cover
Contact Name
Evy Yunihastuti
Contact Email
redaksi.jurnalpenyakitdalam@ui.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
redaksi.jurnalpenyakitdalam@ui.ac.id
Editorial Address
Departemen Ilmu Penyakit Dalam, FKUI/RSCM Jln Diponegoro No.71, Jakarta. 10430
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 24068969     EISSN : 25490621     DOI : https://doi.org/10.7454/
Core Subject : Health,
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia contains the publication of scientific papers that can fulfill the purpose of publishing this journal, which is to disseminate original articles, case reports, evidence-based case reports, and literature reviews in the field of internal medicine for internal medicine and general practitioners throughout Indonesia. Articles should provide new information, attract interest and be able to broaden practitioners insights in the field of internal medicine, as well as provide alternative solutions to problems, diagnosis, therapy, and prevention.
Articles 414 Documents
Pengembangan Model Prediksi Mortalitas 3 Bulan Pertama pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis Umami, Vidhia; Lydia, Aida; Nainggolan, Ginova; Setiati, Siti
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Mortalitas pasien yang menjalani hemodialisis (HD) paling tinggi pada tiga bulan pertama. Data mengenai insidens dan prediktor mortalitas dini pada pasien HD sangat terbatas. Suatu model prediksi dapat menjadi alat bantu yang sederhana untuk mengetahui pasien yang berisiko tinggi sehingga pada akhirnya upaya pencegahan dapat dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui insidens dan prediktor mortalitas 3 bulan pada pasien hemodialisis baru dan membuat suatu model prediksi. Metode: Penelitian dengan disain kohort retrospektif terhadap 246 pasien PGTA yang baru menjalani HD di Unit HD RSCM antara Januari 2011-Januari 2012. Dilakukan analisis chi-square untuk mendapatkan nilai OR (Odds Ratio) terhadap variabel usia, pembiayaan, jenis HD, akses pembuluh darah, anemia, hipoalbuminemia, kelainan EKG, kardiomegali, komorbid, waktu rujukan ke nefrologis, dan kepatuhan. Prediktor yang bermakna kemudian dimasukkan pada model regresi logistik untuk mendapatkan sistem skor. Hasil: Sebanyak 78 (31,7%) dari 246 pasien meninggal dalam 3 bulan pertama. Terdapat 5 variabel yang berhubungan dengan terjadinya mortalitas 3 bulan yaitu usia > 60 tahun, hemoglobin/dl, albumin serum Simpulan: Insidens mortalitas 3 bulan pada pasien HD baru sebesar 31,7%. Usia > 60 tahun, hemoglobin/dl, albumin serum
Perbandingan Kadar Soluble Platelet-Selectin pada Berbagai Stadium Karsinoma Nasofaring dan Korelasinya dengan Hitung Trombosit Komala, Adi Surya; Harsal, Asrul; Rachman, Andhika; Rumende, Cleopas Martin
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan jenis keganasan yang unik dengan distribusi geografis dan etnis tertentu. Daerah Cina Selatan dan Asia Tenggara memiliki insidens kejadian yang tinggi. Indonesia memiliki insidens 5,66 kasus per 100.000 penduduk per tahun. Salah satu penyebab kematian pada pasien dengan keganasan adalah trombosis. Kadar soluble Platelet-selectin (sP-selectin) yang tinggi dalam plasma, hasil dari aktivasi sel-sel endotel dan trombosit, adalah salah satu prediktor kejadian trombosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar sP-selectin pada berbagai stadium karsinoma nasofaring dan korelasinya dengan hitung trombosit. Metode. Dilakukan studi potong lintang pada 60 kasus karsinoma nasofaring yang baru terdiagnosis di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada periode Maret hingga November 2012. Kadar sP-selectin pada berbagai stadium yang diukur dengan teknik Enzyme Linked Immunosorbent Assay akan dibandingkan dan dikorelasikan dengan hitung trombosit. Hasil. Dari 60 pasien KNF didapatkan rerata usia 43,9 tahun. Rasio laki-laki dengan perempuan 3:1 dan jenis patologi terbanyak adalah karsinoma tidak berdiferensiasi (83,3%). Sepuluh persen pasien mengalami trombositosis. Median kadar sP-selectin adalah 45,73 ng/mL dengan rentang interkuartil: 42,02-57,66 ng/mL. Secara statistik terdapat perbedaan kadar sP-selectin diantara stadium IVC dengan stadium lainnya (stadium IVB, p = 0,001 dan kelompok stadium I-IVA, p < 0,001). Hitung trombosit tidak berkorelasi dengan sP-selectin (r: 0,185; p = 0,158) pada karsinoma nasofaring. Simpulan. Terdapat perbedaan kadar sP-selectin pada berbagai stadium karsinoma nasofaring. Hitung trombosit tidak berkorelasi dengan kadar sP-selectin.
