cover
Contact Name
Mawaddah Ar Rachmah
Contact Email
neurona.perdossi@gmail.com
Phone
+6282130377088
Journal Mail Official
baybasalamah@gmail.com
Editorial Address
SEKRETARIAT PP PERDOSSI Apartemen Menteng Square, Tower A Blok R-19 Jl. Matraman nomor 30E, RT.5/RW.6, Kenari, Kec. Senen, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10430
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Neurona
ISSN : 02166402     EISSN : 25023748     DOI : https://doi.org/10.52386/neurona
Core Subject : Health, Science,
Neurona merupakan satu-satunya jurnal yang memuat perkembangan penelitian dan kasus terbaru bidang neurosains oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf (PERDOSSI) Pusat di Indonesia. Jurnal ini diterbitkan bulan Maret, Juni, September dan Desember. Bidang studi cakupan NEURONA meliputi: Stroke dan Pembuluh darah Neurotrauma Neuroonkologi Neuro Infeksi Neuro Behavior Neurorestorasi Neuropediatri Gangguan Tidur Nyeri Kepala Neurootologi Neuro Intervensi Neuro Intensif Neurogeriatri Gangguan Gerak Epilepsi Neuro Epidemiologi
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 35 No 2 (2018)" : 12 Documents clear
NILAI NORMAL LATENSI DAN AMPLITUDO GELOMBANG VISUAL EVOKED POTENTIAL PADA USIA DEWASA Wijaya, Ade; Hakim, Manfaluthy; Ibrahim, Nurhadi; Prihartono, Joedo
Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Vol 35 No 2 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i2.2

Abstract

NORMATIVE VALUES OF VISUAL EVOKED POTENTIALS` LATENCIES AND AMPLITUDES IN ADULTSABSTRACTIntroduction: Visual evoked potentials (VEP) is used to assess the visual pathway through the optic nerves and brain. VEP wave can be affected by physiological and non-physiological factors; some of which can be controlled, while others cannot. Thus, each VEP laboratory needs its own set of normative values. A normal VEP response to a stimulus is a positive occipital peak that occurs at a mean latency of 100ms. Most of the published normal value originated from abroad where demographical and environment condition are considered less appropriate with Indonesian population.Aims: To established normal value of adult VEP latency and amplitude in Clinical Naeurophysiology Laboratori- um, Neurology Clinic Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta.Method: A cross-sectional study on healthy subject between 18 to 55 years old. The anthropometric parameters including age, height, weight, body mass index and head circumference were recorded in all the subjects. VEP was record- ed with a Caldwell Sierra Summit machine and standard silver-silver chloride disc electrodes. A VEP monitor displaying checker board was used to give the pattern reversal stimulus. The VEP parameters recorded were latencies to P100 waves.Results: P100 latencies on 110 subjects, 55 male, and 55 female upon recording at  32’ check size were 117ms in male and 119 ms in female. Upper normal limit of interocular latency difference values in recording at the same size were 10,96ms in male and 10,2ms in female. No significant differences of P100 latencies between male and female were found, but there were significant differences in amplitudes.Discussion: In our population, gender is an important factor affecting P100 amplitudes but not P100 latencies.Keywords: Amplitude, latency, P100, visual evoked potentialABSTRAKPendahuluan: Visual evoked potentials (VEP) digunakan untuk menilai jaras visual dari nervus optikus hingga korteks visual. Gelombang VEP dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor fisiologis dan non-fisiologis yang tidak semua dapat dikontrol, sehingga diperlukan referensi nilai normal latensi dan amplitudo gelombang VEP untuk di setiap laborato- rium. Sejauh ini mayoritas referensi berasal dari studi di luar negeri yang secara demografi maupun kondisi setempat dapat kurang sesuai dengan populasi di Indonesia.Tujuan: Mengetahui  nilai normal latensi dan amplitudo gelombang VEP pada subjek dewasa di Laboratorium Neurofisiologi Klinik, Poliklinik Saraf RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, sebagai referensi pemeriksaan VEP di kemudian hari.Metode: Studi potong lintang pada subjek sehat berusia antara 18 hingga 55 tahun. Subjek diukur antropometri, seperti usia, tinggi badan, berat badan, indeks massa tubuh, dan lingkar kepala. Perekaman VEP menggunakan alat Cald- well Sierra Summit, dan elektroda elektroensefalografi (EEG) standar. Stimulus VEP menggunakan layar berpola dan metode transient pattern reversal. Parameter VEP yang direkam adalah latensi dan amplitudo P100.Hasil: Pada perekaman terhadap 110 subjek yang terdiri dari 55 subjek laki-laki dan 55 subjek perempuan dengan ukuran kotak 32’, nilai batas atas latensi gelombang P100 adalah 117ms pada laki-laki dan 119ms pada perempuan. Nilai batas atas perbedaan latensi interokular pada perekaman dengan ukuran kotak yang sama adalah 10,96ms untuk laki-laki dan 10,2ms untuk perempuan. Tidak ada perbedaan bermakna antara latensi gelombang P100 pada kelompok laki-laki dan perempuan, tetapi terdapat perbedaan amplitudo P100 yang bermakna antara kelompok laki-laki dan perempuan.Diskusi: Terdapat perbedaan yang bermakna pada rerata amplitudo P100 antara subjek laki-laki dan perempuan pada perekaman dengan ukuran kotak 16’ maupun 32’.Kata kunci: Amplitudo, latensi, P100, visual evoked potentials
ANALISIS KORELASI SKOR GEJALA TOTAL, NYERI, DAN KUALITAS HIDUP SETELAH PENGOBATAN VITAMIN B1, B6, DAN B12 DOSIS TINGGI PADA NEUROPATI PERIFER Hakim, Manfaluthy; Kurniani, Nani; Pinzon, Rizaldy; Tugasworo, Dodik; Basuki, Mudjiani; Haddani, Hasnawi; Pambudi, Pagan; Fithrie, Aida; Wuysang, Audry Devisanty
Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Vol 35 No 2 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i2.3

