cover
Contact Name
Fatma Wati
Contact Email
sajaratununiflor1980@gmail.com
Phone
+6281337006311
Journal Mail Official
sajaratununiflor1980@gmail.com
Editorial Address
Jalan Sam Ratulangi Kelurahan Paupire, Kab. Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur, 85311
Location
Kab. ende,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
SAJARATUN : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Published by Universitas Flores
ISSN : -     EISSN : 28098293     DOI : https://doi.org/10.37478/sajaratun
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Sajaratun ini dulu diterbitkan pertama kali bulan Mei 2016 dengan nama Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Program Studi Pendidikan Sejarah UNIFLOR dan diterbitkan 2 kali setahun dalam bulan Mei dan November. Sekarang akan diterbitkan dengan nama SAJARATUN dan terbit pada bulan Juni dan Desember.
Articles 107 Documents
Fungsi Moke Dalam Menjaga Nilai-Nilai Tradisi Dan Kekeluargaan Pada Komunitas Adat Lisedetu Kecamatan Wolowaru Kabupaten Ende Makin, Aventinus Nikolaus Doni Ola Aneng; Hoban, Nong; Sulaiman, Hasti
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 2 (2024): Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v9i2.5256

Abstract

Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah apa fungsi moke dalam menjaga nilai-nilai tradisi dan kekeluargaan pada komunitas adat di Desa Lisedetu Kecamatan Wolowaru Kabupaten Ende? Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui fungsi moke dalam menjaga nilai-nilai tradisi dan kekeluargaan pada komunitas adat di Desa Lisedetu Kecamatan Wolowaru Kabupaten Ende. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan penelitian kualitatif, pengumpulan data menggunakan teknik abservasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: 1) pengumpulan data, 2) reduksi data, 3) penyajian data, 4) penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi minuman moke telah menjadi kebudayaan yang sangat melekat pada ciri khas masyarakat Nusa Tenggara Timur di Kabupaten Ende khususnya di Desa Lisedetu. Kebiasaan mengkonsumsi moke sudah cukup meluas di masyarakat. Kebiasaan ini selain banyak dijumpai di acara adat, pesta sambut baru, acara nikah dan hajat-hajat lainnya sudah dianggap sebagai minuman tradisional dan wajib disajikan pada saat upacara adat di setiap kampung. Moke juga memiliki makna sebagai simbol penghormatan terhadap leluhur, simbol persaudaraan dan warisan budaya dan juga memiliki nilai-nilai keharmonisan dan nilai ekonomis dalam konteks adat masyarakat desa Lisedetu.
PEMANFAATAN BENGKEL SEJARAH SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH Uma, Susana Windira; Anita; Samingan
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 2 (2024): Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v9i2.5265

Abstract

Manfaat Bengkel Sejarah sebagai media pembelajaran berdasarkan hasil temuan rumusan masalah diantaranya yaitu: 1). Memberikan pengalaman belajar yang lebih kongkrit bagi mahasiswa. Tujuannya adalah menciptakan pengalaman belajar yang dapat dihubungkan dengan peserta didik pada tingkat pribadi. 2) Koleksi-koleksi kebudayaan sebagai sumber belajar bisa didapatkan dengan mudah tidak memerlukan waktu yang banyak karena telah tersedia di bengkel sejarah. 3) Materi yang diberikan dosen akan lebih mudah dipahami oleh mahasiswa karena melihat langsung benda yang tersedia. 4) Sebagai referensi untuk mahasiswa sebagai calon guru sejarah. Menurut kamus besar bahasa Indonesia referensi mengacu pada sumber acuan (rujukan petunjuk). Koleksi yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar memuat informasi tertentu yang bisa memberikan jawaban terhadap pertanyaan. 5) Menumbuhkan sikap positif mahasiswa dalam menilai pentinya menjaga hasil kebudayaan. Mengintegrasikan bengkel sejarah dengan pembelajaran sejarah yang dilakukan oleh dosen berdasarkan hasil temuan rumusan masalah dalam prodi pendidikan sejarah diantaranya yaitu: 1) Dosen melihat keterkaitan bengkel sejarah dengan Standar Kompetensi yang telah dirancang. 2) Mengidentifikasi topik yang akan dibahas sehingga mahasiswa mengetahui fokus materi yang akan dipelajari, dosen menjelaskan pokok pembahasan kepada mahasiswa. 3) Menjelaskan isi materi dengan memanfaatkan benda-benda koleksi sebagai referensi data. 4) Dosen memberikan umpan balik atas pemahaman mahasiswa terhadap isi penjelasan dosen berupa pertanyaan diberikan kepada mahasiswa untuk bisa menjelaskan dengan kalimatnya sendiri sebagai bentuk kreatifitas mahasiswa dalam mengelola informasi yang didapatkan. Bengkel sejarah berfungsi sebagai media pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam memahami materi sejarah.
EKSISTENSI KEARIFAN LOKAL CITA RASA MAKANAN KHAS KULINER UWI NDOTA ADAT SUKU KOTO DI DESA WAJO KECAMATAN KEO TENGAH KABUPATEN NAGEKEO Tolo, Maria Viana; Dentis, Yosef; Wasa, Damianus R.S
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 2 (2024): Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v9i2.5268

