cover
Contact Name
Fatma Wati
Contact Email
sajaratununiflor1980@gmail.com
Phone
+6281337006311
Journal Mail Official
sajaratununiflor1980@gmail.com
Editorial Address
Jalan Sam Ratulangi Kelurahan Paupire, Kab. Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 85311
Location
Kab. ende,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
SAJARATUN : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Published by Universitas Flores
ISSN : -     EISSN : 28098293     DOI : https://doi.org/10.37478/sajaratun
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Sajaratun ini dulu diterbitkan pertama kali bulan Mei 2016 dengan nama Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Program Studi Pendidikan Sejarah UNIFLOR dan diterbitkan 2 kali setahun dalam bulan Mei dan November. Sekarang akan diterbitkan dengan nama SAJARATUN dan terbit pada bulan Juni dan Desember.
Articles 140 Documents
Satwa Dan Media: Konflik Gajah Di Pulau Sumatera Dalam Surat Kabar Kolonial (1859-1937) Jonathan Hasudungan; Shafa Nurazizah
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 12 No 1 (2026): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v12i1.8138

Abstract

Status Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang saat ini berada pada kategori Critically Endangered menunjukkan bahwa konflik antara manusia dan satwa liar telah menjadi persoalan lingkungan yang serius. Berbagai penelitian telah membahas konflik gajah pada masa kontemporer, namun kajian mengenai representasi konflik tersebut dalam media kolonial masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkonstruksi narasi dan menganalisis pemberitaan konflik gajah di Sumatera dalam surat kabar kolonial pada tahun 1859-1937. Penelitian menggunakan metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Sumber utama berupa surat kabar kolonial yang diperoleh dari koleksi digital Delpher dan Perpustakaan Universitas Leiden. Analisis dilakukan dengan menggunakan perspektif Marxis melalui konsep komodifikasi dan teori alienasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspansi perkebunan komersial di Sumatera pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 telah mengubah lanskap hutan menjadi lahan produksi monokultur, sehingga mempersempit ruang hidup gajah dan meningkatkan intensitas konflik dengan manusia. Surat kabar kolonial umumnya merepresentasikan gajah sebagai ancaman terhadap kepentingan ekonomi karena dianggap merusak perkebunan, infrastruktur, dan aset perusahaan. Narasi tersebut turut melegitimasi tindakan perburuan sebagai upaya pengendalian gajah. Selain itu, perburuan gajah berkembang menjadi aktivitas bernilai ekonomi melalui perdagangan gading. Analisis konsep komodifikasi menunjukkan bahwa konflik gajah terjadi karena perubahan fungsi ruang hidup menjadi komoditas ekonomi, sedangkan teori alienasi memperlihatkan bahwa para pemburu juga mengalami keterasingan akibat hubungan kerja yang bersifat eksploitatif dalam sistem kapitalis. Dengan demikian, konflik Gajah Sumatera pada masa kolonial merupakan konsekuensi dari transformasi lingkungan dan ekspansi basis kapitalis melalui kolonialisme yang mengubah relasi antara manusia, satwa, dan ruang hidupnya.
Eksplorasi Sejarah Dan Nilai Budaya Rumah Adat Wologai Kabupaten Ende Sri Mardhatillah; Maria Leliana Bhenge; Nadia; Ermenlinda S. Weni; Yulita K. Sepe; Emerensiana Sedo
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 12 No 1 (2026): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v12i1.8177

