cover
Contact Name
-
Contact Email
sabuaunsrat@unsrat.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
sabuaunsrat@unsrat.ac.id
Editorial Address
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sam Ratulangi Jl. Kampus Unsrat - Manado 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur
ISSN : 20857020     EISSN : 28286324     DOI : 10.35793
Core Subject : Social, Engineering,
SABUA adalah jurnal lingkungan binaan dan arsitektur merupakan media informasi, komunikasi, dan pertukaran informasi mengenail masalah-masalah tentang bidang perencanaan wilayah dan kota, isu lingkungan binaan, interaksi manusia dengan karya-karya arsitektur serta interaksi antara manusia, karya-karya arsitektur dengan lingkungan binaan (kota dan desa).Artikel dapat berupa hasil penelitian, konsep perencanaan dan perancangan, kajian dan analisis kritis yang dapat ditulis dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Jurnal ini diterbitkan setiap enam bulanan (Mei dan November)
Articles 132 Documents
Model Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Manado Turang, Angela R.; Lakat, Ricky S.M.; Van Rate, Johannes
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2023): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v12i2.52587

Abstract

AbstrakRumah merupakan standar untuk memenuhi kebutuhan manusia sebagai makhluk ekonomi. Kota Manado termasuk dalam Kawasan BIMINDO(Bitung, Minahasa Utara dan Manado) yang berperan dalam bidang pariwisata dan industri. Hal tersebut menyebabkan pertumbuhan penduduk yang tinggi di Kota Manado, sehingga banyak memunculkan slum dan squatter. Penyediaan hunian diperlukan, dengan mempertimbangkan ketersediaan lahan dimasa yang akan datang, untuk rekomendasi hunian vertikal dan horizontal. Penelitian ini bertujuan menghitung jumlah unit hunian pada zona arahan pengembangan vertikal dan horizontal, kemudian memberikan rekomendasi zona potensial hunian, ruang terbuka hijau, dan sarana, prasarana dan utilitas, serta memodelkan pembiayaan hunian agar bisa dijangkau masyarakat berpenghasilan rendah(MBR). Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis spasial dengan overlay peta citra untuk melihat keadaan eksisting perubahan guna lahan, dan melakukan perhitungan menggunakan aplikasi excel untuk memperoleh jumlah unit hunian di wilayah zona pengembangan. Didapati beberapa wilayah yang sudah terbangun pada rekomendasi zona pengembangan vertikal dan horizontal, sehingga terjadi pengurangan luasan wilayah. Kemudian kecamatan dengan kebutuhan hunian vertikal di Kota Manado diperoleh sejumlah 81.888 unit. Berdasarkan luasan lahan, masih tersedia sejumlah 126.945 unit hunian horizontal yang tersedia, kemudian terdapat 2 kecamatan dengan luasan lahan yang tidak memungkinkan untuk pengembangan perumahan, yaitu Kecamatan Sario(kebutuhan hunian 6.960 unit) dan Kecamatan Wenang(kebutuhan hunian 10.510 unit).Kata kunci: Pengembangan Hunian; Hunian Vertikal; Hunian Horizontal; Zona Potensial Hunian; MBR.AbstractThe house is a standard to fulfil human needs as economic beings. The city of Manado is included in the BIMINDO Region (Bitung, North Minahasa and Manado) which plays a role in tourism and industry. This causes high population growth in the city of Manado, causing many slums and squatters to emerge. Provision of shelter is required, taking into account future land availability, for vertical and horizontal housing recommendations. This study aims to calculate the number of residential units in the vertical and horizontal development direction zones, then provide recommendations for potential residential zones, green open spaces, and facilities, infrastructure and utilities, as well as model housing finance so that it can be reached by low-income communities (MBR). The research method used in this study is spatial analysis by overlaying image maps to see the existing state of land use change, and performing calculations using the excel application to obtain the number of residential units in the development zone area. It was found that several areas had been developed according to the recommendations for vertical and horizontal development zones, resulting in a reduction in area. Then districts with vertical housing needs in Manado City obtained a total of 81,888 units. Based on land area, there are still 126,945 units available horizontal residential zones, then there are 2 sub-districts with land areas that do not allow for housing development, namely Sario District (6,960 residential units) and Wenang District (10,510 residential units). Keyword: Residential Development; Vertical Housing; Horizontal Housing; Residential Potential Zone; Low Income Society.
Faktor-Faktor Penyebab Kekumuhan Kawasan Permukiman Kumuh di Kota Manado Kalimpung, Gloria J.; Tilaar, Sonny; Waani, Judy O.
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2023): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v12i2.52598