Abstract

Masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana eksistensi tradisi uwi ndota sebagai kearifan lokal masyarakat Suku Koto?. (2) Bagaimanakah cita rasa makanan khas uwi ndota masyarakat Suku Koto?. (3) Apasajakah nilai-nilai kearifan lokal dalam tradisi uwi ndota masyarakat Suku Koto?. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan; (1) Memberikan gambaran dari pelaksanaan tradisi uwi ndota sebagai kearifan lokal masyarakat Suku Koto. (2) Mengetahui cita rasa makanan khas uwi ndota masyarakat Suku Koto. (3) Menjelaskan nilai-nilai kearifan lokal dalam tradisi uwi ndota masyarakat Suku Koto. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Subjek dalam penelitian ini seluruh masyarakat kampung Wajo yang melaksanakan kegiatan adat uwi ndota. Teknik pengumpulan data di lakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles and Huberman, dengan komponenya, yaitu: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarik kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka disimpulkan bahwa 1) Eksistensi yang tetap dipertahankan oleh masyarakat suku Koto yaitu: a) uwi ndota menjadi makanan khas tradisional yang kemunculannya dari jaman leluhur yang terus dipertahankan sampai sekarang; b) uwi ndota keberadaanya sampai sekarang yang menjadi simbol atau icon dan makanan tersebut disajikan sesajian untuk leluhur. 2) Cita rasa uwi ndota yaitu: a) uwi ndota mempunyai ciri khas aroma atau bau yaitu memiliki cita rasa yang enak dan wangi; b) uwi ndota merupakan makanan yang sangat disukai oleh semua kalangan dengan cita rasa yang nikmat dan enak karena dipadukan dengan rasa daging. 3) Nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam tradisi uwi ndota yaitu: a) nilai religius, kegiatan masyarakat yang meyakini terhadap kekuasaan tertinggi yang dikenal dengan sebutan “dewa reta ngga’e rade” dan “embu kajo sipo ri’a sagho modo kami” yang meyakini Tuhan kekuasaan tertinggi serta leluhur yang selalu menjaga kami; b) nilai sosial budaya, berkaitan dengan tradisi uwi ndota yakni kerjasama atau gotong royong yang menjadi tulang punggung dalam berkehidupan; c) nilai historis, sebagai peristiwa berulang yang diwariskan oleh leluhur sejalan dengan kepercayaan yang dilestarikan oleh generasi penerusnya.
MAKNA MISTIS DAN KEUTAMAAN HIDUP DALAM FOLKLOR HIGI MITAN PADA MASYARAKAT DI DESA KLOANGPOPOT KECAMATAN DORENG KABUPATEN SIKKA Diruk, Dominika Delsiana; Kenoba, Marianus Ola; Djandon, Maria Gorety
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 2 (2024): Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v9i2.5271

