cover
Contact Name
Betty Masruroh
Contact Email
flourishing.journal@um.ac.id
Phone
+62341-552115
Journal Mail Official
flourishing.journal@um.ac.id
Editorial Address
Jln. Semarang 5 Malang 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Flourishing Journal
ISSN : -     EISSN : 27979865     DOI : -
Core Subject : Social,
Flourishing Journal is an open-access and peer-reviewed journal dedicated to publishing research articles in the field of psychology. Flourishing Journal accepts research articles that have the potential to make a significant contribution to the exploration and development of psychology and behavioral sciences. Articles submitted to this journal must display a well-thought-out study design, appropriate data analysis, and interpretation.
Articles 202 Documents
Pengaruh Budaya terhadap Remaja Wirantika Sucipto; Mutia Husna Avezahra
Flourishing Journal Vol. 3 No. 5 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i52023p205-210

Abstract

Culture has an important role in shaping the behavior and attitudes of adolescents. Cultural influences on adolescents can come from various sources, such as family, peers, media, and society. This literature review describes the impact of culture on adolescent development, including their beliefs, values, and lifestyle choices. The paper also examines how cultural norms and practices influence adolescent mental health, education, and social interactions. The results of the research show the influence of culture on adolescents. The literature review used in this article was taken through an online journal database with a span of the last ten years (2011-2020). Several articles and results from reviews were obtained which showed that cross-cultural parenting research in Indonesia, namely (1) through a comprehensive literature analysis, this study concluded that cultural influences can have positive and negative effects on adolescents, (2) it is important to create awareness and understanding of cultural diversity and (3) promoting acceptance and tolerance among youth to minimize negative effects and increase the positive impact of culture on their lives. AbstrakBudaya memiliki peran penting dalam membentuk perilaku dan sikap remaja. Pengaruh budaya terhadap remaja dapat berasal dari berbagai sumber seperti keluarga, teman sebaya, media, dan masyarakat. Kajian literatur ini menjelaskan dampak budaya terhadap perkembangan remaja, termasuk kepercayaan, nilai, dan pilihan gaya hidup mereka. Makalah juga menelaah bagaimana norma dan praktik budaya mempengaruhi kesehatan mental, pendidikan, dan interaksi sosial remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya memiliki pengaruh terhadap remaja. Kajian literatur yang digunakan pada artikel ini diambil melalui database jurnal online dengan rentang sepuluh tahun terakhir (2011-2020). Didapatkan beberapa artikel dan hasil dari reviu yang menunjukkan jika penelitian pola asuh lintas budaya di Indonesia yakni (1) melalui analisis literatur yang komprehensif, penelitian ini menyimpulkan bahwa pengaruh budaya dapat memiliki efek positif dan negatif pada remaja, (2) penting untuk menciptakan kesadaran dan pemahaman tentang keragaman budaya dan (3) mempromosikan penerimaan dan toleransi di kalangan remaja untuk meminimalkan efek negatif dan meningkatkan dampak positif budaya pada kehidupan mereka.
Literature Review: Perbedaan Budaya Negara Individualis dan Kolektivis Antesenden Manajemen Privasi di Jejaring Sosial (SNS) Sonia Bella Prastika; Mutia Husna Avezahra
Flourishing Journal Vol. 3 No. 6 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i62023p211-222

