cover
Contact Name
Gurid Pramintarto Eko Mulyo
Contact Email
gurid@staff.poltekkesbandung.ac.id
Phone
+6281399091484
Journal Mail Official
jurnal.siliwangi@poltekkesbandung.ac.id
Editorial Address
Direktorat Politenik Kesehatan Kemenkes Bandung Jl.Pajajaran No 56 Bandung
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Siliwangi
ISSN : -     EISSN : 28071530     DOI : https://doi.org/10.34011/jks.v4i1.1671
Jurnal Kesehatan Siliwangi menerima publikasi dalam makalah penelitian artikel asli, makalah tinjauan, laporan kasus, pengabdian masyarakat, penelitian kualitatif/dan kuantitatif di Indonesia atau negara lain untuk memberikan pemahaman mengenai aspek kesehatan. Ruang lingkup Artikel yang diterbitkan dalam jurnal ini adalah bidang : - Analis Kesehatan/ Teknik Laboratorium Medik - Gizi - Farmasi - Keperawatan Gigi - Keperawatan - Kebidanan - Kesehatan Lingkungan - Promosi Kesehatan
Articles 532 Documents
PENGARUH PENUNDAAN DARAH SITRAT DAN VARIASI WAKTU SENTRIFUGASI TERHADAP HASIL PEMERIKSAAN PROTHROMBIN TIME (PT) HUTAPEA, BETARIA ANGGELINA; Hayati, Eem; Marliana , Nina; Noviar, Ganjar
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 3 (2024): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada banyak gangguan perdarahan dan trombotik, pemeriksaan hemostasis sangat penting karena dapat memberikan informasi penting untuk diagnosis, prognosis, dan pemantauan terapi. Prothrombin Time (PT) adalah pemeriksaan hemostasis yang digunakan untuk mengidentifikasi kelainan hemostasis pada jalur ekstrinsik yang mencakupfaktor pembekuan fibrinogen, prothrombin, V, VII, dan X, serta untuk memantau pemberian antikoagulan oral.Pemeriksaan Prothrombin Time (PT) menggunakan antikoagulan natrium sitrat 3,2% sebaiknya dilakukan segera, jika terjadi penundaan maka sampel harus dilakukan sentrifugasi terlebih dahulu dan plasma dibekukan. Bahan pemeriksaanadalah plasma sitrat sebanyak 5 bahan pemeriksaan dengan diberi penundaan darah sitrat pada 0 jam (segera), Studi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penundaan darah sitrat dan variasi waktu sentrifugasi terhadap hasil pemeriksaan Prothrombin Time (PT) selama dua jam dan empat jam setelah pemeriksaan Prothrombin Time (PT). Eksperimen semu adalah jenis penelitian yang digunakan. Uji General Linear Model untuk distribusi data normal dan Uji Friedman dan Wilcoxon untuk distribusi data tidak normal digunakan untuk menganalisis data. Hasil pemeriksaan nilai Prothrombin Time (PT) yang disentrifugasi selama 15 menit relatif lebih rendah dibandingkan dengan yang disentrifugasi selama 10 menit. Secara statistik hasil pemeriksaan Prothrombin Time (PT) didapatkan nilai Sig < 0.05 sehingga dapat dikatakan terdapat perbedaan yang signifikan pada darah sitrat yang disentrifugasi selama 15 menit dan 10 menit. Berdasarkan penundaan darah sitrat yang ditunda dua Jam, dan empat Jam, Kedua variabel menunjukkan perbedaan yang signifikan, dengan nilai Sig < 0.05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat Pengaruh Penundaan Darah Sitrat dan Variasi Waktu Sentrifugasi Terhadap Hasil Pemeriksaan Prothrombin Time (PT).
