cover
Contact Name
Ryan Taufika
Contact Email
pcejfkip@umsu.ac.id
Phone
+6285216814772
Journal Mail Official
ryantaufika@umsu.ac.id
Editorial Address
Jl. Kapten Muchtar Basri No.3, Glugur Darat II, Kec. Medan Tim., Kota Medan, Sumatera Utara 20238
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL
ISSN : -     EISSN : 29635187     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Pancasila and Citizenship Education Journal: Media Study of Pancasila and Citizenship Education is focused on the study of discourse and citizenship practices in the dimensions and perspectives of cultural diversity, equality, and social justice in the context of socio-economic, civic education and learning, related to issues of social and moral responsibility, community involvement and political literacy, as well as legal awareness. This journal publishes scientific and research-based articles on various Pancasila and civic education, and educational topics where conceptual issues of citizenship, local wisdom, political education, legal education, multiculturalism, and plurality issues are discussed. Pancasila and Citizenship Education Journal are very interested in scientific and professional studies in the discourse and practice of citizenship. We seek submissions of articles that cross the lines of scientific disciplines (interdisciplinary perspectives) that aim at the development of Pancasila and citizenship studies and citizenship education in the local, national, and global scope. Our particular attention is paid to works dealing with historical and contemporary questions of concern regarding other dimensions, meanings, and forms in relation to citizenship and contributing to education for citizenship. Each article published has gone through a peer-reviewed process by designated experts. They have experience in journal management and article publications in prestigious journals. The article published in Kewarganegaraan has met the requirements set by the Editorial Board of this journal.
Articles 92 Documents
Pengaruh Media Pembelajaran Komik Digital terhadap Karakter Cinta Tanah Air pada Siswa Kelas 3 SD Muhammadiyah 11 Medan Nurdiyanti Fadilla; Melyani Sari Sitepu
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 1 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL (FEBRUARY 2026)
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya pemahaman siswa terhadap karakter cinta tanah air dalam permbelajaran PKN dan  guru belum menerapkan media pembelajaran yang dapat membantu pemahaman siswa dalam karakter cinta tanah air.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media pembelajaran komik digital terhadap karakter cinta tanah air siswa kelas III sekolah dasar dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan quasi experiment (eksperimen semu). Desain penelitian yang digunakan adalah pretest-posttest control design dengan jumlah siswa sebanyak 28 siswa. Instrumen yang digunakan berupa angket karakter cinta tanah air yang terdiri dari 15 item pernyataan dengan skala Likert. Hasil analisis data menggunakan uji-t menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan posttest siswa pada kelas III SD Muhammadiyah 11 Medan, dengan nilai signifikansi (p-value) 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran komik digital memiliki pengaruh yang positif terhadap peningkatan karakter cinta tanah air siswa kelas III SD Muhammadiyah 11 Medan 
Sharia Economic Dispute Resolution Through Mediation: Between Fast Basics and Justice for Clients Maria Rosalina; M Pratama Siagian; M Rafi Akbar Sitakar; M Alfareza Siregar
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 2 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL (JUNE 2026)
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This study analyses the tension between the principles of speed, simplicity, and low cost in the mediation of Islamic economic disputes and the need to ensure substantive justice for customers. The rapid expansion of the Islamic financial sector in Indonesia has been accompanied by an increase in Islamic economic disputes, prompting Religious Courts, which hold absolute jurisdiction under Law Number 3 of 2006 and Constitutional Court Decision Number 93/PUU-X/2012, to optimize mediation as a dispute resolution mechanism. Supreme Court Regulation Number 1 of 2016 requires mediation before substantive case examination to promote efficient and peaceful settlement. However, the implementation of the speed principle often encounters challenges arising from unequal bargaining positions between customers and Islamic financial institutions. As a result, mediation agreements may