cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.ilmiah.ars@usk.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.ilmiah.ars@usk.ac.id
Editorial Address
Jalan Tengku Syech Abdur Rauf No. 7 Darussalam, Banda Aceh, Aceh, 23111 INDONESIA
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan
ISSN : 26551586     EISSN : 26551586     DOI : 10.24815/jimap.v7i2.19596
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan (JIMAP) is a peer-reviewed academic journal published by the Department of Architecture and Planning, Faculty of Engineering, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Indonesia. The journal presents design, research and development in the field of architecture and planning. Authors must register to this journal before submitting their work and they must follow the Author Guidelines of the journal. Submissions that do not adhere to the guidelines provided will be REJECTED. Please submit your article through the online submission of this journal. You may address further inquiries to the Editor at jurnal.ilmiah.ars@usk.ac.id. JIMAP Journal published four times a year, in February, May, August and November
Articles 268 Documents
Pusat Pagelaran Seni dan Budaya Nusantara di Banda Aceh Adelia Adelia; Izziah Izziah; Zulhadi Sahputra
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan Vol 7, No 2 (2023): Volume 7, No.2, Mei 2023
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jimap.v7i2.19596

Abstract

Budaya memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang multikultural. Budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi mampu membentuk identitas komunitas dan mempengaruhi pola perilaku pemiliknya. Hingga saat ini berbagai seni budaya terus menerus mengalami degradasi sehingga dibutuhkan upaya pelestarian. Pemerintah Aceh melakukannya dengan membangun Taman Budaya guna memfasilitasi kegiatan seniman dan budayawan, tetapi wadah tersebut belum cukup maksimal untuk memfasilitasi berbagai aktivitas penggunanya. Oleh karena itu dibutuhkan wadah baru untuk pengembangan dan pelestarian budaya berupa gedung Pusat Pagelaran Seni dan Budaya Nusantara di Banda Aceh. Perancangan ini terletak di Jalan Soekarnoe Hatta, Ulee Lheue, Kec. Meuraxa, Kota Banda Aceh. Lokasi ini dipilih berdasarkan kecocokan terhadap peruntukan lahan, tingkat kebisingan, tingkat kepadatan, akses transportasi umum, kepadatan laluntias, jarak dengan pusat kota, dan dekat dengan cagar budaya. Tema yang diterapkan adalah gaya arsitektur neo-vernakular dengan menggunakan budaya sekitar dan tetap ramah lingkungan. Dalam penerapannya terdapat lima prinsip neo-vernakular yang digunakan yaitu, meminimalisir ornamen dan dekorasi, menggunakan garis vertikal dan horizontal, memanfaatkan cahaya alami, memiliki ruang terbuka, dan menggunakan material lokal.
Evaluasi Pencahayaan Alami Pada Umah Pitu Ruang di Desa Buntul Linge Salsabilla, Salsabilla; Sari, Laina Hilma; Edytia, Muhammad Heru Arie
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan Vol 7, No 3 (2023): Volume 7, No.3, Agustus 2023
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jimap.v7i3.24832

