cover
Contact Name
Katon Abdul Fatah
Contact Email
katonfath@gmail.com
Phone
+628975841020
Journal Mail Official
katonfath@gmail.com
Editorial Address
Desa, Metuk No.008 RT.002 RW. 001, Kec, Mojosongo Kab, Boyolali, 57322
Location
Kab. boyolali,
Jawa tengah
INDONESIA
MERDEKA: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
ISSN : -     EISSN : 30267854     DOI : https://doi.org/10.62017/merdeka.v1i1
Core Subject : Education,
MERDEKA: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Jurnal ini merupakan jurnal ilmiah multidisiplin yang bersifat peer-review dan terbuka. Jurnal ini terbit 6 kali dalam setahun yaitu pada bulan Februari, April, Juni, Agustus, Oktober dan Desember. Fokus dan ruang lingkupnya meliputi: Ilmu Sosial, Humaniora, Politik, Pendidikan, Ilmu Teknik, Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, Desain Komunikasi Visual, Manajemen, Ekonomi dan Akuntansi, Kewirausahaan dan Bisnis. MERDEKA: Jurnal Ilmiah Multidisiplin menerima makalah dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 1,069 Documents
FENOMENA KETIDAKADILAN DALAM SILA KETUHANAN YANG MAHA ESA DI INDONESIA Yeni Yolanda Simbolon
MERDEKA : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 5 (2024): Juni
Publisher : PT PUBLIKASI INSPIRASI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/merdeka.v1i5.1314

Abstract

Indonesia adalah negara yang kaya akan keragaman budaya, suku, dan agama. Namun, keragaman ini seringkali menjadi sumber konflik dan ketidakadilan dalam masyarakat. Meskipun Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 menjamin kebebasan beragama dan hak asasi manusia, fenomena diskriminasi, intoleransi, dan kekerasan atas nama agama masih terjadi. Metode penelitian yang di gunakan adalah metode studi pustaka ( library research ) yaitu metode dengan cara memahami dan mempelajari teori- teori dari berbagai literature yang berhubungan dengan penelitian tersebut. Pengumpulan data tersebut menggunakan cara mencari sumber contohnya seperti buku,jurnal,dan riset-riset yang pernah dilakukan. Bahan pustaka yang didapat dari berbagai referensi tersebut dianalisis secara kritis dan harus mendalam agar dapat proposisi dan  mendukung gagasannya   ,ditemukan bahwa fenomena ketidakadilan dalam implementasi sila Ketuhanan Yang Maha Esa di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor utama. Pertama, adanya interpretasi yang sempit dan eksklusif terhadap sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Banyak kelompok yang mengklaim bahwa interpretasi mereka adalah yang paling benar dan menganggap kelompok lain sebagai sesat atau menyimpang. Hal ini bertentangan dengan semangat sila Ketuhanan Yang Maha Esa yang seharusnya menghargai keberagaman dan kebebasan beragama. Kedua, kurangnya pemahaman tentang konsep pluralisme dan toleransi beragama di masyarakat. Masih banyak yang menganggap bahwa toleransi hanya berlaku untuk kelompok mayoritas dan menolak keberadaan kelompok minoritas. Padahal, toleransi seharusnya berlaku untuk semua kelompok, tanpa memandang jumlah penganutnya. Ketiga, adanya kebijakan dan regulasi pemerintah yang diskriminatif terhadap kelompok agama tertentu. Misalnya, pembatasan pendirian rumah ibadah, pembatasan aktivitas keagamaan, dan perlakuan yang tidak adil dalam layanan publik. Hal ini jelas bertentangan dengan jaminan kebebasan beragama yang diamanatkan dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Keempat, provokasi dan propaganda dari kelompok-kelompok radikal yang menyebarkan kebencian dan intoleransi atas nama agama. yang sesungguhnya membutuhkan kesadaran kolektif dari seluruh elemen bangsa Indonesia.
PENGARUH BUDAYA GLOBAL TERHADAP PRAKTIK MODERASI BERAGAMA DAN RESOLUSI KONFLIK KEAGAMAAN DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT PANCASILA SILA PERTAMA Putri Permata Assiddiq Harahap
MERDEKA : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 5 (2024): Juni
Publisher : PT PUBLIKASI INSPIRASI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/merdeka.v1i5.1315

