cover
Contact Name
Safni Elivia
Contact Email
safni@iphorr.com
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Karet, Sumber Rejo, Kec. Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung 35155
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports
ISSN : 28079094     EISSN : 28078489     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian kualitatif di bidang kesehatan berkaitan dengan penjelasan narasi atau cerita di balik suatu fakta atau kejadian. Disamping itu memuat laporan kegiatan penerapan asuhan keperawatan dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia. Terbit 2 kali dalam satu tahun bulan Juli dan Desember
Articles 208 Documents
Pengaruh pemberian edukasi pengetahuan operasi dengan kecemasan preoperasi pasien pada tindakan spinal anestesi Prasetia, Muhamad Agung; Sunarsih, Sunarsih; Puri, Anita; Murhan, Al
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 3 No 1 (2023): Penanganan Kecemasan Pasien Menjelang Operasi
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v3i1.335

Abstract

Background: Surgery and anesthesia are actions that bring stress, because there is a threat to the integrity of one's body and soul. The existence of this stress can cause anxiety conditions for patients. Several studies that have been done say that about 60% -80% of patients who will undergo surgery will experience preoperative and pre-anesthesia anxiety in various levels. Data obtained from the World Health Organization (WHO) shows that the number of patients undergoing surgery has increased significantly from year to year. It was recorded that in 2011 there were 140 million patients in all hospitals in the world, while in 2012 the data increased by 148 million people. Data from the National Tabulation of the Ministry of Health of the Republic of Indonesia in 2016, explains that surgery ranks 11th out of 50 disease patterns in Indonesia with a percentage of 12.8% and it is estimated that 32% of them are major surgery, and 25.1% have mental conditions and 7% experiencing anxiety. Purpose: To find out how the effect of providing surgical knowledge education on preoperative anxiety of patients with spinal anesthesia at Regional General Hospital Dr. H. Abdul Moeloek Lampung Province in 2022. Method: This type of research is quantitative with Quasy Experiment design with Non Equivalent Control Group Design. The sampling technique used is a probability sampling technique, namely purposive sampling. The population in this study were all patients who underwent surgery under spinal anesthesia at Regional General Hospital  Dr. H. Abdul Moeloek. Collecting data using a questionnaire sheet using the Independent T-test. Results: The results of the study were obtained by using a parametric test using an Independent T-test and p-value = (0.000) < (0.05). Conclusion: Researchers hope that knowledge education can be given to preoperative patients not only with spinal anesthesia but for all patients who will undergo surgery to help overcome anxiety.   Keywords: Spinal Anesthesia; Operation Knowledge Education; Preoperative Anxiety.   Pendahuluan: Tindakan pembedahan dan anestesi merupakan tindakan yang mendatangkan stress, karena terdapat ancaman terhadap integritas tubuh dan jiwa seseorang. Adanya stress tersebut dapat menimbulkan suatu kondisi kecemasan terhadap pasien. Beberapa studi yang pernah dilakukan menyatakan bahwa sekitar 60%-80% pasien yang akan menjalani operasi akan mengalami kecemasan pre operasi dan pre anestesi dalam berbagai tingkatan. Data yang diperoleh dari World Health Organization (WHO) jumlah pasien dengan tindakan operasi mencapai angka peningkatan yang sangat signifikan dari tahun ke tahun. Tercatat ditahun 2011 terdapat 140 juta pasien di seluruh rumah sakit di dunia, sedangkan pada tahun 2012 data mengalami peningkatan sebesar 148 juta jiwa. Data Tabulasi Nasional Departemen Kesehatan RI Tahun 2016, menjabarkan bahwa tindakan bedah menempati urutan ke-11 dari 50 pola penyakit di Indonesia dengan persentase 12,8% dan diperkirakan 32% diantaranya merupakan bedah mayor, dan 25,1% mengalami kondisi kejiwaan serta 7% mengalami kecemasan. Tujuan: Untuk mengetahui bagaimana pengaruh pemberian edukasi pengetahuan operasi terhadap kecemasan preoperasi pasien dengan tindakan spinal anestesi di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung tahun 2022. Metode: Jenis penelitian ini kuantitatif dengan rancangan Quasy Eksperimen dengan rancangan Non Equivalent Control Grup Design. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik probiliy sampling yaitu dengan purposive sampling.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien menjalani tindakan operasi dengan anestesi spinal di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek. Pengumpulan data menggunakan lembar kuisioner dengan menggunakan uji T-Independent. Hasil: Penelitian di dapatkan uji parametik dengan menggunakan uji T-Independent dan didapatkan nilai p-value = (0.000) < α (0.05). Simpulan: Peneliti berharap edukasi pengetahuan dapat diberikan pada pasien preoperasi bukan hanya dengan anestesi spinal tetapi untuk semua pasien yang akan menjalani tindakan operasi untuk membantu mengatasi kecemasan.
Penerapan terapi relaksasi genggam jari dan nafas dalam terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi pada keluarga Sari, Lisa Depita; Elliya, Rahma; Djunizar Djamaludin
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 3 No 1 (2023): Penanganan Kecemasan Pasien Menjelang Operasi
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v3i1.341