Abstract

CORRELATION ANALYSIS OF TOTAL SYMPTOM SCORE, PAIN, AND QUALITY OF LIFE POST HIGH DOSE VITAMIN B1, B6, DAN B12 TREATMENT IN PERIPHERAL NEUROPATHYABSTRACTIntroduction: Peripheral neuropathy (PN) is a clinical condition in which nerves of the peripheral nervous system are damaged and is associated with various symptoms affecting the patients’ quality of life (QoL).Aims: To understand the  effect of Vitamin B1, B6, and B12 combination in mild to moderate PN.Methods: This is a prospective, open label, multicenter, single arm observational study involved 399 subjects with PN of different etiology. Subjects received the vitamin B1, B6, and B12 combination tablet orally once daily and were observed for 3 months. Total symptom score (TSS), visual analog score (VAS) and QoL were assessed, and the correlation between these parameters was analyzed.Results: Clinically significant reductions were observed from baseline to subsequent visits for TSS and VAS. Positive correlation  was observed between TSS and components of VAS. The study treatment was associated with a significant improvement in QoL parameters. Inverse correlation was observed between QoL and TSS as well as QoL and components of VAS. The study treatment was found to be well tolerated.Discussion: The correlation  analysis between different outcome measures demonstrated the beneficial effect of combination of vitamin B1, B6, and B12 in relief from symptoms and improvement in QoL of PN.Keyword: Correlation analysis, peripheral neuropathy, SF-8, TSS, VAS, vitamin B1, B6, and B12ABSTRAKPendahuluan: Neuropati perifer (NP) merupakan kondisi klinis akibat kerusakan pada sistem saraf tepi yang memengaruhi kualitas hidup (quality of life/QoL) pasien.Tujuan: Mengetahui efek pemberian kombinasi vitamin B1, B6, and B12 pada NP ringan hingga sedang.Metode: Penelitian observasional dan prospektif secara open label, multisenter, dan single arm, yang melibatkan 399 subjek penderita neuropati perifer dengan etiologi yang berbeda-beda. Subjek mengonsumsi tablet kombinasi vitamin B1, B6, and B12 secara oral satu kali sehari dan diamati selama 3 bulan. Dilakukan penilaian skor gejala total (total symptom score/TSS), visual analog scale (VAS), dan QoL, serta korelasi antara parameter-parameter tersebut.Hasil: Terdapat penurunan TSS dan VAS yang bermakna secara klinis antara baseline (awal) dengan kunjungan berikutnya. Terdapat korelasi yang positif antara TSS dengan komponen-komponen VAS. Pemberian perlakuan dalam penelitian berkorelasi secara bermakna dengan perbaikan parameter dalam QoL. Teramati juga adanya hubungan terbalik antara QoL dengan TSS serta QoL dan komponen VAS. Pengobatan pada penelitian ini juga terbukti dapat ditoleransi dengan baik.Diskusi: Analisis korelasi antara berbagai macam metode pengukuran yang berbeda menunjukkan manfaat dari pemberian kombinasi vitamin B1, B6, and B12 dalam mengurangi gejala dan perbaikan QoL pada pasien PN.Kata kunci: Analisis korelasi, neuropati perifer, kualitas hidup, SF-8, TSS, VAS, vitamin B1, B6, and B12
EFEKTIVITAS TERAPI CERMIN TERHADAP PERBAIKAN MOTORIK LENGAN PASIEN STROKE ISKEMIK AKUT Machyono, Machyono; Tammasse, Jumraini; Kaelan, Cahyono; Muis, Abdul; Ganda, Idham Jaya
Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Vol 35 No 2 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i2.4