Abstract

Penelitian ini mengkaji dampak budaya global terhadap praktik moderasi beragama dan resolusi konflik keagamaan di Indonesia, dengan menitikberatkan pada Filsafat Pancasila, khususnya Sila Pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa.” Menggunakan metode penelitian kepustakaan, studi ini menganalisis perubahan sosial akibat globalisasi dan bagaimana nilai-nilai global berinteraksi dengan praktik keagamaan lokal. Landasan teori yang digunakan meliputi teori konflik sosial, teori akulturasi budaya, dan teori moderasi beragama, yang semuanya dihubungkan dengan prinsip-prinsip Sila Pertama Pancasila. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya global membawa dampak positif dengan meningkatkan kesadaran akan pentingnya toleransi dan akomodasi dalam beragama. Namun, juga terdapat tantangan berupa gesekan dengan nilai-nilai lokal yang lebih konservatif. Sila Pertama Pancasila berfungsi sebagai landasan untuk menyelesaikan konflik keagamaan melalui dialog antarumat beragama dan pendidikan multikultural. Kesimpulannya, integrasi nilai-nilai Pancasila dengan aspek positif dari budaya global dapat menciptakan moderasi beragama yang dinamis dan harmonis, membentuk wajah globalisasi yang lebih inklusif di Indonesia.
MENGHADAPI TANTANGAN RADIKALISME DAN FUNDAMENTALISME AGAMA DALAM MENJAGA PRINSIP KETUHANAN YANG MAHA ESA DAN DEMOKRASI DI INDONESIA Yuli Indriani Lubis
MERDEKA : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 5 (2024): Juni
Publisher : PT PUBLIKASI INSPIRASI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/merdeka.v1i5.1316

Abstract

Paham radikalisme dan fundamentalisme agama merupakan ancaman nyata bagi prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila dan demokrasi di Indonesia. Kedua paham ini cenderung memonopoli kebenaran ajaran agama, menolak interpretasi lain, dan seringkali diikuti tindakan kekerasan atas nama agama, sehingga berpotensi melanggar hak kelompok lain, mengganggu harmoni sosial, serta mengancam prinsip demokrasi yang menghargai keberagaman, kebebasan berpendapat, dan perlindungan hak minoritas. Penelitian kualitatif dengan metode studi literatur dan analisis isi ini mengidentifikasi tantangan tersebut dan mengeksplorasi peran lembaga pendidikan serta organisasi keagamaan dalam upaya mitigasi. Deradikalisasi dan kontra-narasi yang melibatkan pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, dan masyarakat sipil sangat diperlukan. Lembaga pendidikan dapat mengintegrasikan materi multikulturalisme, dialog antaragama, dan pemahaman inklusif ke dalam kurikulum untuk menanamkan nilai-nilai toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman sejak dini. Sementara itu, organisasi keagamaan dapat mempromosikan pemahaman moderat terhadap ajaran agama serta mendorong dialog dan kerja sama antaragama untuk memperkuat harmoni sosial.
HUBUNGAN KONTROL DIRI DENGAN PERILAKU MEMBOLOS  SISWA DI SMK NEGERI 1 LUBUK PAKAMTAHUN PEMBELAJARAN 2022/2023 Anisah , Anisah; Rini Hayati
MERDEKA : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 5 (2024): Juni
Publisher : PT PUBLIKASI INSPIRASI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/merdeka.v1i5.1317

