cover
Contact Name
-
Contact Email
sabuaunsrat@unsrat.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
sabuaunsrat@unsrat.ac.id
Editorial Address
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sam Ratulangi Jl. Kampus Unsrat - Manado 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur
ISSN : 20857020     EISSN : 28286324     DOI : 10.35793
Core Subject : Social, Engineering,
SABUA adalah jurnal lingkungan binaan dan arsitektur merupakan media informasi, komunikasi, dan pertukaran informasi mengenail masalah-masalah tentang bidang perencanaan wilayah dan kota, isu lingkungan binaan, interaksi manusia dengan karya-karya arsitektur serta interaksi antara manusia, karya-karya arsitektur dengan lingkungan binaan (kota dan desa).Artikel dapat berupa hasil penelitian, konsep perencanaan dan perancangan, kajian dan analisis kritis yang dapat ditulis dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Jurnal ini diterbitkan setiap enam bulanan (Mei dan November)
Articles 132 Documents
Coping Strategi Masyarakat Di Kawasan Rawan Banjir Kota Manado Demotekay, Selfi Joisefien; Waani, Judy O.; Egam, Pingkan P.
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 13 No. 1 (2024): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v13i1.56016

Abstract

Abstrak Strategi coping masyarakat merupakan respon yang dapat dilakukan oleh masyarakat setempat terhadap perubahan lingkungan terhadap bencana yang dihadapi oleh karena itu, Bencana banjir tidak hanya mengakibat kerusakan bangunan dan sarana prasarana umum, tetapi terganggunya aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Berdasarkan BPBD Kota Manado, terdapat banyak bencana salah satunya banjir yang menyebabkan kerugian harta benda, jiwa, dan rumah-rumah warga yang terendam air dan kerangka bangunan dibeberapa kelurahan pada Kota Manado. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui sebaran wilayah rawan banjir di Kota Manado dan tingkat strategi coping masyarakat diwilayah rawan banjir Kota Manado. Metode analisis yang digunakan adalah deskriptif-kuantitatif Likert untuk mengetahui strategi coping pada setiap variabel dan secara spasial untuk menghasilkan peta terkait sebaran wilayah rawan banjir dan strategi coping masyarakat diwilayah rawan banjir. Hasil dari analisis tersebut dapat menunjukkan daerah-daerah yang menerapkan strategi penanggulangan pada wilayah sebaran tempat yang rentan terhadap banjir pada Kecamatan Tuminting dan Kecamatan Bunaken di Kota Manado serta sikap masyarakat sebelum bencana, selama bencana dan sesudah banjir berdasarkan aspek ekonomi, sosial dan aspek kulturan. Kata Kunci: Coping Strategi, Rawan Banjir, Kota Manado Abstract Coping strategies are one of the responses that local communities implement to the environmental changes and disasters they face. Therefore, floods not only inflict physical harm on public buildings and infrastructure, but also disrupt the social and economic activities of the community. According to the Manado City BPBD, numerous disasters, including floods, have occurred, resulting in the loss of property, lives and homes of residents, as well as the flooding of structures in several sub-districts of Manado City.The objective of this research is to identify the distribution of flood-prone areas in Manado City and to assess community coping strategies in these areas. A descriptive-quantitative Likert analytical method is used to determine the coping strategies for each variable and a spatial approach is used to develop maps showing the distribution of flood-prone areas and the coping strategies of communities in these areas. The results of this analysis can show areas that implement mitigation strategies in areas that are vulnerable flooding in Tuminting District and Bunaken District in Manado City, as well as community attitudes before the disaster, during the disaster, and after the flood based on economic, social, and cultural aspects. Keywords: Coping Strategy, Flood Prone, Manado City
Kajian Pusat Pelayanan Kesehatan Jiwa di Kota Makassar dengan Pendekatan Tema Healing Environment Jermias, Agatha Kirey; Rondonuwu, Dwight M; Tilaar, Sonny
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 13 No. 1 (2024): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v13i1.57319

