cover
Contact Name
Muhammad Haqqiyuddin Robbani
Contact Email
muha198@brin.go.id
Phone
+62881010041900
Journal Mail Official
jtl@brin.go.id
Editorial Address
Gedung BJ Habibie Lantai 8, Jl. M.H. Thamrin No.8 Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Teknologi Lingkungan
Published by BRIN Publishing
ISSN : 1411318X     EISSN : 25486101     DOI : https://doi.org/10.55981/jtl
Jurnal Teknologi Lingkungan (JTL) is a journal aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. JTL is published twice annually and provide scientific publication for researchers, engineers, practitioners, academicians, and observers in the field related to science and environmental technology. We publish original research papers and case studies focused on environmental sciences, environmental technology as well as other related topics to environment including sanitation, environmental biology, waste water treatment, solid waste treatment, environmental design and management, environmental impact assessment, environmental pollution control and environmental conservation. Jurnal Teknologi Lingkungan (JTL) adalah jurnal yang bertujuan untuk menjadi platform peer-review dan sumber informasi yang otoritatif. JTL diterbitkan dua kali setahun dan menyediakan publikasi ilmiah bagi para peneliti, insinyur, praktisi, akademisi, dan pemerhati di bidang yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi lingkungan. Kami menerbitkan makalah penelitian asli dan studi kasus yang berfokus pada ilmu lingkungan, teknologi lingkungan serta topik terkait lainnya yang berhubungan dengan lingkungan termasuk sanitasi, biologi lingkungan, pengolahan air limbah, pengolahan limbah padat, desain dan manajemen lingkungan, analisis mengenai dampak lingkungan, pengendalian pencemaran lingkungan dan konservasi lingkungan.
Articles 150 Documents
Pengaruh Rasio Campuran Abu Sekam Padi dan Zeolit terhadap Waktu Ikat, Berat Isi, dan Kuat Tekan Mortar Geopolimer Ramah Lingkungan Hikmah, Prettysesar Nurul; Nurjaya, Dwi Marta; Sumarno, Agung
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 25 No. 2 (2024)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2024.730

Abstract

Portland cement is an ingredient in mortar in the building industry. Portland cement manufacturing emits vast amounts of CO2, causing detrimental repercussions such as global warming. As a result, a less harmful cement alternative material, such as geopolymer, is required. The production of geopolymer materials requires components containing large amounts of Si and Al, such as rice husk ash (RHA) and zeolite, as well as alkaline activators, such as NaOH and Na2SiO3, which function as binding solutions for Si and Al in the geopolymerization reaction. The purpose of this study was to determine the mixed ratio effect of rice husk ash and zeolite on the setting time, density, and compressive strength. The method was used experimentally, with making samples size 5 cm x 5 cm x 5 cm and oven curing at 60°C for 24 hours to retain the quality of the geopolymer mortar. To study the effects of precursor on mortar compressive strength and compare the compressive strength of RHA-zeolite geopolymer mortar with portland cement mortar, five different geopolymer mortar compositions were used: 100% RHA, 90% RHA-10% zeolite, 70% RHA-30% zeolite, 50% RHA-50% zeolite, and 100% zeolite. The results of this study reveal that a high Si concentration in the geopolymer mortar increases compressive strength. The highest geopolymer mortar compressive strength values  were in the composition of 100% ASP with values at 7, 14, and 28 days, respectively 1.7 MPa, 2.5 MPa, and 2.8 MPa, despite the fact that geopolymer mortar has a lower compressive strength than portland cement mortar.   ABSTRAK Semen portland merupakan bahan yang digunakan pada mortar dalam industri bangunan. Terdapat dampak negatif pada proses produksi semen portland di mana menghasilkan gas CO2 yang besar sehingga pemanasan global terjadi. Adanya dampak negatif tersebut diperlukan material semen alternatif yang ramah lingkungan, seperti geopolimer. Produksi geopolimer memerlukan bahan yang mengandung Si dan Al tinggi, seperti abu sekam padi dan zeolit, selain itu perlu alkali aktivator sebagai binder dalam reaksi geopolimerisasi seperti NaOH dan Na2SiO3. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh rasio campuran antara abu sekam padi dan zeolit terhadap waktu ikat, berat isi, dan kuat tekan. Metode yang digunakan adalah eksperimental dengan membuat sampel berukuran 5 cm x 5 cm x 5 cm kemudian diberi perlakuan berupa perawatan oven di 60 °C selama 24 jam untuk menjaga kualitas mortar geopolimer. Dalam mempelajari efek unsur prekursor pada campuran mortar melalui perbandingan kuat tekan mortar geopolimer dan mortar semen yang diuji menggunakan mesin kompresi beton, terdapat 5 jenis komposisi campuran mortar yang dipakai yaitu 100% ASP, 90% ASP-10% zeolit, 70% ASP-30% zeolit, 50% ASP-50% zeolit, dan 100% zeolit. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah mortar geopolimer dengan kandungan Si yang tinggi meningkatkan kekuatan tekannya. Nilai kuat tekan mortar geopolimer terbaik adalah pada komposisi 100% ASP dengan nilai kuat tekan pada 7, 14, dan 28 hari sebesar 1,7 MPa, 2,5 MPa dan 2,8 MPa, tetapi kuat tekan mortar geopolimer masih lebih rendah daripada mortar semen portland.
Analysis of Sustainable Development in the Sarbagita Area Wiryananda, Ngakan Gede Agung Khrisna; Parahita, I Gede Andy Andika
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 25 No. 2 (2024)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2024.744

