cover
Contact Name
Betty Masruroh
Contact Email
flourishing.journal@um.ac.id
Phone
+62341-552115
Journal Mail Official
flourishing.journal@um.ac.id
Editorial Address
Jln. Semarang 5 Malang 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Flourishing Journal
ISSN : -     EISSN : 27979865     DOI : -
Core Subject : Social,
Flourishing Journal is an open-access and peer-reviewed journal dedicated to publishing research articles in the field of psychology. Flourishing Journal accepts research articles that have the potential to make a significant contribution to the exploration and development of psychology and behavioral sciences. Articles submitted to this journal must display a well-thought-out study design, appropriate data analysis, and interpretation.
Articles 318 Documents
Hubungan Social Support dengan Perilaku Non Suicidal Self-Injury pada Remaja di Jakarta Lonika, Mikha; Maharani, Grace Hinna; Carolina, Callista Amanda; Priskila, Vania
Flourishing Journal Vol. 5 No. 6 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i62025p316-324

Abstract

The increasingly widespread trend of Non-Suicidal Self Injury among teenagers makes the role of social support very important, especially among teenagers who are still experiencing many changes both physically, cognitively, and socio-emotionally. Teenagers' emotional problems that cannot be resolved properly can lead teenagers to negative behaviors, one of which is non-suicidal self-injury (NSSI). This research aims to determine the relationship between Social Support and Non-Suicidal self-injury behavior among adolescents in Jakarta. This research used quantitative research methods, where data was collected through questionnaires that were distributed and obtained by as many as 89 people with an age range of around 12-21 years in Jakarta who had ever engaged in self-harming behavior. The sampling technique for this research uses a probability sampling technique with a correlational quantitative research design. Based on the search results via SPSS 20.0, a correlation coefficient value of -0.342 was obtained with a significance of 0.001, meaning that it has an inverse relationship, meaning that the higher the social support variable will be followed by the lower the non-suicidal self-injury variable and vice versa. Therefore, the research results show that there is a relationship between social support and non-suicidal self-injury behavior in adolescents in Jakarta. AbstrakSemakin maraknya trend non-suicidal self-injury membuat peranan social support menjadi sangat penting khususnya di kalangan remaja yang masih mengalami banyak perubahan baik secara fisik, kognitif, dan sosio-emosional. Masalah emosional remaja yang tidak dapat teratasi dengan baik dapat mengarahkan remaja kepada perilaku-perilaku yang negatif salah satunya adalah tindakan non-suicidal self-injury (NSSI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Social Support dengan perilaku Non-Suicidal Self Injury remaja di Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode riset kuantitatif, dimana data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan dan mendapatkan sebanyak 89 orang dengan rentang usia sekitar 12-21 tahun di Jakarta serta pernah melakukan perilaku menyakiti diri. Teknik sampling penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan desain penelitian kuantitatif korelasional. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar -0,342 dengan signifikansi sebesar 0,001 yaitu bermakna memiliki hubungan yang berlawanan artinya semakin tinggi variabel social support akan diikuti dengan semakin rendahnya variabel non-suicidal self-injury dan sebaliknya. Oleh karena itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan social support terhadap perilaku non-suicidal self-injury pada remaja di Jakarta.
Tinjauan Sistematis: Minuman Fungsional Tradisional untuk Kesejahteraan Psikologis Evanty, Ersyalina; Simon, Irene Maya
Flourishing Journal Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i42025p224-234