Abstract

Terdapat beberapa wilayah di Indonesia yang masih mempertahankan arsitektur tradisional dengan tetap menjaga kearifan lokal dan mampu bertahan lama walaupun tidak ditempati lagi oleh masyarakat. Salah satu contoh arsitektur tersebut adalah Umah Pitu Ruang (UPR) yang terletak di desa Buntul Linge, Aceh Tengah. Pada desa ini, terdapat dua UPR yaitu Umah Pitu Ruang 1 (UPR 1) dan Umah Pitu Ruang 2 (UPR 2). Ada beberapa faktor yang membuat bangunan ini tidak ditempati kembali seperti faktor kenyamanan pencahayaan yang gelap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah tingkat pencahayaan yang masuk pada kedua UPR sudah sesuai standar yang ditetapkan oleh SNI 03-6575-2001 dan mengetahui orientasi serta desain kedua UPR dalam merespon masuknya pencahayaan alami. Metode pengumpulan data menggunakan metode kuantitatif yang diperoleh dari hasil observasi dan pengukuran lapangan. Hasil penelitian menunjukkan jika kinerja pencahayaan alami pada kedua UPR belum memenuhi standar SNI 03-6575-2001. Pada bilik UPR 1, nilai iluminasi yang diukur mencapai 3,7 lux sedangkan pada bilik UPR 2 mencapai 3,1 lux. Sementara pada ruang serami, nilai iluminasi mencapai 306,4 lux pada UPR 1 dan 1.052,9 lux di UPR 2. Disisi lain, pada area lepo diperoleh nilai iluminasi 5.727 lux pada UPR 1 dan 4.140 lux pada UPR 2. Pengaplikasian orientasi dan desain bangunan UPR menjadi faktor pencahayaan yang masuk belum memenuhi standar sehingga hal tersebut perlu diperhatikan kembali.
Penerapan Tema Arsitektur Simbolik pada Perancangan Wedding Center di Banda Aceh Zakia, Jihan Aprillia; Mufiaty, Hilda; Nasution, Burhan
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan Vol 8, No 3 (2024): Volume 8, No. 3, Agustus 2024
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jimap.v8i3.27346

Abstract

Kota Banda Aceh adalah sebuah kotamadya dan ibu kota Provinsi Aceh, provinsi paling utara di pulau Sumatera, Indonesia. Sebagai pusat pemerintahan, Banda Aceh merupakan pusat kegiatan ekonomi, politik, sosial dan budaya. Kota Banda Aceh juga merupakan pusat perekonomian dan komersial yang dinamis. Pada Perancangan Wedding Center di Banda Aceh ini Menerapkan Tema Arsitektur Simbolik. Aspek Simbolik dalam Arsitektuk hal tersebut dapat dilihat secara langsung melalui bentuk bangunan, fasad bangunan, atau secara tidak langsung melalui konsep dan ide bentuk bangunan. Tanda dan simbol sering digunakan dalam karya arsitektur baik secara harfiah, tergantung bentuknya, maupun secara implisit atau mewakili makna tertentu. Bangunan ini pengguna nya yaitu calon pengantin Wanita dan calon pengantin Pria. Dengan adanya rancangan ini akan menjadi salah satu fasilitas publik yang berfungsi sebagai pelaksanaan resepsi pernikahan dan juga menyediakan semua fasilitas pernikahan yang kompleks dan lengkap. Dengan adanya fasillitas dan jasa yang lengkap dapat menyediakan acara pernikahan yang kompleks baik itu Pre-wedding (sebelum pernikahan), Wedding (sewaktu acara pernikahan dilaksanakan), dan After Wedding (sesudah acara pernikahan dilaksanakan) secara mudah, lengkap, dan terpusat.
Perioderisasi Arsitektur Kolonial pada Gedung Bank Indonesia Provinsi Aceh Noer Haidar, Muhammad Izuddin; Nursaniah, Cut; Ridwan, Nasrullah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan Vol 8, No 1 (2024): Volume 8, No.1, Februari 2024
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jimap.v8i1.26786

Abstract

Bangunan Arsitektur Kolonial yang ada di Indonesia memiliki gaya elemen sendiri di setiap tahap perkembangannya. Salah satu contohnya adalah De Javasche Bank atau Bank Indonesia Provinsi Aceh yang merupakan Bangunan Objek Arsitektur Kolonial yang berkembang di kota Banda Aceh. Tujuan dari penelitian ini adalah Mengidentifikasi Perioderisasi Arsitektur kolonial Bank Indonesia Provinsi Aceh dengan mengacu pada beberapa teori, termasuk teori Karakteristik Arsitektur Kolonial dan perioderisasi arsitektur kolonial di Indonesia. Metodologi penelitian yang digunakan adalah metodologi Kualitatif Deskriptif, yang melibatkan beberapa pendekatan seperti Observasi langsung ke lapangan, Pengambilan Dokumentasi, serta melakukan proses Wawancara. Ciri khas dari De Javasche Bank terlihat dari fasadnya yang simetris, terdiri dari tiga lantai, dengan atap berbentuk perisai atau limasan, serta memiliki jendela yang cukup besar yang hampir mencakup seluruh bagian bangunan. Bangunan ini didominasi oleh warna putih. Melalui hasil dari penelitian yang telah dijalankan, disimpulkan bahwa Bank Indonesia Provinsi Aceh menjadi salah satu gambaran dari warisan arsitektur kolonial yang masih lestari dalam masyarakat saat periode transisi, dan gedung tersebut didirikan di Kota Banda Aceh.
Analisis Pola Sebaran dan Arahan Lokasi Minimarket Waralaba di Kota Banda Aceh Zahara, Cut Siti Ridha; Agussaini, Halis; Aulia, Fahmi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan Vol 8, No 3 (2024): Volume 8, No. 3, Agustus 2024
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jimap.v8i3.21561

