cover
Contact Name
Khamami Zada
Contact Email
jurnal.ahkam@uinjkt.ac.id
Phone
+6221-74711537
Journal Mail Official
jurnal.ahkam@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Faculty of Sharia & Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jl. Ir. H. Juanda 95 Ciputat Jakarta 15412 Telp. (62-21) 74711537, Faks. (62-21) 7491821 Website:http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/ahkam E-mail: jurnal.ahkam@uinjkt.ac.id
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Ahkam: Jurnal Ilmu Syariah
ISSN : 14124734     EISSN : 24078646     DOI : 10.15408
Core Subject : Religion, Social,
Focus and Scope FOCUS This journal focused on Islamic Studies and present developments through the publication of articles and research reports. SCOPE Ahkam specializes on islamic law, and is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. Fatwa; Islamic Economic Law; Islamic Family Law; Islamic Legal Administration; Islamic Jurisprudence; Islamic Law and Politics; Islamic Legal and Judicial Education; Comparative Islamic Law; Islamic Law and Gender; Islamic Law and Contemporary Issues; Islamic Law and Society; Islamic Criminal Law
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 378 Documents
The Other Side of the History of the Formulation of Aceh Jinayat Qanun Salma Salma; Almuh Fajri; Taufik Hidayat; Edi Safri
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol 22, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v22i1.21000

Abstract

In the context of fiqh, the provisions of ḥudūd have been agreeable in terms of the actions and punishments. However, some of them are not mentioned in Aceh Qanun No. 6/2014 on Jinayat (Criminal) Law, such as stoning, death sentence, and hand amputation. These three types of punishment were harshly debated during the formulation of the qanun and subsequently abolished. Using the historical legal approach, this study finds out there were some issues that came up during the formulation process. First, the assessment of the local government and people’s readiness to implement those punishments has not been sufficient. Second, stoning, the death penalty, and hand cutting are not in accordance with the Indonesian procedural law. Third, the qanun formulation was affected by the disparity of Islamic legal scholars’ opinions regarding the mentioned penalties. Forth, the discussants in the forum believed that the implementation of Islamic criminal law needs phasing (tadarruj).   AbstrakDalam konteks fikih, ketentuan hudud telah disepakati baik jenis perbuatannya maupun sanksi-sanksinya. Akan tetapi, tidak semuanya tercantum sebagai materi hudud dalam Qanun Aceh No. 6/2014 tentang Hukum Jinayat, seperti hukuman rajam, hukuman mati dan hukuman potong tangan. Ketiga jenis hukuman ini diperdebatkan dengan sengit selama pembahasan Qanun dan akhirnya ditiadakan. Melalui pendekatan sejarah hukum, diketahui setidaknya ada beberapa faktor problematik yang mewarnai perumusan Qanun Aceh No. 6/2014 tentang Hukum Jinayat. Pertama, adanya penilaian internal tentang kesiapan pemerintah dan masyarakat yang belum maksimal untuk melaksanakan hukuman-hukuman itu. Kedua, materi rajam, hukuman mati bagi pelaku riddah dan potong tangan yang tidak sejalan dengan hukum acara yang telah ada sebelumnya. Ketiga, adanya pengaruh perbedaan pendapat ulama (disparitas) dalam konteks fikih tentang hukuman-hukuman itu dalam proses perumusan qanun. Keempat, adanya keyakinan para pembahas bahwa penegakan hukum pidana Islam dalam Qanun Aceh memerlukan pentahapan (tadarruj).
Implementation of the New MABIMS Crescent Visibility Criteria: Efforts to Unite the Hijriyah Calendar in the Southeast Asian Region maskufa maskufa; Sopa Sopa; Sri Hidayati; Adi Damanhuri
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol 22, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v22i1.22275