Abstract

Kampung adat wologai yang terletak di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, merupakan salah satu permukiman tradisional suku Lio yang hingga kini masih mempertahankan keutuhan budaya leluhurnya. Penelitian ini bertujuan mengeskplorasi sejarah berdirinya kampung adat, fungsi sosial dan ritual rumah adat sa’o, peran kepemimpinan Mosalaki dalam sistem adat, pelaksanaan upcara adat Nggua, tata ruang dan arsitektur bangunan tradisional, makna simbol ukiran, serta dampak pariwisata terhadap kehidupan masyarakat setempat.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode etnografi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung, wawancara mendalam bersama Mosalaki Ria Bewa Wologai, Bapak Bernardus Leo Wara dan dokumentasi lapangan pada 16 Mei 2026. Analisis data menggunakan model analisis interaktif Miles, Huberman, dan Saldana (2014) yang meliputu reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa kampung adat wologai telah berdiri selama sembilan generasi dan menyimpan nilai sejarah, sosial, spiritual, serta ekologis yang saling terkait. Tata ruang kampung membentuk pola konsentris tiga lapis yang mencerminkan kosmologis suku lio tentang keseimbangan antara manusia, alam, dan leluhur. Ukiran-ukiran pada sa’o berfungsi sebagai teks visual yang menyampaikan pesan filosofi tentang identitas nilai komunal. Perkembangan wologai sebagai desa wisata sejak 2011 memberikan manfaat ekonomi nyata, namun sekaligus menghadirkan tantangan dalam menjaga autentisitas tradisi. Pebelitian ini menyimpulkan bahwa kampung Adat Wologai merupakan warisan budaya yang masih hidup dan relevan, sehingga memerlukan pengelolaan terpadu yang mengintegrasikan pelestarian nilai budaya dengan pengembangan pariwisata yang berkelanjutan.
Sebaran Situs-Situs Peninggalan Masa Kesultanan Di Palembang Sebagai Sumber Pembelajaran Sejarah Lokal Siti Nur Azizah; Kabib Sholeh; Dina Sri Nindiati
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 12 No 1 (2026): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v12i1.8200

Abstract

Situs-situs peninggalan Kesultanan Palembang merupakan warisan sejarah yang memiliki nilai penting bagi masyarakat serta berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran sejarah lokal. Namun, pemanfaatan situs-situs tersebut dalam pembelajaran masih belum optimal karena informasi mengenai persebaran dan nilai historis yang terkandung di dalamnya belum banyak diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sebaran situs-situs peninggalan Kesultanan Palembang dan mengkaji relevansinya sebagai sumber pembelajaran sejarah lokal. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Teknik wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Teknik analisa data reduksi/kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa situs-situs peninggalan Kesultanan Palembang tersebar di wilayah Kota Palembang, yaitu berada di kawasan Iliran dan Uluan yang pada masa Kesultanan berfungsi sebagai pusat pemerintahan, pertahanan, kegiatan keagamaan, dan kehidupan masyarakat. Situs-situs tersebut mengandung nilai historis berupa nilai religius, sosial, pertahanan dan militer, serta politik dan pemerintahan. Nilai-nilai tersebut relevan dengan materi pembelajaran sejarah lokal pada Fase E kelas X dan dapat diintegrasikan ke dalam capaian pembelajaran serta tujuan pembelajaran. Selain itu, sebaran situs-situs Kesultanan di Palembang dapat dimanfaatkan sebagai media sekaligus sumber pembelajaran yang membantu peserta didik memahami lokasi situs dan nilai historis yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, sebaran situs-situs peninggalan Kesultanan Palembang berpotensi menjadi sumber pembelajaran sejarah lokal yang efektif untuk mendukung pembelajaran yang kontekstual d an  meningkatkan pemahaman sejarah lokal peserta didik.
Nilai Historis Arca Buddha Museum TPKS Sebagai Sumber Belajar Sejarah Lokal SMA PGRI 2 Palembang Laisa Tiara Zalika Ananda; Kabib Sholeh; Nur Syafarudin
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 12 No 1 (2026): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v12i1.8221

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh belum optimalnya pemanfaatan arca peninggalan Sriwijaya koleksi Museum Taman Purbakala Kedatuan Sriwijaya (TPKS) sebagai sumber belajar sejarah lokal di SMA PGRI 2 Palembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi koleksi arca Sriwijaya di Museum TPKS, menganalisis nilai historis arca bercorak Buddha, serta menganalisis integrasinya sebagai sumber belajar sejarah lokal. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan strategi studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, studi pustaka, dan studi dokumen. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Pada hasil penelitian peneliti memilih 19 koleksi arca Sriwijaya yang terdiri dari 5 arca Buddha dan 14 arca Hindu. Lima arca Buddha  Maitreya, Bodhisatwa I, Bodhisatwa II, Awalokiteswara, dan Buddha Bukit Siguntang  mengandung nilai historis meliputi nilai agama, toleransi, estetika, dan budaya. Nilai-nilai tersebut memiliki relevansi kuat dengan Capaian Pembelajaran Fase E Kurikulum Merdeka dan dapat diintegrasikan sebagai sumber belajar sejarah lokal melalui pengembangan media Flipbook yang realistis dan aplikatif. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa 19 arca yang dipilih terdiri dari  arca Sriwijaya 5 Buddha dan 14 Hindu, dengan lima arca bercorak Buddha mengandung nilai historis berupa nilai agama, toleransi, budaya, dan estetika. Nilai-nilai tersebut relevan dengan Capaian Pembelajaran Fase E Kurikulum Merdeka dan dapat diintegrasikan sebagai sumber belajar sejarah lokal di SMA PGRI 2 Palembang melalui pengembangan media Flipbook berbasis arca Buddha yang realistis dan aplikatif.
Arkeologi Agama-Agama Monoteisme: Perspektif Psiko-Historis Sigmund Freud Marianus Ola Kenoba; Jeanne Arc Kenoba
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 12 No 1 (2026): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v12i1.8054

