cover
Contact Name
Safni Elivia
Contact Email
safni@iphorr.com
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Karet, Sumber Rejo, Kec. Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung 35155
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports
ISSN : 28079094     EISSN : 28078489     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian kualitatif di bidang kesehatan berkaitan dengan penjelasan narasi atau cerita di balik suatu fakta atau kejadian. Disamping itu memuat laporan kegiatan penerapan asuhan keperawatan dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia. Terbit 2 kali dalam satu tahun bulan Juli dan Desember
Articles 249 Documents
Penerapan discharge planning berbasis leaflet untuk meningkatkan pemahaman pasien Septawan, Siarizky Cahyaharta; Setyowati, Lilis
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 7 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i7.2039

Abstract

Background: Discharge planning is a crucial component of nursing care to ensure continuity of care after a patient is discharged from the hospital. However, its implementation in the field is often suboptimal, resulting in a lack of comprehensive understanding of the discharge process for patients and families. Purpose: To determine the effectiveness of using leaflets in improving patient and family understanding of the discharge process. Method: The study used a quasi-experimental design with a non-equivalent pretest–posttest design. The sample was selected using a purposive sampling technique, with 12 respondents in the pretest phase and 14 in the posttest phase. The intervention consisted of discharge planning education through leaflets distributed over three days. Data were collected using a questionnaire that had been tested for content validity and reliability. Data analysis was performed using the Chi-Square test with a significance level of p < 0.05. Results: Before the intervention, only 4 respondents (33.3%) understood the discharge process, while 8 respondents (66.7%) did not. After the intervention, understanding significantly increased, with 12 respondents (85.7%) understanding the discharge process, while only 2 respondents (14.3%) still did not (p < 0.05). Conclusion: The leaflet media was shown to significantly improve the understanding of patients' families.   Keywords: Discharge Planning; Leaflet; Patient Education; Patient Understanding.                                                                                       Pendahuluan: Discharge planning merupakan komponen penting dalam asuhan keperawatan untuk memastikan kesinambungan perawatan setelah pasien pulang dari rumah sakit. Namun, pelaksanaannya di lapangan seringkali belum optimal, sehingga pasien dan keluarga tidak memahami alur perpulangan secara menyeluruh. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas penggunaan media leaflet dalam meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga mengenai alur perpulangan. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi-eksperimental dengan non-equivalent pretest–posttest design. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah responden 12 orang pada tahap pre-test dan 14 orang pada tahap post-test. Intervensi berupa edukasi discharge planning melalui media leaflet yang diberikan selama 3 hari. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas isi dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil: Sebelum intervensi, hanya 4 responden (33.3%) yang memahami alur perpulangan, sedangkan 8 responden (66.7%) tidak memahami. Setelah intervensi, tingkat pemahaman meningkat signifikan menjadi 12 responden (85.7%) yang memahami alur perpulangan, sementara hanya 2 responden (14.3%) yang masih belum memahami (p < 0.05). Simpulan: Media leaflet terbukti memberikan peningkatan yang signifikan terhadap pemahaman keluarga pasien.   Kata Kunci : Discharge Planning; Edukasi Pasien; Leaflet; Pemahaman Pasien.
Perkembangan terapi insulin konvensional hingga insulin analog: Literatur review Khoirunnisa, Hasna; Kamilah, Putri; Adiyatma, Raditya; Syifa, Salma Nabila; Mufidah, Salwa; Nada, Zakiyyah Qothrun; Ridwan, Heri
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.2054

