cover
Contact Name
Albertus Juvensius Pontus
Contact Email
albertpontus@ft.unmul.ac.id
Phone
+62853339333210
Journal Mail Official
albertpontus@ft.unmul.ac.id
Editorial Address
Jl. Sambaliung, No:9 Kampus Gunung Kelua Samarinda 75119, Kalimantan Timur
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
JURNAL TEKNOLOGI MINERAL FT UNMUL
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 28087305     EISSN : 28087305     DOI : http://dx.doi.org/10.30872/jtm.v11i2
The article can be a product of researches, scientific thoughts, or case studies with a scope in the field of earth science, including: mining engineering, geology, geodesy, geophysics, and petroleum. The author may write an article by the template and submit the article online by using the OJS system. Any matters relating to the use of the software, citation and copyright permissions made by the author of the article, and the legal consequences it causes, are the sole responsibility of the author of the article.
Articles 119 Documents
KARAKTERISTIK BATUBARA SEAM B DAERAH BANGUN REJO, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA, KALIMANTAN TIMUR Koeshadi Sasmito; Puspa Indah Rindawati
JURNAL TEKNOLOGI MINERAL FT UNMUL Vol 8, No 2 (2020): Jurnal Teknologi Mineral FT UNMUL Desember 2020
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jtm.v8i2.5193

Abstract

Indonesia memiliki cadangan sumberdaya alam yang sangat melimpah, salah satunya adalah batubara. Batubara merupakan sumberdaya alam yang sangat potensial untuk dikelola dan dimanfaatkan. Desa Bangun Rejo merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi sumberdaya batubara yang melimpah. Desa ini terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur. Maka dari itu, sangat menarik untuk dipelajari terkait dengan karakteristik batubara. Tujuan dari penelitian ini ada Mengetahui karakteristik fisik secara megaskopis dari lapisan batubara dan mengetahui bentuk geometri dari batubara. Proses dalam kegiatan penelitian ini dengan melakukan pengamatan dilapangan. Kemudian dilanjutkan pada analisis batubara secara megaskopis dan penarikan korelasi batuan. Dari hasil data lapangan dan analisis didapat bahwa Seam B memiliki warna hitam, cerat coklat, pecahan blocky, rekahan tegak lurus lapisan, rekahan sebagian terisi lempung, mengkilap dengan lapisan buram, komposisi karbon, terdapat lapisan shalycoal 20-30 cm. Lapisan seam batubara memiliki tebal 3,1-3, 38  meter masuk kedalam kategori ketebalan sedang. Kemenerusan dari seam ini secara horizontal berarah timur laut ke barat daya dari konsesi dengan besaran arah azimuth N 189o E - N 191o E. Sedangkan mengikuti arah dip batubara berarah barat laut dari konsesi dengan besaran sudut     23-29o masuk dalam katagori lapisan miring. Untuk kemenerusan lapisan batubara berdasarkan data outcrop dengan mengikuti arah strike batubara anatara singkapan OC-03 dan OC-04 berjarak 430 meter bisa dikategorikan menerus ratusan meter.
HIDROGEOKIMIA AIRTANAH PADA KAWASAN KARST BIDUK-BIDUK, KABUPATEN BERAU, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Shalaho Dina Devy
JURNAL TEKNOLOGI MINERAL FT UNMUL Vol 5, No 1 (2017): Jurnal Teknologi Mineral FT UNMUL Juni 2017
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jtm.v5i1.1437