Abstract

Dewasa ini agama-agama monoteisme telah berkembang pesat di seluruh dunia. Asal-usul agama monoteisme-pun telah banyak ditelaah dari perspektif multidisipliner. Riset ini bertujuan untuk menelaah dimensi arkeologi agama-agama monoteisme berdasarkan paradigma psiko-historis. Secara khusus, paper ini membahas arkeologi agama monoteisme dengan mengacu pada gagasan psikoanalisis Sigmund Freud. Riset ini menggunakan metode penelitian kepustakaan. Referensi-referensi yang relevan dengan gagasan Sigmund Freud tentang arkeologi agama monoteisme, menjadi sumber primer di dalam riset ini. Analisis data terhadap sumber primer tersebut menggunakan model hermeneutik kritis. Hasil riset ini memperlihatkan bahwa gagasan Freud tentang arkeologi agama monoteisme sangat original dan perlu didialogkan dengan nalar yang kritis. Riset ini secara praksis dapat membantu penganut agama-agama monoteisme dalam merefleksikan pengalaman religiositas yang intim, otentik, dan  obyektif di tengah tantangan ideologi-ideologi besar di dunia. Riset ini menegaskan bahwa gagasan psikoanalisis Freud membuka perspektif kritis dalam memahami asal-usul dan dinamika agama-agama monoteisme.  
Relevansi Pemikiran Pendidikan Ibnu Khaldun Pada Kurikulum Merdeka Berbasis Deep Learning Dalam Mata Pelajaran Sejarah Ersya Maisarah; Fidia Nurkhairunnisa; Miftahuddin
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 12 No 1 (2026): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v12i1.8215

Abstract

Kesenjangan antara realitas pembelajaran sejarah di lapangan yang masih didominasi oleh metode hafalan pasif, dengan tuntutan pendidikan abad ke-21 dan Kurikulum Merdeka yang menghendaki pembelajaran mendalam (deep learning) guna membentuk pemahaman kritis dan penalaran historis peserta didik. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi pemikiran pendidikan Ibnu Khaldun terhadap implementasi Kurikulum Merdeka berbasis Deep Learning dalam mata pelajaran Sejarah. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan desain studi kepustakaan (library research) dengan teknik pengumpulan data melalui dokumentasi dan teknik analisis data dilakukan dengan analisis isi (content analysis) yang dipadukan dengan pendekatan hermeneutika . Hasil penelitian menunjukkan relevansi yang kuat. Filosofi Khaldun yang menekankan pentingnya kontekstualisasi sejarah, pengajaran bertahap (tadarruj), dan perlunya guru menguasai materi secara mendalam (malakah) selaras dengan Kurikulum Merdeka yang mengutamakan pembelajaran yang bermakna (deep learning), diferensiasi, dan penguatan pemahaman kontekstual (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila). Secara khusus, konsep malakah Ibnu Khaldun relevan dengan Deep Learning dalam pembelajaran Sejarah, karena mendorong siswa untuk tidak hanya menghafal fakta, tetapi mencapai internalisasi mendalam yang membentuk kemampuan analisis, sintesis, dan penalaran historis, sejalan dengan tujuan Kurikulum Merdeka. Penerapan model Deep Learning dapat menjadi alat untuk mewujudkan tujuan pendidikan Khaldun dalam konteks kurikulum modern. Integrasi pemikiran pendidikan Ibnu Khaldun khususnya kritik terhadap metode hafalan dan konsep malakah memberikan landasan filosofis yang kuat bagi implementasi Kurikulum Merdeka berbasis Deep Learning pada mata pelajaran Sejarah untuk mentransformasi pembelajaran pasif menjadi proses aktif yang mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan karakter peserta didik secara holistik.  
Menjaga Tradisi, Merawat Harmoni: Studi Historis Nilai Bo Bela Dalam Ritual Sewu Api Di Desa Kelitembu, Ende Marianus Kejapilus Naga; Agustinus Minu Kwure; Yohanes Kapistrano Dhajo; Fransiskus Feriantony Saputra; Maria Paskaliana Deran; Maria Yunita Nenak
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 12 No 1 (2026): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v12i1.8234