Abstract

Abstrak Provinsi Bali memiliki kawasan metropolitan yang disebut dengan Kawasan Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan). Sektor pariwisata menjadi sektor terbesar yang berpengaruh terhadap kinerja keuangan di Kawasan Sarbagita. Kontribusi positif dari sektor pariwisata terhadap perekonomian di Kawasan Sarbagita berbanding terbalik dengan kondisi dari aspek sosial dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan serta merumuskan strategi pembangunan berkelanjutan di kota dan kabupaten yang ada pada Kawasan Sarbagita. Metode yang digunakan dengan pendekatan kuantitatif dan studi literatur. Teknik analisis yang digunakan yaitu analisis tren, perhitungan indeks keberlanjutan, dan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten/Kota yang ada di Kawasan Sarbagita cenderung mengarah pada tidak berkelanjutan. Hal tersebut ditandai dengan belum seimbangnya ketiga aspek berkelanjutan, yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan. Kinerja ekonomi dan lingkungan di Kota Denpasar, Kabupaten Badung, dan Kabupaten Tabanan cenderung mengalami penurunan, sedangkan kinerja sosial cenderung stagnan selama periode 2017–2019. Kinerja aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan di Kabupaten Gianyar cenderung stagnan selama kurun waktu 2017–2019. Strategi yang dapat diterapkan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan di Kawasan Sarbagita adalah dengan meningkatkan peran Desa Adat. Desa Adat telah terbukti berhasil memberikan dampak positif terhadap pembangunan ekonomi, sosial, dan lingkungan.   Abstract The Bali Province has a metropolitan area called the Sarbagita Area (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan). The tourism sector is the largest sector that influences financial performance in the Sarbagita Area. The positive contribution of the tourism sector to the economy in the Sarbagita Area is inversely proportional to the conditions from the social and environmental aspects. This research aims to analyze economic, social, and environmental aspects and formulate sustainable development strategies in cities and districts in the Sarbagita Area. The method used is a quantitative approach and literature study. The analysis techniques used are trend analysis, sustainability index calculation, and descriptive. The results of the study show that the regencies/cities in the Sarbagita Area tend to lead to unsustainability. This is indicated by the unbalanced three aspects of sustainability, namely economic, social, and environmental. Economic and environmental performance in Denpasar City, Badung Regency, and Tabanan Regency tended to decline, while social performance tended to stagnate during the 2017–2019 period. The performance of economic, social, and environmental aspects in Gianyar Regency tends to be stagnant during the 2017–2019 period. The strategy that can be implemented to achieve sustainable development in the Sarbagita Area is increasing the role of Adat Villages. Adat Villages have been proven successful in providing a positive impact on economic, social, and environmental development.
Pengaruh Perbedaan Proporsi Sampah Polystyrene Paper (PSP) terhadap Pertumbuhan dan Kesintasan Larva Kumbang Hitam (Zophobas morio Fab.) Subchan, Wachju; Susilo, Vendi Eko; Wijaya, Rafael Wahyu
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 25 No. 2 (2024)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2024.830