Abstract

This paper discussed the implementation of the new MABIMS hilāl visibility criteria in the unification of the Hijriyah calendar in member countries (Malaysia, Brunei, Indonesia and Singapore). This research uses the approach of Astronomy and Grindle's theory of policy implementation. The data source comes from the MABIMS Muzakarah results document and related articles. The research results indicate that the new MABIMS moon crescent visibility criteria are part of a public policy that, in its implementation, requires two mutually supportive variables. First, the content of the policy in the form of the moon crescent visibility criteria (3⁰; 6.4⁰) was accepted by all member countries through the signing of an ad referendum on 8 December 2021. This acceptance will receive public support if it is beneficial to time management. Second, the context of implementation is carried out in stages by taking into the characteristics of the institutions involved in preparing the Hijriyah calendar. At the practical level, the policy can be well received by the public, except in Indonesia, which still faces obstacles. This is due to the policy in the three countries being carried out on a top-down basis, while in Indonesia, it is carried out on a bottom-up basis. Furthermore, determining of Ramadan, Shawwal, and Zulhijjah are still waiting for confirmation of the sighting of the moon (ru’yah). It related to the domination of ru’yah, and a strong distinction between the function of the calendar in civil administration and worship practice.  Abstrak Makalah ini membahas penerapan kriteria baru visibilitas hilalMABIMS dalam penyatuan penanggalan Hijriyah di negara-negara anggota(Malaysia, Brunei, Indonesia dan Singapura). Penelitian ini menggunakanpendekatan penerapan kebijakan Astronomi dan teori Grindle. Sumber databerasal dari dokumen hasil Muzakarah MABIMS dan artikel terkait. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa kriteria baru visibilitas hilal MABIMS merupakanbagian dari kebijakan publik yang dalam pelaksanaannya membutuhkandua variabel yang saling mendukung. Pertama, isi kebijakan berupa kriteriavisibilitas bulan sabit (3⁰; 6.4⁰) diterima oleh seluruh negara anggota melaluipenandatanganan referendum pada 8 Desember 2021. Penerimaan ini akanmendapat dukungan publik jika bermanfaat hingga manajemen waktu. Kedua,konteks pelaksanaannya dilakukan secara bertahap dengan memperhatikankarakteristik lembaga yang terlibat dalam penyusunan penanggalan Hijriyah.Pada tataran praktis, kebijakan tersebut dapat diterima dengan baik olehmasyarakat, kecuali di Indonesia yang masih menghadapi kendala. Hal inidisebabkan kebijakan di ketiga negara dilakukan secara top-down, sedangkan diIndonesia dilakukan secara bottom-up. Selanjutnya, penentuan awal Ramadan,Syawal dan Zulhijah masih menunggu konfirmasi penampakan hilal (rukyah).Ini terkait dengan dominasi ru’yah, dan perbedaan yang kuat antara fungsipenanggalan dalam administrasi sipil dan praktik ibadah.
Moderation in Fatwas and Ijtihad: An Analysis of Fatwas Issued by the MKI Malaysia Concerning the Covid-19 Pandemic Abdul Manan Ismail; Ahmad Syukran Baharuddin
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol 22, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v22i1.22299