Profil Pasien Kaki Diabetes yang Menjalani Reamputasi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Tahun 2008 -2012 Sitompul, Yohana; Budiman, Budiman; Soebardi, Suharko; Abdullah, Murdani
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Prevalensi diabetes global diprediksi akan meningkat sebesar dua kali lipat pada tahun 2030 dari 2,8% menjadi 4,4% (berkisar 366 juta) dengan angka komplikasi kaki diabetes berkisar 10%. Ulkus diabetes dan amputasi ekstremitas bawah merupakan komplikasi diabetes yang akan meningkatkan mortalitas dan morbiditas Setelah lima tahun amputasi pertama, 28-51% pasien akan menjalani amputasi kedua. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui proporsi dan profil pasien yang mengalami reamputasi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo tahun 2008-2012. Metode. Disain studi ini adalah potong lintang dengan 80 subjek pasien kaki diabetes yang dirawat di RSCM tahun 2008 sampai 2012. Dilakukan pencatatan data yang didapat dari rekam medik berupa data demografis (jenis kelamin, rerata usia, pendidikan, pekerjaan, pembiayaan) dan klinis (rerata lama diabetes, hipertensi, merokok, neuropati, Peripheral Artery Disease (PAD), anemia, komorbid dan gagal ginjal kronik). Hasil. Angka amputasi pada kaki diabetes dari tahun 2008-2012 sebanyak 128 subjek (20,3%) pasien dan dari 128 subjek terdapat 80 subjek yang statusnya lengkap dan yang menjalani reamputasi sebanyak 47 subjek (58,7%). Subjek yang menjalani reamputasi lebih sering pada perempuan sebanyak 25 orang (53,2%), dengan rerata usia 58,2 tahun, memiliki pendidikan SMA kebawah 97,8%, menggunakan biaya gakin (72,6%). Lama menderita DM rata-rata 7 tahun, kadar HbA1C ≥ 7% sebesar 46,8%, hipertensi pada 63,8% subyek, merokok sebanyak 14 orang (29,7%), neuropati sebanyak 41 orang (87,2%), PAD sebesar 27,6%,, anemia sebanyak 46 orang (97,8%), kadar albumin rerata 2,5 gr/dl dan terdapat 19 orang (40,45%) dengan eGFR(40,4%). Komorbid yang ada pada subjek yang menjalani reamputasi adalah pneumonia (34%), penyakit arteri koroner (21,2%), penyakit ginjal kronik (17%), stroke (10,6%), keganasan (8,6%) dan gagal jantung kongestif (8,6%) Simpulan. Proporsi reamputasi pada kaki diabetes di RSCM tahun 2008 – 2012 sebesar 58,7%. Angka reamputasi pada kaki diabetes lebih tinggi pada perempuan, usia lebih lanjut, pendidikan SMA kebawah, menggunakan biaya umum dan gakin, kadar HbA1C ≥ 7%, hipertensi, neuropati, PAD, anemia, kadar albumin rendah, dengan eGFRbanyak
Serokonversi Hepatitis C pada Pasien Hemodialisis di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Widhani, Alvina; Lydia, Aida; Gani, Rino A; Setiati, Siti
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Pasien hemodialisis (HD) tergolong kelompok risiko tinggi terinfeksi virus hepatitis C. Penelitian mengenai serokonversi hepatitis C di RS Cipto Mangunkusumo belum pernah dilakukan. Agar transmisi hepatitis C dapat diturunkan, faktor risiko serokonversi hepatitis C penting diketahui. Penelitian ini bertujuan mengetahui proporsi dan faktor risiko serokonversi hepatitis C pada pasien yang menjalani HD di RS Cipto Mangunkusumo. Metode. Penelitian potong lintang terhadap pasien yang menjalani HD di RS Cipto Mangunkusumo pada bulan Juni-Juli 2011. Pemeriksaan anti-HCV menggunakan Roche Elecsys ECLIA, Analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil. Pada bulan Juni-Juli 2011 terdapat 135 pasien HD yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Serokonversi mencapai 21,5%. Analisis bivariat menunjukkan hubungan yang bermakna antara lama dialisis (p=0,003) dan jenis kelamin pria (OR 2,43; 95%CI 0,99-5,98; p=0,048) dengan serokonversi hepatitis C. Pasien yang menjalani dialisis >42 bulan (sebelum pemrosesan ulang dialiser menggunakan mesin) lebih banyak yang mengalami serokonversi dibandingkan pasien yang menjalani dialisis ≤42 bulan. Terdapat dua variabel yang marginally statistically significant yaitu HBsAg negatif (p=0,07) dan menggunakan dialiser proses ulang (p=0,07). Pada analisis multivariat, didapatkan jenis kelamin pria (OR 2,91; 95%CI 1,14-7,48; p=0,03) dan lama dialisis (OR 1,02; 95%CI 1-1,03; p=0,007) berhubungan dengan serokonversi hepatitis C. Simpulan. Serokonversi hepatitis C pada pasien yang menjalani HD di RS Cipto Mangunkusumo mencapai 21,5%. Terdapat hubungan signifikan antara jenis kelamin pria dan lama dialisis dengan serokonversi hepatititis C.