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Kontrol Diri Dengan Perilaku Membolos  Siswa Di Smk Negeri 1  Lubuk Pakamtahun  Pembelajaran 2022/2023 penelitian ini menggunakan metode kuantitatif untuk mengetahui hubungan dari kontrol diri dengan perilaku membolos siswa di SMK Negeri 1 Lubuk Pakam Tahun Pelajaran 2022/2023  Adapun papulasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa yang melakukan bolos sekolah di SMK Negeri 1 Lubuk Pakam, Kecamatan Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang yang terbagi menjadi 3 Kelas berdasaraakan karakteristik Jumlah siswa yang berhari-hari tidak masuk sekolah sebanyak 33 siswa, siswa yang meninggalkan kelas sebelum waktunya ada 38 siswa ,dan siswa yang terlambat sebanyak 37 siswa. Jadi Papulasi dalam penelitian ini berjumlah 108 siswa. Teknik pengumpulan data dalam penelitian adalah Angket/ Koesioner. Berdasarkan hasil uji kolerasi di atas pearson correlation product moment disimpulkan bahwa kontrol diri dan perilaku membolos memiliki hubungan Nilai signifikasi adalah 0,001 sehingga dapat dinyatakan bahwa sig< 0,05 maka dapat dinyatakan bahwa antara kontrol diri dengan perilaku membolos memilki hubungan dengan nilai korelasi sebesar 0,531 sehingaa dapat dinyatakan bahwa kedua berhubungan sebesar 0,531 dengan tanda negatif (-) atau berhubungan negatif. Artinya antara kontrol diri dengan perilaku membolos memilki hubungan yang cukup.
Peran Misiologi dalam Pembentukan Identitas Rohani Anak-Anak Ira Novelia Sitepu; Pebrina Br Ginting Munthe; Oloria Malau
MERDEKA : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 5 (2024): Juni
Publisher : PT PUBLIKASI INSPIRASI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/merdeka.v1i5.1318

Abstract

Misiologi memiliki peran penting dalam membantu pembentukan identitas rohani anak-anak. Dalam konteks pendidikan Agama Kristen, misiologi berfungsi sebagai media untuk menjangkau jiwa-jiwa, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Melalui pendidikan Agama Kristen yang diberikan oleh guru, anak-anak dapat memahami identitas dan panggilan mereka dalam Kristus, mengintegrasikan nilai-nilai Kristen ke dalam kehidupan mereka, dan mengembangkan kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam hidup mereka. Dalam proses ini, misiologi berfungsi sebagai jembatan untuk memberitakan kebenaran Firman Tuhan, yaitu Injil, kepada para anak-anak. Peran misiologi dalam pembentukan identitas rohani anak-anak merupakan topik yang penting dalam konteks pembangunan spiritualitas generasi muda. Misiologi, sebagai studi tentang misi gereja dan penyebaran agama, memberikan landasan konseptual dan praktis bagi upaya pembentukan identitas rohani anak-anak. Identitas rohani memainkan peran krusial dalam membentuk karakter, nilai-nilai, dan orientasi hidup seseorang. Jurnal ini menyelidiki kontribusi misiologi dalam membentuk identitas rohani anak-anak melalui beberapa dimensi. Pertama, misiologi memperkenalkan anak-anak pada pengalaman-pengalaman spiritual yang mendalam, seperti ibadah, doa, dan pelayanan kepada orang lain. Ini memberi mereka fondasi yang kuat dalam iman dan membantu mereka membangun hubungan pribadi dengan Tuhan. Kedua, misiologi membantu anak-anak memahami nilai-nilai moral dan etika yang mendasari ajaran agama. Melalui pendekatan yang inklusif dan edukatif, anak-anak diajak untuk memahami pentingnya kasih, keadilan, dan perdamaian dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, misiologi memfasilitasi pembentukan identitas rohani dengan memperkenalkan anak-anak pada keragaman budaya dan keberagaman agama. Mereka diajak untuk memahami dan menghargai perbedaan, sambil tetap teguh pada keyakinan mereka sendiri. Terakhir, misiologi menekankan pentingnya pelayanan dan misi dalam kehidupan Kristen. Anak-anak diajak untuk mengembangkan sikap pelayanan dan pemuridan, sehingga mereka tidak hanya menjadi konsumen iman, tetapi juga penggerak transformasi sosial dan spiritual di masyarakat.
Psikologi Perkembangan: Menganalisis Perkembangan Masyarakat Karo Dari Fase Anak-anak Hingga Lansia Angga Mahyuda Sinaga; Dorlan Naibaho
MERDEKA : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 5 (2024): Juni
Publisher : PT PUBLIKASI INSPIRASI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/merdeka.v1i5.1319