Abstract

Traditional functional drinks serve not only as nutritional intake but also possess potential benefits for mood regulation and psychological well-being. This study aims to systematically review empirical research exploring the relationship between the consumption of traditional functional beverages and their psychological effects. A Systematic Literature Review (SLR) approach was employed using the PRISMA 2020 guidelines, covering nine peer-reviewed articles published between 2010 and 2024, sourced from Scopus, ScienceDirect, SpringerLink, PubMed, and Google Scholar. The synthesis reveals that ingredients such as ginger, turmeric, goji berry, jujube, tempeh, fermented cassava, and green tea—processed through fermentation, decoction, or traditional infusion methods—have shown positive effects on sleep quality, emotional stability, and stress reduction. Bioactive compounds such as curcumin, gingerol, GABA, probiotics, and L-theanine were identified as key contributors to these benefits. A quadrant visualization in this study maps the identified ingredients according to their processing complexity and psychological functionality, providing strategic insights for the development of culturally grounded functional beverages. The review highlights the need for further experimental and cross-cultural studies with broader population samples to validate the findings and support evidence-based applications in mental health promotion. AbstrakMinuman tradisional tidak hanya berfungsi sebagai asupan gizi, tetapi juga mengandung potensi fungsional dalam mendukung regulasi suasana hati dan kesejahteraan psikologis. Studi ini bertujuan untuk menelaah secara sistematik berbagai penelitian empiris yang mengeksplorasi keterkaitan antara konsumsi minuman fungsional tradisional dan dampaknya terhadap kondisi psikologis. Pendekatan Systematic Literature Review (SLR) digunakan dengan mengikuti panduan PRISMA 2020, mencakup sembilan artikel yang dipublikasikan antara tahun 2010 hingga 2024 dari basis data Scopus, ScienceDirect, SpringerLink, PubMed, dan Google Scholar. Hasil sintesis menunjukkan bahwa bahan-bahan seperti jahe, kunyit, goji berry, jujube, tempe, tape, dan teh hijau, yang diolah melalui metode fermentasi, rebusan, atau seduhan tradisional, memiliki efek positif terhadap kualitas tidur, kestabilan emosi, dan penurunan stres. Kandungan bioaktif seperti kurkumin, gingerol, GABA, probiotik, dan L-theanine merupakan komponen utama yang berperan dalam fungsi tersebut. Visualisasi kuadran dalam studi ini memetakan bahan-bahan tradisional berdasarkan kompleksitas pengolahan dan efektivitas psikologisnya, memberikan wawasan strategis untuk pengembangan minuman fungsional berbasis budaya. Studi ini merekomendasikan perlunya riset lanjut dengan pendekatan eksperimental serta pelibatan populasi yang lebih luas untuk memvalidasi temuan secara klinis dan lintas budaya.
Hardiness pada Ibu dengan Anak Autism Spectrum Disorder Zakiyah, Abidatuz; Masfufah, Ulfa
Flourishing Journal Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i42025p235-248

Abstract

Parenting a child with Autism Spectrum Disorder (ASD) poses significant emotional and practical challenges for mothers as primary caregivers. This study aims to describe hardiness in mothers who have children with ASD and explain the contribution of hardiness to coping strategies used in facing parenting challenges. The study used a phenomenological approach with three mothers as subjects, selected through a purposive sampling technique. Data were obtained through in-depth interviews and analyzed using the Creswell technique. The results showed that the three aspects of hardiness—commitment, control, and challenge—play an important role in shaping mothers' coping strategies. Mothers with high hardiness tend to use a combination of problem-focused coping and emotion-focused coping strategies adaptively. Hardiness also enables mothers to manage their emotions, remain empowered in decision-making, and view challenges as opportunities for growth. The coping strategies formed are not only situational, but also develop along with the mother's experience in parenting her child. Thus, hardiness plays a role as a psychological foundation that supports mothers' resilience in the long term. The practical implications can be used as a basis for developing psychological assistance programs based on strengthening hardiness so that mothers can undergo parenting in a more resilient and meaningful way. AbstrakMengasuh anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) menimbulkan tantangan emosional dan praktis yang signifikan bagi ibu sebagai pengasuh utama. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan hardiness pada ibu yang memiliki anak dengan ASD serta menjelaskan kontribusi hardiness terhadap strategi coping yang digunakan dalam menghadapi tantangan pengasuhan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan tiga orang ibu sebagai subjek, yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan teknik Creswell. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga aspek hardiness—komitmen, kontrol, dan tantangan—berperan penting dalam membentuk strategi coping ibu. Ibu dengan hardiness tinggi cenderung menggunakan kombinasi strategi problem-focused coping dan emotion-focused coping secara adaptif. Hardiness juga memungkinkan ibu untuk mengelola emosi, tetap berdaya dalam mengambil keputusan, serta melihat tantangan sebagai peluang untuk bertumbuh. Strategi coping yang terbentuk tidak hanya bersifat situasional, tetapi berkembang seiring pengalaman ibu dalam mengasuh anaknya. Dengan demikian, hardiness berperan sebagai fondasi psikologis yang mendukung ketahanan ibu dalam jangka panjang. Implikasi praktisnya dapat dijadikan dasar dalam pengembangan program pendampingan psikologis berbasis penguatan hardiness agar ibu dapat menjalani pengasuhan secara lebih resilien dan bermakna.
Peran Kontrol Diri dalam Memoderatori Pengaruh Electronic Word of Mouth (E-WOM) terhadap Shopaholic Generasi Z Kabupaten Malang Zuhroh, Luthfiatus; ‘Izzah, Nida Mukhlishotul; Khusna, Mafrukhatul
Flourishing Journal Vol. 5 No. 6 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i62025p308-315

