cover
Contact Name
Rudy Budiatmaja
Contact Email
rudyatmaja12398@gmail.com
Phone
+6285928918217
Journal Mail Official
rudyatmaja12398@gmail.com
Editorial Address
https://e-journal.usd.ac.id/index.php/Divinitas/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual
ISSN : 29885434     EISSN : 29882311     DOI : 10.24071
Divinitas: Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual develops contextual Philosophical and Theological discourses in dialogue with sociological, anthropological, comparative religion, religious studies, historical, cultural and psychological perspectives and takes the diversity of Asian societies and cultures as its context. The journal is open to undergraduated student, graduated student and scholars from all religious backgrounds.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2023): Divinitas July" : 10 Documents clear
Kekerasan Perguruan Bela Diri di Dili, Timor Leste: “Politik Identitas Kaum Kapitalis dan Memicu Pergeseran Identitas” Paing, Reneldus Maryono; Lelono, Martinus Joko
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 1, No 2 (2023): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v1i2.6710

Abstract

Alteration and shift in society can affect the identity of every person and a group. One of the effect of the alteration that appears is in martial art sector in Dili, Timor Leste. Poverty, the low percentage of human resources and unemployment becomes the main problem. In addition, sly tricks that are rolled by the capitalism and elite politics also drag them into identity politics. This case causes massive violation among general society and the society that moves in martial art and this turns out into identity shift. This reality invites Church of Timor Leste to take part in preventing this case by creatingit as the media of mission and pastoral.AbstrakPerubahan dan pergeseran sosial masyarakat mempengaruhi identitas setiap manusia dan kelompok. Salah satunya tampak dalam perguruan bela diri di Dili, Timor Leste. Kemiskinan, rendahnya sumber daya manusia dan pengangguran menjadi penyebabnya. Selain itu, ada permainan dari para kaum kapital yang membawa mereka pada politik identitas sehingga menimbulkan kekerasan dan pergeseran identitas tersebut. Realitas ini mengundang Gereja Timor Leste untuk mengambil peran dalam mengatasi persoalan dengan menjadikan ini sebagai medan misi dan pastoral.
Pewahyuan Allah dalam Perspektif Dei Verbum dan Kitab Suci Triwayudi, Gregorius Sigit; Kristiyanto, Nikolas
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 1, No 2 (2023): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v1i2.6712

Abstract

The Catholic Church has much understanding of the sources of their faith in God. One of them is revelation, it was believed that come  from God Himself. It contains communication between God and human. The understanding of revelation as a means of communicating the presence of God and all his righteousness aims to enable human to have faith in Him. The process of responding to God's revelation is called the process by which human has faith. Therefore, faith and revelation are inseparable from each other. Revelation makes people believe in God and faith makes people able to accept God in their lives. Revelation that is peculiar to the Catholic Church is very different from revelations according to common and other religious views. These revelations are delivered through Scripture, both in the Old Testament and in the New Testament, each of which has the same emphasis on revelation in different ways. Today one of the tasks of the Church is to participate in continuing God's revelation in daily life in various ways, certainly in today's all-digital world. Revelation in this digital world is often referred to as digital revelation.  God's revelation remains present in every age through His presence in the Church, which makes more and more people believe in Him.AbstrakGereja Katolik memiliki pemahaman yang mendalam tentang sumber-sumber iman mereka kepada Allah. Salah satunya adalah wahyu, yang diyakini berasal langsung dari Allah sendiri. Wahyu ini mengandung komunikasi antara Allah dan manusia. Pemahaman tentang wahyu sebagai sarana untuk menyampaikan kehadiran Allah dan segala keadilan-Nya bertujuan untuk memampukan manusia memiliki iman kepada-Nya. Proses merespons wahyu Allah disebut sebagai proses di mana manusia memperoleh iman. Oleh karena itu, iman dan wahyu tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Wahyu membuat orang percaya kepada Allah, dan iman membuat orang mampu menerima Allah dalam hidup mereka. Wahyu yang khas bagi Gereja Katolik sangat berbeda dengan wahyu menurut pandangan umum dan agama lain. Wahyu-wahyu ini disampaikan melalui Kitab Suci, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, masing-masing dengan penekanan yang sama pada wahyu namun dengan cara yang berbeda. Hari ini, salah satu tugas Gereja adalah berpartisipasi dalam melanjutkan wahyu Allah dalam kehidupan sehari-hari dengan berbagai cara, terutama di dunia digital saat ini. Wahyu dalam dunia digital ini sering disebut sebagai wahyu digital. Wahyu Allah tetap hadir di setiap zaman melalui kehadiran-Nya dalam Gereja, yang membuat semakin banyak orang percaya kepada-Nya.
Hagar, Batu yang Dibuang tetapi Dipilih oleh Allah Doki, Meylianus Rahayu
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 1, No 2 (2023): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v1i2.6748

