cover
Contact Name
Ryan Taufika
Contact Email
pcejfkip@umsu.ac.id
Phone
+6285216814772
Journal Mail Official
ryantaufika@umsu.ac.id
Editorial Address
Jl. Kapten Muchtar Basri No.3, Glugur Darat II, Kec. Medan Tim., Kota Medan, Sumatera Utara 20238
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL
ISSN : -     EISSN : 29635187     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Pancasila and Citizenship Education Journal: Media Study of Pancasila and Citizenship Education is focused on the study of discourse and citizenship practices in the dimensions and perspectives of cultural diversity, equality, and social justice in the context of socio-economic, civic education and learning, related to issues of social and moral responsibility, community involvement and political literacy, as well as legal awareness. This journal publishes scientific and research-based articles on various Pancasila and civic education, and educational topics where conceptual issues of citizenship, local wisdom, political education, legal education, multiculturalism, and plurality issues are discussed. Pancasila and Citizenship Education Journal are very interested in scientific and professional studies in the discourse and practice of citizenship. We seek submissions of articles that cross the lines of scientific disciplines (interdisciplinary perspectives) that aim at the development of Pancasila and citizenship studies and citizenship education in the local, national, and global scope. Our particular attention is paid to works dealing with historical and contemporary questions of concern regarding other dimensions, meanings, and forms in relation to citizenship and contributing to education for citizenship. Each article published has gone through a peer-reviewed process by designated experts. They have experience in journal management and article publications in prestigious journals. The article published in Kewarganegaraan has met the requirements set by the Editorial Board of this journal.
Articles 92 Documents
Implementasi Media Pembelajaran Visual Menggunakan Canva dalam Meningkatkan Pemahaman Nilai-Nilai Pancasila di Era Digital Hotma Siregar; Vinna Dinda Kemala; Neca Femina; Rosy Andreana; Yuriza Amanda; Nala Alfi Syahri
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 2 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL (JUNE 2026)
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Pancasila Education plays a strategic role in instilling the nation’s fundamental values in students. However, conventional learning methods often make students less interested and experience difficulties in deeply understanding the values of Pancasila. This study aims to examine the effectiveness of visual learning media using Canva in improving students’ understanding of Pancasila values. The research employed a descriptive qualitative approach, with data collected through observation, interviews, and documentation. Canva was utilized to present Pancasila materials in engaging visual forms such as infographics, educational posters, and interactive presentations. The findings indicate that the use of Canva-based visual learning media increases students’ learning interest and helps them understand Pancasila values in a more concrete and contextual manner. Students became more active, enthusiastic, and capable of relating Pancasila values to their daily lives. Therefore, visual learning media using Canva can serve as an effective alternative in Pancasila Education to enhance students’ understanding and internalization of Pancasila values.Keywords: Visual Learning Media, Canva, Pancasila Values, Pancasila EducationAbstrak: Pendidikan Pancasila memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai luhur bangsa kepada peserta didik. Namun, proses pembelajaran yang masih bersifat konvensional sering kali membuat peserta didik kurang tertarik dan kesulitan memahami makna nilai-nilai Pancasila secara mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas media pembelajaran visual menggunakan Canva dalam meningkatkan pemahaman nilai-nilai Pancasila pada peserta didik. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Media Canva dimanfaatkan untuk menyajikan materi Pancasila dalam bentuk visual yang menarik, seperti infografis, poster edukatif, dan presentasi interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran visual berbasis Canva mampu meningkatkan minat belajar peserta didik serta membantu mereka memahami nilai-nilai Pancasila secara lebih konkret dan kontekstual. Peserta didik menjadi lebih aktif, antusias, dan mudah mengaitkan nilai Pancasila dengan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, media pembelajaran visual menggunakan Canva dapat menjadi alternatif yang efektif dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila guna meningkatkan pemahaman dan internalisasi nilai-nilai Pancasila pada peserta didik.Kata Kunci: Media Pembelajaran Visual, Canva, Nilai-Nilai Pancasila, Pendidikan Pancasila