Abstract

Background: The increasing prevalence of diabetes mellitus (DM) globally demands the development of more effective and physiological insulin therapies. Although DNA-engineered conventional human insulin has replaced animal insulin since the 1980s, conventional insulin has drawbacks, such as a pharmacokinetic profile that does not match human physiology, slow absorption, and a higher risk of nocturnal hypoglycemia. Purpose: To comprehensively assess advances in insulin therapy, highlighting key differences in pharmacokinetics, clinical efficacy, and safety between conventional and analog formulations. Method: This study employed a literature review design with a literature search of PubMed, Google Scholar, and OpenAlex databases using the keywords: "Diabetes Mellitus," "Insulin," "Insulin Analog," and "Conventional Insulin." Results: Analog insulins have a more consistent pharmacokinetic profile (such as rapid onset of action and stable duration in long-acting analogs) and potentially reduce the risk of hypoglycemia, thus improving glucose control. However, several local studies have shown that the effectiveness of analog insulins and conventional human insulin in reducing HbA1c levels and the incidence of hypoglycemia is not significantly different. Conclusion: Recent developments such as inhaled insulin, smart insulin, and artificial pancreas (closed-loop) systems offer opportunities for more personalized therapy, although cost and accessibility remain challenges.   Keywords: Analog Insulin; Conventional Insulin; Diabetes Mellitus; Insulin.                                          Pendahuluan: Meningkatnya prevalensi diabetes mellitus (DM) secara global menuntut pengembangan terapi insulin yang lebih efektif dan fisiologis. Meskipun insulin konvensional manusia yang direkayasa DNA telah menggantikan insulin hewan sejak tahun 1980-an, insulin konvensional memiliki kekurangan, seperti profil farmakokinetik yang tidak sesuai dengan fisiologi tubuh, penyerapan lambat, dan risiko hipoglikemia nokturnal yang lebih tinggi. Tujuan: Untuk menilai secara komprehensif kemajuan dalam terapi insulin, dengan menekankan perbedaan penting dalam aspek farmakokinetik, kemanjuran klinis, dan keamanan antara formulasi konvensional dan analog. Metode: Penelitian ini menggunakan desain tinjauan literatur dengan pencarian literatur dari basis data PubMed, Google Scholar, dan OpenAlex menggunakan kata kunci: "Diabetes Mellitus", "Insulin", "Insulin Analog", dan "Insulin Konvensional". Hasil: Insulin analog memiliki profil farmakokinetik yang lebih konsisten (seperti onset aksi yang cepat dan durasi yang stabil dalam analog yang bekerja lama) dan berpotensi mengurangi risiko hipoglikemia sehingga meningkatkan kontrol glukosa. Namun, beberapa studi lokal menunjukkan bahwa efektivitas insulin analog dan insulin manusia konvensional dalam menurunkan kadar HbA1c dan kejadian hipoglikemia tidak berbeda secara signifikan. Simpulan: Perkembangan terbaru seperti insulin inhalasi, insulin pintar, dan sistem artificial pancreas (closed-loop) menawarkan peluang untuk terapi yang lebih personal, meskipun kendala biaya dan aksesibilitas tetap menjadi tantangan.   Kata Kunci: Diabetes Mellitus; Insulin; Insulin Analog; Insulin Konvensional.
Gambaran upaya pencegahan penyakit skabies terhadap pengetahuan dan sikap siswa Rahmatulla, Ahmat Ali; Subandi, Andi; Rudini, Dini; Sari, Lisa Anita; Mawarti, Indah
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.2068

Abstract

Background: Scabies is a contagious skin infestation often found in densely populated environments such as Islamic boarding schools. Close physical contact between students and limited personal hygiene practices can increase the risk of transmission. Improving knowledge and attitudes regarding scabies prevention is crucial to suppress the spread of this disease. Purpose: To describe the level of students' knowledge and attitudes regarding scabies prevention. Method: This study used a quantitative descriptive design using a cross-sectional approach. Ninety-nine students participated. Data were collected using a structured questionnaire that assessed knowledge and attitudes regarding scabies prevention. Data were analyzed univariately and presented as frequency distributions and percentages. Results: The majority of students (48.5%) had sufficient knowledge about scabies prevention, 32 (32.3%) had poor knowledge, and 19 (19.2%) had good knowledge. Furthermore, the attitude variable showed that the majority of students (62.6%) were in the fair attitude category, while 37 (37.4%) were in the very good attitude category, and no students had poor attitudes. Conclusion: Students' knowledge and attitudes toward scabies prevention were generally in the fair category, but still need improvement, especially in the group with poor knowledge.   Keywords: Attitude; Knowledge; Scabies; Students.   Pendahuluan: Skabies merupakan infestasi kulit menular yang sering ditemukan pada lingkungan padat hunian seperti pondok pesantren. Kontak fisik yang erat antar siswa serta keterbatasan praktik kebersihan diri dapat meningkatkan risiko penularan. Peningkatan pengetahuan dan sikap terhadap pencegahan skabies menjadi hal penting untuk menekan penyebaran penyakit ini. Tujuan: Untuk menggambarkan tingkat pengetahuan dan sikap siswa mengenai pencegahan skabies. Metode: Penelitian dengan desain deskriptif kuantitatif menggunakan pendekatan cross-sectional. Responden berjumlah 99 siswa. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur yang menilai pengetahuan dan sikap terkait pencegahan skabies. Data dianalisis secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi serta persentase. Hasil: Mayoritas siswa memiliki pengetahuan kategori cukup tentang pencegahan skabies sebanyak 48 orang (48.5%), pengetahuan kurang 32 orang (32.3%), dan pengetahuan baik 19 orang (19.2%). Selain itu, variabel sikap menunjukkan sebagian besar siswa berada pada kategori sikap cukup sebanyak 62 orang (62.6%), sedangkan sikap sangat baik sebanyak 37 orang (37.4%), dan tidak ada siswa dengan sikap kurang. Simpulan: Pengetahuan dan sikap siswa terhadap pencegahan skabies secara umum berada pada kategori cukup, tetapi masih perlu ditingkatkan terutama pada kelompok dengan pengetahuan kurang.   Kata Kunci: Pengetahuan; Siswa; Sikap; Scabies.
Hubungan kemampuan komunikasi efektif tenaga medis terhadap kepuasan pasien Detty, Ade Utia; Rizki, Fakhri; Liasari, Deni Eka
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.2069