Abstract

AbstrakPusat pelayanan kesehatan jiwa adalah sebuah fasilitas yang melayani dan membantu untuk memulihkan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok untuk menjadi baik dan normal perasaan dan pemikirannya sehingga memungkinkan seorang individu untuk hidup harmonis dan produktif sebagai bagian dari masyarakat. Pentingnya kesehatan jiwa sudah mulai disadari oleh masyarakat Kota Makassar. Oleh karena itu, tujuan dari kajian Pusat Pelayanan Kesehatan Jiwa di Kota Makassar ini adalah untuk mendapatkan konsep yang tepat dalam merancang Pusat Pelayanan Kesehatan Jiwa yang mampu menerapkan prinsip-prinsip perancangan berbasis lingkungan penyembuhan di mana dalam implementasi desain terdapat interaksi antara indera manusia dengan alam sehingga membuat penggunanya merasa nyaman, diharapkan paradigma masyarakat mengenai gangguan jiwa dapat berubah dan masyarakat tidak segan lagi untuk memeriksakan kejiwaannya. Dalam proses perancangan objek ini menggunakan metode rasional atau metode perancangan yang melakukan analisis desain berdasarkan proses logis dan konsekuensi keputusannya dan dalam kajiannya melakukan studi komparasi yang dalam prosesnya melakukan pembandingan objek rancangan yang sudah ada dengan tipologi yang sama untuk mendapatkan data-data pendukung perancangan. Konsep yang diterapkan melalui pendekatan tema healing environment menghasilkan perancangan desain bangunan yang beradaptasi dengan alam, taman penyembuh, dan kebun untuk keperluan terapi dan rehabilitasi.Kata kunci: Pusat Pelayanan Kesehatan Jiwa; Kota Makassar; Healing Environment.AbstractA mental health service center is a facility that serves the mental health examination, treatment and counseling needs of a person or group to be able to live harmoniously and productively as part of society. The importance of mental health has begun to be realized by the people of Makassar City. Therefore, the aim of this study of the Mental Health Service Center in Makassar City is to obtain the right concept in designing a Mental Health Service Center which is able to apply design principles based on environmental healing where in the implementation of the design there is interaction between the human senses and nature so that making users feel comfortable, it is hoped that society's paradigm regarding mental disorders can change and people will no longer hesitate to have their mental health checked. In the process of designing this object, a rational method or design method is used which carries out design analysis based on the logistics process and the consequences of decisions and in the study carries out a comparative study which in the process compares existing design objects with the same typology to obtain design supporting data. The concept applied through the healing environment theme approach produces building designs that adapt to nature, healing gardens and gardens for therapy and rehabilitation purposes.Keyword: Mental Health; Makassar City; Healing Environment
Kajian Luasan Dan Sebaran Lahan Potensial Perumahan Kawasan Perkotaan Di Kabupaten Minahasa Utara [Studi Kasus: Kecamatan Kalawat, Airmadidi, Kauditan] Bokau, Devanya Deviani Ruth; Rondonuwu, Dwight M.; Mandey, Johansen C.
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 13 No. 1 (2024): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v13i1.57391

Abstract

Abstrak Kabupaten Minahasa Utara terletak pada jalur penghubung dua kota besar yang memiliki potensi terjadinya urbanisasi akibat letak geografisnya. Hal ini didukung dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Minahasa Utara tahun 2013-2033 yang menyatakan bahwa Kecamatan Kalawat, Kecamatan Airmadidi, dan Kecamatan Kauditan ditetapkan sebagai Kawasan Siap Bangun (KASIBA) dan Lingkungan Siap Bangun (LISIBA) yang diperuntukan untuk pembangunan perumahan berskala besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menghitung sebaran dan luasan yang dapat mencukupi sampai 20 tahun mendatang. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan teknik overlay dengan bantuan aplikasi software ArcGIS, melakukan pembobotan sesuai dengan kriteria lahan peruntukan perumahan. Berdasarkan identifikasi dan analisis maka diperoleh sebaran dan luas lahan potensial pengembangan perumahan keseluruhan seluas 16.130 Ha. Hasil tersebut menunjukan kapasitas lahan untuk peruntukan perumahan di wilayah penelitian pada tahun 2044 masih belum memadai untuk memenuhi kebutuhan perumahan yang ada. Kata kunci: Daya Dukung, Lahan Potensial, Perumahan. Abstract North Minahasa Regency is located on the connecting route between two big cities that have the potential for urbanization due to its geographical location. This is supported in the 2013-2033 Regional Spatial Plan of North Minahasa Regency which states that Kalawat Sub-district, Airmadidi Sub-district, and Kauditan Sub-district are designated as Ready to Build Areas (KASIBA) and Ready to Build Neighborhoods (LISIBA) intended for large-scale housing development. This study aims to identify and calculate the distribution and area that can be sufficient for the next 20 years. The analysis method in this study uses overlay techniques with the help of ArcGIS software applications, weighting according to the criteria for housing allocation land. Based on the identification and analysis, the distribution and area of potential housing development land totals 16,130 hectares. These results show that the capacity of land for housing designation in the study area in 2044 is still inadequate to meet existing housing needs. Keyword: Supportability, Potential Land, Housing.
Analisis Kebutuhan dan Potensi Pengembangan Ruang Terbuka Hijau Di Kota Bitung Berdasarkan Indeks Hijau Biru Indonesia (IHBI) Prantiono, Femando; Warouw, Fela; Sembel, Amanda S
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 13 No. 1 (2024): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v13i1.59181