Abstract

Provinsi Kalimantan Timur mempunyai kondisi geologi yang beraneka ragam, salah satunya kawasan karst Biduk-Biduk yang didominasi batugamping. Karst Biduk-Biduk berada di Kecamatan Biduk-Biduk, Kabupaten Berau. Sejalan dengan perkembangan industri semen di Indonesia yang memerlukan bahan baku utama batugamping, maka diperlukan kajian ilmiah mengenai potensi batugamping pada kawasan karst ini apabila akan dimanfaatakan. Tujuam penelitian ini yaitu, untuk mengetahui geokimia batugamping, fasies airtanah, dan tipe karst daerah Biduk-Biduk. Daerah Biduk-Biduk mempunyai geomorfologi karst yang unik, yaitu dataran karst, perbukitan karst, dan teras pantai. Berdasarkan geologi regional formasi batugamping banyak dijumpai pada Formasi Kuaro, Golok, Lembak, dan Tabular. Mineral utama yang dijumpai pada batugamping daerah penelitian adalah Kalsit (CaCO3), Aragonite (CaCO3), Dolomite (CaMg(CO)3)2, dan Chalsedony (SiO2). Kajian hidrogeokimia dipengaruhi oleh proses lingkungan pada airtanah (kualitas) dan geokimia (mineral) batuan yang mempengerahui kualitas dari air. Metode penelitian menggunakan metode induktif, yaitu menarik kesimpulan dari data kajian geologi, kajian geomorfologi, kajian geokimia, dan kualitas airtanah. Selain itu, dilakukan pula analisis mineral sampel batugamping dengan XRD dan XRF serta analisis kimia unsur utama untuk airtanah. Hasil analisis mineralogi yang menggunakan XRD di Laboratorium Pusat Survei Geologi, Bandung, menghasilkan analisis, bahwa mineral yang mendominasi batugamping adalah mineral kalsit kemudian diikuti oleh mineral kuarsa. Mineral kuarsa dijumpai pada sampel batugamping yang ada di permukaan dan di bawah permukaan. Berdasarkan hasil analisis geokimia (XRF) batugamping Biduk-Biduk dari Laboratorium Pusat Geologi, Bandung, memperlihatkan persentase CaO2 sampel batuan yang berasal dari batugamping permukaan dan bawah permukaan mempunyai rata-rata di atas 49%, kategori kekerasan karbonat lebih dari 50%, dan sifat kimia airtanah didominasi oleh alkali tanah dan basa dengan elemen mayor CaO dan SiO2­.
EVALUASI PRODUKTIVITAS CRUSHER PADA COAL PROCESSING PLANT DI PT. BARA TABANG, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Jumsar A; Harjuni Hasan; Sakdillah A
JURNAL TEKNOLOGI MINERAL FT UNMUL Vol 8, No 1 (2020): Jurnal Teknologi Mineral FT UNMUL Juni 2020
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jtm.v8i1.3977

Abstract

PT. Bara Tabang merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan batubara, terletak di wilayah Kecamatan Tabang dan Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur dengan target produksi untuk bulan Januari sebesar 806.000 ton. Dari hasil pengamatan menunjukkan produktivitas aktual dari crusher 1 sebesar 598,50 ton/jam, dengan waktu produksi aktual sebesar 558,46 jam mampu memproduksi batubara sebesar 334.236 ton, sedangkan produktivitas aktual crusher 2 sebesar 791,78 ton/jam, dengan waktu produksi aktual sebesar 498,47 jam mampu memproduksi batubara sebesar 394.680 ton dapat disimpulkan bahwa target produksi belum tercapai. Selanjutnya dilakukan analisis dan perhitungan perbaikan waktu hambatan sehingga diperoleh penambahan waktu untuk crusher 1 sebesar 29,32 jam sehingga produksi dari crusher 1 menjadi 351.784 ton sedangkan penambahan waktu untuk crusher 2 sebesar 76,36 jam sehingga produksi crusher 2 menjadi 455.140 ton. Jadi total produksi crusher untuk bulan Januari sebesar 806.924 ton.
Studi Pengaruh Ukuran Butir Terhadap Porositas dan Konduktivitas Hidrolik Batupasir dan Batulempung (Study of The Effect of Grain Size on Porosity and Hydraulic Conductivity of Sandstone and Claystone) Fadhlan Fadhlan Masdari
JURNAL TEKNOLOGI MINERAL FT UNMUL Vol 10, No 2 (2022): Jurnal Teknologi Mineral FT UNMUL Desember 2022
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jtm.v10i2.9021