Abstract

Background: The quality of healthcare delivery can be improved by identifying current problems, and a key area to identify these problems is through customer satisfaction assessments. Many factors contribute to patient dissatisfaction in hospitals, one of which is communication from medical staff. Lack of communication between hospital staff and patients is a common complaint among patients in hospitals. Purpose: To analyze the relationship between effective communication skills of medical staff and patient satisfaction in hospitals. Method: This quantitative study used a cross-sectional design. The population was all patients at Bintang Amin Hospital. The sampling technique used was purposive sampling with a sample of 100 respondents. The instrument used was a questionnaire, and the statistical test used was the chi-square test. Results: The frequency distribution of effective communication was good (61%), and satisfaction (66%). The chi-square test result showed a p-value of 0.000 <0.05. Conclusion: There is a relationship between effective communication skills of medical staff and satisfaction.   Keywords: Effective Communication; Medical Personnel; Patients; Satisfaction.   Pendahuluan: Kualitas penyediaan pelayanan kesehatan dapat ditingkatkan dengan mendeteksi masalahnya saat ini, dan area penting untuk mengenali masalah tersebut melalui penilaian kepuasan pelanggan. Banyak faktor penyebab ketidakpuasan pasien di rumah sakit, salah satunya adalah faktor komunikasi dari tenaga medis. Kurangnya komunikasi antara staf rumah sakit dengan pasien merupakan salah satu alasan keluhan umum pasien di rumah sakit. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan kemampuan komunikasi efektif tenaga medis terhadap kepuasan pasien di rumah sakit. Metode: Jenis penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian cross sectional, populasi adalah seluruh pasien di RS. Bintang Amin, teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan sampel 100 responden. Instrumen menggunakan kuesioner dan uji statistic yang digunakan  uji chi square. Hasil: Distribusi frekuensi komunikasi efektif (61%) baik, kepuasan (66%) puas. Hasil uji chi square p-value 0.000<0.05. Simpulan: Ada hubungan komunikasi efektif tenaga medis terhadap kepuasan.   Kata Kunci : Komunikasi Efektif, Kepuasan, Tenaga Medis, Pasien
Analisis faktor kepuasan pasien di rumah sakit Detty, Ade Utia; Rizki, Fakhri; Liasari, Deni Eka
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.2070