Abstract

Certain muftis reject the moderation method when giving fatwas. They are more prone to extremism or dereliction approaches. This rejection occurs due to various causes and, if left unaddressed, will have a detrimental impact on the fatwa institutions, muftis, and mustaftis. This research discussed the notion of moderation in Islam and how it is applied in the realm of a fatwa. Given that Malaysia is currently dealing with the COVID-19 pandemic and that the MKI (Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam) has issued several fatwas on it, this research will look into the fatwas and the features of moderation inherent within it. Using Bowen's document analysis methodology, this study was performed qualitatively by gathering pertinent data from primary and secondary documents. The retrieved data from both documents were analyzed using content analysis methodology to get valuable information and rearrange it to produce meaning that could be understood and digested. The findings demonstrate that moderation is a symbol of Islam and that one of Islam's virtues is to conduct religious affairs and issue rulings with moderation. In fatwas, the notion of moderation centers on facilitating Muslims' religious experiences. In the context of the MKI fatwas, this study discovered that five fatwas were issued on Islamic affairs during the COVID-19 pandemic. According to the findings of this study, each fatwa has its features of moderation.   AbstrakBeberapa mufti tertentu menolak menerapkan moderasi saat memberikan fatwa. Mereka lebih rentan terhadap pendekatan ekstremisme atau kelalaian. Penolakan ini terjadi karena berbagai sebab. Hal itu jika dibiarkan akan berdampak merugikan bagi lembaga fatwa, mufti, dan para mustafti. Untuk itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk membahas pengertian moderasi dalam Islam dan bagaimana penerapannya dalam konteks fatwa. Mengingat bahwa Malaysia saat ini sedang berurusan dengan pandemi COVID-19 dan bahwa MKI (Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia) telah mengeluarkan beberapa fatwa yang berkaitan hal tersebut. Penelitian ini akan melihat fatwa-fatwa tersebut dan bentuk moderasi yang melekat di dalamnya. Untuk menjelaskan rumusan masalah dan tujuannya, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengumpulkan data terkait dari dokumen primer dan sekunder menggunakan metodologi analisis dokumen Bowen. Data yang diperoleh dari kedua jenis dokumen tersebut dianalisis menggunakan metodologi analisis isi untuk mendapatkan informasi yang berharga dan disusun kembali untuk menghasilkan makna yang dapat dipahami dan dicerna. Temuan menunjukkan bahwa moderasi adalah simbol Islam, dan bahwa salah satu keutamaan Islam adalah moderasi saat menjalankan urusan agama dan mengeluarkan aturan. Dalam fatwa, gagasan moderasi berpusat pada prinsip memfasilitasi umat Islam dalam menjalankan urusan agamanya. Dalam konteks fatwa MKI saat ini, penelitian ini menemukan bahwa lima fatwa yang dikeluarkan berkaitan dengan urusan Islam dalam krisis pandemi COVID-19. Temuan penelitian ini menjelaskan bahwa setiap fatwa memiliki ciri moderasinya sendiri.
Transition of Civil Law to Public Law: Integration of Modern Punishment Theory in Criminal Apostasy Dedy Sumardi; Mukhsin Nyak Umar; Ruslan Sangaji; Firdaus M Yunus; Rahmatul Akbar
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol 22, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v22i1.26359

Abstract

This paper aims to analyze the determination of death penalty in apostasy through modern criminal theories and human rights considerations. The approach is used to objectively view the purpose of death penalty on a criminal act in the context of religious freedom. This study is a conceptual study using the library research and descriptive-analytical  approach. Based on the analysis of punishment theories, it is found that the determination of the death penalty in apostasy takes a combined pattern of punishment theories: retributive, deterrence, and reformative theories. The combination of these theories leads to an integration, as it does not focus only on the retributive and deterrence aspects, but it also emphasizes on the reformative aspect, as a means of therapy for apostate criminals so they will not repeat the same acts. The integration of the theories seems perfect when accompanied by moral education that can provide “spiritual enlightenment”, so that criminals can be accepted back into the community. The integrity-morality theory or pulse-integrity theory is expected to neutralize the difference in views on the purpose of punishment in Islamic criminal law, which has long been considered not in line with the norms of human rights under the pretext of the sovereign system of the nation-state, where citizenship status is limited by territorial areas. The equality of rights, justice, morality, and individual accountability is a universal principle of the teachings of the Qur’an which inspire the conception of human rights norms by every citizen.AbstrakArtikel ini menganalisis penetapan hukuman mati dalam pidana murtad menggunakan pendekatan teori pemidanaan dan pertimbangan hak asasi manusia. Pendekatan ini digunakan untuk melihat secara objektif tujuan ditetapkan hukuman mati sebagai perbuatan pidana dalam konteks kebebasan beragama. Studi ini merupakan kajian konseptual, dianalisis menggunakan data kepustakaan melalui pendekatan deskriptif-analitis. Berdasarkan analisis teori pemidanan ditemukan bahwa penetapan hukuman mati dalam pidana murtad mengambil pola perpaduan teori pemidanaan; teori retributif,deterrence dan reformatif. Perpaduan ketiga teori melahirkan integritas, tidak terfokus pada aspek retributif  dan deterrence, tetapi lebih menekankan pada aspek reformatif, sebagai terapi pelaku kajahatan murtad agar tidak mengulangi perbuatan yang sama. Pengintegrasian ketiga teori ini terlihat sempurna manakala diiringi pendidikan moral yang dapat memberikan “pencerahan spiritual”, sehingga pelaku kejahatan dapat diterima kembali dalam kehidupan masyarakat. Teori integritas-moralitas atau teori integritas-plus diharapkan dapat menetralisir perbedaan pandangan tujuan pemidanaan Islam. Persamaan hak, keadilan, moralitas dan pertanggunjawaban individu merupakan prinsip universal ajaran al-Qur’an menjadi inspirasi lahirnya norma hak asasi manusia setiap warga negara.
Cyber Fatwa and Da'wah Acceptance in New Media: How Technology Affects Religious Message by Female Ulama Imam Subchi; Kusmana Kusmana; Zulkifli Zulkifli; Dewi Khairani; Rena Latifah
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol 22, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v22i1.23687