UJI VALIDASI METODE IMUNOKROMATOGRAFI (RAPID TEST) TERHADAP METODE CHEMILUMINESCENCE ASSAY (CLIA) PADA PEMERIKSAN IMLTD HbsAg: UJI VALIDASI METODE IMUNOKROMATOGRAFI (RAPID TEST) TERHADAP METODE CHEMILUMINESCENCE ASSAY (CLIA) PADA PEMERIKSAN IMLTD HbsAg Aziz, Ahmad mahmudin Aziz; Rohayati; Rinaldi , Sonny Feisal; Hayati, Eem
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 3 (2024): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infeksi menular lewat transfusi darah (IMLTD) adalah infeksi dapat ditularkan melalui transfusi darah. Salah satunya Hepatitis B (HBsAg). Pemeriksaan HBsAg harus sangat sensitif dan spesifik, Pada Permenkes No. 91 Tahun 2015 diatur skrining IMLTD HBsAg dapat dilakukan dengan metode Immunocomatography (ICT test), CLIA. Metode CLIA membutuhkan alat otomatis dan biaya cukup besar, sehingga beberapa UTD menggunakan ICT test sebagai metode skrining IMLTD HBsAg. Namun, efektivitas ICT test dalam mendeteksi HBsAg masih perlu divalidasi. Penelitian bertujuan untuk menvalidasi sensitivitas dan spesifisitas metode ICT test terhadap CLIA pada skrining IMLTD HBsAg. Penelitian ini menggunakan deskriptif analitik dengan mengumpulkan data yang diperoleh dari pengukuran dua metode yang berbeda, desain berdasarkan CLSI EP 12 dengan sampel sebanyak 100 calon donor darah. yaitu 50 sampel reaktif dan 50 sampel non reaktif HBsAg. Hasil pemeriksaan dari kedua metode dibandingkan untuk menghitung sensitivitas dan spesifisitas ICT test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sensitivitas ICT test sebesar 80% dan spesifisitas sebesar 100%. Nilai sensitivitas ICT test masih dibawah kriteria yang dianjurkan oleh WHO (95- 100%) dan Permenkes No. 91 Tahun 2015. Dapat disimpilkan kinerja ICT test dalam mendeteksi HBsAg masih di bawah kriteria yang dianjurkan. Oleh karena itu, penggunaan ICT test sebagai metode skrining IMLTD HBsAg perlu dievaluasi ulang.
STABILITAS ASSAYED SERUM CONTROL TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL, BILIRUBIN TOTAL, DAN AKTIVITAS ALT PADA SUHU -21° C Pramesti, Latifa Ayu; Firman Solihat , Mohamad; Riyani, Ani; Feisal Rinaldi, Sonny
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 3 (2024): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i3.2045

Abstract

Laboratoirum merupakan tempat pengujian yang harus memiliki standar mutu yang baik dan benar, laboratorium yang bermutu adalah laboratorium yang slalu memperhatikan aspek-aspek ketepatan atau accuracy dan ketelitian atau presisi dalam setiap pengukuran sampel yang akan diuji dengan menggunakan bahan control tertentu dalam quality control. Laboratorium klinik swasta X manggunakan assayed serum control untuk melakukan quality control, namun saat ini belum mengatur mengenai batas penggunaan kontrol. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui stabilitas assayed serum control untuk pemeriksaan Kolesterol Total, Bilirubin Total, dan ALT pada suhu (-15) – (-25)O C. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen, yaitu dengan melakukan pemeriksaan kontrol pada parameter kolesterol total, bilirubin total dan ALT selama 30 hari. Hasil dihitung menggunakan statistik General Linear Model (GLM) metode Repeated measures dan mengukur bias. Didapatkan hasil stabilitas secara statistik Assayed serum control PreciControl ClinChem 1 (normal) memiliki stabilitas selama 28 hari untuk pemeriksaan kolesterol total dan 16 hari untuk pemeriksaan bilirubin total dan ALT. Sedangkan Assayed serum control PreciControl ClinChem 2 (patologis) memiliki stabilitas selama 30 hari untuk pemeriksaan kolesterol total dan bilirubin total dan 22 hari untuk pemeriksaan ALT. Secara klinis Assayed serum control PreciControl ClinChem 1 (normal) memiliki stabilitas selama 30 hari untuk pemeriksaan kolesterol total, bilirubin total, dan ALT. Sedangkan Assayed serum control PreciControl ClinChem 2 (patologis) memiliki stabilitas selama 28 hari untuk pemeriksaan kolesterol total dan 30 hari untuk pemeriksaan bilirubin total dan ALT.
