cover
Contact Name
Safni Elivia
Contact Email
safni@iphorr.com
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Karet, Sumber Rejo, Kec. Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung 35155
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports
ISSN : 28079094     EISSN : 28078489     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian kualitatif di bidang kesehatan berkaitan dengan penjelasan narasi atau cerita di balik suatu fakta atau kejadian. Disamping itu memuat laporan kegiatan penerapan asuhan keperawatan dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia. Terbit 2 kali dalam satu tahun bulan Juli dan Desember
Articles 249 Documents
Discharge planning berbasis augmented reality dan teach-back pada keluarga pasien yang menjalani hemodialisis: Analisis hukum dan prinsip etik keperawatan Sari, Cindy Amalia; Arofiati, Fitri
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 7 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i7.1829

Abstract

Background: The need for hemodialysis services continues to increase due to the high prevalence of kidney disease. The use of Augmented Reality (AR) and the Teach-Back method is necessary to optimize discharge planning and improve understanding among patient families. Purpose: To analyze the legal basis and ethical principles of nursing in implementing Augmented Reality (AR)-based discharge planning and the Teach-Back method for families of patients undergoing hemodialysis. Method: This descriptive study design employed a case study analysis approach. Data collection was conducted using literature review and subsequent data analysis using ethical-conceptual analysis, legal interpretation, and ethical principles of nursing in implementing Augmented Reality (AR)-based discharge planning and the Teach-Back method for families of patients undergoing hemodialysis. Results: Discharge planning implementation in hospitals is still dominated by conventional methods, including oral education and printed media such as pamphlets, which are not optimally utilized. Many patients and families appear to understand, but evaluations of understanding are rarely conducted, so the effectiveness of education in preparing for home care is not guaranteed. Conclusion: Discharge planning implementation that still relies on oral education without evaluation of understanding poses legal risks, violations of nursing ethics principles, and professional accountability. The integration of Augmented Reality (AR) and the Teach-Back method can improve patient and family understanding and ensure information is received accurately and accurately. Keywords: Augmented Reality; Discharge Planning; Nursing Law; Nursing Ethical Principles; Teach-Back Method. Pendahuluan: Kebutuhan layanan hemodialisis terus meningkat seiring tingginya prevalensi penyakit ginjal. Penggunaan Augmented Reality (AR) dan metode Teach-Back diperlukan untuk mengoptimalkan pelaksanaan discharge planning dan meningkatkan pemahaman keluarga pasien. Tujuan: Untuk menganalisis landasan hukum serta prinsip etik keperawatan dalam pelaksanaan discharge planning berbasis Augmented Reality (AR) dan metode Teach-Back kepada keluarga pasien yang menjalani hemodialisis. Metode: Penelitian dengan rancangan deskriptif menggunakan pendekatan analisis studi kasus yang dilakukan pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan dan selanjutnya analisis data menggunakan analisis etis-konseptual interpretasi hukum, serta prinsip etik keperawatan dalam pelaksanaan discharge planning berbasis Augmented Reality (AR) dan metode Teach-Back kepada keluarga pasien yang menjalani hemodialisis. Hasil: Pelaksanaan discharge planning di rumah sakit masih didominasi metode konvensional, berupa edukasi lisan dan media cetak seperti pamflet yang tidak dimanfaatkan secara optimal. Banyak pasien atau keluarga tampak mengerti, namun evaluasi pemahaman jarang dilakukan, sehingga efektivitas edukasi dalam mempersiapkan perawatan di rumah belum terjamin. Simpulan: Pelaksanaan discharge planning yang masih mengandalkan edukasi lisan tanpa evaluasi pemahaman menimbulkan risiko hukum, pelanggaran prinsip etik keperawatan, dan akuntabilitas profesional. Integrasi Augmented Reality (AR) dan metode Teach-Back dapat meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga, serta memastikan informasi diterima dengan tepat dan benar. Kata Kunci: Augmented Reality; Discharge Planning; Hukum Keperawatan; Metode Teach-Back; Prinsip Etik Keperawatan.          
Kepatuhan self-efficacy pasien dalam mengontrol kadar glukosa darah pada pasien DMT2: Literatur review Juraidah, Juraidah; Arofiati, Fitri
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.1831