Abstract

EFFECTIVENESS OF MIRROR THERAPY ON RECOVERY OF ARM MOTOR FUNCTION IN PATIENTS WITH ACUTE ISCHEMIC STROKEABSTRACTIntroduction: Disability after stroke often happens and burden patients to perform their daily activity. Mirror therapy is an intervention focused on hand and leg movement of the affected side based of mirror neuron principal. This new technique using mirror is simple, affordable, and effective.Aim: To investigate the effectiveness of mirror therapy (MT) on recovery of arm motor function in patients with acute ischemic stroke.Methods: Randomized clinical trial with parallel design an patient with ischemic stroke admitted to Dr. Wahidin Sudirohusodo Hospital, Makassar, June to July 2017. Subjects were allocated into standard with mirror therapy group and standard therapy alone. Mirror therapy was done for 30 minutes everyday for 10 days. Action Research Arm Test (ARAT) at the first and the tenth day were compared using independent t test.Results: There were 32 subjects with 16 subjects in each group. Majority of subjects were men (59,4%), age 45-54 years (31,2%), had history of hypertension (81,2%), came at the third day of onset (28,1%), and a right side motor deficit (59,4%). Difference in ARAT score was higher in group receiving standard + mirror therapy than in group receiving standard therapy alone (15,56 vs 7,69).Discussion: Arm motor function recovery were significant on group receiving standard + mirror therapy compared to control after 10 days of intervention, especially grasping movement.Keywords: Action research arm test, ischemic stroke, mirror therapyABSTRAKPendahuluan: Kelumpuhan ekstremitas pascastroke merupakan masalah yang sering terjadi dan sangat mengganggu pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Terapi cermin merupakan terapi intervensi yang difokuskan pada gerakan tangan atau kaki yang paresis akibat stroke dengan prinsip mirror neuron. Teknik ini relatif baru, sederhana, murah, dan efektif dengan menggunakan bantuan cermin.Tujuan: Mengetahui efektivitas terapi cermin terhadap perbaikan motorik lengan pada pasien stroke iskemik akut.Metode: Uji klinis terandomisasi dengan desain paralel  terhadap pasien stroke iskemik akut yang dirawat di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar pada bulan Juni hingga Juli 2017. Subjek dibagi menjadi kelompok terapi yang mendapatkan tambahan terapi cermin dan kelompok kontrol yang hanya mendapatkan terapi standar. Terapi cermin dilakukan 30 menit setiap hari selama sepuluh hari. Dilakukan perbandingan skor action research arm test (ARAT) sebelum dan sesudah terapi dengan uji t tidak berpasangan.Hasil: Didapatkan 32 subjek yang masing-masing terdiri dari 16 subjek pada tiap kelompok. Mayoritas subjek adalah laki-laki (59,4%), usia 45-54 tahun (31,2%), memiliki riwayat hipertensi (81,2%), onset terbanyak pada hari ke-3 (28,1%), dan memiliki gangguan motorik pada sisi kanan (59,4%). Rerata selisih skor ARAT lebih tinggi pada kelompok terapi standar dan terapi cermin dibandingkan kelompok terapi standar saja (15,56 vs 7,69).Diskusi: Terdapat perbaikan fungsi motorik lengan yang signifikan antara kelompok dengan terapi cermin dan kelompok kontrol setelah 10 hari terapi cermin, terutama pada gerakan menggenggam (grasp).Kata kunci: Action research arm test, stroke iskemik, terapi cermin
POLA DISTRIBUSI NYERI ALIH DAN POSISI TUBUH PENCETUS NYERI SENDI SAKROILIAKA Siahaan, Yusak Mangara Tua; Puspitasari, Vivien; Hartoyo, Vinson
Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Vol 35 No 2 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i2.5

Abstract

REFERRAL PAIN DISTRIBUTION PATTERN AND TRIGGERING POSITION OF SACROILIAC JOINT PAINABSTRACTIntroduction: sacroiliac joint (sIJ) contribution to cause low back pain is still widely debated. sIJ is hardly distinguished from facet joint pain or other musculoskeletal disorder causing low back pain and leads to diagnostic difficulties. There are several factors that contribute to SIJ pain diagnosis, which are referral pain area and triggering position.Aim: To investigate the distribution pattern of referral pain and position that could trigger the sacroiliac joint pain.Method: Patients with complaints of pain in buttock area and diagnosed as sIJ pain by intra articular block diagnostic test at Neurology Clinic of of siloam Hospitals Lippo Village between August to december 2017 were interviewed to record the area of referral pain and position which triggered the pain.Results: 114 subjects with complaint of buttock pain, ratio between men and women was 1:2.35 (n=34 and 80), were included in this study. Posterior compartment of the thigh (19.3%, n=22) is the most common referral pain area followed by lateral part of the thigh (11.4%, n=13). Getting up from sitting position and long period of sitting were the two most dominant factors that could trigger pain (61.4%, n=70 and 49.1%, n=56).Discussion: The referral pain distribution pattern of sacroiliac joint pain was dominated by the posterior part and lateral part of thigh, while getting up from sitting and long period of sitting is found in majority of the subjects as the most dominant triggering position.Keywords: Pain pattern, sacroiliac joint pain, triggering positionABSTRAKPendahuluan: Kontribusi nyeri sendi sakroiliaka sebagai penyebab nyeri pinggang masih menjadi perdebatan. Secara klinis, nyeri sendi sakroiliaka sulit dibedakan dengan nyeri sendi faset lumbal maupun gangguan muskuloskeletal lainnya sehingga menyulitkan dalam diagnosis. Terdapat faktor yang memengaruhi terjadinya nyeri sendi sakroiliaka antara lain posisi tubuh yang mencetuskan nyeri dan area nyeri alih yang menyertainya.Tujuan: Untuk mengetahui pola distribusi nyeri alih dan faktor posisi tubuh yang mencetuskan atau memperberat nyeri sendi sakroiliaka.Metode: Pasien yang datang dengan keluhan nyeri bokong yang terdiagnosis mengalami nyeri sendi sakroiliaka berdasarkan tes diagnostik injeksi blok intraartikular di poliklinik saraf RS Siloam Lippo Village dalam rentang waktu Agustus–Desember 2017 dilakukan wawancara untuk mengetahui area nyeri alih dan posisi pencetus nyeri.Hasil: Sebanyak 114 pasien dengan keluhan pada area bokong, rasio antara laki-laki dan perempuan dengan perbandingan 1:2,35 (n=34 dan 80) diikutsertakan dalam studi ini. Paha bagian posterior merupakan area nyeri alih terbanyak (19,3%, n=22) diikuti area paha lateralis (11,4%, n=13). Sedangkan posisi tubuh yang paling dominan memicu timbulnya nyeri sendi sakroiliaka adalah posisi bangun dari duduk (61,4%, n=70) dan duduk lama (49,1%, n=56).Diskusi: Pola distribusi nyeri alih pada pasien nyeri sendi sakroiliaka yang paling banyak ditemukan adalah nyeri pada daerah paha sisi posterior dan paha sisi lateral sedangkan faktor yang paling dominan mencetuskan atau memperberat nyeri sendi sakroiliaka adalah posisi bangun dari duduk dan posisi duduk yang lama.Kata kunci: Nyeri sendi sakroiliaka, pola nyeri, posisi tubuh pencetus
HUBUNGAN PANJANG SARAF ULNARIS DI KOMPARTEMEN POSTERIOR DENGAN PANJANG LENGAN ATAS SEBAGAI ACUAN TERAPI Hutasoit, Regina Marvina; Lubis, Vita Murniati Tarawan; Soenggono, Arifin
Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Vol 35 No 2 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i2.18