Abstract

AbstrakSuatu perkembangan kota yang pesat dan tidak terkendali dapat menimbulkan adanya masalah perkotaan,salah satunya yaitu munculnya permukiman kumuh. Kota Manado merupakan ibu kota provinsi SulawesiUtara telah menciptakan permukiman kumuh di beberapa kawasan karena perkembangannya yang pesat.Surat Keputusan Wali kota No. 30 tahun 2021 tentang Penetapan Lokasi Perumahan Kumuh danPermukiman Kumuh di Kota Manado, terdapat 20 titik lokasi permukiman kumuh yang tersebar ke dalam20 kelurahan dengan total luas 196,85 Ha. Dengan demikian, perlu untuk melanjutkan penelitian tentangfaktor-faktor penyebab kekumuhan kawasan permukiman kumuh di Kota Manado. Adapun tujuan daripenelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi faktor-faktor signifikan penyebab kekumuhan di permukimankumuh Kota Manado dan merumuskan solusi penanganan di kawasan kumuh Kota Manado. Metodeanalisis yang digunakan yaitu analisis regresi linier berganda. Hasil dari analisis ditemukan bahwapermukiman kumuh di Kota Manado dipengaruhi secara signifikan pada tiga faktor yaitu bangunan,drainase lingkungan dan persampahan yang disebabkan oleh ketersediaan sarana dan prasarana yangkurang memadai dan tidak sesuai kebutuhan. Berdasarkan hasil tersebut, maka diperlukan suatu solusipenanganan yang terdiri dari pemugaran dan peremajaan yang akan dilaksanakan berdasarkan tingkatkekumuhan dan permasalahan yang terjadi di kawasan kumuh tersebut.Kata kunci: Kumuh, Permukiman Kumuh , Faktor kekumuhanAbstractA rapid and uncontrolled urban development can lead to urban problems, one of which is the emergenceof slums. Manado as the capital of North Sulawesi province with its rapid development has given rise toslum settlements in several areas due to its rapid development. Mayor's Decree No. 30 of 2021 concerningDetermining the Location of Slum Housing and Slums in Manado City, there are 20 locations of slumareas spread over 20 sub-districts with a total area of 196.85 hectares. Therefore, it is necessary tocontinue research on the factors that cause slums in Manado City. The purpose of this research is toidentify the significant factors that cause slums in the slums of Manado City and formulate solutions fordealing with slum areas in Manado City. The analytical method used is multiple linear regression analysismethod. The results of the analysis, shows that the slums of Manado City are greatly affected by threefactors: buildings, environmental drainage and soild waste, which are caused by inadequate andsubstandard infrastructue facilities was found to be the cause technical requirements. Based on theseresults, it is necessary to find solutions through rapir and renewal according to the scale of the slums andthe problemsthat occur within the area.Keyword: Slums, Setllement Area, Slum factors
Analisis Perlindungan Mata Air di Kota Tomohon Dwigianto, Benedictus; Tarore, Raymond Ch; Moniaga, Ingerid L.
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2023): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v12i2.52603