Abstract

Background: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a chronic disease whose prevalence continues to increase annually. Good blood glucose control is crucial in preventing complications and even death. The prevalence of diabetes mellitus cases in Indonesia in 2022 is very high, as evidenced by data showing reported cases of diabetes mellitus, with 463 million adults worldwide suffering from the disease. Purpose: To determine self-efficacy compliance for managing blood sugar in patients with type 2 DM. Method: This literature review study was conducted by searching various articles from various relevant sources. The literature was then categorized, analyzed, and summarized through journal screening. Results: Research articles were selected using various research methods related to self-efficacy and adherence in patients with type 2 diabetes. Ten articles were obtained: five using quantitative methods, one using qualitative methods, and three using descriptive methods. The details of the articles are summarized in one table. Conclusion: After analyzing several journals, the results showed that overall, self-efficacy has a very significant relationship with adherence in patients with type 2 diabetes. Keywords: Adherence; Self-efficacy. Pendahuluan: Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) adalah penyakit kronis yang populasinya terus meningkat untuk setiap tahunya. Pengendalian glukosa darah yang baik sangat penting dalam mencegah komplikasi hingga kematian. Prevalensi kasus diabetes mellitus di tahun 2022 di Indonesia sangat tinggi dilihat dari data yang menunjukan laporan kasus diabetes mellitus dengan jumlah 463 juta orang dewasa di seluruh dunia yang menderita diabetes mellitus. Tujuan: Untuk mengetahui kepatuhan self efficacy untuk mengatur gula darah pada pasien DM tipe 2. Metode: Penelitian studi literatur review yang dilakukan dengan cara menelusuri berbagai artikel dari berbagai sumber yang relevan kemudian literatur dikelompokkan, dianalisis, diringkas melalui tahap screening jurnal. Hasil: Artikel penelitian dipilih menggunakan berbagai metode penelitian yang berkaitan dengan kepatuhan keyakinan diri pasien dengan diabetes tipe 2 didapatkan 10 artikel 5 artikel dengan metode kuantitatif dan 1 metode kualitatif, 3 artikel dengan metode deskriptif dan rincian artikel dirangkum dalam 1 table Simpulan: Setelah melakukan analisis dari beberapa jurnal didapatkan hasil bahwa adanya secara keseluruhan bahwa self efficacy mempunyai keterkaitan yang sangat signifikan dengan kepatuhan self efficacy pada pasien DM tipe 2. Kata Kunci : Kepatuhan; Self efficacy.      
Perencanaan program ibu care posyandu turry melalui peer support group Ramadani, Nurul Ma'rifa; Makmur, Nindha Aulia; Faradiana, Dwi Nur; Gustia, Wanda; Anggraeni, Diva Nabilah; Rahmayanti, Desy Anugerah; Rahayu, Agustin Putri; Permana, Lies; Rohmah, Nur; Nurrachmawati, Annisa; Feriyanti, Alma; Fikri, Mohammad
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.1911