Abstract

AbstrakPorositas dan konduktivitas hidrolik berhubungan langsung dengan aktivitas penambangan, di antaranya pembuatan jalan tambang (ramp) pada front area penambangan. Proses penambangan yang menyebabkan pori-pori tanah semakin kecil (ruang pori berkurang) sehingga porositas mengecil disebabkan pengaruh ukuran butir. Untuk mengetahui pengaruh ukuran butir terhadap porositas batupasir dan batulempung serta pengaruhnya juga klasifikasi nilai porositas dan konduktivitas hidrolik batupasir dan batulempung ini, metode yang digunakan ialah analisis ukuran butir untuk mengetahui besarnya ukuran butir dan jenis batuan menggunakan skala Wentworth (1992) kemudian pada analisis porositas menggunakan pengujian sifat fisik, dilakukan untuk mencari nilai yang berpengaruh terhadap kekuatan batuan seperti natural density, dry density, saturated density, apperent specific gravity, true specific gravity, specific gravity, natural water content, saturated water content, derajat kejenuhan, porositas dan void ratio (Arif, 2016). Pada ada analisis konduktivitas hidrolik digunakan alat permeameter untuk mengetahui kecepatan air dalam satuan (meter/detik) dari sampel batupasir dan batulempung dengan jumlah 10 sampel berbentuk coring.Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ukuran butir batupasir adalah 1/8 atau 0,125 mm sedangkan batulempung adalah 1/256 atau 0,003 mm. Analisis porositas yang dilakukan pada sampel daerah penelitian menunjukkan persentase rata-rata 87,44 % untuk sampel batupasir dan 77,95 % untuk batulempung. Sedangkan dari hasil uji konduktivitas hidrolik batupasir didapatkan hasil 5,71 × 10-9 meter/detik dan 5,74 × 10-9 meter/detik.Kata Kunci: Ukuran Butir, Porositas, Konduktivitas Hidrolik, Batupasir, Batulempung  AbstractPorosity and hydraulic conductivity are directly related to mining activities, including the construction of a minerampon the front of the mining area. The mining process causes the soil pores to get smaller (reduced pore space) so that the porosity decreases due to the influence of grain size. To determine the effect of grain size on the porosity of sandstones and claystones as well as its influence on the classification of porosity and hydraulic conductivity values of sandstones and claystones, the method used is grain size analysis to determine the size of grains and rock types using the Wentworth scale (1992) then porosity analysis using the Wentworth (1992) scale. Physical property testing is carried out to find values that affect rock strength such as natural density, dry density, saturated density, apperent specific gravity, true specific gravity, specific gravity, natural water content, saturated water content, degree of saturation, porosity and void ratio ( Arif, 2016). In the hydraulic conductivity analysis, a permeameter was used to determine the water velocity in units (meters/second) of sandstone and claystone samples with a total of 10 coring.The results showed that the value of the grain size of the sandstone was 1/8 or 0.125 mm while the claystone was 1/256 or 0.003 mm. Porosity analysis performed on the sample of the study area showed an average percentage of 87.44% for the sandstone sample and 77.95% for the claystone. Meanwhile, from the results of the hydraulic conductivity of sandstone, the results were 5.71 × 10-9   meters/second and 5.74 × 10-9 meters/second.Keywords: Grain Size, Porosity, Hydraulic Conductivity, Sandstone, Claystone
ANALISIS PRODUKTIVITAS UNIT PEREMUK BATUBARA (CRUSHING PLANT) UNTUK PENCAPAIAN HASIL PRODUKSI DI PT. CMS KALTIM UTAMA KECAMATAN SAMARINDA UTARA KOTA SAMARINDA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Ryant Bulo
JURNAL TEKNOLOGI MINERAL FT UNMUL Vol 5, No 1 (2017): Jurnal Teknologi Mineral FT UNMUL Juni 2017
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jtm.v5i1.1409