Abstract

Through religious activities in cyberspace, new media has become one of the enabling reasons for the emergence of female ulama. It has created a channel for them to exhibit their identity and compete as religious preachers. Numerous Islamic studies organizations and societies have developed on social media, along with religious leaders who use the platform to disseminate Islamic learning activities across various social media channels, increasingly highlighting the signals of religious populism. This study employs a quantitative approach to assess female ulama's acceptance of new media by distributing online questionnaires to Islamic University civitas academia. The research model comprises eleven potential relationship paths based on the Technology Acceptance Model theory. There haven't been many studies on the acceptance of technology in religious affairs in Indonesia. An important finding is that the respondents' social influence does not affect the use of new media to access the female ulama lecture. The popularity of female scholars in presenting religious messages through modern media is currently acceptable. This study concludes that even in a homogeneous atmosphere, the female ulama remains unpopular; this may be attributed to the female scholar's continued use of the traditional approach in her lectures. Based on the result, a modern approach to delivering a religious message is needed to solve the issue and improve da'wah's impact and a cyber fatwa by female ulama in contemporary Indonesia.  Abstrak:Melalui aktivitas keagamaan di dunia maya, media baru menjadi salah satu alasan yang memungkinkan munculnya ulama perempuan dan telah menciptakan saluran bagi mereka untuk menunjukkan identitasnya dan bersaing sebagai pendakwah. Banyak organisasi dan masyarakat pengkaji Islam telah berkembang di media sosial, bersama dengan para pemimpin agama yang menggunakan platform untuk menyebarluaskan kegiatan pembelajaran Islam di berbagai saluran media sosial, semakin menyoroti sinyal populisme agama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menilai penerimaan ulama perempuan terhadap media baru dengan menyebarkan kuesioner online kepada civitas akademika Universitas Islam. Model penelitian ini terdiri dari sebelas jalur hipotesa berdasarkan teori Technology Acceptance Model (TAM). Belum banyak penelitian tentang penerimaan teknologi dalam urusan keagamaan di Indonesia. Temuan penelitian ini adalah bahwa pengaruh sosial dari responden ini tidak mempengaruhi penggunaan media baru untuk mengakses ceramah ulama perempuan. Popularitas ulama perempuan dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan melalui media modern saat ini dapat diterima. Studi ini menyimpulkan bahwa bahkan dalam suasana homogen, ulama perempuan tetap tidak populer; ini mungkin disebabkan oleh penggunaan pendekatan tradisional yang terus menerus oleh cendekiawan perempuan dalam penyampaian dakwah dan fatwanya. Berdasarkan hasil tersebut, diperlukan pendekatan modern dalam penyampaian pesan agama untuk memperbaiki situasi dan meningkatkan dampak dakwah dan fatwa siber oleh ulama perempuan di Indonesia saat ini.   
Qibla Direction Calculation Methods in Islamic Astronomy References in Indonesia Reza Akbar; Aslan Aslan; Riza Afrian Mustaqim
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol 22, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v22i2.20422

