognitif perlu dilakukan pada penelitian selanjutnya. Alasanya agar diketahui aspek spesifik apa yang paling dominan pada anak-anak ini sehingga dapat dilakukan treatment pengembangan potensi yang lebih baik.
Self-compassion sebagai Prediktor Psychological Well-being Mahasiswa di Tiga Perguruan Tinggi Negeri Kota Malang Malinda Syafrina; Ika Andrini Farida
Flourishing Journal Vol. 3 No. 9 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i92023p366-379

Abstract

Psychological well-being is a positive evaluation of oneself that is derived from oneself and others, the ability to direct themselves and their environment, a feeling of growth and development, the ability to interpret life, and the ability to associate well with others. One of the factors that can improve psychological well-being is self-compassion. The purpose of this study was to determine the predictive relationship between self-compassion and the psychological well-being of students at three public universities in Malang. This study used quantitative research methods and accidental sampling techniques. The research sample was 250 students from Universitas Negeri Malang, Universitas Brawijaya, and UIN Maulana Malik Ibrahim. The research instrument used was the self-compassion scale to measure self-compassion and the Indonesian version of the psychological well-being scale to measure psychological well-being. The data analysis technique used is simple linear regression analysis. The results of the study show that self-compassion predicts psychological well-being. The result of R Square= 0.548 means that the self-compassion component contributes 54.8% to psychological well-being. Based on the results found, self-compassion can be a predictor in improving the psychological well-being of students at three public universities in Malang. AbstrakPsychological well-being adalah evaluasi positif yang dilakukan untuk diri sendiri dan orang lain, kemampuan mengarahkan diri dan lingkungannya, perasaan tumbuh dan berkembang, kemampuan menginterpretasikan kehidupan, dan kemampuan bergaul dengan baik dengan orang lain. Salah satu faktor yang dapat meningkatkan psychological well-being adalah self-compassion. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan prediktif antara self-compassion dan psychological well-being mahasiswa di tiga perguruan tinggi negeri di Kota Malang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dan teknik pengambilan sampel accidental sampling. Sampel penelitian adalah 250 mahasiswa dari Universitas Negeri Malang, Universitas Brawijaya, dan UIN Maulana Malik Ibrahim. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala welas diri untuk mengukur self-compassion dan skala psychological well-being versi Indonesia untuk mengukur kesejahteraan psikologis. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan self-compassion memprediksi kesejahteraan psikologis. Hasil R Square=0,548 artinya komponen self-compassion berkontribusi sebesar 54,8% terhadap kesejahteraan psikologis. Berdasarkan hasil yang ditemukan, self-compassion dapat menjadi prediktor dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis mahasiswa di tiga perguruan tinggi negeri di Kota Malang.
Empati dan Cyberbullying pada Remaja Pengguna Media Sosial: Sebuah Kajian Literatur Ahya Ghina Qolbya; Aleissya Sahira Siswandi; Raissa Dwifandra Putri
Flourishing Journal Vol. 3 No. 9 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i92023p352-359

Abstract

The many emerging social media features and easy access when using them have made the younger generation interested in using social media. However, excessive use of social media or the internet cannot be separated from the risk of being involved in cyberbullying behavior. There are many factors that influence the occurrence of cyberbullying, starting from external factors such as the use of social media, and school climate. Apart from external factors, internal factors within an individual can also be a risk factor for involvement in cyberbullying, such as a feeling of empathy. This lack of empathy will later influence individuals to carry out cyberbullying. The aim of this research is to explore more deeply the relationship between empathy and cyberbullying in adolescent social media users. The method used is literature study by collecting various information through books, journals, and official websites to obtain the necessary data, which is then analyzed by combining, selecting, sorting, and comparing data from previous research. The results obtained indicate that there is a link between low empathy scores and adolescent cyberbullying behavior. Individuals with low empathy scores will tend to feel less guilty about their behavior in bullying others on social media. AbstrakPada era saat ini tidak dapat dipungkiri perkembangan teknologi dan informasi semakin hari semakin pesat. Banyaknya fitur media sosial yang bermunculan dan mudahnya akses ketika menggunakannya membuat generasi muda tertarik menggunakan media sosial. Namun, penggunaan media sosial ataupun internet yang berlebih tidak terlepas dari risiko terlibatnya dalam perilaku cyberbullying. Ada banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya cyberbullying, mulai dari faktor eksternal seperti penggunaan media sosial, dan iklim sekolah. Selain faktor eksternal, faktor internal dalam individu juga dapat menjadi faktor risiko dari keterlibatan dalam cyberbullying, misalnya rasa empati. Ketiadaan rasa empati ini nantinya akan mempengaruhi individu dalam melakukan cyberbullying. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengeksplorasi lebih dalam hubungan empati dengan cyberbullying pada remaja pengguna media sosial. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan cara mengumpulkan berbagai informasi melalui buku, jurnal, dan website resmi hingga mendapat data yang diperlukan kemudian dianalisis dengan penggabungan, pemilihan, pemilahan, dan perbandingan data hasil penelitian sebelumnya. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara skor empati yang rendah dengan perilaku cyberbullying remaja. Individu dengan skor empati yang rendah ini akan cenderung kurang memiliki perasaan bersalah atas perilakunya dalam merundung orang lain di media sosial.
Hubungan Antara Pola Asuh Otoriter dan Perilaku Agresif pada Remaja Maryam; Retno Sulistiyaningsih
Flourishing Journal Vol. 3 No. 9 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i92023p380-391