Abstract

Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah 1) Apa makna mistis dari folklor Higi Mitan pada masyarakat di Desa Kloangpopot Kecamatan Doreng Kabupaten Sikka? 2) Apa saja nilai-nilai keutamaan hidup dalam folklor Higi Mitan pada masyarakat di Desa Kloagpopot Kecamatan Doreng Kabupaten Sikka? Tujuan penelitian ini adalah 1) Untuk mengetahui makna mistis dalam folklor Higi Mitan pada masyarakat di Desa Kloangpopot Kecamatan Doreng Kabupaten Sikka. 2) Untuk mengetahui nilai-nilai keutamaan hidup dalam folklor Higi Mitan pada masyarakat di Desa Kloangpopot Kecamatan Doreng Kabupaten Sikka. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif, dengan menggunakan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi non-partisipan, wawancara, dan dokumentasi. Subjek dalam penelitian ini terdiri dari 2 orang informan kunci, dan 7 orang informan pendukung. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1) Pengumpulan data, 2) Reduksi data, 3) Penyajian data, 4) Penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa folklor Higi Mitan memiliki makna mistis yang sangat melekat dengan kehidupan masyarakat di Desa Kloangpopot Kecamatan Doreng Kabupaten Sikka. Folklor Higi Mitan mempresentasikan sistem keyakinan dan kepercayaan masyarakat terhadap “Ina nian tana wawa; Ama lero wulan reta” sebagai Wujud Tertinggi yang harus di patuhi dan ditaati. Folklor Higi Mitan juga mengandung empat nilai keutamaan hidup yang berkenaan dengan kehidupan masyarakat diantaranya: Nilai keharmonisan, Nilai kemanusiaan, Nilai solidaritas, dan Nilai kebersamaan di dalam kolektivitas.
MAKNA FILOSOFI TRADISI MASO LANGO (MASUK RUMAH BARU) DI DESA DULI JAYA KECAMATAN TITEHENA KABUPATEN FLORES TIMUR Ratu Kelen, Floribertus Yosua; Dentis, Yosef; Dhiki, Katarina
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 2 (2024): Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v9i2.5273

Abstract

Masalah dalam penelitian ini adalah: 1). Bagaimana proses tradisi maso lango (masuk rumah baru) di Desa Duli Jaya, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur? 2). Apa makna filosofi maso lango (masuk rumah baru) di Desa Duli Jaya, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur? Tujuan dalam penelitian ini adalah: 1). Untuk mengetahui proses pelaksanaan tradisi maso lango (masuk rumah baru) di Desa Duli Jaya, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur. 2). Untuk mengetahui makna filosofi maso lango (masuk rumah baru) di Desa Duli Jaya, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Subyek dalam penelitian ini terdiri dari 2 orang informan kunci dan 4 orang informan pendukung. Data dianalisis secara kualitatif yang terdiri dari tahap pengumpulan data, tahap reduksi data, tahap penyajian data, dan tahap penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa proses pelaksanaan tradisi maso lamgo (masuk rumah baru) terdiri dari beberapa tahap, diantaranya: 1). Tahap awal sebelum pelaksanaan ritual maso lango (masuk rumah baru). 2). Tahap ritual maso lango (masuk rumah baru). 3). Tahap akir setelah ritual maso lango (masuk rumah baru). Dalam tradisi maso lango (masuk rumah baru) terdapat makna filosofi yang menjadi pedoman dan pegangan dalam kehidupan selanjutnya. Tradisi maso lango (masuk rumah baru) dimaknai sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih kepada leluhur atas rezeki yang diberikan sehingga bisa membangun rumah baru.
MANAJEMEN SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN Fatima, Noviana Deam; Imbiri, Nelci Ester Anace; Baharu, Reiner Valerio; Mete, Yuliana Yenita
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 2 (2024): Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v9i2.5275

Abstract

Manajemen sekolah dapat diartikan sebagai proses mengenai perencnaan, pengorganisasian, penggerakan, serta pengawasan dengan tujuan untuk , Mencapai tujuan suatu Lembaga yang telah ditentukan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui manajemen sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan, dengan meliputi: perencanaan kurikulum, program pembelajaran, penggunaan sumber daya, dan pengalokasian dana, menciptakan lingkungan belajar yang efektif, mengembangkan potensi siswa, dan meningkatkan prestasi akademik dan bagaimana Kerja sama yang baik dari seluruh anggota sekolah. Penelitian ini menganalisis bagaimana penerapan prinsip-prinsip manajemen yang efektif, meliputi perencanaan strategis, pengorganisasian sumber daya (termasuk SDM, keuangan, dan sarana prasarana), penggerakan dan pengawasan, dapat berdampak signifikan pada peningkatan kualitas pembelajaran, prestasi siswa, dan iklim sekolah yang kondusif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen sekolah yang partisipatif, transparan, dan akuntabel, serta berorientasi pada peningkatan kapasitas guru dan pemberdayaan siswa, merupakan faktor kunci keberhasilan. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kebijakan dan praktik manajemen sekolah yang lebih efektif dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.
RESISTENSI MASYARAKAT ADAT RENDU TERHADAP PEMBANGUNAN WADUK LAMBO DI DESA RENDUBUTOWE KECAMATAN AESESA SELATAN KABUPATEN NAGEKEO Azi, Maria Anjelina; Samingan, Samingan; Seto Se, Bonaventura R.
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 2 (2024): Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v9i2.5277

