cover
Contact Name
Rudy Budiatmaja
Contact Email
rudyatmaja12398@gmail.com
Phone
+6285928918217
Journal Mail Official
rudyatmaja12398@gmail.com
Editorial Address
https://e-journal.usd.ac.id/index.php/Divinitas/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual
ISSN : 29885434     EISSN : 29882311     DOI : 10.24071
Divinitas: Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual develops contextual Philosophical and Theological discourses in dialogue with sociological, anthropological, comparative religion, religious studies, historical, cultural and psychological perspectives and takes the diversity of Asian societies and cultures as its context. The journal is open to undergraduated student, graduated student and scholars from all religious backgrounds.
Articles 64 Documents
Falsafah Bugis "Salipuri Temmandinging" dalam Lambang Kabupaten Soppeng dan Kajiannya dalam Perspektif Filsafat Al-Farabi Hanta, Xalastinus Jasper
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 1, No 2 (2023): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v1i2.6870

Abstract

The philosophy of “Salipuri Temmandinging” is one of the local wisdoms of the Bugis people in Soppeng Regency, South Sulawesi, Indonesia. This philosophy embodies the meaning of a leader who nurtures and protects his people from dangerous situations in order to achieve prosperity. The people of Soppeng ask their leaders to maintain the physical and mental health of the community by providing clothing, food, and shelter, as well as facilitating spiritual life through worship. The philosophical meaning of “Salipuri Temmandinging” is relevant to the current context and can be linked to Al-Farabi's philosophical thinking about leadership and physical and mental happiness. The Soppeng Regency Government has implemented the Smart Government concept to protect its people and maintain their physical and mental health by ensuring that the basic needs of the community are met. This philosophy has a universal meaning and is relevant to the current world context. Understanding and interpreting this philosophy can help leaders in caring for and protecting the community, as well as ensuring the physical and mental health of their citizens to achieve happiness. The Salipuri Temmandinging philosophy is one of the valuable characteristics of local wisdom that must be preserved in the midst of the modern era.AbstrakFalsafah "Salipuri Temmandinging" adalah salah satu kearifan lokal masyarakat Bugis di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, Indonesia. Falsafah ini mengandung makna pemimpin yang mengayomi dan melindungi masyarakatnya dari situasi yang berbahaya untuk mencapai kesejahteraan. Rakyat Soppeng meminta agar pemimpin mereka menjaga kesehatan tubuh dan jiwa masyarakat dengan menyediakan sandang, pangan, dan papan, serta memfasilitasi kehidupan spiritual melalui peribadatan. Makna filosofis "Salipuri Temmandinging" relevan dengan konteks masa kini dan dapat dihubungkan dengan pemikiran filosof Al-Farabi tentang kepemimpinan dan kebahagiaan tubuh dan jiwa. Pemerintah Kabupaten Soppeng telah menerapkan konsep Smart Government untuk mengayomi rakyatnya dan menjaga kesehatan jiwa dan raga dengan memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi. Falsafah ini memiliki makna yang bersifat universal dan relevan untuk konteks dunia saat ini. Memahami dan memaknai falsafah ini dapat membantu pemimpin dalam mengayomi dan melindungi masyarakat, serta menjamin kesehatan tubuh dan jiwa warganya untuk mencapai kebahagiaan. Falsafah Salipuri Temmandinging menjadi salah satu kekhasan kearifan lokal yang berharga dan harus lestari di tengah arus zaman modern.
Perempuan dan Media Digital Asis, Inasio Loyola
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 1, No 1 (2023): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v1i1.6610