Abstract

Peningkatan jumlah gerai minimarket waralaba di Kota Banda Aceh mengalami penolakan dari beberapa pihak karena kehadirannya dinilai merugikan pasar yang berada di sekitarannya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini kuantitatif deskriptif. Untuk menganalisis data digunakan aplikasi Gis dengan menggunakan tool nearest neighbor analysis, buffer, layer dan heatmap. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola sebaran minimarket waralaba di Kota Banda Aceh sebagai pertimbangan dalam pemberian izin usaha agar menghindari terjadinya tumpang tindih area pelayanan minimarket waralaba dan menjaga persaingan dalam pelaku ekonomi lokal sehingga tidak terjadi persaingan yang tidak sehat. Hasil penelitian menunjukkan bahwasannya pola sebaran minimarket waralaba di Kota Banda Aceh memiliki pola sebaran mengelompok dengan nilai z-score -2,06. Adapun lokasi yang direkomendasikan untuk masa yang akan datang terdapat tujuh rencana pengembangan dengan mempertimbangkan Peraturan Walikota No 26 Tahun 2017 (kesesuaian lokasi) dan empat variabel lainnya yaitu kepadatan bangunan, jalan arteri, radius pelayanan minimarket waralaba eksisting, serta jarak dan radius jangkauan pelayanan pasar tradisional.
Perancangan Pusat Pengolahan Songket Aceh dengan Pendekatan Analogi di Banda Aceh Saleh, Elvira Nadya; Rauzi, Era Nopera; Edytia, Muhammad Heru Arie
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan Vol 8, No 1 (2024): Volume 8, No.1, Februari 2024
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jimap.v8i1.24877

Abstract

Pemerintah Aceh dan Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) terus berusaha untuk mempertahankan dan melestarikan tradisi kerajinan Songket Aceh melalui berbagai upaya dan program yang sedang dijalankan. Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam upaya tersebut seperti pengenalan, peningkatan keterampilan pengrajin, kegiatan produksi serta kegiatan promosi dan pemasaran. Hal ini dilakukan untuk menanggapi keberadaan songket Aceh sudah mulai banyak dilupakan, khususnya oleh masyarakat Aceh. Oleh karena itu dihadirkanlah sebuah fasilitas yang dapat mewadahi segala aktifitas pelestarian dan pengenalan serta promosi songket Aceh. Penyediaan fasilitas ini berada pada lokasi pariwisata dan komersil sesuai dengan peraturan daerah Banda Aceh. Fasilitas akan dirancang berdasarkan tahap pembuatan songket serta karakteristik khusus dengan penerapan pendekatan arsitektur analogi. Tema yang diterapkan ialah Cultural Symbol yang menganalogikan dan mencerminkan simbol-simbol budaya pada proses pembuatan serta hasil akhir. Fasilitas ini akan dibagi menjadi 4 fungsi utama, yaitu fungsi produksi, fungsi promosi dan pemasaran, fungsi edukasi dan fungsi penunjang. Diharapkan fasilitas ini dapat membantu pemerintah Aceh dan Dekranasda dalam melestarikan kembali kerajinan songket Aceh.
Volume 7, No.3, Agustus 2023 Dewi, S.T., M.T., M.Sc., Cut
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan Vol 7, No 3 (2023): Volume 7, No.3, Agustus 2023
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jimap.v7i3.28507