Abstract

This research shows that most Islamic astronomy references in Islamic Universities in Indonesia still use the spherical earth concept to explain the qibla  direction.  However,  based  on  modern  astronomy,  the  earth's  shape  is not a perfect sphere but an ellipsoid. In addition, a contradiction occurs in the  conception  of  magnetic  declination  in  determining  the  qibla  direction. This research aims to examine the relevance of Islamic astronomy reference books  with  the  concept  of  geoscience  based  on  the  magnetic  declination formula  and  concept.  This  research  also  examines  the  calculation  methods for qibla direction based on sharia. This library research applies descriptive- analytic  and  normative  approaches  with  the  data  originating  from  various Islamic astronomy references in the digital library of Islamic universities. This research finds that Islamic astronomy references about the qibla direction are not  yet  relevant  to  the  concept  of  geoscience.  Most  of  those  references  still use references astronomy for qibla calculation. There are still some references contradicting the international consensus regarding magnetic declination. In addition, this study reveals that someone who has the ability to determine the qibla direction through the Vincenty formula should use that concept instead of  spherical  trigonometry.  This  is  because  of  skill  (ahliyyah) and sincerity (juhd)  requirements  in  ijtihad;  Shafi'i's  notion  regarding  ikhtilāf in ijtihād for qibla direction; and Islamic jurisprudence principle stating that certainty is not overruled by doubt.Keywords: Islamic  astronomy;  qibla  direction;  spherical  trigonometry; Vincenty's formula; sharia AbstrakPenelitian  ini  berangkat  dari  fakta  bahwa  sebagian  besar  referensi ilmu falak di perguruan tinggi Indonesia masih menggunakan konsep bumi bulat  dalam  menjelaskan  pokok  bahasan  arah  kiblat.  Padahal,  berdasarkan astronomi modern, bentuk bumi tidaklah seperti bola sempurna, melainkan berbentuk elipsoid. Selain itu, terdapat pula pertentangan konsepsi deklinasi magnetik  dalam  persoalan  penentuan  arah  kiblat.  Penelitian  ini  bertujuan untuk mengkaji relevansi referensi ilmu falak terhadap konsep sains kebumian berdasarkan ketepatan penggunaan formula dan konsep deklinasi magnetik, serta juga menelaah penggunaan formula perhitungan arah kiblat berdasarkan kajian syariah. Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaaan menggunakan pendekatan deskriptif analitik dan normatif sumber data dari berbagai referensi ilmu falak yang ada di perpustakaan digital perguruan tinggi keagamaan Islam. Berdasarkan penelitian ini, ditemukan bahwa referensi ilmu falak pada pokok bahasan  arah  kiblat  belum  relevan  dengan  konsep  sains  kebumian.  Hal  ini disebabkan sebagian besar referensi tersebut masih menggunakan perhitungan referensi astronomi untuk memecahkan persoalan arah kiblat. Beberapa referensi ilmu  falak  juga  tidak  mengikuti  konsensus  internasional  mengenai  konsep deklinasi magnetik. Selain itu, penelitian ini mengungkapkan bahwa seseorang yang mampu menentukan arah kiblat melalui perhitungan formula Vincenty sebaiknya  menggunakannya  dan  meninggalkan  perhitungan  trigonometri bola.  Hal  ini  disebabkan  beberapa  pertimbangan,  yaitu  pelaksanaan  ijtihād yang mewajibkan kecakapan (ahliyyah) dan kesungguhan (juhd), pandangan Shafi’i  mengenai  penyelesaian  ikhtilāf dalam ijtihād  penentuan  arah  kiblat, dan kaidah ushūl  al-fiqh  yang  menyebutkan  bahwa  keyakinan  tidak  dapat dihilangkan oleh keraguan (shakk).Kata Kunci: ilmu falak; arah kiblat; trigonometri bola; formula Vincenty; syariah
Religion and Nationalism in Shaping the Fiqh of Armed Jihad: A Lesson to the Indonesian National Counterterrorism Policy Munajat Munajat
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol 22, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v22i2.26130