Abstract

In this Literature Review, we examine the psychological antecedents of privacy management strategies on social networking (SNS) sites and expand our understanding of collective privacy management by using articles that review various individualistic and collectivistic countries. In these countries, there are differences regarding privacy management in social networks (SNS). Articles were collected using the systematic review method through a search process on Google Scholar to sort articles according to the topic of privacy management in individualistic and collectivistic countries. The results of the articles are based on predetermined categories, namely based on point results (Dutch America), (German America), (Korean Chinese America), and (Singaporean American Korean). So, in this case, it is proven that America, as an individualistic country, holds the highest privacy management power compared to collectivistic countries such as China, Korea, the Netherlands, Germany, and Singapore. In addition, the authors found that, in general, users' privacy attitudes, social norms, and self- or collective control beliefs substantially predicted the adoption of privacy management strategies. These findings contribute to explaining the adoption of behavioral privacy management strategies by users. We conclude with global and country-specific recommendations regarding future privacy designs for privacy management. AbstrakTujuan penulisan artikel ini adalah pemeriksaan anteseden psikologis dari strategi manajemen privasi di situs jejaring sosial (SNS) dan memperluas pemahaman untuk manajemen privasi kolektif. Menggunakan artikel yang mengulas Negara individualistik dan kolektivistik. Terlihat adanya perbedaan pada Negara tersebut mengenai manajemen privasi di jejaring sosial (SNS). Artikel dikumpulkan menggunakan metode systematic review melalui proses pencarian pada google scholar dan memilah artikel yang sesuai dengan topik manajemen privasi di Negara individualistik dan kolektivistik. Hasil artikel berdasarkan kategori yang telah ditentukan yaitu berdasarkan point result (Amerika Belanda), (Amerika Jerman), (Amerika Cina Korea) (Amerika Singapura Korea). Sehingga dalam hal ini terbukti bahwa Amerika sebagai Negara individualistik memegang kekuasaan manajemen privasi tertinggi dibandingkan dengan Negara koletivistik seperti cina, korea, belanda, jerman dan singapura. Selain itu, penulis menemukan bahwa secara umum sikap privasi pengguna, norma sosial, dan keyakinan kontrol diri atau kolektif secara substansial memprediksi penerapan strategi manajemen privasi. Temuan ini berkontribusi pada penjelasan penerapan strategi manajemen privasi perilaku oleh pengguna.
Sleep Paralysis Ditinjau dari Perspektif Neuropsikologi: Kajian Literatur Basa Dewangga Yuda; Gemma Gelvani Putri; Nadhif Ramadhan; Nur Amin Barokah Asfari
Flourishing Journal Vol. 3 No. 6 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i62023p223-226

Abstract

The paralysis that occurs when waking up causes fear and anxiety, called sleep paralysis (SP). SP occurs between the stages of sleep and wakefulness. When SP occurred, the subject felt fully awake but unable to move, perceived with sensations such as chest pressure, shortness of breath, and hallucination of images of scary figures. The muscle paralysis that occurs in REM functions to protect oneself from making dangerous movements while dreaming. Muscle atonia that continues into the next stage causes SP. SP is often identified with folklore related to supernatural phenomena. The hallucinations that arise in SP are associated with creepy creatures in certain cultural contexts. For example, in Indonesia, it is commonly referred to as trance due to the disturbance of spirits. Neurologically, SP can be explained scientifically where during sleep, the CNS remains active, but muscle movement is paralyzed. The shadows seen in SP are influenced by cognitive roles. Several factors are thought to cause SP, including sleep quality, psychological factors such as trauma and anxiety, and stressful environmental factors. AbstrakKelumpuhan yang terjadi ketika bangun tidur menimbulkan ketakutan dan kecemasan. Secara medis, kondisi ini disebut dengan sleep paralysis (SP) atau kelumpuhan tidur yang terjadi antara tahap tidur dan terjaga. Pada SP, subjek seolah-olah merasa terjaga sempurna, namun tidak mampu bergerak, disertai sensasi berupa dada terasa tertekan, sesak napas, dan muncul bayangan sosok menyeramkan. Kelumpuhan otot gerak yang terjadi REM berfungsi untuk melindungi diri agar tidak melakukan gerakan membahayakan ketika sedang bermimpi. Atonia otot yang berlanjut ke tahap berikutnya menimbulkan SP. SP kerap diidentikkan dengan folklore terkait fenomena supranatural. Halusinasi yang muncul pada SP dikaitkan dengan makhluk menyeramkan di konteks budaya tertentu, misalnya di Indonesia yang familiar disebut “ketindihan” akibat gangguan makhluk halus. Secara neurologis, SP dapat dijelaskan secara ilmiah dimana pada saat tidur CNS tetap aktif namun otot gerak mengalami kelumpuhan. Bayangan yang terlihat pada SP dipengaruhi oleh peran kognitif. Beberapa faktor diduga menjadi penyebab munculnya SP, diantaranya kualitas tidur, faktor psikologis berupa trauma dan kecemasan, serta faktor lingkungan yang penuh tekanan.
Literature Review Perilaku Prososial: Faktor Pengaruh, Manfaat, dan Penelitian Perilaku Prososial di Indonesia Zanjabila Ubaida; Mutia Husna Avezahra
Flourishing Journal Vol. 3 No. 6 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i62023p227-234