Abstract

Abstrak Penelitian ini menganalisis kebutuhan RTH dan potensi pengembangan RTH di kota Bitung dengan menggunakan metode perhitungan IHBI. IHBI (Indeks Biru Hijau Indonesia) merupakan metode untuk menilai kualitas RTH berdasarkan fungsi ekologi dan sosial dengan memberikan bobot (persentase) yang melibatkan Faktor Hijau-Biru Indonesia (FHBI) dan elemen bonus terbuka hijau. Kota Bitung, sebagai salah satu kota di Indonesia, masih belum mencapai standar minimum tersebut. Perkembangan pesat di Kota Bitung, seperti perubahan lahan menjadi kawasan perumahan, industri, dan perdagangan, menyebabkan berkurangnya RTH di wilayah ini. Kekurangan RTH di Kota Bitung berdampak pada masalah lingkungan, seperti penurunan produksi oksigen, berkurangnya air tanah, ketidakstabilan iklim, menurunnya interaksi sosial, serta penurunan estetika kawasan perkotaan. Dengan memanfaatkan data spasial dan analisis geografis, penelitian ini mengidentifikasi kawasan yang memerlukan pengembangan ruang terbuka hijau. Metode IHBI berpotensi dalam meningkatkan ketersediaan RTH sebagai pengembangan RTH dengan menambahkan luasan jumlah bonus elemen pada setiap RTH yang tersebar. Hasil analisis menunjukkan bahwa kecamatan yang belum mencapai target 30% RTH dapat meningkatkan ketersediaannya dengan penerapan metode IHBI. Kata kunci'. Pengembangan RTH. Ruang Terbuka Hijau. Indeks Hijau Biru Indonesia Abstract This research analyzes the need for green open space and the potential for green open space development in the city of Bitung using the IHBI calculation method. IHBI (Indonesian Blue Green Index) is a method for assessing the quality of green open space based on ecological and social functions by giving weights (percentages) involving the Indonesian Green-Blue Factor (FHBI) and green open bonus elements. Bitung City, as one of the cities in Indonesia, has still not reached this minimum standard. Rapid development in Bitung City, such as changing land into residential, industrial and commercial areas, has resulted in a reduction in green open space in this area. The lack of green open space in Bitung City has an impact on environmental problems, such as decreased oxygen production, reduced groundwater, climate instability, decreased social interaction, and decreased aesthetics of urban areas. By utilizing spatial data and geographic analysis, this research identifies areas that require the development of green open spaces. The IHBI method has the potential to increase the availability of green open space as a green open space development by increasing the number of bonus elements in each spread of green open space. The results of the analysis show that sub-districts that have not reached the target of 30% green open space can increase its availability by implementing the IHBI method. Keyword: Development of green open space, Green Open Space, Indonesian Blue Green Index (IHBI)
Analisis Karakteristik Kawasan Rawan Bencana Tsunami di Wilayah Pesisir Kota Bitung Syalom Fujaya, Fransiska; Sembel, Amanda S; Rondonuwu, Dwight M.
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 13 No. 1 (2024): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v13i1.59210