Abstract

AbstrakKota Tomohon sebagai kawasan yang berada di dataran tinggi/perbukitan berperan penting dalam hal penyedia air bagi daerahnya sendiri maupun untuk daerah disekitarnya. Meningkatnya kebutuhan terhadap sumber daya air disebabkan oleh meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas pembangunan. Demi menjaga kualitas air tanah dari pencemaran, langkah awal yang perlu dilakukan yaitu penentuan zona perlindungan mata air, zona perlindungan mata air merupakan kawasan di sekitar mata air yang memberikan informasi terkait potensi pencemaran pada sumber air. Untuk mencapai hasil dalam menyusun penelitian tentang perlindungan mata air digunakan pendekatan metode deskriptif kuantitatif, dengan teknik analisis spasial buffer pada masing-masing titik mata air yang dilakukan untuk mengetahui luas wilayah dari tiap zona perlindungan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa mata air yang bisa dibuatkan zona perlindungan mata air yaitu mata air yang memiliki jarak cukup jauh dari area permukiman lebih disekitar 200 meter dari pusat mata air, dimana mata air yang memenuhi kriteria tersebut adalah : mata air Regesan, Sasalak I, Sasalak II, Patar, Wuwunongan. Dengan hasil perhitungan jarak zona I berjarak 10-15 meter dari titik mata air. Zona II merupakan hasil perhitungan menggunakan rumus kecepatan udara tanah dengan hasil : mata air Regesan (140,4 m) Sasalak I (86,4 m), Sasalak II (172,8 m), Patar (86,4 m), Wuwunongan ( 49,68 m).Kata kunci: Mata Air, Zona Perlindungan, Buffer, ZonasiAbstractTomohon City as an area located in the highlands/hills plays an important role in terms of water supply for its own area and for the surrounding areas. The increasing demand for water resources is caused by the increasing population and development activities. In order to maintain the quality of groundwater from pollution, the first step that needs to be taken is the determination of spring protection zones, spring protection zones are areas around springs that provide information related to the potential for pollution of water sources. To achieve the results in compiling research on spring protection, a quantitative descriptive method approach was used, with a spatial buffer analysis technique at each spring point conducted to determine the area of each protection zone. From the results of the research, it is known that springs that can be made spring protection zones are springs that have a considerable distance from residential areas of more than around 200 meters from the center of the spring, where springs that meet these criteria are: Regesan, Sasalak I, Sasalak II, Patar, Wuwunongan springs. With the results of the calculation of the distance zone I is 10-15 meters from the spring point. Zone II is the result of calculations using the ground air velocity formula with the results: Regesan spring (140.4 m) Sasalak I (86.4 m), Sasalak II (172.8 m), Patar (86.4 m), Wuwunongan (49.68 m).Keyword: Spring, Protection Zone, Buffer, Zoning
Kenyamanan Termal Para Pengunjung Ruang Terbuka Hijau Publik di Kota Manado Sigilipu, Virginia; Sangkertadi, Sangkertadi; Malik, Andi
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2023): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v12i2.52604

