cover
Contact Name
Fatma Wati
Contact Email
sajaratununiflor1980@gmail.com
Phone
+6281337006311
Journal Mail Official
sajaratununiflor1980@gmail.com
Editorial Address
Jalan Sam Ratulangi Kelurahan Paupire, Kab. Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 85311
Location
Kab. ende,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
SAJARATUN : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Published by Universitas Flores
ISSN : -     EISSN : 28098293     DOI : https://doi.org/10.37478/sajaratun
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Sajaratun ini dulu diterbitkan pertama kali bulan Mei 2016 dengan nama Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Program Studi Pendidikan Sejarah UNIFLOR dan diterbitkan 2 kali setahun dalam bulan Mei dan November. Sekarang akan diterbitkan dengan nama SAJARATUN dan terbit pada bulan Juni dan Desember.
Articles 146 Documents
Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Pembelajaran Sejarah: Model, Pendekatan, Dan Penilaian Di SMA Alpha Bestli; Elsa Sophia; Intan Malau; Job Gamaliel; Josua Panjaitan; Rodia Ernita; Zahra Maghira
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 11 No 1 (2026): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v12i1.8119

Abstract

Kurikulum Merdeka diperkenalkan untuk mengatasi kelemahan kurikulum sebelumnya yang terlalu berfokus pada materi dan kurang mengembangkan kompetensi siswa secara menyeluruh. Artikel ini membahas penerapan model pembelajaran, pendekatan, dan sistem penilaian dalam pembelajaran sejarah di tingkat SMA. Penelitian menggunakan metode kepustakaan kualitatif menurut Sugiyono (2019) dengan menganalisis berbagai sumber akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka mendorong pembelajaran yang lebih kritis, kontekstual, dan berpusat pada siswa melalui model Project Based Learning (PjBL) dan Inquiry-Based Learning (IBL) serta mengutamakan evaluasi autentik dan formatif. Kesimpulannya, keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran sejarah sangat bergantung pada kesiapan dan sinergi menyeluruh dari ekosistem pendidikan, mulai dari kompetensi pedagogik guru, pemerataan sarana digital, hingga pergeseran budaya sekolah yang tidak lagi berorientasi dogmatis pada nilai angka semata.
Integrasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Dalam Pembelajaran Sejarah Untuk Mewujudkan Kesadaran Sejarah Dan Karakter Kebangsaan Pada Kurikulum Merdeka Cristian Purba; Cristy Rajagukguk; Dicky Alexander Rajagukguk; Dwi Anggraini; Indah Natalia Sinambela; Jenifer Mauli Stefani Siboro; Rofly Armadhany
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 11 No 1 (2026): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v11i1.8161

Abstract

Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dalam Kurikulum Merdeka menempati posisi epistemologis yang sangat strategis sebagai katalisator dalam mereorientasi pembelajaran sejarah di sekolah menengah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran dan strategi integrasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dalam pembelajaran sejarah di sekolah menengah untuk membentuk kesadaran sejarah dan karakter kebangsaan peserta didik pada struktur Kurikulum Merdeka. Transformasi kurikulum menuntut pembelajaran sejarah tidak sekadar menjadi ruang hafalan kronologis, melainkan media internalisasi nilai luhur bangsa. Dengan menggunakan metode studi literatur sistematis (systematic literature review), data dikumpulkan melalui penelusuran artikel ilmiah, buku, dan dokumen kebijakan kurikulum yang diterbitkan dalam rentang tahun 2015 hingga 2024. Hasil kajian menunjukkan bahwa dimensi-dimensi P5—seperti berkebinekaan global, gotong royong, dan bernalar kritis—memiliki keterkaitan epistemologis yang kuat dengan tujuan pembelajaran sejarah. Melalui proyek bertema kearifan lokal dan bhinneka tunggal ika, pembelajaran sejarah berbasis proyek (PjBL) mampu memfasilitasi internalisasi nilai-nilai karakter kebangsaan secara kontekstual. Inovasi ini berhasil mengubah budaya belajar sejarah menjadi lebih inklusif, partisipatif, dan reflektif. Meskipun demikian, efektivitas pelaksanaannya masih dibatasi oleh kendala kesiapan pedagogis guru, hambatan perancangan modul interdisipliner, serta kompleksitas instrumen asesmen otentik. Kajian ini menyimpulkan bahwa P5 dalam pembelajaran sejarah bertindak sebagai katalisator strategis untuk melahirkan lulusan yang tanggap terhadap dinamika abad ke-21 tanpa kehilangan jati diri nasionalnya.
Eksplorasi Motivasi Wisatawan Dalam Mengunjungi Destinasi Dark Tourism Di Gua Jepang Dan Gua Belanda Fitri Nursyam; Dani Adiatma; Ghaida Farisya
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 11 No 1 (2026): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v12i1.8190

