cover
Contact Name
Nugroho Heri Cahyono
Contact Email
jurnalcilpa@ustjogja.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalcilpa@ustjogja.ac.id
Editorial Address
Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Kompleks Pendopo Agung Taman Siswa Jl. Tamansiswa No.25, Wirogunan, Kec. Mergangsan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta Indonesia 55151
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Cilpa : Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni Rupa
ISSN : 23559691     EISSN : 28092260     DOI : 10.30738
Cilpa: Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni Rupa is a blind peer-reviewed journal dedicated to the publication of quality thoughts and research results in the field of Fine Arts and Fine Arts Education, the study or creation of fine arts but is flexible and not implicitly limited. All publications in CILPA are open access, allowing articles to be freely available without any violation.
Articles 112 Documents
Nilai Artistik Dan Makna Filosofi Motif Batik Tradisional Madana Batik Gallery Imogiri Yogyakarta Ramadani, Siti Mutiara; Barriyah, Insanul Qisti; Rachdantia, Dheasari
CILPA Vol 9 No 2 (2024): July
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v9i2.17761

Abstract

Abstrak   Batik adalah salah satu budaya yang diakui dunia sejak tanggal 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan bahwa batik Indonesia sebagai mahakarya warisan budaya Indonesia. Di Giriloyo, Imogiri, Yogyakarta terdapat beberapa industri batik, salah satunya Madana Batik Gallery. Tujuan dalam penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan letak nilai artistik motif batik tradisional karya Madana Batik Gallery. (2) Mendeskripsikan macam-macam motif batik trandisional karya Madana Batik Gallery beserta makna filosofinya. Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah motif batik karya Madana Batik Gallery, Imogiri, Yogyakarta. Sedangkan objek penelitian ini adalah nilai artistik dan makna filosofi yang terdapat pada motif batik tradisional karya Madana Gallery. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan (1) Motif batik tradisional karya Madana Batik Gallery tergolong batik klasik yang memiliki makna filosofi yang mendalam bagi kehidupan. (2) Nilai artistik dalam motif batik tradisional karya Madana Batik Gallery terletak pada penyusunan motifnya dan juga terletak pada warna nya. (3) Orang zaman dahulu menciptakan sebuah motif bukan hanya untuk dilihat keindahannya saja, akan tetapi mereka juga mencari dan menyusun makna yang memiliki keterkaitan dengan kehidupan. (4) Pemahaman terhadap nilai artistik dan makna filosofi motif batik tradisional sangat penting bagi seluruh masyarakat Indonesia. Abstract                     Batik is a culture that is recognized worldwide. Since 2 October 2009, UNESCO designated Indonesian batik as a masterpiece of Indonesian cultural heritage. In Giriloyo, Imogiri, Yogyakarta, there are several batik industries, one of which is Madana Batik Gallery. The objectives of this research are: (1) To describe the artistic value of traditional batik motifs created by Madana Batik Gallery. (2) Describe the various traditional batik motifs created by Madana Batik Gallery along with their philosophical meaning. This research uses a qualitative descriptive research method. The subject of this research is batik motifs by Madana Batik Gallery, Imogiri, Yogyakarta. Data collection went through the stages of observation, interviews, documentation and literature study. The data analysis technique in this research uses data reduction, data presentation and drawing conclusions or verification. From the results of this research it can be concluded  (1) The traditional batik motifs created by Madana Batik Gallery are classified as classic batik which have a deep philosophical meaning for life (2) The artistic value in the traditional batik motifs created by Madana Batik Gallery lies in the arrangement of the motifs which contain the principles of fine art and it also lies in the color (3) Ancient people created motifs not only to see their beauty, but they also sought and compiled meaning that was related to life. (4) Understanding the artistic value and philosophical meaning of traditional batik motifs for is very important the Indonesian people.
Analisis Filosofi Motif Kain Tenun Cual Dalam Upacara Adat Ngarak Telok Seroja Bangka Belitung Mustofa, Siti Solekah; Triyono
CILPA Vol 9 No 2 (2024): July
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v9i2.17885