Abstract

Background: The quality of healthcare service provision can be improved by detecting current problems, and important areas to recognize these problems through customer satisfaction assessment. Five general dimensions of service quality are tangible evidence, reliability, responsiveness, assurance, and empathy. If consumers see that the application of quality dimensions in daily work will significantly affect their needs and expectations, then this situation can lead to positive consumer behavior. Purpose: To analyze patient satisfaction factors at Bintang Amin Hospital. Method : This type of quantitative research with a cross-sectional research design, the population is all patients at Bintang Amin Hospital, the sampling technique used is purposive sampling with a sample of 100 respondents. The instrument uses a questionnaire and the statistical test used is the chi-square test. Results: The frequency distribution of reliability (63%) was good, assurance (59%) was good, tangible evidence (61%)  was good, empathy (61%) was good, responsiveness (60%) was good, and satisfaction (64%) is satisfied. The results of the chi-square test p-value 0.000 ≤ 0.05. Conclusion: There is a relationship between reliability, assurance, tangibles, empathy, and responsiveness and satisfaction.   Keywords: Assurance; Empathy; Reliability; Responsiveness; Satisfaction; Tangibles.   Pendahuluan: Kualitas penyediaan pelayanan kesehatan dapat ditingkatkan dengan mendeteksi masalahnya saat ini, dan area penting untuk mengenali masalah tersebut melalui penilaian kepuasan pelanggan. Lima dimensi umum kualitas pelayanan berupa bukti fisik (tangible), kehandalan (reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance), dan empati (empathy). Apabila konsumen melihat bahwa penerapan dimensi kualitas dalam pekerjaan sehari-hari akan sangat memengaruhi kebutuhan dan harapan mereka, maka situasi ini dapat menyebabkan perilaku konsumen yang positif.   Tujuan: Untuk menganalisis faktor kepuasan pasien di rumah sakit. Metode: Jenis penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian cross sectional, populasi adalah seluruh pasien di RS. Bintang Amin, teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan sampel 100 responden. Instrumen menggunakan kuesioner dan uji statistic yang digunakan  uji chi square. Hasil: Distribusi frekuensi kehandalan (63%) baik, jaminan (59%) baik, bukti fisik (61%) baik, empati (61%) baik, daya tanggap (60%) baik, dan kepuasan (64%) puas. Hasil uji chi square p value 0.000 ≤ 0.05. Simpulan: Ada hubungan faktor keandalan, jaminan, bukti fisik, empati, dan daya tanggap terhadap kepuasan.   Kata Kunci: Bukti Fisik; Daya Tanggap; Empati; Jaminan; Kehandalan; Kepuasan.
Analisis faktor-faktor yang berhubungan dengan partisipasi keluarga berencana di daerah rawan bencana Musdalifah, Musdalifah; Olvaningsih, Olvaningsih
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 7 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i7.2083

Abstract

Background: Family planning (FP) participation is a crucial component in improving reproductive health and family well-being. However, in disaster-prone areas, FP participation often faces challenges due to changing social and emotional conditions and access to health services. This situation requires a deeper understanding of the factors influencing the involvement of couples of childbearing age (PUS) in FP programs. Purpose: To analyze factors related to family planning participation in disaster-prone areas. Method: The study employed a descriptive quantitative design with a cross-sectional approach to a sample of 74 PUS selected using the Slovin formula and proportionate stratified random sampling techniques, then reinforced with purposive sampling based on inclusion and exclusion criteria. Data were collected using a standardized questionnaire that had been tested for validity and reliability. Analysis was performed using the Chi-Square test with a significance level of 0.05. Results: Most respondents were of productive age and had at least a high school education, with a family planning participation rate of 74.3%. All tested variables had a significant relationship with family planning participation, including knowledge (p=0.001), self-efficacy (p=0.026), access to family planning services (p=0.017), and husband/family support (p=0.000). Family support was the strongest factor influencing active contraceptive use. Conclusion: Family planning participation in disaster-prone areas is significantly influenced by knowledge, self-confidence, ease of access, and family support.   Keywords: Disaster-Prone Areas; Family Planning Participation; Fertile Age Couples.   Pendahuluan: Partisipasi keluarga berencana (KB) merupakan komponen penting dalam meningkatkan kesehatan reproduksi dan kesejahteraan keluarga. Namun, di daerah rawan bencana, partisipasi KB sering menghadapi tantangan akibat perubahan kondisi sosial, emosional, dan akses pelayanan kesehatan. Kondisi ini menuntut pemahaman yang lebih mendalam mengenai faktor-faktor yang memengaruhi keterlibatan Pasangan Usia Subur (PUS) dalam program KB. Tujuan: Untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan partisipasi keluarga berencana di daerah rawan bencana. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross sectional kepada sampel sebanyak 74 PUS yang dipilih menggunakan rumus Slovin dan teknik proportionate stratified random sampling, kemudian dipertegas dengan purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstandar yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0.05. Hasil: Sebagian besar responden berada pada usia produktif dan berpendidikan minimal SMA dengan tingkat partisipasi KB mencapai 74.3%. Seluruh variabel yang diuji memiliki hubungan bermakna dengan partisipasi KB yaitu pengetahuan (p=0.001), self-efficacy (p=0.026), akses layanan KB (p=0.017), dan dukungan suami/keluarga (p=0.000). Dukungan keluarga merupakan faktor paling kuat yang memengaruhi keaktifan penggunaan kontrasepsi. Simpulan: Family planning participation in disaster-prone areas is significantly influenced by knowledge, self-confidence, ease of access, and family support.   Kata Kunci : Daerah Rawan Bencana; Partisipasi Keluarga Berencana; Pasangan Usia Subur.
Efektivitas kompres air hangat jahe terhadap penurunan skala nyeri sendi rheumatoid arthritis: Literature review Sembiring, Muhammad Nur Maghribi; Sembiring, Atikah Marhamah; Sembiring, Muhammad Simba
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.2105