EVALUASI PENGENDALIAN MUTU INTERNAL PARAMETER KIMIA KLINIK MENGGUNAKAN ALGORITMA TEa DI LABORATORIUM PATOLOGI KLINIK RSUD CIBABAT Parwati, Dewi; Feisal R , Sonny; Ridwana, Surya; Kurnaeni, Nani
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 3 (2024): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Laboratorium klinik perlu diselenggarakan secara bermutu untuk mendukung upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Tujuan: melihat gambaran nilai Six Sigma pada Pemantapan Mutu Internal parameter Kimia Kinik di Laboratorium RSUD Cibabat   Metode: Jenis penelitian yang digunakan deskriptif cross sectional sampelpenelitian adalahdata sekunder hasil kualiti kontrolharian parameter kimia klinik level 1 dan level2 parameterGlukosa,Kolesterol,Trigliserida,HDL,LDL,Ureum,Kreatinin,AST,ALT,AsamUrat,Albumin,   Bilirubin Total, Bilirubin direk, periode pemeriksaan September 2022 – Agustus 2023. Perhitungan Sigma menggunakan 4 sumber TEa. Hasil tes dikelompokkan berdasarkan area  dalam grafik algoritma TEa.Hasil: didapatkan parameter Trigliserida, SGOT, SGPT, Asam Urat, Bilirubin Total terdapat di area A. Bilirubin direk berada di area B. Parameter Glukosa, Kolesterol, HDL, LDL, Ureum, Kreatinin dan Albumin di area C dengan menggunakan TEa dari Desirable Biological Variability. Untuk di area B di tes kembali menggunakan Optimal Biological Variability, parameter yang berada di area C di tes kembali menggunakan Minimal Biological Variability. Parameter yang berada di area C setelah di tes dengan Minimal Biological Variability yaitu Glukosa, Kreatinin, dan Albumin dites menggunakan nilai Total Error Allowable dari RiliBÄK, RCPA dan CLIA.
HUBUNGAN VIRAL LOAD TERHADAP NEUTROPHIL LYMPHOCYTE RATIO (NLR) DAN LIMFOSIT T CD4+ PADA ORANG DENGAN HIV/AIDS (ODHA) Suhartini, Anita; Marliana , Nina; Hayati, Eem; Durachim, Adang
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 3 (2024): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus infeksi yang menyerang sistem kekebalan tubuh, menjadikan tubuh rentan terhadap berbagai penyakit. Pemeriksaan viral load, yang mengukur kuantitas RNA dalam darah, digunakan untuk menentukan tingkat keberadaan virus HIV. RNA berperan selama proses replikasi virus, membentuk dasar pembentukan virus baru. Sebagai penanda peradangan untuk mendiagnosis HIV dan mengukur tingkat keparahan infeksi HIV dapat menggunakan Neutrophil Lymphocyte Ratio (NLR) sebagai marker berbagai penyakit. Cluster of Differentiation 4 (CD4) adalah penanda pada permukaan sel limfosit T yang menjadi tempat melekatnya virus HIV. Penelitian ini untuk mengetahui hubungan viral load terhadap Neutrophil Lymphocyte Ratio (NLR) dan Limfosit T CD4+ pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasi dengan metode survey dengan pendekatan cross sectional. Populasi yang diperiksa merupakan penderita penyakit HIV yang melakukan pemeriksaan Viral load, NLR dan Limfosit T CD4+. Sampel diperoleh dari 30 orang penderita penyakit HIV yang melakukan pemeriksaan Viral load, NLR dan Limfosit T CD4+. Data statistik yang di gunakan yaitu uji korelasi Spearman. Hasil penelitian pada pasien ODHA menunjukkan rata - rata viral load adalah 34.432, NLR 3,18, dan CD4+ 229,4. Dapat disimpulkan terdapat hubungan antara Viral load dengan NLR dan CD4 dengan tingkat signifikansi < 0,05.
PERBANDINGAN METODE Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) DENGAN Chemiluminescence Immunoassay (CLIA) TERHADAP HASIL ANTIBODI IgG DAN IgM HSV-2 Apridiana, Yesi; Rohayati; Marliana , Nina; Khoirul Abror , Yogi
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 3 (2024): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i3.2048

Abstract

Virus herpes simpleks (HSV), khususnya tipe 2, adalah infeksi menular seksual yang menyebabkan herpes simpleks genital.Herpes dapat menular dari ibu ke janin atau bayi selama kehamilan atapun pada saat proses persalinan dan juga dapat menular secara kontak langsung maupun tidak langsung. Karena sangat mudah menular, sering kambuh, dan tidak menimbulkan gejala sama sekali, HSV-2 merupakan salah satu penyakit yang paling merepotkan. Penegakan diagnosis penyakit herpes dapat dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan metode ELISA dengan CLIA dalam pemeriksaan antibodi IgG dan IgM HSV-2. Penelitian bersifat quasi eksperimen yaitu dengan membandingkan hasil pemeriksaan IgG dan IgM HSV-2 menggunakan metode ELISA dengan CLIA. Pemeriksaan menggunakan 2 alat yang berbeda yaitu Alegria metode ELISA dan Autolumo A1000 metode CLIA. Sampel yang digunakan sebanyak 31 spesimen. Data yang diperoleh diolah secara uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan nilai signifikansi IgG HSV-2 p = 1,000 dan IgM HSV-2 p = 0,356 (nilai sig > 0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan hasil yang signifikan antara metode ELISA dengan metode CLIA.