Abstract

Background: Posyandu (Integrated Health Post) is a community-based health service that plays a crucial role in improving maternal and child health. However, at Posyandu Turry, there is still a lack of understanding and participation from mothers, which impacts the effectiveness of Posyandu services. Purpose: To identify problems at Posyandu Turry, prioritize problems using ultrasound methods, and plan an empowerment program that can increase community knowledge and participation in Posyandu activities on an ongoing basis. Method: This study identified problems at the Turry Integrated Health Post (Posyandu), determined priorities using the USG method, and developed an empowerment program using a qualitative case study approach and Participatory Action Research (PAR). Data were collected through interviews, focus group discussions (FGDs), observations, and document analysis. Results: The FGDs revealed that low community knowledge about the importance of Posyandu was the highest-scoring problem. This was due to limited access to information and a lack of engaging educational materials. Based on these findings, the "Ibu Care Posyandu" empowerment program was formulated to increase community knowledge and engagement through easier-to-understand education and consistent information delivery. Conclusions: Low community knowledge, minimal participation by mothers of toddlers, and limited skills of cadres contributed to the low effectiveness of the Turry Integrated Health Post (Posyandu) service. Through case studies and Participatory Action Research (PAR), these problems were collaboratively addressed through the development of a peer-support-based "Ibu Care Posyandu" program to increase community knowledge and engagement.   Keywords: Community Empowerment; Health Education; Maternal Health; Participation; Posyandu.   Pendahuluan: Posyandu adalah layanan kesehatan yang didasarkan pada komunitas dan memiliki peran krusial dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Namun di Posyandu Turry masih terdapat rendahnya pemahaman dan partisipasi dari ibu-ibu yang berdampak pada efektivitas pelayanan posyandu. Tujuan: Untuk mengidentifikasi permasalahan di Posyandu Turry, menetapkan prioritas masalah menggunakan metode USG, serta merencanakan program pemberdayaan yang dapat meningkatkan pengetahuan dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan posyandu secara berkelanjutan. Metode: Penelitian ini mengidentifikasi masalah di Posyandu Turry, menentukan prioritas dengan metode USG, dan menyusun program pemberdayaan melalui pendekatan kualitatif studi kasus, serta Participatory Action Research (PAR). Data dikumpulkan melalui wawancara, FGD, observasi, dan dokumen. Hasil: FGD menunjukkan rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya posyandu menjadi masalah dengan skor tertinggi. Faktor penyebabnya adalah kurangnya akses informasi dan minimnya materi edukasi yang menarik. Berdasarkan temuan tersebut, dirumuskan program pemberdayaan “Ibu Care Posyandu” untuk meningkatkan pengetahuan dan keterlibatan masyarakat melalui edukasi yang lebih mudah dipahami dan penyampaian informasi yang konsisten. Simpulan: Rendahnya pengetahuan masyarakat, minimnya partisipasi ibu balita, dan keterbatasan keterampilan kader menyebabkan rendahnya efektivitas pelayanan Posyandu Turry. Melalui studi kasus dan Participatory Action Research (PAR), masalah tersebut diatasi secara kolaboratif melalui pengembangan program “Ibu Care Posyandu” berbasis dukungan sebaya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterlibatan masyarakat.   Kata Kunci: Edukasi Kesehatan; Kesehatan Ibu; Partisipasi; Pemberdayaan Masyarakat; Posyandu.
Korelasi interaksi teman sebaya dengan perilaku merokok pada remaja laki-laki Muhammad, Zahra; Rohmawati, Zubaida; Rahmawati, Agustina
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.1923

