cover
Contact Name
Bulan Kakanita Hermasari
Contact Email
dr.bulan.kakanita@staff.uns.ac.id
Phone
+6281225381332
Journal Mail Official
pmjfkuns@gmail.com
Editorial Address
Gedung Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Jl. Ir. Sutami No. 36A Kentingan Jebres
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Plexus Medical Journal
ISSN : 2828187x     EISSN : 28284801     DOI : https://doi.org/10.20961/plexus.v1i1.4
Core Subject : Health,
Plexus Medical journal (PMJ) publishes original research articles or article review in the basic medical sciences, clinical medical sciences, medical education and public health science. Plexus Medical journal is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, community or public health research, and medical education to integrate researches in all aspects of human health. This journal publishes original articles, reviews, and also interesting case reports. Brief communications containing short features of medicine, latest developments in diagnostic procedures, treatment, or other health issues that is important for the development of health care system are also acceptable. Letters and commentaries of our published articles are welcome.
Articles 110 Documents
Hubungan Tekanan Teman Sebaya pada Kesiapan Belajar Mandiri Mahasiswa Kedokteran  di Universitas Sebelas Maret Surakarta Yunia Hastami; Siti Munawaroh; Nanang Wiyono; Veronika Ika Budiastuti; Bulan Kakanita Hermasari; Ana Tsalitsal Futiya Roisal Ufqi
Plexus Medical Journal Vol. 5 No. 2 (2026): April
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/plexus.v5i2.2577

Abstract

Pendahuluan: Mahasiswa kedokteran dituntut untuk memiliki kemampuan belajar mandiri yang kuat sebagai bagian dari proses pembelajaran profesional yang berkesinambungan. Kesiapan dalam belajar mandiri ini dipengaruhi oleh berbagai aspek sosial, termasuk tekanan dari lingkungan sebaya atau dikenal dengan peer pressure. Tekanan teman sebaya dapat memberikan dampak positif, seperti mendorong semangat untuk mencapai prestasi, maupun dampak negatif apabila menyebabkan stres atau kebiasaan yang tidak produktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tekanan dari teman sebaya mahasiswa kedokteran dengan kesiapan mahasiswa kedokteran dalam melakukan pembelajaran secara mandiri. Metode: Penelitian ini menerapkan metode kuantitatif dengan desain deskriptif analitik. Partisipan terdiri atas mahasiswa program studi kedokteran yang dipilih menggunakan teknik random sampling. Data diperoleh melalui penyebaran dua kuesioner, yaitu Peer Pressure Inventory untuk mengukur tingkat tekanan dari teman sebaya dan Self Directed Learning Readiness-NE untuk mengukur kesiapan mahasiswa dalam belajar mandiri. Data diambil dalam satu waktu secara cross sectional. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi  menggunakan SPSS untuk mengidentifikasi hubungan antara kedua variabel Hasil: Responden berjumlah 138 mahasiswa terpilih secara acak. Hasil analisis menunjukkan ada hubungan signifikan antara nilai rerata tekanan teman sebaya dengan kesiapan belajar mandiri pada mahasiswa kedokteran (p=0,001) dengan korelasi positif dan kekuatan hubungan lemah. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan nilai korelasi Pearson sebesar 0,269. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara nilai rerata tekanan teman sebaya dengan kesiapan belajar mandiri pada mahasiswa kedokteran.
Korelasi Skor Binge Eating Scale (BES) dan Kadar Gula Darah Sewaktu (GDS) pada Perempuan Obesitas di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Gita Natasya Angelica; Rusdiana; Fasihah Irfani Fitri; Lili Rohmawati
Plexus Medical Journal Vol. 5 No. 2 (2026): April
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/plexus.v5i2.3046