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis-jenis motif yang diterapkan pada kain Tenun Cual dan mengidentifikasi nilai filosofis motif pada kain Tenun Cual Bangka Belitung dalam adat Ngarak Telok Seroja. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan model deskriptif dengan subjek kain Tenun Cual Bangka Belitung. Teknik dan instrumen pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Pada penelitian ini merujuk pada penelitian  yang luas akan deskriptif yang mana berbentuk kata-kata dari hasil penelitian baik secara lisan maupun tulisan. Pada penelitian ini menggunakan teknik case studies. Hasil penelitian ini motif kain Tenun Cual yang terinspirasi dari tanaman dan hewan dan memiliki makna siklus kehidupan, lambang kehormatan, kemakmuran, nasib baik, kasih sayang, sikap hati hati, kesabaran, sifat bersosialisasi yang baik, sumber kebahagiaan, kemakmuran dan kehormatan, keadilan, kekuatan dan pelindung. Penggunaan kain Tenun Cual digunakan dalam berbagai acara adat yang salah satunya adat Ngarak Telok Seroja. sekarang ini, fungsi kain Tenun Cual bisa dipakai pada acara adat, perngantin, karnaval, dan hari kemerdekaan. Kain Tenun Cual dapat dipakai remaja, dewasa, orang tua bahkan anak-anak. Hal ini memiliki tujuan untuk memperkenalkan kain Tenun Cual terhadap anak-anak muda agar mencintai produk budayanya. Abstract This study aims to identify the types of motifs applied to Cual Woven fabrics and identify the philosophical value of motifs on Bangka Belitung Cual Woven fabrics in the Ngarak Telok Seroja custom. This research is a qualitative research with a descriptive model with the subject of Bangka Belitung Cual Weaving fabric. Information collection techniques and instruments were carried out by observation, interviews and documentation. This research refers to extensive descriptive research which is in the form of words from the results of research both orally and in writing. This research uses case studies technique. The results of this study are Cual Woven fabric motifs inspired by plants and animals and have the meaning of life cycles, symbols of honor, prosperity, good fortune, compassion, carefulness, patience, good socializing, sources of happiness, prosperity and honor, justice, strength and protection. The use of Cual Woven Fabric is used in various traditional events, one of which is the Ngarak Telok Seroja custom. nowadays, the function of Cual Woven Fabric can be used at traditional events, celebrations, carnivals, and independence days. Cual woven fabrics can be worn by teenagers, adults, parents and even children. This has the aim of introducing Cual woven fabric to young people to love their cultural products.  
Analisis Makna Filosofi Ragam Hias Rumah Adat Balla Lompoa Gowa Sulawesi Selatan Andi Muh Raihan s; Cahyono, Nugroho Heri
CILPA Vol 10 No 1 (2025): January
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v10i1.17915