Abstract

Background: Adolescence is a transitional period marked by physical, emotional, and social changes that can influence an individual's behavioral development. One behavior that emerges during this stage is smoking, which is generally influenced by social dynamics. In Cambahan Hamlet, Nogotirto, Gamping District, smoking habits among adolescents are relatively high, with adolescents starting to smoke due to peer pressure or group norms. This pattern suggests that peer interactions play a significant role in shaping risky behavior and can contribute to the emergence of unhealthy habits. Purpose: To determine the correlation between peer interactions and smoking behavior in adolescent boys. Method: Quantitative research with a descriptive correlation design using a cross-sectional approach. The study population was adolescents in Cambahan Hamlet. The sample was taken using the Total Sampling Technique, resulting in a sample size of 40 individuals. Data were collected using the Smoking Behavior and Peer Interaction Questionnaire to determine respondents' smoking behavior and peer interactions. Data analysis used the non-parametric Kendall-Tau test. Results: Statistical tests using the Kendall-Tau test showed a p-value <0.05 and a correlation coefficient of r = 0.466 for the test of smoking behavior and peer interactions. Conclusion: There is a significant correlation between peer interactions and smoking behavior in male adolescents. Keywords: Adolescents; Peer Interaction; Smoking Behavior. Pendahuluan: Masa remaja merupakan periode transisi yang ditandai dengan perubahan fisik, emosional, dan sosial yang dapat mempengaruhi perkembangan perilaku individu. Salah satu perilaku yang muncul pada tahap ini adalah merokok, yang umumnya dipengaruhi oleh dinamika pergaulan, di Pedukuhan Cambahan, Nogotirto, Kecamatan Gamping, kebiasaan merokok pada remaja tergolong tinggi, dimana remaja mulai merokok dikarenakan ajakan teman sebaya atau norma kelompok. Pola ini menunjukkan bahwa interaksi teman sebaya berperan penting dalam membentuk perilaku berisiko dan dapat berkontribusi munculnya kebiasaan yang tidak sehat. Tujuan: Untuk mengetahui korelasi antara interaksi teman sebaya dengan perilaku merokok pada remaja laki-laki. Metode: Penelitian Kuantitatif dengan desain Deskriptif korelasi menggunakan pendekatan Cross Sectional, Populasi penelitian merupakan Remaja di Padukuhan Cambahan, sampel diambil dengan Teknik Total Sampling sehingga jumlah sampelnya sebanyak 40 orang. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner Perilaku Merokok dan Interaksi Teman Sebaya untuk mengetahui perilaku merokok dan interaksi teman sebaya responden. Uji analisis data menggunakan uji non-parametrik Kendall - Tau. Hasil: Uji statistik menggunakan uji Kendall -Tau menunjukkan p-value <0.05 dan nilai koefisien korelasi r = 0.466 untuk uji perilaku merokok dengan interaksi teman sebaya. Simpulan: Ada Korelasi yang signifikan antara interaksi teman sebaya dengan perilaku merokok pada remaja laki – laki. Kata Kunci : Interaksi Teman Sebaya; Perilaku Merokok; Remaja.      
Hubungan dukungan keluarga dan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan minum obat pada penderita hipertensi Febriyani, Riskha; Harun, Sigit; Istiqomah, Istiqomah
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.1925

Abstract

Background: Hypertension is a non-communicable disease that has become a global health concern. Adherence to antihypertensive medication is crucial for blood pressure control and preventing complications. Family support and patient knowledge level are factors that can influence treatment adherence. Purpose: To determine the relationship between family support and knowledge level with medication adherence among hypertensive patients. Method: Quantitative research with cross-sectional design involving 70 hypertensive patients at Puskesmas Gamping 1. Sampling technique used purposive sampling. Research instruments included family support questionnaire (Nursalam), knowledge level questionnaire (HFQ), and medication adherence questionnaire (MMAS-8). Data were analyzed using the Spearman Rank correlation test. Result: The majority of respondents (68.6%) received good family support and 91.4% had high knowledge levels. Medication adherence levels varied with 41.4% of respondents having moderate adherence, 31.4% high adherence, and 27.1% low adherence. Spearman Rank test showed a significant positive relationship between family support and medication adherence (p-value = 0.012; r = 0.298). However, the Spearman rank test showed no significant relationship between knowledge level and medication adherence (p-value = 0.329). Conclusion: There is a significant positive relationship between family support and medication adherence, but there is no significant relationship between knowledge level and medication adherence among hypertensive patients. Keywords: Family Support; Hypertension; Knowledge Level; Medication Adherence Pendahuluan: Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang menjadi perhatian kesehatan dunia. Kepatuhan minum obat antihipertensi sangat penting untuk mengendalikan tekanan darah dan mencegah komplikasi. Dukungan keluarga dan tingkat pengetahuan pasien merupakan faktor yang dapat mempengaruhi kepatuhan pengobatan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan minum obat pada penderita hipertensi. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional pada 70 pasien hipertensi di Puskesmas Gamping 1. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dukungan keluarga (Nursalam), kuesioner tingkat pengetahuan (HFQ), dan kuesioner kepatuhan minum obat (MMAS-8). Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman Rank Hasil: Mayoritas responden (68.6%) memperoleh dukungan keluarga yang baik dan 91.4% memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi. Tingkat kepatuhan minum obat bervariasi dengan 41,4% responden memiliki kepatuhan sedang, 31.4% kepatuhan tinggi, dan 27.1% kepatuhan rendah. Uji Rank Spearman menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat (p-value = 0.012; r = 0.298). Namun, uji Spearman Rank menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan minum obat (p-value = 0.329). Simpulan: Terdapat hubungan positif yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat, dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara Tingkat pengetahuan dengan kepatuhan minum obat. Kata Kunci: Dukungan Keluarga; Hipertensi; Kepatuhan Minum Obat; Tingkat Pengetahuan.      
Hubungan kecanduan bermain game online dengan kualitas tidur pada remaja Bagus, Muhamad; Suryani, Suryani; Rohmawati, Zubaida
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.1954

