cover
Contact Name
Arif Fiandi
Contact Email
intelekcendikiawannusantara@gmail.com
Phone
+6285274823488
Journal Mail Official
ariffiandi03@gmail.com
Editorial Address
Jorong Nyiur, AGAM, Sumatera Barat
Location
Kab. agam,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara
ISSN : -     EISSN : 30464560     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara (JICN) adalah Jurnal Multi Disiplin Semua Bidang Ilmu sebuah publikasi yang melayani sebagai wadah bagi penelitian interdisipliner dan kolaboratif di berbagai bidang ilmu. Jurnal ini memperoleh keunggulan dengan mencakup berbagai disiplin ilmu, seperti ilmu sosial, hukum, pertanian, pendidikan, ekonomi, manajemen, sejarah, komputer, kesehatan, sains alam, ilmu sosial, bahasa, humaniora, dan ilmu lainnya.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 2,891 Documents
PENGARUH BULLYING TERHADAP KEMAMPUAN BERSOSIALISASI PADA PELAJAR Hanz Banurea; Sultan Iskandar Muda; Yesica Dwi April Yanti Sinaga
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bullying merupakan salah satu permasalahan sosial yang masih sering terjadi di lingkungan pendidikan, baik pada tingkat sekolah dasar, menengah, maupun perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk bullying, faktor penyebab, serta dampaknya terhadap kemampuan bersosialisasi pada pelajar. Studi ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam terhadap lima mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang pernah mengalami bullying pada jenjang pendidikan sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk bullying yang paling sering dialami adalah bullying verbal, seperti ejekan fisik, penghinaan, dan pemberian julukan yang merendahkan. Sebagian responden juga mengalami bullying sosial berupa pengucilan dalam pertemanan. Faktor penyebab bullying umumnya berasal dari perilaku teman sebaya, kurangnya pengawasan sekolah, serta budaya mengejek yang dianggap sebagai hal biasa. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik wawancara mendalam. Kelima responden berasal dari latar belakang pendidikan dan pengalaman sosial yang berbeda, namun seluruhnya pernah mengalami bullying pada jenjang SMP atau SMA, terutama dalam bentuk bullying verbal, seperti ejekan fisik, penghinaan karakter, dan pemberian julukan negatif. Beberapa responden juga mengalami bullying sosial berupa pengucilan dalam kelompok pertemanan dan perlakuan merendahkan di lingkungan sekolah. Penelitian ini menegaskan pentingnya pencegahan bullying di lingkungan pendidikan karena tidak semua individu memiliki resiliensi yang sama. Selain itu, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi sekolah, orang tua, dan lembaga pendidikan untuk memperkuat sistem dukungan dan menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan bebas dari praktik bullying.
Strategi Pembiasaan Guru dalam Penggunaan Media Ajar terhadap Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar Alma Ridha Hayati; Ahmad Suriansyah; Harsono, Arta Mulya Budi
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh strategi pembiasaan guru dalam penggunaan media ajar di SDN Pelambuan 2 Banjarmasin. Urgensi penelitian ini terletak pada kesenjangan literatur yang mayoritas berfokus pada efektivitas media spesifik, bukan pada strategi pembiasaan guru secara berkelanjutan, terutama di sekolah dengan keterbatasan sarana. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus eksploratif. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan kepala sekolah dan guru, observasi langsung di kelas, dan analisis dokumentasi. Hasil penelitian menemukan bahwa guru menerapkan strategi pembiasaan yang konsisten dan variatif: Guru 1 menggunakan metode mendalam, sementara Guru 2 memanfaatkan media konkret dalam rutinitas harian. Pembiasaan ini secara signifikan meningkatkan motivasi belajar dan menumbuhkan kemandirian siswa melalui refleksi diri. Oleh karena itu, strategi pembiasaan media ajar yang rutin dan kontekstual terbukti menjadi kunci untuk meningkatkan motivasi dan kemandirian belajar siswa di sekolah dasar.  
