cover
Contact Name
Moh. Heri Hermiyanto
Contact Email
redaksipsg@gmail.com
Phone
+6281223388976
Journal Mail Official
redaksipsg@gmail.com
Editorial Address
Sekretariat Redaksi Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Gedung A, Lantai 1 Jalan Diponegoro No. 57, Bandung, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral (Journal of Geology and Mineral Resources)
Published by Pusat Survei Geologi
ISSN : 08539634     EISSN : 25494759     DOI : https://doi.org/10.33332
Core Subject : Science,
The JGSM acts as a publication media of high quality scientific investigations resulted from various geological scientific issues. Published articles covers Geo-sciences, Geo-resources, Geo-hazards, and Geo-environments. Geo-sciences are basic earth sciences in geology, geophysics, and geochemistry. Geo-resources are applied earth sciences scoping in geological resources. Geo-hazards are applied earth sciences concerning in geological hazards. Geo-environments are applied earth sciences focusing in environmental geology.
Articles 482 Documents
Analisis Geokimia Batuan Induk dan Sejarah Pemendaman Cekungan Sumatera Tengah Daerah Indragiri Hulu dan Pelalawan, Provinsi Riau Munafatin; Eko Bayu Purwasatriya; Akhmad Khahlil Gibran; Moh. Heri Hermiyanto Zajuli
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 25 No. 2 (2024): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v25i2.854

Abstract

Cekungan Sumatera Tengah merupakan cekungan belakang busur yang terbentuk akibat subduksi Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia dan diketahui sebagai cekungan penghasil hidrokarbon di kawasan barat Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik geokimia batuan induk Formasi Kelesa dan Formasi Lakat, serta kematangannya berdasarkan kurva sejarah pemendaman. Data yang digunakan dalam analisis karakteristik geokimia batuan induk meliputi total organic carbon dan rock eval pyrolysis. Metode yang digunakan dalam analisis sejarah pemendaman adalah metode Sweeney Burnham. Batuan induk Formasi Kelesa memiliki kuantitas material organik buruk hingga cukup, dan batuan induk Formasi Lakat memiliki kuantitas material organik yang buruk hingga baik. Tipe kerogen yang terbentuk adalah tipe II/III dan III pada Formasi Kelesa; tipe kerogen pada Formasi Lakat yaitu II/III, III, dan IV yang akan menghasilkan minyak/gas, gas, dan tidak menghasilkan minyak maupun gas. Kurva sejarah pemendaman manunjukkan batuan induk pada sumur Agha-1 belum mencapai kematangan, batuan induk pada sumur Rabung-1 juga belum matang, sedangkan batuan induk Formasi Kelesa pada sumur Talau-1 telah mencapai kematangan awal di kedalaman 1.833 m pada 1,43 jtl dan puncak matang di kedalaman 1.896 m pada 0,45 jtl, dan pada Formasi Lakat telah matang awal di kedalaman 1.747 m pada 0,94 jtl. Katakunci: Batuan induk, Cekungan Sumatera,Tengah Formasi Kelesa, Formasi Lakat geokimia,sejarah pemendaman, .
Produk Interaksi Lava-Sedimen Basah-Air pada Kompleks Gunung api Sangkur, Kota Banjar, Provinsi Jawa Barat Djafar, Agustina; Wilda Aini Nurlathifah; johan budi; M Galuh Sagara; Denny Supryandi
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 25 No. 3 (2024): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v25i3.869