Abstract

Abstrak   Rumah Adat Balla Lompoa merupakan salah satu rumah adat yang antik, unik, dan bersejarah di Goa, Sulawesi Selatan. Kekhasan Rumah Adat Balla Lompoa ini terletak pada bangunannya yaitu elemen pada Rumah Adat Balla Lompoa yang memiliki nilai estetik dan makna filosofi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana makna flosofi interior yang terdapat pada Rumah Adat Balla Lompoa. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subjek penelitian ialah ragam hias Rumah Adat Balla Lompoa. Objek penelitian ini adalah unsur-unsur motif dan makna filosofis ragam hias Rumah Adat Balla Lompoa. Teknik pengumpulan data penelitian ini ialah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan pengumpulan data, mengklasifikasi data, menelaah data, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Rumah adat Balla Lompoa adalah jenis rumah panggung yang terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama disebut ulu balla’ yang letaknya paling atas, meliputi atap dan loteng. Bagian kedua disebut kale balla’ yaitu suatu ruangan yang ditempati oleh pemilik rumah dan keluarganya dan bagian ketiga disebut siring (kolong rumah) yang letaknya paling bawah; 2) Ciri khas ragam hias rumah adat Balla Lompoa paling menonjol yaitu ulu tedong dan juga besarnya rumah adat tersebut, itulah yang di sebutkan rumah adat Balla Lompoa yang artinya rumah besar; 3) Ragam hias Bugis Gowa merupakan salah satu bentuk manifestasi semangat dan cita rasa estetika yang berkembang pada masyarakat Bugis Gowa. Masyarakatnya dikenal sebagai masyarakat pejuang yang menyukai jiwa petualang, pemberani, setia, dan keras. Hal ini secara tidak langsung ikut terbawa pada karya-karya ragam hias yang diciptakan. Abstract Balla Lompoa Traditional House is one of the antique, unique and historic traditional houses in Goa, South Sulawesi. The materials in this mosque are mostly wood. The uniqueness of the Balla Lompoa Customary House in the building is that the elements of the Balla Lompoa Customary House have aesthetic value and philosophical meaning. This research aims to describe how the meaning of interior philosophy contained in the Balla Lompoa Traditional House. This research is a qualitative research with descriptive approach. The subject of the research is the decoration of Balla Lompoa Traditional House. The object of this research is the motif elements and philosophical meaning of the Balla Lompoa Traditional House decoration. The data collection techniques were observation, interview, and documentation. The data analysis technique uses data collection, classifying data, analyzing data, and drawing conclusions. The results of this study indicate that: 1) Balla Lompoa traditional house is a type of stilt house consisting of three parts. The first part is called ulu balla' which is located at the top, including the roof and attic. The second part is called kale balla' which is a room occupied by the owner of the house and his family and the third part is called siring (under the house) which is located at the bottom; 2) The most prominent characteristic of the Balla Lompoa traditional house decoration is the ulu tedong and also the size of the traditional house, which is called the Balla Lompoa traditional house which means a big house; 3) The Bugis Gowa ornamental variety is a manifestation of the spirit and aesthetic taste that developed in the Bugis Gowa community. The community is known as a warrior community that likes adventurous, brave, loyal, and hard. This is indirectly carried over to the ornamental works created.
Kajian Estetika Interior Masjid Saka Tunggal Jami’ Baitussalam Di Cikakak Banyumas Difa, Salmauz; Sugiyamin; Wicaksono, Noor Fatih Ario
CILPA Vol 9 No 2 (2024): July
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v9i2.17941