Abstract

Pendahuluan: Obesitas merupakan masalah kesehatan global yang terus meningkat dan erat kaitannya dengan gangguan metabolik, termasuk hiperglikemia. Perilaku binge eating (BE) memiliki kontribusi terhadap peningkatan asupan kalori berlebih yang dapat memicu kenaikan kadar glukosa darah. Binge Eating Scale (BES) digunakan untuk menilai tingkat keparahan BE, sedangkan kadar gula darah sewaktu (GDS) digunakan untuk menilai regulasi glukosa tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik responden, skor BES, kadar GDS, mengidentifikasi serta menganalisis arah dan kekuatan hubungan antara skor BES dan kadar GDS pada perempuan obesitas di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik korelasional dengan desain cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik non probability purposive sampling. Sampel yang diperoleh terdiri dari 58 orang perempuan obesitas di FK USU angkatan 2022 sampai 2025. Data primer yang dikumpulkan mencakup tinggi badan, berat badan, kadar GDS, dan skor BES. Analisis korelasi Spearman digunakan untuk menilai hubungan antara kedua variabel. Hasil: Sebagian besar responden berada pada kategori BE minimal hingga sedang, dengan proporsi lebih kecil yang menunjukkan BE berat. Keseluruhan kadar GDS responden berada dalam rentang normal (GDS <200 mg/dL). Uji korelasi Spearman menunjukkan hubungan lemah dan tidak signifikan antara skor BES dan kadar GDS (p>0.05; r=-0.057). Hal ini berarti H0 diterima dan H1 ditolak. Kesimpulan: Tidak ditemukan hubungan bermakna antara skor BES dan kadar GDS pada perempuan obesitas dalam penelitian ini. Meskipun demikian, tingginya prevalensi perilaku BE serta risiko gangguan metabolik pada kelompok obesitas menunjukkan perlunya edukasi terkait pola makan sehat dan deteksi dini risiko diabetes pada populasi berisiko.
Korelasi Derajat Sesak Napas Menurut mMRC-Q dan VAS dengan Kadar Hematokrit Pasien PPOK Eksaserbasi Akut Syalsabilla Melinadewi; Yusup Subagio Sutanto; Hendrastutik Apriningsih; Abdul Karim Nitiprodjo
Plexus Medical Journal Vol. 5 No. 2 (2026): April
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/plexus.v5i2.3097

Abstract

Pendahuluan: Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) eksaserbasi akut ditandai dengan perburukan sesak napas yang memicu hipoksia jaringan. Secara fisiologis, hipoksia memicu kompensasi polisitemia (peningkatan hematokrit). Namun, pada fase eksaserbasi akut, hubungan antara parameter hematologis dengan derajat klinis sesak napas masih menjadi perdebatan akibat kompleksitas respon inflamasi dan intervensi medis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara derajat sesak napas dengan kadar hematokrit darah pada pasien PPOK eksaserbasi akut. Metode: Penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional dilakukan terhadap pasien PPOK eksaserbasi akut di Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret. Metode yang digunakan adalah total sampling dengan total 31 responden. Derajat sesak napas diukur menggunakan mMRC dan VAS, sedangkan kadar hematokrit diperoleh dari data rekam medis. Analisis data menggunakan korelasi Spearman. Hasil: Profil hematokrit responden didominasi oleh kategori normal (71%) dan anemia (22,6%), sedangkan polisitemia sangat jarang ditemukan. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara skor mMRC dengan kadar hematokrit darah (p>0,05) maupun skor VAS dengan kadar hematokrit (p>0,05). Analisis tambahan menunjukkan hubungan signifikan dengan korelasi negatif yang kuat antara usia dengan kadar hematokrit (p<0,001; r=-0,627), yang mana pasien usia lanjut cenderung memiliki kadar hematokrit yang lebih rendah. Kesimpulan: Kadar hematokrit tidak dapat digunakan sebagai indikator tunggal untuk memprediksi derajat sesak napas subjektif pada pasien PPOK eksaserbasi akut. Ketiadaan korelasi ini kemungkinan dipengaruhi oleh faktor usia, di mana respons kompensasi sumsum tulang menurun seiring penuaan, serta adanya faktor inflamasi akut dan intervensi medis yang membiaskan profil hematologi.
Hubungan Obesitas pada Preeklamsia dengan APGAR Score Bayi di RSUD Dr.Moewardi Tahun 2024 Hanifa Fauzia Widya Putri; Robert Ridwan; Sigit Setyawan; Nutria Widya Purna Anggraini
Plexus Medical Journal Vol. 5 No. 2 (2026): April
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/plexus.v5i2.3098