fulfill procedural requirements while failing to provide meaningful substantive justice. This research employs a normative legal method using statutory and conceptual approaches, supported by qualitative descriptive-analytical analysis. The findings indicate that the speed principle has dual implications: it improves dispute resolution efficiency but may also weaken justice for customers with limited legal capacity. Key obstacles include the absence of customer-oriented mediation regulations, the limited number of mediators with expertise in Islamic economic law, and low public legal literacy. Strengthening customer protection, enhancing mediator competence, and improving legal literacy are essential to ensure fair and effective mediationKeywords: Mediation, Islamic Economic Dispute, Speed Principle, Substantive Justice, Customer Protection, Religious CourtAbstrak: Studi ini menganalisis ketegangan antara prinsip kecepatan, kesederhanaan, dan biaya rendah dalam mediasi sengketa ekonomi Islam dan kebutuhan untuk memastikan keadilan substantif bagi nasabah. Ekspansi pesat sektor keuangan Islam di Indonesia telah disertai dengan peningkatan sengketa ekonomi Islam, mendorong Pengadilan Agama, yang memiliki yurisdiksi absolut berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Keputusan Mahkamah Konstitusi Nomor 93/PUU-X/2012, untuk mengoptimalkan mediasi sebagai mekanisme penyelesaian sengketa. Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 mensyaratkan mediasi sebelum pemeriksaan kasus substantif untuk mendorong penyelesaian yang efisien dan damai. Namun, implementasi prinsip kecepatan seringkali menghadapi tantangan yang timbul dari posisi tawar yang tidak setara antara nasabah dan lembaga keuangan Islam. Akibatnya, perjanjian mediasi mungkin memenuhi persyaratan prosedural tetapi gagal memberikan keadilan substantif yang berarti. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan hukum dan konseptual, didukung oleh analisis deskriptif-analitis kualitatif. Temuan menunjukkan bahwa prinsip kecepatan memiliki implikasi ganda: meningkatkan efisiensi penyelesaian sengketa tetapi juga dapat melemahkan keadilan bagi nasabah dengan kapasitas hukum yang terbatas. Kendala utama meliputi tidak adanya regulasi mediasi yang berorientasi pada pelanggan, terbatasnya jumlah mediator yang memiliki keahlian dalam hukum ekonomi Islam, dan rendahnya literasi hukum masyarakat. Memperkuat perlindungan pelanggan, meningkatkan kompetensi mediator, dan meningkatkan literasi hukum sangat penting untuk memastikan mediasi yang adil dan efektifKata Kunci: Mediasi, Sengketa Ekonomi Islam, Prinsip Kecepatan, Keadilan Substansial, Perlindungan Konsumen, Pengadilan Agama
Implementasi Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam Pembelajaran PPKn untuk Penguatan Karakter Siswa Regina Pandia; Nova Purba; Amin Harahap
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 1 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL (FEBRUARY 2026)
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This study aims to analyze the implementation of Ki Hadjar Dewantara's educational philosophy in Pancasila and Citizenship Education (PPKn) learning to strengthen students' character. The method used is descriptive qualitative with a library study approach through the analysis of various relevant literature such as books, journal articles, and educational documents. The results of the study indicate that Ki Hadjar Dewantara's philosophy has strong relevance in PPKn learning through the concept of ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani which repositions the role of teachers as role models, facilitators, and motivators of learning. In addition, the concept of Tri Pusat Pendidikan emphasizes the importance of synergy between families, schools, and communities in shaping students' character. PPKn learning based on this philosophy is able to create a more humanistic, contextual, and meaningful learning process. However, its implementation still faces challenges in the form of the dominance of cognitive learning and the negative influence of the digital era. In conclusion, the integration of Ki Hadjar Dewantara's philosophy in PPKn is very important to strengthen students' character holistically and sustainably.Keywords: Ki Hadjar Dewantara, PPKn, Character Education, Three Centers of Education, Humanistic LearningAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) untuk penguatan karakter siswa. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan melalui analisis berbagai literatur relevan seperti buku, artikel jurnal, dan dokumen pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filosofi Ki Hadjar Dewantara memiliki relevansi kuat dalam pembelajaran PPKn melalui konsep ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani yang mereposisi peran guru sebagai teladan, fasilitator, dan motivator pembelajaran. Selain itu, konsep Tri Pusat Pendidikan menegaskan pentingnya sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam pembentukan karakter siswa. Pembelajaran PPKn berbasis filosofi ini mampu menciptakan proses pembelajaran yang lebih humanis, kontekstual, dan bermakna. Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan berupa dominasi pembelajaran kognitif dan pengaruh negatif era digital. Kesimpulannya, integrasi filosofi Ki Hadjar Dewantara dalam PPKn sangat penting untuk memperkuat karakter siswa secara holistik dan berkelanjutan.Kata Kunci: Ki Hadjar Dewantara, PPKn, Pendidikan Karakter, Tri Pusat Pendidikan, Pembelajaran Humanis
Peran Tiktok dalam Membentuk Kesadaran Politik Siswa Kelas X SMA Negeri 3 Binjai terhadap Aksi Demonstrasi September 2025 Usman Alhudawi; Khalyshah Athaillah
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 2 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL (JUNE 2026)
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The development of social media has changed the way young people obtain and understand political information. TikTok, as a short video-based platform, has become one of the media widely used by students to access various public issues, including the September 2025 demonstrations. This study aims to analyze the role of TikTok in shaping the political awareness of 10th-grade students at SMA Negeri 3 Binjai regarding the demonstrations. The study used a qualitative approach with descriptive methods. Data were obtained through in-depth interviews with students who actively use TikTok and follow information related to the demonstrations. The results show that TikTok plays a significant role in increasing students' knowledge about the background of the demonstrations, criticism of government policies, and the function of legislative institutions. Exposure to political content on TikTok also encourages the emergence of critical attitudes, social awareness, and empathy towards public issues. However, the presence of inaccurate and provocative information poses a challenge in developing students' political awareness. Therefore, strengthening digital literacy and political literacy is necessary so that students are able to filter and interpret information critically and responsibly.Keywords: TikTok, Political Awareness, DemonstrationsAbstrak: Perkembangan media sosial telah mengubah cara generasi muda memperoleh dan memahami informasi politik. TikTok sebagai platform berbasis video pendek menjadi salah satu media yang banyak digunakan siswa untuk mengakses berbagai isu publik, termasuk aksi demonstrasi September 2025. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran TikTok dalam membentuk kesadaran politik siswa kelas X SMA Negeri 3 Binjai terhadap aksi demonstrasi tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap siswa yang aktif menggunakan TikTok dan mengikuti informasi terkait demonstrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TikTok berperan signifikan dalam meningkatkan pengetahuan siswa mengenai latar belakang demonstrasi, kritik terhadap kebijakan pemerintah, serta fungsi lembaga legislatif. Paparan konten politik di TikTok juga mendorong munculnya sikap kritis, kepedulian sosial, dan empati terhadap isu-isu publik. Namun, keberadaan informasi yang tidak akurat dan bersifat provokatif menjadi tantangan dalam pembentukan kesadaran politik siswa. Oleh karena itu, penguatan literasi digital dan literasi politik diperlukan agar siswa mampu menyaring serta menafsirkan informasi secara kritis dan bertanggung jawab.Kata Kunci: Tiktok, Kesadaran Politik, Demonstrasi
Implementasi Konsep Pengembangan Diri dan Adaptasi Sosial Jack R. Gibbs pada Masyarakat Kontemporer Muhammad David; Panggih Nur Adi; Fazri Hermanto; Semuel Dumak P; Rahmat Kurnia
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 2 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL (JUNE 2026)