Abstract

Plastic pollution is a global problem that is urgent to be solved immediately. Meanwhile, the increase in world population has resulted in an increase in plastic waste. One type of plastic that is widely used by people is polystyrene paper (PSP). Darkling beetle larvae (Zophobas morio Fab.) are known to be able to degrade polystyrene. This study aims to determine the effect of the proportion of Polystyrene Paper (PSP) on of Z. morio larvae’s growth and survival rate as well as PSP degradation rate by Z. morio larvae. The research was conducted at Center for Development of Advanced Science and Technology, University of Jember, Indonesia. The Z. morio larvae used had a body length of 3 - 4 cm and a body biomass of 0,17 - 0,27 g. The study used a completely randomized design (CRD) for 4 weeks. Parameters measured included body length growth, wet and dry biomass growth, survival rate, and PSP degradation rate. The results showed that the proportion of PSP had a significant effect on the larvae growth and PSP degradation rate by Z. morio larvae. The lower the proportion of PSP waste, the higher the growth of Z. morio larvae. However, the difference in the proportion of PSP waste had no significantly effect on the survival rate of Z. morio larvae. The highest proportion responding to PSP waste degradation occurred in P4 (10% concentrate + 80% PSP + 10% chayote) was 1.492 mg/g-larvae/week.   ABSTRAK Pencemaran plastik merupakan salah satu permasalahan global yang urgen untuk segera diatasi. Sementara, pertumbuhan penduduk dunia yang terus meningkat memberikan konsekuensi kecenderungan peningkatan sampah plastik. Dari berbagai jenis plastik, Polystyrene Paper (PSP) merupakan salah satu jenis plastik yang sering digunakan masyarakat. Larva Kumbang Hitam (Zophobas morio Fab.) diketahui mampu mendegradasi polystyrene (PS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh proposi sampah PSP terhadap pertumbuhan dan kesintasan larva Zophobas morio Fab. (Z. morio) serta tingkat degradasi sampah PSP oleh larva Z. morio. Penelitian dilaksanakan di Gedung Laboratorium Terpadu dan Sentra Inovasi Teknologi (LTSIT) Universitas Jember, Indonesia. Larva Z. morio yang digunakan berukuran panjang tubuh 3 - 4 cm dan biomassa tubuh 0,17 - 0,27 g. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) selama 4 minggu. Parameter yang diukur antara lain pertumbuhan panjang tubuh, pertumbuhan biomassa basah tubuh, pertumbuhan biomassa kering tubuh, kesintasan larva, dan tingkat degradasi sampah PSP. Pengambilan data parameter penelitian dilakukan setiap tujuh hari sekali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi sampah PSP berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan larva dan tingkat degradasi sampah PSP oleh larva Z. morio. Semakin rendah proporsi sampah PSP, maka semakin tinggi pertumbuhan larva Z. morio. Namun, perbedaan proporsi sampah PSP berpengaruh tidak signifikan terhadap kesintasan larva Z. morio. Proporsi yang memberikan respons terjadinya degradasi sampah PSP tertinggi terjadi pada P4 (10% konsentrat + 80% PSP + 10% labu siam) sebesar 1,492 mg/g-larva/minggu.
Evaluasi Produksi Refuse-Derived Fuel (RDF) dari Sampah Perkotaan (Studi Kasus: RDF Plant di Kabupaten Cilacap) Maulidayanti, Esti Mega; Yuliani, Manis; Robbani, Muhammad Haqqiyuddin; Wiharja, Wiharja; Hambali, Erliza; Setyaningsih, Dwi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 25 No. 2 (2024)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2024.1008