Perubahan Status Fungsi Hati, Status Nutrisi, Kadar 3-β-Hidroksi Butiran Darah, dan Keseimbangan Nitrogen pada Pasien Sirosis Hari yang Menjalankan Puasa Ramadhan Abubakar, Azzaki; Hasan, Irsan; Abdullah, Murdani; Shatri, Hamzah
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Prevalensi sirosis cukup tinggi di Indonesia yang mayoritas populasinya adalah muslim. Pada saat menjalani puasa Ramadhan yang merupakan kewajiban umat muslim terjadi berbagai proses metabolik seperti penurunan glikokogenesis, peningkatan glukoneogenesis dan ketogenesis, dapat mempengaruhi keadaan klinis, nutrisi dan bokimiawi pasien sirosis hati yang juga mengalami proses hiperkatabolik. Penelitian tentang pengaruh puasa Ramadhan pada pasien sirosis hati di Indonesia belum pernah dilakukan. Berdasarkan kenyataan diatas perlu diteliti bagaimana perubahan terhadap status nutrisi, status fungsi hati, pembentukan badan keton dan keseimbangan nitrogen pada pasien sirosis hati yang menjalankan puasa Ramadhan. Metode: Penelitian ini merupakan studi pre dan post, yang menilai perubahan pada pasien sirosis hati yang berpuasa Ramadhan: saat Ramadhan dan pasca Ramadhan. Pada subjek penelitian dilakukan pengambilan data-data dasar, anamnesis dasar. Pada minggu ke 4 saat puasa Ramadhan dilakukan pengukuran antropometrik, yaitu timbang berat badan, indeks massa tubuh (IMT), ketebalan triceps skinfold (TSF), dan mid-upper arm circumference (MUAC). Pada subjek juga dilakukan pengambilan darah vena untuk pemeriksaan laboratorium dan pengukuran ekskresi nitrogen urin yang ditampung dalam 24 jam. Pada minggu ke empat pasca Ramadhan subyek dievaluasi kembali dengan prosedur yang sama seperti saat Ramadhan. Hasil: Rerata (SD) indeks massa tubuh saat puasa Ramadhan adalah 25,112 (4,05) kg/m2 dan pasca Ramadhan 25,25 (4,01) kg/m2 (p = 0,438). Didapatkan rerata (SD) midarm muscle circumference (MAMC) saat Ramadhan 25,77 (3,077) cm dan rerata (SD) pasca Ramadhan 25,96 (3,42) cm (p=0,228). Tidak ada perbedaan bermakna secara statistik antara kadar 3-β-hidroksi butiran darah saat puasa Ramadhan dan 4 minggu pasca Ramadhan. Rerata (SD) saat puasa Ramadhan 2,44 (2,93) gram/24 jam, sedangkan rerata (SD) keseimbangan nitrogen pasca Ramadhan 0,51 (3,16) gram/24 jam (p=0,037). Simpulan: Tidak ada perubahan status fungsi hati yang dinilai dengan Skor Child Pugh saat puasa Ramadhan dan pasca Ramadhan. Indeks massa tubuh dan ketebalan TSF membaik pasca Ramadhan. Tidak ada perbedaan kadar 3-β-hidroksi butirat darah saat puasa Ramadhan dan pasca Ramadhan. Terdapat keseimbangan nitrogen yang lebih positif saat puasa Ramadhan dibandingkan pasca Ramadhan.