Abstract

Prosocial behavior is one of the most important behaviors in social life. In practice, there are a variety of influencing factors that can lead to variations in the level of prosocial behavior in different cultures or countries. This study aims to review the influence factors of prosocial behavior, the impacts, and benefits of prosocial behavior, and to review research related to prosocial behavior in Indonesia. This study reviews and systematically reviews ten articles on the theme of prosocial behavior using different methodologies and approaches. From the literature review that has been conducted, there are several factors that influence the level of individual prosocial behavior, namely parental expectations, empathy, target power, and parenting patterns in the individual's early development phase. Then, prosocial behavior has an impact or benefit, namely it can increase the level of happiness in individuals to be one factor that can be a predictor in the formation of close and warm relationships between mothers and children. In addition, research related to prosocial behavior conducted in Indonesia shows that there are no significant differences in the level of prosocial behavior in Indonesian society, even though Indonesia is a country with a variety of values and cultures. AbstrakPerilaku prososial merupakan salah satu perilaku yang penting ada di dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam praktiknya, terdapat berbagai macam faktor pengaruh yang dapat menyebabkan variasi pada tingkat perilaku prososial di budaya atau negara yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengulas terkait faktor pengaruh dari perilaku prososial, manfaat dari perilaku prososial, serta mengulas terkait penelitian perilaku prososial di Indonesia. Penelitian ini meninjau serta mengulas secara sistematik sepuluh artikel dengan tema perilaku prososial yang menggunakan metodologi serta pendekatan yang berbeda. Dari literatur review yang telah dilakukan, terdapat beberapa faktor yang memengaruhi tingkat perilaku prososial individu, yaitu parental expectations, empati, target’s power, dan pola pengasuhan di fase perkembangan awal individu. Kemudian, perilaku prososial memiliki manfaat yaitu dapat meningkatkan tingkat kebahagiaan pada individu menjadi salah satu faktor yang dapat menjadi pemrediksi dalam terbentuknya hubungan yang akrab dan hangat antara ibu anaknya. Selain itu, penelitian terkait perilaku prososial yang dilakukan di Indonesia menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada tingkat perilaku prososial pada masyarakat Indonesia meskipun Indonesia merupakan salah satu negara dengan variasi nilai serta kebudayaan.
Peran Kepribadian Hardiness terhadap Kesiapan Kerja Mahasiswa Tingkat Akhir Sofia Nuryanti; Patrick Karsten Welas
Flourishing Journal Vol. 3 No. 6 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i62023p235-242

Abstract

Students generally undergo lecture activities to prepare themselves to enter the workforce. However, in reality, many university graduates are still not working. Hardiness personality is often associated with an individual's ability to deal with pressure, in this case, faced by them when entering the world of work. This study aims to determine the role of hardiness personality attributes in predicting work readiness in final-year students. Respondents in this study amounted to 157 final-year students who were collected using the accidental sampling technique. Work readiness is measured by adapting the work readiness scale of Caballero's Work Readiness Scale (WRS) (2011) and personality hardiness is measured by using the Dispositional Resilience Scale or DRS-15 developed by Bartone (2013). Data analysis techniques and hypothesis testing were carried out using a simple linear regression research method using JASP software version 0.16.4. The results showed that hardiness personality played a significant role in predicting work readiness in final-year students, with an effective contribution value of 0.195, or 19.5%. AbstrakMahasiswa pada umumnya menjalani kegiatan perkuliahan untuk mempersiapkan dirinya dalam memasuki lapangan pekerjaan. Walau demikian, pada kenyataannya masih banyak dari lulusan perguruan tinggi yang belum bekerja. Kepribadian hardiness seringkali dikaitkan dengan kemampuan individu dalam menghadapi tekanan, dalam hal ini dihadapi oleh mereka dalam memasuki dunia kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran atribut kepribadian hardiness dalam memprediksi kesiapan kerja pada mahasiswa tingkat akhir. Responden penelitian ini berjumlah 157 mahasiswa tingkat akhir yang dikumpulkan dengan menggunakan teknik accidental sampling. Kesiapan kerja diukur dengan mengadaptasi skala kesiapan kerja Work Readiness Scale (WRS) milik Caballero (2011) dan kepribadian hardiness diukur dengan menggunakan skala Dispositional Resilience Scale atau DRS-15 yang dikembangkan oleh Bartone (2013). Teknik analisis data serta uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan metode penelitian regresi linear sederhana dengan menggunakan software JASP versi 0.16.4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepribadian hardiness berperan signifikan dalam memprediksikan kesiapan kerja pada mahasiswa tingkat akhir, dengan nilai kontribusi efektif sebesar 0.195, atau 19.5%.
Are We Different?, Tinjauan Kepribadian secara Lintas Budaya dalam Implikasinya terhadap Kehidupan Manusia Rayza Ilfie Azkya Ashgarie; Mutia Husna Avezahra
Flourishing Journal Vol. 3 No. 6 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i62023p243-260