Abstract

Background: Red ginger, often known as Zingiber officinale var. rubrum, is a rhizome plant used as a spice and has medicinal properties in pharmacology. Its active compounds, such as gingerol, shogaol, gingerone, and essential oils, provide significant pharmacological effects. These compounds act as anti-inflammatories by suppressing the inflammatory response, as antioxidants that protect cells from damage, and as analgesics that reduce pain. Purpose: To examine the frequency distribution, experimental results, and analysis to assess the effectiveness of warm ginger water compresses on joint pain in rheumatoid arthritis patients in community and hospital settings. Method: A literature review approach was used to search for literature related to the chosen theme to review and analyze national and international literature. Results: Several findings obtained by the author regarding non-pharmacological therapy using ginger and red ginger to reduce rheumatoid arthritis joint pain include the effectiveness of warm red ginger compresses, the effectiveness of warm red ginger compresses on quality of life, a more diverse mechanism of action, implications for nursing practice, and the effect of warm ginger water compresses on joint pain. Conclusion: Warm ginger water compress therapy is an effective intervention in managing joint pain in rheumatoid arthritis patients.   Keywords: Ginger; Joint Pain; Reduction; Rheumatoid Arthritis.   Pendahuluan: Jahe merah atau sering dikenal Zingiber officinale var. rubrum dalam farmakologi adalah sejenis tanaman rimpang yang dimanfaatkan sebagai rempah dan memiliki khasiat obat. Kandungan senyawa aktifnya, seperti gingerol, shogaol, gingerol, dan minyak atsiri, memberikan efek farmakologis yang signifikan. Senyawa-senyawa ini berperan sebagai anti inflamasi dengan menekan respons peradangan, sebagai antioksidan yang melindungi sel dari kerusakan, dan sebagai analgesik yang mengurangi rasa nyeri. Tujuan: Untuk melihat distribusi frekuensi, eksperimen, serta analisis untuk dikaji keefektifitasan kompres air hangat jahe terhadap nyeri sendi pada pasien rheumatoid arthritis di ruang lingkup komunitas ataupun rumah sakit.   Metode: Pendekatan Studi Literature Review dengan cara mencari literatur-literatur terkait tema yang diambil untuk mengkaji dan menganalisa literatur - literatur Nasional dan Internasional. Hasil: Beberapa temuan yang didapatkan oleh penulis untuk terapi non farmakologi menggunakan Jahe dan Jahe merah untuk mengurangi nyeri sendi Rheumatoid Arthritis di antaranya adalah kompres hangat jahe merah efektif, kompres jahe merah hangat efektif terhadap kualitas hidup, mekanisme kerja yang lebih beragam, implikasi bagi praktik keperawatan, dan terdapat pengaruh kompres hangat air jahe terhadap nyeri sendi.   Simpulan: Terapi kompres air hangat jahe merupakan intervensi yang efektif dalam manajemen nyeri sendi pada pasien Rheumatoid Arthritis.   Kata Kunci : Jahe; Nyeri Sendi; Penurunan; Rheumatoid Arthritis.
Gambaran resiko delirium pada pasien gagal ginjal kronik Anjali, Nabila; Subandi, Andi; Sari, Lisa Anita; Rudini, Dini; Ekaputri, Kintan Resqhita
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.2118