Analisis Implementasi Gerakan Disiplin Positif dalam Membentuk Karakter Mandiri Peserta Didik di SMA Negeri 3 Rantau Utara Fazlan Ade Umri; Rahmadani Indah Nasution; Sarifa Aini; Rohana Rohana
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 1 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This study aims to analyze the implementation of the Positive Discipline Movement in shaping students' independent character at SMAN 3 Rantau Utara. This research employed a qualitative method with a descriptive approach to comprehensively describe the process and impact of positive discipline implementation in learning activities. Data were collected through direct observation of tenth-grade students using an assessment instrument covering five main aspects: compliance with rules, attitude toward teachers, responsibility, cooperation, and self-control. The results indicate that the implementation of positive discipline has a significant impact on the development of students' independent character. The aspect of students’ attitudes toward teachers is categorized as very good through the consistent application of the 5S culture. Meanwhile, compliance with rules, responsibility, and cooperation fall into the good category, indicating that most students demonstrate disciplined and responsible behavior. However, the self-control aspect is still categorized as sufficient, requiring further reinforcement in developing students' self-regulation. It can be concluded that positive discipline is effective in shaping students’ independent character, but it requires consistent implementation, continuous positive reinforcement, and more varied and adaptive classroom management strategies.Keywords: Positive Discipline, Independent Character, Student Behavior, Character EducationAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Gerakan Disiplin Positif dalam membentuk karakter mandiri peserta didik di SMAN 3 Rantau Utara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif guna menggambarkan secara komprehensif proses dan dampak penerapan disiplin positif dalam kegiatan pembelajaran. Data dikumpulkan melalui observasi langsung terhadap peserta didik kelas X dengan menggunakan instrumen penilaian yang mencakup lima aspek utama, yaitu kepatuhan terhadap aturan, sikap terhadap guru, tanggung jawab, kerja sama, dan kontrol diri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi disiplin positif memberikan dampak yang signifikan terhadap pembentukan karakter mandiri peserta didik. Aspek sikap terhadap guru berada pada kategori sangat baik melalui penerapan budaya 5S secara konsisten. Sementara itu, aspek kepatuhan terhadap aturan, tanggung jawab, dan kerja sama berada pada kategori baik, yang menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik telah mampu menunjukkan perilaku disiplin dan tanggung jawab. Namun demikian, aspek kontrol diri masih berada pada kategori cukup, sehingga memerlukan penguatan lebih lanjut dalam pengembangan regulasi diri peserta didik. Disimpulkan bahwa disiplin positif efektif dalam membentuk karakter mandiri peserta didik, tetapi memerlukan konsistensi implementasi, penguatan positif yang berkelanjutan, serta strategi pengelolaan kelas yang lebih variatif dan adaptif.Kata Kunci: Disiplin Positif, Karakter Mandiri, Prilaku Peserta Didik, Pendidikan Karakter
URGENSI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Ananda Pertiwi
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 2 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penulisan ini bertujuan untuk membahas urgensi pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education) sebagai pendidikan karakter bangsa Indonesia melalui demokrasi, HAM dan masyarakat madani. Perubahan Indonesia menuju pada sistem demokrasi merupakan sesuatu yang tidak terelakkan lagi. Pasca jatuhnya rezim Orde Baru di bawah Presiden Soeharto yang lengser pada 21 Mei 1998, Indonesia mengalami proses pembentukan demokrasi meskipun berjalan setelah lebih dari 30 tahun Orde Baru berkuasa. Transisi Indonesia menaiki demokrasi menimbulkan banyak kecemasan dimana pada saat yang sama masyarakat masih cenderung melakukan penyelesaian konflik melalui cara-cara yang tidak demokratis, main hakim sendiri, memaksakan kehendak, dan praktik money politics sebagai cermin dari perilaku dan sikap yang bertolak belakang dengan demokrasi yang diperjuangkan oleh kalangarn reformis selama ini. Perkembangan ini tentu saja merupakan fenomena yang tidak kondusif bagi transisi Indonesia menuju demokrasi yang berkeadaban (Democratic Civility).