Abstract

Women often get unfair treatment either by their own people or by men. But women have the strength to face all that. In this paper, the character raised is Hagar. He is a foreigner who enters and lives in the culture of the Israelites. She became a helper, wife and mother to Ishmael, Abraham's son. In her life story, her role as wife and mother for Ishmael did not make her rank rise. Instead, he was still treated as a slave by Sarai. This conflict between him and Sarai became a very important story in the history of the Israelites and the surrounding nations. This paper will provide a reflection on the role of God in their conflict. Even though he suffered God still remember Him. In fact, she was appointed as the mother of other nations.AbstrakWanita seringkali mendapatkan perlakuan tidak adil baik itu oleh kaumnya sendiri maupun oleh kaum lelaki. Namun wanita memiliki kekuatan untuk menghadapi semuanya itu. Dalam tulisan ini, tokoh yang diangkat adalah Hagar. Ia adalah orang asing yang masuk dan hidup dalam budaya bangsa Israel. Ia menjadi pembantu, istri sekaligus ibu bagi Ismael, anak Abraham. Dalam kisah hidupnya, peranannya sebagai istri dan ibu bagi Ismael tidak membuat derajatnya menjadi naik. Ia malahan tetap diperlakukan sebagai budak oleh Sarai. Konflik antara dirinya dan Sarai inilah yang menjadi cerita yang sangat penting dalam sejarah bangsa Israel dan bangsa sekitarnya. Tulisan ini akan memberikan refleksi tentang peranan Tuhan dalam pertikaian mereka. Walaupun ia menderita Tuhan tetap mengingat-Nya. Malahan ia diangkat menjadi ibu bagi bangsa lainnya.
Filsafat Taoisme Nefrindo, Oktavianus; Koli, Yovendi Mali
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 1, No 2 (2023): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v1i2.6814