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan masyarakat dari fase anak-anak hingga lansia menggunakan metode penelitian kualitatif wawancara. Dengan fokus pada pengalaman subjektif dan perspektif individu, penelitian ini menggali bagaimana orang pada berbagai tahap kehidupan memahami dan menginterpretasikan perubahan yang terjadi pada diri mereka dan lingkungan sosial mereka. Wawancara mendalam dilakukan dengan partisipan yang dipilih secara purposif untuk mewakili berbagai usia, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa awal, dewasa tengah, hingga lansia. Data yang dikumpulkan mencakup tema-tema seperti perkembangan kognitif, emosional, sosial, serta perubahan identitas dan peran sosial. Analisis tematik digunakan untuk mengidentifikasi pola-pola umum dan perbedaan dalam pengalaman perkembangan di berbagai fase kehidupan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap tahap kehidupan memiliki tantangan dan peluang unik yang membentuk perkembangan individu dan bagaimana mereka berinteraksi dengan masyarakat. Temuan ini memberikan wawasan mendalam tentang dinamika perkembangan manusia dan dapat digunakan untuk merancang intervensi yang lebih efektif dalam pendidikan, kesehatan mental, dan layanan sosial. Penelitian ini juga menekankan pentingnya mendengar suara individu dari berbagai usia untuk memahami kompleksitas perkembangan manusia dalam konteks sosial mereka.
Pancasila Sebagai Pandangan Hidup dan Karakter Bangsa Fitri Aprilia Alfina; Jayatri Ardanina Wibowo; Rausyan Alimah Fauzie; Nurfi Ajeng Suryaningsih
MERDEKA : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 5 (2024): Juni
Publisher : PT PUBLIKASI INSPIRASI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/merdeka.v1i5.1321

Abstract

Pancasila adalah identitas, pandangan hidup, dan karakter bangsa Indonesia. Selain berfungsi sebagai dasar negara, Pancasila juga menjadi identitas bangsa yang mengikat seluruh warga Indonesia tanpa memandang suku, agama, ras, atau golongan. Pancasila menyatukan keberagaman Indonesia. Pancasila berfungsi sebagai pandangan hidup yang berfungsi sebagai pedoman dan acuan bagi setiap warga negara untuk menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pancasila telah membentuk budaya dan karakter Indonesia dengan nilai-nilai seperti kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial. Ini menjadi identitas dan jati diri yang membedakan Indonesia dari negara lain. Dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai Pancasila telah menjadi bagian integral dari masyarakat Indonesia. Sangat penting bagi setiap warga negara Indonesia untuk memahami dan menghayati nilai-nilai ini untuk mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera berdasarkan Pancasila.
TIJAUAN TERHADAP PENDIDIKAN DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT DALAM IMPLIKASI LITERASI DIGITAL TERHADAP PENCAPAIAN SDGS 2030 Raihan Kasypul Mugni; Khairul Hisyam; Ichsan Fauzi Rachman
MERDEKA : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 5 (2024): Juni
Publisher : PT PUBLIKASI INSPIRASI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/merdeka.v1i5.1330