Abstract

PT. CMS Kaltim Utama merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan batubara, terletak di wilayah Samarinda Utara, Provinsi Kalimantan Timur.Pengolahan batubara yang dilakukan PT. CMS Kaltim Utama adalah pengecilan ukuran material dengan jalan peremukan. Unit peremukan juga mengalami beberapa hambatan selama proses pengolahan berlangsung seperti terja dinya gangguan teknis dangan gangguan mekanis yaitu terjadinya kerusakan pada system kelistrikan, material umpan terlambat datang, hopper mengalami buntu akibat material terlalu besar, beltrobek, belt conveyor macet motor penggerak crusher rusak dan rantai motor penggerak lepas. Dari hasil pengamatan yang dilakukan adalah mengetahui produksi nyata dari masing-masing bagian alat perumakan batubara. Produksi nyata dari feed conveyor sebesar 201,11 ton/jam, transfer conveyor sebesar 110,35 ton/jam, efisiensiscreen sebesar 54,87% danstacking conveyorsebesar 104,65 ton/jam, dan selanjutnya dapat dilakukan perhitungan untuk mengetahui nilai ketersediaan alat crusher adalah Kesediaan Fisik (Physical Availability) 69,11% pada bulan januari dan 79,93% pada bulan februari, Penggunaan Efektif (Effective Utilizations) 40,76% pada bulan januari dan 48,69 pada bulan februari. Selanjutnya dilakukan analisis dan perhitungan perbaikan waktu hambatan sehingga diperoleh penambahan waktu sebesar 307,09 menit/hari pada bulan januari dan 222,7 menit/hari pada bulan Februari.
Analisis Kestabilan Lereng Dengan Menggunakan Metode Rock Mass Rating (RMR) Dan Metode Slope Mass Rating (SMR) Pada Penambangan Batupasir Daerah Bukit Pinang Kecamatan Samarinda Ulu Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur Marlinus Matius Lollong; Tommy Trides; Windhu Nugroho
JURNAL TEKNOLOGI MINERAL FT UNMUL Vol 7, No 1 (2019): Jurnal Teknologi Mineral FT UNMUL Juni 2019
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jtm.v7i1.2435

Abstract

Kestabilan pada lereng batuan berhubungan dengan tingkat pelapukan dan struktur geologi yang ada pada massa batuan tersebut, seperti sesar, kekar, lipatan, dan bidang perlapisan. Struktur tersebut selain lipatan disebut dengan bidang lemah. Disamping struktur geologi, kehadiran air dan sifat fisik-mekanik batuan juga mempengaruhi kestabilan lereng. Analisis kestabilan lereng yang digunakan yaitu metode Rock Mass Rating (RMR) dilanjutkan dengan metode Slope Mass Rating (SMR). Metode Rock Mass Rating (RMR) menggunakan lima parameter serta sifat fisik dan sifat mekanik batuan berupa berat jenis batuan dan kuat tekan batuan. Lima parameter tersebut yaitu Kuat Tekan Batuan, Rock Quality Designation (RQD), jarak kekar, kondisi kekar, dan kondisi airtanah daerah penelitian. Slope Mass Rating (SMR) diperoleh dengan menjumlahkan faktor penyesuaian yang bergantung pada orientasi bidang diskontinuitas dan metode penggalian. Dari analisis yang dilakukan pada lereng di lokasi penelitian, didapatkan nilai parameter metode Rock Mass Rating (RMR) yaitu kuat tekan batuan = 81,37 MPa, RQD = 99,72%, jarak kekar = 1,28 meter, kodisi kekar = panjang diskontinuitas 28 - >500 cm, terbuka 0 – 10 mm, agak kasar, isian kasar (lempung), sedikit lapuk. Kondisi Airtanah daerah tersebut termasuk kedalam kondisi kering. Untuk nilai SMR yang didapatkan ada tiga dikarenakan ada tiga potensi longsoran yang terdapat pada daerah penelitian. SMR pada longsoran bidang = 50,2 (kelas SMR nomor III), SMR pada longsoran baji = 43 (kelas SMR nomor III), SMR pada longsoran guling = 49,5 (kelas SMR nomor III). Hal ini menyatakan bahwa lereng dalam keadaan tidak menentu. Perlu dilakukan perubahan pada geometri lereng agar lereng dalam keadaan stabil.
Analisis Kestabilan Longsoran Baji Pada Lereng Batupasir, Daerah Kecamatan Loa Janan Ulu, Kota Samarinda, Kalimantan Timur Muhammad Ilham; Tommy Trides; Koeshadi Sasmito; Revia Oktaviani; Sakdillah S; Henny Magdalena; Lucia Litha Respati
JURNAL TEKNOLOGI MINERAL FT UNMUL Vol 9, No 2 (2021): Jurnal Teknologi Mineral FT UNMUL Desember 2021
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jtm.v9i2.6962