Abstract

Arsitektur Kontemporer dalam Perancangan Hotel Resort di Pantai Iboih, Sabang Rihanna, Rihanna; Ariatsyah, Ardian; Priandi, Riza
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan Vol 8, No 2 (2024): Volume 8, No.2, Mei 2024
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jimap.v8i2.28191

Abstract

Aceh merupakan salah satu provinsi Indonesia yang terletak sebelah barat Sumatra. Aceh memiliki tempat wisata alam yang sangat banyak diminati oleh wisatawan. Salah satu tempat wisata yang sangat diminati berada di Kota Sabang yaitu Pantai Iboih yang berkarateristik pantai berpasir dan berkarang indah yang menjadi daya tarik bagi wisatawa, Pantai Iboih juga berhadapan dengan Pulau Rubiah yang merupakan pulau destinasi bagi parawisata untuk melakukan snorkelling dan hal seru lainnya. Dengan adanya peningkatan jumlah pariwisata setiap tahunnya, maka perlu adanya sarana untuk penginapan hotel resort yang memiliki standard bintang 5 dengan fasilitas yang terpenuhi. Perancangan hotel resort pada kawasan Pantai Iboih untuk memberikan fasilitas kepada parawisata yang ingin bermalam di Pantai Iboih. Pada era berkembang saat ini banyak muncul berbagai konsep tema arsitektur, agar fasad yang didesain pada hotel resort dapat menampilkan kesan yang menarik dan nyaman bagi wisatawan maka dalam perancangan ini menerapkan konsep arsitektur kontemporer baik pada interior maupun eksterior bangunan dengan penekanan rancangan yang menggunakan warna-warna netral sesuai dengan standard konsep arsitektur kontemporer. Arsitektur kontemporer adalah arsitektur yang memiliki kebebasan untuk berekspresi dan berkreasi, dapat menampilkan suatu yang berbeda dari aliran terbaru. Diharapkan dengan adanya hasil rancangan hotel resort di Pantai Iboih dapat mendukung fasilias bagi wisatawan dan menjadikan rancangan sebagai tempat wisata.
Perancangan Taman Museum Kerajaan Aceh Aden, Muhammad Januar Jabbar; Irwansyah, Mirza; Sawab, Husnus
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan Vol 7, No 4 (2023): Volume 7, No.4, November 2023
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jimap.v7i4.24851

