Articles
115 Documents
NILAI PENDIDIKAN KARAKTER SU’I UWI DALAM RITUAL ADAT REBA PADA MASYARAKAT DESA WOGO KECAMATAN GOLEWA, KABUPATEN NGADA
Bhoki, Modesta;
Sulaiman, Hasti;
Wasa, Damianus R.S
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 2 (2024): Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37478/sajaratun.v9i2.5282
Permasalahan dalam penelitian ini adalah Apa Nilai-nilai Pendidikan Karakter Su’i Uwi dalam Ritual Adat Reba pada Masyarakat Desa Wogo Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui Nilai-nilai Pendidikan Karakter Su’i Uwi dalam Ritual Adat Reba pada Masyarakat Wogo Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan penelitian etnografi. Teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi. Subjek penelitian terdiri dari informan kunci (3 orang) dan informan pendukung (3 orang). Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: 1) Pengumpulan data, 2) Redukasi data, 3) Pemaparan data, 4) Penarikan Kesimpulan. Hasil penelitian menyatakan bahwa Ritual Reba merupakan tradisi yang dianut oleh masyarakat adat kampung Wogo, yang sesungguhnya adalah acara keluarga, acara perdamaian dalam siklus pertanian etnis Ngada. Nilai-nilai pendidikan karakter Su’i Uwi dalam Ritual Adat Reba meliputi: (1) Nilai religius yang terdapat dalam pelaksanaan ritual Su’i Uwi terdeskripsikan dalam pembacaan doa dan permohonan yaitu meminta dan memohon kepada leluhur dan Tuhan agar dalam pelaksanaan Reba maupun Su’i Uwi dapat berjalan dengan lancar. (2) Nilai Jujur dalam upacara Su’i Uwi Pelaksanaan ritual Su’i Uwi merupakan tradisi yang dapat membentuk perilaku (karakter). Pada pelaksanaan ritual Su’i Uwi yakni kedisiplinan, ketenangan, serta patuh dengan perintah ketua adat. (3) Nilai peduli sosial yang terkandung dalam upacara Su’i Uwi ketua suku dan anggota sukunya ikut terlibat dalam upacara Su’i Uwi ini mulai dari awal sampai akhir. (4) Nilai Tanggungjawab dalam pelaksanaan upacara Su’i Uwi tua adat dan warga suku melaksanakan upacara Su’i Uwi sesuai dengan tugas dan tanggungjawab mereka masing-masing. (5) Nilai Kerja Keras dapat disimak bahwa ajaran pokok kehidupan yang telah terbudaya itu adalah tata krama kehidupan manusia yang ditaati yang bernilai universal.
MENALAR PARADOKS KONSEP NASIONALISME, GENERASI EMAS, DAN TEKNOKRASI: PERSPEKTIF ILMU SOSIAL KRITIS
Kenoba, Marianus
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 2 (2024): Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37478/sajaratun.v9i2.5301
AbstractNationalism constitutes a fundamental concept within modern social sciences. However, its interpretation and system of meaning are not always neutral, often leading to paradoxes. This paradox arises from the notion that pragmatic nationalism is influencing the younger generation, which, by 2045, has been conceptualized within the sociopolitical framework as the "golden generation". This generation is inherently perceived as literate and adaptable to the dynamics of contemporary technological "logic." Nonetheless, the latent danger confronting the golden generation is the "ideology" of technocracy embedded in the application of modern technology. This research aims to internalize the concept of objective nationalism as a foundational basis for the golden generation, thereby mitigating the ideological biases present in technocratic systems. The study employs critical hermeneutics as a methodological approach to interpreting the written texts that serve as the primary references for this research. The findings indicate that critical education regarding objective nationalism is vital for strengthening the character of the younger generation, enabling them to confront the rationalizing threats posed by modern knowledge systems. Consequently, the concept of objective nationalism may function as a proactive instrument for the golden generation in addressing the ideological challenges posed by technocracy.