Abstract

Understanding the formulation of the fiqh of jihad is a key success in countering violent  Islamist  extremism  and  terrorism. Two salient factors that often come up in the academic  discussion  of  the  making  of  violent jihad are nationalism and religion. The present study investigates these two crucial  related  factors  in  the  two  prominent  cases  of  armed  jihad  in  Iran (1980-1988) and Palestina (1990-2010); and, then, how they may provide a lesson to the counterterrorism policy in Indonesia. The study uses secondary data  to  investigate  the  making  of  violent  jihad  of  Iran  and  the  Palestinian Hamas. While in the case of Indonesian policy, this article uses a government report  on counterterrorism  and  interviews  with  the  state  counterterrorism authorities. This study shows that the interactions of two ideologies (religion and nationalism) together create a sustained and powerful force of a violent jihad by the Iranians during the Iraq-Iran War and Palestinian Hamas against Israel to achieve their political goals. In contrast to this practice, Indonesia has applied nationalism in counterterrorism policies as a strategy to deradicalize violent ideology with religious motives. This article shows that counterterrorism policies need to put more emphasis on the meaning of non-violent jihad.Keywords: religion; nationalism; jihad; counterterrorism AbstrakMemahami fikih jihad merupakan kunci keberhasilan dalam melawan ekstrimisme  dan  terorisme.  Dua  faktor  yang  sering  muncul  dalam  diskusi akademis tentang pembentukkan wacana jihad kekerasan adalah nasionalisme dan  agama.  Studi  ini  menyelidiki  dua  faktor  penting  dalam  kasus  jihad bersenjata  di  Iran  (1980-1988)  dan  Palestina  (1990-2010);  dan  bagaimana kasus ini menjadi pertimbangan dalam kebijakan kontraterorisme di Indonesia. Studi ini menggunakan data sekunder untuk menyelidiki pembentukkan jihad kekerasan di Iran dan Hamas Palestina. Pada konteks Indonesia, penelitian ini menggunakan  laporan  pemerintah  tentang  kontraterorisme  dan  wawancara dengan  otoritas  terkait.  Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  interaksi  dua ideologi (agama dan nasionalisme) secara bersama-sama menciptakan kekuatan jihad kekerasan yang signifikan dan berkelanjutan di Iran selama Perang Irak- Iran  dan  Hamas  Palestina  melawan  Israel  dalam  mencapai  tujuan  politik. Berbeda dengan praktik tersebut, Indonesia menggunakan nasionalisme dalam kebijakan kontraterorisme sebagai strategi melawan ideologi kekerasan bermotif agama. Artikel ini menunjukkan bahwa kebijakan kontraterorisme perlu lebih menekankan pada pemaknaan jihad tanpa kekerasan.Kata Kunci: agama; nasionalisme; jihad; penanggulangan terorisme
Coastal Ulama Ijtihād and Destructive Fishing Prevention in Indonesia Thohir Luth; Siti Rohmah; Nur Chanifah; Moh. Anas Kholish; Ranitya Ganindha
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol 22, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v22i2.28077