Abstract

Penelitian mengenai motivasi wisatawan pada destinasi dark tourism di kawasan konservasi alam masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi motivasi dan pengalaman wisatawan dalam mengunjungi Gua Jepang dan Gua Belanda di TAHURA Ir. H. Djuanda. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi pustaka. Analisis data dilakukan menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wisatawan datang karena rasa penasaran terhadap suasana gua dan sejarah kolonial yang melekat pada lokasi. Setelah berada di lokasi, wisatawan merasakan emotional experience (pengalaman emosional), memperoleh learning (pembelajaran) mengenai sejarah lokasi, serta mengalami nostalgia, escape (pelarian dari rutinitas), dan personal reflection (refleksi pribadi). Pengalaman wisatawan terbentuk melalui perpaduan antara ruang peninggalan kolonial dan suasana kawasan hutan di TAHURA Ir. H. Djuanda. Temuan penelitian menunjukkan bahwa wisatawan tidak hanya datang untuk melihat peninggalan sejarah kolonial, tetapi juga memperoleh pengalaman emosional, pengetahuan baru mengenai sejarah, kesempatan untuk melepas rutinitas, serta refleksi terhadap kehidupan pada masa lalu. Pengalaman tersebut terbentuk dari perpaduan antara suasana gua sebagai situs sejarah dan suasana kawasan konservasi alam di TAHURA Ir. H. Djuanda, sehingga menghasilkan karakter pengalaman yang berbeda dibandingkan destinasi dark tourism yang berfokus pada memorial tragedi.
Sejarah Perkembangan Ilmu Pertahanan Di Indonesia: Transformasi Inklusifitas Pendidikan Ilmu Pertahanan Ruth Lumban Gaol; Muhamad Satria Nugraha; Yudi Subiantoro
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 11 No 1 (2026): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v11i1.8208

Abstract

Pergeseran paradigma keamanan nasional di abad ke-21 menuntut transformasi konseptual yang mendasar, beralih dari orientasi militeristik konvensional menuju susunan pertahanan yang komprehensif dan berlapis dimensi. Kajian ini bertujuan menelaah secara mendalam perkembangan intelektual, landasan filosofis, serta transformasi institusional ilmu pertahanan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan tahapan heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Penelitian ini mengurai fondasi pembentukan ilmu pertahanan, Di samping itu, studi ini menelusuri pergeseran keilmuan dari tataran doktrin militer yang tertutup menuju disiplin akademik yang inklusif dan mendorong integrasi sipil-militer, sebagaimana tercermin dalam keberadaan lembaga-lembaga strategis seperti Sekolah Staf dan Komando (Sesko) dan Universitas Pertahanan (Unhan) RI. Hasil studi menunjukkan bahwa ekosistem keilmuan pertahanan kontemporer telah mengintegrasikan metodologi riset campuran (mixed methods), kemajuan teknologi siber, penerapan standar etika penelitian global, serta absorpsi nilai-nilai kearifan lokal. Sebagai simpulan, pengelolaan riset pertahanan yang adaptif dan terintegrasi merupakan persyaratan yang tidak dapat ditawar dalam menghadapi ancaman peperangan hibrida sekaligus mengoptimalkan ketangguhan nasional di masa mendatang.
Kesultanan Aceh Darussalam: Politik, Keilmuan Dan Jaringan Islam Global Ikhlash Hidayatullah; Syamruddin Nasution
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 11 No 1 (2026): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v11i1.8228