Abstract

Literasi digital memainkan peran krusial dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) 2030. melalui pendidikan dan pengembangan masyarakat. Pendidikan dapat meningkatkan literasi digital melalui inklusi kurikulum digital, pelatihan guru, dan pengembangan infrastruktur. Program pelatihan masyarakat dan pendirian komunitas digital juga dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan masyarakat dalam menggunakan teknologi. Kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, dan masyarakat menjadi kunci dalam mencapai tujuan ini. Dengan sinergi yang kuat antara berbagai pihak, implementasi strategi literasi digital dapat ditingkatkan untuk mendukung pencapaian SDGs 2030 secara holistik. Upaya bersama ini juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan mengurangi kesenjangan sosial dalam masyarakat.
Tinjauan Kritis Terhadap Peran Hukum Tata Negara Dalam Menegakkan Prinsip-Prinsip Konstitusional Akhfa Kamilla Sulaeman; Irwan Triadi
MERDEKA : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 5 (2024): Juni
Publisher : PT PUBLIKASI INSPIRASI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/merdeka.v1i5.1332

Abstract

Penelitian ini menyajikan sebuah tinjauan kritis terhadap peran hukum tata negara dalam konteks pelaksanaan prinsip-prinsip konstitusional pada era kontemporer. Dengan mempertimbangkan dinamika perubahan politik, sosial, dan ekonomi, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan dan peluang yang dihadapi oleh hukum tata negara dalam menegakkan fondasi konstitusional suatu negara. Melalui pendekatan analitis, penelitian ini mengeksplorasi dampak kebijakan dan putusan hukum terkini terhadap keseimbangan kekuasaan, perlindungan hak-hak individu, serta menjaga integritas konstitusi. Melalui pemahaman mendalam terhadap kasus-kasus hukum yang relevan, penelitian ini mencermati bagaimana interpretasi dan implementasi prinsip-prinsip konstitusional telah berkembang seiring waktu. Metode penelitian yang digunakan adalah normatif yuridis, sedangkan jenis penelitiannya adalah penelitian kepustakaan, kegiatannya dilakukan dengan cara mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan judul yang bersifat kepustakaan. Dengan menganalisis perubahan normatif dan interpretatif, penelitian ini menggali perspektif baru terkait efektivitas hukum tata negara dalam memastikan perlindungan hak-hak warga negara dan menjaga keseimbangan antarkekuasaan di dalam sistem pemerintahan. Serta, penelitian ini mencoba memberikan solusi konstruktif untuk memperbaiki dan memperkuat kerangka hukum tata negara, sejalan dengan tuntutan masyarakat dan dinamika zaman. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan mendalam tentang peran kritis hukum tata negara dalam menghadapi tantangan kontemporer, sekaligus menawarkan pandangan untuk memperkuat landasan konstitusional suatu negara.
Dampak Penyalahgunaan Kekuasaan oleh Pejabat Negara Aura Nasya Madhani Harahap; Irwan Triadi
MERDEKA : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 5 (2024): Juni
Publisher : PT PUBLIKASI INSPIRASI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/merdeka.v1i5.1333

Abstract

Penyalahgunaan kekuasaan, khususnya oleh pejabat negara memiliki dampak yang mendalam dan luas dalam kehidupan masyarakat. Tulisan ini mengeksplorasi penyebab dan bentuk-bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan oleh pejabat negara, serta dampaknya terhadap negara dan masyarakat. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan jurnal ini adalah metode kualitatif dengan jenis penelitian studi kepustakaan. Bahan pustaka yang digunakan berupa buku, jurnal, referensi dari internet, dan beberapa aturan dalam undang-undang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakmampuan dalam mengendalikan kekuasaan, lemahnya pengawasan dan penegakkan hukum, serta tuntutan ekonomi menjadi faktor yang mendasari terjadinya penyalahgunaan kekuasaan. Selain itu, korupsi masih menjadi tindak pidana yang paling sering terjadi di kalangan pejabat negara, dan terbukti adanya pelanggaran HAM yang terjadi dalam institusi keamanan negara. Akibat yang terjadi dari beberapa fenomena tersebut adalah hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan instansinya, dan bertambahnya kerugian keuangan negara. Hasil-hasil dari temuan ini menekankan perlunya mekanisme pengawasan hukum yang kuat demi membangun tata kelola pemerintahan yang transparan untuk memberantas tindakan penyalahgunaan kekuasaan.

Page 23 of 107 | Total Record : 1069