Hubungan Albumin Serum Awal Perawatan dengan Perbaikan Klinis Infeksi Ulkus Kaki Diabetik di Rumah Sakit di Jakarta Kurniawan, Hendra Dwi; Yunir, Em; Nugroho, Pringgodigdo
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Ulkus kaki diabetik terinfeksi merupakan kasus DM yang paling banyak dirawat di RS, berhubungan dengan morbiditas, mortalitas, biaya yang tinggi dan bersifat multifaktorial. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah albumin. Belum ada penelitian yang secara langsung menghubungkan konsentrasi albumin serum awal perawatan dengan perbaikan klinis infeksi ulkus kaki diabetik. Belum ada batasan mengenai konsentrasi albumin yang dapat mempengaruhi perbaikan klinis infeksi ulkus kaki diabetik. Penelitian ini bertujuan Mendapatkan data mengenai konsentrasi albumin serum awal perawatan dan hubungannya dengan perbaikan klinis infeksi ulkus kaki diabetik. Metode: Penelitian dengan desain kohort prospektif terhadap 71 pasien diabetes dengan ulkus kaki terinfeksi yang dirawat inap di RSUPNCM, RSPADGS atau RSP pada kurun waktu April-Agustus 2014. Diagnosis dan klasifikasi ulkus kaki diabetik terinfeksi menggunakan kriteria IDSA. Data klinis dan albumin serum diambil dalam 24 jam pertama perawatan dan diikuti dalam 21 hari perawatan dengan terapi standar untuk dilihat perbaikan klinis infeksi ulkus kaki diabetik. Perbedaan rerata konsentrasi albumin antara subjek yang mengalami perbaikan klinis infeksi dan yang tidak, diuji dengan uji t tidak berpasangan dengan batas kemaknaan p
Hipoglikemia: Sindrom Paraneoplastik pada Karsinoma Hepatoselular Sutanto, Hari; Aswar, Andra; Soebijanto, N
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karsinoma hepatoselular (KHS) merupakan tumor ganas hati primer yang menempati urutan ketiga penyebab mortalitas akibat keganasan di seluruh dunia, karena acapkali terdiagnosis pada stadium lanjut. Tidak jarang manifestasi ekstrahepatik mucul pada KHS di antaranya hipoglikemia yang dapat muncul di akhir perjalanan penyakit ketika terjadi kegagalan fungsi hati; namun juga dapat muncul sebagai gejala awal sebelum ditemukan nodul pada hepar. Hipoglikemia dapat meningkatkan morbiditas, menurunkan kualitas hidup, dan menurunkan kesintasan. Pemahaman mengenai patogenesis, kewaspadaan serta diagnosis dini, dan penanganan yang tepat merupakan kunci tatalaksana utama.
Penyakit Tropik dan Infeksi pada Abad 21: Apakah Masih Relevan? Suwarto, Suhendro
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 1, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Empat puluh lima tahun lebih telah berlalu dari masa ketika seorang ahli bedah ternama, William H Stewart, menyatakan penemuan antibiotik dan vaksin merupakan bukti kemenangan dunia kedokteran terhadap ancaman penyakit infeksi. Lebih lanjut, saat itu beliau menyarankan perhatian dunia kedokteran harus kemudian diarahkan pada penanganan ancaman penyakit kronik
Hipoalbuminemia pada Pasien Usia Lanjut dengan Pneumonia Komunitas: Prevalensi dan Pengaruhnya Terhadap Kesintasan Kurniawan, Wawan; Rumende, C. Martin; Harimurti, Kuntjoro
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 1, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Hipoalbuminemia merupakan salah satu penanda risiko mortalitas, tetapi belum banyak yang mempertimbangkan faktor waktu (seberapa cepat terjadinya mortalitas). Penelitian ini mengevaluasi pengaruh hipoalbuminemia terhadap kecepatan terjadinya mortalitas pada pasien usia lanjut dengan pneumonia komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi hipoalbuminemia dan pengaruhnya terhadap kesintasan pasien usia lanjut yang dirawat dengan pneumonia komunitas. Metode. Penelitian dengan disain kohort retrospektif dilakukan terhadap 142 pasien usia lanjut dengan pneumonia komunitas yang dirawat di RSCM pada kurun waktu Januari-Oktober 2010. Data klinis dan laboratoris diambil dalam 24 jam pertama kedatangan (data