Abstract

Background: Hypertension is a non-communicable disease, both in the world and in Indonesia, hypertension is still a very serious problem. Hypertension is one of the causes of death in the world or the equivalent of 40 million deaths each year. Hypertension is also the main cause of cardiovascular disease which is known to be the number 1 cause of death in Indonesia and even 1 in 10 causes of death in the world. Hypertension is a condition with blood pressure above 140/90 mmHg. Hypertension is a condition with blood pressure above 140/90 mmHg.Risk factors for hypertension can be age, gender, smoking habits, obesity, stress, exercise habits, coffee consumption, high sodium diet, alcohol consumption. Purpose: To describe comprehensive nursing care using finger grip relaxation therapy and deep breathing to reduce blood pressure in hypertensive patients in families at Villa Pinang Jaya, Kemiling District, Bandar Lampung. Method: The research design uses descriptive research methods in the form of case studies with the Nursing Care approach, which includes assessment, nursing diagnoses, planning, implementation, and evaluation. This study uses a type of quantitative research and queasy experiment method. The research design used a one group pretest - posttest design without a control group where the research design was included in the pre - experimental research. Results: The results of the study for 3 days of intervention showed that finger grip therapy and deep breathing reduced blood pressure by 10-20 mmHg. Conclusion: finger grip therapy intervention and deep breathing for 30 minutes, morning and evening, for 3 consecutive days. Then systolic blood pressure fell 10 mm Hg and diastolic blood pressure fell 20 mm Hg. So finger holding therapy and deep breathing can lower blood pressure.  Keywords: Hypertension; Blood Pressure Drop; Relaxation Therapy; Handheld Finger; Deep Breath  Pendahuluan: Hipertensi adalah salah satu penyakit tidak menular (PTM), Baik di dunia maupun di Indonesia, Hipertensi masih menjadi masalah yang sangat serius. Penyakit Hipertensi menjadi salah satu penyebab kematian di dunia atau setara 40 juta kematian setiap tahunnya. Hipertensi juga menjadi penyebab utama penyakit kardiovaskuler yang diketahui menjadi penyebab kematian nomor 1 di Indonesia bahkan 1 dari 10 penyakit penyebab kematian didunia. Hipertensi adalah suatu keadaan dengan tekanan darah diatas 140/90 mmHg. Hipertensi adalah suatu keadaan dengan tekanan darah diatas 140/90 mmHg. Faktor resiko terjadinya Hipertensi dapat berupa faktor usia, jenis kelamin, kebiasaan merokok, obesitas, stress, kebiassan berolahraga, mengkonsumsi kopi, diet tinggi natrium, konsumsi alkohol. Tujuan: Untuk Menggambarkan asuhan keperawatan komprehensif dengan menggunakan Terapi Relaksasi Genggam Jari Dan Nafas Dalam Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi Pada Keluarga Di Villa Pinang Jaya Kecamatan Kemiling Bandar Lampung. Metode: Desain penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dalam bentuk studi kasus dengan pendekatan Asuhan Keperawatan, yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dan metode quasy experiment. Desain penelitian ini menggunakan one group pre test - post test desain tanpa kelompok control dimana desain penelitian ini termasuk dalam penelitian pre – eksperimental. Hasil: Hasil penelitian selama 3 hari Intervensi menunjukkan bahwa terapi genggam  jari dan apa dalam menurunkan tekanan darah adalah 10-20 mmHg. Simpulan: intervensi terapi genggam jari dan pernapasan dalam selama 30 menit, pagi dan sore, selama 3 hari berturut-turut. Kemudian tekanan darah sistolik turun 10 mmHg dan tekanan darah diastolik turun 20 mm Hg. Maka terapi menggenggam jari dan pernapasan dalam bisa menurunkan tekanan darah.
Latihan rentang gerak sendi (ROM) untuk menurunkan nyeri sendi pada pasien dengan asam urat tinggi Nurhasanah, Aan; Trismiyana, Eka; Pribadi, Teguh
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 3 No 1 (2023): Penanganan Kecemasan Pasien Menjelang Operasi
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v3i1.343

Abstract

Background: Gout Arthritis is a disease that attacks the joints and bone tissue by the accumulation of uric acid crystals, causing inflammation. The prevalence of joint disease in Lampung is 7.2 percent. Besides that, gout is one of the 3 biggest diseases in Adijaya village. Range of Motion (ROM) exercises can be used as non-pharmacological therapy in reducing joint pain. Range Of Motion (ROM) can also be used to improve joint mobility. Purpose: To make a report on family nursing care by implementing Range of Motion Exercises (ROM) for joint pain in clients who have gout in families in Adijaya village, Central Lampung district in 2023. Method: This writing uses the case study method with the Family Nursing Care approach with 2 respondents who are in the working area of ​​Adijaya Village. The instruments used were SOP Range Of Motion (ROM), daily ROM exercise observation sheets, and a Numeric Rating Scale pain gauge. The study was conducted from April 28 to April 30 2023 using the method of implementing range of motion exercises (ROM) for 10-15 minutes to reduce joint pain in gout patients. Results: Pain before the intervention was moderate pain (4-6) compared to pain after the intervention became mild pain (1-3). Conclusion: range of motion exercises (ROM) can reduce pain when ROM is done to minimize pain in gout responders.   Keywords: Gout Arthritis; Pain; Range Of Motion (ROM)   Pendahuluan: Gout Arthritis adalah penyakit yang menyerang persendian dan jaringan tulang oleh penumpukan kristal asam urat sehingga menimbulkan peradangan. Prevalensi penyakit sendi di Lampung sebesar 7,2 persen. Selain itu asam urat merupakan salah satu dari 3 penyakit paling besar di Desa Adijaya. Latihan Rentang Gerak atau Range Of Motion (ROM) dapat digunakan sebagai terapi non farmakologis dalam menurunkan nyeri sendi. Range Of Motion (ROM) juga dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan mobilitas sendi. Tujuan: Untuk membuat laporan asuhan keperawatan keluarga dengan penerapan Latihan Rentang Gerak (ROM) terhadap nyeri sendi pada klien yang memiliki Asam Urat di keluarga di Desa Adijaya kabupaten Lampung Tengah tahun 2023. Metode: Penulisan ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan Asuhan Keperawatan Keluarga dengan 2 responden yang berada diwilayah kerja Desa Adijaya. Instrumen yang digunakan yakni SOP Range Of Motion (ROM), lembar observasi latihan harian ROM, dan alat ukur nyeri Numeric Rating Scale. Penelitian dilakukan pada 28 April hingga 30 April 2023 dengan metode penerapan latihan rentang gerak (ROM) 10-15 menit untuk menurunkan nyeri sendi pada pasien asam urat. Hasil: Nyeri sebelum dilakukan intervensi nyeri sedang (4-6) dibandingkan dengan nyeri setelah dilakukan intervensi menjadi nyeri ringan (1-3). Simpulan: latihan rentang gerak (ROM) dapat menurunkan nyeri saat dilakukan ROM dapat dilakukan untuk meminimalisir terjadi nyeri pada responden asam urat.
Analisis asuhan keperawatan pada penderita diabetes mellitus dengan intervensi keperawatan terapi senam kaki di lapas perempuan kelas II-A Bandar Lampung Sari, Mentari Permata; Yulendasari, Rika; Andoko, Andoko
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 3 No 1 (2023): Penanganan Kecemasan Pasien Menjelang Operasi
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v3i1.352