Abstract

Shopaholic has become a serious issue in the digital era, characterized by shopping habits that exceed basic needs. This study examines the influence of Electronic Word of Mouth (E-WOM) and self-control on shopaholic tendencies among Generation Z in Malang. This study used a correlational quantitative approach with a sample of 270 respondents from a total population of 386,976, selected through purposive sampling, and data collected via questionnaire. Multiple regression analysis showed a significance value of E-WOM of 0.48 (not significant) while self-control was very significant with a value of 0.00. The results of the F-test (p < 0.000) confirmed the combined effect of E-WOM and self-control on shopaholic behavior. The findings indicate that strong self-control reduces shopaholic behavior, while the impact of E-WOM is not significant. This study explains that good individual self-control can reduce the influence of Electronic Word of Mouth (E-WOM) on shopaholic tendencies. Self-control in individuals will enable them to rationally control their thought patterns and control their behavior to avoid engaging in consumptive behavior due to exposure to social media content. This study emphasizes that increasing self-control is important to suppress excessive shopping habits among the younger generation. AbstrakShopaholic menjadi isu serius di era digital, ditandai oleh kebiasaan belanja yang melampaui kebutuhan utama. Penelitian ini memeriksa peran kontrol diri dalam memoderatori pengaruh Electronic Word of Mouth (E-WOM) terhadap shopaholic generasi Z di Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif moderasi dengan sampel sebanyak 270 responden dari total populasi 386.976, dipilih melalui purposive sampling, dan data dikumpulkan via kuesioner. Analisis Moderated Regression Analysis (MRA) menunjukkan nilai signifikansi E WOM sebesar 0,48 (tidak signifikan) sedangkan kontrol diri sangat signifikan dengan nilai 0,00. Hasil uji F (signifikansi 0,000) mengonfirmasi adanya efek gabungan E WOM dan kontrol diri terhadap perilaku shopaholic. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kontrol diri yang tinggi akan mampu menurunkan pengaruh E-WOM terhadap shopaholic. Kontrol diri pada individu akan membuat individu mampu mengendalikan pola pikir secara rasional dan pengendalian perilaku untuk tidak melakukan perilaku konsumtif akibat paparan konten media sosial. Penelitian ini menekankan bahwa peningkatan kontrol diri penting untuk menekan kebiasaan belanja berlebihan di kalangan generasi muda.
Pengaruh Paparan Konten Media Sosial Terkait Konflik Pernikahan Terhadap Attitude Toward Marriage Pada Dewasa Awal Agatha, Giselle; Pratiwi, Iqlima
Flourishing Journal Vol. 5 No. 12 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i122025p709-724