Abstract

AbstrakIndonesia adalah negara yang mayoritas agamanya adalah Islam. Aceh dianggap sebagai tempat dimulainya penyebaran Islam di Indonesia dan memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara. Pada awal abad ke-17, Sejarah Aceh diwarnai oleh kebebasan politik dan penolakan keras terhadap kendali orang asing, termasuk bekas penjajah Belanda dan pemerintah Indonesia. Jika dibandingkan dengan dengan provinsi lainnya, Aceh adalah wilayah yang sangat konservatif (menjunjung tinggi nilai agama) dan kerajaan Islam tertua di Indonesia yaitu Samudra Pasai dan berkembang menjadi kerajaan yang lebih besar yaitu Kerajaan Aceh. Namun sangat disayangkan belum adanya tempat yang dapat menuliskan sejarah Kerajaan Aceh tersebut. Persentase penduduk Muslim di Aceh adalah yang tertinggi di Indonesia dan mereka hidup sesuai syariah Islam. Berbeda dengan kebanyakan provinsi lain di Indonesia, Aceh memiliki otonomi yang diatur sendiri karena alasan sejarah. Agar tempat penulisan ini memiliki unsur yang rekreatif, maka bentuk tempat dibuat dengan bentuk taman museum (museum outdoor). Sehingga tempat ini dapat memiliki 2 fungsi sekaligus yaitu tempat konservasi sejarah dan fungsi sebagai objek wisata edukatif. dengan hal ini pengunjung juga dapat melakukan 2 aktifitas sekaligus yaitu rekreasi dan belajar. Taman museum ini dibungkus dengan gaya islamic garden supaya dapat merefleksikan bagaimana bentuk Kerajaan Aceh terdahulu yang banyak terpengaruhi dengan gaya Kerajaan Turki. Taman ini diharapkan dapat menambah pemasukan daerah dari sektor pariwisata dan menambah nilai historis pada wilayah aceh itu sendiri.Design of the Aceh Kingdom Museum ParkAbstractIndonesia is a country where the majority religion is Islam. Aceh is considered as the starting place for the spread of Islam in Indonesia and played an important role in the spread of Islam in Southeast Asia. In the early 17th century, Aceh's history was marked by political freedom and strong resistance to the control of foreigners, including the former Dutch colonialists and the Indonesian government. When compared to other provinces, Aceh is a very conservative region (upholding religious values) and the oldest Islamic kingdom in Indonesia, namely Samudra Pasai, developed into a larger kingdom, namely the Kingdom of Aceh. But it is very unfortunate that there is no place that can write down the history of the Kingdom of Aceh. The percentage of Muslim population in Aceh is the highest in Indonesia and they live according to Islamic sharia. Unlike most other provinces in Indonesia, Aceh has self-governing autonomy for historical reasons. So that the place for writing has a recreational element, the shape of the place is made in the form of a museum park (outdoor museum). So that this place can have 2 functions at once, namely a place of historical conservation and a function as an educational tourist attraction. With this, visitors can also do 2 activities at once, namely recreation and study. The museum garden is wrapped in an Islamic garden style so that it can reflect how the former Aceh Kingdom was heavily influenced by the Turkish Empire style. This park is expected to increase regional income from the tourism sector and add historical value to the Aceh region itself.
Desain Hotel Resort dengan Pendekatan Waterfront di Pantai Alue Naga, Banda Aceh Mahfuzi, Muhammad Kamil; Muftiadi, Muftiadi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan Vol 8, No 1 (2024): Volume 8, No.1, Februari 2024
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jimap.v8i1.26725

Abstract

Sejak pandemi global yang melanda seluruh aspek kehidupan di dunia, industri pariwisata menjadi tidak sama lagi. Dengan merosotnya tingkat pariwisata, kini hotel resort menjadi sebuah peluang dengan kembali meningkatnya nilai pariwisata di setiap daerah yang ada di Indonesia. Faktor lain tercipta ketika pandemi berakhir dan ekosistem kembali berjalan terdapat fakta bahwa kelelahan dalam bekerja dapat mengganggu produktivitas, kesehatan fisik dan mental. Karena itu kebutuhan untuk berlibur sangat dibutuhkan. Perancangan ini didasarkan pada berbagai metode analisis yang mencakup analisis site, analisis penzoningan, analisis pengguna. Analisis site akan mengidentifikasi bagaimana aspek alam dan lingkungan setempat yang mempengaruhi hasil desain. Analisis penzoningan akan mempertimbangkan pencakupan area terhadap luas wilayah. Analisis pengguna akan memastikan bahwa hotel dan resort beroperasi sesuai dengan perilaku dan kegiatan pengguna serta memberikan besaran ruang yang nyaman dan efisien bagi pengguna. Pendekatan waterfront concept akan menjadi inovasi dalam perancangan ini, dengan memunculkan perairan pada resort menjadi solusi terkait dengan permasalahan kenyamanan termal dan visualisasi lautan yang tidak tercapai bagi penggunjung. Hotel dan resort ini akan dirancang dengan konsep arsitektur modern dengan menggabungkan elemenelemen inovatif dan fungsional. Hasil dari perancangan ini diharapkan adalah sebuah hotel dan resort yang akan menjadi destinasi wisata yang sempurna bagi wisatawan yang mencari keseimbangan dan kebahagiaan dalam suasana alam pantai yang indah serta menyediakan pengalaman liburan yang unik dan menyenangkan.