Abstract

AbstrakKota Bitung merupakan salah satu kota yang terletak di pesisir pantai Sulawesi Utara. Dengan kondisi geografis ini menjadikan Kota Bitung memiliki potensi untuk terkena dampak bencana tsunami. Hal ini didukung dalam rencana tata ruang wilayah Kota Bitung tahun 2013-2033 yang menyebutkan beberapa kelurahan yang ada di Kecamatan Madidir, Kecamatan Girian, Kecamatan Ranowulu, Kecamatan Lembeh Selatan dan Kecamatan Lembeh Utara sebagai kawasan rawan bencana tsunami. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menghitung sebaran karakteristik kawasan rawan bencana tsunami di wilayah pesisir Kota Bitung. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan teknik spasial dengan menggunakan aplikasi software arcgis. Berdasarkan identifikasi dan analisis maka diperoleh karakteristik yang teridentifikasi kawasan rentan bencana tsunami di wilayah pesisir didominasi oleh dataran rendah yang meliputi seluruh wilayah penelitian di sepanjang pesisir pantai dengan luas sebaran 7388, 39 Ha dan kawasan berbukit serta gunung yang meliputi kelurahan yang ada di Kecamatan Lembeh Utara, Lembeh Selatan, Madidir, dan Ranowulu dengan luas sebaran 565,56 Ha. Hasil tersebut menunjukkan karakteristik di wilayah penelitian terdiri dari dataran rendah dan kawasan perbukitan.Kata Kunci : Karakteristik; Tsunami; Wilayah Pesisir AbstrakBitung City is one of the cities located on the coast of North Sulawesi. Due to this geographical condition, Bitung City has the potential to be impacted by tsunami disasters. This is supported by the Bitung City spatial plan for 2013-2033, which identifies several sub-districts in Madidir District, Girian District, Ranowulu District, South Lembeh District, and North Lembeh District as tsunami hazard zones. This study aims to identify and calculate the distribution of tsunami hazard-prone areas in the coastal regions of Bitung City. The analytical method used in this study involves spatial techniques using ArcGIS software. Based on the identification and analysis, it was found that the characteristics of the tsunami hazard-prone areas in the coastal regions are predominantly lowland areas, covering the entire study area along the coastline with a distribution area of 7388.39 hectares. Additionally, hilly and mountainous areas, including sub-districts in North Lembeh, South Lembeh, Madidir, and Ranowulu Districts, cover a distribution area of 565.56 hectares. These results indicate that the study area is characterized by both lowland and hilly areas.Keyword : Characteristics; Tsunami; Coastal Region
Analisis Debit Puncak dengan Membandingkan Penutupan Lahan Eksisting dan Rencana Tata Ruang di DAS Sario Laras Pitaloka, Dyah; Ch. Tarore, Raymond; Takumansang, Esli D.
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2024): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v13i2.59239

Abstract

AbstrakBanjir merupakan peristiwa yang disebabkan oleh meluapnya air dari batas tebing sungai dalam waktu singkat, mengakibatkan kerugian bagi banyak pihak. Di Indonesia, banjir terjadi secara berulang setiap tahun, terutama saat curah hujan meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penyebab banjir, dengan fokus pada debit puncak di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sario, Kota Manado. Tiga unsur utama yang memicu bencana banjir adalah faktor meteorologi, karakteristik fisik DAS, dan aktivitas manusia. Debit puncak, yang merupakan volume maksimum air di aliran sungai dalam periode tertentu, menjadi indikator penting dalam memahami risiko banjir. DAS Sario, dengan luas ± 2.968 Ha dan kondisi topografi berbukit, berpotensi mengalami banjir bandang akibat faktor-faktor seperti penyempitan sungai dan curah hujan ekstrem. Penelitian ini menggunakan metode rasional untuk mengukur debit puncak dan menganalisis dampak perubahan penggunaan lahan terhadap aliran sungai dan risiko banjir. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan wawasan untuk perencanaan tata guna lahan yang lebih baik dan langkah-langkah yang tepat dalam mengurangi risiko bencana banjir di wilayah ini.Kata kunci: Debit Puncak, DAS Sario, Metode Rasional AbstractFlood is an event caused by overflowing water from the edge of a river bank in a short time, causing losses to many parties. In Indonesia, floods occur repeatedly every year, especially when rainfall increases. This study aims to analyze the factors causing floods, focusing on the peak discharge in the Sario River Basin (DAS), Manado City. The three main elements that trigger flood disasters are meteorological factors, physical characteristics of the watershed, and human activities. Peak discharge, which is the maximum volume of water in the river flow in a certain period, is an important indicator in understanding flood risk. The Sario watershed, with an area of ± 2,968 Ha and hilly topography, has the potential to experience flash floods due to factors such as river narrowing and extreme rainfall. This study uses a rational method to measure peak discharge and analyze the impact of land use changes on river flow and flood risk. The results of the study are expected to provide insight for better land use planning and appropriate steps to reduce the risk of flood disasters in this area.Keyword: Peak Discharge, Sario Rational Method.Watershed
Ketersediaan Prasarana dan Sarana Permukiman di Kecamatan Remboken Sanger, Dennis C.H.; Malik, Andy A.M.; Sembel, Amanda S.
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 13 No. 1 (2024): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v13i1.59245