Abstract

ABSTRAK Masjid Saka Tunggal Jam’i Baitussalam merupakan salah satu masjid yang antik, unik, dan bersejarah di Banyumas, dengan memiliki satu saka yang menopang bagian tengah bangunan. Material pada masjid ini kebanyakan dari bahan kayu jati, mahoni serta bambu. Kekhasan masjid ini yakni adanya satu Saka Guru atau Saka Tunggal yang terdapat pada bangunannya. Apakah elemen pada Masjid Saka Tunggal Jam’i Baitussalam memiliki nilai estetika selain pada saka tunggalnya. Untuk itu, dilakukan penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana nilai estetika interior yang terdapat pada Masjid Saka Tunggal Jam’i Baitussalam. Penelitian ini menggunakan metode penilitian deskriptif-kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah Masjid Saka Tunggal Jam’i Baitussalam yang berada di Desa Cikakak, Kabupaten Banyumas. Objek penelitiannya adalah kajian estetika interior pada masjid. Hasil dari penelitian menunjukan nilai estetika yang terdapat pada Masjid Saka Tunggal Jam’i Baitussalam terletak pada (1) Nilai Estetika pada Saka Tunggal Masjid (2) Nilai Estetika pada Bangunan Masjid (3) Nilai Estetika pada Atap dan Langit-Langit Masjid. Jadi nilai estetika pada bangunan Masjid Saka Tunggal Jam’i Baitussalam tidak hanya terletak pada saka tunggalnya saja, melainkan pada bentuk, motif, warna, dan bahan yang menonjolkan kesan bangunan sederhana dan kuno, namun tetap mementingkan entitas spiritual yang islami dan estetik. ABSTRACT The Saka Tunggal Jam'i Baitussalam Mosque is one of the antique, unique and historic mosques in Banyumas, with one saka supporting the center of the building. The materials in this mosque are mostly teak, mahogany and bamboo. The specialty of this mosque is the presence of one Saka Guru or Single Saka in the building. Does the element in the Jam'i Baitussalam Single Saka Mosque have aesthetic value other than the single saka. For this reason, this research aims to describe how the aesthetic value of the interior contained in the Saka Tunggal Jam'i Baitussalam Mosque. This research uses descriptive-qualitative research method. The subject of this research is the Saka Tunggal Jam'i Baitussalam Mosque located in Cikakak Village, Banyumas Regency. The object of research is the study of interior aesthetics in the mosque. The results of the study show that the aesthetic value contained in the Saka Tunggal Jam'i Baitussalam Mosque lies in (1) Aesthetic Value of the Single Saka of the Mosque (2) Aesthetic Value of the Mosque Building (3) Aesthetic Value of the Roof and Ceiling of the Mosque. So the aesthetic value of the Saka Tunggal Jam'i Baitussalam Mosque building does not only lie in the single saka, but in the shapes, motifs, colors, and materials that accentuate the impression of a simple and ancient building, but are still concerned with Islamic and aesthetic spiritual entities.
Perancangan Buku Visual Kain Sasirangan Sebagai Media Literasi Masyarakat Kalimantan Selatan Nur Azizah Puji Astuti
CILPA Vol 10 No 1 (2025): January
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v10i1.19097

Abstract

Abstrak Kain Sasirangan merupakan kain tradisional khas Kalimantan Selatan yang dapat divisualisasikann dengan motif dan warna yang telah dipola secara dijelujur manual. Kain sasirangan dikenal dengan berbagai macam motif yang masing-masing mengandung makna yang cukup mendalam. Tujuan dari perancangan buku visual mengenai kain sasirangan adalah untuk memperkenalkan Sejarah, motif dan cara pembuatan sasirangan sebagai pengetahuan lokal bagi Masyarakat, sehingga penting untuk menyediakan literasi narasi dan visual mengenai sasirangan. Buku visual ini juga bertujuan untuk memberikan pemahaman tidak sekedar pengetahuan secara umum. Dalam perancangan ini penulis menggunakan metode design thinking yang terdiri dari beberapa tahapan yaitu empathize, define, ideate, prototype, dan test. Setelah melalui beberapa tahapan tersebut maka hasil dari perancangan buku visual ini berfungsi sebagai media literasi Masyarakat dan menyajikan literatur baru dan dapat menambah referensi kepustakaan dalam budaya Banjar. Hasil dari perancangan buku visual ini memiliki media utama yaitu Buku Visual Sasirangan. Adapun media pendukung yang dibuat yaitu bookmark, totebag, stickers, gantungan kunci dan masker. Abstract Sasirangan is a traditional cloth from South Kalimantan, visualized with motifs and colors that have been manually patterned through a traditional process. Sasirangan is known for its various motifs, each carrying profound meaning. The goal of designing a visual book about Sasirangan is to introduce its history, motifs, and the process of its creation as local knowledge for the community. Therefore, it is important to provide both narrative and visual literacy about Sasirangan. The visual book also aims to offer a deeper understanding, not just general knowledge. In this design process, the author employs the design thinking method, which consists of several stage: empathize, define, ideate, prototype and test. After going through these stages, the result of this visual book design serves as a literacy medium for the community, presenting new literature and adding references to the library regarding Banjar culture. The main output of this visual book design is the visual book of Sasirangan. Additionally, supporting media created includes bookmarks, totebags, stickers, keychains and masks.
Penerapan Seni Kriya Tradisional Dalam Tradisi Budaya Pandhalungan Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur Alqoronie, Uwais; Susanto, Dwi
CILPA Vol 8 No 1 (2023): Januari
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v8i1.13054