Abstract

Background: The lack of data describing the risk of delirium in patients with chronic kidney disease, particularly the elderly, and the lack of routine delirium screening using the AWOL Score at Raden Mattaher Hospital in Jambi have the potential to cause delays in the early detection of delirium. Purpose: to determine the risk of delirium in patients with chronic kidney failure. Method: This quantitative study, with a descriptive observational design using a cross-sectional approach, was conducted at Raden Mattaher Hospital in Jambi. Sampling was conducted using an accidental sampling technique on 92 elderly patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis. Delirium risk was measured using the AWOL Score with univariate data analysis. Results: Patients with chronic kidney disease (CKD) were predominantly elderly, aged 60–65 years, and male (53.3%), with the longest duration of illness ranging from 6 months to 1 year (40.2%). Based on the AWOL score, most patients were in the low-risk delirium category (40.2%), followed by very low-risk (29.3%), and high-risk (26.1%), while only a small proportion were at high to very high risk. Conclusion: Based on the AWOL score, most patients were in the low-risk delirium category, although patients with moderate to very high risk were still found. Keywords: AWOL Score for Delirium; Chronic Kidney Disease; Delirium. Pendahuluan: Kurangnya data mengenai deskripsi risiko delirium pada pasien gagal ginjal kronis khususnya kelompok lansia, dan kurangnya skrining delirium secara rutin menggunakan instrumen AWOL Score di Rumah Sakit Raden Mattaher Jambi berpotensi menyebabkan keterlambatan deteksi dini delirium. Tujuan: untuk mengetahui gambaran resiko delirium pada pasien gagal ginjal kronik. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif observasional menggunakan pendekatan cross sectional, yang dilakukan di Rumah Sakit Raden Mattaher Jambi. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik accidental sampling pada 92 pasien lansia dengan gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis, dan pengukuran risiko delirium menggunakan instrumen AWOL Score dengan analisis data univariat. Hasil: Pasien gagal ginjal kronis didominasi oleh lansia berusia 60–65 tahun dan laki-laki (53.3%) dengan durasi penderitaan terlama 6 bulan–1 tahun (40.2%). Berdasarkan penilaian Skor AWOL, sebagian besar pasien berada dalam kategori risiko delirium rendah (40.2%), diikuti oleh risiko sangat rendah (29.3%), dan risiko tinggi (26,1%), sedangkan hanya sebagian kecil yang memiliki risiko delirium tinggi hingga sangat tinggi. Simpulan: Berdasarkan penilaian Skor AWOL, sebagian besar pasien berada dalam kategori risiko delirium rendah, meskipun pasien dengan risiko sedang hingga sangat tinggi masih ditemukan. Kata kunci : Awol Score for Delirium; Delirium; Gagal Ginjal Kronik.      
Korelasi kadar glukosa darah puasa dan derajat kepositifan bakteri tahan asam pada pasien tuberkulosis Muslim, Azhari
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 7 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i7.2126

Abstract

Background: Hyperglycemia and impaired glucose regulation are associated with more severe pulmonary tuberculosis and higher sputum smear positivity grades. Objective: To determine the correlation between fasting blood glucose (FBG) levels and the degree of acid-fast bacilli (AFB) smear positivity among pulmonary tuberculosis patients at Sukamaju Primary Health Center, Bandar Lampung. Purpose: To determine the correlation between fasting blood glucose (FBG) levels and the degree of acid-fast bacilli (AFB) smear positivity among pulmonary tuberculosis patients. Method: An analytical cross-sectional study was conducted on 50 smear-positive pulmonary TB patients fulfilling the inclusion criteria, in whom FBG levels and AFB smear grading were measured and analyzed using Spearman’s rank correlation test with a 0.05 significance level. Results: Bivariate analysis demonstrated a significant positive correlation between FBG levels and AFB smear grading (r = 0,56; p < 0.05), indicating that higher FBG levels were associated with higher AFB smear positivity. Conclusion: There is a positive correlation between FBG levels and AFB smear positivity among pulmonary TB patients, highlighting the need for integrated glycemic screening and control within TB management at primary care level. Keywords: Acid-fast bacilli; Fasting blood glucose; Hyperglycemia; Pulmonary tuberculosis Pendahuluan: Hiperglikemia dan gangguan regulasi glukosa berhubungan dengan progresivitas tuberkulosis paru serta peningkatan derajat kepositifan sputum BTA Tujuan: Untuk mengetahui korelasi kadar glukosa darah puasa dengan derajat kepositifan BTA pada pasien tuberkulosis paru. Metode: Penelitian analitik dengan desain potong lintang pada 50 pasien TB paru BTA positif yang memenuhi kriteria inklusi dengan pemeriksaan GDP dan grading BTA, kemudian dianalisis dengan uji korelasi Spearman (α = 0.05). Hasil: Analisis bivariat menunjukkan korelasi positif bermakna antara kadar GDP dan derajat kepositifan BTA (r = 0.56; p < 0.05) yang mengindikasikan semakin tinggi kadar glukosa darah puasa, semakin tinggi derajat kepositifan BTA. Simpulan: Terdapat korelasi positif antara kadar glukosa darah puasa dan derajat kepositifan BTA pada pasien TB paru, sehingga skrining dan pengendalian glikemik perlu diintegrasikan dalam tata laksana TB di layanan primer. Kata kunci: Bakteri Tahan Asam; Glukosa darah puasa; Hiperglikemia; Tuberkulosis paru.      
Penyuluhan kesehatan dalam meningkatkan pengetahuan dan perilaku pencegahan demam berdarah dengue pada santri di pondok pesantren: Literatur review: Sebuah Studi Literatur Review Melati, Fadhila Fitra; Sutarto, Sutarto; Maulana, Muhammad; Larasati, TA
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.2149