Relevansi Landasan Filosofis Pendidikan dan Pendidikan Nilai dalam Pemikiran Ki Hajar Dewantara dagi Penguatan PPKn Fazlan Ade Umri; Ade Pranata Ginting; Muhammad Rafli Ashari; Amin Harahap
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 2 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This study is motivated by the limited understanding among educators regarding the philosophical foundations of education and the suboptimal integration of value education in learning practices. This study aims to analyze the philosophical foundations of education and the concept of value education from the perspective of Ki Hajar Dewantara’s thought. The research employs a qualitative approach using a literature review method by examining various sources, including books, scientific journal articles, and relevant documents. Data were collected through literature searching, reading, and note-taking techniques, and were analyzed using descriptive qualitative analysis. The findings reveal that the philosophical foundations of education encompass metaphysical, epistemological, and axiological aspects that serve as the basis for determining educational direction, goals, and practices. Value education plays a crucial role in shaping students’ character holistically, covering cognitive, affective, and moral dimensions. Ki Hajar Dewantara’s perspective emphasizes that education is a guiding process to develop learners’ natural potential by maintaining the balance of intellect (cipta), feeling (rasa), and intention (karsa). In conclusion, the integration of philosophical foundations and value education in Ki Hajar Dewantara’s perspective remains relevant in addressing contemporary educational challenges and in fostering individuals with strong character and personality.Keywords: Philosophy of Education, Value Education, Ki Hajar Dewantara, PPKnAbstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya pemahaman pendidik terhadap landasan filosofis pendidikan serta kurang optimalnya integrasi pendidikan nilai dalam praktik pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis landasan filosofis pendidikan dan konsep pendidikan nilai dalam perspektif pemikiran Ki Hajar Dewantara. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan kualitatif melalui pengkajian berbagai sumber pustaka, seperti buku, artikel jurnal ilmiah, dan dokumen relevan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran, pembacaan, dan pencatatan, kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa landasan filosofis pendidikan mencakup aspek metafisika, epistemologi, dan aksiologi yang menjadi dasar dalam menentukan arah, tujuan, dan praktik pendidikan. Pendidikan nilai memiliki peran penting dalam membentuk karakter peserta didik secara menyeluruh, tidak hanya pada aspek kognitif, tetapi juga afektif dan moral. Pemikiran Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan merupakan proses tuntunan untuk mengembangkan potensi kodrat peserta didik dengan menekankan keseimbangan cipta, rasa, dan karsa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa integrasi landasan filosofis pendidikan dan pendidikan nilai dalam perspektif Ki Hajar Dewantara tetap relevan dalam menghadapi tantangan pendidikan modern serta dalam membentuk manusia yang berkarakter dan berkepribadian.Kata Kunci: Filsafat Pendidikan, Pendidikan Nilai, Ki Hajar Dewantara, PPKn
Strategi Pemahaman Isu Sosial Melalui Tahapan Empathize dan Define Berbasis Design Thinking dalam Pembelajaran PPKn Siswa Kelas X Wanda Fahira; Afranisha Afranisha; Ade Pranata Ginting; Nurlina Ariani Harahap
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 1 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This research aims to map the growth mindset of senior high school students when they face incomplete grades or academic failure in the Pancasila and Citizenship Education (PPKn) subject. Using a qualitative method with a phenomenological design, data were collected through in-depth interviews and a review of self-reflection documents from 20 students spread across grades 10 to 12. The results of the phenomenological analysis succeeded in formulating three main categories, namely: forms of meaning towards failure, variations in types of emotional reactions and causality patterns (attribution), and the manifestation of academic resilience in civic learning activities. The findings indicate that students who tend to have a growth mindset consider incompleteness as an indicator for improvement, not a limitation on their intellectual potential. This research suggests the need for reconstruction in the provision of feedback by teachers, the application of adaptive learning support (scaffolding), and the creation of a learning climate that accepts mistakes as part of the process of continuously developing citizen character.Keywords: Design Thinking, Empathize, Define, PPKn, Social IssuesAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pemahaman isu sosial melalui tahapan empathize dan define dalam kerangka design thinking pada pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) siswa kelas X. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif untuk menggambarkan secara mendalam proses berpikir dan interaksi sosial siswa dalam memahami permasalahan sosial secara kontekstual. Data diperoleh dari diskusi kelompok, wawancara mendalam, jurnal refleksi siswa, serta dokumentasi pembelajaran yang dianalisis secara induktif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahap empathize membantu siswa memahami isu sosial dari berbagai perspektif, sementara tahap define mendorong siswa merumuskan inti masalah secara lebih terarah dan kritis. Proses ini memperkuat kemampuan berpikir reflektif, empati sosial, dan pemahaman kontekstual siswa terhadap realitas masyarakat. Dengan demikian, penerapan design thinking dalam pembelajaran PPKn memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan literasi sosial dan keterampilan kewarganegaraan peserta didik. Penelitian ini merekomendasikan integrasi pendekatan design thinking dalam pembelajaran PPKn untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang lebih bermakna dan partisipatif.Kata Kunci: Design Thinking, Empathize, Define, PPKn, Isu Sosial
Integrasi Pembelajaran Mendalam dan Manajemen Kepala Sekolah dalam Implementasi Kurikulum Merdeka pada Mata Pelajaran PPKn di Tingkat SMA Ahmad Arif; Alda Anggraini; Irma Amalia; Panggih Nur Adi
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 1 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL (FEBRUARY 2026)
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This study aims to analyze the integration of deep learning and principal management in the implementation of the Independent Curriculum in Pancasila and Citizenship Education (PPKn) at the high school level. The study used a qualitative approach with descriptive methods. Data were obtained through a study of various literature, policy documents, and relevant research findings on deep learning, principal leadership, and the Independent Curriculum. Data analysis was conducted descriptively through the processes of reduction, categorization, interpretation, and drawing conclusions. The results show that deep learning supports the creation of more meaningful, contextual, reflective, and student-centered PPKn learning. The success of its implementation is greatly influenced by the role of the principal as an instructional leader who is able to build a collaborative culture, facilitate teacher professional development, and create a conducive learning ecosystem. The synergy between deep learning and principal management contributes to strengthening students' civic competence, Pancasila character, and 21st-century skills. Therefore, the integration of the two is a crucial factor in optimizing the implementation of the Independent Curriculum in PPKn learning in high school.Keywords: In-depth Learning, Principal Management, Independent Curriculum, Civics, Citizenship Competence.Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis integrasi pembelajaran mendalam (deep learning) dan manajemen kepala sekolah dalam implementasi Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di tingkat SMA. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui studi berbagai literatur, dokumen kebijakan, serta hasil penelitian yang relevan mengenai pembelajaran mendalam, kepemimpinan kepala sekolah, dan Kurikulum Merdeka. Analisis data dilakukan secara deskriptif melalui proses reduksi, kategorisasi, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran mendalam mendukung terciptanya pembelajaran PPKn yang lebih bermakna, kontekstual, reflektif, dan berpusat pada peserta didik. Keberhasilan implementasinya sangat dipengaruhi oleh peran kepala sekolah sebagai instructional leader yang mampu membangun budaya kolaboratif, memfasilitasi pengembangan profesional guru, serta menciptakan ekosistem pembelajaran yang kondusif. Sinergi antara pembelajaran mendalam dan manajemen kepala sekolah berkontribusi terhadap penguatan kompetensi kewarganegaraan, karakter Pancasila, serta keterampilan abad ke-21 peserta didik. Oleh karena itu, integrasi keduanya menjadi faktor penting dalam optimalisasi implementasi Kurikulum Merdeka pada pembelajaran PPKn di SMA.Kata Kunci: Pembelajaran Mendalam, Manajemen Kepala Sekolah, Kurikulum Merdeka, Ppkn, Kompetensi Kewarganegaraan.