Abstract

The rise of news on social media regarding divorce, infidelity, and domestic violence experienced by both celebrities and ordinary individuals who share their personal stories has created a widespread flow of information about the challenges and hardships of married life. One of the impacts of this wave of information is a change in individual attitudes toward married life. This study aims to examine the effect of exposure to social media content related to marital conflict on attitudes toward marriage in early adulthood. The hypothesis in this study is that exposure to social media content related to marital conflict has a significant influence on attitude toward marriage. The measuring instruments used are the Social Media Content Exposure Measurement Scale and the General Attitude Toward Marriage (GAMS). The method used in this research is quantitative correlation with the simple linear regression analysis technique. Respondents used in this study were 385 young adult individuals. The results of this study indicate that exposure to social media content related to marital conflict has a negative influence on attitude toward marriage (ß = -.097; p < 0.05). Abstrak Marak pemberitaan di media sosial mengenai perceraian, perselingkuhan, dan KDRT yang dialami artis maupun orang biasa yang membagikan pengalamannya. Adanya gelombang informasi mengenai pahitnya kehidupan pernikahan tersebut memiliki dampak terhadap individu yang menerima informasi atau pesan tersebut. Salah satu dampak dari gelombang informasi tersebut adalah adanya perubahan sikap individu dalam memandang sebuah kehidupan pernikahan. Penelitian ini berusaha mengetahui pengaruh paparan konten media sosial terkait konflik pernikahan terhadap attitude toward marriage pada dewasa awal. Hipotesis dalam penelitian ini adalah paparan konten media sosial terkait konflik pernikahan memiliki pengaruh signifikan terhadap attitude toward marriage. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan teknik analisis regresi linear sederhana. Alat ukur yang digunakan adalah Skala Ukur Paparan Konten Media Sosial dan General Attitude Toward Marriage (GAMS). Responden yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 385 individu dewasa muda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa paparan konten media sosial terkait konflik pernikahan memiliki pengaruh secara negatif terhadap attitude toward marriage (ß = -.097; p < 0.05).
Analisis Psikometri Instrumen General Self-efficacy Scale Versi Bahasa Indonesia pada Mahasiswa di Indonesia Kamu, Briansen Jonatan Park; Al Mahy, Aulia Naqsya Luna; Meok, Beatrix Lynina Putri; Nurmalitasari, Femmi
Flourishing Journal Vol. 5 No. 12 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i122025p700-708

Abstract

The General Self-efficacy Scale (GSES) is a psychological instrument designed to measure an individual's general belief in their ability to cope with various life challenges. This scale is unidimensional and encompasses three main aspects: magnitude, generality, and strength. This study aimed to re-examine the psychometric properties of the Indonesian version of the GSES adapted by Novrianto et al. (2019). The research sample consisted of 323 active university students from various regions in Indonesia. Data analysis was conducted using Confirmatory Factor Analysis (CFA) with the JASP 0.19.00 software. Initial analysis results indicated that the measurement model did not meet the model fit criteria. After modification by removing five items based on residual variances, the final model showed excellent results (CFI = 0.996; GFI = 0.999; RMSEA = 0.036). Reliability testing indicated a construct reliability (CR) value of 0.826, while the Average Variance Extracted (AVE) value was 0.491. Although the AVE was slightly below the ideal standard (0.5), these results still demonstrate that the modified version of the GSES has strong construct validity and high reliability. Thus, this scale is suitable for measuring general self-efficacy in the Indonesian student population. Abstrak General Self-Efficacy Scale (GSES) adalah instrumen psikologis yang dirancang untuk mengukur keyakinan umum individu terhadap kemampuannya dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Skala ini bersifat unidimensional dan mencakup tiga aspek utama, yaitu magnitude, generality, dan strength. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kembali psikometri GSES versi bahasa Indonesia yang telah diadaptasi oleh Novrianto dkk. (2019). Sampel penelitian terdiri dari 323 mahasiswa aktif dari berbagai wilayah di Indonesia. Analisis data dilakukan menggunakan Confirmatory Factor Analysis (CFA) dengan bantuan software JASP 0.19.00. Hasil analisis awal menunjukkan bahwa model pengukuran belum memenuhi kriteria kecocokan model. Setelah dilakukan modifikasi dengan menghapus lima aitem berdasarkan nilai residual variances, model akhir menunjukkan hasil yang sangat baik (CFI = 0,996; GFI = 0,999; RMSEA = 0,036). Uji reliabilitas menunjukkan nilai construct reliability (CR) sebesar 0,826, sementara nilai Average Variance Extracted (AVE) sebesar 0,491. Meskipun AVE sedikit di bawah standar ideal (0,5), hasil ini tetap menunjukkan bahwa GSES versi modifikasi memiliki validitas konstruk yang kuat dan reliabilitas yang tinggi. Dengan demikian, skala ini layak digunakan untuk mengukur efikasi diri umum pada populasi mahasiswa di Indonesia.
Menelusuri Jati Diri dalam Cermin Digital: Studi Kualitatif Terhadap Pengalaman dan Tantangan Pembentukan Identitas Dewasa Awal Albarkah, Mutiara Shofia; Naila, Ainaya Zalfa; Rahmadina, Meisya; Wibawa, Rikhamelia Adi; Putri, Raissa Dwifandra
Flourishing Journal Vol. 5 No. 12 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i122025p669-686