Abstract

Kita sedang hidup pada era digital. Berbagai wacana kritis saat ini tidak dapat dipisahkan darinya. Intensifikasi jagad maya dengan berbagai platform digital menempatkannya sebagai sebuah Areopagus pada era ini. Kita bisa mengatakan dan melakukan segala sesuatu di sana. Batas-batas epistemologis (benar) dan etis (baik) yang sarat dengan logika kekuasaan golongan dan oknum tertentu disirnakan. Laki-laki dan perempuan dapat menjadi apa saja dan siapa saja sesuai dengan kehendak hatinya. Kita melihat berbagai gambar yang seksi dan modis mengenai tubuh perempuan dan tubuh laki-laki. Siapa saja bisa menikmatinya. Berhadapan dengan kebebasan di atas, kita bisa bertanya apakah jagad maya atau jagad digital merupakan masa depan perjuangan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan? Tulisan ini hendak merenungi pertanyaan ini. 
Dalam Penderitaan, Aku Justru Bersukacita (Teologi Sukacita Kartini) Uma, Handrianus Eka
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 1, No 1 (2023): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v1i1.6136

Abstract

Makalah ini menyajikan teologi sukacita yang ternyata juga dihayati oleh Kartini, seorang patriot nasional Indonesia yang memperjuangkan emansipasi wanita. Tulisan ini menggunakan metode lingkaran pastoral Haryatmoko: Analisis Sosial dan Refleksi Teologis. Kartini mampu melewati masa kelamnya sejak kecil dan khususnya masa pingitan dalam konteks feodalisme Jawa. Menurut teori logoterapi Victor Frankl, Kartini pernah mengalami transendensi-diri. Menurut Martasudjita, itu adalah kebebasan hati. Pengalaman penulis terjangkit covid-19 pada Agustus 2021 dan pengalaman dua keluarga yang bangkit dari keterpurukan di masa pandemi mempertajam refleksi mengenai teologi sukacita.Teologi sukacita Kristen selalu berasal dari perjumpaan dengan Kristus yang menderita, mati, dan bangkit kembali. Dari sudut pandang Kristiani, orang yang bersukacita adalah orang yang bisa melewati masa-masa kelam dalam hidupnya dan memperjuangkan nilai luhur seperti Kartini. Kartini mampu melewati masa kelam pengasingan. Kartini memperjuangkan emansipasi perempuan melalui tulisan dan pendirian sekolah perempuan pertama di Indonesia (dahulu Hindia Belanda). Kegembiraan ini memiliki dimensi sosial, budaya, dan paradoks. Dalam penderitaan, orang Kristen bersukacita karena perjumpaan dengan Kristus (iman).
Interpretasi Penaklukan Kota Yerikho dalam Yosua 6:1-27 Menurut Origenes Mite, Luccianus Oktavianus
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 1, No 2 (2023): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v1i2.6893

Abstract

Stories of violence in Scripture are often used as an excuse to commit acts of violence. This is a serious threat to life. Moreover, stories like this give rise to many negative interpretations. The story of Joshua 6:1-27 describes in detail the narrative of violence. It features Joshua and God as the main characters (cf. Josh 6:27). Joshua commands his people to attack and destroy the city of Jericho, killing all its inhabitants. Through a literature study, this paper will discuss the interpretation of Joshua 6 in the view of Origenes the Church Father. In his opinion, Joshua is not a historical figure but the typos of Jesus. Origenes says that the book of Joshua does not so much show the deeds of Joshua the son of Nun as it shows us the mystery of Jesus the Lord.AbstrakKisah kekerasan dalam Kitab Suci sering dijadikan alasan untuk melakukan tindak kekerasan. Ini menjadi ancaman serius dalam kehidupan. Apalagi kisah seperti ini memunculkan banyak tafsiran yang negatif. Kisah Yosua 6: 1-27 menggambarkan secara rinci mengenai narasi kekerasan. Ditampilkan Yosua dan Tuhan sebagai pemeran utama (bdk. Yos 6:27). Yosua memerintahkan bangsanya untuk menyerang dan menghancurkan kota Yerikho, lalu membunuh semua penduduknya. Melalui studi pustaka, makalah ini hendak membahas tafsiran Yosua 6 dalam pandangan para Bapa Gereja Origenes. Yosua bukanlah tokoh sejarah tetapi sebagai the typos of Jesus. Origenes mengatakan bahwa kitab Yosua tidak begitu banyak menunjukkan perbuatan-perbuatan anak Nun, melainkan menunjukkan kepada kita misteri Yesus Tuhan.
Yesus Kristus Sang Eran Dilangi’ dan Tomanurun Sejati: Kristologi Kontekstual dalam Budaya Toraja Tulak, Yohanes Maria Vianney Bandaso'
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 1, No 1 (2023): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v1i1.6627