Abstract

Background: Diabetes mellitus (DM) is a world health problem. Data from the World Health Organization (WHO) in 2020 states that the number of diabetes mellitus patients has affected more than 500 million people, this number is expected to increase to 642 million (55%). In Indonesia, DM is the third largest case of death at 6.7% after stroke and CHD. DM control can be done with physical activity (diabetic foot exercise), because the permeability of the membrane to glucose increases when the muscles contract because muscle contractions have insulin-like properties. Objective: To determine nursing care for people with diabetes mellitus with foot exercise therapy nursing interventions at Class II-A Women's Prison Bandar Lampung. Method: The design of this scientific paper uses a descriptive design. The data collection method in this scientific paper uses interviews, observation and the application of foot exercises to patients managed by Mrs M and Mrs H. Results: It was found that diabetic foot exercise can reduce blood glucose levels where Mrs M with current blood sugar pretest was 320 mg/dl and decreased to 120 mg/dl in the posttest. Whereas in Mrs H with current blood sugar pretest 240 mg/dl decreased to 120 mg/dl in the posttest. Conclusion: Diabetic foot exercise can reduce blood glucose levels. Suggestion: It is hoped that the results of this study can increase the knowledge of people with diabetes mellitus about foot exercises in reducing and controlling blood glucose levels. Keywords: Foot Exercise Therapy; Patients with Diabetes Mellitus; Lowering Blood Glucose Levels Pendahuluan: Diabetes mellitus (DM) merupakan salah satu masalah kesehatan dunia. Data dari World Health Organization (WHO) tahun 2020 menyatakan jumlah pasien diabetes melitus telah menyerang lebih dari 500 juta orang, jumlah ini diperkirakan meningkat menjadi 642 juta (55%). Di Indonesia sendiri DM menjadi kasus kematian terbesar ketiga sebesar 6,7% setelah stroke dan PJK. Pengendalian DM dapat dilakuakan dengan aktivitas fisik (senam kaki DM), karena permeabilitas membran terhadap glukosa meningkat saat otot berkontraksi karena kontraksi otot memiliki sifat seperti insulin. Tujuan: Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada penderita diabetes mellitus dengan intervensi keperawatan terapi senam kaki di Lapas Perempuan Kelas II-A Bandar Lampung. Metode: Design karya tulis ilmiah ini menggunakan design deskriptif. Metode penggumpulan data pada karya tulis ilmiah ini menggunakan wawancara, observasi dan penerapan senam kaki pada pasien kelolaan Ny M dan NY H. Hasil: Didapatkan pemberian senam kaki diabetes dapat menurunkan kadar glukosa dalam darah dimana pada Ny M GDS pretest 320 mg/dl dan menurun menjadi 120 mg/dl pada posttest. Sedangkan pada Ny H GDS pretest 240 mg/dl menurun menjadi 120 mg/dl pada posttest. Simpulan: Senam kaki diabetes dapat menurunkan kadar glukosa darah. Saran: Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan penderita diabetes mellitus tentang senam kaki dalam menurunkan serta mengendalikan kadar glukosa darah.
Asuhan keperawatan pada lansia diabetes mellitus tipe II dengan ketidakstabilan kadar glukosa darah Darajat, Agus Miraj; Fitri, Devi; Indarna, Asep Aep
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 3 No 1 (2023): Penanganan Kecemasan Pasien Menjelang Operasi
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v3i1.369

Abstract

Backgroung: Diabetes Mellitus in Indonesia is ranked 7th out of 10 countries with a total of 10.7 million sufferers. Indonesia is the only country in Southeast Asia on the list, so it can be estimated that Indonesia's contribution to the prevalence of diabetes cases in Southeast Asia. Purpose: Nursing care is a series of interactions with clients and the environment to achieve the goal of fulfilling needs and independence in caring for themselves. Method: Case studies are to explore a problem/phenomenon with detailed boundaries, have in-depth data collection and include various sources of information. This case study was conducted on two patients with type 2 diabetes mellitus with unstable blood sugar levels. Results: Based on the results of the study that patient 1 Mr. A is 77 years old and patient 2 Mrs. R, 77 years old, with a diagnosis of unstable blood glucose levels intervened in the form of setting a 3J diet every day for the management of hyperglycemia, the results showed that the problem was resolved in both patients. There was a temporary decrease in blood glucose in both patients with the following criteria: blood glucose levels improved, marked by decreased GDS values ​​in both patients. Patient 1 Mr.A from 352 mg/dL to 239 mg/dL and Patient 2 Mrs.R, from 241 to 168 mg/dL. The data was obtained after the implementation of diet education by regulating eating patterns with 3J (amount, type, schedule). Conclusion: Patients with type 2 diabetes mellitus with unstable blood sugar levels can implement diet education and hyperglycemia management. Suggestion: Executing nurses can provide comprehensive nursing care and education to every patient with diabetes mellitus. Keywords: Nursing Care; Diabetes Mellitus; Instability of Blood Sugar Levels Pendahuluan: Diabetes Mellitus di Indonesia berada di peringkat ke-7 di antara 10 negara dengan jumlah penderita sebesar 10,7 juta. Indonesia menjadi sațu-satunya negara di Asia Tenggara pada daftar tersebut, sehingga dapat diperkirakan besarnya kontribusi Indonesia terhadap prevalensi kasus diabetes di Asia Tenggara. Tujuan: Asuhan keperawatan merupakan rangkaian interaksi dengan klien dan lingkungan untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan dan kemandirian dalam merawat dirinya. Metode: Studi kasus yaitu untuk  mengeksplorasi suatu masalah/fenomena dengan batasan terperinci, memiliki pengambilan data  yang mendalam dan menyertakan berbagai sumber informasi. Studi kasus ini dilakukan pada dua  orang pasien diabetes mellitus tipe 2 dengan ketidakstabilan kadar gula darah. Hasil: Berdasarkan hasil pengkajian bahwa pasien 1 Tn. A berusia 77 tahun dan pasien 2 Ny. R berusia 77 tahun, dengan diagnose ketidakstabilan kadar glukosa darah melakukan intervensi berupa pengaturan pola makan 3J setiap harinya untuk manajemen hiperglikemia, didapatkan hasil bahwa masalah teratasi pada kedua pasien. Terjadi penurunan glukosa darah sewaktupada kedua pasien dengan kriteria hasil : kadar glukosa dalam darah membaik, ditandai dengan nilai GDS pada kedua pasien menurun. Pasien 1 Tn.A dari 352 mg/dL menjadi 239 mg/dL dan Pasien 2 Ny.R , dari 241 menjadi 168 mg/dL. Data tersebut diperoleh setelah dilakukan implementasi berupa edukasi diet dengan mengatur pola makan dengan 3J (Jumlah,Jenis,Jadwal). Simpulan: Pasien diabetes mellitus tipe 2 dengan ketidakstabilan kadar gula darah dapat dilakukan implementasi edukasi diet dan manajemen hiperglikeimia. Saran: Kepada perawat pelaksana dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan edukasi kepada setiap pasien diabetes mellitus.
Optimalisasi pelaksanaan dokumentasi asuhan keperawatan di ruang rawat inap rumah sakit X Bandar Lampung Ibrahim, Idris; Triyoso, Triyoso; Zainaro, Muhammad Arifki
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 3 No 2 (2023): Edisi Desember 2023: Penanggulangan penyakit berpotensi kejadian luar biasa
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v3i2.354