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The acceleration of social change due to globalization, the development of digital technology, and the complexity of social interactions required individuals to have good self-development and social adaptation skills. Jack R. Gibbs's theory of moral and social development provides a conceptual framework for understanding social reasoning, self-control, and the internalization of norms as the basis for adaptive behavior. This study aims to analyze the implementation of Gibbs's concept of self-development and social adaptation in contemporary society and the factors that influence its success. This study uses a Literature Review method with a qualitative descriptive approach. Data were obtained from various scientific literature sources, such as academic books, reputable journal articles, and previous research, then analyzed thematically. The results show that Gibbs' concept has been applied in education, the workplace, and community life. The success of its implementation is influenced by internal factors, such as intrinsic motivation, self-awareness, and emotional regulation, as well as external factors such as social support, educational quality, organizational culture, role models, and structural policies. These findings confirm that self-development and social adaptation are holistic processes that require an integrative and sustainable approach to face the dynamics of modern society.Keywords: Self-Development, Social Adaptation, Jack R. Gibbs, Social Reasoning, Contemporary SocietyAbstrak: Percepatan perubahan sosial akibat globalisasi, perkembangan teknologi digital, dan kompleksitas interaksi sosial menuntut individu memiliki kemampuan pengembangan diri dan adaptasi sosial yang baik. Teori pengembangan moral dan sosial Jack R. Gibbs memberikan kerangka konseptual dalam memahami penalaran sosial, pengendalian diri, serta internalisasi norma sebagai dasar perilaku adaptif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi konsep pengembangan diri dan adaptasi sosial Gibbs dalam masyarakat kontemporer serta faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilannya. Penelitian ini menggunakan metode Literature Review dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari berbagai sumber literatur ilmiah, seperti buku akademik, artikel jurnal bereputasi, dan penelitian terdahulu, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep Gibbs telah diterapkan dalam bidang pendidikan, dunia kerja, dan kehidupan masyarakat. Keberhasilan implementasinya dipengaruhi oleh faktor internal, seperti motivasi intrinsik, kesadaran diri, dan regulasi emosi, serta faktor eksternal berupa dukungan sosial, kualitas pendidikan, budaya organisasi, keteladanan, dan kebijakan struktural. Temuan ini menegaskan bahwa pengembangan diri dan adaptasi sosial merupakan proses holistik yang membutuhkan pendekatan integratif dan berkelanjutan untuk menghadapi dinamika masyarakat modern.Kata Kunci: Pengembangan Diri, Adaptasi Sosial, Jack R. Gibbs, Penalaran Sosial, Masyarakat Kontemporer
Budaya Pengamalan Nilai-Nilai Pancasila di Lingkungan Sekolah: Studi Etnografi di SMA Negeri 3 Rantau Utara Afranisha Afranisha; Wanda Fahira; Muhammad Rafli Ashari; Rohana Rohana
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 1 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL (FEBRUARY 2026)
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This study aims to examine the understanding and appreciation of Pancasila values among grade X-3 high school students in their daily lives at school. The focus on grade X-3 was chosen because students at this level are experiencing an identity transition from junior high school to a more critical mindset of early adolescence, making the process of internalizing values very crucial and vulnerable. The study used a qualitative approach with an ethnographic design through participatory observation, in-depth interviews, and behavioral documentation of grade X-3 students, PPKn teachers, and homeroom teachers. Data analysis was conducted inductively referring to the Miles and Huberman model. The results showed that most grade X-3 students were at the responding to valuing stage in Krathwohl's affective taxonomy, where compliance still relies heavily on external supervision. School culture, particularly morning routines, peer interactions, and teacher role models, proved to be determinants in the formation of civic character. The conclusion of the study emphasized the need for a character strengthening program that is contextual, participatory, and responsive to the characteristics of the psychosocial development of grade X-3 adolescents.Keywords: School Culture; Ethnography of Education; Internalization of Values, PancasilaAbstrak: Penelitian ini bertujuan mengkaji pemahaman dan penghayatan nilai-nilai Pancasila pada peserta didik kelas X-3 SMA dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. Fokus pada kelas X-3 dipilih karena siswa pada jenjang ini tengah mengalami transisi identitas dari jenjang SMP menuju pola pikir remaja awal yang lebih kritis, sehingga proses internalisasi