Abstract

Background: Online gaming addiction has become a growing concern among adolescents, potentially affecting various aspects of their lives including sleep quality. Poor sleep quality can significantly impact adolescent physical and mental health, academic performance, and overall well-being. Purpose: to determine the relationship between online gaming addiction and sleep quality among adolescents. Method : A quantitative study with cross-sectional design involving 85 male students aged 14-20 years. The instruments used were the Indonesian Online Game Addiction Questionnaire (IOGAQ) and the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Results: The research findings indicated that the majority of respondents (62.4%) experienced moderate online gaming addiction and 65.9% had poor sleep quality. Kendall's Tau test showed a positive correlation (p=0.001) with a low correlation coefficient (r=0.268) between online gaming addiction and sleep quality. Conclusion: There is a positive relationship between online gaming addiction and sleep quality among adolescents. The higher the level of gaming addiction, the worse the sleep quality experienced. Keywords: Adolescents; Online Gaming Addiction; Sleep Quality; Students. Pendahuluan: Kecanduan bermain game online telah menjadi perhatian yang berkembang di kalangan remaja, berpotensi mempengaruhi berbagai aspek kehidupan mereka termasuk kualitas tidur. Kualitas tidur yang buruk dapat berdampak signifikan terhadap kesehatan fisik dan mental remaja. Tujuan: untuk mengetahui hubungan antara kecanduan bermain game online dengan kualitas tidur pada remaja. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional, Teknik sampel menggunakan Total Sampling pada 85 siswa laki-laki usia 14-20 tahun. Instrumen yang digunakan adalah Indonesian Online Game Addiction Questionnaire (IOGAQ) dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Hasil: sebagian besar responden (62.4%) mengalami kecanduan game online sedang dan 65,9% memiliki kualitas tidur buruk. Uji Kendall's Tau menunjukkan korelasi positif (p=0.001) dengan nilai koefisien korelasi rendah (r=0.268) antara kecanduan game online dengan kualitas tidur. Simpulan: Terdapat hubungan positif antara kecanduan bermain game online dengan kualitas tidur pada remaja. Semakin tinggi tingkat kecanduan game online, semakin buruk kualitas tidur yang dialami. Kata Kunci: Kecanduan Game Online; Kualitas Tidur; Remaja; Siswa      
Analisis evidence-based faktor non-adherence pasien tbc dalam konsumsi oat: Literature review Ridwan, Heri; Syabini, Nisfi; Ambarita, Ruth; Supriadi, Bresya Nur Salsabila; Aulia, Fajri; Maharani, Maharani; Nurfalah, Muhammad Fajar; Aulia, Zahrotul
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.1979