Abstract

This study aims to explore the subjective experiences and challenges of identity formation among emerging adults within the dominance of digital culture. In an era marked by an overwhelming stream of information and the portrayal of seemingly flawless lives on social media, many emerging adults find themselves disoriented in their search for self-identity. The disconnect between their genuine selves and the pressure to maintain a polished digital persona often leads to existential struggles. Using a qualitative approach and thematic analysis, this research involved in-depth interviews with eight participants aged 19 to 22. The findings reveal real-life accounts of identity uncertainty, the feeling of falling behind, and the social pressures embedded in today's digital environment. Upward social comparisons and the Fear of Missing Out (FoMO) surfaced as central contributors to feelings of inadequacy and lack of direction. Nevertheless, participants demonstrated resilience through various coping approaches, ranging from personal reflection to the reaffirmation of core values. These findings highlight the importance of emotional literacy and the courage to stay authentic in a world that constantly demands perfection. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman subjektif dan tantangan pembentukan identitas pada individu dewasa awal di tengah dominasi budaya digital. Di tengah gelombang informasi yang terus mengalir dan gambaran hidup yang tampak ideal di media sosial, banyak individu pada fase dewasa awal merasa kehilangan arah dalam pencarian identitas diri. Ketidaksesuaian antara jati diri yang otentik dan tuntutan untuk menampilkan citra diri secara digital kerap memicu krisis eksistensial. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan teknik analisis tematik, penelitian ini melibatkan wawancara mendalam dengan delapan partisipan berusia 19–22 tahun. Hasil penelitian menggambarkan pengalaman nyata terkait kebingungan identitas, perasaan tertinggal, serta tekanan sosial dalam budaya digital. Perbandingan sosial ke atas dan fenomena Fear of Missing Out (FoMO) muncul sebagai pemicu dominan dari rasa tidak cukup dan disorientasi arah hidup. Meski demikian, partisipan menunjukkan ketahanan melalui strategi koping seperti refleksi pribadi dan penguatan nilai-nilai diri. Temuan ini menegaskan pentingnya literasi emosional dan keberanian untuk tetap autentik di tengah tuntutan kesempurnaan digital.
Abusive Supervision dan Quiet Quitting Pada Buruh Perempuan di Industri Manufaktur Astrawan, Muhammad Indra; Alamsyah, Rifan
Flourishing Journal Vol. 5 No. 12 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i122025p687-699