Abstract

Pendahuluan: Preeklamsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan kompleks yang dapat berdampak terhadap kesehatan ibu dan bayi, ditandai dengan hipertensi yang disertai dengan gangguan organ pada atau setelah usia kehamilan 20 minggu. Obesitas diketahui berperan dalam patofisiologi preeklamsia dan dapat meningkatkan risiko luaran neonatus yang buruk, termasuk risiko APGAR score rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara obesitas pada preeklamsia dengan APGAR score bayi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Penelitian ini melibatkan 67 pasien yang diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Data yang digunakan adalah rekam medis ibu hamil dengan diagnosis preeklamsia yang melakukan persalinan di RSUD Dr. Moewardi selama tahun 2024 dan data rekam medis bayi yang dilahirkan oleh ibu tersebut. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji chi-square dengan bantuan software SPSS. Hasil: Hasil analisis chi-square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara obesitas pada preeklamsia dengan APGAR score bayi. Hal ini dibuktikan dengan p-value tercatat 0,172 (p>0,05) untuk obesitas pada preeklamsia dengan APGAR pada menit ke-1 dan p-value tercatat 0,170 (p>0,05) untuk obesitas pada preeklamsia dengan APGAR pada menit ke-5. Kesimpulan: Obesitas pada ibu hamil preeklamsia terbukti tidak berhubungan secara signifikan dengan APGAR score bayi.
Penatalaksanaan Holistik Demam Berdarah Dengue pada Anak melalui Pendekatan Kedokteran Keluarga: Laporan Kasus Muhammad Rafli; Apriliana Vivy Chandra; Mellisa Gani; Hanifiya Samha Wardhani
Plexus Medical Journal Vol. 5 No. 2 (2026): April
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/plexus.v5i2.3356

Abstract

Pendahuluan: Pendekatan kedokteran keluarga berperan penting dalam pengelolaan Demam Berdarah Dengue (DBD) karena tidak hanya berfokus pada aspek klinis, tetapi juga mempertimbangkan faktor keluarga dan lingkungan yang memengaruhi terjadinya penyakit. Keterlibatan keluarga dalam deteksi dini, pemantauan kondisi pasien, serta perbaikan perilaku dan lingkungan menjadi kunci dalam pencegahan kekambuhan. Deskripsi Kasus: An. AA, perempuan usia 5 tahun, terdiagnosis DBD pada 7 Februari 2026 setelah demam tinggi mendadak sejak 1 Februari 2026 disertai mimisan, perdarahan gusi, petekie, nyeri perut, dan mual. Suhu maksimal 39°C dengan trombosit awal 21.000/µL yang menurun menjadi 17.000/µL sehingga pasien dirawat di ICU 4 hari dan bangsal 2 hari. Riwayat paparan diduga berkaitan dengan rekreasi keluarga ke tempat wisata, serta sepupu pasien yang juga pergi ke tempat rekreasi tersebut terdiagnosis DBD dalam waktu berdekatan. Ditemukan faktor risiko lingkungan rumah berupa genangan air, kondisi lembap, ventilasi kurang, dan kebiasaan menggantung pakaian. Status gizi berada pada rentang -2 SD hingga -1 SD. Diskusi: Kasus ini menunjukkan bahwa DBD pada anak dapat berkembang cepat menjadi trombositopenia berat. Faktor paparan luar rumah dan kondisi lingkungan domestik berperan dalam transmisi. Pendekatan kedokteran keluarga memungkinkan identifikasi faktor risiko secara komprehensif, edukasi keluarga terkait tanda bahaya dan pemantauan fase kritis, serta intervensi promotif-preventif berbasis rumah tangga. Kesimpulan: Pendekatan kedokteran keluarga efektif dalam pengelolaan DBD anak secara holistik dan pencegahan kekambuhan di tingkat keluarga dan komunitas.
Profil Pola dan Derajat Luka Korban Kekerasan Seksual di Surakarta Tahun 2023-2025 Wulan Maharani; Novianto Adi Nugroho; Herratri Wikan Nur Agusti
Plexus Medical Journal Vol. 5 No. 3 (2026): Juni
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/plexus.v5i3.2921

Abstract

Pendahuluan: Kekerasan seksual merupakan salah satu bentuk kekerasan yang masih sering terjadi di Indonesia dan menimbulkan dampak fisik maupun psikologis bagi korban. Pemeriksaan Visum et Repertum berperan penting dalam pembuktian medis dan menjadi sumber data objektif untuk menggambarkan karakteristik luka akibat kekerasan seksual. Penelitian ini memiliki keterbaharuan dalam mengidentifikasi pola dan derajat luka korban kekerasan seksual di Surakarta periode 2023–2025 berdasarkan hasil Visum et Repertum. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif observasional dengan pendekatan retrospektif. Sampel penelitian meliputi seluruh kasus kekerasan seksual yang memiliki dokumen Visum et Repertum dan memenuhi kriteria inklusi, yaitu sebanyak 12 kasus dari total 40 laporan yang tercatat di Unit PPA Polresta Surakarta periode 2023–2025. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kuantitatif berdasarkan karakteristik luka, lokasi, serta derajat keparahan luka. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar korban kekerasan seksual merupakan remaja berjenis kelamin perempuan. Lokasi luka terbanyak ditemukan pada organ genital (71,43%), diikuti oleh anus (14,29%), serta leher dan dada masing-masing sebesar 7,14%. Jenis luka yang paling sering dijumpai adalah robekan dengan tepi tidak rata dan dasar luka pada kulit, sedangkan berdasarkan derajatnya, mayoritas luka tergolong ringan (91,66%) dan tidak ditemukan luka berat. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa korban kekerasan seksual di Surakarta umumnya mengalami luka ringan yang bersifat superfisial pada area anogenital. Temuan ini menegaskan bahwa Visum et Repertum berperan penting dalam mengidentifikasi pola luka serta memberikan dasar objektif bagi proses penegakan hukum dan penanganan medis terhadap korban kekerasan seksual.
Gambaran Persepsi Mahasiswa Kedokteran Universitas Jambi Terhadap Pembelajaran Keterampilan Klinik Maha Putri Kintana Elwaz; Nyimas Natasha Ayu Shafira; Citra Maharani; Amelia Dwi Fitri; Rita Halim
Plexus Medical Journal Vol. 5 No. 3 (2026): Juni
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/plexus.v5i3.3065