Abstract

AbstrakDalam RTRW Minahasa 2014-2034 dikatakan kecamatan yang termasuk sebagai pusat pertumbuhan kabupaten yaitu pusat kegiatan lokal salah satunya adalah Kecamatan Remboken. Pasal 5 ayat 2 huruf (g) mengatakan tentang meningkatkan ketersediaan dan kualitas peIayanan prasarana serta fasilitas pednukung kegiatan pedesaan atau perkotaan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisa tentang ketersediaan sarana dan prasarana di Kecamatan Remboken menggunakan SNI 03-1733-2004 dan Standar Pelayanan Minimal tentang Prasarana juga menganalisis kebutuhan sarana selama 20 tahun kedepan berdasarkan Proyeksi Pertumbuhan Penduduk. Pengumpulan data primer melalui pengamatan lapangan, teknik dokumentasi, dan wawancara dengan instansi terkait, sedangkan data sekunder didapatkan dari Badan Pusat Statistik Minahasa yang dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif, untuk menganalisis data digunakan metode deskriptif kuantitatif, untuk mengetahui persebaran prasarana dan sarana serta radius pelayanan sarana digunakan metode analisis spasial. Hasil dan pembahasan diketahui kualitas prasarana jalan dimana lebar jalan belum sesuai standar dan prasarana air bersih di desa Pulutan belum dikelola secara komunal, prasarana persampahan belum tersedianya Tempat Pembuangan Sementara. Dalam rentan waktu 20 tahun Sarana Pendidikan Taman Kanak Kanak perlu penambahan 11 unit, Sekolah Menengah Pertama perlu penambahan 2 unit dan Sekolah Menengah Atas perlu penambahan 4 unit. Sarana Kesehatan Posyandu perlu penambahan 7 unit dan Dokter Praktek perlu penambahan 3 unit.Kata-kunci: prasarana; sarana; permukiman AbstractIn the 2014-2034 Minahasa RTRW, it is said that the sub-district is included as the center of district growth, namely the center of local activities, one of which is Remboken District. Article 5 paragraph 2 letter (g) says about improving the availability and quality of infrastructure and facilities to support rural or urban activities. This study aims to identify and analyze the availability of facilities and infrastructure in Remboken District using SNI 03-1733-2004 and Minimum Service Standards on Infrastructure as well as analyze the need for facilities for the next 20 years based on Population Growth Projections. Primary data collection was through field observations, documentation techniques, and interviews with related agencies, while secondary data was obtained from the Central Statistics Agency of Minahasa which was analyzed using a qualitative descriptive method, to analyze the data was used a quantitative descriptive method, to find out the distribution of infrastructure and facilities as well as the radius of service facilities was used the spatial analysis method. The results and discussions were known to the quality of road infrastructure where the width of the road was not up to standard and the clean water infrastructure in Pulutan village had not been managed communally, and the waste infrastructure was not yet available for a Temporary Disposal Site. In the span of 20 years, the Children's Kindergarten Education Facility needs to add 11 units, Junior Secondary Schools need to add 2 units and Senior Secondary Schools need to add 4 units. Posyandu Health Facilities need an additional 7 units and Practicing Doctors need an additional 3 units.Keywords : infrastructure; facilities; settlement
Strategi Pengembangan Objek Wisata Budaya di Kabupaten Minahasa Sorongan, Josua; Wuisang, Cynthia E. V.; Sondakh, Julianus A. R.
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2024): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v13i2.59252