Abstract

Background: Indonesia ranks second in the world in the number of tuberculosis (TB) cases, which continues to be a pressing health problem worldwide. Although OAT treatment regimens are accessible, their success depends on patient adherence during long-term therapy. Non-adherence, or non-compliance, is a complex behavioral phenomenon that leads to treatment failure, multidrug-resistant TB (MDR-TB), and increased mortality. Purpose: To examine factors influencing non-adherence in TB patients. Method: The study was conducted by conducting a literature review using a comprehensive search of PubMed and Google Scholar databases for articles published between 2020 and 2025. A total of 361 articles were found, and 16 relevant articles that met the inclusion criteria were selected for analysis. Results: The study showed that a multidimensional interaction of six main factors influences non-adherence: patient factors, therapy factors, disease factors, social factors, economic factors, and healthcare factors. Conclusion: Non-adherence in tuberculosis patients is caused by a combination of internal and external challenges, requiring a broad intervention approach that includes improving education, psychosocial support, and healthcare systems. Keywords: Non-Adherence; Tuberculosis; Treatment. Pendahuluan: Indonesia menempati peringkat kedua di dunia dalam jumlah kasus tuberkulosis (TB), yang terus menjadi masalah kesehatan yang mendesak di seluruh dunia. Meskipun rejimen pengobatan OAT dapat diakses, keberhasilannya bergantung pada kepatuhan pasien selama terapi jangka panjang. Ketidakpatuhan, atau ketidakpatuhan, adalah fenomena perilaku yang kompleks yang menyebabkan kegagalan pengobatan, resistensi obat (MDR-TB), dan peningkatan mortalitas. Tujuan: Untuk melihat faktor-faktor yang memengaruhi ketidakpatuhan pasien TB. Metode: Penelitian dilakukan dengan melakukan review literatur dengan melakukan pencarian menyeluruh pada database PubMed dan Google Scholar untuk artikel terbitan dari tahun 2020-2025. Sebanyak 361 artikel yang ditemukan, 16 yang relevan dan memenuhi kriteria inklusi dipilih untuk dianalisis. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa interaksi multidimensional dari enam faktor utama yang mempengaruhi ketidakpatuhan yaitu faktor pasien, faktor terapi, faktor penyakit, faktor sosial, faktor ekonomi, dan faktor layanan kesehatan. Simpulan: Ketidakpatuhan pasien tuberkulosis disebabkan oleh kombinasi tantangan internal dan eksternal sehingga diperlukan pendekatan intervensi yang luas yang mencakup peningkatan pendidikan, dukungan psikososial, dan sistem layanan kesehatan. Kata Kunci: Non-Adherence; Tuberculosis; Treatment        
Faktor yang mempengaruhi kepatuhan kemoterapi pada pasien kanker payudara: Literature review Nurfadhilah, Naila; Revalina, Regita Ayu; Choironissa, Nazwa Shifa; Salma, Nisrina Nabila; Nursifa, Anis Fauziah; Faulina, Allyssa Rizky; Firdaus, Muhammad Aghna; Ridwan, Heri
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.1994