Abstract

Indonesia’s prevailing waste management paradigm, which still employs a collect-transport-dispose system, results in waste accumulation and adverse effects on health and the environment. In contrast, the cement sector’s necessity for renewable and environmentally benign energy is increasing. Refused-derived fuel (RDF) technology is one of the potential ways to solve both concerns. This study aimed to assess the viability of RDF manufacturing processes and products for the cement industry and to offer recommendations for a national standard. This research procedure included identifying waste composition and characteristics, observing RDF production, and evaluating RDF product quality, such as testing water content, ash content, and heating value. The results demonstrated that the Cilacap RDF Plant successfully produced RDF from municipal solid waste using the mechanical-biological treatment (MBT) method. The biodrying process could reduce waste’s moisture content from 55.44% to 23.63% and increase the heating value to approximately 15 MJ/kg. Nevertheless, the quality of RDF products must be enhanced to align with the biomass standards for the industry (SNI 8675: 2018). The Cilacap Plant RDF products were feasible for application in the cement industry, with further product quality improvement and production process optimization. The findings could be a reference for developing national standards in manufacturing RDF as an alternative fuel in the cement industry.   Abstrak Pengelolaan sampah di Indonesia masih menggunakan sistem kumpul-angkut-buang, menyebabkan penumpukan sampah dan dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan. Di sisi lain, kebutuhan energi terbarukan dan ramah lingkungan di sektor industri semen terus meningkat. Teknologi bahan bakar jumputan padat atau refuse-derived fuel (RDF) dianggap mampu menyelesaikan kedua permasalahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan proses pembuatan dan produk RDF untuk industri semen serta memberikan rekomendasi untuk pembuatan standar nasional. Prosedur penelitian ini mencakup identifikasi komposisi dan karakteristik sampah, observasi tahapan proses produksi RDF, dan evaluasi kualitas produk RDF seperti kadar air, kadar abu, dan nilai kalor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa RDF Plant Cilacap berhasil memproduksi RDF dari sampah kota menggunakan metode mechanical-biological treatment (MBT). Proses biodrying mampu menurunkan kadar air sampah dari 55,44% menjadi 23,63% dan meningkatkan nilai kalor menjadi sekitar 15 MJ/kg. Namun, kualitas produk RDF masih perlu ditingkatkan untuk memenuhi standar biomassa untuk industri (SNI 8675:2018). Produk RDF Plant Cilacap dinilai cukup layak untuk industri semen, dengan beberapa rekomendasi untuk peningkatan kualitas produk dan optimalisasi proses produksi. Temuan ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pembuatan standar nasional dalam produksi RDF sebagai bahan bakar alternatif di industri semen.
Pengaruh Penambahan Kamper sebagai Aditif terhadap Karakteristik dan Emisi Gas Buang Mesin Berbahan Bakar Bensin Nuryoto; Sobarsah, G. Awaludin; Rahmayetty, Rahmayetty; Jayanudin
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 25 No. 2 (2024)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2024.1055

Abstract

Abstract The automotive industry, synonymous with motorized vehicles, has experienced rapid development, and every motorized vehicle requires fuel as its power source. To ensure optimal engine performance, some individuals add additives to fuel using camphor. Research on camphor as a fuel additive is not new, as it has been studied by several researchers before, although with the use of premium gasoline in previous studies. In this study, we observed a different type of fuel, namely "pertalite," and conducted tests to assess camphor's solubility in pertalite, variations in octane number, and their impact on exhaust gas emissions. Therefore, the study aimed to understand the effects of camphor addition on the increase in octane number, changes in fuel characteristics, camphor dissolution time, and emissions from exhaust gas. The study involved varying camphor additions from 1 to 8% in pertalite fuel. The results of the study indicate that the use of camphor as a fuel additive in pertalite fuel does not have a negative impact on the environment in terms of exhaust gas emissions. However, it is not fuel-efficient due to the minimal increase in octane number, only rising from 90 to 90.4 (with an 8% camphor addition). Furthermore, it causes fluctuations in vapor pressure, ranging from 45 to 58.8 kPa, which can affect the combustion process in the chamber. On the other hand, the dissolution time of camphor is relatively long, requiring 5–26 minutes for concentrations of 1–8%, making it inefficient. The study results are expected to provide initial insights for developing other additives, such as alcohol, which is a renewable and safe chemical.   Abstrak Industri otomotif yang identik dengan kendaraan bermotor mengalami perkembangan yang sangat pesat, dan setiap kendaraan bermotor membutuhkan bahan bakar sebagai pengeraknya. Agar performa mesin tetap terjaga baik, ada sebagian masyarakat menambahkan aditif ke dalam bahan bakar menggunakan kamper. Penelitian terkait kamper sebagai aditif bahan bakar bukanlah hal baru, karena telah dilakukan riset oleh beberapa peneliti sebelumnya, tetapi menggunakan bahan bakar jenis premium. Penelitian dilakukan dengan melakukan pengamatan menggunakan bahan bakar yang berbeda yaitu jenis pertalite, serta melakukan pengujian kelarutan kamper ke dalam pertalite, perubahan karakteristik, bilangan oktana, serta pengaruhnya terhadap emisi gas buang. Oleh karena itu, penelitian ini mempunyai tujuan untuk menguji dan mengetahui pengaruh penambahan kamper terhadap peningkatan bilangan oktana, perubahan karakteristik bahan bakar jenis pertalite, waktu pelarutan kamper, dan emisi pada gas buang. Pengamatan dilakukan dengan memvariasikan penambahan kamper sebesar 1–8% pada bahan bakar pertalite. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan aditif berupa kamper pada bahan bakar pertalite tidak memiliki dampak negatif terhadap lingkungan terkait emisi gas buang, tetapi tidak ekonomis karena peningkatan bilangan oktana yang dihasilkan sangat kecil yaitu hanya meningkat dari 90 menjadi 90,4 (pada penambahan kamper sebanyak 8%). Selain itu berakibat fluaktiatif terhadap tekanan uap yaitu dari 45 menjadi 58,8 kPa, selanjutnya turun lagi dibawah 58,8 kPa, yang mana akan mempengaruhi proses pembakaran pada ruang bakar. Pada sisi yang lain, waktu pelarutan kamper tergolong lama karena membutuhkan waktu 5–26 menit untuk kadar 1–8%, sehingga menjadi tidak efisien. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi awal untuk pengembangan aditif yang lain seperti alkohol yang merupakan bahan kimia yang dapat diperbarui dan aman.
Strategi Pengendalian Pencemaran Perairan Danau Sentani di Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura Morin, Ciana Magdalena; Muhammad, Fuad; Maryono
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 25 No. 2 (2024)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2024.1675