Abstract

AbstrakRuang publik berperan penting sebagai tempat terjadinya berbagai aktivitas sosial, rekreasi dan budaya. Taman kota merupakan salah satu ruang terbuka hijau publik yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan dan tuntutan kenyamanan penunjung atau penggunanya. Salah satu aspek fisik nyaman di ruang luar yaitu kenyamanan termal yang merupakan hal mutlak yang dibutuhkan tubuh manusia. Namun, dampak pemanasan global dan angka kepadatan penduduk perkotaan yang meningkat mengakibatkan peningkatan suhu di perkotaan. Tujuan penelitian adalah menganalisis tingkat kenyamanan termal di tiga taman kota Manado melalui pengukuran iklim mikro (suhu udara, kelembaban, kecepatan angin dan suhu bola hitam) dan faktor individu (berat dan tinggi badan) serta melalui kuesioner. Hasil penelitian berdasarkan hasil perhitungan dan persepsi kuesioner menunjukan bahwa taman kota dengan tingkat kenyamanan paling tinggi adalah di Taman God Bless. Tingkat kenyamanan termal ini dapat dipengaruhi oleh kondisi iklim mikro, lokasi taman, vegetasi, dan fasilitas yang ada disetiap taman kota.Kata kunci: Iklim mikro, kenyamanan termal, ruang terbuka hijau publik, kota ManadoAbstractPublic space plays an important role as a venue for various social, recreational and cultural activities. City parks are one of the public green open spaces that are expected to be able to meet the needs and demands for the comfort of visitors or users. One of the physical aspects of comfort in outdoor space is thermal comfort which is absolutely necessary for the human body. However, the impact of global warming and the increasing urban population density resulted in an increase in urban temperatures. The aim of the study was to analyze the level of thermal comfort in three Manado city parks through microclimate measurements (air temperature, humidity, wind speed and black ball temperature) and individual factors (weight and height) as well as through a questionnaire. The results of the research based on the results of calculations and perceptions of the questionnaire show that the city park with the highest comfort level is God Bless Park. This level of thermal comfort can be influenced by microclimatic conditions, park location, vegetation, and existing facilities in each city park.Keyword: Microclimate, thermal comfort, public green open space, Manado city
Evaluasi Kesesuaian Lahan Permukiman di Kota Palopo Gabriela I. Sarira, Gabriela I. Sarira; Mononimbar, Windy; Siregar, Frits O. P.
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2023): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v12i2.52607

Abstract

AbstrakSeiring berjalannya waktu pertambahan jumlah penduduk terus meningkat, mengakibatkan terjadinya perubahan penggunaan lahan. Berdasarkan data BPS Kota Palopo terjadi pertambahan penduduk sebanyak 34.628 jiwa pada tahun 2012-2021. Selain itu berdasarkan RTRW Kota Palopo Tahun 2022-2041, Kota Palopo merupakan kawasan strategis kota. Kota Palopo juga merupakan salah satu daerah yang ikut mengalami alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan permukiman dimana semakin bertambahnya kawasan permukiman yang tidak sejalan dengan yang seharusnya. Pembangunan permukiman di lahan tidak tepat dengan peruntukannya atau yang tidak direncanakan dapat berdampak pada penurunan kualitas lingkungan. Penelitian ini dibuat dengan tujuan untuk memahami kesesuaian lahan di Kota Palopo dan melakukan evaluasi kesesuaian lahan permukiman terhadap rencana pola ruang RTRW Kota Palopo Tahun 2022- 2041. Teknik overlay (tumpang susun) atau menindihkan berbagai parameter kesesuaian lahan yang ada serta analisis skoring untuk memberikan nilai pada sifat parameter yang digunakan dalam analisis data. Berdasarkan hasil analisis terdapat lima kelas kesesuaian lahan yakni: kawasan lindung, kawasan perkebunan terbatas/resapan air, kawasan perkebunan, kawasan perkebunan/permukiman terbatas, dan kawasan permukiman. Selain itu hasil evaluasi kesesuaian lahan permukiman terhadap rencana pola ruang RTRW Kota Palopo Tahun 2022-2041 yang dominan ialah tingkat Sangat Sesuai dengan luas sebesar 2.528,74 Ha.Kata kunci: Evaluasi; Kesesuaian Lahan; Permukiman.AbstractOver time, the population continues to increase, resulting in changes in land use. Based on BPS data for Palopo City, there was a population increase of 34,628 people in 2012-2021. In addition, based on the 2022-2041 Palopo City Spatial Planning, Palopo City is a strategic city area. The city of Palopo is also one of the areas that has experienced the conversion of agricultural land into residential areas where there is an increasing number of residential areas that are not in line with what they should be. Settlement development on land that is not in accordance with its designation or that is not planned can have an impact on reducing environmental quality. This research was made with the aim of understanding land suitability in Palopo City and evaluating the suitability of residential land against the spatial pattern plan of the Palopo City Spatial Plan for 2022-2041. The overlay technique (overlapping) or overlapping various existing land suitability parameters as well as scoring analysis to assign values to the properties of the parameters used in data analysis. Based on the results of the analysis, it can be concluded that there are five land suitability classes: protected areas, limited plantation areas/water absorption, plantation areas, limited plantation/settlement areas, and residential areas. In addition, the results of the evaluation of the suitability of residential land for the 2022-2041 spatial pattern plan for Palopo City, which is dominant, is the Very Suitable level with an area of 2,528.74 Ha.Keyword: Evaluation; Land Suitability; Settlement
Potensi Pengembangan Kawasan Wisata Pantai Desa Holtekamp Kecamatan Muara Tami Kota Jayapura Provinsi Papua Gwijangge, Lipen; Tilaar, Sonny; Supardjo, Surijadi
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2023): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v12i2.52608