Abstract

Taoist philosophy cannot be confused with other Eastern philosophical traditions. It is anti-system and has unique elements. Metaphysically, Taoism is monistic, with everything coming from the Dao or Tao. Ontologically, everything exists because it participates in the Tao, and its essence is within the Tao itself. Axiologically, Taoism values individual happiness achieved by harmonizing with the laws of nature. Ethically, Taoism sees the universe as originating from the Tao, and to return to the Tao, one must harmonize oneself with the rhythm of nature. Epistemologically, Taoism approaches truth with negativity, as the Tao cannot be expressed in human language. Institutionalized Taoism as a religion betrays its historical context stemming from the withdrawal of the individual from institutionalized society. Moreover, the theme of Yin and Yang in Taoism is often misunderstood as a strict dualism, whereas it only exists on a phenomenal level. It is this complexity of Taoism that this paper seeks to highlight.AbstrakFilsafat Tao tidak boleh disamakan dengan tradisi filsafat Timur lainnya. Filsafat ini bersifat anti-sistem dan memiliki unsur-unsur yang unik. Secara metafisik, Taoisme bersifat monistik, di mana segala sesuatu berasal dari Dao atau Tao. Secara ontologis, segala sesuatu ada karena berpartisipasi dalam Tao, dan esensinya terdapat dalam Tao itu sendiri. Secara aksialogis, Taoisme mengutamakan kebahagiaan individu yang dicapai melalui harmonisasi dengan hukum alam. Secara etis, Taoisme memandang alam semesta sebagai berasal dari Tao, dan untuk kembali ke Tao, seseorang harus menyelaraskan diri dengan ritme alam. Epistemologis, Taoisme mendekati kebenaran dengan sikap negatif, karena Tao tidak dapat diungkapkan dalam bahasa manusia. Taoisme yang diinstitusionalkan sebagai agama mengkhianati konteks historisnya yang berasal dari penarikan diri individu dari masyarakat yang diinstitusionalkan. Selain itu, tema Yin dan Yang dalam Taoisme sering disalahartikan sebagai dualisme yang ketat, padahal ia hanya ada pada tingkat fenomenal. Kompleksitas Taoisme inilah yang menjadi fokus pembahasan dalam makalah ini.
Falsafah Bugis "Salipuri Temmandinging" dalam Lambang Kabupaten Soppeng dan Kajiannya dalam Perspektif Filsafat Al-Farabi Hanta, Xalastinus Jasper
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 1, No 2 (2023): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v1i2.6870

Abstract

The philosophy of “Salipuri Temmandinging” is one of the local wisdoms of the Bugis people in Soppeng Regency, South Sulawesi, Indonesia. This philosophy embodies the meaning of a leader who nurtures and protects his people from dangerous situations in order to achieve prosperity. The people of Soppeng ask their leaders to maintain the physical and mental health of the community by providing clothing, food, and shelter, as well as facilitating spiritual life through worship. The philosophical meaning of “Salipuri Temmandinging” is relevant to the current context and can be linked to Al-Farabi's philosophical thinking about leadership and physical and mental happiness. The Soppeng Regency Government has implemented the Smart Government concept to protect its people and maintain their physical and mental health by ensuring that the basic needs of the community are met. This philosophy has a universal meaning and is relevant to the current world context. Understanding and interpreting this philosophy can help leaders in caring for and protecting the community, as well as ensuring the physical and mental health of their citizens to achieve happiness. The Salipuri Temmandinging philosophy is one of the valuable characteristics of local wisdom that must be preserved in the midst of the modern era.AbstrakFalsafah "Salipuri Temmandinging" adalah salah satu kearifan lokal masyarakat Bugis di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, Indonesia. Falsafah ini mengandung makna pemimpin yang mengayomi dan melindungi masyarakatnya dari situasi yang berbahaya untuk mencapai kesejahteraan. Rakyat Soppeng meminta agar pemimpin mereka menjaga kesehatan tubuh dan jiwa masyarakat dengan menyediakan sandang, pangan, dan papan, serta memfasilitasi kehidupan spiritual melalui peribadatan. Makna filosofis "Salipuri Temmandinging" relevan dengan konteks masa kini dan dapat dihubungkan dengan pemikiran filosof Al-Farabi tentang kepemimpinan dan kebahagiaan tubuh dan jiwa. Pemerintah Kabupaten Soppeng telah menerapkan konsep Smart Government untuk mengayomi rakyatnya dan menjaga kesehatan jiwa dan raga dengan memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi. Falsafah ini memiliki makna yang bersifat universal dan relevan untuk konteks dunia saat ini. Memahami dan memaknai falsafah ini dapat membantu pemimpin dalam mengayomi dan melindungi masyarakat, serta menjamin kesehatan tubuh dan jiwa warganya untuk mencapai kebahagiaan. Falsafah Salipuri Temmandinging menjadi salah satu kekhasan kearifan lokal yang berharga dan harus lestari di tengah arus zaman modern.
Interpretasi Penaklukan Kota Yerikho dalam Yosua 6:1-27 Menurut Origenes Mite, Luccianus Oktavianus
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 1, No 2 (2023): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v1i2.6893