ORNAMEN LEGA JARA PADA RUMAH ADAT SA’O KABI ZUA DI KAMPUNG ULUBELU KECAMATAN GOLEWA KABUPATEN NGADA
Djandon, Maria Gorety
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 2 (2024): Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37478/sajaratun.v9i2.5360
Ornamen Lega Jara merupakan salah satu ukiran pada rumah adat sa’o Kabi Zua yang terdapat pada masyarakat di desa Ulubelu, Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada yang tetap dirawat sampai saat ini. Ornamen lega jara (kuda) ini menurut kepercayaan masyarakat Ulubelu memiliki kekuatan. Kekuatan kuda terletak pada tendangan kakinya sebagai lambang leluhur yang suci dan berwibawa tinggi. Sedangkan lega atau (tas adat yang digunakan oleh seorang pria) sebagai lambang kewibawaan yang tinggi sehingga segala macam roh jahat yang hendak mengganggu keselamatan jiwa dan raga manusia dapat disingkirkan. Sedangkan rumah adat sa’o kabi zua bukan hanya tempat tinggal anggota keluarga saja, melainkan juga sebagai tempat untuk melakukan berbagai upacara adat, dan juga sebagai tempat berkumpulnya roh para leluhurnya. Yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah: makna apa sajakah yang terkandung dalam ornamen lega Jara pada rumah adat Sa’o kabi zua di Kampung Ulubelu Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada.. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna-makna yang terkandung di dalam ornamen lega jara pada sa’o kabi zua. Untuk membedah masalah dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teori Semiotika yang digagaskan oleh Ferdinan de Saussure, mengemukakan bahwa teori semiotik adalah ilmu yang mengkaji tanda dalam kehidupan manusia. Artinya, semua yang hadir dalam kehidupan kita lihat sebagai tanda, yakni sesuatu yang harus kita beri makna. Dengan demikian, apa yang ada dalam kehidupan kita dilihat sebagai “bentuk” yang mempunyai “makna” tertentu. Hubungan antara bentuk dan makna tidak bersifat pribadi, tetapi sosial, yakni didasari oleh “kesepakatan” (konvensi) sosial. Penelitian ini menggunakan jenis peneitian Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitin ini adalah 1) Pengumpulan data, 2) Reduksi data, 3) Penyajian data dan 4) Penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menujukkan bahwa ornament lega jara pada sa’o kabi zua masih tetap dirawat dan dilestarikan oleh masyarakat di desa Ulubelu karena ornament lega jara ini memiliki makna yaitu: makna penghormatan dan penghargaan, makna kebersamaan, dan makna control social bagi masyarakat pendukungnya.
MEMORIA TRAGEDI BANJIR BANDANG DI DESA NELELAMADIKE KECAMATAN ILE BOLENG KABUPATEN FLORES TIMUR TAHUN 2021
Ola Mangu, Oktavianus;
Kenoba, Marianus Ola;
Wati, Fatma
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 2 (2024): Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37478/sajaratun.v9i2.5381
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1) Bagaiman isi memoria masyarakat Nelelamadike mengenai tragedi banjir bandang di Desa Nelelamadike Kecamatan Ile Boleng Kabupaten Flores Timur Tahum 2021? 2) Bagaimana strategi masyarakat Nelelamadike dalam menata kembali memoria traumatis yang pernah dialami secara kolektif? Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) isi memoria masyarakat Nelelamadike mengenai tragedi banjir bandang di Desa Nelelamadike Kecamatan Ile Boleng Kabupaten Flores Timur Tahum 2021. (2) Untuk mengetahui strategi masyarakat Nelelamadike dalam menata kembali memoria traumatis secara kolektif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Informan penelitian ini adalah 7 orang informam utama yang menjadi korban banjir bandang dan kehilangan anggota keluarga dan 5 informan pendukung yang menyaksikan peristiwa banjir bandang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa cuaca sebelum terjadinya peristiwa banjir bandang sangatlah buruk. Masyarakat Nelelamadike sibuk dengan aktivitas mereka dalam merayakan Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus ( Hari Paskah). Tidak lamah setelah hujan lebat redah, terdegar gemuruh disertai getaran yang sangat besar, seperti pesawat berada di atap rumah. Gemuruh besar itu adalah banjir bandang. Kejadian ini terjadi dalam hitungan detik. Semua bangunan, infrastruktur jalan hanyut terbawah banjir, dan juga mengahanyutkan 56 orang. Kondisi psikologis masyarakat Nelelamadike pasca bencana sangat trauma, takut dan cemas, serta timbul rasa stress karena masih terbayang dalam memori warga. Startegi masyarakat Nelelamadike untuk mengatasi trauma setelah bencana berdasarkan hasil temuan peneliti bahwa mereka mendapat dukungan, motivasi dan juga kunjungan dari pihak gereja, mereka juga menyibukkan diri dengan bekerja dan pindah lokasi tempat tinggal. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ingatan atau memori masyarakat Nelelamadike akan kejadian banjir bandang ini akan selalu di ingat dan tidak akan terlupakan. Dan untuk trauma yang dialami masyarakat Nelelamadike sedikit demi sedikit menghilang karena mereka sibuk dengan aktivitas sehari-hari mereka dengan bekerja.