PENGARUH LAMA SIMPAN DAN JENIS REAGEN COOMB’S CONTROL CELL (CCC) TERHADAP VALIDASI HASIL CROSSMATCH KOMPATIBEL Arbie, Arbie; Noviar, Ganjar; Nurhayati, Betty; Marliana, Nina
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 3 (2024): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemeriksaan Crossmatch atau uji silang serasi dilakukan untuk menghindari reaksi transfusi. Uji ini memastikan bahwa pasien tidak memiliki antibodi yang bereaksi terhadap antigen pada sel darah merah donor. Coomb's Control Cell (CCC) adalah suspensi sel kontrol yang dibuat dari darah golongan O Rhesus positif yang dilapisi dengan anti-D IgG. Tujuan: CCC digunakan untuk memastikan coomb’s serum atau AHG pada fase III crossmatch masih memiliki kemampuan untuk mengikat atau tidak. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian quasi eksperimen untuk menentukan pengaruh penambahan CCC terhadap derajat aglutinasi positif 2 (2+) pada validasi CCC. Derajat aglutinasi dibandingkan pada crossmatch kompatibel dengan CCC yang dibuat pada suhu 37⁰C dan suhu ruang (20 – 25⁰C) dengan waktu inkubasi 30 menit. Sampel disimpan dalam refigerator selama 0, 3, 5, dan 7 hari. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan CCC yang inkubasi di suhu 37⁰C selama 30 menit dengan lama simpan 0, 3, 5 hari dihasilkan derajat aglutinasi+2 sedangkan dengan lama simpan 7 hari dihasilkan derajat aglutinasi +1 pada tabung mayor, minor, dan auto kontrol. CCC yang inkubasi di suhu ruang selama 30 menit dengan lama simpan 0, 3, 5 hari dihasilkan derajat aglutinasi+2 sedangkan dengan lama simpan 7 hari dihasilkan derajat aglutinasi +1 pada tabung mayor, minor, dan auto kontrol. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan (0,046) < α = 0,05 sehingga bisa ditarik kesimpulan terdapat pengaruh lama simpan terhadap derajat aglutinasi validasi hasil crossmatch kompatibel. 
EFEK PIJAT ENDORPHIN UNTUK MENGURANGI RASA NYERI PERSALINAN (EVIDENCE BASED CASE REPORT) Gunawan, Rosnadila Humaira; Widiawati, Ida; Ulfah, Yulia
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 3 (2024): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persalinan merupakan proses pengeluaran hasil konsepsi yang ditandai dengan kontraksi rahim yang dapat menimbulkan nyeri. Nyeri saat melahirkan merupakan hal yang wajar, setiap wanita yang melahirkan pasti merasakan nyeri tersebut dan tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, hanya dapat dikurangi dengan beberapa terapi. Terapi non farmakologi yang banyak dianjurkan salah satunya adalah pijat. Pijat endorfin dapat melepaskan rasa cemas sehingga rasa sakit ibu berkurang. Pencarian artikel dilakukan dengan menggunakan portal Research Gate, Science Direct, dan Google Scholar. Pencarian artikel dibatasi oleh beberapa kriteria inklusi antara lain artikel jurnal yang diterbitkan 5 tahun yang lalu, memiliki artikel full text, memiliki tingkat bukti jurnal minimal II (quasi eksperimen, tinjauan sistematis dengan kombinasi RCT), menjelaskan prosedur dengan jelas, dan menjelaskan bagaimana pijat endorfin dapat mengurangi nyeri persalinan. Setelah diberikan pijat endorfin, ibu merasakan nyerinya berkurang dari 9 menjadi 7, sehingga dapat disimpulkan bahwa pijat endorfin dapat mengurangi nyeri persalinan. Terapi ini dianjurkan untuk digunakan di pelayanan kesehatan manapun karena tidak membutuhkan banyak biaya, petugas kesehatan dapat melakukannya kapan saja selama proses persalinan masih dalam tahap pertama.