Abstract

Background: Breast cancer is the most common cancer in women worldwide, and chemotherapy is one of the primary methods of treatment. However, the severe side effects of cytotoxic drugs often lead to poor patient adherence, which directly impacts the likelihood of recurrence and mortality. Purpose: To collect and analyze the latest scientific evidence from 2020 to 2025 to identify key factors influencing chemotherapy adherence in women with breast cancer. Method: This study employed a literature review design following the PRISMA guidelines. Articles were searched through Google Scholar, Semantic Scholar, and PubMed databases using the keywords "factors," "breast cancer," "chemotherapy," and "adherence." Following a rigorous selection process, eight research articles were selected for analysis. Results: The analysis findings indicate that chemotherapy adherence is influenced by a complex interaction between internal and external factors. Internal factors include knowledge and education, self-efficacy, adaptive coping mechanisms, anxiety levels, and perceptions of side effects. Conclusion: Patient adherence is not solely determined by physical condition but is also significantly influenced by psychological preparedness (coping mechanisms and self-efficacy) and the strength of social support. Keywords: Breast Cancer; Compliance; Chemotherapy; Factors. Pendahuluan: Kanker payudara menduduki peringkat teratas sebagai jenis kanker yang paling sering dijumpai pada perempuan di seluruh dunia dan kemoterapi menjadi salah satu metode utama pengobatannya. Namun, efek samping dari obat sitostatika yang parah sering kali mengakibatkan masalah kepatuhan dari pasien yang berdampak langsung pada kemungkinan kekambuhan dan tingkat kematian. Tujuan: Untuk mengumpulkan dan menganalisis bukti ilmiah terbaru dari tahun 2020-2025 dalam rangka mengidentifikasi berbagai faktor utama yang memengaruhi kepatuhan kemoterapi pada wanita dengan kanker payudara. Metode: Kajian ini menerapkan desain Literature Review dengan mengikuti pedoman PRISMA. Pencarian artikel dilakukan melalui database Google Scholar, Semantic Scholar, dan PubMed dengan menggunakan kata kunci "faktor", "kanker payudara", "kemoterapi", dan "kepatuhan". Berdasarkan proses seleksi yang ketat, delapan artikel penelitian terpilih untuk dianalisis. Hasil: Temuan analisis menunjukkan bahwa kepatuhan dalam kemoterapi dipengaruhi oleh interaksi rumit antara faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup pengetahuan dan pendidikan, efikasi diri, mekanisme koping yang adaptif, tingkat kecemasan, serta pandangan terhadap efek samping. Simpulan: Kepatuhan pasien tidak semata-mata ditentukan oleh keadaan fisik, melainkan juga sangat dipengaruhi oleh kesiapan psikologis (mekanisme koping dan efikasi diri) serta kekuatan dukungan sosial yang dimiliki. Kata Kunci : Faktor; Kanker Payudara; Kemoterapi; Kepatuhan.      
Pengaruh inhalasi sederhana menggunakan aroma terapi daun mint terhadap penurunan sesak nafas pada penderita tuberculosis di tatanan home care Deasy, Afrieani; Juni.A, Isvana Heti
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.2000

Abstract

Background: Tuberculosis (TB) is a lung infection caused by the bacterium Mycobacterium tuberculosis and remains a major health problem worldwide, including in Indonesia. Shortness of breath is a common symptom in TB patients, especially in the advanced stages. Purpose: To determine the effect of simple inhalation using mint leaf aromatherapy on reducing respiratory rate in TB patients with shortness of breath in home care settings. Method: This study used a pre-experimental design with a one-group pretest-posttest. The sample consisted of 15 TB patients with shortness of breath at the Cibeureum Community Health Center who met the inclusion and exclusion criteria. Data collection was conducted by measuring respiratory rate before and after simple mint leaf inhalation for three consecutive days. Data analysis used a dependent sample t-test. Results: The average respiratory rate before the intervention was 24.87 breaths/minute and decreased to 22.73 breaths/minute after the intervention. A dependent sample t-test showed a significant difference (p=0.000) between the respiratory rates before and after the intervention. Conclusion: Simple inhalation using mint aromatherapy significantly reduced respiratory rates in TB patients with shortness of breath. This therapy is easy to perform and can be an alternative complementary therapy at home.   Keywords: Aromatherapy; Home Care; Inhalation; Mint; Shortness of Breath; Tuberculosis.   Pendahuluan: Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit infeksi paru-paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, dan masih menjadi masalah kesehatan utama di dunia, termasuk Indonesia. Sesak napas merupakan gejala umum pada penderita TBC, terutama pada stadium lanjut. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh inhalasi sederhana menggunakan aromaterapi daun mint terhadap penurunan frekuensi pernapasan pada penderita TBC dengan sesak napas di tatanan home care Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental dengan rancangan one-group pretest-posttest. Sampel terdiri dari 15 penderita TBC dengan sesak napas di Puskesmas Cibeureum yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan data dilakukan dengan mengukur frekuensi pernapasan sebelum dan sesudah diberikan inhalasi sederhana daun mint selama tiga hari berturut-turut. Analisis data menggunakan uji dependent sample t-test. Hasil: Rata-rata frekuensi pernapasan sebelum intervensi adalah 24.87 kali/menit dan menurun menjadi 22.73 kali/menit setelah intervensi. Uji dependent sample t-test menunjukkan perbedaan yang signifikan (p=0.000) antara frekuensi pernapasan sebelum dan sesudah intervensi. Simpulan: Inhalasi sederhana menggunakan aromaterapi daun mint memberikan pengaruh signifikan terhadap penurunan frekuensi pernapasan pada penderita TBC dengan sesak napas. Terapi ini mudah dilakukan dan dapat menjadi alternatif terapi komplementer di rumah.   Kata Kunci: Aromaterapi; Daun Mint; Inhalasi; Perawatan Di Rumah; Sesak Nafas; Tuberculosis.
Analisis faktor yang mempengaruhi kepatuhan pengendalian kadar gula darah pada lansia penderita diabetes melitus tipe 2 Muslim, Dede Nur Aziz; Jamiyanti, Anggi
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 7 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i7.2007