Abstract

Background: Nursing care documentation is a record of the client's responses to nursing implementation activities in a comprehensive, systematic and structured manner as accountability for the actions taken by the nurse towards the client in carrying out nursing care using the nursing process approach. If documentation is not carried out completely, it will reduce the quality of nursing services because it will not be possible to identify the extent of the success of the nursing care that has been provided. In the legal aspect, nurses do not have written evidence if one day the client demands dissatisfaction with nursing services. Written proof of services provided to patients by nursing staff aims to avoid errors, overlaps and incomplete information. Purpose: To analyze and evaluate the optimization of the implementation of nursing care documentation in the Internal Medicine Inpatient Room at Hospital X in Bandar Lampung Method: This type of research uses a descriptive research design to investigate circumstances, conditions or other things that have been mentioned. The results are presented in the form of a research report. In descriptive research, phenomena include forms, activities, characteristics, changes, relationships, similarities and differences between one phenomenon and another. Research is carried out to determine the value of independent variables, either one or more variables (independent) without making comparisons, or connecting them with other variables. Meanwhile, the main aim of descriptive research is to systematically describe the facts and characteristics of the object or subject being studied accurately. The research was carried out in the Internal Medicine Inpatient Room at X Hospital Bandar Lampung in April 2023. Data was collected in various settings, sources and methods. Results: Most cases had complete medical record documentation of nursing care. A total of 45 (86.5%) of the nursing assessment documentation was complete. All nursing diagnosis documentation is complete. Data on planning documentation shows that almost all of them, 48 (92.3%) are also complete. Nearly 40 (76.9%) of the medical record status in nursing implementation documentation was complete. Finally, almost all 50 (96.2%) of the medical record status in the nursing evaluation documentation were also complete. Conclusion: The description of the documentation of care, assessment, diagnosis, planning, implementation and evaluation of nursing in the Internal Medicine Inpatient Room at Hospital X in Bandar Lampung shows that most of it is completely filled. Suggestion: It is hoped that the results of this research will be able to optimize the implementation of nursing care documentation in a systematic, comprehensive and complete manner for health services. Keywords: Documentation; Nursing Care; Patient Satisfaction. Pendahuluan: Dokumentasi asuhan keperawatan merupakan catatan tentang tanggapan/respon klien terhadap kegiatan-kegiatan pelaksanaan keperawatan secara menyeluruh, sistematis dan terstruktur sebagai pertanggunggugatan terhadap tindakan yang dilakukan perawat terhadap klien dalam melaksanakan asuhan keperawatan dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan. Apabila pendokumentasian tidak dilakukan dengan lengkap akan dapat menurunkan mutu pelayanan keperawatan karena tidak akan dapat mengidentifikasi sejauh mana tingkat keberhasilan asuhan keperawatan yang telah diberikan. dalam aspek legal perawat tidak mempunyai bukti tertulis jika suatu hari nanti klien menuntut ketidakpuasan akan pelayanan keperawatan. Bukti tertulis pelayanan yang diberikan kepada pasien oleh tenaga keperawatan bertujuan untuk menghindari kesalahan, tumpang tindih dan ketidak lengkapan informasi. Tujuan: Untuk menganalisis dan mengevaluasi optimalisasi pelaksanaan dokumentasi asuhan keperawatan di Ruang Rawat Inap Penyakit Dalam Rumah Sakit X di Bandar Lampung Metode: Jenis penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif untuk menyelidiki keadaan, kondisi atau hal lain-lain yang sudah disebutkan hasilnya dipaparkan dalam bentuk laporan penelitian. Dalam penelitian deskriptif fenomena ada yang berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan yang lainnya. Penelitian dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel yang lain. Sedangkan tujuan utama penelitian deskriptif menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek atau subjek yang diteliti secara tepat. Penelitian dilaksanakan di Ruang Rawat Inap Penyakit Dalam Rumah Sakit X Bandar Lampung pada bulan April 2023. Pengumpulan data didapatkan dalam berbagai setting, sumber dan cara. Hasil: Sebagian besar kasus memiliki status rekam medis dokumentasi asuhan keperawatan yang lengkap. Sebanyak 45 (86.5%) pada dokumentasi pengkajian keperawatan adalah lengkap. Pada dokumentasi diagnosa keperawatan seluruhnya lengkap. Data pada dokumentasi perencanaan menunjukan hampir seluruhnya sebanyak 48 (92.3%) juga lengkap. Hampir seluruhnya sebanyak 40 (76.9%)  status rekam medis pada dokumentasi implementasi keperawatan adalah lengkap. Terakhir hampir seluruhnya sebanyak 50 (96.2%) status rekam medis pada dokumentasi evaluasi keperawatan juga lengkap. Simpulan: Gambaran dokumentasi asuhan, pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi, dan evaluasi keperawatan di Ruang Rawat Inap Penyakit Dalam Rumah Sakit X di Bandar Lampung menunjukan sebagian besar terisi lengkap.   Saran: Hasil penelitian ini diharapkan mampu mengoptimalkan pelaksanaan dokumentasi asuhan keperawatan secara sistematis, komprehensif dan lengkap bagi pelayanan kesehatan. 
Efektifitas perawatan metode kanguru terhadap kualitas tidur bayi berat badan normal (studi kasus) Oktaliana, Oktaliana; Rilyani, Rilyani
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 3 No 2 (2023): Edisi Desember 2023: Penanggulangan penyakit berpotensi kejadian luar biasa
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v3i2.381