Abstract

Abstrak Latar belakang Penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana implementasi seni kriya tradisional dalam tradisi budaya pandhalungan di daerah Jember, dengan tujuan mengetahui makna simbolik dalam kesenian patrol dan mengetahui faktor apa saja yang dapat mendorong keberlangsungan kesenian patrol di era modern. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan. Wawancara penelitian dilakukan kepada dinas pariwisata, seniman, dan masyarakat panhdalungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) implementasi seni kriya tradisional dapat terwujud dalam budaya pandhalungan yaitu seni musik dan alat alatnya yang memiliki corak khas budaya pandhalungan. Corak dan budaya yang khas menjadi identitas budaya patrol itu sendiri, (2) Makna simbolik masing-masing alat musik memiliki kegunaan tersendiri, seperti remo untuk berkomunikasi di laut, tiktok untuk balapan sapi dan kleter untuk membangunkan sahur orang. Sedangkan kesenian patrol pada batik memiliki warna warna dan motif batik yang khas. (3) Faktor pendorong bertahannya kesenian patrol di era modern dapat dibedakan menjadi dua, yaitu internal dan eksternal. Faktor internal antara lain: keinginan seniman, pengrajin, identitas daerah dan sumber pendapatan daerah. Sedangkan faktor eksternal adalah pengaruh budaya lain, dukungan dinas yang terkait, dan partisipasi masyarakat setempat. Abstrak The background of this research is to describe how the implementation of traditional craft art in the pandhalungan cultural tradition in the Jember area, with the aim of knowing the symbolic meaning in patrol art and knowing what factors can encourage the survival of patrol art in the modern era. This research used descriptive qualitative research methods. Data collection was done by interview, documentation and literature study. Research interviews were conducted to the tourism office, artists, and the Panhdalungan community. The results showed that: (1) the implementation of traditional craft art can be realized in pandhalungan culture, namely music and tools that have a distinctive style of pandhalungan culture. The distinctive patterns and culture become the identity of the patrol culture itself, (2) The symbolic meaning of each musical instrument has its own use, such as remo to communicate at sea, tiktok for cow races and kleter to wake up people's dawn. Meanwhile, patrol art on batik has a distinctive color and batik motif. (3) Factors driving the survival of patrol art in the modern era can be divided into two, namely internal and external. Internal factors include: the desire of artists, craftsmen, regional identity and regional income sources. While external factors are the influence of other cultures, support from related agencies, and local community participation.
Nilai Nilai Artistik Rumah Adat Tradisional di Kabupaten Belitung Widia, Widia; Sugiyamin; Pamungkas, Dharmawati Dewi
CILPA Vol 8 No 1 (2023): Januari
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v8i1.13848