Abstract

Indonesia has large fisheries and marine resources. However, most of Indonesia's marine ecosystems are still under threat. One of them is the coast of Lamongan. The damage is caused by destructive fishing using destructive gears such as tiger trawls, cantrang (a modified Danish seine), explosives, and others. Government  regulations  to  prevent  those  activities  have  not  been  effective. Therefore, alternative approaches are needed. One approach to be chosen is the Islamic law approach. Because the Lamongan coastal community has a strong Islamic  culture,  the  Islamic  view  of  destructive  fishing  is  expected  to  offer  a better alternative solution. Therefore, this article examines the ecological ijtihād of Nahdlatul Ulama (NU) and Muhammadiyah ulama in Lamongan. This is empirical legal research, with data from focused-group discussions and in-depth interviews.  The  study  finds  that  the  NU  Ulama  had  issued  a  fatwa  through Bahtsul Masail, stating that preserving marine ecology is the obligation of every Muslim  and  destructive  fishing  is  prohibited.  Meanwhile,  Muhammadiyah ulama have not issued fatwas institutionally. Nonetheless, the fatwa of the two communities has become a reinforcement for government policies in preventing marine ecosystems damage through eco-fishing.Keywords: destructive fishing; ecological ijtihād; NU; Muhammadiyah AbstrakIndonesia memiliki sumber daya perikanan dan kelautan yang besar. Namun, sebagian besar ekosistem laut Indonesia masih terancam di antaranya di  pesisir  Lamongan.  Kerusakan  ini  disebabkan  oleh  penangkapan  ikan  yang merusak dengan menggunakan alat tangkap yang merusak seperti pukat harimau,  cantrang,  bahan  peledak  dan  lainya.  Pencegahan  aktivitas  tersebut dengan peraturan pemerintah tidak berjalan efektif. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan alternatif yang lebih efektif. Salah satu pendekatan yang dapat dipilih adalah pendekatan hukum Islam karena masyarakat pesisir Lamongan mempunyai kultur keislaman yang kuat. Artikel ini mengkaji ijtihād ekologis ulama pesisir Lamongan yang berafiliasi NU dan Muhammadiyah. Penelitian dilakukan dengan pendekatan yuridis-empiris, dengan data didapatkan dari diskusi kelompok dan wawancara mendalam. Penelitian ini menemukan bahwa Ulama NU di Paciran Lamongan telah mengeluarkan fatwa melalui Bahtsul Masail yang menyatakan bahwa  menjaga  kelestarian  ekologi  laut  adalah  kewajiban  setiap  umat  Islam sehingga  destructive  fishing  dilarang.  Sementara  ulama  Muhammadiyah  belum mengeluarkan  fatwa  secara  kelembagaan,  namun  mayoritas  secara  pribadi menyatakan bahwa kegiatan tersebut juga dilarang. Meskipun demikian, fatwa kedua  komunitas  tersebut  menjadi  penguat  bagi  kebijakan  pemerintah  dalam mencegah kerusakan ekosistem laut melalui eco-fishing.Kata Kunci: destructive fishing; ijtihād ekologi; NU; Muhammadiya
Sharia and Local Wisdom in Indonesia: A Criticism of jāhiliyyah Law Misinterpretation Moh Zahid
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol 22, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v22i2.25100

Abstract

There are some opinions that laws not derived from the Qur'an and hadith are jahiliyyah laws. In order to create a national law with Indonesian characters, it is necessary to accommodate the local wisdom, traditions and customs  of  the  people.  This  research  explores  the  views  of  Muslim  scholars about the meaning of jāhiliyyah law to formulate national law with Indonesian characters. The study used a phenomenological approach showing that there are differences in viewing the notion of jahiliyyah law. Some believe that the law originating from customs and culture is jahiliyyah law, while the others argue against it. The latter considers the principle of al-‘ādah muḥakkamah, al-‘urf and maqāṣid  al-sharī'ah.  The  accommodation  of  local  wisdom  and Islamic  law  in  the  formation  of  national  law  is  to  ensure  the  plurality  of national legal sources.Keywords: jāhiliyyah law; Islamic law; custom; local wisdom AbstrakAda pendapat yang berkembang bahwa hukum yang tidak bersumber dari Al-Qur'an dan hadis adalah hukum jahiliah. Untuk menciptakan hukum nasional yang berkarakter Indonesia, perlu akomodasi kearifan lokal, tradisi, dan adat istiadat. Penelitian ini menggali pandangan para cendekiawan Muslim dan ulama tentang makna hukum jahiliah dalam merumuskan hukum nasional yang berkarakter keindonesiaan. Dengan menggunakan pendekatan fenomenologi, penelitian  ini  menunjukkan  adanya  perbedaan  pendapat  dalam  memaknai hukum  jahiliah.  Sebagian  berpendapat  bahwa  hukum  yang  bersumber  dari adat dan budaya adalah hukum jahiliah, namun sebagian lainnya menentang pendapat  tersebut.  Pendapat  terakhir  mempertimbangkan  prinsip  al-‘ādah muḥakkamah, al-‘urf dan maqashid al-shari'ah. Dengan demikian, akomodasi kearifan lokal dan hukum Islam dalam perumusan hukum nasional diperlukan untuk menjamin pluralitas sumber hukum nasional.Kata Kunci: hukum jahiliyyah; hukum Islam; adat; kearifan lokal
Siyāsah Shar'iyyah and the Politicization of Religion in the 2019 Indonesian Presidential Election Zainuddin Zainuddin; Roni Efendi; Jamal Mirdad; Salmy Edawati Yaacob
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol 22, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v22i2.28165