Abstract

AbstrakKecamatan Muara Tami tepatnya Desa Holtekamp merupakan destinasi wisata yang pengembangannya diprakarsai oleh Peraturan Daerah Kota Jayapura No. 9 Tahun 2002 tentang Kepariwisataan dan Rencana Wilayah Kota Jayapura (RTRW) 2013-2033. maka dari itu perlu penelitian bagaimana mengembangkan potensi wisata yang ada di Kecamtan Muara Tami ini. Tujuan penelitian ini yaitu Mengindentifikasi Potensi Kawasan Wisata Pantai Desa Holtekamp di Kecamatan Muara Tami Kota Jayapura dan Menganalisis Pengembangan Potensi Kawasan Wisata Pantai Desa Holtekamp di Kecamatan Muara Tami Kota Jayapura.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dan kualitatif, dengan menggunakan teknik analisis SWOT. Dari hasil kajian bermakna bahwa potensi wisata yang dikembangkan di kawasan ini adalah Pantai Pasir Putih, Panorama Alam dan Batuan Unik. Selain itu, proyek pengembangan yang layak dilakukan antara lain pengembangan wisata yang menarik khususnya pariwisata dan wisata pariwisata, membuat website khusus untuk destinasi pariwisata di sub wilayah Muara Tami, serta peningkatan kerjasama promosi pariwisata, kemudahan akses. antara berbagai tujuan dan meningkatkan kesadaran tentang tujuan wisata. manajemen tujuan yang berkelanjutan.Kata Kunci: Potensi Pengembangan, Kawasan Wisata, Holtekamp.Abstract (10 pt)Muara Tami District, precisely Holtekamp Village, is a tourist destination whose development was initiated by Jayapura City Regional Regulation No. 9 of 2002 concerning Tourism and the Jayapura City Regional Plan (RTRW) 2013-2033. therefore it is necessary to research how to develop the existing tourism potential in Muara Tami District. The purpose of this study is to identify the potential for beach tourism in Holtekamp village in Muara Tami sub-district, Jayapura city and to analyze the development of potential for beach tourism in Holtekamp village in Muara Tami sub-district, Jayapura city. The method used in this research is descriptive and qualitative, using SWOT analysis techniques. From the results of the study it means that the tourism potential developed in this area is White Sand Beach, Natural Panorama and Unique Rocks. In addition, development projects that are feasible include developing attractive tourism, especially tourism and tourism, creating a special website for tourism destinations in the Muara Tami sub-region, as well as increasing cooperation in tourism promotion, ease of access. between various destinations and raise awareness about tourist destinations. sustainable goal management.Keyword: Development Potential, Tourism Area, Holtekamp
Tingkat Kepuasan Masyarakat Terhadap Kualitas Sistem Pengelolaan Persampahan di Kota Manado Hambari, Josua Kevin; Sembel, Amanda S; Rengkung, Michael M.
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 13 No. 1 (2024): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v13i1.55983