Abstract

This study aims to determine the relationship between abusive supervision dimension (credit stealing, belittling behavior, yelling, and scapegoating) and quiet quitting dimension (lack of motivation, detachment, and lack of initiative) among female workers in the manufacturing industry. This study uses a correlational quantitative approach with a purposive sampling technique. There were 486 female workers at a cigarette company as respondents. This study used two measuring instruments, namely the abusive supervision scale and the quiet quitting scale. Data analysis in this study used the Spearman rank correlation. The results showed that all dimensions of abusive supervision had no significant relationship (p > .05) with the dimension of lack of motivation. Meanwhile, in the dimension of detachment, all dimensions of abusive supervision showed a significant positive relationship (p < .001). Furthermore, the dimension of lack of initiative had three dimensions of abusive supervision, namely belittling behavior (r = 0.336, p < .001), yelling (r = 0.310, p < .001), and scapegoating (r = 0.293, p < .001), which also had a significant positive relationship. The findings of this study emphasize the need for leadership training with healthy communication and safe feedback system to minimize abusive supervision and quiet quitting in the workplace. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dimensi abusive supervision (credit stealing, belittling behaviour, yelling, dan scapegoating) terhadap dimensi quiet quitting (lack of motivation, detachment, dan lack of initiative) pada buruh perempuan di industri manufaktur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Terdapat 486 pekerja buruh perempuan perusahaan rokok sebagai responden. Penelitian ini menggunakan dua alat ukur, yaitu Abusive Supervision Scale dan Quiet Quitting Scale. Adapun analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji korelasi Spearman rank test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh dimensi dari abusive supervision tidak memiliki hubungan yang signifikan (p > .05) dengan dimensi lack of motivation. Sementara itu, pada dimensi detachment menunjukkan bahwa seluruh dimensi abusive supervision menunjukkan hubungan positif yang signifikan (p < .001). Pada dimensi lack of initiative terdapat tiga dimensi abusive supervision, yaitu belittling behaviour (r = 0.336, p < .001), yelling (r = 0.310, p < .001), dan scapegoating (r = 0.293, p < .001) yang juga memiliki hubungan positif yang signifikan. Temuan dari penelitian menekankan perlunya pelatihan kepemimpinan dengan komunikasi yang sehat dengan sistem umpan balik yang aman untuk meminimalkan perilaku abusive supervision dan quiet quitting di lingkungan kerja.
Konstruksi Alat Ukur Kebosanan Adaptif Arilia, Ulfa; Dutta, Vanessa Bindiya; Al Muniroh, Zannuba Inayatul; Hidayatul Qoyyimah, Nur Rohmah
Flourishing Journal Vol. 5 No. 12 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i122025p725-736