Abstract

This article aims to find out personality with cross-cultural views and its various implications for human life. The process of compiling this article uses a qualitative approach in the form of a literature review. The results obtained are that cross-cultural personality has at least implications for changes in personality, maturity, religiosity, culture shock, motivation and cognition, enjoyment of entertainment, cultural intelligence, bullying behavior, subjective well-being, and self-representation. In addition, intercultural personality differences were also obtained on the continents of Asia vs. Europe, Asia vs. America, and Europe vs. America. Based on the implications, there are three levels of implications, namely cultural differences in personality affect these implications differently, such as changes in personality; cultural differences in personality affect these implications in the same way, such as enjoying entertainment; and cultural differences in personality do not greatly affect these implications such as bullying behavior. Meanwhile, by region, Asia tends to be collectivist, so it has a closer personality than Europe and America. America tends to be individual, so it is more open than Asia and Europe, and Europe can be both collectivist and individualist depending on who the comparison is. AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mengetahui kepribadian dengan tinjauan lintas budaya dalam berbagai implikasinya terhadap kehidupan manusia. Proses penyusunan artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif berjenis literature review. Adapun hasil yang diperoleh yakni kepribadian secara lintas budaya berimplikasi setidaknya terhadap perubahan kepribadian, kedewasaan, religiusitas, culture shock, motivasi dan kognitif, menikmati hiburan, kecerdasan budaya, perilaku bullying, subjective well-being, dan representasi diri. Selain itu, diperoleh juga perbedaan kepribadian antarbudaya secara benua Asia vs Eropa, Asia vs Amerika, dan Eropa vs Amerika. Berdasarkan implikasi, terdapat tiga tingkat implikasi yakni perbedaan kepribadian secara budaya mempengaruhi implikasi tersebut secara berbeda pula seperti perubahan kepribadian, perbedaan kepribadian secara budaya mempengaruhi implikasi tersebut secara sama seperti menikmati hiburan, dan perbedaan kepribadian secara budaya tidak terlalu mempengaruhi implikasi tersebut seperti perilaku bullying. Sedangkan berdasarkan wilayah, Asia cenderung kolektivis sehingga berkepribadian tertutup daripada Eropa dan Amerika, Amerika cenderung individual sehingga lebih terbuka daripada Asia dan Eropa, dan Eropa dapat bersifat kolektivis dan individualis bergantung pada siapa pembandingnya.
Kesepian di Masa Pandemi Covid-19: Peran Welas Diri sebagai Prediktor Wahyu Eka Febriliyani; Mochammad Sa’id
Flourishing Journal Vol. 3 No. 7 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i72023p267-277