PERAN MANAJEMEN DALAM PENINGKATKAN KUALITAS TENAGA PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
Mete, Yuliana Yenita;
Navi, Lusia Herlina;
Ego, Agnesia Aprilia;
Mina, Estefania Inggrita
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 2 (2024): Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37478/sajaratun.v9i2.5249
Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia secara efektif, yang didukung oleh sumber- sumber lain dalam organisasi untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam dunia pendidikan sumber daya manusia yang kita ketahui adalah tenaga pendidik dan kependidikan, atau sering kita sebut dengan guru. Untuk keberhasilan suatu lembaga pendidikan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memenej tenaga pendidik dan kependidikan. Adapun aktivitas yang dilakukan dalam manajemen tenaga pendidik dan kependidikan diawali dengan perencanaan pegawai ,pengadaan pegawai, pembinaan dan pengembangan pegawai, promosi dan mutasi, pemberhentian pegawai dan terakhir penilaian kinerja pegawai.Tiap-tiap tahapan di lakukan secara runtut untuk menghasilkan tenaga pendidik dan kependidikan yang profesional, handal dan tepat guna. Diharapkan dengan berjalannya kegiatan manajemen tenaga pendidik dan kependidikan dapat menunjang proses kegiatan belajar mengajar di suatu lembaga pendidikan sesuai dengan tujuan sistem pendidikan nasional.
ANALISIS PELAKSANAAN KURIKULUM MERDEKA BELAJAR DI SEKOLAH
Mberong, David;
Remi Rando, Agnes
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 2 (2024): Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37478/sajaratun.v9i2.5448
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Pelaksanaan Kurikulum Merdeka Belajar di Sekolah. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode kajian pustaka. Kurikulum Merdeka merupakan kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana konten akan lebih optimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Guru memiliki keleluasaan untuk memilih berbagai perangkat ajar sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat peserta didik.Didalam pelaksanaannya banyak hal yang dilakukan oleh sekolah agar pelaksanaan kurikulum bisa berjalan dengan baik. Sekolah memberikan sosialisasi kepada orang tua dan peserta didik, dimana peran orang tua dan peserta didik sangat diperluhkan dan merasa bahwa kurikulum merdeka itu membutuhkan dukungan. Pembelajaran di kelas, guru perlu melakukan evaluasi kesiapan implementasi sehingga dapat menyesuaikannya dengan pilihan yang akan dijalankan. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila diajarkan secara kolaboratif (team teaching) oleh guru mata pelajaran. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila terdiri dari sejumlah pendidik yang berperan merencanakan, menjalankan dan mengevaluasi projek. Jumlah tim projek dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan satuan pendidikan, seperti jumlah peserta didik, banyaknya tema yang dipilih dalam satu tahun ajaran.
KONSTRUKSI SOSIAL ATAS HISTORISITAS KONSEP SEKS DAN GENDER: PERSPEKTIF SOSIOLOGI FENOMENOLOGI
Kenoba, Marianus Ola
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 10 No 1 (2025): SAJARATUN: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37478/sajaratun.v10i1.6095
Makna konsep seks dan gender acapkali mengalami distorsi. Implikasinya, struktur pikiran masyarakat awam cenderung mengidentikkan konsep seks dan gender. Padahal, kedua konsep ini memiliki makna dan konteks yang spesifik. Kesesatan dalam kategorisasi konseptual tersebut, disebabkan oleh proses konstruksi sosial-budaya. Konstruksi sosial-budaya atas konsep seks dan gender dapat melahirkan ketidakadilan berbasis gender. Riset tekstual ini menggunakan metode hermeneutika kritis. Gagasan teori sosiologi fenomenologi dimanfaatkan sebagai titian untuk menjembatani kekaburan pemaknaan ordinary peoples atas konsep seks dan gender. Riset ini menemukan bahwa hampir sebagian besar orang awam memiliki sistem pemaknaan yang bias atas konsep seks dan gender. Jadi, riset ini bertujuan untuk mendudukan kembali makna konsep seks dan gender sesuai dengan konteks sistem pemaknaannya.