Abstract

Sentani Lake, one of Indonesia's national priority lakes, serves a multitude of roles, including ecological, economic, tourism, and transportation functions. The local community has been exploring Sentani's Lake natural resources and potentials, which could potentially pose the lake to pollution and environmental deterioration. Pollution and environmental degradation are mainly caused by the erosion of the lake's boundaries and catchment areas, human settlements, transportation activities, agriculture, mining, and the use of floating net cage aquaculture. This research was performed to propose an effective pollution control strategy for Sentani Lake, with a particular focus on the East Sentani District. This descriptive quantitative research involved respondents who were selected using a purposive random sampling technique. In this research, SWOT analysis was employed to identify and formulate priority strategies for pollution control. The findings of this study underscore the paramount importance of water quality improvement strategies through concerted pollution control and environmental preservation efforts to be carried out by the Jayapura Regency Government. Those strategies require solid collaboration with traditional leaders and robust engagement with the local community. The key components of the strategies include augmenting the frequency of water quality monitoring, strategic planning and construction of domestic wastewater treatment facilities, fostering knowledge and expertise in floating net cage aquaculture, and enlisting the guidance of traditional leaders in delineating zones for the responsible utilization of Sentani Lake waters. ABSTRAK Sebagai salah satu danau prioritas nasional di Indonesia, Danau Sentani memiliki banyak fungsi seperti fungsi ekologi, ekonomi, pariwisata, dan transportasi. Masyarakat sudah sejak lama memanfaatkan potensi yang dimiliki Danau Sentani, tetapi pemanfaatan ekosistem danau dapat menimbulkan permasalahan berupa pencemaran dan kerusakan lingkungan danau. Pencemaran dan kerusakan tersebut disebabkan oleh rusaknya sempadan dan daerah tangkapan air, pemukiman penduduk, transportasi, pertanian, pertambangan, dan kegiatan perikanan budidaya keramba jaring apung (KJA). Tujuan dari penelitian deskriptif kuantitatif ini adalah untuk merumuskan strategi pengendalian pencemaran perairan danau khususnya di wilayah Distrik Sentani Timur. Penelitian ini menggunakan metode purposive random sampling untuk menentukan responden dan analisis SWOT untuk mengidentifikasi serta merumuskan prioritas strategi pengendalian pencemaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi prioritas yang tepat untuk pengendalian pencemaran adalah meningkatkan kualitas perairan Danau Sentani melalui pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan oleh Pemerintah Kabupaten Jayapura dengan dukungan tokoh adat dan masyarakat,  menambah frekuensi pemantauan kualitas air, perencanaan dan pembangunan IPAL domestik, meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan budidaya KJA serta melibatkan tokoh adat untuk menetapkan zonasi pemanfaatan perairan danau.
Coagulation-Flocculation of Tofu Wastewater using Natural Coagulant of Chempedak (Artocarpus integer) Seed Anifah, Eka Masrifatus; Sholikah, Umi; Ariani, Ismi Khairunnissa; Yorika, Rahmi; Raharti, Henny Widya
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 25 No. 2 (2024)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2024.1678