Abstract

Penelitian ini mengkaji nilai-nilai yang terkandung dalam larangan adat Bo Bela pada tradisi Sewu Api masyarakat Suku Lio di Desa Kelitembu, Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Bo Bela merupakan pantangan adat yang wajib dipatuhi selama pelaksanaan upacara Sewu Api, yaitu ritual tahunan untuk memohon perlindungan hasil panen dan mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan dan leluhur. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan makna, fungsi, dan nilai-nilai yang terkandung dalam Bo Bela sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode etnografi. Teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, rekam, catat, dan dokumentasi bersama para mosalaki (pemimpin adat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bo Bela mengandung enam nilai utama, yaitu: nilai kedisiplinan dan penghargaan terhadap milik orang lain; nilai spiritual dan religius; nilai kepemimpinan dan keteraturan sosial; nilai ekologis dan tanggung jawab; nilai budaya, kesopanan, dan etika; serta nilai perlindungan ekologis. Nilai-nilai tersebut mencerminkan sistem kearifan lokal yang secara holistik mengatur kehidupan sosial, budaya, spiritual, dan ekologis masyarakat Desa Kelitembu. Kesimpulan Keberadaan Bo Bela mengindikasikan bahwa praktik budaya Suku Lio bukan hanya sekedar upacara, melainkan merupakan suatu sistem nilai yang mengatur secara menyeluruh aspek sosial, spiritual, ekologi, serta budaya komunitas tersebut. Dalam kontek modernisasi dan perubahan sosial yang berlangsung, menjaga dan mendokumentasikan nilai-nilai Bo Bela menjadi sangat krusial agar tidak mengalami pergeseran makna atau bahkan punah dari generasi yang akan datang.  
Menggali Nilai-Nilai Budaya Sejarah yang Terkandung pada Motif Tenun Ikat Jara dan Anggo pada UMKM Tenun Ikat In Roworeke Aenari Rewarangga Winda Deze; Anjelina Tea; Angela Yolanda Mando; Maria Elianti Bupu; Maria Magdalena Wea; Anjelina Patrisia Meno
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 12 No 1 (2026): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v12i1.8236

Abstract

Tenun ikat merupakan warisan budaya yang memiliki nilai historis, sosial, filosofis, dan ekonomi bagi masyarakat Ende, Nusa Tenggara Timur. Salah satu motif yang masih dilestarikan adalah motif Jara dan Anggo yang diproduksi oleh UMKM Tenun Ikat In Roworeke Aenari Rewarangga. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam kedua motif tersebut serta menjelaskan proses produksi tenun ikat sebagai wujud teknologi budaya masyarakat Ende. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnografi. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam dengan ketua komunitas, dokumentasi, dan studi pustaka. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif Jara mengandung nilai historis, sosial, adat, estetika, dan identitas lokal yang berkaitan dengan simbol keberanian leluhur serta fungsi kuda sebagai belis dalam perkawinan adat. Sementara itu, motif Anggo mengandung nilai simbolik-filosofis, sosial-komunal, dan pelestarian identitas budaya yang tercermin dalam makna singgasana adat dan lingkaran gawi sebagai simbol persatuan masyarakat Ende. Penelitian juga menemukan bahwa kedua motif telah memperoleh perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), yang memperkuat pengakuan terhadap identitas budaya lokal. Selain itu, proses produksi tenun ikat yang melibatkan teknik, peralatan tradisional, dan pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun menunjukkan bahwa tenun ikat merupakan bentuk teknologi budaya yang kompleks. Dengan demikian, motif Jara dan Anggo tidak hanya berfungsi sebagai produk ekonomi, tetapi juga sebagai media pelestarian nilai budaya dan pengetahuan tradisional masyarakat Ende.
Pengaruh Penggunaan Aplikasi Wordwall Terhadap Minat Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Sejarah Materi Kerajaan Singasari Kelas X SMA Negeri 19 Palembang Sria Rahayu Ningsih; Nur Ahyani; Nur Syafarudin
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 12 No 1 (2026): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v12i1.8305