Abstract

Abstrak Dalam upaya mengelola dan menangani sampah di wilayah perkotaan, pemerintah Kota Manado telah menerapkan berbagai kebijakan, peraturan, serta strategi guna mengurangi produksi sampah di Kota Manado. Meskipun demikian, situasi kebersihan di Kota Manado masih belum mencapai standar yang diharapkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sistem pengelolaan persampahan di Kota Manado dan menganalisis tingkat kepuasan masyarakat terhadap kualitas sistem pengelolaan persampahan di Kota Manado. Dalam studi ini, pendekatan analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan bagaimana sistem pengelolaan sampah beroperasi di Kota Manado. Selain itu, metode analisis Indeks Kepuasan Pelanggan (Customer Satisfaction Index - CSI) digunakan untuk mengukur tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan sistem pengelolaan sampah yang tengah berjalan di Kota Manado. Berdasarkan hasil identifikasi sistem persampahan di Kota Manado belum dilakukan secara optimal, kurangnya sosialisasi, serta kurangya kesadaran masyarakat terkait persampahan. Hasil analisis CSI (Customer Satisfaction Index) rata-rata tingkat kepuasan masyarakat terhadap sistem pengelolaan sampah: Prosedur Pelayanan 79,51 (Puas), Waktu Penyelesaian 77,64 (Puas), Biaya Pelayanan 72,57 (Puas), Produk Pelayanan 69,68 (Puas), Sarana dan Prasarana 64,39 (Cukup Puas), Kompetensi Petugas Pelayanan 71,22 (Puas). Kata kunci: Tingkat Kepuasan; Sampah; Pelayanan Publik. Abstract In an effort to manage and handle waste in urban areas, the Manado city government has implemented various policies, regulations, and strategies to reduce waste production in Manado city. However, the cleanliness situation in Manado city still has not reached the expected standard. The purpose of this study is to identify the waste management system in Manado city and analyze the level of public satisfaction with the quality of the waste management system in Manado city. In this study, a descriptive analysis approach is used to describe how the waste management system operates in Manado City. In addition, the Customer Satisfaction Index (CSI) analysis method is used to measure the level of public satisfaction with the ongoing waste management system services in Manado City. Based on the identification results, the waste system in Manado City has not been carried out optimally, lack of socialization, and lack of public awareness regarding waste. The results of the CSI (Customer Satisfaction Index) analysis of the average level of public satisfaction with the waste management system: Service Procedures 79.51 (Satisfied), Completion Time 77.64 (Satisfied), Service Fees 72.57 (Satisfied), Service Products 69.68 (Satisfied), Facilities and Infrastructure 64.39 (Moderately Satisfied), Service Officer Competence 71.22 (Satisfied). Keyword: Satisfaction Level; Garbage; Public Service.
Perubahan Pemanfaatan Lahan di Sekitar Kawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Minahasa Selatan Soenpiet, Kezia M; Sembel, Amanda S; Lintong, Steven
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 13 No. 1 (2024): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v13i1.55986