sekunder) dan kemudian diikuti dalam 30 hari untuk melihat status mortalitasnya. Perbedaan kesintasan hipoalbuminemia ditampilkan dalam kurva Kaplan Meier dan perbedaan kesintasan diantara dua atau lebih kelompok akan diuji dengan Log-rank test, dengan batas kemaknaan Hasil. Prevalensi hipoalbuminemia pada pasien usila dengan pneumonia komunitas sebesar 71,1% (IK95% 0,64-0,78). Rerata kesintasan pada kelompok dengan kadar albumin normal adalah 27 hari (IK95% 24,35-30,98), sedangkan pada kelompok albumin 2,5-3,4 g/dL rerata kesintasannya adalah 22 hari (IK95% 19,66-25,13) dan pada kelompok albumin kurang dari 2,5 g/dL rerata kesintasannya adalah 19 hari (IK95% 13,07-26,23). Crude hazard ratio (HR) pasien dengan kadar albumin antara 2,5-3,4 g/dL adalah 4,49 (IK95% 1,05-19,20) dan pada pasien dengan kadar albumin kurang dari 2,5 g/dL adalah 7,26 (IK95% 1,46-36,09) bila dibandingkan dengan pasien dengan kadar albumin normal (≥3,5 g/dL). Setelah penambahan variabel perancu, didapatkan fully adjusted hazard ratio sebesar 3,81 (IK95% 0,86-16,95) untuk kelompok albumin antara 2,5-3,4 g/dL dan 11,09 (IK95% 1,79-68,65) untuk kelompok albumin kurang dari 2,5 g/dL. Simpulan. Prevalensi hipoalbuminemia pada usia lanjut dengan pneumonia komunitas adalah 71,1%. Terdapat perbedaan kesintasan 30 hari pasien pneumonia usia lanjut yang mengalami hipoalbuminemia dibanding dengan yang normoalbuminemia (≥3,5 g/dL). Kesintasan pada pasien dengan keadaan hipoalbuminemia yang berat lebih buruk dibandingkan pada keadaan hipoalbuminemia ringan.
Peranan Gejala Klinis dan Pemeriksaan Darah Tepi dalam Diagnosis Dini Influenza pada Pasien dengan Gejala Influenza Like Illness Susilo, Adityo; Suwarto, Suhendro; Rengganis, Iris; Harimurti, Kuntjoro
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 1, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Influenza merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus influenza. Pada manusia, influenza sering menimbulkan penyakit pernapasan akut dengan manifestasi klinis berupa influenza like illness. Penegakkan diagnosis influenza seringkali sulit oleh karena manifestasi klinis yang tidak khas. Demam disebut sebagai gejala klinis terpenting dan limfopenia didapatkan sebagai suatu temuan laboratoris yang konsisten. Usaha untuk mengetahui proporsi dan mengelaborasi gejala klinis dan pemeriksaan darah tepi sederhana diperkirakan dapat meningkatkan probabilitas diagnosis influenza. Tujuan. Mengetahui proporsi influenza serta mengevaluasi peranan gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium sederhana pada pasien penyakit pernapasan akut dengan influenza like illness sehingga dapat digunakan sebagai faktor prediktif terhadap diagnosis influenza. Metode. Studi potong lintang berbasis diagnostic research pada pasien penyakit pernapasan akut dewasa dengan gejala influenza like illness di Puskesmas Kecamatan Pulo Gadung dan Puskesmas Kelurahan Rawamangun antara Maret hingga Juni 2011. Spesimen analisis virus menggunakan bahan apus nasofaringeal, dengan teknik analisis PCR kualitatif dan imunokromatografi antigen. Hasil. Dari 90 orang subyek penelitian didapatkan 13 orang (14,4%) terbukti terinfeksi virus influenza A melalui teknik PCR. Variabel demam menunjukkan hasil uji kemaknaan yang signifikan terhadap influenza (p 0,003) dengan prevalence ratio 6,28 (95% CI 1,476-26,759). Sensitifitas demam, batuk dan pilek terhadap influenza masing-masing adalah 85% dan negative predictive value demam sebesar 98%. Variabel determinan lainnya tidak menunjukkan hasil yang bermakna terhadap influenza pada uji kemaknaan statistik. Simpulan. Proporsi influenza pada pasien dengan gejala ILI diperoleh cukup tinggi dengan proporsi demam yang terbukti lebih tinggi pada pasien influenza. Sensitivitas demam, batuk dan pilek terhadap influenza tinggi dengan negative predictive value yang memuaskan untuk seluruh variabel determinan