Abstract

ABSTRAK Rumah panggung adalah rumah tradisional yang dibuat diatas tanah tetapi tidak menyentuh tanah dengan cara batu atau kayu sebagai alas pondasi. Rumah adat ini dibuat dibuat dengan bahan baku kayu yang terkenal kuat yaitu kayu Bulin. Tujuan penelitian untuk mengetahui (1) Mendeskripsikan Ruangan apa yang ada di Rumah Adat Belitung, (2) Mendeskripsikan Elemen Interior apa  yang ada di Rumah Adat Belitung, (3) Mendeskripsikan Nilai Artistik seperti apakah yang ada pada Rumah Adat Belitung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Variabelnya adalah ruangan  dan elemen interior pada Rumah Adat Tradisional Belitung. Subjek pada penelitian ini adalah Rumah Adat Belitung. Objek penelitiannya adalah Nilai Nilai Artistik pada Rumah Adat Belitung. Hasil Penelitian dapat disimpulkan (1) Mengetahui Ruangan yang ada di Rumah Adat Belitung tersebut memiliki tiga ruangan yaitu ruangan utama, loss, dan ruangan dapur, (2) Elemen Interior pada Rumah Adat Tradisional Belitung terdapat pada elemen pembentuk, Elemen pendukung, dan Elemen penunjang, (3) Nilai Nilai Artistik Interiornya pada setiap ruangan yang ada di Rumah Adat tersebut. Kesimpulan penelitian pada rumah adat tradisional Belitung memiliki 3 ruangan. Terdapat elemen-elemen pada rumah adat ini yaitu elemen pembentuk, pendukung, dan penunjang. Rumah adat ini juga memiliki nilai-nilai artistik yang sesuai dengan kebudayaannya. Abstract: The background of Belitung Island has a traditional house called a stilt house. A stilt house is a traditional house that is made on the ground but does not touch the ground by means of stone or wood as a foundation base. This traditional house is made with a famously strong wood raw material, namely Bulin wood. The purpose of the study is to find out (1) Describe what space is in Traditional House Belitung, (2) Describe what  Interior Elements are in Traditional House Belitung, (3) Describe what kind of Artistic Artist Value is in Traditional House Belitung. This Research uses the qualitative descriptive method. The variables are the room and interior elements in the Belitung Traditional House. The subject of this research is the Belitung Traditional House. The object of his research is the Value of Artistic Value in the Belitung Traditional House. Research can conclude (1) that the Belitung Traditional House has three rooms, namely the main room, loss, and kitchen room; (2) Interior Elements in the Belitung Traditional House are found in the forming elements, supporting elements, and supporting elements, (3) The Value of Artistic Indigo Interior in each room in Traditional House. Research conclusions on traditional Belitung traditional houses have three rooms. There are elements in this traditional house, namely forming and supporting elements. This traditional house also has artistic values that are in accordance with its culture.      
Tradisi Selasa Wage Di Malioboro Sebagai Sumber Ide Penciptaan Seni Lukis Kuswardana, Bima Arindra; Dewobroto, Bambang Trisilo; Musfalri, Andrik
CILPA Vol 8 No 1 (2023): Januari
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v8i1.13935