Abstract

Pendahuluan: Pembelajaran keterampilan klinik merupakan komponen penting dalam pendidikan kedokteran untuk mempersiapkan mahasiswa sebelum berinteraksi langsung dengan pasien. Persepsi mahasiswa terhadap proses pembelajaran perlu dievaluasi untuk menilai efektivitas pelaksanaan dan mengidentifikasi aspek yang perlu diperbaiki. Penelitian ini untuk menggambarkan persepsi mahasiswa kedokteran Universitas Jambi mengenai pembelajaran keterampilan klinik. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 300 responden dari angkatan 2022, 2023, dan 2024 berpartisipasi. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Student’s Perception Regarding Skill Lab Training in Medical Education yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya serta  persepsi terkait empat aspek pembelajaran, yaitu instruktur, materi pembelajaran, sarana prasarana, dan penjadwalan, untuk memperdalam penilaian mahasiswa terkait persepsi. Data dianalisis secara univariat dan disajikan dalam bentuk median, min, dan max serta hasil ringkasan jawaban dari pendapat mahasiswa terkait instruktur, materi pembelajaran, sarana prasarana, dan penjadwalan. Hasil: Sebagian besar mahasiswa menunjukkan persepsi positif terhadap pembelajaran keterampilan klinik yang ditunjukkan dengan nilai median sebesar 3. Mahasiswa menilai instruktur kompeten, komunikatif, dan mampu memberikan umpan balik yang jelas. Materi pembelajaran dinilai relevan dengan kurikulum dan SKDI, meskipun ditemukan beberapa ketidakkonsistenan. Sarana prasarana dianggap cukup namun masih terbatas, dan penjadwalan dinilai baik meskipun terkadang berubah secara mendadak. Pembelajaran ini diketahui meningkatkan motivasi, kepercayaan diri, dan kesiapan mahasiswa menuju tahap profesi. Kesimpulan: Pembelajaran keterampilan klinik di Program Studi Kedokteran Universitas Jambi dipersepsikan efektif dalam menunjang peningkatan kompetensi mahasiswa. Perbaikan sarana prasarana, konsistensi materi, dan penjadwalan yang lebih terstruktur diperlukan untuk mendukung kualitas pembelajaran yang optimal.
Global Research Trends and Hotspots in Non-Eosinophilic Asthma: A Bibliometric and Visual Analysis Gregorious Gandhi Krishna Aditya; Ali Rofiq Khizna Dani; Tatum Aurora Amantha Melvin; Sri Marwanta
Plexus Medical Journal Vol. 5 No. 3 (2026): Juni
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/plexus.v5i3.3806

Abstract

Introduction: Non-eosinophilic asthma represents nearly half of asthma cases and is commonly associated with poor responsiveness to corticosteroid therapy. Despite its significant clinical burden, no bibliometric study has comprehensively mapped the global research landscape of non-eosinophilic asthma. This study aimed to analyze global publication trends, scientific collaborations, and emerging research hotspots in non-eosinophilic asthma. Methods: A bibliometric study was conducted using the Scopus database, with data retrieved on June 27, 2025. A total of 531 English-language journal articles that met the eligibility criteria were included. Data were analyzed using Scopus Analyze Results, Biblioshiny, and VOSviewer 1.6.19 to evaluate publication trends, citation performance, collaboration networks, influential publications, and keyword co-occurrence. Results: Research output on non-eosinophilic asthma increased markedly after 2008 and peaked in 2022. China was the most productive country in terms of publications, whereas Australia achieved the highest total and average citations. Gibson PG was identified as the most productive and influential author. Keyword analysis demonstrated a shift in research focus toward non-T2 inflammatory mechanisms, neutrophilic inflammation, corticosteroid resistance, biomarkers, microbiome, obesity, and precision medicine approaches.   Conclusion: Global research on non-eosinophilic asthma has expanded substantially, reflecting a transition from conventional eosinophilic-centered concepts toward a deeper understanding of disease heterogeneity and personalized therapeutic strategies. These findings provide a comprehensive overview of current research trends and may serve as a valuable reference for future investigations and therapeutic development.  
Hubungan Derajat Keparahan Asma  Terhadap Kualitas Hidup Anak Usia 8-12 Tahun di RS UNS Andini Afifatul Munifah; Debby Andina Landiasari; Aisya Fikritama Aditya; Astri Tantri Indriani
Plexus Medical Journal Vol. 5 No. 3 (2026): Juni
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/plexus.v5i3.3862