Abstract

Limbah cair tahu mencemari badan air dan menyebabkan bau tidak sedap di lingkungan. Koagulasi-flokulasi adalah metode efektif untuk menyisihkan kontaminan di limbah cair tahu karena metode ini memiliki efisiensi tinggi dan kebutuhan energi rendah. Namun, penggunaan koagulan kimia menghasilkan lumpur yang berbahaya, sehingga koagulan dari bahan alami lebih disukai karena aman untuk lingkungan dan manusia. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi ekstrak biji cempedak untuk menyisihkan COD, TSS, dan kekeruhan pada limbah cair tahu. Biji cempedak diekstrak menggunakan n-heksana dan NaCl untuk meningkatkan karakteristik koagulan. Eksperimen dilakukan secara batch menggunakan jar-tes. Dosis yang digunakan adalah 1,5–4 mL/L dengan pengadukan cepat 120 rpm selama 3 menit, pengadukan lambat 60 rpm selama 15 menit, dan sedimentasi 60 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koagulan biji cempedak dapat menurunkan kekeruhan dan TSS, tetapi meningkatkan konsentrasi COD. Gugus fungsi hidroksil dan karboksil memegang peranan penting dalam proses koagulasi. Kenaikan dosis koagulan dapat meningkatkan efisiensi penyisihan kekeruhan dan TSS. Dosis berlebih dapat menyebabkan resuspensi yang meningkatkan kekeruhan air. Dosis optimum untuk menyisihkan kekeruhan dan TSS di limbah cair tahu adalah 2,5 mL/L pada pH 9 dengan efisiensi penyisihan 78%. Efisiensi penyisihan TSS sebesar 77% didapatkan pada dosis 3,5 mL/L. Abstract The tofu wastewater contaminates water bodies and causes unpleasant odors to the environment. Coagulation-flocculation is an effective method to remove contaminants because of its high removal efficiency and low energy requirement. However, the use of chemical coagulants generates a significant amount of toxic sludge. Thus, a natural coagulant is more favorable because it is biodegradable and safe for human health. The objective of this study is to analyze the performance of chempedak seed extract to remove chemical oxygen demand (COD), total suspended solids (TSS), and turbidity in tofu wastewater. Chempedak seed was extracted using n-hexane and NaCl to improve the coagulant characteristics. The experiment was conducted in the batch system using a jar test apparatus. The experiment was carried out on a dosage range of 1.5–4 mL/L with a flash mixing rate of 120 rpm for 3 minutes, slow mixing of 60 rpm for 15 minutes, and sedimentation for 60 minutes. The result proved that the chempedak seed coagulant could reduce turbidity and TSS but increase COD concentration. The hydroxy and carboxy functional groups play a crucial role in coagulation activity. The increasing coagulant dosage increased the removal efficiency of turbidity and TSS. Overdosing can influence resuspension conditions that increase final turbidity. The optimum dosage to remove turbidity and TSS in tofu wastewater was 2.5 mL/L at a pH of 9 with a removal efficiency of 78%. The TSS removal efficiency of 77% was achieved at a dosage of 3.5 mL/L.
Pengembangan Sektor Transportasi yang Ramah Lingkungan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Setiastuti, Nugraheni; Apriyanto, Heri; Sugarmansyah, Ugay; Heldini, Noorish; Ayu Pradnyapasa, Dhita; Suhendra, Aphang; Wiratmoko, Agung; Dani Soewargono, Binuko; Dwi Tamtomo, Taufiq; Ardiana, Citra; Pratama Putera, Irfan; Lusia, Akira
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 25 No. 2 (2024)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2024.1750

