Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan (JKIP)
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan ilmu keguruan dan ilmu pendidikan
Articles
72 Documents
Persepsi dan Kendala Guru dalam Menerapkan Pendidikan Kesehatan Remaja di Sekolah Menengah Atas
Shafa Amir Thalib
Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan (JKIP) Vol. 3 No. 1 (2025): Januari
Publisher : Perkumpulan Cendekia Muda Kreatif Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61116/jkip.v3i1.602
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Pendidikan Kesehatan Remaja (PKR), khususnya terkait isu kesehatan reproduksi, dengan fokus pada persepsi dan kendala yang dihadapi oleh Guru mata pelajaran di Sekolah Menengah Atas (SMA) di Banyuwangi. Kesehatan reproduksi remaja merupakan isu krusial di Indonesia, namun implementasi pendidikan terkait sering terhambat oleh faktor sosiokultural dan kesiapan pendidik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan desain fenomenologi, melibatkan Guru Biologi, Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), serta Guru Bimbingan dan Konseling (BK) dari tiga SMA berbeda di Banyuwangi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan analisis dokumen kurikulum. Analisis data dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi pola pengalaman dan tantangan. Hasil penelitian mengidentifikasi bahwa Guru memiliki persepsi positif tentang pentingnya PKR, namun menghadapi kendala signifikan, termasuk: (1) Kecemasan Guru (teacher anxiety) terkait norma agama dan etika sosial saat membahas seksualitas; (2) Keterbatasan waktu dan materi dalam Kurikulum 2013 yang tidak eksplisit; dan (3) Penolakan atau ketidaknyamanan dari lingkungan siswa dan orang tua. Dirumuskan bahwa implementasi PKR di Banyuwangi berada dalam situasi "dilema moral-profesional". Penelitian ini menyimpulkan perlunya modul pelatihan yang sensitif budaya dan kolaborasi yang lebih kuat antara sekolah, orang tua, dan penyedia layanan kesehatan untuk mendukung Guru.
Implementasi Layanan Bimbingan dan Konseling oleh Siswa di Sekolah Menengah Kejuruan (Sebuah Kajian Etnografis)
Muchlis Hamonangan
Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan (JKIP) Vol. 3 No. 1 (2025): Januari
Publisher : Perkumpulan Cendekia Muda Kreatif Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61116/jkip.v3i1.603
Penelitian ini bertujuan untuk menjelajahi secara holistik budaya sekolah terkait Bimbingan dan Konseling (BK), termasuk pandangan, harapan, dan perilaku siswa terhadap keberadaan dan peran Guru BK di lingkungan SMK N. 1 Mazo, Nias Selatan. Konteks Nias Selatan yang kental dengan budaya komunal dan hierarki otoritas tradisional (terutama kepemimpinan Guru/Kepala Sekolah) sangat memengaruhi penerimaan terhadap layanan BK modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografis kualitatif, di mana peneliti berupaya menjadi partisipan-pengamat untuk memahami emic perspective (sudut pandang dalam) siswa. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan intensif di ruang kelas, lingkungan sekolah, dan ruang BK, serta wawancara mendalam dengan siswa (fokus: pengguna layanan, non-pengguna, peer group), Guru BK, dan perwakilan manajemen sekolah. Analisis data dilakukan melalui analisis domain dan taksonomi untuk merumuskan struktur budaya BK di sekolah. Hasil penelitian menunjukkan adanya dualitas persepsi: siswa memandang BK sebagai "Polisi Sekolah" (penegak disiplin/hukuman) dan secara simultan sebagai "Tempat Curhat/Penolong" (untuk masalah personal/karir). Pemanfaatan layanan sangat dipengaruhi oleh budaya siri (malu) dan ketakutan akan stigma sosial. Disimpulkan bahwa Guru BK di SMK N. 1 Mazo perlu menyeimbangkan peran kedisiplinan dan pengembangan personal-karir, serta secara proaktif menciptakan budaya trust (kepercayaan) untuk memaksimalkan pemanfaatan layanan.