Abstract

Stories of violence in Scripture are often used as an excuse to commit acts of violence. This is a serious threat to life. Moreover, stories like this give rise to many negative interpretations. The story of Joshua 6:1-27 describes in detail the narrative of violence. It features Joshua and God as the main characters (cf. Josh 6:27). Joshua commands his people to attack and destroy the city of Jericho, killing all its inhabitants. Through a literature study, this paper will discuss the interpretation of Joshua 6 in the view of Origenes the Church Father. In his opinion, Joshua is not a historical figure but the typos of Jesus. Origenes says that the book of Joshua does not so much show the deeds of Joshua the son of Nun as it shows us the mystery of Jesus the Lord.AbstrakKisah kekerasan dalam Kitab Suci sering dijadikan alasan untuk melakukan tindak kekerasan. Ini menjadi ancaman serius dalam kehidupan. Apalagi kisah seperti ini memunculkan banyak tafsiran yang negatif. Kisah Yosua 6: 1-27 menggambarkan secara rinci mengenai narasi kekerasan. Ditampilkan Yosua dan Tuhan sebagai pemeran utama (bdk. Yos 6:27). Yosua memerintahkan bangsanya untuk menyerang dan menghancurkan kota Yerikho, lalu membunuh semua penduduknya. Melalui studi pustaka, makalah ini hendak membahas tafsiran Yosua 6 dalam pandangan para Bapa Gereja Origenes. Yosua bukanlah tokoh sejarah tetapi sebagai the typos of Jesus. Origenes mengatakan bahwa kitab Yosua tidak begitu banyak menunjukkan perbuatan-perbuatan anak Nun, melainkan menunjukkan kepada kita misteri Yesus Tuhan.
Sosok Rahab dalam Narasi Perjanjian Lama: Merefleksikan “Ruang Iman” Kaum Marginal Nainggolan, Togar Mulya; Timmerman, Bobby Steven Octavianus
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 1, No 2 (2023): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v1i2.6833

Abstract

Rahab is one of the characters in the Old Testament. She was viewed by society as a sinner, a prostitute, and part of the “marginalized” class because of her work. However, God had a different perspective. He saw Rahab's faith as that of a woman who was willing to be open and cooperate with Him. God used Rahab to fulfill His plan of salvation for the nation of Israel. In fact, Rahab's participation in God's work of salvation reappears in the genealogy of Jesus. Rahab is present in her human imperfection as a sinner and a “broken” person embraced by God's love. This reality shows how vast and deep God's compassion is for those who are looked down upon by the world.AbstrakRahab adalah salah satu tokoh dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Ia dipandang oleh masyarakat sebagai wanita pendosa, perempuan sundal (pelacur) dan menjadi bagian dari kaum “marginal” oleh karena pekerjaannya. Tetapi, Allah memiliki perspektif yang berbeda. Ia memandang iman Rahab sebagai wanita yang mau terbuka dan bekerja sama dengan-Nya. Allah memakai Rahab untuk mewujudkan rencana keselamatan-Nya bagi bangsa Israel. Bahkan, partisipasi Rahab dalam karya keselamatan Allah kembali muncul dalam narasi genealogi Yesus. Rahab hadir dalam ketidaksempurnaan manusiawinya sebagai manusia berdosa dan “hancur” yang dirangkul oleh kasih Allah. Realitas ini ingin memperlihatkan betapa luas dan dalam belas kasih Allah kepada orang-orang yang dipandang rendah oleh dunia.
Phusis (φύσις) Menurut Galen: Hubungan Makro-Mikro Kosmos Theo, Yohanes
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 1, No 2 (2023): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v1i2.6700