Faktor Sosial yang Mempengaruhi Rendahnya Tanggung Jawab Remaja dalam Balapan Liar Jalanan Siti Adawiyah Anwar; Cintya Ardinary; Lathifah Sandra Devi
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 2 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The phenomenon of street racing involving teenagers is a form of deviant behavior that is not only related to violations of the law but also reflects a low level of social responsibility and weak internalization of character values. This study aims to analyze the social factors that influence the low level of responsibility of teenagers in street racing activities. The study used a qualitative approach with a descriptive research type. Data were obtained through in-depth interviews, observation, and documentation of teenagers involved in street racing. Data analysis was carried out through the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions by maintaining data validity through triangulation techniques of sources and methods. The results of the study indicate that there are four main factors that influence the low level of responsibility of teenagers in street racing: peer influence, weak parental supervision, the need for social recognition, and low awareness of the consequences of their actions. The influence of peer groups is a dominant factor because teenagers tend to adapt their behavior to gain acceptance and status in their social environment. These findings indicate that street racing is a social phenomenon formed through interactions between individuals, families, and the community environment. Therefore, preventing street racing is not enough through a repressive approach, but requires strengthening the role of the family, character education, and providing spaces for positive actualization for teenagers.Keywords: Teenagers, Responsibility, Social Factors, Illegal Street RacingAbstrak: Fenomena balapan liar jalanan yang melibatkan remaja merupakan salah satu bentuk perilaku menyimpang yang tidak hanya berkaitan dengan pelanggaran hukum, tetapi juga mencerminkan rendahnya tanggung jawab sosial dan lemahnya internalisasi nilai-nilai karakter. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor sosial yang memengaruhi rendahnya tanggung jawab remaja dalam aktivitas balapan liar jalanan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap remaja yang terlibat dalam balapan liar. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan menjaga keabsahan data melalui teknik triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat faktor utama yang memengaruhi rendahnya tanggung jawab remaja dalam balapan liar, yaitu pengaruh teman sebaya, lemahnya pengawasan orang tua, kebutuhan akan pengakuan sosial, dan rendahnya kesadaran terhadap konsekuensi dari tindakan yang dilakukan. Pengaruh kelompok sebaya menjadi faktor dominan karena remaja cenderung menyesuaikan perilaku untuk memperoleh penerimaan dan status dalam lingkungan sosialnya. Temuan ini menunjukkan bahwa balapan liar merupakan fenomena sosial yang terbentuk melalui interaksi antara individu, keluarga, dan lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, pencegahan balapan liar tidak cukup dilakukan melalui pendekatan represif, tetapi memerlukan penguatan peran keluarga, pendidikan karakter, serta penyediaan ruang aktualisasi positif bagi remaja.Kata Kunci: Remaja, Tanggung Jawab, Faktor Sosial, Balap Liar Jalanan
Optimalisasi Layanan BK Berbasis Multikultural dalam Menanamkan Nilai Toleransi dan Kebhinekaan pada Gen-Z Vinda Chairunnisa; Asbi Asbi
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 2 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL (JUNE 2026)
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The increasing diversity of social interactions in the digital era has created new challenges in fostering tolerance and appreciation of diversity among Gen-Z. Multicultural-based guidance and counseling services are needed as a strategic approach to strengthen the values of tolerance and diversity. This study aims to analyze the optimization of multicultural guidance and counseling services in fostering the values of tolerance and diversity among students. The study used a qualitative descriptive approach implemented on students of the Guidance and Counseling Study Program at Al-Washliyah Muslim Nusantara University (UMN) Medan. Participants were selected through purposive sampling technique. Data were collected through interviews, observation, and documentation, then analyzed using the Miles and Huberman interactive model. The results of