Abstract

CORRELATION BETWEEN ULNARIS NERVE LENGTH IN POSTERIOR COMPARTMENT AND UPPER LIMB LENGTH AS:A REFERENCE FOR THERAPYABSTRACT Introduction: Ulnar nerve is the second most common affected nerve by compression in upper extremity. Medial intermuscular septum separating upper arm into anterior and posterior compartments is suspect to be the sites of ulnar nerve compression. Various examinations attempt to locate accurate nerve compression sites to minimize surgery side effects.Aim: This study analyze ratio of ulnar nerve length in posterior compartment using anatomical dissection method with upper arm  length using anthropometry method and  to analyze correlation of ulnar nerve length in posterior compartment with upper arm  length.Methods: This is a descriptive analytical study with a cross sectional design on cadaver between May to June2017 at Anatomy Laboratorium Medical Faculty University of Padjajaran, Bandung. The length of cadaver upper arm was measured with antropometry method and ulnar nerve length in posterior compartment by anatomical dissection. The measurements were statistically analyzed with Pearson correlation.Result: The average length of 9 cadaver or 18 right upper arm (right and left) was 38.3cm for right and 38.0cm for left. While the average length of right and left ulnar nerve in posterior compartment were 11.7cm and 11.4cm respectively, thus the average ratio length of upper arm with ulnar nerve length was 1:3. Analysis using Pearson correlation show a positive correlation on left and right arm, although not significant. Contrast to existing theory, the ulnar nerve crossed in one-third of the posterior upper arm compartment. In minimal invasive decompression this finding could be reference to extend the incission to become 11.7cm for right and 11.4cm for left arm to avoid re-decompression.Discussion: The average ratio length of upper arm with ulnar nerve length was 1:3. There is a positive between thelength of ulnar nerve on the posterior compartment and the length of upper arm, although not significant.Keyword: Posterior compartment, ulnar nerve length, upper arm length ratioABSTRAKPendahuluan: Saraf ulnaris menempati urutan kedua saraf yang sering terkena sindrom kompresi pada ekstremitas atas. Septum intermuskularis medial yang memisahkan lengan atas menjadi bagian kompartemen anterior dan posterior dicurigai menjadi salah satu tempat terjadinya kompresi saraf ulnaris. Berbagai pemeriksaan berupaya menemukan lokasi kompresi saraf yang akurat untuk meminimalisir efek samping dari terapi khususnya operasi.Tujuan: Menilai hubungan perbandingan panjang saraf ulnaris di kompartemen posterior berdasarkan diseksi anatomis dengan panjang lengan atas secara antropometri.Metode: Penelitian deskriptif analitik secara potong lintang pada kadaver pada bulan Mei hingga Juni 2017 di Laboratorium Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Jatinangor. Panjang lengan atas kadaver diukur secara antropometri, sedangkan panjang saraf ulnaris pada kompartemen posterior berdasarkan diseksi anatomi. Hasil pengukuran dinilai secara statistik menggunakan uji korelasi Pearson.Hasil: Pengukuran terhadap 9 kadaver atau 18 lengan atas (kanan dan kiri) mendapatkan rerata panjang lengan atas kanan 38,3cm dan kiri 38cm. Adapun rerata panjang saraf ulnaris kanan dan kiri di kompartemen posterior masing- masing 11,7cm dan 11,4cm, sehingga didapatkan perbandingan rerata panjang jarak lengan atas dengan panjang saraf ulnaris adalah 1:3. Analisis uji korelasi Pearson menunjukkan hubungan positif pada lengan kiri dan kanan walaupun tidak signifikan. Saraf ulnaris didapatkan menyilang di sepertiga kompartemen posterior lengan atas, berbeda dengan teori yang ada. Pada operasi yang memakai metode minimal invasive decompression, temuan ini dapat menjadi pertimbangan untuk memperluas garis insisi 11,7cm pada lengan kanan dan 11,4cm kiri untuk menghindari dekompresi ulang.Diskusi: Didapatkan perbandingan rerata panjang saraf ulnaris di kompartemen posterior dengan panjang lengan atas 1:3. Terdapat hubungan positif antara panjang saraf ulnaris di kompartemen posterior dengan panjang lengan atas walaupun tidak bermakna.Kata kunci: Kompartemen posterior, panjang saraf ulnaris, perbandingan panjang lengan atas
PERBEDAAN EFEK ANALGESIK AMITRIPTILIN, GABAPENTIN, DAN PREGABALIN PADA NEUROPATI DIABETIK DAN NEURALGIA TRIGEMINAL Putra, Ibnu; Anwar, Yuneldi; Surbakti, Khairul Putra
Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Vol 35 No 2 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i2.19