Abstract

Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a serious public health problem in Indonesia. The crowded, closed, and dormitory environments of Islamic boarding schools (pesantren) make students vulnerable to dengue fever transmission. Health education is considered an important prevention strategy, but scientific evidence specifically assessing its effectiveness in the student population is limited. Purpose: To analyze and synthesize scientific evidence regarding the effectiveness of health education in improving knowledge and behavior of dengue fever prevention among students at Islamic boarding schools. Method: The study was conducted using a narrative systematic literature review. Articles were searched through Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, and the Garuda Portal databases using keywords related to health education, dengue fever, knowledge, behavior, students, and Islamic boarding schools. Results: Health education consistently effectively increased knowledge and behaviors related to dengue fever prevention among Islamic boarding school students. Higher effectiveness was found with interactive methods, the use of audiovisual media, and hands-on approaches such as demonstrations of ovitrap construction. Audiovisual media proved more effective than conventional lectures in increasing knowledge. Increased knowledge was associated with tangible behavioral changes, particularly increased mosquito nest eradication (PSN) activities. Conclusion: Health education is an effective intervention in increasing knowledge and behaviors related to dengue fever prevention among Islamic boarding school students. Keywords: Behavior; Dengue Hemorrhagic Fever; Health Education; Knowledge. Pendahuluan: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia. Lingkungan pesantren yang padat, tertutup, dan berasrama menjadikan santri kelompok yang rentan terhadap penularan DBD. Penyuluhan kesehatan dipandang sebagai strategi penting dalam pencegahan, namun bukti ilmiah yang secara khusus menilai efektivitasnya pada populasi santri masih terbatas. Tujuan: Untuk menganalisis dan mensintesis bukti ilmiah mengenai efektivitas penyuluhan kesehatan dalam meningkatkan pengetahuan dan perilaku pencegahan DBD pada santri di pesantren. Metode: Penelitian dilakukan dengan metode tinjauan literatur sistematis naratif. Pencarian artikel dilakukan melalui database Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, dan Portal Garuda menggunakan kata kunci terkait penyuluhan kesehatan, DBD, pengetahuan, perilaku, santri, dan pesantren. Hasil: Penyuluhan kesehatan secara konsisten efektif meningkatkan pengetahuan dan perilaku pencegahan DBD pada santri. Efektivitas lebih tinggi ditemukan pada metode interaktif, penggunaan media audiovisual, serta pendekatan praktik langsung seperti demonstrasi pembuatan ovitrap. Media audiovisual terbukti lebih efektif dibandingkan ceramah konvensional dalam meningkatkan pengetahuan. Peningkatan pengetahuan berhubungan dengan perubahan perilaku nyata, khususnya peningkatan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Simpulan: Penyuluhan kesehatan merupakan intervensi efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan perilaku pencegahan DBD pada santri. Kata Kunci: Demam Berdarah Dengue; Penyuluhan Kesehatan; Pengetahuan; Perilaku.