Strategi Inovasi Pembelajaran Berdiferensiasi Di Sekolah Dasar Aprida Herliani; Arta Mulya Budi Harsono; Ahmad suriansyah
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Keberagaman kemampuan dan karakteristik siswa di sekolah dasar menuntut guru untuk menerapkan pembelajaran berdiferensiasi yang adaptif sesuai prinsip Kurikulum Merdeka. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan strategi inovasi pembelajaran berdiferensiasi yang diterapkan guru kelas 5B SDN Pelambuan 2 serta mengidentifikasi dampak, tantangan, dan solusinya. Penelitian menggunakan desain studi kasus kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara semi-terstruktur, observasi non-partisipan, dan dokumentasi, yang dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Unit analisis adalah strategi adaptif guru dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Hasil penelitian mengungkap empat tema utama: (1) Perencanaan Pembelajaran Berdiferensiasi, di mana guru melakukan asesmen diagnostik dan menyusun modul ajar fleksibel; (2) Pelaksanaan Pembelajaran Berdiferensiasi, di mana guru menerapkan diferensiasi konten, proses, dan produk yang meningkatkan motivasi, keterlibatan, dan kepercayaan diri siswa; (3) Manajemen Kelas Inovatif, di mana guru menciptakan lingkungan belajar inklusif melalui penguatan positif, pengaturan ruang fleksibel, dan pengelompokan dinamis; serta (4) Evaluasi dan Refleksi Berkelanjutan, di mana guru melakukan penilaian proses dan hasil belajar untuk penyempurnaan strategi pembelajaran. Meskipun menghadapi keterbatasan waktu dan sumber daya, guru berhasil mengembangkan inovasi praktis untuk menciptakan pembelajaran inklusif. Penelitian ini memberikan model praktik baik implementasi pembelajaran berdiferensiasi di sekolah dasar yang dapat direplikasi pendidik lain untuk mendukung tujuan Kurikulum Merdeka.
Implementasi Manajemen Sekolah Dalam Meningkatkan Student Agency Siswa Dalam Berkompetisi Fitri Ayu Lestari; Arta Mulya Budi Harsono; Ahmad Suriansyah
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manajemen sekolah memainkan peran kunci dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung pengembangan agency siswa. Namun, penelitian yang secara khusus mengaitkan implementasi manajemen sekolah dengan peningkatan agency siswa dalam konteks berkompetisi di sekolah dasar masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan bagaimana implementasi manajemen sekolah dapat meningkatkan student agency siswa, khususnya dalam konteks berkompetisi baik akademik, maupun non-akademik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus di SDN Simpang Jaya Barito Kuala. Analisis ini didasarkan pada wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Temuan menunjukkan bahwa manajemen sekolah berkontribusi secara signifikan melalui delapan domain kunci, yaitu penyediaan program pengembangan kompetensi yang didasarkan pada minat dan bakat, fasilitasi kompetisi terstruktur, bimbingan, evaluasi reflektif partisipatif, peran kepemimpinan kepala sekolah dan guru, pembinaan kemandirian dan inisiatif siswa dalam persiapan kompetisi, penguatan tanggung jawab dan sportivitas, peningkatan fasilitas dan dukungan emosional, serta identifikasi faktor penghambat seperti kurangnya pengalaman kompetisi tingkat tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen sekolah yang efektif mampu menciptakan budaya belajar yang memberdayakan siswa sebagai agen aktif. Namun, program pembinaan berjenjang masih diperlukan untuk mengatasi keterbatasan pengalaman kompetisi. Penelitian ini menekankan pentingnya mengintegrasikan strategi manajemen sekolah dengan penguatan agen siswa dalam konteks kompetisi sebagai respons terhadap tuntutan pendidikan yang semakin kompetitif.