Abstract

Abstrak Dalam RTRW Kabupaten Minahasa Selatan memperuntukkan kecamatan Amurang Timur sebagai pusat pemerintah Kabupaten. Hal tersebut menjadi daya tarik bagi penduduk pendatang untuk menjadikan kecamatan Amurang Timur sebagai lahan untuk tempat tinggal dan tempat usaha sehingga mendorong kebutuhan akan lahan juga semakin meningkat. Hal ini membawa implikasi beralihnya fungsi lahan pertanian dan semak belukar menjadi lahan terbangun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan lahan yang ada serta perubahan pemanfaatan lahan yang terjadi selama rentang waktu 15 tahun terakhir (2005 – 2021) dan keterkaitannya dengan faktor - faktor pendorong perubahan pemanfaatan lahan. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dengan menggunakan teknik analisis spasial untuk mengetahui dan menganalisis perubahan pemanfaatan lahan yang terjadi selama rentang waktu 5 tahun terakhir. Pemanfaatan lahan terdiri dari pertanian lahan kering campur, sawah, permukiman, perkantoran, perdagangan dan jasa, industri, ruang terbuka hijau dan semak belukar. Dari hasil analisis secara spasial dengan menggunakan bantuan software ArcGIS didapatkan perubahan pada luasan dan pada guna lahannya untuk perubahan luas lahan terbangun mengalami peningkatan. Sebaliknya luas lahan pertanian dan semak belukar mengalami penurunan atau beralihnya fungsi lahan selama rentang waktu 15 tahun terakhir (2005 – 2021) disekitar kawasan pusat pemerintahan kecamatan Amurang Timur. Faktor – Faktor pendorong perubahan pemanfaatan lahan terbagi menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dipengaruhi oleh (1)faktor geografis, (2)faktor demografi, (3)faktor aksesibilitas, (4)faktor ekonomi dan (5)faktor sosial budaya. Sedangkan faktor eksternal dipengaruhi oleh (1)faktor politik. Kata kunci: Perubahan Pemanfaatan Lahan, Kawasan Pusat Pemerintahan, SIG Abstract In the RTRW (Regional Spatial Plan) of South Minahasa Regency designates East Amurang sub-district as the center of the Regency government. This has become an attraction for migrants to make the Amurang Timur sub-district a land for residence and place of business, thereby driving the need for land to increase. This has the implication of changing the function of agricultural land and shrubs to built-up land. This study aims to determine existing land use and changes in land use that have occurred over the last 15 years (2005 to 2021) and their relationship to driving factors land use change. The research method used is qualitative descriptive analysis using spatial analysis techniques to determine and analyze changes in land use that have occurred over the last 5 years. Utilization the land consists of mixed dry land agriculture, paddy fields, settlements, offices, trade and services, industry, green open spaces and shrubs. From the results of spatial analysis using the help of ArcGIS software, it was found that changes in area and land use for changes in built-up land area have increased. On the other hand, the area of ​​agricultural land and shrubs has decreased or changed land functions over the last 15 years (2005 to 2021) around the central government area of ​​Amurang Timur sub-district. Factors driving changes in land use are divided into internal factors and external factors. Internal factors are influenced by (1)geographical factors, (2)demographic factors, (3)accessibility factors, (4)economic factors and (5)socio-cultural factors. Keyword: Land Use Change, Central Government Area, GIS
Persepsi Masyarakat terhadap Fungsi Taman Kota Di Kota Bitung (Studi Kasus : Taman Dotulong Dan Taman Kesatuan Bangsa) Lumenta, Kheren G.; Malik, Andi; Tungka, Aristotulus E.
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 13 No. 1 (2024): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v13i1.55987