Abstract

Background: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a chronic disease with increasing prevalence in Indonesia. Despite the importance of glycemic control adherence in elderly patients, many remain non-adherent, putting them at risk of serious complications. Purpose: To analyze factors influencing glycemic control adherence in elderly T2DM patients. Method: A cross-sectional analytical survey involving 68 elderly patients aged ≥60 years with T2DM seeking treatment at the Panghegar Community Health Center was conducted in September 2025. Data were collected using a validated questionnaire measuring knowledge, attitudes, family support, accessibility of healthcare services, and adherence using a Likert scale (1–5). Bivariate (Chi-Square) and multivariate (logistic regression) analyses were performed to identify factors predicting adherence. Results: Family support (OR=3.2, p=0.01) and healthcare accessibility (OR=2.8, p=0.03) were independent predictors of high adherence after controlling for age, disease duration, and treatment type. Medication adherence was strong (4.13/5), while exercise adherence remained weak (3.31/5). Conclusion: Knowledge, positive attitudes, family support, and healthcare accessibility significantly predicted adherence to T2DM management in the elderly population.   Keywords: Adherence; Elderly; Knowledge; Family Support; Healthcare Accessibility; Type 2 Diabetes Mellitus.   Pendahuluan: Diabetes Melitus tipe 2 (T2DM) adalah penyakit kronis dengan prevalensi yang meningkat di Indonesia. Meskipun pentingnya kepatuhan pengendalian glikemik pada pasien lanjut usia, banyak yang tetap tidak patuh, sehingga berisiko mengalami komplikasi serius. Tujuan: Untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan pengendalian glikemik pada pasien T2DM lanjut usia. Metode: Survei analitik potong lintang yang melibatkan 68 pasien lanjut usia berusia ≥60 tahun dengan T2DM yang berobat di Puskesmas Panghegar yang dilakukan pada bulan September 2025. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tervalidasi yang mengukur pengetahuan, sikap, dukungan keluarga, aksesibilitas pelayanan kesehatan, dan tingkat kepatuhan menggunakan skala Likert (1–5). Analisis bivariat (Chi-Square) dan multivariat (regresi logistik) dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memprediksi kepatuhan. Hasil: Dukungan keluarga (OR=3.2, p=0.01) dan aksesibilitas pelayanan kesehatan (OR=2.8, p=0.03) merupakan prediktor independen kepatuhan tinggi setelah mengontrol usia, durasi penyakit, dan jenis pengobatan. Kepatuhan pengobatan kuat (4.13/5), sedangkan kepatuhan olahraga tetap lemah (3.31/5). Simpulan: Pengetahuan, sikap positif, dukungan keluarga, dan aksesibilitas pelayanan kesehatan secara signifikan memprediksi kepatuhan terhadap manajemen T2DM pada populasi lansia.   Kata Kunci: Aksesibilitas Pelayanan Kesehatan; Diabetes Melitus Tipe 2; Dukungan Keluarga; Kepatuhan; Lansia; Pengetahuan.