Abstract

COMPARATIVE ANALGESIC EFFECTS OF AMITRIPTYLINE, GABAPENTIN, AND PREGABALIN IN DIABETIC NEUROPATHY AND TRIGEMINAL NEURALGIAABSTRACTIntroduction: The management of neuropathic pain is a challenge for clinicians because of its nonspecific and difficult clinical to treat characteristics. The e use of antidepressant drugs such as amitriptyline and anticonvulsants such as gabapentin and pregabalin has shown various efficacy overcoming neuropathic pain.Aim: To compare the analgesic  efficacy of amitriptyline, gabapentin, and pregabalin  in patients with diabetic neuropathy and trigeminal neuralgia.Methods: This is an experimental pre and post test study on patients with diabetic neuropathy and trigeminal neuralgia in neurology clinic Haji Adam Malik Hospital, Medan, from April 2015 to march 2017. in each disease, subjects were divided into three groups, each was treated either with oral amitriptyline 12.5mg, gabapentin 100mg, or pregabalin 75mg twice daily. The Numeric Rating Scale to assess pain intensity were examined before and after two weeks after treatment.Results: The number of diabetic neuropathy subjects was 75, while trigeminal neuralgia subjects was 30, each were divided into three groups treated either with amitriptyline, gabapentin, or pregabalin. There were no differences on pain intensity changes in diabetic neuropathy groups but significant differences were shown in trigeminal neuralgia groups.Discussion: Amitriptyline, gabapentin, and pregabalin effective to lower pain intensity in trigeminal neuralgia significantly compare to diabetic neuropathy.Keywords: Amitriptyline, diabetic neuropathy, gabaptentin, pregabalin, trigeminal neuralgiaABSTRAKPendahuluan: Pengelolaan nyeri neuropatik merupakan tantangan bagi klinisi karena karakteristik klinisnya yang nonspesifik dan tatalaksananya yang sulit. Penggunaan antidepresan seperti amitriptilin dan antikonvulsan seperti gabapentin dan pregabalin mempunyai efikasi yang berbeda-beda dalam mengatasi nyeri neuropatik.Tujuan: Mengetahui perbedaan efek analgesik dari amitriptilin, gabapentin, dan pregabalin pada penderita neuropati diabetik dan neuralgia trigeminal.Metode: Studi eksperimental pre dan post test terhadap pasien neuropati diabetik atau neuralgia trigeminal yang berobat ke Poliklinik Neurologi RSUP Haji Adam Malik, Medan, sejak bulan April 2015 hingga Maret 2017. Semua subjek dibagi menjadi tiga kelompok untuk setiap penyakit, yang masing-masing mendapatkan amitriptilin 12,5mg, gabapentin 100mg, dan pregabalin 75mg, dengan frekuensi pemberian obat dua kali sehari setiap kelompok. Pengukuran intensitas nyeri dengan menggunakan Numeric rating Scale dilakukan sebelum dan setelah dua minggu pengobatan.Hasil: Didapatkan subjek dengan neuropati diabetik sebanyak 75 orang dan neuralgia trigeminal 30 orang yang masing-masing dibagi menjadi 3 kelompok dengan terapi amitriptilin, gabapentin, dan pregabalin. Tidak terdapat perbedaan rerata perubahan intensitas nyeri yang bermakna pada kelompok neuropati diabetik, namun bermakna pada subjek neuralgia trigeminal.Diskusi: Amitriptilin, gabapentin, dan pregabalin memiliki efikasi dalam menurunkan intensitas nyeri pada neuralgia trigeminal secara bermakna dibandingkan pada neuropati diabetik.Kata kunci: Amitriptilin, gabapentin, neuralgia trigeminal, neuropati diabetik,pregabalin
HUBUNGAN ANTARA DERAJAT KEPARAHAN STROKE DENGAN KEJADIAN STROKE-ASSOCIATED PNEUMONIA Wandira, Rega Dwi; Amalia, Lisda; Fuadi, Iwan
Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Vol 35 No 2 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i2.20