Abstract

Abstrak Sangat penting bagi seluruh lapisan masyarakat perkotaan untuk memiliki ruang terbuka hijau. Pembangunan perkotaan merupakan tugas penting bagi kawasan hijau. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007 mendefinisikan Ruang Terbuka Hijau Perkotaan (RTHKP) adalah ruang terbuka di kawasan perkotaan yang dipenuhi tanaman yang memberikan manfaat lingkungan, sosial, budaya, ekonomi, dan estetika. Ini adalah departemen ini. Taman kota merupakan salah satu kawasan hijau terbuka. Taman kota merupakan ruang terbuka hijau yang tujuan utamanya adalah keindahan dan interaksi sosial. Dalam Journal for Psychology (2009), Robbins (2003) mengartikan persepsi sebagai hubungan dengan lingkungan sekitar seseorang. Ini adalah proses dimana manusia mengatur dan menafsirkan masukan sensoriknya untuk memahami lingkungannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap apa saja yang fungsi dari taman kota di Kota Bitung, khususnya Taman Dotulong dan Taman Kesatuan Bangsa. Analisis deskriptif kuantitatif dan analisis skala likert yang digunakan dalam penelitian ini. Kedua taman tersebut memiliki kedatangan dan pengunjung yang sama; pengunjung lebih sering datang pada sore dan malam hari dibandingkan pada pagi dan sore hari. Masyarakat Kota Bitung merasakan Taman Doturon memiliki fungsi yang lebih baik dibandingkan Taman Kesatuan Bangsa. Kata kunci: Ruang Terbuka Hijau, Taman Kota, Fungsi Taman Kota, Perpsepsi Masyarakat Abstract It is very important for all levels of urban society to have green open space. Urban development is an important task for green areas. Minister of Home Affairs Regulation Number 1 of 2007 defines Urban Green Open Space (RTHKP) as open space in urban areas filled with plants that provide environmental, social, cultural, economic and aesthetic benefits. This is this department. City parks are open green areas. City parks are green open spaces whose main purpose is beauty and social interaction. In the Journal for Psychology (2009), Robbins (2003) defines perception as a relationship with the environment around a person. It is the process by which humans organize and interpret their sensory input to understand their environment. This research aims to determine the public's perception of the functions of city parks in Bitung City, especially Dotulong Park and National Unity Park. Quantitative descriptive analysis and Likert scale analysis were used in this research. Both parks have similar arrivals and visitors; visitors come more often in the afternoon and evening than in the morning and evening. The people of Bitung City feel that Doturon Park has a better function than National Unity Park. Keyword: Green Open Space, City Parks, City Park Functions, Community Perception
Dampak Industri Cap Tikus Terhadap Perubahan Spasial dan Sosial Ekonomi Masyarakat di Kecamatan Motoling Timur Timporok, Agrivia C.; Tarore, Raymond Ch; Tinangon, Alvin
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 13 No. 1 (2024): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v13i1.55988

Abstract

Abstrak Industri alkohol menjadi salah satu sektor yang mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun terakhir di berbagai wilayah, termasuk di Kecamatan Motoling Timur. Pertumbuhan industri alkohol di daerah ini dapat berdampak signifikan terhadap perubahan spasial yang dapat mempengaruhi pola penggunaan ruang di wilayah tersebut, seperti perkembangan permukiman dan area komersial yang mungkin berkembang seiring dengan pertumbuhan industri. Penelitian ini bertujuan untuk dapat memberikan wawasan tentang bagaimana industri cap tikus mempengaruhi perubahan spasial di Kecamatan Motoling Timur dan bagaimana industri cap tikus mempengaruhi kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di Kecamatan Motoling Timur. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif, termasuk survei, observasi, dan wawancara. Populasi penelitian adalah penduduk yang bekerja sebagai petani captikus, sedangkan sampel akan mewakili populasi tersebut. Penelitian ini juga akan melibatkan pengumpulan data, analisis spasial menggunakan sistem informasi geografis dalam bentuk penelitian time series yang diambil dari tahun 2013, 2018 dan tahun 2023 serta aspek sosial dan ekonomi untuk mengetahui bagaimana pendapatan para petani captikus di Kecamatan Motoling Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa industri cap tikus mempengaruhi perubahan spasial dan perubahan pola permukiman di Kecamatan Motoling Timur. Industri ini juga memiliki dampak signifikan terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di Kecamatan Motoling Timur. Kata kunci: Industri Cap Tikus, Perubahan Spasial, Social Ekonomi Abstract The rapid growth of the alcohol industry in various regions, including the east motoling district, has significant spatial implications that can affect the area's land use patterns, such as the development of settlements and commercial areas. This research aims to provide insights into how the cap tikus industry affects spatial changes in the East Motoling District and its impact on the social and economic conditions of the community. The study uses quantitative and qualitative descriptive analysis methods, including surveys, observations, and interviews. The research population consists of farmers working in the cap tikus industry, with the sample representing this population. The study also involves data collection, spatial analysis using geographic information systems in the form of a time series study from 2013, 2018, and 2023, as well as social and economic aspects to understand the income of cap tikus farmers in the East Motoling District. The results show that the cap tikus industry influences spatial changes and settlement patterns in the east motoling district, and has a significant impact on the social and economic conditions of the community in East Motoling Distict Keyword: Cap Tikus Industry, Spatial Change, Socio Economic.