Abstract

Aggressive behavior in adolescents is a quite serious phenomenon because various aggressive behaviors tend to be hurtful, dangerous, and disturbing to other people. One of the reasons for the tendency of teenagers to have aggressive behavior is due to their parenting style at home. One f parenting style that risks causing teenagers to engage in aggressive behavior is authoritarian parenting. This research was conducted to examine the relationship between authoritarian parenting and aggressive behavior in adolescents. The research uses a quantitative approach with a correlational design. Participants in this research were 150 respondents aged 15-19 years. Sampling was carried out using a non-probability sampling technique. The instrument used in this research was an adaptation of the theory of aggressive behavior by Buss & Perry and a modification of the theory of authoritarian parenting by Baumrind. Data analysis uses correlation, namely product moment. It was found that there was a significant relationship between the two research variables (rxy = 0.481, p<0.000). The results of this research show that the higher the level of authoritarian parenting, the higher the level of aggressive behavior. AbstrakPerilaku agresif pada remaja merupakan fenomena yang cukup serius dikarenakan berbagai perilaku agresif cenderung bersifat menyakiti, berbahaya, dan mengganggu orang lain. Kecenderungan remaja dengan perilaku agresif salah satunya ialah karena pola asuh orang tua di rumah. Salah satu pola asuh yang berisiko menyebabkan remaja terlibat dalam perilaku agresif ialah pola asuh otoriter. Penelitian ini dilakukan untuk menguji hubungan antara pola asuh otoriter dan perilaku agresif pada remaja. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan pada penelitian ini sejumlah 150 responden yang berusia 15-19 tahun. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik non-probability sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil adaptasi dari teori perilaku agresif oleh Buss & Perry dan hasil modifikasi teori pola asuh otoriter oleh Baumrind. Analisis data menggunakan korelasi yakni, product moment. Ditemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara dua variabel penelitian (rxy = 0,481, p<0,000). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pola asuh otoriter maka akan semakin tinggi tingkat perilaku agresif.
Persepsi Masyarakat terhadap Remaja MBA (Marriage By Accident) Fadilatu Tsaniya; Meilia Fitria Wardani; Vellania Putri Yasinta; Ahmad
Flourishing Journal Vol. 3 No. 11 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i112023p468-477

Abstract

Married By Accident (MBA) or sudden marriage often occurs in adolescents, in the age range of less than 20 years, which is still puberty. They must marry because they are pregnant first. This phenomenon raises various views by the community in terms of factors that cause MBA, the impact, and also preventive efforts that need to be done by parents and adolescents, which according to the community can avoid cases of MBA teenagers. This research uses a qualitative approach by focusing on in-depth interviews and analyzing the perspectives of the Pandanrejo community. The results concluded that the community's perception of teenagers involved in MBA varied, with some feeling sorry for them and others choosing to ignore them. The research findings reveal the factors that influence the occurrence of MBA, including the lack of sex education, family and environmental factors, as well as social media factors. In addition, this study also highlights preventive efforts to prevent the occurrence of MBA, including interpersonal communication between parents as an effort to shape morals in children, providing sex education, and disseminating positive information through social media. AbstrakMarried By Accident (MBA) atau pernikahan secara mendadak sering terjadi pada remaja, di rentang usia kurang dari 20 tahun yang mana masih masa puber. Mereka harus menikah dikarenakan telah hamil dahulu. Fenomena ini menimbulkan berbagai pandangan oleh masyarakat dari segi faktor yang menyebabkan MBA, dampak, dan juga upaya preventif yang perlu dilakukan oleh orangtua dan juga remaja yang mana menurut masyarakat dapat menghindari kasus remaja MBA. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan berfokus pada wawancara mendalam, dan analisis terhadap perspektif masyarakat Pandanrejo. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa persepsi masyarakat terhadap remaja yang terlibat dalam MBA bervariasi, ada yang merasa kasihan dan ada pula yang memilih untuk mengabaikan. Temuan penelitian mengungkap faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya MBA diantaranya faktor kurangnya pendidikan seks (sex education), faktor keluarga dan lingkungan, dan juga faktor media sosial. Disamping itu, penelitian ini juga menyoroti upaya preventif untuk mencegah terjadinya MBA termasuk komunikasi antarpribadi orangtua sebagai upaya membentuk moral pada anak, pemberian sex education, serta penyebaran informasi positif melalui media sosial.
Trauma Masa Kecil: Kekerasan yang Memicu Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD) Izzah Aliyah Zahra; Indah Wahyuningrum; Femas Arifin Yahman; Nadia Khairina
Flourishing Journal Vol. 3 No. 11 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i112023p459-467