Peran Konselor Sekolah dalam Penanganan Kasus Bullying dan Dampaknya terhadap Iklim Sosial
Samsul Hadi
Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan (JKIP) Vol. 3 No. 1 (2025): Januari
Publisher : Perkumpulan Cendekia Muda Kreatif Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61116/jkip.v3i1.604
Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi secara mendalam peran Konselor Sekolah (Guru Bimbingan dan Konseling - BK) dalam penanganan kasus bullying dan menganalisis dampaknya terhadap iklim sosial di Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Banyuwangi. Bullying merupakan masalah serius yang mengganggu perkembangan psikososial siswa dan kualitas lingkungan belajar. Dengan desain studi kasus tunggal intensif pada satu SMP yang memiliki prevalensi kasus bullying signifikan, penelitian ini berfokus pada pengalaman dan intervensi spesifik Konselor Sekolah. Metode pengumpulan data meliputi wawancara mendalam dengan Konselor, korban, pelaku, dan guru mata pelajaran, serta observasi non-partisipan dan analisis dokumen (catatan kasus BK, buku tata tertib). Analisis data menggunakan teknik analisis tematik holistik untuk menggambarkan proses penanganan kasus secara komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran Konselor melampaui batas tradisional, mencakup advokasi korban, restorasi pelaku, dan mediasi iklim sosial. Intervensi yang efektif adalah Konseling Kelompok Restoratif dan Program Edukasi Anti-Bullying berbasis kearifan lokal. Dampak signifikan terlihat pada peningkatan pelaporan kasus, penurunan insiden bullying fisik, dan pergeseran persepsi siswa terhadap peran BK sebagai pelindung, yang secara kolektif memperbaiki iklim sosial sekolah menjadi lebih inklusif dan aman. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peran proaktif Konselor sangat krusial dalam menciptakan lingkungan sekolah yang positif.
Kontribusi Program Ekstrakurikuler Olahraga dalam Pengembangan Karakter Siswa di Sekolah Asrama
Rifan Maulidy Eibed
Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan (JKIP) Vol. 3 No. 2 (2025): April
Publisher : Perkumpulan Cendekia Muda Kreatif Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61116/jkip.v3i2.605
Penelitian ini merupakan studi kasus tunggal intensif yang bertujuan untuk menganalisis secara mendalam peran spesifik program ekstrakurikuler olahraga dalam pengembangan karakter dan kepemimpinan siswa di sebuah sekolah berasrama (boarding school) di Banyuwangi. Lingkungan berasrama yang komunal dan terstruktur memberikan konteks unik bagi intervensi non-akademik seperti olahraga. Desain kualitatif ini berfokus pada tim olahraga unggulan sekolah. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pelatih, Guru Bimbingan dan Konseling (BK), kepala asrama, dan anggota tim/kapten. Selain itu, digunakan observasi partisipan tingkat moderat selama sesi latihan dan pertandingan, serta analisis dokumen (kode etik tim, catatan disiplin, dan struktur organisasi kepemimpinan). Analisis data menggunakan teknik analisis tematik holistik untuk menggambarkan mekanisme internalisasi nilai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa olahraga berfungsi sebagai "Laboratorium Karakter Aktif". Peran utamanya meliputi: (1) Menanamkan disiplin, tanggung jawab, dan resiliensi (karakter); dan (2) Mengembangkan kepemimpinan situasional dan kemampuan resolusi konflik (kepemimpinan). Dampak signifikan terlihat pada transfer nilai-nilai yang dipelajari di lapangan ke kehidupan asrama dan akademik. Disimpulkan bahwa program ekstrakurikuler olahraga, jika dikelola dengan fokus pada pendidikan karakter, merupakan komponen vital dalam kurikulum non-akademik di sekolah berasrama.
Analisis Pengalaman Siswa dalam Pembentukan Nilai Toleransi Antar-Etnis melalui Pembelajaran PPKn
Elvida Nasution
Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan (JKIP) Vol. 3 No. 2 (2025): April
Publisher : Perkumpulan Cendekia Muda Kreatif Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61116/jkip.v3i2.606
Penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam dan subjektif pengalaman siswa dalam memaknai dan menginternalisasi nilai-nilai multikultural dan toleransi yang diajarkan dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di Sekolah Menengah Atas (SMA) N. 1 Rantau Selatan. Dalam konteks sekolah yang majemuk secara etnis, PPKn berfungsi sebagai medium formal untuk mempromosikan kohesi sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain Fenomenologi Interpretatif (Hermeneutik) untuk mengungkap esensi pengalaman hidup siswa. Partisipan penelitian melibatkan siswa dari berbagai latar belakang etnis (misalnya, Batak, Melayu, Jawa, dan Minang) yang aktif dalam diskusi PPKn. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam naratif, diskusi kelompok terfokus (FGD) yang membahas studi kasus PPKn, dan analisis artefak siswa (esai, jurnal refleksi). Analisis data dilakukan melalui proses reduksi fenomenologis dan perumusan struktur esensial pengalaman. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga domain pengalaman: (1) Pemahaman Kognitif (memahami Pancasila sebagai dasar hukum); (2) Diskonfirmasi Emosional (perbedaan antara teori kelas dan praktik sehari-hari di luar sekolah); dan (3) Internalisasi Pragmatis (toleransi sebagai survival skill dalam pergaulan yang majemuk). Ditemukan bahwa metode diskusi studi kasus dalam PPKn efektif dalam menciptakan safe space untuk membahas isu sensitif. Disimpulkan bahwa PPKn berhasil membentuk toleransi sebagai norma perilaku rasional yang penting untuk harmoni, meskipun tantangan terletak pada penjangkauan ranah afektif dan mengatasi diskonfirmasi dari lingkungan eksternal.