Abstract

Selama berabad-abad Gereja terus berupaya untuk terus menerus merefleksikan Yesus  dan seluruh karya-Nya sehingga kita bisa menerima ajaran iman  tentang-Nya  sebagaimana yang ada dalam Kitab Suci, ajaran Konsili, tradisi, dll. Rumusan  iman mengenai Yesus Kristus itu lahir dan berkembang dalam konteks waktu dan tempat tertentu. Usaha untuk menemukan wajah Yesus dalam konteks tertentu inilah yang dimaksud dengan kristologi kontekstual.  Gereja menyadari perlunya mengakarkan iman akan Yesus Kristus sesuai konteks di mana ajaran itu berkembang secara hic et nunc. Muncullah pertanyaan “Siapakah Yesus bagi  orang Toraja ?” Orang Toraja dalam menghayati imannya berupaya menemukan Yesus Kristus dalam budayanya.  Artikel ini akan membahas mengenai persoalan dasar kristologi kontekstual, latar budaya Toraja, dan bagaimana orang Toraja menghayati Yesus dalam budaya mereka.
Allah yang Bersolider: Tinjauan atas Eksistensi Manusia dalam Situasi Pandemi Covid-19 Dede, Handrianus Dabi
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 1, No 1 (2023): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v1i1.6582

Abstract

Pandemi menelanjangi eksistensi manusia karena realitas di balik pandemi terdapat kekerasan, penipuan, kecurangan, konflik kepentingan dan sebagainya. Dalam konteks ini, penulis memahami bahwa manusia telah kehilangan makna eksistensinya. Eksistensi manusia secara kodrati merupakan hubungan dan relasi yang dimaknai secara mendalam, yang oleh Gabriel Marcel disebut sebagai relasi intersubjektivitas. Eksistensi manusia macam inilah yang telah hilang. Bagi Rahner manusia secara kodrati selalu terarah pada yang Ilahi. Rahmat itu adalah pemberian Allah karena manusia secara kodrati memiliki keterarahan pada Yang Ilahi. Secara kodrati eksistensi manusia selalu terarah pada Yang Ilahi. Menurut Buber, keterarahan pada Yang Ilahi dimungkinkan apabila manusia sudah sungguh menciptakan relasi intersubjektivitas dengan sesamanya.
Sosok Rahab dalam Narasi Perjanjian Lama: Merefleksikan “Ruang Iman” Kaum Marginal Nainggolan, Togar Mulya; Timmerman, Bobby Steven Octavianus
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 1, No 2 (2023): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v1i2.6833

Abstract

Rahab is one of the characters in the Old Testament. She was viewed by society as a sinner, a prostitute, and part of the “marginalized” class because of her work. However, God had a different perspective. He saw Rahab's faith as that of a woman who was willing to be open and cooperate with Him. God used Rahab to fulfill His plan of salvation for the nation of Israel. In fact, Rahab's participation in God's work of salvation reappears in the genealogy of Jesus. Rahab is present in her human imperfection as a sinner and a “broken” person embraced by God's love. This reality shows how vast and deep God's compassion is for those who are looked down upon by the world.AbstrakRahab adalah salah satu tokoh dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Ia dipandang oleh masyarakat sebagai wanita pendosa, perempuan sundal (pelacur) dan menjadi bagian dari kaum “marginal” oleh karena pekerjaannya. Tetapi, Allah memiliki perspektif yang berbeda. Ia memandang iman Rahab sebagai wanita yang mau terbuka dan bekerja sama dengan-Nya. Allah memakai Rahab untuk mewujudkan rencana keselamatan-Nya bagi bangsa Israel. Bahkan, partisipasi Rahab dalam karya keselamatan Allah kembali muncul dalam narasi genealogi Yesus. Rahab hadir dalam ketidaksempurnaan manusiawinya sebagai manusia berdosa dan “hancur” yang dirangkul oleh kasih Allah. Realitas ini ingin memperlihatkan betapa luas dan dalam belas kasih Allah kepada orang-orang yang dipandang rendah oleh dunia.
Phusis (φύσις) Menurut Galen: Hubungan Makro-Mikro Kosmos Theo, Yohanes
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 1, No 2 (2023): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v1i2.6700