Abstract

Di sebelah timur Kota Banjar terdapat Komplek Gunung api Sangkur yang terdiri dari beberapa bukit terisolir, dan pada Peta Geologi Lembar Majenang dikelompokkan dalam himpunan “Batuan Beku Tak Teruraikan (Tma)” bersusunan andesit hingga basal berumur Miosen. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan lingkungan pembentukan batuan berdasarkan hasil identifikasi dan karakterisasi produk yang dihasilkan oleh interaksi antara lava – air – sedimen, berdasarkan kenampakan tekstur dan struktur batuannya. Metode yang dilakukan berupa metode eksploratif dan deskriptif. Dari hasil penyelidikan yang dilakukan oleh tim Museum Geologi, di daerah ini ditemukan singkapan batuan vulkaniklastik berupa peperit yang memperlihatkan struktur fluidisasi, dan hialoklastit yang memperlihatkan struktur pemadaman. Peperit tersingkap di tambang batuan G.Batukarut, dan terbentuk dari hasil percampuran lava andesitik dengan batupasir tufan - batulempung tak terkonsolidasi menghasilkan fluidal peperit. Hialoklastit dijumpai di G. Sangkur, G. Babakan, dan Bukit Kujangsari. Fasies hialoklastit yang dijumpai di daerah ini berupa in situ hialoklastit dan resedimentasi hialoklastit, dengan beberapa fragmen memperlihatkan fragmentasi pendinginan (quench fragmented) berupa struktur bantal dan jigsaw-fit (jigsaw puzzle). Kehadiran peperit - hialoklastit yang dijumpai di daerah ini, merupakan bukti terjadinya interaksi antara lava – sedimen basah – air pada saat terjadi erupsi, sehingga dapat disimpulkan bahwa kompleks Gunung api Sangkur merupakan kompleks gunung api awah laut (submarine volcano) yang sebagian besar produknya terbentuk di tataan bawah air (subaqueus). Kata Kunci: Kompleks Gunung api Sangkur, peperit, hialoklastit, gunung api bawah laut, tataan bawah air.
Ostrakoda Formasi Bentang-Formasi Koleberes Cimaragang, Cianjur, Jawa Barat Nugraha, Cahya; Lili Fauzielly; Lia Jurnaliah
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 25 No. 3 (2024): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v25i3.878

Abstract

Abstrak-Keberadaan fosil ostrakoda pada Formasi Bentang dan Formasi Koleberes, tidak pernah muncul untuk dijadikan acuan karakteristik kedua satuan batuan tersebut. Ostrakoda memiliki tingkat adaptasi tinggi terhadap lingkungan, sehingga dapat digunakan untuk interpretasi lingkungan pengendapan. Berdasarkan bukti penelitian dan catatan peneliti terdahulu, terungkap bahwa daerah penelitian dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik. Hal ini menyebabkan pengawetan fosil ostrakoda kurang baik, fosil ostrakoda ditemukan dalam bentuk karapas teraglutinasi, sehingga determinasi fosil ostrakoda hanya dapat dilakukan sampai tingkat genus. Sebanyak 13 genus dengan total 900 specimen ostrakoda yang berasal dari 10 family antara lain: Trachyleberididae, Xestoleberididae, Leptocytheridae, Thaerocytheridae, Cytherideidae, Cushmanideadidae, Bythocyprididae, Cytheromatidae, Philomedidae, dan Bythocytheridae, dapat diidentifikasi dari 13 contoh batuan. Indeks diversitas ostrakoda daerah penelitian tergolong diversitas rendah - sedang. Genus ostrakoda yang melimpah pada kala Miosen Tengah hingga Pliosen Awal yakni Lankacythere yang termasuk dalam kumpulan ostracoda autochthonous dan Keijella, yang merupakan ostrakoda penciri lingkungan laut dangkal, paparan kontinen <100m dengan karakteristik laut tropis. Katakunci: Formasi Bentang, Formasi Koleberes, Lingkungan Pengendapan, Ostrakoda.
Characteristics of the Density and Magnetic Susceptibility of Pumice from the Maninjau Caldera-Forming Eruption, Indonesia Hidayatul Lisma, Rahmi; Rifai, Hamdi; Forni, Francesca; Syafriani; Ratnawulan; Gustika Yonanda; Mutiara Kusuma Febriwanti; Nur Azizah; Retna Junia; Anisa Janna; Amelia Roza Haqu
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 25 No. 3 (2024): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v25i3.889