Abstract

The development of an environmentally friendly transportation sector is a sustainable development effort that has a significant role in regional economic growth and reducing greenhouse gas (GHG) emissions. This research aims to identify the transportation subsector that has the strongest backward and forward linkages as a key regional economic subsector and analyze the economic and environmental impacts, mainly the increase in carbon emissions in the transportation sector due to an increase in final demand. This research uses an environmentally extended input-output (EEIO) analysis approach, with a case study of this research in the Yogyakarta Special Region Province (D.I. Yogyakarta). The primary data used is the Input-Output (I-O) table for D.I. Yogyakarta Province, which includes 52 sectors in 2016, and inventory data for D.I. Yogyakarta Province's greenhouse gas (GHG) emissions. Results of the simulation carried out show an increase in final demand by 25%, which will provide three impacts, namely direct impacts, indirect impacts, and induced effects on the transportation sector by creating a gross added value (NTB) of IDR 4,528,778.968 million, but at the same time, greenhouse gas emissions of 618.091 GgCO2e were also produced. The air transportation subsector is a subsector that has relatively strong direct and indirect backward and forward linkages, with a contribution to NTB of IDR 3,000,696.019 million and GHG emissions released by this subsector of 461.669 GgCO2e. Efforts to mitigate these emissions need to be made in stages by diffusing clean technology, and an effective, efficient, and sustainable transportation system.   Abstrak Pengembangan sektor transportasi yang ramah lingkungan merupakan upaya pembangunan berkelanjutan yang memiliki peran signifikan dalam pertumbuhan ekonomi wilayah dan penurunan emisi gas rumah kaca (GRK). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi subsektor transportasi yang memiliki keterkaitan ke belakang dan ke depan yang paling kuat sebagai subsektor ekonomi kunci wilayah, dan menganalisis dampak ekonomi dan lingkungan khususnya kenaikan emisi GRK terhadap sektor transportasi yang disebabkan adanya peningkatan permintaan akhir (final demand). Kajian ini menggunakan pendekatan analisis environmentally extended input-output (EEIO), dengan studi kasus penelitian ini di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (D.I. Yogyakarta). Data utama yang digunakan adalah Tabel Input-Output (I-O) Provinsi D.I. Yogyakarta yang meliputi 52 sektor tahun 2016 dan data inventarisasi emisi gas rumah kaca (GRK) Provinsi D.I. Yogyakarta. Hasil simulasi yang dilakukan adanya peningkatan permintaan akhir sebesar 25%, yang akan memberikan tiga dampak, yaitu dampak langsung, dampak tidak langsung, dan dampak imbasan (induced effects) terhadap sektor transportasi dengan menciptakan nilai tambah bruto (NTB) sebesar Rp4.528.778,968 juta, namun pada saat bersamaan dihasilkan pula emisi gas rumah kaca sebesar 618,091 GgCO2e. Subsektor transportasi udara merupakan subsektor yang memiliki keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang dan ke depan yang relatif kuat dengan kontribusi terhadap NTB sebesar Rp3.000.696,019 juta dan emisi GRK yang dikeluarkan oleh subsektor ini sebesar 461,669 GgCO2e. Upaya memitigasi emisi ini perlu dilakukan secara bertahap dengan mendifusikan teknologi bersih dan sistem transportasi yang efektif, efisien dan berkelanjutan.
Prediksi Timbulan Ampas Teh dari Rumah Makan dan Gerai di Kota Pekanbaru Selvia; Fitri, Yulia; Meka, Wahyu; Mulyani, Sri; Lestari, Dinda; Rahmadani, Nofia
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 25 No. 2 (2024)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2024.1979

Abstract

Waste from restaurants is not only food waste but also tea grounds, which have sustainable potential. Tea grounds from restaurants and beverage outlets will increase the amount of tea grounds  generated in Pekanbaru. This study aims to calculate and predict the generation of tea waste collected from restaurants and beverage outlets in Pekanbaru City. Restaurants and beverage outlets were selected in this study using Cluster Random Sampling. The Slovin method was used to estimate the number of samples needed. Multiple linear regression analysis was used to test how much influence the number of cups sold per day with the dose of tea used, the category of tea used, temperature, humidity, and rainfall on the amount of tea dregs. The average tea dregs in Pekanbaru City is 61 g/cup, where 79% of the dregs come from tea powder and tea bags contribute 21%. The linear regression model shows that variables that are significantly related to tea dregs include measure per cup (53%), temperature (17%), humidity (6%), cup size (5%), and rainfall (2%), while the number of cups and tea category are not significant. The calculated R2 is 0.844, which means that the proposed model can explain about 84.4% of the variation in the amount of tea dregs generated by restaurants and beverage outlets. The model accuracy test indicated a well-performing model with Mean Absolute Error (MAE), Root Mean Square Error (RMSE), and Mean Absolute Perception Error (MAPE) values of 6.39, 7.06, and 0.82, respectively. In addition to being a source of inspiration for further research in optimizing the use of tea grounds, this invention also has the potential to have a positive impact on the wider community by promoting utilization as a valuable resource. Abstrak Limbah dari rumah makan tidak hanya berupa sisa makanan, tetapi juga ampas teh, yang memiliki potensi yang berkelanjutan. Ampas teh dari rumah makan dan gerai minuman akan meningkatkan timbulan jumlah ampas teh yang dihasilkan di Pekanbaru. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung dan memprediksi timbulan ampas teh yang dikumpulkan dari rumah makan dan gerai minuman di Kota Pekanbaru. Rumah makan dan gerai minuman yang dipilih dalam penelitian ini menggunakan Cluster Random Sampling. Metode Slovin digunakan untuk mengestimasi jumlah sampel yang dibutuhkan. Analisis regresi linier berganda digunakan untuk menguji seberapa besar pengaruh jumlah cup yang terjual per hari dengan takaran teh yang digunakan, kategori teh yang digunakan, suhu, kelembaban, dan curah hujan terhadap jumlah ampas teh. Rata-rata ampas teh di Kota Pekanbaru adalah sebesar 61 g/cup, yaitu 79% ampas berasal dari teh bubuk dan teh celup berkontribusi sebesar 21%. Model regresi linear menunjukkan bahwa Variabel yang berhubungan secara signifikan terhadap ampas teh diantaranya takaran per cup (53%), suhu (17%), kelembaban (6%), ukuran cup (5%), dan curah hujan (2%), sedangkan jumlah cup dan kategori teh tidak signifikan. Hasil perhitungan R2 adalah sebesar 0,844, yang berarti model yang diusulkan dapat menjelaskan sekitar 84,4% variasi dalam jumlah ampas teh yang dihasilkan oleh rumah makan dan gerai minuman. Uji akurasi model mengindikasikan model dengan kinerja yang baik dengan nilai Mean Absolute Error (MAE), Root Mean Square Error (RMSE), dan Mean Absolute Perception Error (MAPE) secara berturut-turut sebesar 6,39, 7,06, dan 0,82. Selain menjadi sumber inspirasi bagi riset selanjutnya dalam mengoptimalkan penggunaan ampas teh, penemuan ini juga berpotensi memberikan dampak positif bagi masyarakat luas dengan mempromosikan pemanfaatan sebagai sumber daya yang bernilai.
Strategi Pengelolaan Lingkungan di Bentanglahan Solusional, Fluvio-marine, dan Marine Menggunakan Analisis SWOT di Kabupaten Badung Khaerul Amru; Nur Laksmita, Aulia; Mutia Herni Ningrum; Said Fahmi; Erwika Dhora Jati
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 25 No. 2 (2024)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2024.1999