Abstract

Who are humans? What is the relationship between humans and the universe? These are two fundamental questions that ancient Greek doctors attempted to answer through their perspectives. For them, within the complexity of the human body (microcosm), we can see two things: (1) human nature and (2) its connection to the universe (macrocosm). The human body consists of four humors: blood, phlegm, yellow bile, and black bile, which must be kept in balance for the body to remain healthy. Conversely, an imbalance of these four humors can cause disease. According to Galen, human nature is balance. A person whose humors are in balance is a person who has achieved their full nature, or in Galen's words, a healthy person.The balance that occurs in the body must also occur in the universe. Galen saw the two as a harmonious and interdependent system. According to Galen, the cosmos consists of four elements: earth, air, fire, and water (like the four humors). Galen saw the human body as a microcosm with the same four elements but different in proportion. This relationship was formulated in the concepts of mimesis and sympathy. The microcosm imitates and sympathizes with the macrocosm and vice versa. Overall, Galen saw the cosmos as an integrated and purposeful system, with each element and living thing playing an important role in maintaining its balance and harmony.AbstrakSiapakah manusia? Apa hubugannya manusia dengan Alam Semesta ini? Inilah dua pertanyaan mendasar yang coba dijawab lewat tawaran perspektif dokter Yunani kuno. Baginya, dalam kompleksitas tubuh manusia (mikrokosmos) itu, kita dapat melihat dua hal: (1) kodrat manusia dan (2) keterkaitannya dengan alam semesta (makrokosmos).Tubuh manusia terdiri dari empat humor: darah, dahak, empedu kuning, dan empedu hitam (blood, phlegm, yellow bile, and black bile) yang perlu dijaga keseimbangannya agar tubuh tetap sehat. Sebaliknya, ketidakseimbangan empat humor ini dapat menyebabkan penyakit. Menurut Galen, kodrat manusia adalah keseimbangan. Orang yang seluruh humor-humornya seimbang adalah orang yang mencapai kepenuhan kodratnya, atau dalam bahasa Galen disebut orang yang sehat. Keseimbangan yang terjadi pada tubuh juga harus terjadi di alam semesta, Galen melihat keduanya sebagai sebuah sistem yang harmonis dan saling bergantung. Menurut Galen, kosmos terdiri dari empat unsur: tanah, udara, api, dan air (seperti empat humor). Galen melihat tubuh manusia sebagai mikrokosmos dengan empat elemen yang sama tetapi berbeda dalam hal proporsi. Hubungan itu dirumuskan dalam konsep mimēsis dan simpati. Mikrokosmos meniru serta bersimpati pada makrokosmos dan sebaliknya. Secara keseluruhan, Galen melihat kosmos sebagai sistem yang terpadu dan memiliki tujuan, dengan setiap elemen dan makhluk hidup memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan dan keharmonisannya
Komodifikasi Islam oleh Kyai Hafidin dalam Mentoring dan Webinar Poligami Hariandja, William Christopher
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 1, No 2 (2023): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v1i2.6435