Abstract

AbstrakKabupaten Minahasa merupakan wilayah yang di Provinsi Sulawesi Utara yang memiliki berbagai macam budaya yang terkandung pada wilayah tersebut. Dengan keberagaman budaya yang ada, melatarbelakangi penulis untuk meneliti lebih lanjut tentang objek wsiata budaya yang ada di Kabupaten Minahasa. Tercatat dalam Perataruan Daerah Kabupaten Minahasa No. 1 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah bahwa di Minahasa memiliki 8 kawasan peruntukan untuk objek wisata budaya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hasil evaluasi kondisi objek wisata budaya di Kabupaten Minahasa dan Menentuan strategi yang tepat dalam pengembangan objek wisata budaya kedepannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah Deskriptif Kualitatif. Dalam penelitian ini, pertama-tama di identifikasi setiap objek wisata budaya yang ada kemudian diklasifikasikan selanjutnya di evaluasi Komponen penyusun wisatanya dengan menggunakan teori 4A, yaitu Atraksi, Aksesibilitas, Amenitas, dan Ancilary. Kemudian, dibuat Matriks SWOT dari setiap objek wisata budaya yang ada. Untuk mengetahui strategi pengembangan yang cocok dan tepat untuk objek wisata budaya yang ada di Kabupaten Minahasa, dilakukan dengan analisis SWOT IFAS dan EFAS, dengan hasil strategi pengembangan yang di dapat ialah strategi W-O atau mengurangi kelemahan dan memanfaatkan peluang, atau Strategi Stabilitas.Kata kunci: Strategi Pengembangan, Objek Wisata Budaya, Kabupaten Minahasa AbstractMinahasa Regency is an area in North Sulawesi Province that has various cultures within it. The cultural diversity present has prompted the author to further research the cultural tourism objects in Minahasa Regency. According to the Minahasa Regency Regional Regulation No. 1 on Spatial Planning, Minahasa has 8 designated areas for cultural tourism objects. The purpose of this research is to evaluate the condition of cultural tourism objects in Minahasa Regency and to determine the appropriate strategies for the future development of these cultural tourism objects. The method used in this research is Descriptive Qualitative. In this study, each cultural tourism object is first identified and then classified. Subsequently, the components of each tourism object are evaluated using the 4A theory: Attraction, Accessibility, Amenity, and Ancillary. A SWOT Matrix is then created for each cultural tourism object. To determine the suitable and precise development strategies for the cultural tourism objects in Minahasa Regency, SWOT IFAS and EFAS analyses are conducted, resulting in the development strategy of W-O (Weakness-Opportunity) or reducing weaknesses and utilizing opportunities, or Stability Strategy.Keyword: Development Strategy, Tourist Attraction, Minahasa Regency.
Kajian Intensitas Pemanfaatan Ruang di Kecamatan Wenang Paiman, Josua Gabriel; Kindangen, Jefrey I.; Prijadi, Rachmat
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2024): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v13i2.59262