Abstract

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) Apa Latar Belakang Resistensi Masyarakat Adat Rendu Terhadap Pembangunan Waduk Lambo? 2) Bagaimana Proses Resistensi Masyarakat Adat Rendu Terhadap Pembangunan Waduk Lambo? 3) Bagaimana Solusi Mengatasi Resistensi Masyarakat Adat Rendu Terhadap Pembangunan Waduk Lambo?. Tujuan dalam penelitian ini adalah: 1) Untuk menegetahui apa latar belakang resistensi masyarakat adat Rendu terhadap pembangunan waduk Lambo. 2) Untuk mengetahui bagaimana proses resistensi masyarakat adat rendu terhadap pembangunan waduk lambo. 3) untuk mengetahui bagaimana solusi untuk mengatasi resistensi masyarakat adat rendu terhadap pembangunan waduk lambo. Penelitian ini menggunakan metode sejarah. subjek dalam penelitian ini terdiri dari informan kunci dan informan pendukung. Teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: 1) Pengumpulan Data, 2) Reduksi data, 3) Penyajian data 4) Penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menyatakan bahwa waduk merupakan bendungan yang di buat oleh manusia dengan maksud untuk menampung air yang nantinya dimanfaatkan bagi pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Waduk ini memiliki banyak manfaat bagi masyarakat itu sendiri yaitu: 1) penyediaan air baku, 2) air irigasi persawahan 3) budidaya ikan air tawar, dan 4) pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Untuk pembangunan waduk tersebut, membutuhkan tanah sebagai lahan pembangunan waduknya. Akan tetapi, tanah-tanah ini umumnya milik masyarakat, sehingga pemerintah harus melakukan pembebasan.
MAKNA SIMBOLIK MOTIF KHAS LAWO/SARUNG KELIMARA ENDE LIO Kusi, Josef
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 2 (2024): Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v9i2.5280

Abstract

Permasalahan dalam penelitian ini adalah apa makna simbol motif khas lawo/ sarung kelimara di kampung adat Wolotopo, Kabupaten Ende Flores Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan dan mendeskripsikan makna simbol motif khas lawo / Sarung kelimara di kampung adat Wolotopo Ndona Ende - Lio, Kabupaten Ende Flores Nusa Tenggara Timur. Metode yang digunakan dalam Penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Tehnik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi . Teknik analisis data dalam penelitian ini reduksi data, pemaparan data dan kesimpulan. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa makna motif khas lawo/ sarung kelimara Ende –Lio adalah simbol kehidupan, kasih sayang serta cinta yang dicurahkan Tuhan adalah sumber kasih sejati kepada manusia. Selain itu mengadung makna kesuburan dan juga keindahan. Kelimara adalah salah satu lawo / sarung saat ini cukup terkenal dikalangan masyarakat Ende-Lio, hal dikarenakan motifnya yang indah, sehingga kebanyakan kaum perempuan sebagai sarung idola. Sarung lawo / sarung kelimara dikenakan pada berbagai acara seperti pesta perkawina, ritual adat, hari raya, pernikahan, dan juga busana bagi kelompok tertentu dalam membawakan suatu acara kedinasan dan acara kegiatan sosial lainnya . Keindahan lawo / sarung kelimara selain motif gunung yang indah, juga paduan aneka warna seperti warna kuning melambangkan kesuburan kaum perempuan, pratanda seorang gadis dapat dipersunting oleh seorang pemuda. Warna Putih melambangkan kesucian atau keperawanan seorang gadis. Warna merah melambangkan keberanian serta semangat kerja. Warna hitam melambangkan kekuatan, keagungan dan gagah. Warna biru tua melambangkan kebijksanaan dan dipercaya. Demikian halnya bila kaum perempuan Ende-Lio mengenakan lawo/sarung kelimara pada acara-acara tertentu nampak cantik, anggun, gagah, mempesona serta bijaksana sehingga memikat hati setiap orang yang memandangnya.
NILAI PENDIDIKAN KARAKTER SU’I UWI DALAM RITUAL ADAT REBA PADA MASYARAKAT DESA WOGO KECAMATAN GOLEWA, KABUPATEN NGADA Bhoki, Modesta; Sulaiman, Hasti; Wasa, Damianus R.S
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 2 (2024): Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v9i2.5282