Abstract

Background: Infancy is a golden period for children's growth and development so it needs special attention. One of the factors that influences a baby's growth and development is sleep and rest. Sleeping soundly is very important for a baby's growth, because during sleep the baby's brain growth reaches its peak. Apart from that, when the baby sleeps, the baby's body produces three times more growth hormone when the baby is sleeping than when the baby is awake. The quality and quantity of a baby's sleep greatly influences the baby's growth. A sleeping baby will experience activation of the regeneration of body cells and brain development, therefore the quality of the baby's sleep needs to be maintained. Babies who sleep enough without frequently waking up are fitter and less fussy the next day. Sleep has a big effect on mental, emotional and physical health, as well as the body's immune system. Considering the importance of sleep time in a baby's development, their sleep needs must be fully met so that it does not have a negative effect on their development. Purpose: To determine nursing care for sleep quality problems in babies with normal weight using the kangaroo method in Giliharjo Village, Merbau Mataram District, South Lampung Regency in 2022. Method: This research uses an approach to writing case studies focusing on case studies of nursing care on the problem of sleep quality of babies with normal weight, namely kangaroo method care in Giliharjo Village, Merbau Mataram District, South Lampung Regency in 2022. The subjects in this study were 3 patients managed by used in this case study were babies with problems getting enough sleep to meet the criteria. Results: Diagnosis and intervention from the results of the assessment carried out on An. I, An. And. S found a disturbed resting pattern. During the study, it was found that An. I, An. And. S with the problem of lack of sleep, namely less than 12 hours. P (Provocate) or the cause of lack of sleep time is because the baby is fussy, Q (Quality) is the perceived quality in the form of inadequate sleep duration and fussiness at night, R (Region) rest pattern disturbance occurs if the baby starts to fuss at night, S (Severety) the perceived severity can be measured by the baby's sleep hours, namely 10, 11 hours in An. I, An. And. S (Time) The time that feels worse is when sleeping at night. Conclusion: Based on the results of an evaluation carried out over three days, it shows that there is a change in the baby's sleep time, namely that initially the sleep duration was only 10-11 hours, but after being given the kangaroo method of care, it increased to between 14-14.5 hours with a difference of 3.5-4 hours. Suggestion: Future research should use a larger sample size. The kangaroo method of treatment should be carried out by parents, both father and mother, which can be done equally between one baby and another. Further research can be carried out by assessing the quality of the baby's sleep, not just the quantity.   Keywords: Baby Sleep Quality; Kangaroo Method Treatment; Normal Body Weight.   Pendahuluan: Masa bayi merupakan masa emas untuk pertumbuhan dan perkembangan anak sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus. Salah satu faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang bayi adalah tidur dan istirahat. Tidur nyenyak sangat penting bagi pertumbuhan bayi, karena saat tidur pertumbuhan otak bayi mencapai puncaknya. Selain itu pada saat tidur tubuh bayi memproduksi hormon pertumbuhan tiga kali lebih banyak pada saat bayi tidur dibandingkan ketika bayi terbangun. Kualitas dan kuantitas tidur bayi sangat berpengaruh pada pertumbuhan bayi, bayi yang tidur akan mengalami aktivasi regenerasi sel-sel tubuh dan perkembangan otak, oleh karena itu kualitas tidur bayi perlu dijaga. Bayi yang tidur cukup tanpa sering terbangun, lebih bugar dan tidak rewel pada keesokan harinya. Tidur mempunyai efek yang besar terhadap kesehatan mental, emosi dan fisik, serta sistem kekebalan imunitas tubuh. Mengingat akan pentingnya waktu tidur pada perkembangan bayi maka kebutuhan tidurnya harus benar-benar terpenuhi agar tidak berpengaruh buruk terhadap perkembangannya. Tujuan: Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada masalah kualitas tidur bayi dengan berat badan normal dengan metode kanguru di Desa Giliharjo Kecamatanmerbau Mataram Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2022. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan pada penulisan studi kasus berfokus pada studi kasus asuhan keperawatan pada masalah kualitas tidur bayi dengan berat badan normal yakni perawatan metode kanguru di Desa Giliharjo Kecamatan Merbau Mataram Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2022. Subyek pada penelitian ini yaitu sebanyak 3 pasien terkelola yang digunakan dalam studi kasus ini adalah bayi dengan masalah pemenuhan istirahat tidur yang memenuhi kriteria. Hasil: Diagnosa dan intervensi dari hasil pengkajian yang dilakukan pada An. I, An. D, An. S  didapatkan gangguan pola istrahat. Saat pengkajian didapatkan pada An. I, An. D, An. S dengan masalah kurangnya waktu tidur yaitu kurang dari 12 jam. P (Provocate) atau penyebab kurangnya waktu tidur disebabkan karena bayi rewel, Q (Quality) kualitas yang dirasakan berupa durasi tidur yang tidak adekuat dan rewel pada malam hari, R (Region) gangguan pola istirahat terjadi apabila bayi mulai rewel dimalam hari, S (Severety) keparahan yang dirasakan dapat diukur dengan jam tidur bayi yaitu 10, 11 jam pada An. I, An. D, An. S (Time) waktu yang dirasakan memperberat adalah saat tidur dimalam hari. Simpulan: Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan selama tiga hari menunjukkan adanya perubahan waktu tidur bayi yaitu semula durasi tidur hanya sebanyak 10-11 jam namun setelah pemberian perawatan metode kanguru mengalami peningkatan antara 14-14.5 jam dengan selisih kenaikan 3.5- 4 jam. Saran: Penelitian selanjutnya sebaiknya menggunakan sampel dengan jumlah yang lebih besar. Pemberian perlakuan metode kanguru hendaknya dilakukan oleh orangtua baik ayah ataupun ibu yang dilakukan dapat sama antara bayi yang satu dengan yang lainnya. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan menilai kualitas tidur bayi bukan hanya kuantitas saja.   Kata kunci: Berat Badan Normal; Kualitas Tidur Bayi; Perawatan Metode Kanguru.
Pengaruh pelvic rocking exercise terhadap nyeri punggung bawah ibu hamil trimester III (studi kasus) Gustiani, Dwi; Gunawan, Muhammad Ricko; Keswara, Umi Romayati
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 3 No 2 (2023): Edisi Desember 2023: Penanggulangan penyakit berpotensi kejadian luar biasa
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v3i2.382