Implementasi Strategi Guru dalam Melayani Anak Berkebutuhan Khusus pada Pembelajaran PJOK
Sultan Jalu Alwan
Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan (JKIP) Vol. 3 No. 2 (2025): April
Publisher : Perkumpulan Cendekia Muda Kreatif Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61116/jkip.v3i2.607
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan implementasi dan strategi adaptasi yang dilakukan oleh Guru Pendidikan Jasmani (Penjas) dalam melayani siswa berkebutuhan khusus (SBK) dalam konteks pendidikan inklusi di sekolah-sekolah di Banyuwangi. Pendidikan inklusi menuntut penyesuaian kurikulum dan metode pengajaran, khususnya dalam pembelajaran Penjas yang menuntut aktivitas fisik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan desain studi kasus ganda (multiple case study), melibatkan Guru Penjas dan Guru Pendamping Khusus (GPK) dari tiga Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusi (SPPI) di Banyuwangi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur, observasi partisipan tingkat moderat selama sesi pembelajaran, dan analisis dokumen (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Individual/PPI). Analisis data dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi pola tantangan dan inovasi adaptif. Hasil penelitian mengidentifikasi tantangan utama: (1) Keterbatasan kompetensi Guru Penjas dalam Adapted Physical Education (APE); (2) Kesenjangan Sarana dan Prasarana adaptif; dan (3) Keterbatasan waktu kolaborasi dengan GPK. Strategi adaptif yang dominan adalah Modifikasi Aturan dan Peralatan serta pendekatan Pemberian Tugas Berjenjang (Differentiated Instruction). Ditemukan bahwa kolaborasi aktif antara Guru Penjas dan GPK merupakan kunci utama keberhasilan adaptasi. Penelitian ini menyimpulkan perlunya peningkatan pelatihan APE yang disesuaikan dengan konteks sumber daya sekolah daerah.
Identifikasi Faktor Penghambat dan Potensi Keberhasilan dalam Pelaksanaan Peer Counseling di Madrasah Aliyah
Ainul Rizki
Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan (JKIP) Vol. 3 No. 2 (2025): April
Publisher : Perkumpulan Cendekia Muda Kreatif Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61116/jkip.v3i2.608
Penelitian ini merupakan desain intervensi kualitatif yang bertujuan mengidentifikasi secara mendalam faktor penghambat dan potensi keberhasilan dalam pelaksanaan program Konseling Sebaya (Peer Counseling) di lingkungan Madrasah Aliyah (MA) di Banyuwangi. Konseling Sebaya dipandang sebagai layanan Bimbingan dan Konseling (BK) komplementer yang efektif, namun implementasinya di lembaga pendidikan Islam seringkali terkendala oleh faktor kontekstual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan melibatkan tiga MA di wilayah Banyuwangi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan Guru BK, Koordinator Konselor Sebaya, dan siswa anggota. Analisis data dilakukan secara tematik untuk merumuskan model intervensi yang relevan. Hasil penelitian mengidentifikasi faktor penghambat utama, meliputi: (1) Stigma terhadap kerahasiaan (confidentiality) dan pemahaman agama; (2) Kompetensi teknis konselor sebaya yang terbatas; dan (3) Dukungan kelembagaan yang belum optimal. Sebaliknya, potensi keberhasilan didorong oleh: (1) Tingkat kepercayaan siswa yang tinggi kepada teman sebaya; dan (2) Sifat sukarela dan kemudahan akses di lingkungan madrasah. Berdasarkan identifikasi ini, dirumuskan Model Intervensi Kualitatif Tiga Tahap yang mengintegrasikan penguatan nilai-nilai religius dengan pelatihan keterampilan konseling dan manajemen program. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kunci keberhasilan terletak pada sinergi nilai agama dan profesionalitas dalam desain program.