Abstract

AbstractThis study aims to determine whether self-compassion is a predictor of loneliness in students in Malang City due to the COVID-19 pandemic. This research is a correlational-quantitative research. The population in this study were students, with a convenience sampling technique of sampling. The research subjects in this study amounted to 67 students in the city of Malang. The data collection method used 2 questionnaires, namely the R-UCLA Loneliness Scale Version 3 to measure loneliness and the Self-Compassion Scale (SWD) to measure self-compassion. This study uses simple linear regression data analysis. The results of this study indicate that self-compassion is a significant predictor of loneliness in students in Malang City due to the COVID-19 pandemic (p=0,000 < 0,05) and contribute 16% to the loneliness (R2=0,16). Thus, it can be concluded that the higher the level of self-compassion an individual has, the lower the level of loneliness he feels. This research recommends the importance of developing self-compassion in individuals to reduce feelings of loneliness due to the COVID-19 pandemic situation. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah welas diri merupakan prediktor dari kesepian pada mahasiswa di Kota Malang akibat pandemi COVID-19. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa, dengan teknik sampling convenience sampling. Subjek penelitian pada penelitian ini berjumlah 67 mahasiswa di Kota Malang. Metode pengambilan data menggunakan 2 kuesioner yaitu R-UCLA Loneliness Scale Version 3 untuk mengukur kesepian dan Skala Welas Diri (SWD) untuk mengukur welas diri. Penelitian ini menggunakan analisis data regresi linier sederhana. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa welas diri merupakan prediktor yang signifikan dari kesepian pada mahasiswa di Kota Malang akibat pandemi COVID-19 (p=0,000 < 0,05) dan berkontribusi sebesar 16% (R2=0,16). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat welas diri yang dimiliki individu, maka tingkat kesepian yang ia rasakan akan semakin rendah. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya mengembangkan welas diri pada diri individu untuk mengurangi rasa kesepian akibat situasi pandemi COVID-19.
Authoritative Parenting sebagai Prediktor Moral self Siswa SMP Junda Annisa; Ika Andrini Farida
Flourishing Journal Vol. 3 No. 8 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i82023p304-320

Abstract

The rise of moral issues among students leads to disharmonious interactions that create social unrest in society. This shows that the students' moral self is low. Several studies have highlighted that family structure, parent-child interaction, and parenting style have been associated with children's moral self. In another previous study, it was found that parental warmth was positively associated with moral self in childhood. This study aims to determine the predictive relationship between authoritative parenting and the moral self of junior high school students. The population in this study were public junior high school students in Wonorejo District, Pasuruan Regency. This study used a quota sampling technique and obtained a sample of 222 students. The results show that there is a simultaneous predictive relationship between authoritative parenting and moral self. In the warmth and support dimension, there is a partial predictive relationship with the moral self. However, in the dimensions of autonomy granting and authoritative regulation, there is no partial predictive relationship with the moral self. In future studies, researchers suggest considering other factors that influence children's concept of meaning towards parenting applied by parents. AbstrakMerebaknya isu-isu moral di kalangan pelajar mengakibatkan interaksi yang tidak harmonis sehingga memunculkan kegelisahan sosial di masyarakat. Hal ini menunjukkan rendahnya moral self dalam diri para pelajar. Beberapa penelitian telah menyoroti bahwa struktur keluarga, interaksi orang tua dengan anak, dan gaya pengasuhan telah dikaitkan dengan moral self pada anak. Pada penelitian lain, diketahui bahwa parental warmth berhubungan secara positif dengan moral self pada masa anak-anak dan dijelaskan bahwa pentingnya parenting dibahas sebagai implikasi yang mampu memperkuat moral self. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan prediktif antara authoritative parenting dengan moral self siswa SMP. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP negeri di Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan teknik sampling kuota dan diperoleh sampel sebanyak 222 siswa. Hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan prediktif secara simultan antara authoritative parenting dengan moral self. Pada dimensi warmth & support terdapat hubungan prediktif secara parsial dengan moral self. Namun, pada dimensi autonomy granting dan authoritative regulation tidak terdapat hubungan prediktif secara parsial dengan moral self. Peneliti menyarankan kepada orang tua untuk menerapkan pola pengasuhan yang penuh kasih sayang dan dukungan. Pada penelitian selanjutnya, peneliti menyarankan untuk mempertimbangkan faktor-faktor lain yang mempengaruhi konsep pemaknaan anak terhadap parenting yang diterapkan oleh orang tua.
Self-Adjustment Mahasiswa Baru Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang Aisyah Stri Nariswari; Farahdilla Damayanti; Muhammad Farid Fadjadil Ikhsan; Dewi Fatmasari Edy
Flourishing Journal Vol. 3 No. 8 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i82023p321-329