Abstract

ASSOCIATION BETWEEN STROKE SEVERITY AND STROKE-ASSOCIATED PNEUMONIAABSTRACTIntroduction: Stroke-associated pneumonia (SAP) occurs in 5-26% and decreases the quality of life and clinical outcomes of stroke patients. One of the factors that affect the incidence of SAP is the stroke severity.Aims: To determine the association between the stroke severity and the incidence of stroke-associated pneumonia in the neurological ward of Dr. Hasan Sadikin Hospital, Bandung.Methods: This is an analytic retrospective (historical) cohort design study. The study population was stroke patients who were treated in the neurological ward of Dr. Hasan Sadikin Hospital, Bandung between 2014-2016. Exclusion criteria were patient with pneumonia other than SAP and using mechanical ventilation. Stroke severity was assessed using NIHSS (National Institute of Health Stroke Scale). Chi-square was used to determine inter-variable association.Results: Among 81 subjects, 24 were assessed as SAP (29.6%). The SAP prevalence were mostly male (58.3%), age group between 65-74 year old (41.7%) with hypertension risk (87.5%), stroke onset <48 hours, lesion location on left hemisphere, onset of SAP≥48 hours, and those with consciousness impairment. Those with high stroke severity tend to have higher risk of pneumonia 3.063 times compare to patients with low stroke severity.Discussion: There was a significant association between the severity of stroke and the incidence of SAP in the neu- rological ward of Dr. Hasan Sadikin Hospital, Bandung.Keywords: NIHSS, stroke-associated pneumonia, stroke severityABSTRAKPendahuluan: Stroke-associated pneumonia (SAP) cukup sering terjadi (5-26%) pada pasien stroke, sehingga menurunkan angka kualitas hidup dan luaran klinis. Salah satu faktor yang memengaruhi kejadian SAP adalah derajat keparahan stroke.Tujuan: Mengetahui hubungan antara derajat keparahan stroke dengan kejadian SAP di Ruang Rawat NeurologiRSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung.Metode: Penelitian analitik dengan desain kohort retrospektif (historikal) terhadap pasien stroke iskemik yang di rawat di Ruang Rawat Neurologi RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung pada tahun 2014-2016. Kriteria eksklusi adalah pasien dengan pneumonia selain SAP dan menggunakan alat ventilasi mekanik. Derajat keparahan stroke dinilai menggu- nakan skor NIHSS (National Institutes of Health Stroke Scale). Uji korelasi Chi-square digunakan untuk melihat hubungan antar-variabel.Hasil: Didapatkan 81 subjek yang 24 orang di antaranya  mengalami SAP (29,6%). Prevalensi SAP tertinggi pada laki-laki (58,3%) kelompok usia 65-74 tahun (41,7%) dengan faktor risiko hipertensi (87,5%), onset stroke<48 jam, lokasi lesi di hemisfer kiri, onset SAP≥48 jam, serta pada subjek dengan penurunan kesadaran. Subjek dengan derajat keparahan stroke berat memiliki risiko terjadinya pneumonia 3,063 lebih tinggi dibandingkan dengan derajat keparahan ringan.Diskusi: Terdapat hubungan yang bermakna antara derajat keparahan stroke dengan kejadian SAP di Ruang Rawat Neurologi RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung.Kata kunci: Derajat keparahan stroke, NIHSS, stroke-associated pneumonia
HUBUNGAN ANTARA PERUBAHAN KADAR HS-CRP DENGAN FUNGSI KOGNITIF PADA STROKE ISKEMIK Sumanti, Betsi; Hexanto, Hexanto; Widiastuti, Widiastuti
Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Vol 35 No 2 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i2.104