Abstract

Abtract- Lake Maninjau is a volcanic caldera formed by a volcanic eruption located in West Sumatra. This volcanic eruption threw pyroclastic materials, one of which is pumice, as far as ± 75 km from the center of the eruption. This study aims to determine density and magnetic susceptibility characteristics of pumice from maninjau caldera-forming eruptions, indonesia. The method used is the rock-magnetic method. It is used to measure magnetic susceptibility based on the distribution of volcanic material. The samples were selected from 3 different locations around Mount Maninjau with distances varying between ±12-32 km. A Bartington Magnetic Susceptibility Metre Type B (MS2B) instrument was utilised to determine the susceptibility of rocks and X-ray fluorescence (XRF) to identify rock element levels. The results of the data analysis obtained have magnetic density and susceptibility values in the NGS (Ngarai Sianok) area, which ranged from 0.67-1.77×103 kg/m3 and 4.4-826×10-8m3/kg, the LBS (Lubuk Basung) area which ranged of 0.74-1.34×103 kg/m3 and 6.6-625.4×10-8m3/kg, and the PRM (Pariaman) area, which ranged from 0.68-3.63×103 kg/m3 and 8-359×10-8m3/kg. The results showed that when sampling closer to Mount Maninjau, the pumice is characterized by dense, fresh, but very small pore size and dominated by slightly greyish white pumice with few white crystals on its surface. Therefore, the location of the pumice from Mount Maninjau has a significant influence on its characteristics, including density, magnetic susceptibility, and iron (Fe) and titanium (Ti) content. Keywords: Pumice, Density, Magnetic Susceptibility, Mount Maninjau, XRF
Evaluating The Natural Hydrogen System in Ampana Basin, Central Sulawesi; An Implication for Natural Hydrogen Exploration in Indonesia Sanjaya, Indra; Jamal; M.Luthfi Fatturakhman; Hermansyah; Agus Saiful Arifin; Sigit Maryanto; Hyeong Soo Kim
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 25 No. 3 (2024): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v25i3.896

Abstract

Serpentinisasi dikenal sebagai salah satu proses geologi yang dapat menghasilkan hidrogen alami. Oleh karena itu, daerah dengan distribusi batuan ultramafik yang mengalami serpentinisasi, seperti lengan timur Pulau Sulawesi, menjadi target menarik untuk eksplorasi hidrogen alami. Penelitian yang bertujuan untuk untuk menentukan keberadaan sistem hidrogen alami di Cekungan Ampana ini dimulai dengan melakukan review literatur yang dilanjutkan dengan investigasi lapangan pada rembesan gas yang dianggap mengandung hidrogen. Sejumlah sampel baik batuan maupun gas diambil untuk dilakukan Analisa laboratorium yang mencakup petrografi, ICP-MS, komposisi gas, serta isotopnya untuk membuktikan keberadaan hidrogen alami di daerah penelitian. Disamping itu interpretasi data seismik dan gravity juga dilakukan untuk mengetahui konfigurasi bawah permukaan. Hasil studi ini memberikan gambaran awal mengenai pembentukan, migrasi, dan akumulasi hidrogen alami di Cekungan Ampana yang ditunjukkan oleh kehadiran sistem hidrogen alami yang mencakup keberadaan bukti permukaan berupa rembesan gas di Tanjung Api dan di Pulodalagan. Kehadiran batuan ultramafik dari Ofiolit Sulawesi Timur yang kaya unsur besi, adanya sesar utama yaitu Sesar Balantak yang dapat mengakomodasi perkolasi air tanah ke dalam batuan maupun sebagai jalur migrasi hidrogen, serta keberadaan sedimen pengisi cekungan sebagai media untuk akumulasi hidrogen. Pelajaran yang diperoleh dari sistem hidrogen alami di Cekungan Ampana ini kemudian digunakan untuk menentukan daerah eksplorasi lainnya di Indonesia. Kata Kunci: Tanjung Api, Hidrogen Alami, Ofiolit Sulawesi Timur, Batuan Ultramafik, Serpentinisasi.  
Asosiasi Skandium dan Potensi Keberadaan Unsur Tanah Jarang pada Profil Laterit Nikel pada Daerah Wasile, Halmahera Timur, Maluku Utara Fadhlurrohman Putrananda, Aditya; Rosana, Mega Fatimah; Yuningsih, Euis Tintint
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 25 No. 4 (2024): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v25i4.792