Abstract

Abstrak “Tradisi Selasa Wage” atau biasa masyarakat sekitar dan para pedagang kaki lima area Malioboro dengan julukan “Jogja Reresik Malioboro Selasa Wage”, salah satu aktivitas sosial dimana kendaraan umum tidak diperbolehkan untuk melintas atau melewati sepanjang Jalan Malioboro, sehingga para wisatawan baik dari lokal maupun mancanegara yang sedang berlibur di Malioboro sangat menikmati suasana tradisional tersebut.  Tujuan penciptaan ini adalah menjadikan sebuah media yang dapat mengembangkan sebuah ide, konsep, gagasan, dan teknik lukis dalam menciptakan suatu karya. Mengekspresikan sebuah konsep pada moment aktivitas “Tradisi Selasa Wage” dalam sajian karya lukis kontemporer. Menggali proses kreatif secara Teknik yang pada akhirnya dapat menemukan sebuah karakter yang khas dalam proses kreatifnya. Penciptaan karya ini yang terinspirasi dari aktivitas masyarakat Malioboro melakukan gotong royong, guna untuk menjaga kelestarian, kebersihan lingkungan sepanjang jalan Malioboro. Metode penciptaan dengan melakukan eksplorasi, dari segi eksplorasi visual, eksplorasi bentuk, eksplorasi konsep, eksplorasi teknik, dan analisis data yang meliputi data premier, data sekunder. Tema yang dipilih adalah pengenalan tradisi di daerah Yogyakarta. Hasil penelitian ini menggambarkan suasana kegiatan Tradisi Selasa Wage di Malioboro yang menjadi objek dalam membuat karya-Karya seni Lukis, yang menghasilkan sebanyak 7 karya lukisan dengan berbagai jenis ukuran dan teknik, diantaranya yang berjudul Gelap Malam Tengah Kota, Hiburan Jalanan, Guyup Rukun, Reresik Malioboro, Tarian Anak, Talk Show, dan Berjalan Bebas. Abstrak "Tuesday Wage Tradition" or commonly the local community and street vendors in the Malioboro area with the nickname "Jogja Reresik Malioboro Tuesday Wage", one of the social activities where public vehicles are not allowed to pass or pass along Jalan Malioboro, so tourists both local and foreigners who are on vacation in Malioboro really enjoy the atmosphere of this tradition. The purpose of this creation is to make a medium that can develop an idea, concept, ideas, and painting techniques in creating a work. Expressing a concept at the moment of the “Tuesday Wage Tradition” activity in the presentation of contemporary paintings. Exploring the creative process technically which in the end can find a specific characteristic in the creative process.The creation of this work was inspired by the activities of the Malioboro people doing mutual cooperation, in order to maintain sustainability, clean the environment along the Malioboro road. The creation method is by exploring, in terms of visual exploration, form exploration, concept exploration, technical exploration, and data analysis which includes premier data, secondary data. The chosen theme is the introduction of traditions in the Yogyakarta area, the atmosphere of the Tuesday Wage Tradition activities in Malioboro which are the objects in making works.7 painting works with various types of sizes, techniques, and creation of works in 2021 entitled Dark Midnight City, Street Entertainment, Guyup Rukun, Malioboro Rehearsal, Children's Dance, Talk Show, and Free Walking
Tradisi Adat Muang Jong Suku Sawang Di Belitung Sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Seni Lukis Febratama, Therta; Chandra, Dio Pamola; Cahyono, Nugroho Heri
CILPA Vol 8 No 1 (2023): Januari
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v8i1.14064

Abstract

Abstrak Tradisi Muang Jong merupakan tradisi adat yang diselenggarakan oleh masyarakat Suku Sawang di Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung. Selama berabad-abad masyarakat ini menetap didekat laut dengan memegang nilai-nilai kehidupan leluhurnya serta memiliki kebudayaan yang unik. Nilai-nilai leluhur tersebut hingga sekarang masih dilestarikan. Oleh karena itu, fokus dari permasalahan yang dapat di ambil adalah kurangnya visualisasi mengenai Tradisi Adat Muang Jong Suku Sawang melalui hasil karya Seni Lukis, kurangnya keinginan masyarakat untuk belajar tradisi budaya khususnya tradisi muang jong yang ada di Belitung sebagai salah satu kebudayaan di Indonesia, kurangnya keinginan masyarakat untuk memahami dan memaknai pesan moral dalam tradisi muang jong. Tujuan karya tulis ini adalah  menjelaskan konsep dari penciptaan lukisan, dapat memvisualisasikan makna pada suasana ide penciptaan seni lukis dengan tujuan tradisi muang jong yang berasal dari kabupaten belitung timur, dan dapat mendeskripsikan tema, bentuk dan teknik penciptaan lukisan. Metode penciptaan tugas akhir ini menggunakan metode skema penciptaanya yaitu Eksplorasi, Analisis Data, Perancangan Karya dan Perwujudan Karya Hasil perwujudan karya ini adalah karya seni lukis menggunakan media kanvas. Karya ini menceritakan tentang tradisi adat muang jong suku sawang yang terletak di Belitung provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Karya ini diharapkan sebagai media edukasi kebudayaan dan adat istiadat bagi masyarakat luas. Abstrak The Muang Jong tradition is a traditional tradition held by the Sawang Tribe community in East Belitung Regency, Bangka Belitung Islands. For centuries these people have lived near the sea by holding the values of their ancestral lives and having a unique culture. These ancestral values are still preserved today. Therefore, the focus of the problem that can be taken is the lack of visualization of the Muang Jong Customary Tradition of the Sawang Tribe through the results of Painting, the lack of public desire to learn cultural traditions, especially the Muang Jong tradition in Belitung as one of the cultures in Indonesia, the lack of the desire of the people to understand and interpret the moral messages in the Muang Jong tradition. The purpose of this paper is to explain the concept of creating paintings, to be able to visualize the meaning in the atmosphere of the idea of creating paintings with the aim of the Muang Jong tradition originating from East Belitung Regency, and to be able to describe the themes, forms and techniques of creating paintings.The method of creating this final project uses the creation scheme method, namely Exploration, Data Analysis, Work Design and Realization The work that results from the embodiment of this work is a work of art using canvas media. This work tells about the traditional traditions of Muang Jong, the Sawang tribe, which is located in Belitung, the province of the Bangka Belitung Islands. This work is expected to be a medium for educating culture and customs for the wider community.
Perahu Pinisi Sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Seni Logam Akbar, Andi Muh. Fadlullah; Triyono
CILPA Vol 8 No 1 (2023): Januari
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v8i1.14282