nilai menjadi sangat krusial sekaligus rentan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnografi melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi perilaku terhadap siswa kelas X-3, guru PPKn, serta wali kelas. Analisis data dilakukan secara induktif mengacu pada model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa kelas X-3 berada pada tahap responding hingga valuing dalam taksonomi afektif Krathwohl, di mana kepatuhan masih sangat bergantung pada pengawasan eksternal. Budaya sekolah, khususnya pembiasaan pagi, interaksi antarteman sebaya, dan keteladanan guru, terbukti menjadi faktor determinan dalam pembentukan karakter kewarganegaraan. Simpulan penelitian menegaskan perlunya program penguatan karakter yang kontekstual, partisipatif, dan responsif terhadap karakteristik perkembangan psikososial remaja kelas X-3.Kata Kunci: Budaya Sekolah; Etnografi Pendidikan; Internalisasi Nilai, Pancasila
Pengaruh Gaya Hidup Konsumtif terhadap Perilaku Keuangan dan Kecenderungan Penggunaan Pinjaman Online di Era Digital Marisa Jahra Salsabila; Rifa Aqilah Sugandi; Naia Kaiela Kriska Davina; Muhammad Brian Aryawinata; Muhammad Razzaqqa Dhaffin; Tsaqiif Muhammad Rizqy
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 2 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The development of digital technology has driven changes in people's consumption patterns and influenced individual financial behavior. Ease of access to social media, e-commerce, and financial technology services has contributed to the emergence of a consumptive lifestyle that has the potential to increase the use of online loans. This study aims to analyze the influence of a consumptive lifestyle on financial behavior and the tendency to use online loans in the digital era. The study used a literature review method with a qualitative descriptive approach. Data were obtained from various literature sources, including journal articles, academic books, official agency reports, and relevant scientific publications. The analysis was conducted through identification, comparison, and synthesis of various research findings regarding a consumptive lifestyle, financial behavior, and the use of online loans. The results of the study indicate that a consumptive lifestyle influences the decline in the quality of financial behavior, such as poor ability to manage expenses, save, and plan finances. Furthermore, a consumptive lifestyle increases the tendency to use online loans as an alternative financing option to meet consumption needs. This condition has the potential to cause financial problems, financial stress, and debt dependence. Therefore, strengthening financial literacy is a crucial step in encouraging healthier and more responsible financial behavior.Keywords: Consumptive Lifestyle, Financial Behavior, Online Loans, Financial Literacy, Digital EraAbstrak: Perkembangan teknologi digital telah mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat dan memengaruhi perilaku keuangan individu. Kemudahan akses media sosial, e-commerce, serta layanan teknologi finansial turut mendorong munculnya gaya hidup konsumtif yang berpotensi meningkatkan penggunaan pinjaman online. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh gaya hidup konsumtif terhadap perilaku keuangan dan kecenderungan penggunaan pinjaman online di era digital. Penelitian menggunakan metode kajian pustaka dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari berbagai sumber literatur berupa artikel jurnal, buku akademik, laporan lembaga resmi, dan publikasi ilmiah yang relevan. Analisis dilakukan melalui identifikasi, perbandingan, dan sintesis berbagai temuan penelitian mengenai gaya hidup konsumtif, perilaku keuangan, dan penggunaan pinjaman online. Hasil kajian menunjukkan bahwa gaya hidup konsumtif berpengaruh terhadap menurunnya kualitas perilaku keuangan, seperti rendahnya kemampuan mengelola pengeluaran, menabung, dan merencanakan keuangan. Selain itu, gaya hidup konsumtif meningkatkan kecenderungan penggunaan pinjaman online sebagai alternatif pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan masalah keuangan, stres finansial, dan ketergantungan utang. Oleh karena itu, penguatan literasi keuangan menjadi langkah penting dalam mendorong perilaku keuangan yang lebih sehat dan bertanggung jawab.Kata Kunci: Gaya Hidup Konsumtif, Perilaku Keuangan, Pinjaman Online, Literasi Keuangan, Era Digital
Karakteristik Peserta Didik dan Pembelajaran Mendalam: Sebuah Kajian Teoretis dan Empiris Ahmad Arif; Alda Anggraini; Irma Amalia; Rohana Rohana