Abstract

Boredom is a common experience for many individuals, including students pursuing higher education. Boredom, which is always considered negative, can actually serve an adaptive function by encouraging individuals to seek new goals or experiences. Among the many boredom instruments available, none specifically measure adaptive-boredom, prompting researchers to develop a measurement tool based on four aspects formulated by Bench and Lench (2013), namely behavior, cognition, experience, and physiology. The instrument was initially developed with 34 items that were tested for content validity by three expert judges using Aiken's V, resulting in 26 items suitable for testing. The subjects involved were 228 students from all over Indonesia aged 18–25 years (19 males and 209 females). Confirmatory Factor Analysis (CFA) showed that the initial model was not a good fit, so it needed to be modified based on the factor loading values. The final model had 11 items with good model fit indicators (CFI = 0.975; GFI = 0.959; RMSEA = 0.049). The reliability test of the three aspects, namely behavior, cognition, and physiology, showed adequate reliability, while the experience aspect still needed development. The results of the study found that the adaptive boredom measurement tool had a valid and reliable factor structure in most aspects, so that it could be used to measure the tendency of adaptive boredom in students. Abstrak Kebosanan merupakan hal yang umum dialami oleh banyak individu, termasuk mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Kebosanan yang selalu dianggap negatif, ternyata dapat berfungsi secara adaptif dengan mendorong individu mencari tujuan atau pengalaman baru. Dari banyaknya instrumen kebosanan, belum ada yang spesifik mengukur kebosanan adaptif (adaptive-boredom), sehingga peneliti memiliki tujuan untuk mengembangkan alat ukur berdasarkan empat aspek yang telah dirumuskan Bench dan Lench (2013) yaitu perilaku, kognisi, pengalaman, dan fisiologis. Penyusunan instrumen diawali dengan 34 aitem yang telah diuji validitas konten oleh tiga expert judgement menggunakan Aiken’s V dan menghasilkan 26 aitem layak untuk diuji coba. Subjek yang terlibat sebanyak 228 mahasiswa seluruh indonesia berusia 18–25 tahun (19 Laki-Laki dan 209 Perempuan). Analisis Confirmatory Factor Analysis (CFA) menunjukkan model awal belum fit sehingga perlu modifikasi berdasarkan nilai factor loading. Model final terdapat 11 aitem dengan indikator kecocokan model yang baik (CFI = 0,975; GFI = 0,959; RMSEA = 0,049). Uji reliabilitas tiga aspek yaitu perilaku, kognisi, dan fisiologis memiliki reliabilitas memadai, sedangkan aspek pengalaman masih perlu pengembangan. Hasil penelitian menemukan bahwa alat ukur kebosanan adaptif (adaptive-boredom) memiliki struktur faktor yang valid dan reliabel pada sebagian besar aspek sehingga dapat digunakan untuk mengukur kecenderungan kebosanan adaptif pada mahasiswa.
Stereotip Gender pada Wanita Karir di Tempat Kerja Rokhim, Ishmatul Maula; Noorrizki , Rakhmaditya Dewi
Flourishing Journal Vol. 2 No. 6 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v2i62022p415-421

Abstract

Abstract: Although women have made tremendous strides in labor participation, they remain grossly under-represented in traditionally male occupations and fields. The scarcity of women at the top levels of organizations persists despite women gaining the experience, education, and skills necessary for upward mobility and despite various organizational efforts to support their career advancement. This article provides an overview of gender stereotypes in career women in the workplace. The method used in this article is library-based research. Stereotypes are generalizations about groups that are applied to individual members of a group simply because they belong to that group, and gender stereotypes are generalizations about the attributes of men and women. Gender stereotypes have descriptive and prescriptive characteristics. Descriptive gender stereotypes show what women and men are like. Prescriptive gender stereotypes designate what women and men should be like. Both descriptive and prescriptive gender stereotypes and the resulting expectations can harm women's career advancement. Keywords: gender stereotypes; career woman; workplace Abstrak: Meskipun perempuan telah membuat langkah luar biasa dalam partisipasi tenaga kerja, mereka tetap sangat kurang terwakili dalam pekerjaan dan bidang tradisional laki-laki. Kelangkaan perempuan di tingkat atas organisasi masih sering terjadi meskipun perempuan memperoleh pengalaman, pendidikan dan keterampilan yang diperlukan untuk mobilitas ke atas dan meskipun ada berbagai upaya organisasi untuk mendukung kemajuan karir mereka. Tujuan dari artikel ini yaitu memberikan gambaran mengenai stereotip gender pada wanita karir di tempat kerja. Metode yang digunakan pada artikel ini yaitu penelitian berbasis kepustakaan. Stereotip adalah generalisasi tentang kelompok yang diterapkan pada anggota kelompok individu hanya karena mereka termasuk dalam kelompok itu, dan stereotip gender adalah generalisasi tentang atribut pria dan wanita. Stereotip gender memiliki sifat deskriptif dan preskriptif. Stereotip gender deskriptif menunjukkan seperti apa perempuan dan laki-laki. Stereotip gender preskriptif menunjuk seperti apa seharusnya perempuan dan laki-laki. Baik stereotip gender deskriptif maupun preskriptif dan harapan yang dihasilkan, hal tersebut dapat membahayakan kemajuan karier wanita. Kata kunci: stereotip gender; wanita karir; tempat kerja