The Effectiveness of Role-Playing Games in Enriching Vocabulary and Reducing Anxiety in English Language Learning
Melisa Khoyyiroh Harahap;
Diah Khoirunnisa Harahap
Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan (JKIP) Vol. 3 No. 2 (2025): April
Publisher : Perkumpulan Cendekia Muda Kreatif Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61116/jkip.v3i2.609
This study aims to examine the effectiveness of Role-Playing Games (RPG) as a pedagogical intervention in improving English vocabulary mastery (cognitive domain) and simultaneously reducing foreign language anxiety (FLA) (affective domain) in elementary school students. Anxiety is a significant barrier to language acquisition. The study used a quasi-experimental pretest-posttest control group design. The study population consisted of sixth-grade elementary school students in Medan, with a sample of N=60 divided into an Experimental Group (using scenario-based RPG) and a Control Group (using conventional methods: drill and memorization). The intervention was conducted over eight weeks. Anxiety was measured using the Modified Foreign Language Classroom Anxiety Scale (FLCAS) questionnaire (Likert scale), and vocabulary was measured using a pretest-posttest objective test. Data analysis used ANCOVA (Analysis of Covariance) to control for initial scores. The results showed that RPG significantly increased vocabulary acquisition (p<0.001) and significantly reduced Foreign Language Learning Anxiety (p=0.005) compared to the control group. It was concluded that RPG is a holistic method that successfully creates a safe learning environment (low-anxiety environment) while providing an authentic context for vocabulary application and retention in elementary school students.
Evaluasi Program Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Pondok Pesantren
Rafida Mazida
Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan (JKIP) Vol. 3 No. 3 (2025): Juli
Publisher : Perkumpulan Cendekia Muda Kreatif Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61116/jkip.v3i3.625
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan mendeskripsikan secara kualitatif pelaksanaan program Bimbingan dan Konseling (BK) di Pondok Pesantren (Ponpes) di Banyuwangi, dengan fokus utama pada orientasi nilai dan pembinaan akhlak santri. Konteks Ponpes yang unik, menggabungkan pendidikan formal dan nilai-nilai religius tradisional, menuntut adaptasi model BK yang berbeda dari sekolah umum. Penelitian ini mengadopsi pendekatan evaluasi program kualitatif dengan desain studi kasus kolektif, melibatkan dua Ponpes di wilayah Banyuwangi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan Pengasuh/Kyai, Guru BK/Musyrif (pembimbing), dan perwakilan santri. Selain itu, digunakan observasi partisipan terhadap kegiatan harian dan analisis dokumen program BK. Analisis data tematik-deskriptif digunakan untuk merumuskan model layanan BK yang kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BK di Ponpes diintegrasikan sebagai Gerakan Pembinaan Akhlak Terstruktur melalui pendekatan individual dan komunal. Orientasi nilainya tidak sekadar normatif, tetapi aplikatif dalam kehidupan sehari-hari (disiplin, adab, dan muamalah). Meskipun menghadapi tantangan dalam keterbatasan tenaga profesional, program ini berhasil menciptakan iklim spiritual-sosial yang mendukung perkembangan moral santri. Disimpulkan bahwa BK di Ponpes Banyuwangi merupakan model layanan yang sensitif budaya dan agama, yang menekankan dimensi spiritual-etika dalam perkembangan individu.
Makna Permainan Tradisional dalam Pembentukan Karakter Siswa melalui Pembelajaran PJOK di Sekolah Dasar
Ayu Nazila
Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan (JKIP) Vol. 3 No. 3 (2025): Juli
Publisher : Perkumpulan Cendekia Muda Kreatif Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61116/jkip.v3i3.626
Penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam dan subjektif makna dan pengalaman bermain tradisional yang dialami siswa kelas rendah (Kelas I-III) di SDN 067255 Medan, serta bagaimana guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) secara sengaja memanfaatkan kegiatan tersebut untuk pembentukan karakter. Permainan tradisional, yang kini tergerus oleh permainan digital, menawarkan konteks unik untuk internalisasi nilai-nilai sosial dan moral. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain Fenomenologi Deskriptif untuk menangkap esensi pengalaman siswa. Partisipan penelitian meliputi siswa kelas rendah yang aktif bermain dan Guru PJOK yang secara rutin mengintegrasikan permainan tradisional (misalnya, Engklek, Galah Asin, Ular Naga). Data dikumpulkan melalui observasi partisipan tingkat intensif (saat bermain), wawancara naratif child-friendly dengan siswa, dan wawancara mendalam dengan Guru PJOK. Analisis data dilakukan melalui reduksi fenomenologis (Colaizzi, 1978) untuk merumuskan struktur esensial pengalaman. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga esensi pengalaman siswa: (1) Kegembiraan Otonom (Joy of Autonomy) yang muncul dari kebebasan aturan; (2) Belajar Sosial Kolektif (negosiasi, kepemimpinan non-formal); dan (3) Frustrasi dan Resiliensi (mengatasi kekalahan dan kecurangan). Peran kunci Guru PJOK adalah sebagai "Fasilitator Karakter" yang melakukan refleksi dan diskusi setelah bermain (debriefing). Disimpulkan bahwa permainan tradisional dalam PJOK berhasil menanamkan karakter secara implisit dan spontan, jauh lebih efektif daripada metode instruksional formal.