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 2 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The diversity of student characteristics encompasses physical, intellectual, behavioral, achievement, and emotional dimensions. Teachers' understanding of this diversity is the main foundation for creating truly student-centered deep learning. Methods: This article was compiled through a literature review analyzing Gardner's theory of multiple intelligences, Bandura's social cognitive learning theory, Maslow's hierarchy of needs, and various recent empirical findings from journals published between 2021 and 2025. Results: Individual student differences include aspects of intelligence, talent, learning styles (visual, auditory, kinesthetic), interests, and social background. At the high school level, visual learning styles were the most dominant (37%), followed by kinesthetic (33%) and auditory (29%), while 51% of students were in the low interest category. Deep learning implemented through diagnostic assessments, a variety of teaching methods, and the creation of a supportive learning environment has proven effective in improving students' conceptual understanding and motivation to learn. The main obstacles faced are the lack of teacher training on individual differences and the disparity in facilities and infrastructure between schools. Conclusion: In-depth learning based on learner characteristic profiles is no longer an option, but a necessity in 21st-century educational practices.Keywords: Student Characteristics, Individual Differences, In-Depth Learning, Multiple Intelligences, Independent CurriculumAbstrak: Keberagaman karakteristik peserta didik mencakup dimensi fisik, intelektual, perilaku, prestasi, maupun emosional. Pemahaman guru terhadap keragaman ini menjadi fondasi utama terciptanya pembelajaran mendalam (deep learning) yang benar‑benar berpusat pada siswa. Metode dalam penelitian ini disusun melalui studi pustaka dengan menganalisis teori kecerdasan majemuk Gardner, teori belajar sosial kognitif Bandura, hierarki kebutuhan Maslow, serta berbagai temuan empiris mutakhir dari jurnal terbitan 2021–2025. Adapun hasil penelitian menemukan bahwa perbedaan individu siswa meliputi aspek kecerdasan, bakat, gaya belajar (visual, auditori, kinestetik), minat, dan latar belakang sosial. Pada jenjang SMA, gaya belajar visual paling dominan (37%), diikuti kinestetik (33%) dan auditori (29%); sementara itu 51% siswa berada pada kategori minat rendah. Pembelajaran mendalam yang dijalankan melalui asesmen diagnostik, variasi metode pengajaran, serta penciptaan lingkungan belajar yang suportif terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman konseptual sekaligus motivasi belajar siswa. Kendala utama yang dihadapi adalah minimnya pelatihan guru tentang perbedaan individu serta ketimpangan sarana dan prasarana antarsekolah. Kesimpulan: Pembelajaran mendalam yang didasarkan pada profil karakteristik peserta didik bukan lagi pilihan, melainkan keharusan dalam praktik pendidikan abad ke‑21.Kata Kunci: Peserta Didik; Perbedaan Individu; Pembelajaran Mendalam; Kecerdasan Majemuk; Kurikulum Merdeka
Upaya Meningkatan Hasil Belajar Peserta Didik pada Pelajaran Pendidikan Pancasila Menggunakan Model Pembelajaran Game Based Learning Berbasis Kahoot di Kelas X SMA Negeri 10 Depok Sultan Maulana Ramadhan
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 1 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL (FEBRUARY 2026)
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila melalui penerapan model pembelajaran Game Based Learning berbasis Kahoot. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, yaitu Siklus I dan Siklus II, pada peserta didik kelas X 5 SMA Negeri 10 Depok. Data penelitian diperoleh melalui tes hasil belajar dan lembar observasi yang meliputi indikator keseriusan, keaktifan, dan ketuntasan belajar peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar pada setiap indikator pembelajaran. Persentase keseriusan peserta didik meningkat dari 57% pada Siklus I menjadi 87% pada Siklus II, sedangkan keaktifan peserta didik meningkat dari 67% menjadi 85%. Selain itu, ketuntasan hasil belajar pada Bab 2 Membangun Budaya Taat Hukum dengan materi tentang Membangun Kesadaran Hukum dan Menerapkan Perilaku Taat Hukum mengalami peningkatan signifikan, dari 9% pada Siklus I menjadi 78% pada Siklus II dan telah melampaui indikator keberhasilan yang ditetapkan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Game Based Learning berbasis Kahoot mampu menciptakan pembelajaran yang lebih menarik, interaktif, dan efektif, serta berdampak positif terhadap peningkatan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila.