Abstract

Permasalahan dalam penelitian ini adalah Apa Nilai-nilai Pendidikan Karakter Su’i Uwi dalam Ritual Adat Reba pada Masyarakat Desa Wogo Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui Nilai-nilai Pendidikan Karakter Su’i Uwi dalam Ritual Adat Reba pada Masyarakat Wogo Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan penelitian etnografi. Teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi. Subjek penelitian terdiri dari informan kunci (3 orang) dan informan pendukung (3 orang). Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: 1) Pengumpulan data, 2) Redukasi data, 3) Pemaparan data, 4) Penarikan Kesimpulan. Hasil penelitian menyatakan bahwa Ritual Reba merupakan tradisi yang dianut oleh masyarakat adat kampung Wogo, yang sesungguhnya adalah acara keluarga, acara perdamaian dalam siklus pertanian etnis Ngada. Nilai-nilai pendidikan karakter Su’i Uwi dalam Ritual Adat Reba meliputi: (1) Nilai religius yang terdapat dalam pelaksanaan ritual Su’i Uwi terdeskripsikan dalam pembacaan doa dan permohonan yaitu meminta dan memohon kepada leluhur dan Tuhan agar dalam pelaksanaan Reba maupun Su’i Uwi dapat berjalan dengan lancar. (2) Nilai Jujur dalam upacara Su’i Uwi Pelaksanaan ritual Su’i Uwi merupakan tradisi yang dapat membentuk perilaku (karakter). Pada pelaksanaan ritual Su’i Uwi yakni kedisiplinan, ketenangan, serta patuh dengan perintah ketua adat. (3) Nilai peduli sosial yang terkandung dalam upacara Su’i Uwi ketua suku dan anggota sukunya ikut terlibat dalam upacara Su’i Uwi ini mulai dari awal sampai akhir. (4) Nilai Tanggungjawab dalam pelaksanaan upacara Su’i Uwi tua adat dan warga suku melaksanakan upacara Su’i Uwi sesuai dengan tugas dan tanggungjawab mereka masing-masing. (5) Nilai Kerja Keras dapat disimak bahwa ajaran pokok kehidupan yang telah terbudaya itu adalah tata krama kehidupan manusia yang ditaati yang bernilai universal.
MENALAR PARADOKS KONSEP NASIONALISME, GENERASI EMAS, DAN TEKNOKRASI: PERSPEKTIF ILMU SOSIAL KRITIS Kenoba, Marianus
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 9 No 2 (2024): Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v9i2.5301

Abstract

AbstractNationalism constitutes a fundamental concept within modern social sciences. However, its interpretation and system of meaning are not always neutral, often leading to paradoxes. This paradox arises from the notion that pragmatic nationalism is influencing the younger generation, which, by 2045, has been conceptualized within the sociopolitical framework as the "golden generation". This generation is inherently perceived as literate and adaptable to the dynamics of contemporary technological "logic." Nonetheless, the latent danger confronting the golden generation is the "ideology" of technocracy embedded in the application of modern technology. This research aims to internalize the concept of objective nationalism as a foundational basis for the golden generation, thereby mitigating the ideological biases present in technocratic systems. The study employs critical hermeneutics as a methodological approach to interpreting the written texts that serve as the primary references for this research. The findings indicate that critical education regarding objective nationalism is vital for strengthening the character of the younger generation, enabling them to confront the rationalizing threats posed by modern knowledge systems. Consequently, the concept of objective nationalism may function as a proactive instrument for the golden generation in addressing the ideological challenges posed by technocracy.

Page 8 of 11 | Total Record : 107