Abstract

Abstrak-Skandium dan Unsur Tanah Jarang merupakan sumber daya strategis yang berharga untuk berbagai aplikasi industri sehingga menjadi perhatian untuk eksplorasi sumber daya, ekstraksi berkelanjutan, dan aplikasi pada pengembangan teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik profil laterit beserta kandungan unsur skandium dan potensi UTJ yang berkembang pada profil laterit nikel yang memiliki batuan dasar ultrabasa. Daerah penelitian berada pada Daerah Wasile, Halmahera Timur. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah analisis petrologi dan analisis geokimia,yaitu XRF, ICP-MS dan XRD. Hasil dari analisis petrologi menunjukkan bahwa profil laterit terdiri atas lapisan limonit, zona transisi, saprolit dan batuan dasar. Batuan dasar yang teramati merupakan jenis lerzolite dan serpentinit. Hasil analisis geokimia menunjukkan peningkatan komposisi unsur skandium dan UTJ pada zona saprolit. Kehadiran unsur-unsur ini menjadi potensi untuk korelasi terkait dengan genesis UTJ Ion Adsorption Type dan klasifikasi deposit lebih lanjut. Katakunci: Halmahera, profil laterit, skandium, UTJ.
Karakteristik Geokimia dan Biomarker Rembesan Minyak di Daerah Torete, Morowali, Sulawesi Tengah Fahruddin, Achmad; Ariyono Subroto, Eddy; Susanto, Very; Dwita Santy, Lauti; Adlan, Ryandi
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 25 No. 4 (2024): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v25i4.806

Abstract

Dua buah rembesan minyak bumi diambil dari daerah Torete, Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah. Kedua sampel rembesan telah dilakukan analisis GC (gas chromatography) dan GCMS (gas chromatography and mass spectometry). Analisis geokimia biomarker dilakukan untuk mengetahui karakter minyak bumi berupa asal material organik, lingkungan pengendapan, dan tingkat kematangan. Pada kromatogram alkana normal, kedua sampel menunjukkan satu puncak (unimodal) sebelum nC20 dengan rasio Pr/Ph 0,87 dan 0,92. Fragmentogram m/z 217 menunjukkan sedikit dominasi pada sterana C29 dibanding sterana C27 dan sedikit kehadiran dari diasterana. Fragmentogram m/z 191 menunjukkan adanya dominasi pada terpana trisiklik C23 dan terpana tetrasiklik C24 serta kehadiran terpana trisiklik C26+. Pada terpana pentasiklik menunjukkan dominasi Tm terhadap Ts, hopana C29 terhadap hopana C30, kehadiran seri norhopana C30 dan gamaserana, serta homohopana C35 yang sedikit lebih tinggi dari homohopana C34. Biomarker petunjuk tumbuhan tinggi (oleanana dan bikadinana) tidak hadir pada kedua sampel. Hal ini menunjukkan bahwa kedua sampel minyak bumi berasal dari batuan induk karbonat dengan material organik alga, plankton, radiolaria, atau diatom lingkungan pengendapan anoksik-suboksik (lingkungan transisional), dan tingkat kematangan awal matang sampai level matang. Katakunci: biomarker, GC, GCMS, Torete, Morowali, Sulawesi Tengah.
Inventarisasi dan Penilaian Geowisata Kuantitatif Calon Geosite di Geopark Silokek, Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatra Barat Irzon, Ronaldo; E.Setiawan, Verry; Yurnaldi, Dida; Afdal Yulius; Riecca Oktavitania; Deswira Harneti
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 25 No. 4 (2024): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v25i4.817