the study indicate that multicultural-based guidance and counseling services play an important role in increasing diversity awareness, intercultural understanding, social empathy, and inclusive behavior of students. Optimization of services is carried out through multicultural information services, classical guidance, multicultural group counseling, cross-cultural dialogue, diversity project-based learning, and digital counseling. This research produced a conceptual model consisting of five stages: multicultural awareness, intercultural understanding, empathy development, value internalization, and inclusive behavior. This model contributes to developing students who are tolerant, inclusive, democratic, and oriented toward the values of diversity.Keywords: Multicultural Guidance and Counseling, Tolerance, Diversity, Generation ZAbstrak: Meningkatnya keberagaman interaksi sosial di era digital telah menciptakan tantangan baru dalam menumbuhkan toleransi dan apresiasi terhadap keberagaman di kalangan Gen-Z. Layanan bimbingan dan konseling berbasis multikultural dibutuhkan sebagai pendekatan strategis untuk memperkuat nilai-nilai toleransi dan keberagaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis optimalisasi layanan bimbingan dan konseling multikultural dalam menumbuhkan nilai toleransi dan keberagaman di kalangan Mahasiswa. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang dilaksanakan pada mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al-Washliyah Medan. Partisipan dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa layanan BK berbasis multikultural berperan penting dalam meningkatkan kesadaran keberagaman, pemahaman antarbudaya, empati sosial, dan perilaku inklusif mahasiswa. Optimalisasi layanan dilakukan melalui layanan informasi multikultural, bimbingan klasikal, konseling kelompok multikultural, dialog lintas budaya, pembelajaran berbasis proyek keberagaman, dan konseling digital. Penelitian ini menghasilkan model konseptual yang terdiri atas lima tahapan, yaitu multicultural awareness, intercultural understanding, empathy development, value internalization, dan inclusive behaviour. Model tersebut berkontribusi dalam membentuk mahasiswa yang toleran, inklusif, demokratis, dan berorientasi pada nilai-nilai kebhinekaan.Kata Kunci: Bimbingan dan Konseling Multikultural, Toleransi, Keberagaman, Generasi Z
Fulfillment of Women's Rights After Divorce in Religious Courts as Protection for Vulnerable Groups: An Islamic Law and Gender Justice Perspective Sri Armaini; Ismail Koto
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 2 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL (JUNE 2026)
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Marriage creates reciprocal rights and obligations between husband and wife, including the husband's obligation to provide maintenance in the form of living expenses, clothing (kiswah), and housing (maskan). However, marital disputes may lead to divorce as a last resort when reconciliation can no longer be achieved. In Indonesia, divorce is regulated under Law Number 1 of 1974 concerning Marriage, which defines marriage as a physical and spiritual bond aimed at forming a happy and enduring family based on belief in God Almighty. Following the issuance of Supreme Court Regulation (PERMA) concerning the implementation of women's rights after divorce, judges may order the payment of iddah maintenance, mut’ah, and outstanding maintenance (nafkah madliyah) before the pronouncement of the divorce oath. This provision is intended to strengthen legal protection for women after divorce. Nevertheless, the implementation of post-divorce rights remains inconsistent. In practice, some court decisions have not fully reflected the principles of justice and legal protection for women, resulting in unequal fulfillment of their rights. Therefore, a more comprehensive approach is needed to ensure that post-divorce legal protection effectively promotes justice, legal certainty, and welfare, particularly for women as a vulnerable party in divorce proceedings.Keywords: Rights, Women, Divorce, Islam, Justice.Abstrak: Perkawinan menciptakan hak dan kewajiban timbal balik antara suami dan istri, termasuk kewajiban suami untuk memberikan nafkah berupa biaya hidup, pakaian (kiswah), dan tempat tinggal (maskan). Namun, perselisihan perkawinan dapat berujung pada perceraian sebagai upaya terakhir ketika rekonsiliasi tidak lagi dapat dicapai. Di Indonesia, perceraian diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang mendefinisikan