STRATEGI GURU DALAM MENGATASI KURANGNYA PEMAHAMAN SISWA PADA SOAL CERITA DI SEKOLAH DASAR Siti Herdayanti; Arta Mulya Budi Harsono; Ahmad Suriansyah
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Memahami soal cerita matematika merupakan tantangan umum yang dihadapi oleh siswa sekolah dasar. Meskipun siswa dapat melakukan operasi hitung dengan benar, banyak dari mereka masih belum optimal dalam menyelesaikan soal cerita berbasis naratif karena kesulitan memahami makna teks. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat pemahaman siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika berdasarkan materi yang telah dipelajari. Mengidentifikasi berbagai pendekatan strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru untuk mendukung siswa dalam memahami konten dan esensi soal cerita. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif desain studi kasus dengan teknik pengumpulan data menggunakan triangulasi data, meliputi observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru mampu menerapkan strategi yang menyesuaikan siswa dalam pembelajaran soal cerita, hal ini berdampak positif karena guru mampu menerapkan strategi dengan baik, tantangannya yaitu pada waktu pembelajaran karena masih terdapat siswa yang belum paham sehinggu guru harus menjelaskannya berulang-ulang, dan tantangan lain yaitu terbatasnya fasilitas sarana prasarana.
Implementasi Program RAKATI dalam Literasi Membaca dan Bakat Siswa Sekolah Dasar Elya Nurhaliza Rachim; Ahmad Suriansyah; Arta Mulya Budi Harsono
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan pelaksanaan dan dampak program RAKATI (Literasi, Bakat, dan Seni) dalam meningkatkan kemampuan literasi membaca serta pengembangan bakat siswa sekolah dasar. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Sungai Lulut 7 Kabupaten Banjar dengan menerapkan  pendekatan kualitatif desain studi kasus. Data diperoleh melalaui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik triangulasi. Analisis data menunjukan bahwa pelaksanaan program RAKATI dilakukan secara terencana setiap hari Rabu, meliputi kegiatan membaca, retelling isi bacaan, dan penampilan bakat siswa dalam bidang seni seperti menyanyi, menari, serta bela diri. Program ini terbukti mampu meningkatkan minat baca, kemampuan berbahasa, kepercayaan diri, serta kreativitas siswa. Selain itu, kegiatan seni yang terintegrasi dengan literasi memberikan ruang bagi siswa untuk mengekspresikan diri dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Kendala yang ditemukan meliputi keterbatasan fasilitas dan kurangnya kepercayaan diri sebagian siswa, namun dapat diatasi melalui bimbingan dan dukungan guru. Secara keseluruhan, program RAKATI menjadi inovasi efektif dalam mengimplementasikan Gerakan 
Implementasi Media Pembelajaran Interaktif Terhadap Keterampilan Berfikir Tingkat Tinggi Siswa Sekolah Dasar Najmi Ulya; Mulya Budi Harsono, Arta; Ahmad Suriansyah
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) siswa sekolah dasar masih menjadi tantangan, terutama pada pembelajaran IPAS yang memuat konsep abstrak seperti cahaya. Penelitian ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan dan mengetahui tingkat penguasaan HOTS siswa Kelas V SDN Mawar 7 setelah diberikan pengajaran dengan menggunakan Media Pembelajaran Interaktif (MPI). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Adapun data dalam studi ini diperoleh dari tiga sumber, yaitu wawancara, observasi non-partisipan, dan dokumentasi pembelajaran. Data utama diperoleh dari tata kegiatan siswa dan respons guru dalam pembelajaran dengan menggunakan MPI. Hasil penelitian membuktikan bahwa MPI dalam pembelajaran mengandung animasi, video pembuka, simulasi, dan permainan. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa MPI mampu meningkatkan motivasi dan perhatian siswa, serta mefasilitasi siswa untuk mampu melakukan analisis pada sifat cahaya dan pengelompokan (C4) pada benda, melakukan evaluasi pada semua tahap eksperimen serta mengemukakan alasan yang logis pada percobaan (C5) dan berkreasi percobaan baru dengan menggunakan barang dan alat yang sederhana yang ada di sekitarnya (C6). Penemuan ini membuktikan bahwa ada dukungan efektif dari MPI dalam pembelajaran yang aktif dan kontekstual. Media Pembelajaran Interaktif (MPI) telah berdampak positif terutama dalam meningkatkan kemampuan berfikir tingkat tinggi siswa. Media Pembelajaran Interaktif (MPI) layak untuk digunakan dalam pembelajaran IPAS SD guna  meningkatkan HOTS dalam pembelajaran IPAS di sekolah.