Abstract

Abstrak- Sebuah geopark harus memiliki warisan geologi di kawasannya, di mana warisan geologi itu boleh jadi memiliki potensi wisata yang perlu disinergikan dengan elemen lain penggerak ekonomi masyarakat. Geopark Silokek adalah salah satu kawasan pembangunan berkelanjutan di wilayah Provinsi Sumatra Barat. Tulisan ini bertujuan untuk menginventarisasi calon situs warisan geologi di dalam kawasan Geopark Silokek dan melakukan penilaian secara kuantitatif terhadap potensi geowisata situs tersebut. Studi ini menerapkan metode penilaian kuantitatif yang telah dipergunakan secara internasional. Nilai total potensi geowisata delapan calon geosite di Geopark Silokek berkisar 255-340 dari nilai maksimal 400. Lower Ombilin Sungai Rambutan disimpulkan sebagai calon geosite yang nilai potensi wisatanya paling rendah terutama karena aksesibilitasnya yang sulit, fasilitas keamanan yang kurang memadai, dan jaraknya yang jauh dari lokasi rekreasi lainnya. Komplek Karst Silokek dan Kompleks Intrusi Mambui adalah dua calon geosite dengan nilai potensi geowisata tertinggi karena didukung oleh fasilitas keselamatan, ketersediaan logistik, berpemandangan indah, kondisi pengamatan yang baik dan berada di dekat lokasi rekreasi lainnya. Potensi geowisata calon geosite di dalam Geopark Silokek perlu dikembangkan, sehingga keadaan sosial-ekonomi masyarakat setempat dapat meningkat. Kata Kunci: geosite, geowisata, geopark, Komplek Karst Silokek
Geological Structures in The Formation of The Kendal Plains: Insights from Remote Sensing Imagery Jamal, Jamal; Indra Sanjaya; Dian Hari Saputro; Aji Suteja
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 25 No. 4 (2024): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v25i4.827

Abstract

Kendal Area in Central Java experiences rapid regional geology development. A wide flat area extending towards the Pantura, approximately 40 km wide and 20 km long, is influenced by the Bodri River. The Kendal basin formation is driven by Java’s regional compression tectonics. Major faults show the east-west direction as thrust faults and northeast-southwest direction as strike slip faults correspond to Java’s Regional Structures. Active and passive satellite imagery reveals geomorphic features such as deltas, coastal deposits, paleochannels, break slopes as faults zone, and topographic offsets of the area. The drainage pattern varies with deposit types: distributary channels in the north, meandering channels in the middle, and tributary channels in the south. Fusion image of Landsat 8 and National Digital Elevation Model (DEMNAS) produced by Badan Informasi Geospasial Indonesia (BIG) highlight distinct topographical boundaries and slopes. Residual gravity data shows subsurface contrasts, indicating dominant directions related to surface faults. Other supporting data used include magnetic anomaly imagery processed using the Reduce to Pole (RTP) method which are used to position the source of magnetic anomalies directly above their actual subsurface location. The RTP results enable more accurate interpretation of the distribution and depth of subsurface magnetic sources. The magnetic RTP model aligns with imagery, exhibiting east-west, northeast-southwest, and northwest-southeast trends. This structural interpretation is substantiated by field validation, with evidence of fault cliffs, lithologic offset, fault planes, mylonitization, and fault breccias corroborating the findings. Keywords: Bodri River, gravity, Kendal, landsat 8, Java’s regional structures, magnetic anomaly.
Review of Geological Framework and Hydrocarbon Potential of the Banyumas Basin Permana, Asep Kurnia; R. Setiawan; Marjiyono; G.M. Lucki Junursyah; Hidayat; D. Yurnaldi; E.Y.Patriani; A. Setiawan
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 25 No. 4 (2024): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v25i4.872