Abstract

New students are in the early adulthood stage, namely the transition period from high school to university. The transition period has various challenges, especially with the status of new students who are transitioning from school to university level. Some new students have difficulty adjusting to the new environment. This research aims to determine various forms of self-adjustment and find insight into factors that might influence self-adjustment in new students at the Faculty of Psychology, State University of Malang. The method used is a qualitative research method with a phenomenological approach. Data was collected through semi-structured interview techniques and observation. Then analyze the data using thematic analysis. The research results found that each participant found it difficult to adapt to the current new environment. However, each participant has their own way of adapting to the current lecture environment. This allows for a good depiction of the individual participants' adaptation to survive in the new environment. AbstrakMahasiswa baru berada pada tahapan dewasa awal yaitu masa transisi dari SMA menuju ke universitas. Periode peralihan yang memiliki berbagai tantangan, terkhusus dengan status mahasiswa baru yang beralih dari jenjang Pendidikan sekolah menuju jenjang perguruan tinggi. Terdapat sebagian mahasiswa baru yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dengan lingkungan yang baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beragam bentuk self-adjusment dan menemukan insight mengenai faktor yang mungkin dapat mempengaruhi self-adjustment pada mahasiswa baru Fakultas Psikologi, Universitas Negeri Malang. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data melalui teknik wawancara semi terstruktur dan observasi. Kemudian analisis data menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian yang ditemukan yaitu setiap partisipan merasa sulit dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru saat ini. Namun, setiap partisipan memiliki cara masing-masing agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan perkuliahan yang sedang dijalani. Hal ini memungkinkan penggambaran penyesuaian diri yang baik dengan cara partisipan masing-masing untuk bertahan dalam lingkungan yang baru.
Perilaku Help-Seeking Layanan Kesehatan Mental: Perspektif Teori Social Learning Alifatus Sholeha Putri; Savira Rana Labiba; Titik Yulita Sari; Mochammad Sa’id
Flourishing Journal Vol. 3 No. 8 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i82023p330-337

Abstract

68% of Indonesians who underwent examinations experienced psychological problems such as anxiety. The concern is the low response of individuals seeking help from mental health services. The writing purpose of this article is to find out why people with mental disorders feel comfortable talking about the mental problems they face with individuals who are not professionals. The literature review used in this article. It is hoped that using this method will produce an answer to the question in the phenomenon that is being raised through previous sources that cannot be produced from other research methods. The result was found that there were at least 5 reasons, namely social stigma in society, lack of understanding about mental health, fear, lack of access to psychologists, and the costs incurred. As a result, individuals experience psychological distress, which results in reluctance to seek professional help. To overcome this problem, efforts can be made to reduce the stigma that appears in society by providing a sense of security to someone who needs help with mental health services and maximizing the role of the media to highlight developments in science about mental awareness so that they can be more aware of themselves. AbstrakSebanyak 68 % masyarakat Indonesia yang melakukan pemeriksaan, mengalami masalah psikologis seperti cemas. Namun, yang menjadi perhatian ialah rendahnya respon individu untuk mencari bantuan layanan kesehatan mental. Tujuan dari adanya penulisan artikel ini ialah untuk mengetahui dan mengkaji alasan apa yang mendasari penderita gangguan mental lebih nyaman menceritakan masalah mental yang dihadapinya kepada individu yang bukan profesional. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ialah review literature. Diharapkan dengan menggunakan metode ini menghasilkan sebuah jawaban atas pertanyaan dalam fenomena yang sedang diusung melalui sumber sebelumnya yang tidak dapat dihasilkan dari metode penelitian lainnya. Dari hasil review literature ditemukan setidaknya ada 5 alasan yakni stigma sosial di masyarakat, kurang pahamnya mengenai kesehatan mental, ketakutan, kurangnya akses psikolog serta biaya yang dikeluarkan. Sebagai dampaknya, individu mengalami distress psikologis yang mengakibatkan keengganan untuk mencari bantuan pihak professional. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, upaya yang bisa dilakukan ialah menekan stigma yang muncul di masyarakat, dengan memberi rasa aman terhadap seseorang yang membutuhkan pertolongan layanan kesehatan mental serta memaksimalkan peran media untuk menyoroti perkembangan ilmu pengetahuan tentang sadar mental sehingga bisa lebih sadar terhadap diri sendiri.

Page 11 of 21 | Total Record : 202