Abstract

Pendahuluan: Asma merupakan penyakit inflamasi kronis pada anak yang berpotensi memengaruhi kualitas hidup. Hubungan antara derajat keparahan asma dan kualitas hidup anak masih menunjukkan hasil yang bervariasi, sehingga perlu dikaji lebih lanjut pada usia sekolah. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik cross sectional pada 30 anak usia 8–12 tahun dengan asma di RS UNS periode Januari 2024–Desember 2025. Derajat keparahan asma ditentukan dari rekam medis sesuai pedoman nasional, sedangkan kualitas hidup diukur menggunakan kuesioner PedsQL 4.0. Analisis dilakukan menggunakan uji Chi-Square dan korelasi Spearman. Hasil: Derajat keparahan asma tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kualitas hidup anak berdasarkan uji Chi-Square (p = 0,140). Hasil serupa ditemukan pada analisis domain fungsi fisik, emosional, sosial, fungsi sekolah, serta total skor kualitas hidup (p > 0,05). Secara deskriptif, sebagian besar anak memiliki kualitas hidup yang baik dan menjalani kontrol rutin dengan frekuensi mendekati tiga kali per bulan. Kesimpulan: Derajat keparahan asma tidak berhubungan secara signifikan dengan kualitas hidup anak usia 8–12 tahun di RS UNS. Kualitas hidup anak dengan asma bersifat multidimensional dan tidak hanya ditentukan oleh derajat keparahan penyakit, melainkan juga dipengaruhi oleh pengelolaan asma dan keteraturan kontrol rutin.
Pengaruh Relaksasi Nafas dan Dzikir terhadap Nyeri Haid pada Remaja Nabila Anlinna Putri; Winarni Winarni
Plexus Medical Journal Vol. 5 No. 3 (2026): Juni
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/plexus.v5i3.3872

Abstract

Pendahuluan: Nyeri haid atau dismenore umumnya ditandai dengan kram hebat pada perut bagian bawah yang dapat menjalar ke area punggung, paha hingga tungkai. Salah satu faktor utama yang memicu keluhan ini adalah peningkatan produksi prostaglandin. Apabila tidak ditangani secara tepat, kondisi tersebut berpotensi menurunkan kesejahteraan bahkan kualitas hidup perempuan. Upaya manajemen nyeri haid dapat dilakukan melalui pendekatan non-farmakologis, salah satunya dengan alternatif manajemen nyeri haid yang holistik yaitu kombinasi teknik relaksasi pernafasan dengan dzikir. Metode ini dinilai efektif dalam membantu mengurangi rasa nyeri sekaligus dapat diterapkan secara mandiri oleh individu. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengeksplorasi pengaruh terapi relaksasi pernafasan dan aktivitas dzikir yang dikombinasikan terhadap intensitas nyeri haid pada remaja yang berdomisili di Pondok Pesantren Jajar Islamic Center Surakarta. Metode: Penelitian dilakukan pada bulan April hingga Mei 2025 menerapkan rancangan pre-eksperimental dengan model one group pretest-posttest design. Subjek dalam penelitian ini melibatkan 22 partisipan yang ditentukan melalui metode simple random sampling. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan uji non-parametrik Wilcoxon. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden sebelum intervensi mengalami nyeri haid pada skala 5 (40,9%). Setelah diberikan intervensi berupa relaksasi pernafasan dan dzikir, mayoritas responden melaporkan penurunan intensitas nyeri hingga berada pada skala 2 (50,0%). Hasil uji Wilcoxon memperoleh nilai p = 0,000 (p < 0,05). Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa teknik relaksasi pernafasan yang dipadukan dengan dzikir berpengaruh terhadap penurunan nyeri haid pada remaja.

Page 11 of 11 | Total Record : 110