Abstract

The presence of numerous oil and gas seeps along the Pamanukan-Cilacap Fault Zone of the Banyumas Basin. This indicate that the Banyumas Basin is an active petroleum system. However, oil and gas exploration in this area is complicated by extensive volcanic rocks from Paleogene to Recent Times. Thick volcanic covers are responsible for the poor seismic data quality and making subsurface imaging is difficult. Therefore, there is prospective sedimentary sequence beneath the volcanic rock as potential hydrocarbon resources in this basin. This review will focus on geochemical and geophysical approach. Geochemical analysis was used to reveal petroleum generation underneath the volcanic cover. The combined geophysical methods, i.e. gravity, magnetotelluric and passive seismic tomography were applied to image subsurface sedimentary thickness and geology structure in this area. Biomarker analysis of oil seeps from study area indicates that the oil generation in the Banyumas Basin was derived from Late Cretaceous to Eocene sedimentary rocks which deposited in fluvial to deltaic environment. The gravity data delineation analysis shows two sedimentary sub basins, Majenang Sub Basin and Citanduy Sub Basin, a relatively northwest to southeast trends, correlates with the regional structural trend. These sub basins were also well determined from magnetotelluric data. The passive seismic tomography method enhancing the sub surface image. The Vp, Vs and Vp/Vs ratios can identify the sedimentary layer under the volcanic rocks, as well as geological structure feature within the basin. The flower structure and anticline structure are well imaged and could be the potential structural trap in the Banyumas Basin. Thus, this new insight provides opportunities for further petroleum exploration in this area. Keyword: Geochemistry, Banyumas Basin, passive seismic tomography, hydrocarbon potential  

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 26 No. 4 (2025) Vol. 26 No. 3 (2025): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 26 No. 2 (2025): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 26 No. 1 (2025): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 25 No. 4 (2024): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 25 No. 3 (2024): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 25 No. 2 (2024): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 25 No. 1 (2024): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 24 No. 4 (2023): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 24 No. 3 (2023): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 24 No. 2 (2023): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 24 No. 1 (2023): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 23 No. 4 (2022): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 23 No. 3 (2022): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 23 No. 2 (2022): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 23 No. 1 (2022): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 22 No. 4 (2021): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 22 No. 3 (2021): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 22 No. 2 (2021): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 22 No. 1 (2021): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 21 No. 4 (2020): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 21 No. 3 (2020): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 21 No. 2 (2020): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL Vol. 21 No. 1 (2020): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 20 No. 4 (2019): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 20 No. 3 (2019): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 20 No. 2 (2019): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 20 No. 1 (2019): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 19 No. 4 (2018): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 19 No. 3 (2018): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 19 No. 2 (2018): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 19 No. 1 (2018): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 18 No. 4 (2017): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 18 No. 3 (2017): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 18 No. 2 (2017): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 18 No. 1 (2017): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 17 No. 4 (2016): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 17 No. 3 (2016): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 17 No. 2 (2016): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 17 No. 1 (2016): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 16 No. 4 (2015): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 16 No. 3 (2015): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 16 No. 2 (2015): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 16 No. 1 (2015): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 15 No. 4 (2014): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 15 No. 3 (2014): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 15 No. 2 (2014): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 15 No. 1 (2014): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 23 No. 3 (2013): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 23 No. 2 (2013): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 23 No. 1 (2013): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 14 No. 4 (2013): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 22 No. 4 (2012): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 22 No. 3 (2012): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 22 No. 2 (2012): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 22 No. 1 (2012): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 21 No. 5 (2011): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 21 No. 4 (2011): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 21 No. 3 (2011): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 21 No. 2 (2011): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 21 No. 1 (2011): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 20 No. 6 (2010): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 20 No. 5 (2010): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 20 No. 4 (2010): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 20 No. 3 (2010): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 20 No. 2 (2010): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 20 No. 1 (2010): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 19 No. 6 (2009): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 19 No. 5 (2009): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 19 No. 4 (2009): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 19 No. 3 (2009): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 19 No. 2 (2009): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 19 No. 1 (2009): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 18 No. 6 (2008): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 18 No. 5 (2008): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 18 No. 4 (2008): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 18 No. 3 (2008): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 18 No. 2 (2008): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 18 No. 1 (2008): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 17 No. 6 (2007): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 17 No. 5 (2007): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 17 No. 4 (2007): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 17 No. 3 (2007): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 17 No. 2 (2007): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 17 No. 1 (2007): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 16 No. 6 (2006): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 16 No. 5 (2006): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 16 No. 4 (2006): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 16 No. 3 (2006): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 16 No. 2 (2006): Jurnal Sumber Daya Geologi Vol. 16 No. 1 (2006): Jurnal Sumber Daya Geologi More Issue