Abstract

The politicization of religion in general elections has been a global issue in both religious and secular countries. Since 1955 to 2019, Indonesia experienced political contests laden with religious attributes, which sparked conflicts. This research aims to analyze the relevant issues and motives associated with using religious elements in the presidential election campaign 2019. This study  is  empirical  research  and  involves  interviews  with  high-level  officials of  political  parties.  Furthermore,  the  online  mass  media,  official  blogs  of candidate  pairs  for  president  and  vice  president,  and  social  media  were employed  as  secondary  data.  Following  the  analysis,  the  result  implies  that the politicization of religion in the 2019 presidential election campaign firmly appears  amidst  the  decline  of  presidential  and  vice  presidential  candidates' religious  polarization.  The  use  of  religious  issues  in  the  campaign  yielded public  sympathy  and  antipathy,  affecting  the  electability  of  presidential and  vice  presidential  candidates.  Meanwhile,  counter-elements  contradict negative images that discredit presidential and vice presidential candidates. The motives for politicizing religion were identified as "political pragmatism" and "culturalism politics". Ideological interest was also identified as a motive but  did  not  arise  in  the  2019  presidential  election.  From  siyāsah  shar'iyyah perspective, the politicization of religion could threaten the sharia objective of  creating  social  advantage  (maṣlaḥah).  Politicization  using  religious  issues amounts  to  religious  commodification,  which  is  irrelevant  to  the  sharia objective.Keywords: politization of religion; campaign; presidential election; siyāsah shar'iyyah AbstrakPolitisasi agama dalam pemilihan umum telah menjadi isu global di banyak negara, baik negara-negara berbasis agama maupun sekuler. Indonesia telah  melaksanakan  pemilihan  umum  sejak  tahun  1955  hingga  2019  dalam prosesnya  banyak  sekali  muncul  isu-isu  keagamaan  yang  menyebabkan terjadinya konflik dan perpecahan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan dan menganalisis isu-isu terbaru dan motif penggunaan isu keagamaan dalam kampanye  Pilpres  2019.  Penelitian  ini  merupakan  penelitian  fenomenologis empiris. Data diperoleh dari pengurus dan anggota partai politik. Selain itu diperoleh dari media cetak, media elektronik, media online/internet seperti blok resmi  pasangan  calon  presiden-calon  wakil  presiden  dan  media  sosial.  Hasil penelitian menemukan bahwa politisasi agama dalam kampanye Pilpres 2019 semakin menguat di tengah melemahnya polarisasi agama. Isu-isu keagamaan dalam  kampanye  telah  menimbulkan  simpati  dan  antipati  publik  sehingga mempengaruhi elektabilitas pasangan calon presiden-calon wakil presiden. Di sisi  lain  isu-isu  yang  mengkonter  berusaha  menormalisasi  citra  negatif  yang dialamatkan  pada  pasangan  calon  presiden-calon  wakil  presiden.  Isu-isu  ini muncul untuk kepentingan sesaat sebagai wujud politik pragmatis, di samping politik kultural. Kepentingan ideologis tetap terbaca walaupun tidak mengemuka secara  transparan,  karena  hambatan  konstitusional.  Dalam  pandangan  siyāsah shar'iyyah, politisasi agama dapat mengancam tujuan syariat untuk mewujudkan kemashlahatan. Politisasi dengan menggunakan isu-isu keagamaan merupakan komodifikasi agama yang tidak sejalan dengan cita-cita syariat itu sendiri.Kata Kunci: politisasi agama; kampanye; pemilihan presiden; siyāsah shar'iyyah