Abstract

Background: Data obtained from Basic Health Research in 2021 shows that 82.1% of pregnant women underwent K4 in Lampung and the proportion of health facilities where they were first referred when experiencing pregnancy complications was 6.9% in the Community Health Center. Based on the Balai Krakatau Clinic register data for the last 3 months (January-March) 2022, there were 120 pregnant women in the third trimester of 2022, with 60 pregnant women in the first trimester, 30 people in the second trimester, and 30 people in the third trimester. Of the 30 third trimester pregnant women, 20 people (66.7%) complained of back pain both upper and lower, and 10 people (33.3%) complained of pain in the hips, buttocks and spreading to the leg area. Purpose: To determine nursing care for pregnant women in the third trimester with discomfort and lower back pain using the pelvic rocking method at the Balai Krakatau Kemiling Clinic, Bandar Lampung in 2022. Method: This research uses an approach to writing a case study report that focuses on nursing care for pregnant women in the third trimester with low back pain comfort disorders using the pelvic rocking method. The subjects or patients managed in this study were 3 third trimester pregnant women used in this case study, TM III pregnant women who met the criteria. The criteria for the sample as a subject of nursing care were attending pregnancy classes at the Balai Krakatau Clinic, the patient experiencing low back pain in the third trimester, the mother's age in the range of 25-35 years, primiparous and multiparous parity, an ideal weight gain of 9 kg during pregnancy from the first trimester to the third trimester, have complete medical records in the clinical register, the patient is willing to be sampled, and receives nursing care as outlined in an informed consent letter. Results: Assessment of Mrs. D Mrs. A, And Mrs. W found that the patient's main complaint was lower back pain during the third trimester of pregnancy. The nursing diagnosis obtained was discomfort and pain related to changes in body weight and musculoskeletal burden of TM III pregnant women. The intervention was carried out for 3 days by providing pelvic rocking for 3 days with a duration of 30 minutes for 1 treatment. The 3-day implementation study showed that some of the problems had been resolved, which was indicated by a decrease in the scale of lower back pain in pregnant women in the third trimester. The results of the evaluation carried out over three days showed that all problems could be resolved. Conclusion: The nursing diagnosis obtained was discomfort and pain related to changes in body weight and musculoskeletal load of TM III pregnant women. Providing intervention for 3 days with 30 minutes of pelvic rocking for 1 treatment showed a decrease in the scale of lower back pain in pregnant women in the third trimester. Suggestion: The results of this research can be applied as a rational consideration for approaching pregnant women in the third trimester who experience low back pain by providing education on pelvic rocking exercises during pregnancy classes. Next researchers used different variables by comparing other complementary therapies, such as warm compresses and yoga therapy.   Keywords: Lower Back Pain; Pelvic Rocking; TM III Pregnancy.   Pendahuluan: Data yang diperoleh dari Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2021 menunjukkan bahwa ibu hamil yang melakukan K4 sebanyak 82.1 % di Lampung dan proporsi fasilitas kesehatan tempat rujukan pertama saat mengalami komplikasi kehamilan 6.9 % di Puskesmas. Berdasarkan data register Klinik Balai Krakatau pada 3 bulan terakhir (Januari-Maret) 2022 pada data ibu hamil trimester III tahun 2022 terdapat 120 orang dengan jumlah ibu hamil trimester I sebanyak 60 orang, trimester II sebanyak 30 orang, dan trimester III sebanyak 30 orang. Dari 30 orang ibu hamil trimester III sebanyak 20 orang (66.7%) yang mengeluh nyeri punggung baik bagian atas ataupun bawah, dan 10 orang (33.3%) mengeluhkan nyeri dibagian pinggul, bokong dan menyebar ke area tungkai kaki. Tujuan: Untuk mengetahui asuhan keperawatan ibu hamil trimester  III dengan gangguan rasa nyaman nyeri punggung bawah melalui metode pelvic rocking di Klinik Balai Krakatau Kemiling Bandar Lampung Tahun 2022. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan pada penulisan laporan studi kasus yang berfokus pada asuhan keperawatan ibu hamil trimester III dengan gangguan rasa nyaman nyeri punggung bawah melalui metode pelvic rocking. Subyek atau pasien kelolaan pada penelitian ini sebanyak 3 orang ibu hamil trimester 3 yang digunakan dalam studi kasus ini adalah ibu hamil TM III yang memenuhi kriteria. Kriteria sampel sebagai subyek asuhan keperawatan yakni mengikuti kelas hamil di Klinik Balai Krakatau, pasien mengalami masalah nyeri pinggang trimester III, usia ibu pada rentang 25-35 Tahun, paritas primipara dan multipara, kenaikan BB Ideal 9 Kg selama kehamilan trimester I hingga trimester III, memiliki rekam medik lengkap dalam register klinik, pasien bersedia dijadikan sampel, dan menerima asuhan keperawatan yang dituangkan dalam surat persetujaun (informed consent). Hasil: Pengkajian pada Ny. D Ny. A, Dan Ny. W didapatkan keluhan utama pasien mengatakan nyeri punggung bawah selama kehamilan Trimester III. Diagnosa keperawatan yang didapat adalah gpangguan rasa nayam nyeri bd perubahan berat badan dan beban muskuloskeltas ibu hamil TM III. Intervensi dilakukan selama 3 hari dengan pemberian pelvic rocking selama 3 hari dengan durasi 30 menit selama 1 kali perlakuan. Kajian implementasi selama 3 hari didapat hasil sebagian msalah teratasi, yang ditandai dengan menurunnya skala nyeri punggung bawah pada ibu hamil Trimester III. Hasil evaluasi yang dilakukan selama tiga hari menunjukkan semua masalah dapat teratasi. Simpulan: Diagnosa keperawatan yang didapat adalah gpangguan rasa nayam nyeri berhubungan dengan perubahan berat badan dan beban muskuloskeltas ibu hamil TM III. Pemberian intervensi selama 3 hari dengan pemberian pelvic rocking berdurasi 30 menit selama 1 kali perlakuan menunjukkan adanya penurunan skala nyeri punggung bawah pada ibu hamil Trimester III. Saran: Hasil penelitian ini dapat diaplikasikan sebagai pertimbangan secara rasional untuk pendekatan pada ibu hamil Trimester III yang mengalami nyeri pinggang dengan memberikan edukasi latihan pelvic rocking saat kelas hamil. Peneliti selanjutnya menggunakan variabel yang berbeda dengan membandingkan terapi komplementer lainnya, seperti kompres hangat dan terapi yoga.   Kata kunci: Kehamilan TM III; Nyeri Punggung Bawah; Pelvic Rocking.
Efektifitas therapy aktivitas kelompok terhadap kecemasan pada lansia penderita diabetes melitus Indarna, Asep Aep; Rahayu, Sri Mulyati
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 3 No 2 (2023): Edisi Desember 2023: Penanggulangan penyakit berpotensi kejadian luar biasa
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v3i2.383