Abstract

Violence that occurs in childhood is a traumatic experience that can trigger various psychological problems in children, one of which is post-traumatic stress disorder. Post-traumatic stress disorder or post-traumatic stress disorder is a condition where a person experiences trauma due to a certain action, which causes fear and even shows certain symptoms when remembering the traumatic event. The aim of this research is to understand or gain understanding and describe the relationship between post-traumatic stress disorder and violence in childhood. With a focus on the psychological impact that can arise and its effect on children's mental health. The method used is a literature review or literature review by searching for journal articles through the ScienceDirect and Google Scholar databases between 2019 and 2023 to identify relevant journal articles, which were published in English and Indonesian. From this search, eight journals were obtained, with the keywords used being post-traumatic stress disorder, violence, and traumatic childhood. The results of the review article study are to: Find out the relationship between childhood violence and Post-Traumatic Stress Disorder, find out the impact of Post-Traumatic Stress Disorder, and find solutions for dealing with violence in childhood. AbstrakKekerasan yang terjadi pada masa kecil merupakan pengalaman traumatis yang dapat memicu berbagai masalah psikologis pada anak salah satunya yaitu gangguan stres pasca-trauma. Gangguan stres pasca-trauma atau post-traumatic stress disorder adalah suatu keadaan di mana seseorang mengalami trauma karena suatu tindakan tertentu, yang menyebabkan ketakutan dan bahkan menunjukkan gejala tertentu ketika mengingat peristiwa traumatis tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami atau mendapatkan pemahaman serta menggambarkan hubungan antara kondisi gangguan stres pasca-trauma dengan kekerasan pada masa kecil. Dengan berfokus pada dampak psikologis yang dapat timbul serta efeknya terhadap kesehatan mental anak. Metode yang digunakan adalah literature review atau tinjauan pustaka dengan mencari artikel jurnal melalui basis data ScienceDirect dan Google Scholar antara tahun 2019 hingga 2023 untuk mengidentifikasi artikel jurnal yang relevan, yang diterbitkan dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Dari pencarian tersebut diperoleh delapan jurnal, dengan kata kunci yang digunakan adalah gangguan stres pasca-trauma, kekerasan, dan traumatis masa kecil. Hasil kajian artikel review yaitu untuk: Mengetahui hubungan kekerasan masa kecil dengan Post-Traumatic Stress Disorder, mengetahui dampak Post-Traumatic Stress Disorder, dan mencari solusi untuk penanganan kekerasan pada masa kecil.
Hubungan Pola Tidur Remaja dan Gangguan Depresi: Sebuah Kajian Literatur Frida Dwi Ayunda; Indira Rasyid; Gavin Khaddafi Yulianto; Nadia Khairina
Flourishing Journal Vol. 3 No. 11 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i112023p496-503

Abstract

Sleep disorders, commonly known as insomnia, are a significant public health problem. Insomnia has a close health relationship with other psychological illnesses such as mental disorders, anxiety disorders, and depression. This sleep disorder usually occurs when the body is unsatisfied with the duration or quality of sleep and has difficulty initiating or maintaining sleep patterns. Until now, this problem still occurs frequently, especially in teenagers who often do not have good sleep patterns. This can be caused by stress or mental disorders during the day or more often due to other medical or psychiatric disorders, such as depression. This research aims to determine the relationship between depression or anxiety disorders and sleep disorders (insomnia), as well as to find out whether there are other things related to depression that result in insomnia. The method used is a literature review. The criteria for articles used are those published in the last 10 years. Based on the research that has been collected, it has been found that there are factors that state that depression can affect sleep patterns. A study states that exercise can improve sleep quality and has many other health benefits as well. AbstrakGangguan tidur yang umum dikenal sebagai insomnia, merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang signifikan. Insomnia memiliki hubungan kesehatan yang erat dengan penyakit psikis lainnya seperti gangguan kejiwaan, gangguan kecemasan maupun depresi. Gangguan tidur ini biasanya terjadi saat tubuh tidak mendapatkan kepuasaan terhadap durasi atau kualitas tidur dan kesulitan dalam memulai ataupun mempertahankan pola tidur. Sampai saat ini masalah ini masih sering terjadi terutama terhadap anak remaja yang sering tidak memiliki pola tidur yang baik. Hal ini dapat disebabkan oleh tekanan atau gangguan pikiran pada siang hari atau yang lebih sering karena adanya gangguan medis atau kejiwaan lainnya, seperti gangguan depresi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran hubungan gangguan depresi atau kecemasan dan gangguan tidur (insomnia), serta untuk mengetahui adanya hal lain yang berhubungan dengan depresi yang mengakibatkan insomnia. Metode yang digunakan ialah literature review. Adapun kriteria artikel yang digunakan adalah yang diterbitkan pada 10 tahun terakhir. Berdasarkan dari penelitian yang telah dikumpulkan telah didapatkan adanya faktor yang menyatakan bahwa depresi dapat mempengaruhi pola tidur. Sebuah penelitian menyatakan bahwa olahraga dapat meningkatkan kualitas tidur dan memiliki banyak manfaat juga pada kesehatan lainnya.