Abstract

Who are humans? What is the relationship between humans and the universe? These are two fundamental questions that ancient Greek doctors attempted to answer through their perspectives. For them, within the complexity of the human body (microcosm), we can see two things: (1) human nature and (2) its connection to the universe (macrocosm). The human body consists of four humors: blood, phlegm, yellow bile, and black bile, which must be kept in balance for the body to remain healthy. Conversely, an imbalance of these four humors can cause disease. According to Galen, human nature is balance. A person whose humors are in balance is a person who has achieved their full nature, or in Galen's words, a healthy person.The balance that occurs in the body must also occur in the universe. Galen saw the two as a harmonious and interdependent system. According to Galen, the cosmos consists of four elements: earth, air, fire, and water (like the four humors). Galen saw the human body as a microcosm with the same four elements but different in proportion. This relationship was formulated in the concepts of mimesis and sympathy. The microcosm imitates and sympathizes with the macrocosm and vice versa. Overall, Galen saw the cosmos as an integrated and purposeful system, with each element and living thing playing an important role in maintaining its balance and harmony.AbstrakSiapakah manusia? Apa hubugannya manusia dengan Alam Semesta ini? Inilah dua pertanyaan mendasar yang coba dijawab lewat tawaran perspektif dokter Yunani kuno. Baginya, dalam kompleksitas tubuh manusia (mikrokosmos) itu, kita dapat melihat dua hal: (1) kodrat manusia dan (2) keterkaitannya dengan alam semesta (makrokosmos).Tubuh manusia terdiri dari empat humor: darah, dahak, empedu kuning, dan empedu hitam (blood, phlegm, yellow bile, and black bile) yang perlu dijaga keseimbangannya agar tubuh tetap sehat. Sebaliknya, ketidakseimbangan empat humor ini dapat menyebabkan penyakit. Menurut Galen, kodrat manusia adalah keseimbangan. Orang yang seluruh humor-humornya seimbang adalah orang yang mencapai kepenuhan kodratnya, atau dalam bahasa Galen disebut orang yang sehat. Keseimbangan yang terjadi pada tubuh juga harus terjadi di alam semesta, Galen melihat keduanya sebagai sebuah sistem yang harmonis dan saling bergantung. Menurut Galen, kosmos terdiri dari empat unsur: tanah, udara, api, dan air (seperti empat humor). Galen melihat tubuh manusia sebagai mikrokosmos dengan empat elemen yang sama tetapi berbeda dalam hal proporsi. Hubungan itu dirumuskan dalam konsep mimēsis dan simpati. Mikrokosmos meniru serta bersimpati pada makrokosmos dan sebaliknya. Secara keseluruhan, Galen melihat kosmos sebagai sistem yang terpadu dan memiliki tujuan, dengan setiap elemen dan makhluk hidup memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan dan keharmonisannya
Komodifikasi Islam oleh Kyai Hafidin dalam Mentoring dan Webinar Poligami Hariandja, William Christopher
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 1, No 2 (2023): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v1i2.6435

Abstract

The phenomenon of polygamy workshops and mentoring conducted by Kyai Hafidin makes us rethink the contestation of Islamic discourse in the public sphere. This phenomenon illustrates the commodification of Islam, where dogmatic discourse is transformed into commercial discourse. Through qualitative research using the netnography method, the author attempts to interpret this phenomenon by exploring the content produced by Kyai Hafidin on social media. Taking into account previous similar studies, this research attempts to look at a side that has not been widely discussed, namely Islamic dogma on polygamy, considering the discourse of religious commodification.AbstrakFenomena workshop dan mentoring poligami yang dilakukan oleh Kyai Hafidin membuat kita berpikir ulang tentang kontestasi wacana Islam di ruang publik. Fenomena ini menggambarkan komodifikasi Islam, di mana wacana dogmatis berubah menjadi wacana komersial. Melalui penelitian kualitatif dengan metode netnografi, penulis mencoba membaca fenomena tersebut dengan mengeksplorasi ulasan konten yang diproduksi Kyai Hafidin di ruang media sosial. Dengan mempertimbangkan penelitian-penelitian senada yang sebelumnya telah dilakukan, penelitian ini mencoba melihat dari sisi yang belum banyak dibahas, yaitu dogma Islami tentang poligami dengan mempertimbangkan diskursus komodifikasi agama.
Indonesia Satu Buat Semua, Semua Buat Satu dalam Relasi Pemikiran Nasionalisme Soekarno dan Tan Malaka Nonobenany, Yakobus Nekin
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 1, No 2 (2023): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v1i2.6821