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya minat belajar siswa pada mata pelajaran sejarah akibat dominasi metode ceramah yang bersifat konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan aplikasi Wordwall terhadap minat belajar siswa pada mata pelajaran sejarah materi kerajaan singasari kelas X SMA Negeri 19 Palembang. Metode penelitian yang digunaka adalah pendekatan kuantitatif dengan desain pretest-posttest control group. Populasi dalam penelitian yaitu seluruh kelas X dan Sampelnya kelas X.1 sebagai kelas eksperimen dan kelas X.7 sebagai kelas kontrol, masing-masing berjumlah 36 siswa. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, angket minat belajar skala Likert sebanyak 20 pernyataan yang telah dinyatakan valid dan reliabel, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas Shapiro-Wilk, uji homogenitas Levene’s Test, Paired Samples t-test, Welch’s t-test (Independent Samples t-test), dan perhitungan effect size Cohen’s d dengan bantuan Jamovi versi 2.6.44. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa rata-rata skor pretest siswa pada kelas eksperimen mencapai 74,3 naik menjadi 80,3 pada tahap posttest, sedangkan kelas kontrol meningkat dari 73,2 menjadi  76,3. berdasarkan hasil uji Paired Samples t-test pada kelas eksperimen, diperoleh nilai signifikansi < 0,001 dengan nilai Cohen’s d sebesar 0,893. hasil uji Welch’s t-test menunjukkan niali signifikansi sebesar 0,003 < 0,05 sehingga hipotesis alternatif (Ha) diterima dan hipotesis nil (Ho) ditolak. Kesimpulan penelitian ini adalah penggunaan aplikasi wordwall berpengaruh secara signifikansi pada minat belajar siswa dalam pelajaran sejarah materi kerajaan singasari kelas X SMA Negeri 19 Palembang. Aplikasi wordwall mendorong terciptanyas suasana berlajar yang menarik, menyenangkan, dan interaktif sehingga siswa menjadi lebih aktif, fokus, dan antusias dalam mengikuti pembelajaran sejarah.  
Persepsi Masyarakat Terhadap Tradisi Ngamuan Gunung Perak Dalam Upacara Pernikahan Adat Suku Dayak Ma'anyan Di Kecamatan Gunung Bintang Awai, Kabupaten Barito Selatan Anai; Wisnu Subroto; Dewicca Fatma Nadilla
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 12 No 1 (2026): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v12i1.8318

Abstract

Penelitian ini mengkaji persepsi masyarakat terhadap tradisi Ngamuan Gunung Perak dalam upacara pernikahan adat suku Dayak Ma’anyan di Kecamatan Gunung Bintang Awai, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Gunung Perak merupakan elemen ritual paling signifikan dalam pernikahan adat Dayak Ma’anyan, berbentuk menyerupai pohon kehidupan yang dihiasi uang kertas, koin, dan ornamen berwarna emas, putih, dan perak, serta melambangkan rasa syukur, penggenapan sumpah (Antuhan), dan doa bagi kemakmuran serta keharmonisan pengantin baru. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologis untuk memahami bagaimana masyarakat mengalami dan mengaitkan makna dengan tradisi tersebut. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan informan kunci, yaitu mantan pemimpin adat (Mantir Adat), anggota kelompok tari tradisional, dan pasangan yang telah menjalani upacara Gunung Perak, didukung observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles dan Huberman melalui tahap reduksi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan, dengan triangulasi sumber untuk menjaga validitas temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gunung Perak menempati kedudukan sebagai puncak hukum pernikahan adat, baik dari struktur fisik dan makna simbolisnya maupun dari peran sentral Wadian dan Mantir Adat dalam menjaga keasliannya. Penelitian ini juga mengungkap perbedaan persepsi antargenerasi: generasi tua memandangnya sebagai kewajiban sakral, sementara generasi muda lebih memaknainya sebagai simbol identitas budaya. Tradisi ini turut menghadapi ancaman dari pengaruh budaya luar, ketegangan afiliasi keagamaan, dan migrasi penduduk muda ke perkotaan, yang direspons masyarakat melalui strategi pelestarian seperti festival budaya, pendidikan, dan digitalisasi pengetahuan adat. Penelitian ini menegaskan bahwa tradisi Ngamuan Gunung Perak tetap dihormati lintas generasi sebagai representasi penting identitas budaya Dayak Ma’anyan yang diwariskan secara berkelanjutan dari generasi ke generasi.