Abstract

The phenomenon of polygamy workshops and mentoring conducted by Kyai Hafidin makes us rethink the contestation of Islamic discourse in the public sphere. This phenomenon illustrates the commodification of Islam, where dogmatic discourse is transformed into commercial discourse. Through qualitative research using the netnography method, the author attempts to interpret this phenomenon by exploring the content produced by Kyai Hafidin on social media. Taking into account previous similar studies, this research attempts to look at a side that has not been widely discussed, namely Islamic dogma on polygamy, considering the discourse of religious commodification.AbstrakFenomena workshop dan mentoring poligami yang dilakukan oleh Kyai Hafidin membuat kita berpikir ulang tentang kontestasi wacana Islam di ruang publik. Fenomena ini menggambarkan komodifikasi Islam, di mana wacana dogmatis berubah menjadi wacana komersial. Melalui penelitian kualitatif dengan metode netnografi, penulis mencoba membaca fenomena tersebut dengan mengeksplorasi ulasan konten yang diproduksi Kyai Hafidin di ruang media sosial. Dengan mempertimbangkan penelitian-penelitian senada yang sebelumnya telah dilakukan, penelitian ini mencoba melihat dari sisi yang belum banyak dibahas, yaitu dogma Islami tentang poligami dengan mempertimbangkan diskursus komodifikasi agama.
Indonesia Satu Buat Semua, Semua Buat Satu dalam Relasi Pemikiran Nasionalisme Soekarno dan Tan Malaka Nonobenany, Yakobus Nekin
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 1, No 2 (2023): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v1i2.6821

Abstract

This paper discusses the thoughts of Sukarno and Tan Malaka in the context of Indonesian nationalism. They both had a strong spirit of nationalism in the struggle to free Indonesia from colonialism and achieve independence. Sukarno emphasized national unity, Indonesian leadership, and rejection of colonialism. Meanwhile, Tan Malaka saw social and economic injustice and championed nationalism as part of the class struggle. Despite their different ideological approaches, both Sukarno and Tan Malaka fought to achieve Indonesian independence by mobilizing the unity of the people and opposing colonialism. Their ideas helped shape Indonesia's national identity and consciousness. However, this paper also highlights the current Indonesian crisis, such as widespread corruption, social and economic inequality, a weak political system, identity conflicts, and religious fanaticism. Overcoming these crises requires political system reform and stronger law enforcement, increased social and economic equality, and dialogue between ethnic and religious groups. In this context, the nationalist ideas of Sukarno and Tan Malaka are still relevant. Indonesia should be an independent, just, equitable and sovereign country. Social justice for all Indonesians should be prioritized, and differences between regions and groups should be resolved to ensure equal justice. Excessive religious fanaticism should be overcome, and unity in diversity should be affirmed as the foundation of the Indonesian state. This paper provides insights into the nationalist thoughts of Sukarno and Tan Malaka and the challenges of the Indonesian crisis faced by the country today.AbstrakMakalah ini membahas pemikiran Sukarno dan Tan Malaka dalam konteks nasionalisme Indonesia. Keduanya memiliki semangat nasionalisme yang kuat dalam perjuangan membebaskan Indonesia dari kolonialisme dan meraih kemerdekaan. Sukarno menekankan persatuan nasional, kepemimpinan Indonesia, dan penolakan terhadap kolonialisme. Di sisi lain, Tan Malaka melihat ketidakadilan sosial dan ekonomi, dan mengadvokasi nasionalisme sebagai bagian dari perjuangan kelas. Meskipun memiliki pendekatan ideologis yang berbeda, baik Sukarno maupun Tan Malaka berjuang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia dengan menggalang persatuan rakyat dan menentang kolonialisme. Ide-ide mereka membantu membentuk identitas dan kesadaran nasional Indonesia. Namun, makalah ini juga menyoroti krisis Indonesia saat ini, seperti korupsi yang meluas, ketidaksetaraan sosial dan ekonomi, sistem politik yang lemah, konflik identitas, dan fanatisme agama. Mengatasi krisis-krisis ini memerlukan reformasi sistem politik dan penegakan hukum yang lebih kuat, peningkatan kesetaraan sosial dan ekonomi, serta dialog antara kelompok etnis dan agama. Dalam konteks ini, ide-ide nasionalis Sukarno dan Tan Malaka masih relevan. Indonesia seharusnya menjadi negara yang merdeka, adil, setara, dan berdaulat. Keadilan sosial bagi semua warga Indonesia harus diprioritaskan, dan perbedaan antara wilayah dan kelompok harus diselesaikan untuk memastikan keadilan yang setara. Fanatisme agama yang berlebihan harus diatasi, dan persatuan dalam keberagaman harus diteguhkan sebagai landasan negara Indonesia.