Abstract

   ASSOCIATION BETWEEN ALTERED HS-CRP LEVELS AND  COGNITIVE FUNCTION OF ISCHEMIC STROKE PATIENTSABSTRACTIntroduction: The incidence of cognitive impairment in acute ischemic stroke patients is increasing. The mechanism of the inflammatory effect, such as  elevated hs-CRP level, a  non-specific inflammatory marker  sensitive to chronic inflammation due to hypoperfusion as well other vascular risk, is thought to have an effect on cognitive function.Aims: To determine the relationship of cognitive function changes in acute phase of ischemic stroke with hs-CRP level changes on day 3 and day 7 after onset.Methods: This was a cross sectional study of 31 first-timer ischemic stroke patients who met inclusion and exclusion criteria. The level of hs-CRP was checked on the 3rd day and 7th day after onset, while MoCA-Ina was assessed on the 7th day after onset. Cognitive disturbance was considered if MoCA <26. Analyses was done using SPSS 2.0Results: The average onset of day 3 Hs-CRP concentration was 0.66 (0.12-16.67)mg/dl and the onset of day 7 was 5.455 (0.14-17.34)mg/dl. The mean change of hs-CRP level between 3 day and 7 day after onset was -0,16 (-3.32-4.95). There was a significant correlation between elevated hs-CRP levels on day 3 and day 7 after onset with cognitive function of acute ischemic stroke patients.Discussion: There was a significant correlation between elevated hs-CRP levels on day 3 and day 7 after onset with cognitive function of acute ischemic stroke patients.Keyword: Acute ischemic stroke, hs-CRP, MoCA-Ina scoresABSTRAKPendahuluan: Insidens penurunan fungsi kognitif pada pasien stroke iskemik akut semakin meningkat. Hal ini diduga dipengaruhi oleh mekanisme efek inflamasi, meliputi peningkatan kadar high sensitive-C reactive protein (hs-CRP), salah satu penanda inflamasi non-spesifik yang sangat sensitif pada inflamasi kronis, akibat hipoperfusi maupun karena risiko vaskuler lainnya.Tujuan: Mengetahui hubungan perubahan fungsi kognitif pasien stroke iskemik fase akut dengan perubahan kadar hs-CRP hari ke-3 dan hari ke-7 setelah awitan.Metode: Studi potong lintang terhadap penderita stroke iskemik pertama kali yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Dilakukan pemeriksaan kadar hs-CRP hari ke-3 dan hari ke-7 setelah awitan dan MoCA-Ina pada hari ke-7 setelah awitan. Fungsi kognitif dinyatakan terganggu jika MoCA-Ina <26. Analisis data menggunakan program SPSS 22.0.Hasil: Didapatkan rerata kadar Hs-CRP hari ke-3 setelah awitan adalah 0,66 (0,12-16,67)mg/dl dan hari ke-7 setelah awitan adalah 5,455 (0,14-17,34)mg/dl. Dengan rerata perubahan kadar hs-CRP awitan hari ke-3 dan awitan hari ke-7 adalah -0,16 (-3,32-4,95). Didapatkan hubungan yang bermakna antara perubahan kadar hs-CRP hari ke-3 setelah awitan dan hari ke-7 setelah awitan dengan fungsi kognitif pasien stroke iskemik akut.Kesimpulan: Didapatkan hubungan yang bermakna antara peningkatan kadar hs-CRP pada hari ke-7 dan kadar hari ke-3 dengan fungsi kognitif pasien stroke iskemik akut.Kata kunci: hs-CRP, MoCA-Ina, stroke iskemik akut 
FAKTOR-FAKTOR RISIKO STROKE PADA PENYAKIT GINJAL KRONIK STADIUM V YANG MENJALANI HEMODIALISIS Ariani, Susanti Dwi; Tugasworo, Dodik; Widiastuti Samekto, Maria Imakulata
Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Vol 35 No 2 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i2.105

Abstract

RISK FACTORS OF STROKE IN STAGE V CHRONIC KIDNEY DISEASE WHO UNDERWENT HEMODIALYSISABSTRACTIntroduction: Chronic kidney disease (CKD) and end-stage renal disease are associated with a significantly in- creased risk of stroke. Incidence and mortality of stroke in CKD patients is higher rather than among the general popula- tion. Stroke in hemodialysis patients is also associated with high mortality.Aims: To analyze risk factors that have a relationship with the occurrence of stroke in patients with stage V CKD who underwent hemodialysis in Dr. Kariadi Hospital, Semarang.Method: A case control with retrospective cohort study of patients diagnosed with stage V CKD undergoing hemo- dialysis in Dr. Kariadi Hospital, Semarang, from March 2016 to August 2017. Subject was divided into case group, who experienced stroke, and control group, who did not experience stroke. Bivariate analysis was performed with Chi-square test, multivariate analysis with logistic regression test and rasio Odds.Results: There were 140 subjects with stage V CKD, 70 subjects in each groups. In case group, 85.7% experienced ischemic stroke while the rest hemorrhagic stroke. The duration of hemodialysis was related to the incidence of stroke. In multivariate analysis, patients with diabetes mellitus were more likely to have a stroke by 0.14 times compared to patients who did not have diabetes mellitus, and patients who underwent hemodialysis >12 months, were more likely to have a stroke 4.05 times greater than patients who underwent hemodialysis <12 months.Discussion: There is a relationship between diabetes mellitus and duration of hemodialysis with the occurrence of ischemic stroke, in stage V CKD patients who underwent hemodialysis.Keywords: Chronic kidney disease, hemodialysis, strokeABSTRAKPendahuluan: Penyakit ginjal kronik (PGK) dan penyakit ginjal stadium akhir terkait dengan peningkatan risiko yang signifikan dari stroke. Insiden dan mortalitas stroke pada pasien PGK lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Stroke pada pasien dialisis juga dihubungkan dengan mortalitas yang tinggi.Tujuan: Untuk menganalisis faktor-faktor risiko yang memengaruhi terjadinya stroke pada pasien dengan PGK stadium V yang menjalani hemodialisis (HD) di RSUP Dr. Kariadi, Semarang.Metode: Penelitian kasus kontrol dengan pendekatan kohort retrospektif terhadap pasien penyakit ginjal kronik stadium V yang menjalani HD di RSUP Dr. Kariadi, Semarang dari bulan Maret 2016 hingga Agustus 2017. Subjek dibagi ke dalam kelompok kasus, yaitu yang mengalami stroke dan kelompok kontrol yang tidak mengalami stroke. Dilakukan analisis bivariat dengan uji Chi-square dan analisis multivariat dengan uji regresi logistik serta rasio Odds.Hasil: Didapatkan 140 subjek dengan PGK stadium V yang masing-masing kelompok terdiri dari 70 orang. Pada kelompok kasus, sebanyak 85,7% adalah stroke iskemik dan sisanya stroke hemoragik. Lama HD berhubungan dengan kejadian stroke. Pada uji multivariat, subjek yang menderita diabetes melitus (DM) berisiko mengalami stroke sebesar 0,14 kali dibandingkan yang tidak DM dan subjek yang menjalani HD >12 bulan berisiko mengalami stroke 4,05 kali lebih besar dibandingkan yang menjalani HD <12 bulan.Diskusi: Terdapat pengaruh faktor risiko DM dan lama hemodialisis terhadap kejadian stroke iskemik pada pasien PGK stadium V yang menjalani HD.Kata kunci: Hemodialisis, penyakit ginjal kronik, stroke
HUBUNGAN KADAR LEUKOSIT, MONOSIT, DAN PROKALSITONIN DENGAN KEJADIAN INFEKSI DAN LUARAN FUNGSIONAL PADA STROKE AKUT Nasari, Rivita Putri; Rambe, Aldy Safruddin; Fithrie, Aida
Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Vol 35 No 2 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i2.106