Abstract

Kesultanan Aceh Darussalam merupakan salah satu pusat peradaban Islam terpenting di Asia Tenggara pada abad ke-16 hingga ke-17 yang memainkan peran strategis dalam bidang politik, ekonomi, dan intelektual. Letak geografisnya yang berada di jalur perdagangan internasional menjadikan Aceh sebagai simpul interaksi antara dunia Timur Tengah, India, dan Nusantara, sekaligus sebagai pusat penyebaran Islam dan pengembangan keilmuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif dinamika sejarah Kesultanan Aceh Darussalam dengan menitikberatkan pada aspek politik, perkembangan keilmuan Islam, serta keterhubungannya dalam jaringan Islam global. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode sejarah (historical research) yang meliputi tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Data diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap sumber-sumber primer dan sekunder, termasuk karya Anthony Reid, Denys Lombard, dan Azyumardi Azra, serta literatur pendukung lainnya yang relevan dengan kajian sejarah Islam Nusantara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kesultanan Aceh mencapai puncak kejayaannya pada masa Sultan Iskandar Muda (1607–1636), yang ditandai dengan ekspansi wilayah, penguatan sistem pemerintahan berbasis Islam, serta dominasi dalam perdagangan internasional. Dalam bidang keilmuan, Aceh berkembang sebagai pusat intelektual dengan hadirnya ulama-ulama besar seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin ar-Raniri, dan Abdurrauf as-Singkili, yang berkontribusi dalam pembentukan tradisi keislaman di Nusantara. Selain itu, Aceh terintegrasi dalam jaringan ulama global yang menghubungkan kawasan Nusantara dengan pusat-pusat keilmuan di Timur Tengah. Namun demikian, kemunduran Aceh dipengaruhi oleh konflik internal, lemahnya stabilitas politik pasca Iskandar Muda, serta tekanan eksternal dari kekuatan kolonial Eropa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Kesultanan Aceh Darussalam tidak hanya berperan sebagai kekuatan politik regional, tetapi juga sebagai pusat transmisi ilmu dan simpul jaringan Islam global yang berkontribusi besar dalam pembentukan identitas keislaman di Nusantara. Oleh karena itu, kajian terhadap Aceh memiliki relevansi penting dalam memahami dinamika sejarah Islam serta sebagai landasan reflektif dalam merespons tantangan keislaman kontemporer di Indonesia.
Kontinuitas Dan Perubahan Wilayah Rawas Dari Onderafdeeling Rawas Hingga Kabupaten Musi Rawas Utara (1920 - 2013) Lagut Lagut; Muhamad Shokeh; Supian Supian
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 11 No 1 (2026): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v12i1.8237

Abstract

Kajian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami dinamika perubahan administrasi pemerintahan yang terjadi di wilayah Rawas selama masa kolonial, awal kemerdekaan, hingga era otonomi daerah. Penelitian bertujuan menganalisis bentuk-bentuk kontinuitas dan perubahan status administratif serta faktor-faktor yang memengaruhi transformasi wilayah Rawas. Metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Data diperoleh dari arsip kolonial, dokumen pemerintahan, peraturan perundang-undangan, serta berbagai sumber pustaka yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah Rawas mengalami beberapa perubahan status administratif, yaitu dari Onderafdeeling Rawas pada masa Hindia Belanda, menjadi kewedanaan pada awal kemerdekaan, kemudian dihapuskan pada tahun 1963 seiring restrukturisasi pemerintahan daerah, dan akhirnya kembali memperoleh status daerah otonom melalui pembentukan Kabupaten Musi Rawas Utara pada tahun 2013. Meskipun terjadi perubahan struktur pemerintahan, identitas kewilayahan Rawas tetap bertahan dan menjadi faktor penting dalam perjuangan pembentukan kabupaten baru. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perkembangan wilayah Rawas menunjukkan adanya kontinuitas identitas historis yang berlangsung di tengah perubahan administrasi dan politik selama hampir satu abad.