Abstract

ABSTRAK Perahu pinisi merupakan kapal layar yang dibuat oleh masya rakat pesisir Sulawesi Selatan tepatnya di Kabupaten Bulukumba. Menurut sejarahnya, perahu pinisi tercipta dari serpihan kapal pangeran Sawerigading yang karam diperairan Bulukumba setelah ia menjemput sang kekasih yaitu Wacudai yang berada di daratan Cina. Dalam proses eksplorasi penulis melakukan riset langsung ke lokasi pembuatan perahu sehingga penulis dapat mengambil sudut pandang yang dinilai memiliki nilai estetik. Dimana penulis setelah mencari tau dengan pengharapan setelah terciptanya karya seni logam yang mengeksplor bentuk perahu pinisi ini dapat menjadi inspirasi dalam pembuatan karya-karya seni rupa lainnya dan banyak dikenal oleh masyarakat sekitar bahwa Indonesia memilki sebuah sejarah perairan yang sangat dikenal oleh dunia. Metode  penciptaan  ini menggunakan skema  penciptaan yang terdiri dari Eksplorasi,  Analisis  Data,  Perancangan dan Perwujudan Karya.Perwujudan karya dengan metode ini menghasilkan sebuah karya  seni relief  logam yang menggunakan media  tembaga dan kuningan. Karya  ini menceritakan tentang bentuk prahu pinisi yang merupakan warisan budaya tak benda yang berasal dari Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan. Karya ini diharapkan sebagai media edukasi dan informasi terkait warisan budaya kemaritiman Indonesia ABSTRAK Pinisi boat is a sailing ship made by the coastal community of South Sulawesi, precisely in Bulukumba Regency. Historically, the pinisi boat was created from the wreckage of the Sawerigading prince's ship that sank in the waters of Bulukumba after he picked up his lover, Wacudai, who was in mainland China. In the exploration process, the author conducted direct research to the location of the boat so that the author could take a point of view that was considered to have aesthetic value. Where the author after finding out with the hope that after the creation of a metal artwork that explores the shape of this Pinisi boat can be an inspiration in making other works of art and is widely known by the surrounding community that Indonesia has a history of waters that are well known to the world. This method of creation uses a creation scheme consisting of Exploration, Data Analysis, Design and Realisation of Work. The realisation of the work with this method produces a metal relief artwork using copper and brass media. This work tells about the shape of the pinisi boat which is an intangible cultural heritage originating from Bulukumba Regency, South Sulawesi Province. This work is expected to be a medium of education and information related to Indonesia's maritime cultural heritage.  

Page 8 of 12 | Total Record : 112