Abstract

ASSOCIATION OF LEUKOCYTE, MONOCYTE, AND PROCALCITONIN LEVEL WITH INFECTION AND FUNCTIONAL OUTCOME IN ACUTE STROKEABSTRACTIntroduction: Infection is a common complication in the acute of stroke. Stroke can lead to immediate stage of immunosuppression, increasing the risk of infection.Aims: To evaluate the relationship levels of leukocyte, monocyte, and procalcitonin with infection and functional outcome in acute stroke.Methods: A cross-sectional study of acute stroke patients in RSUP Dr. Adam Malik neurology ward, Medan, from June to October 2015. Diagnosis was made by clinical findings and brain CT scan. Patients with previous stroke, treated as having infection or already treated by antibiotics before admission were excluded from this study. All subjects examined for the levels of leukocytes, monocytes, and procalcitonin and observed the infection and assessed functional outcome (mRS) on day 14 of onset.Results: There were 50 subjects with age mean 57.2 (40-73) years old, mostly male (54%) and had ischemic stroke (82%). Leukocytes and procalcitonin level has positive association with infection in acute stroke significantly. Subjects whom had normal leucocyte at baseline tend not to developed infection 3.69 times compared to whom had high leucocyte at baseline. Similar with PCT, subjects with normal level of PCT at base tend not to developed infection 16.9 times compared to subject with high level of PCT at baseline. High level of leucocyte also related with low functional outcome, significantly.Discussions: There were positive associated between leukocytes and procalcitonin levels with risk of infection, and negative associated between leukocytes levels with functional outcome in acute stroke.Keywords: Infection, leukocytes, monocytes, outcome, procalcitoninABSTRAKPendahuluan: Infeksi merupakan komplikasi yang umum pada stroke akut. Stroke dapat menyebabkan immunosupresi dalam tahap awal, sehingga dapat meningkatkan risiko infeksi.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kadar leukosit, monosit, dan prokalsitonin (PCT) dengan kejadian infeksi dan luaran fungsional pada stroke akut.Metode: Penelitian potong lintang terhadap pasien stroke akut yang dirawat di Ruang Rawat Inap Terpadu Departemen Neurologi RSUP Haji Adam Malik, Medan, pada bulan Juni 2015 hingga Oktober 2016. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan  CT scan kepala. Kriteria eksklusi adalah mengalami infeksi atau sudah menggunakan antibiotik pada saat masuk rumah sakit (RS) serta mengalami stroke berulang. Subjek dilakukan pemeriksaan kadar leukosit, monosit, dan prokalsitonin, lalu diamati ada tidaknya kejadian infeksi selama perawatan dan penilaian mRS pada hari ke-empat belas awitan.Hasil: Didapatkan 50 subjek dengan rerata usia 57,2 (40-73) tahun, mayoritas laki-laki (54%) dan mengalami stroke iskemik (82%). Terdapat hubungan yang signifikan antara kadar leukosit dan prokalsitonin dengan kejadian infeksi pada stroke akut. Subjek dengan kadar leukosit awal yang normal lebih cenderung untuk tidak mengalami kejadian infeksi sebesar 3,69 kali dibandingkan yang leukositnya tinggi. Demikian pula kadar PCT yang normal di awal cenderung untuk tidak mengalami kejadian infeksi sebesar 16,9 kali dibandingkan subjek dengan PCT tinggi. Kadar leukosit yang tinggi juga berhubungan dengan luaran fungsional yang buruk secara bermakna.Diskusi: Terdapat hubungan positif yang signifikan kadar leukosit dan prokalsitonin dengan kejadian infeksi serta hubungan negatif yang signifikan kadar leukosit dengan luaran fungsional  pada stroke akut.Kata kunci: Infeksi, leukosit, luaran, monosit, prokalsitonin

Page 1 of 2 | Total Record : 12