Abstract

AbstrakKecamatan Wenang sebagai kawasan pusat kota manado, merupakan wilayah perkotaan inti dan memiliki keterkaitan fungsional dengan wilayah di sekitarnya, yang kemudian mengakibatkan banyaknya perdagangan dan jasa berskala kawasan yang ikut dalam perkembangan pemanfaatan ruang. kajian intensitas pemanfaatan ruang diperlukan agar dapat dikatahui tentang seberapa sering manusia memanfaatkan ruang di sekitar mereka, sehingga bisa mengatur arahan pembangunan yang ada di Kecamatan Wenang. Penelitian ini menggunakan Sistem Informasi Geografis sebagai alat untuk menganalisis intensitas pemanfaatan ruang yang diukur melalui KDB, KDH, dan KLB. Perhitungan intensitas pemanfaatan ruang menggunakan Metode Analisis ArcGis Model Builder. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, seluruh kawasan yang ada di kecamatan wenang, belum sepenuhnya memiliki KDB, KDH, dan KLB yang sesuai dengan ketentuan yg telah di atur dalam RTRW Kota Manado 2023-2042. Nilai rata-rata intensitas pemanfaatan ruang di kecamatan wenang adalah KDB 70.70%, KDH 29.30%, dan KLB 1.8. berdasarkan hasil analisis tersebut, kecamatan wenang memiliki intensitas pemanfaatan ruang dengan kategori sangat padat.Kata kunci: Intensitas Pemanfaatan Ruang, Sistem Informasi Geografis, ArcGis Model Builder. AbstractWenang District, as the central area of Manado, is the core urban area and has a functional relationship with the surrounding areas, which has resulted in a significant amount of trade and services on a district scale, contributing to the development of space utilization. A study on the intensity of space utilization is necessary to understand how often people use the space around them, so that development directions in Wenang District can be better managed. This research uses Geographic Information Systems (GIS) as a tool to analyze the intensity of space utilization, measured through the Building Coverage Ratio (KDB), Floor Area Ratio (KDH), and Building Density Ratio (KLB). The calculation of space utilization intensity employs the ArcGIS Model Builder Analysis Method. Based on the analysis, the entire area in Wenang District does not yet fully meet the KDB, KDH, and KLB requirements as outlined in the Manado City Spatial Planning (RTRW) for 2023-2042. The average intensity values for space utilization in Wenang District are KDB 70.70%, KDH 29.30%, and KLB 1.8. Based on this analysis, Wenang District is categorized as having a very high intensity of space utilization.Keyword: Intensity of Space Utilization, Geographic Information System, ArcGis Model Builder
Strategi Pengembangan Prasarana dan Sarana Kawasan Agrowisata di Kota Tomohon (Studi Kasus : Kec. Tomohon Timur) Ngion, Renaldy Miracle; Mononimbar, Windy; Tinangon, Alvin J.
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2024): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v13i2.59267

Abstract

AbstrakKegiatan pariwisata merupakan kegiatan yang strategis untuk dikembangkan di Kecamatan Tomohon Timur Kota Tomohon, dalam upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Salah satu potensi pariwisata yang di miliki Kota Tomohon adalah agrowisata di Kecamatan Tomohon Timur, kawasan agrowisata ini dikelola oleh penduduk setempat secara tradisional. Dengan adanya potensi dan permasalahan yang ada, maka dari itu dilakukan penelitian untuk mengkaji “Strategi Pengembangan Prasarana dan Sarana Kawasan Agrowisata Di Kecamatan Tomohon Timur”. Tujuan penelitian ini adalah megidentifikasi karakteristik kawasan agrowisata dan untuk menetapkan strategi pengembangan Prasarana dan Sarana kawasan agrowisata. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif yang bersifat deskriptif kualitatif yang dilakukan sesuai dengan tujuan penelitian dengan menggambarkan atau menguraikan secara jelas apa yang ada dilapangan, dan analisis SWOT merupakan suatu alat yang efektif dalam membantu menstrukturkan masalah, terutama dengan melakukan analisis alas lingkungan strategis, yang lazim disebut sebagai lingkungan internal dan lingkungan eksternal. Secara internal sejumlah Kekuatan (strengths) atau sumberdaya dan kelemahan-kelemahan (weaknesses) atau keterbatasan/kekurangan, dan secara ekstemal akan berhadapan dengan berbagai Peluang (opportunities) atau situasi/kecenderungan utama yang menguntungkan berasal dari luar, dan ancaman - ancaman (threats) situasi/kecenderungan utama yang tidak menguntungkan berasal dari luar.Kata kunci: Pengembangan, Sarana, Prasarana AbstractTourism activities are strategic activities to be developed in East Tomohon District, Tomohon City, in an effort to increase Regional Original Revenue (PAD). One of the tourism potentials owned by Tomohon City is agrotourism in East Tomohon District, this agro-tourism area is traditionally managed by local residents. With the potential and existing problems, therefore research was carried out to examine the "Strategy for the Development of Infrastructure and Facilities of Agro-Tourism Areas in East Tomohon District". The purpose of this study is to identify the characteristics of agro -tourism areas and to establish strategies for the development of infrastructure and facilities of agro-tourism areas. The method used in this study is a qualitative descriptive analysis method that is carried out in accordance with the research objectives by describing or clearly describing what is in the field, and SWOT analysis is an effective tool in helping to structure the problem, especially by conducting an analysis of the strategic environment, which is commonly referred to as the internal environment and the external environment. Internally a number of strengths or resources and weaknesses or limitations/shortcomings, and externally will deal with various opportunities or main favorable situations/tendencies from outside, and threats of major unfavorable situations/tendencies from outside.Keywords: Development, Facilities, Infrastructure