PENGEMBANGAN GALLERY VISUAL SEJARAH (GVS) PADA MATERI SEJARAH LOKAL BRIGADE RONGGOLAWE BERBASIS WEB
Muhammad Rofiul Alim
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 10 No 1 (2025): SAJARATUN: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37478/sajaratun.v10i1.6114
Sejarah memiliki peranan krusial dalam menumbuhkan wawasan kebangsaan dan semangat nasionalisme pada generasi muda. Pemahaman sejarah yang baik akan memperkuat identitas nasional dan kesadaran terhadap nilai-nilai perjuangan bangsa. Sayangnya, proses pembelajaran sejarah di sekolah masih didominasi oleh pendekatan konvensional, seperti ceramah dan pembacaan buku teks, yang kurang mampu menarik minat siswa secara optimal. Untuk mengatasi keterbatasan pembelajaran sejarah yang monoton, dikembangkanlah Gallery Visual Sejarah (GVS) berbasis website. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan enam tahapan: identifikasi kebutuhan, perumusan tujuan, desain, pengembangan alat ukur, uji coba, dan revisi. Teknik pengumpulan data mencakup wawancara, kuesioner, dan observasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif melalui pendekatan mixed method. Hasil validasi ahli menunjukkan nilai rata-rata 81%, sedangkan uji coba lapangan memperoleh skor rata-rata 89%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa GVS Brigade Ronggolawe layak digunakan dan efektif dalam mendukung pembelajaran sejarah.
STRATEGI ETNOPEDAGOGI DALAM INTERNALISASI NILAI BUDAYA LOKAL
Ratnahayati, Ai;
Siti Hodijah;
Jajang Hendar Hendrawan
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 10 No 1 (2025): SAJARATUN: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37478/sajaratun.v10i1.6117
Penelitian ini membahas revitalisasi nilai budaya lokal melalui etnopedagogi sebagai strategi inovatif dalam pendidikan multikultural. Dalam era globalisasi, nilai-nilai budaya lokal cenderung tergerus oleh arus modernisasi, sehingga diperlukan pendekatan yang dapat mengintegrasikan budaya lokal dalam proses pendidikan. Etnopedagogi menjadi solusi strategis dalam membangun kesadaran multikultural sekaligus memperkuat identitas budaya siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penerapan etnopedagogi dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap keberagaman budaya serta memperkuat nilai-nilai lokal dalam pendidikan multikultural. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus di sekolah menengah atas yang menerapkan pembelajaran berbasis budaya lokal. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi etnopedagogi dalam pendidikan multikultural mampu meningkatkan apresiasi siswa terhadap budaya lokal, memperkuat sikap toleransi, serta mendorong keterlibatan aktif dalam pelestarian budaya. Dengan demikian, etnopedagogi dapat menjadi strategi inovatif yang tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga membangun kesadaran multikultural yang lebih inklusif. Temuan ini merekomendasikan pengembangan kurikulum berbasis budaya lokal sebagai upaya sistematis dalam pendidikan multikultural di Indonesia.
KONFERENSI STOCKHOLM (1972): GERBANG DIALOG PERTAMA MENGENAI ISU LINGKUNGAN HIDUP DI KANCAH INTERNASIONAL
Haidah, Amalina
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 1 (2024): Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37478/sajaratun.v9i1.4305
Perubahan iklim bumi terjadi seiring dengan banyaknya aktivitas manusia, terutama terkait pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak, dan gas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Efek dari adanya aktivitas pembakaran bahan bakar tersebut yaitu terperangkapnya panas sehingga suhu rata-rata di muka bumi dan atmosfer mengalami kenaikan. Fenomena perubahan suhu yang semakin meningkat bersumber dari perilaku manusia yang tidak mampu menjaga dan menghargai lingkungan di sekitarnya. Isu mengenai lingkungan hidup tersebut ternyata bukanlah hal baru, melainkan sudah menjadi pusat perhatian dunia sejak dahulu yang dibahas melalui sebuah konferensi tingkat internasional bernama Konferensi Stockholm. Konferensi Stockholm digagas oleh PBB dan dilaksanakan pada tanggal 5-16 Juni 1972 di Stockholm, Swedia. Konferensi ini menjadi titik puncak kesadaran dunia internasional terhadap pentingnya menjaga lingkungan hidup dan mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Tujuan penulisan artikel ilmiah ini yaitu untuk mengetahui lebih jauh sejarah Konferensi Stockholm dan pengaruhnya terhadap hukum lingkungan di Indonesia saat ini. Metode penulisan artikel ilmiah ini yaitu berupa studi pustaka dengan berpedoman pada tahapan penelitian sejarah heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Adapun hasil dari penelitian ini yaitu Konferensi Stockholm menjadi gerbang dialog pertama bagi negara-negara di dunia untuk membahas mengenai lingkungan hidup yang berkelanjutan. Konferensi ini juga menjadi pedoman bagi pemerintah Indonesia dalam membuat aturan hukum mengenai lingkungan.