Abstract

Pengaruh bidang kekar sangat mempengaruhi kestabilan pada suatu lereng batuan. Keberadaan bidang-bidang kekar tersebut dapat menjadi bidang gelincir pada suatu jenis longsoran sehingga lereng batuan dapat mengalami pergerakan. Pada penelitian ini analisis longsoran baji dilakukan pada lereng batupasir dengan tinggi 20,57 meter dengan sudut kemiringan lereng 66˚ dan terdapat 33 bidang kekar yang saling memotong.Metode yang digunakan pada penelitian ini yakni dengan melakukan pengukuran dilapangan dengan menggunakan metode scanline untuk mengukur bidang-bidang kekar pada sepanjang pita ukur. Analisis stereografis dilakukan pada penelitian ini untuk menentukan jumlah set orientasi bidang kekar dan analisis faktor keamanan dilakukan dengan menggunakan metode analitik.Hasil analisis yang dilakukan pada lokasi penelitian terdapat 33 bidang kekar dengan jumlah 3 set kekar. Analisis kinematika dengan metode stereografis menunjukkan bahwa potensi longsoran yang dapat terjadi adalah longsoran baji. Analisis kestabilan pada lereng batupasir menunjukkan bawah faktor keamanan longsoran baji sebesar 15,79 dalam hal ini lereng batupasir dapat dinyatakan dalam keadaan stabil.
ANALISIS KESTABILAN LERENG HIGH WALL BERDASARKAN NILAI FAKTOR KEAMANAN DENGAN METODE BISHOP SIMPLIFIED PADA PIT S12GN PT. KITADIN EMBALUT SITE, KECAMATAN TENGGARONG SEBERANG, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Sony Mahardika; Hamzah Umar
JURNAL TEKNOLOGI MINERAL FT UNMUL Vol 5, No 2 (2017): Jurnal Teknologi Mineral FT UNMUL Desember 2017
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jtm.v5i2.1399

Abstract

PT. Kitadin Embalut Site merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang pertambangan dengan sistem tambangterbuka, salah satu kegiatannya adalah pembentukan lereng. Analisis kestabilan lereng menggunakan Metode Bishopyang disederhanakan dengan tujuan untuk mendapatkan nilai faktor keamanan ≥ 1,3. Saat ini nilai faktor keamanan (FK)merupakan indikator pada penentuan lereng menjadi stabil. Faktor keamanan dianggap sebagai parameter dari nilai rataratayang mewakili karakteristik tersebut. Di sisi lain secara aktual parameter tersebut memiliki variasi nilai dengankarakteristik yang berbeda. Parameter yang digunakan dalam analisis kestabilan lereng adalah sifat fisik dan mekanikbatuan yang berupa bobot isi (ϒ), kohesi (c) dan sudut geser dalam (φ). Berdasarkan analisis pada desain awal yangdibagi menjadi beberapa section dari section A-A’ – H-H’. Dari seluruh section, hanya section F-F’ yang memiliki nilaiFK tidak aman, sedangkan section lainnya dinyatakan aman. Sehingga untuk mengoptimalkan agar memperoleh nilai FKyang aman diperlukan redesain geometri berdasarkan hasil analisis pada soft clay material dan original material. Softclay material dengan rekomendasi tinggi 5 m, single slope 20° dan overall slope 8° (dalam kondisi kering). Jika soft claymaterial dalam kondisi jenuh ada tambahan counter berm di elevasi -10 msl dengan panjang 15 m, tinggi 5 m, dan singleslope 20°. Untuk Original matrial dengan rekomendasi tinggi 10 m, single slope 60°, berm 5 m dan safety berm 15 m dielevasi -40 msl. Setelah dilakukan redesain geometri lereng pada section A-A’ sampai section H-H’ didapatkan nilai FKyang optimal.
STUDI PENENTUAN PERSEN PENYUSUTAN (SHRINKAGE PERCENT) DAN FAKTOR PENYUSUTAN (SHRINKAGE FACTOR) BATUAN BERDASARKAN VOLUME MATERIAL PADA DAERAH SAMARINDA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Adin anugrah; Revia Oktaviani; Agus Winarno
JURNAL TEKNOLOGI MINERAL FT UNMUL Vol 9, No 1 (2021): Jurnal Teknologi Mineral FT UNMUL Juni 2021
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jtm.v9i1.5817