perkawinan sebagai ikatan fisik dan spiritual yang bertujuan membentuk keluarga bahagia dan langgeng berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menyusul diterbitkannya Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) tentang pelaksanaan hak-hak perempuan setelah perceraian, hakim dapat memerintahkan pembayaran nafkah iddah, mut’ah, dan nafkah tertunggak (nafkah madliyah) sebelum pengucapan sumpah cerai. Ketentuan ini dimaksudkan untuk memperkuat perlindungan hukum bagi perempuan setelah perceraian. Meskipun demikian, pelaksanaan hak-hak pasca-perceraian masih belum konsisten. Dalam praktiknya, beberapa keputusan pengadilan belum sepenuhnya mencerminkan prinsip-prinsip keadilan dan perlindungan hukum bagi perempuan, sehingga mengakibatkan pemenuhan hak-hak mereka yang tidak setara. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif untuk memastikan bahwa perlindungan hukum pasca perceraian secara efektif mendorong keadilan, kepastian hukum, dan kesejahteraan, khususnya bagi perempuan sebagai pihak yang rentan dalam proses perceraian.Kata Kunci: Hak, Perempuan, Perceraian, Islam, Keadilan
Menuntun Kodrat Anak: Refleksi Filosofis Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam Membangun Karakter Siswa Fanny Puspasari Sianipar; Syarifa Aini; Ema Linda Lumban Gaol; Amin Harahap
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 1 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL (FEBRUARY 2026)
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Education in the era of digital transformation faces significant challenges in the form of the risk of cultural identity erosion and moral degradation among the younger generation. This study aims to re-explore the relevance of Ki Hadjar Dewantara's (KHD) philosophical thoughts in strengthening students' character, particularly through the Trisakti Jiwa concept and the Tringa method, and its implementation in the school environment. The method used in this study is a literature study with a qualitative descriptive approach contextualized within the educational ecosystem at SMA Negeri 1 Rantau Utara. The results show that effective character development rests on the harmonization of human internal potential, which includes the aspects of Cipta (intellectual), Rasa (emotional), and Karsa (determination). The process of internalizing these noble values is optimally achieved through the Tringa stages, namely Ngerti (cognitive understanding), Ngrasa (conscience appreciation), and Nglakoni (behavioral actualization). The conclusion of this study emphasizes that schools as "educations" must apply the paradigm of "guiding" children's nature instead of demanding uniformity, in order to create a liberating educational ecosystem. Synergy between schools, families, and communities is the key to successfully developing the character of students who are academically intelligent and deeply rooted in the nation's noble values.Keywords: Ki Hadjar Dewantara, Character Education, Trisakti Jiwa, Tringa, GuidingAbstrak: Pendidikan di era transformasi digital menghadapi tantangan signifikan berupa risiko erosi identitas budaya dan degradasi moral di kalangan generasi muda. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi kembali relevansi pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara (KHD) dalam memperkuat karakter siswa, khususnya melalui konsep Trisakti Jiwa dan metode Tringa, serta implementasinya di lingkungan sekolah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur dengan pendekatan deskriptif kualitatif yang dikontekstualisasikan dalam ekosistem pendidikan di SMA Negeri 1 Rantau Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan karakter yang efektif bertumpu pada harmonisasi potensi internal manusia, yang meliputi aspek Cipta (intelektual), Rasa (emosional), dan Karsa (tekad). Proses internalisasi nilai-nilai luhur ini secara optimal dicapai melalui tahapan Tringa, yaitu Ngerti (pemahaman kognitif), Ngrasa (apresiasi hati nurani), dan Nglakoni (aktualisasi perilaku). Kesimpulan penelitian ini menekankan bahwa sekolah sebagai "lembaga pendidikan" harus menerapkan paradigma "membimbing" fitrah anak alih-alih menuntut keseragaman, untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang membebaskan. Sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat adalah kunci keberhasilan dalam mengembangkan karakter siswa yang cerdas secara akademis dan berakar kuat pada nilai-nilai luhur bangsa.Kata Kunci: Ki Hadjar Dewantara, Pendidikan Karakter, Trisakti Jiwa, Tringa, Pembimbing

Page 7 of 10 | Total Record : 92