PADA ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR Martina Julyanti, Putri; Harni Susilawati, Enung
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 3 (2024): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  Metode yang digunakan dalam penyusunan laporan ini adalah laporan kasus. Metode pendokumentasian yang digunakan ialah dalam bentuk SOAP. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah wawancara, pemeriksaan fisik, observasi, studi dokumentasian dan literatur. Diperoleh data subjektif pada bayi Ny. N lahir pada hari Kamis 28 Maret 2024, pukul 09.55 WIB, Jenis kelamin laki-laki, usia kehamilan cukup bulan 41 minggu, dengan ketuban mekonium. Data objektif dari keadaan bayi tidak langsung menangis, tonus otot   lemah, warna kulit kemerahan dan ekstremitas kebiruan. Analisis yang ditegakkan dari data di atas adalah bayi Ny. N dengan Asfiksia. Penatalaksanaan yang dilakukan pada kasus ini adalah melakukan pencegahan kehilangan panas, mengatur posisi bayi yaitu sedikit ekstensi, mengisap lendir dengan menggunakan sunction, mengeringkan tubuh bayi, melakukan rangsangan taktil, dan melakukan penilaian nafas dan reposisi dan dilanjutkan dengan asuhan bayi baru lahir pasca resusitasi dan membawa bayi ke ruang perinatologi untuk dilakukan pemantauan TTV dan keadaan umum bayi. Kesimpulan hasil asuhan yang didapat adalah adalah setelh dilakukan asuhan kebidanan bayi baru lahir dengan asfiksia pada bayi Ny. N, tidak ada komplikasi ataupun tanda bahaya pada bayi Ny. N dan tertangani sesuai SOP. Saran yang diberikan kepada Ny. N dan keluarga menjaga kehangatan bayi, memberikan ASI ekslusif, perawatan bayi baru lahir dan mengetahui tanda bahaya bayi baru lahir.
ASUHAN KEBIDANAN NIFAS KETIDAKNYAMANAN MASA NIFAS AFTERPAIN: SEBUAH LAPORAN KASUS fauzia, farachdina; Juariah
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 3 (2024): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masa nifas adalah masa setelah bayi dan plasenta lahir sampai alat kandungan kembali normal dalam waktu kurang lebih 6 minggu dengan ditandai berhentinya perdarahan. Pada masa nifas terdapat beberapa ketidaknyamanan salah satunya nyeri perut setelah melahirkan atau disebut Afterpain. Hal ini akan berdampak pada proses pemulihan ibu selama masa nifas serta terhambatnya proses laktasi untuk bayi.   Laporan Tugas Akhir ini dibuat menggunakan metode laporan kasus dengan pendekatan manajemen kebidanan dan pendokumentasian dalam bentuk (SOAP). Teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara, pemeriksaan fisik, observasi, studi dokumentasi dan studi literatur. Hasil pengkajian data subjektif 2 jam yang diperoleh yaitu Ny. S mengeluh perut nyeri seperti kram di bagian bawah perut, nyeri akan lebih terasa ketika sedang menyusui bayinya. Data objektif diperoleh ibu tampak kesakitan, terdapat nyeri tekan pada perut bagian bawah, dan hasil skala nyeri dengan numeric rating scale yaitu 7. Diagnosa yang ditegakkan adalah Ny. S 26 tahun P3A0 postpartum 2 jam dengan ketidaknyamanan afterpain. Penatalaksanaan yang dilakukan adalah menganjurkan ibu teknik relaksasi, massage effleurage, memenuhi kebutuhan istirahat, nutrisi, hidrasi, senam nifas dan keterlibatan suami. Kesimpulannya, setelah diberikan asuhan pada Ny. S, rasa nyeri sudah tidak terasa. Saran untuk Ibu dan keluarga agar menjaga kesehatan dan melakukan kontrol sesuai jadwal atau saat ada keluhan dan melibatkan suami dalam proses masa nifas ibu. Bagi Profesi Bidan Diharapkan dapat mempertahankan dan meningkatkan kualitas asuhan masa nifas yang diberikan agar masalah Afterpain dapat tertatasi dengan baik. Kata Kunci : Afterpain, Ketidaknyamanan, Postpartum