Abstract

This paper discusses the thoughts of Sukarno and Tan Malaka in the context of Indonesian nationalism. They both had a strong spirit of nationalism in the struggle to free Indonesia from colonialism and achieve independence. Sukarno emphasized national unity, Indonesian leadership, and rejection of colonialism. Meanwhile, Tan Malaka saw social and economic injustice and championed nationalism as part of the class struggle. Despite their different ideological approaches, both Sukarno and Tan Malaka fought to achieve Indonesian independence by mobilizing the unity of the people and opposing colonialism. Their ideas helped shape Indonesia's national identity and consciousness. However, this paper also highlights the current Indonesian crisis, such as widespread corruption, social and economic inequality, a weak political system, identity conflicts, and religious fanaticism. Overcoming these crises requires political system reform and stronger law enforcement, increased social and economic equality, and dialogue between ethnic and religious groups. In this context, the nationalist ideas of Sukarno and Tan Malaka are still relevant. Indonesia should be an independent, just, equitable and sovereign country. Social justice for all Indonesians should be prioritized, and differences between regions and groups should be resolved to ensure equal justice. Excessive religious fanaticism should be overcome, and unity in diversity should be affirmed as the foundation of the Indonesian state. This paper provides insights into the nationalist thoughts of Sukarno and Tan Malaka and the challenges of the Indonesian crisis faced by the country today.AbstrakMakalah ini membahas pemikiran Sukarno dan Tan Malaka dalam konteks nasionalisme Indonesia. Keduanya memiliki semangat nasionalisme yang kuat dalam perjuangan membebaskan Indonesia dari kolonialisme dan meraih kemerdekaan. Sukarno menekankan persatuan nasional, kepemimpinan Indonesia, dan penolakan terhadap kolonialisme. Di sisi lain, Tan Malaka melihat ketidakadilan sosial dan ekonomi, dan mengadvokasi nasionalisme sebagai bagian dari perjuangan kelas. Meskipun memiliki pendekatan ideologis yang berbeda, baik Sukarno maupun Tan Malaka berjuang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia dengan menggalang persatuan rakyat dan menentang kolonialisme. Ide-ide mereka membantu membentuk identitas dan kesadaran nasional Indonesia. Namun, makalah ini juga menyoroti krisis Indonesia saat ini, seperti korupsi yang meluas, ketidaksetaraan sosial dan ekonomi, sistem politik yang lemah, konflik identitas, dan fanatisme agama. Mengatasi krisis-krisis ini memerlukan reformasi sistem politik dan penegakan hukum yang lebih kuat, peningkatan kesetaraan sosial dan ekonomi, serta dialog antara kelompok etnis dan agama. Dalam konteks ini, ide-ide nasionalis Sukarno dan Tan Malaka masih relevan. Indonesia seharusnya menjadi negara yang merdeka, adil, setara, dan berdaulat. Keadilan sosial bagi semua warga Indonesia harus diprioritaskan, dan perbedaan antara wilayah dan kelompok harus diselesaikan untuk memastikan keadilan yang setara. Fanatisme agama yang berlebihan harus diatasi, dan persatuan dalam keberagaman harus diteguhkan sebagai landasan negara Indonesia.

Page 1 of 1 | Total Record : 10