Strategi Guru Raudhatul Athfal dalam Implementasi Pendidikan Antirasisme untuk Membangun Kesadaran Multikultural Anak Usia Dini Khoiriyatus Sa'adah; Fu'ad Arif Noor
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 2 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL (JUNE 2026)
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Anti-racism education at the Raudhatul Athfal (RA) level plays an important role in fostering multicultural awareness and inclusive attitudes from an early age. This study aims to explore teachers’ strategies for implementing anti-racism education in early childhood learning. A qualitative approach with a case study design was employed at RA Siti Khodijah, Karangrowo Village, Wonosalam, Demak. Data were collected through classroom observations, in-depth interviews with eight teachers across six classes involving 130 students, and analysis of learning documents. The findings reveal four key strategies used by teachers: (1) interactive multicultural storytelling, (2) reinforcement of anti-racism values through daily habituation, (3) creation of non-discriminatory classroom interactions, and (4) active parental involvement. Teacher-student interactions showed that empathy, respect, and acceptance of diversity were developed through natural and contextual learning experiences. The study concludes that a holistic approach integrating tolerance and anti-racism values into everyday learning practices effectively promotes multicultural awareness and inclusive behavior among young children.Keywords: Anti-racism Education, Multicultural Awareness, Early ChildhoodAbstrak: Pendidikan anti-rasisme di tingkat Raudhatul Athfal (RA) memainkan peran penting dalam menumbuhkan kesadaran multikultural dan sikap inklusif sejak usia dini. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi strategi guru dalam mengimplementasikan pendidikan anti-rasisme dalam pembelajaran anak usia dini. Pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus digunakan di RA Siti Khodijah, Desa Karangrowo, Wonosalam, Demak. Data dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara mendalam dengan delapan guru di enam kelas yang melibatkan 130 siswa, dan analisis dokumen pembelajaran. Temuan menunjukkan empat strategi utama yang digunakan oleh guru: (1) bercerita multikultural interaktif, (2) penguatan nilai-nilai anti-rasisme melalui pembiasaan sehari-hari, (3) penciptaan interaksi kelas yang tidak diskriminatif, dan (4) keterlibatan aktif orang tua. Interaksi guru-siswa menunjukkan bahwa empati, rasa hormat, dan penerimaan keragaman dikembangkan melalui pengalaman belajar alami dan kontekstual. Studi ini menyimpulkan bahwa pendekatan holistik yang mengintegrasikan toleransi dan nilai-nilai anti-rasisme ke dalam praktik pembelajaran sehari-hari secara efektif meningkatkan kesadaran multikultural dan perilaku inklusif di kalangan anak-anak usia dini.Kata Kunci: Pendidikan Anti-rasisme, Kesadaran Multikultural, Pendidikan Anak Usia Dini

Page 9 of 10 | Total Record : 92