Abstract

Background: Elderly people with chronic illnesses are prone to experiencing anxiety, one of which is diabetes mellitus sufferers. Efforts made to overcome anxiety in the elderly can come from family factors, environmental factors, and group activity therapy (GAT). Purpose: To determine the effectiveness of group activity therapy (GAT on anxiety levels in elderly people with diabetes mellitus at PKM Cibiru, Bandung City. Method: With a quasi-experiment research design with a pre-posttest one-group design approach. The population of all elderly people suffering from diabetes mellitus is 40, with a sample of all elderly people suffering from diabetes mellitus of 40 taken using the total sampling method. The independent variable is group activity therapy (GAT), and the dependent variable is anxiety. The instruments used were questionnaire sheets and observation sheets. Statistical tests used the Wilcoxon test with a significance value of α = 0.05. The research results before the group activity therapy (GAT) activity from 40 respondents showed a moderate anxiety level of 65.5%. After the group activity therapy (GAT) activity, there was a ligth anxiety level of 72.5%. The Wilcoxon Sign Rank test in the treatment group showed ρ = 0.001, ρ < α. Conclusion: Meaning that group activity therapy (GAT) was effective in reducing anxiety levels in elderly people with diabetes mellitus Keywords: Anxiety; Elderly; Group Activity Therapy (GAT). Pendahuluan: Lansia dengan penyakit kronis, rentan mengalami kecemasan salah satunya adalah penderita diabetesmelitus. Upaya yang dilakukan dalam mengatasi kecemasan pada lansia bisa dari faktor keluarga, kemudian faktor lingkungan dan terapi aktivitas kelompok (TAK). Tujuan: Untuk mengetahui efektifitas terapi aktivitas kelompok (TAK) terhadap tingkat kecemasan pada lansia penderita diabetes melitus di PKM Cibiru Kota Bandung. Metode: Desain penelitianQuasy-Experiment dengan pendekatanpre posttest one group design. Populasi seluruh lansia penderita diabetes melitus sebanyak 40 orang dengan sampel seluruh lansia penderita diabetes melitussebesar 40 diambil menggunakan metode total sampling. Variabel independen terapi aktivitas kelompok (TAK), variabel dependen adalah kecemasan. Instrument yang digunakan adalah lembar kuesioner dan lembar observasi. Uji statistik menggunakan Uji Wilcoxon Sign Rankdengan nilai kemaknaan α = 0,05. Hasil: Sebelum kegiatan terapi aktivitas kelompok (TAK) dari 40 responden terdapat tingkat kecemasan sedang 65,5 %, dan setelah kegiatan terapi aktivitas kelompok (TAK)terdapat tingkat kecemasan ringan72,5 %. Uji Wilcoxon Sign Rank pada lansia penderita diabetes melitus menunjukkan ρ = 0,001, ρ<α. Simpulan: Terapi aktivitas kelompok (TAK) efektif dilakukan untuk menurunkan tingkat kecemasan pada lansia penderita diabetes melitus.
Diagnosa dan tatalaksana tetanus: Laporan kasus Putri, Pratiwi Hendro; Refyanus , Alfath; Priambodo, Nanang; Waldan , Reta Ameilia; Olitia , Archangela; Dewi , Azzah Kurnia
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 3 No 2 (2023): Edisi Desember 2023: Penanggulangan penyakit berpotensi kejadian luar biasa
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v3i2.387