Abstract

Badung Regency has a variety of landscape structures formed from various abiotic components that are integrated between climate, topography, and interactions between organisms to create specific spatial patterns. This study aims to identify problems and develop environmental management strategies in solutional landforms (Jimbaran Village), fluvio-marine (Tahura Ngurah Rai), and marine (Kuta Beach). The method used in this study is to use SWOT analysis with weighting and descriptive-analytical. Based on the results of identifying ecological problems in solutional areas are water drought and poor waste management. Environmental problems in fluvio-marine landscapes are related to waste. Environmental problems in marine landforms in Kuta Beach are the difficulty of clean water and drinking water sources, the potential for tsunami disasters, garbage as an active source of pollutants, and road congestion along Kuta Beach. Meanwhile, the management strategy from the results of the analysis obtained six points, namely the development of various types of fish pond farming, providing a means of marketing fish products, supporting the local economy by purchasing local farmers' fish products, improving environmental supervision of business people on waste management, restrictions on tourist activities in the buffer zone, and plant types that can support the sustainability of water resources and improve the function of buffer zones.   Abstrak Kabupaten Badung memiliki beragam struktur bentanglahan yang terbentuk dari berbagai komponen abiotik yang terintegrasi antara iklim, topografi, dan interaksi antar organismenya sehingga membentuk pola spasial yang spesifik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan lingkungan yang timbul pada bentanglahan solusional (Desa Jimbaran), fluvio-marine (Tahura Ngurah Rai), dan marine (Pantai Kuta). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis SWOT dengan pembobotan dan deskriptif-analitis. Berdasarkan hasil identifikasi permasalahan lingkungan di daerah solusional adalah kekeringan air dan pengelolaan limbah yang buruk. Masalah lingkungan di bentanglahan fluvio-marine terkait dengan limbah. Masalah lingkungan pada bentanglahan marine di Pantai Kuta adalah sulitnya sumber air bersih dan air minum, potensi bencana tsunami, sampah sebagai sumber polutan aktif, dan kemacetan jalan di sepanjang Pantai Kuta. Sementara itu, strategi pengelolaan dari hasil analisis diperoleh enam poin, yaitu pengembangan berbagai jenis budidaya tambak ikan, menyediakan sarana pemasaran produk ikan, mendukung ekonomi lokal dengan membeli produk ikan petani lokal, meningkatkan pengawasan lingkungan pelaku bisnis terhadap pengelolaan limbah, pembatasan kegiatan wisata di zona penyangga, dan jenis tanaman yang dapat mendukung keberlanjutan sumber daya air dan meningkatkan fungsi zona penyangga.

Page 6 of 15 | Total Record : 150