Abstract

Penentuan faktor penyusutan dan persen penyusutan cukup penting dalam pertambangan, contohnya seperti urugan jalan agar mengetahui seberapa banyak batuan yang dibutuhkan dan layak atau tidaknya batuan tersebut digunakan. Kadar air, bentuk dan ukuran sampel batuan, serta energi pemadatan yang diberikan merupakan parameter yang menentukan penyusutan dari masing – masing batuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai dari persen penyusutan dan faktor penyusutan pada batuan. Penelitian ini menggunakan sampel uji yang lolos ayakan mesh no.8 dengan pengujian menggunakan alat uji proktor mengacu pada SNI 03-1743-1989 dan pengujian sifat fisik mengacu pada ISMR 1977, pada penentuan distribusi ukuran butir menggunakan alat screen shaker. Penelitian ini menggunakan sampel batuan berupa batugamping, batulanau, dan batulempung dengan lokasi yang berbeda – beda, masing – masing sampel diambil sebanyak sepuluh lokasi. Dari penelitian ini didapatkan hasil untuk batugamping kadar air 1,12 – 2,40%, densitas 1,89 – 2,24 gr/cm³, nilai persen penyusutan 9,88 % – 15,98 %, dan faktor penyusutan 1,11 – 1,19. Batulanau dengan kadar air 1,80 – 20,81 %, densitas 1,23 – 1,60 gr/cm³, nilai persen penyusutan 21,77 % – 38,10 %, dan faktor penyusutan 1,28 – 1,62. Batulempung dengan kadar air 9,36 – 26,79 %, densitas 1,65 – 1,97 gr/cm³, nilai persen penyusutan 34,05 % – 51,47 %, dan faktor penyusutan 1,52 – 2,06.Kata kunci : Batugamping, batulanau, batulempung, densitas, kadar air, faktor penyusutan, persen penyusutan
STUDI KORELASI ROCK MASS RATING (RMR) DAN OVERBREAK TAMBANG EMAS TOGURACI PT. NUSA HALMAHERA MINERALS DI HALMAHERA UTARA, PROVINSI MALUKU UTARA Muhammad Yusuf Halimi; Adi Uzaimi Winaswangusti
JURNAL TEKNOLOGI MINERAL FT UNMUL Vol 6, No 1 (2018): Jurnal Teknologi Mineral FT UNMUL Juni 2018
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jtm.v6i1.1387

Abstract

Pada proses penambangan bawah tanah terdapat proses peledakan, yaitu peledakan untuk pembukaan terowongan atau pada peledakan stope. Stoping adalah salah satu metode untuk mengekstrasi hanya pada tubuh biji saja (Ore) dengan sistem peledakan. Pada proses peledakan stoping, masalah yang sering terjadi yaitu adanya overbreak dan underbreak. Overbreak adalah salah satu efek dari peledakan dimana kelebihan volume peledakan di luar rencana, overbreak erat kaitannya dengan karakteristik batuan itu sendiri. Penelitian ini di Orebody Yahut pada Stoping Tambang Toguraci, PT. Nusa Halmahera Minerals, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara klasifikasi massa batuan ( RMR ) terhadap overbreak dan mengetahui nilai dilusi pada masing-masing stoping. Pada Stoping 5015 diperoleh nilai RMR 16-63 dengan hasil perhitungan ELOS sebesar 2,41 m, pada Stoping 5035-01 diperoleh nilai RMR 15-42 dengan hasil perhitungan ELOS sebesar 1,74 m, pada Stoping 5035-02 diperoleh nilai RMR 22-67 dengan hasil perhitungan ELOS sebesar 2,65 m, pada Stoping 5080 diperoleh nilai RMR 19-63 dengan hasil perhitungan ELOS sebesar 1,73 m. Hasil perhitungan korelasi untuk RMR low dan ELOS diperoleh nilai t pearson 0,2688 dibandingkan dengan alpha 0,950 dan 0,990. Hasil perbandingan menunjukkan bahwa antara RMR low dan ELOS tidak mempunyai korelasi. Hasil perhitungan korelasi untuk RMR high dan ELOS diperoleh nilai t perason 1,27 dibandingkan dengan alpha 0,950 dan 0,990. Hasil menunjukkan bahwa antara RMR high dan ELOS mempunyai korelasi. Hasil perhitungan nilai dilusi pada Stoping 5015 sebesar 50 %, pada Stoping 5035-01 sebesar 18 %, pada Stoping 5035-02 22 %, pada Stoping 5080 sebesar 45 % sehingga rata-rata dilusi untuk kegiatan penambangan yaitu sebesar 33,8%

Page 10 of 12 | Total Record : 119