KEPEMIMPINAN KOLABORATIF KEPALA SEKOLAH TERHADAP KUALITAS PENDIDIKAN DI SEKOLAH DASAR Mahdalina Mahdalina; Arta Mulya Budi Harsono; Ahmad Suriansyah
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The quality of education is influenced by the principal's ability to build a collaborative culture and a conducive learning environment. This study aims to describe the collaborative leadership practices of the principal and their impact on the quality of education at SDN Mawar 7 Banjarmasin. This study was conducted because collaborative leadership by the principal can improve school quality, but in-depth studies on the context of elementary schools in South Kalimantan are still very limited. This study uses qualitative methodology with an exploratory case study in an elementary school in the city of Banjarmasin. Information was collected through semi-structured interviews, non-participatory observation, and document analysis, with a focus on two teachers as the main subjects. This study states that the principal exercises a collaborative leadership style through two-way communication, decision-making through deliberation, teacher empowerment based on expertise or ability, continuous supervision, and the provision of innovative learning facilities. This collaborative leadership has a positive impact on improving the quality of learning, a collaborative school environment, and increasing teacher professionalism. In this study, collaborative leadership contributes significantly to the quality of education in elementary schools. These findings have important implications for the development of principal leadership practices and the strengthening of a collaborative culture in elementary schools.
Peran Guru Dalam Merancang Pembelajaran Dengan Prinsip Understanding by Design (UBD) yang Terintegrasi Deep Learning Vera Wati; Arta Mulya Budi Harsono; Ahmad Suriansyah
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan abad ke-21 menuntut sekolah untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan zaman. Perubahan ini sangat pesat dalam dunia pendidikan global mengharuskan adanya penyesuaian kurikulum yang adaptif, relevan, dan berpusat pada siswa. Pembelajaran ideal perlu melampaui transfer informasi menuju pengembangan pemahaman mendalam (deep learning) dan kemampuan berpikir kritis.  Understanding by Design (UbD) menjadi pendekatan relevan yang digunakan guru untuk merancang pembelajaran bermakna dan transformatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa peran guru dalam merancang pembelajaran berbasis understanding by design yang terintegrasi dengan deep learning pada kelas 5 SDN Sidomulyo 2 Kabupaten Barito Kuala. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi kasus, melibatkan satu guru dan tiga siswa. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki peran strategis dalam mengimplementasikan tahapan backward design. Integrasi deep learning tampak melalui aktivitas yang mendorong keterlibatan aktif. Pendekatan ini berdampak pada meningkatnya pemahaman konseptual, kemandirian, serta kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Penelitian merekomendasikan peningkatan kompetensi guru dalam desain understanding by design serta dukungan institusi agar implementasinya lebih optimal.
IMPLEMENTASI DISCOVERY LEARNING PADA IPAS DI KETERBATASAN SARANA DAN PRASARANA Eka Widiya Lestari; Mulya Budi Harsono, Arta; Suriansyah, Ahmad
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A gap exists between the ideal use of digital media in Discovery Learning and the limited facilities available at SDN Sungai Lulut 7. Using a qualitative case study, this research focused on a third-grade teacher, supported by student data gathered through interviews, observations, and documentation. The findings show that the discovery process can still take place without LCDs or stable electricity by replacing digital media with printed images, real objects, and direct observation activities. Students remained engaged in asking questions, observing, discussing, and drawing conclusions, although challenges like limited media and a crowded classroom were still present. The teacher’s adaptations such as simplifying learning steps, forming small groups, and maximizing simple materials played a key role in keeping the learning process active. These results highlight that the success of Discovery Learning relies more on teacher creativity than technology, offering opportunities for schools with limited facilities to continue meaningful and student-centered learning.