Abstract

Background: Tetanus is an acute toxicosis caused by neurotoxin produced by Clostridium tetani and is characterized by periodic and severe muscle spasms. Tetanus is usually acute and causes tetanospasmin-induced spastic paralysis. Tetanospasmine is a neurotoxin produced by clostridium tetanus. To date, tetanus remains a public health concern in developing countries due to inadequate access to vaccination programs and modern tetanus management including intensive care units for patients with severe tetanus. This disease can affect the nervous system caused by tetanospasmin toxicity produced by bacteria. Tetanus occurs when bacteria enter the body through wounds, insect bites, tooth infections, ear infections, puncture wounds, or cutting the umbilical cord. Purpose: To discuss aspects of definition, epidemiology, etiology and risk factors, classification, pathophysiology, diagnosis, management, complications and prognosis of Generalized Tetanus. Method: This type of research uses a qualitative descriptive method with a nursing care case study approach design. This case study is to discuss aspects of definition, epidemiology, etiology and risk factors, classification, pathophysiology, diagnosis, management, complications and prognosis of Generalized Tetanus. This research was conducted at RSUD Jend. Ahmad Yani Metro in September 2023. The case study subject is an observation that must be seen and observed regarding the reality or social phenomena needed in the research. Results: A 42 year old man came to the emergency room at Jendral Ahmad Yani Metro Hospital accompanied by his family with the main complaint of stiffness throughout the body. The patient has been experiencing this for approximately one week and has gotten worse in the last 2 days. Patients also complain of difficulty opening their mouth, difficulty swallowing, and a stiff stomach. Previous history of seizures was denied. Approximately 2 weeks ago the patient also complained of high fever and chills. The patient denied any previous history of trauma and injury. The patient has a history of cavities and often experiences toothache. There was no history of seizures, headaches, and vomiting. On general examination, the abdomen is tense/stiff, on palpation, abdominal rigidity is found, on motor examination the superior and inferior extremities are difficult to assess. On neurological examination it was found that M. pterygoideus' motor skills were difficult to assess, mouth opening was limited to 1 finger, facial expressions were found to be ricus sardonicus, the position of the uvula was difficult to assess. Conclusion: Tetanus is an acute toxicosis caused by neurotoxins produced by B. Tetani and is characterized by periodic and severe muscle spasms. Tetanus is usually acute and causes spastic paralysis induced by tetanospasmin, a neurotoxin produced by the tetanus bacillus. Keywords: Bacteria; Tetanus; Tetanospasmine. Pendahuluan: Tetanus merupakan toksikosis akut yang disebabkan oleh neurotoksin yang dihasilkan oleh clostridium tetani dan ditandai dengan spasme otot yang periodik dan parah. Tetanus biasanya akut dan menyebabkan kelumpuhan spastik yang diinduksi tetanospasmin. Tetanospasmin adalah racun saraf yang diproduksi oleh clostridium tetanus. Sampai saat ini, tetanus tetap menjadi perhatian kesehatan masyarakat di negara berkembang karena akses yang tidak memadai ke program vaksinasi dan manajemen tetanus modern termasuk unit perawatan intensif untuk pasien dengan tetanus berat. Penyakit ini dapat mempengaruhi sistem saraf yang disebabkan oleh toksis tetanospasmin yang dihasilkan oleh bakteri. Tetanus terjadi ketika bakteri masuk ke dalam tubuh melalui luka, gigitan serangga, infeksi gigi, infeksi telinga, luka tusukan, atau pemotongan tali pusat. Tujuan: Untuk membahas aspek definisi, epidemiologi, etiologi dan faktor risiko, klasifikasi, patofisiologi, diagnosis, tatalaksana, komplikasi, dan prognosis Tetanus Generalisata. Metode: Jenis penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan desain pendekatan studi kasus asuhan keperawatan. Studi kasus ini adalah untuk membahas aspek definisi, epidemiologi, etiologi dan faktor risiko, klasifikasi, patofisiologi, diagnosis, tatalaksana, komplikasi, dan prognosis Tetanus Generalisata. Penelitian ini dilakukan di RSUD Jend. Ahmad Yani Metro pada bulan September 2023. Subjek studi kasus merupakan suatu pengamatan yang harus dilihat dan diamati mengenai kenyataan atau gejala-gejala sosial yang diperlukan dalam penelitian. Hasil: Seorang laki-laki usia 42 tahun datang ke IGD RSUD Jendral Ahmad Yani Metro diantar oleh keluarganya dengan keluhan utama kaku seluruh tubuh. Hal ini dialami pasien sejak kurang lebih satu minggu dan semakin memberat sejak 2 hari terakhir. Pasien juga mengeluhkan sulit membuka mulut, sulit menelan, dan perut terasa kaku. Riwayat kejang sebelumnya disangkal. Kurang lebih 2 minggu lalu pasien juga mengeluhkan adanya demam tinggi dan seperti menggigil. Riwayat trauma dan luka sebelumnya disangkal pasien. Pasien memiliki riwayat gigi bolong dan sering mengalami sakit gigi. Riwayat kejang, sakit kepala, dan muntah menyembur tidak ada. Pada pemeriksaan generalis didapatkan inspeksi abdomen tegang/kaku, pada palpasi didapatkan rigiditas perut, pada pemeriksaan motorik ekstremitas superior dan inferior sulit dinilai. Pada pemeriksaan neurologis ditemukan pemeriksaan motorik M. pterygoideus sulit dinilai, membuka mulut terbatas yaitu sebatas 1 jari, mimik wajah ditemukan ricus sardonicus, posisi uvula sulit dinilai. Simpulan: Tetanus adalah toksikosis akut yang disebabkan oleh neurotoksin yang dihasilkan oleh B.Tetani dan ditandai dengan spasme otot yang periodik dan parah. Tetanus biasanya akut dan menyebabkan kelumpuhan spastik yang diinduksi tetanospasmin suatu racun saraf yang diproduksi oleh basil tetanus.

Page 3 of 21 | Total Record : 208