cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
JL Pramuka no 27 Kemiling Bandar Lampung, Kode Pos 35152
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : 10.33024
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal akan terbit 8 kali dalam satu tahun (Maret, April, Juni, Juli, September, Oktober, Desember, dan Januari). Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 106 Documents
Kepuasan klien terhadap pelayanan kesehatan ibu dan bayi di rumah sakit x Jombang Herin Mawarti; Khotimah Khotimah; Masruroh Masruroh; Muhammad Zulfikar Asumta; Ade Armada Sutedja
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 1 (2024): Volume 18 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i1.142

Abstract

Background: Maternal and infant mortality rates still do not meet the targets set in the SDGs. Efforts made to reduce maternal mortality are by improving services for mothers and children, apart from that, measuring the success of a health service is measuring satisfaction. Purpose: To analyze client satisfaction with maternal and baby health services at the x Jombang hospital. Method: The research design used was descriptive with a survey method. The population is patients or families who have received complete services at 3 Arsinu hospitals, namely RSIA Muslimat, RSNU, and RSUM Jombang in January-April 2023. Sample collection used the Krejcie and Morgan table for 200 respondents. The satisfaction questionnaire instrument measures perceptions about the initial labor process, emergency unit services, polyclinics, delivery rooms, operating rooms, treatment rooms, NICU rooms, treatment rooms, laboratories and pharmacy, perceptions of costs and complaint handling. Data analysis uses univariate and bivariate. Results: Performance in all Arsinu Hospital service units is good with a patient satisfaction index between 3.19-3.51. The NICU room service satisfaction index is the highest, namely 3.59 with very good service performance or service quality A. There is a correlation between health service elements. Conclusion: The level of service satisfaction is generally good and the level of satisfaction is related to service quality. Suggestion: It is hoped that services will continue to be improved by creating policies that support the provision of quality, effective, efficient and accountable services, improving the provision of facilities and infrastructure and improving the quality of resources and professionalism of officers regarding behavior and communication issues.   Keywords: Maternal; Neonatal; Satisfaction.   Pendahuluan: Angka kematian Ibu dan bayi masih belum memenuhi target yang ditetapkan dalam SDGs. Upaya yang dilakukan dalam menurunkan angka kematian ibu adalah dengan peningkatan pelayanan ibu dan anak, selain itu sebagai tolak ukur kesuksesan   suatu pelayanan kesehatan adalah dengan pengukuran kepuasan. Tujuan: Untuk menganalisis kepuasan klien terhadap pelayanan kesehatan ibu dan bayi di rumah sakit x Jombang. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan metode survei. Populasi adalah pasien atau keluarga yang telah mendapatkan pelayanan secara paripurna di 3 RS Arsinu, yakni RSIA     Muslimat, RSNU, dan RSUM Jombang bulan Januari-April 2023. Pengumpulan sampel menggunakan tabel krejcie and morgan sebanyak 200 responden. Instrumen kuesioner kepuasan mengukur persepsi tentang proses awal persalinan, pelayanan UGD, poliklinik, kamar bersalin, kamar operasi, kamar perawatan, ruang NICU, ruang perawatan, laboratorium dan farmasi, persepsi biaya dan penanganan pengaduan. Analisis data menggunakan univariat dan bivariat. Hasil: Kinerja di semua unit pelayanan RS Arsinu yaitu baik dengan indeks kepuasan pasien antara 3.19-3.51. Indeks kepuasan pelayanan ruang NICU paling tinggi yaitu 3.59 dengan kinerja pelayanan sangat baik atau mutu pelayanan A. Terdapat korelasi antara unsur pelayanan kesehatan. Simpulan: Tingkat kepuasan pelayanan secara umum baik dan tingkat kepuasan berhubungan dengan kualitas pelayanan. Saran: Diharapkan tetap meningkatkan pelayanan dengan menciptakan kebijakan-kebijakan yang mendukung terselenggaranya pelayanan yang berkualitas, efektif, efisien dan akuntabel, meningkatkan penyediaan fasilitas sarana dan prasarana dan peningkatan kualitas sumber daya dan keprofesionalan petugas terkait masalah perilaku dan komunikasi.   Kata Kunci: Kepuasan; Maternal; Neonatal. Background: Maternal and infant mortality rates still do not meet the targets set in the SDGs. Efforts made to reduce maternal mortality are by improving services for mothers and children, apart from that, measuring the success of a health service is measuring satisfaction. Purpose: To analyze client satisfaction with maternal and baby health services at the x Jombang hospital. Method: The research design used was descriptive with a survey method. The population is patients or families who have received complete services at 3 Arsinu hospitals, namely RSIA Muslimat, RSNU, and RSUM Jombang in January-April 2023. Sample collection used the Krejcie and Morgan table for 200 respondents. The satisfaction questionnaire instrument measures perceptions about the initial labor process, emergency unit services, polyclinics, delivery rooms, operating rooms, treatment rooms, NICU rooms, treatment rooms, laboratories and pharmacy, perceptions of costs and complaint handling. Data analysis uses univariate and bivariate. Results: Performance in all Arsinu Hospital service units is good with a patient satisfaction index between 3.19-3.51. The NICU room service satisfaction index is the highest, namely 3.59 with very good service performance or service quality A. There is a correlation between health service elements. Conclusion: The level of service satisfaction is generally good and the level of satisfaction is related to service quality. Suggestion: It is hoped that services will continue to be improved by creating policies that support the provision of quality, effective, efficient and accountable services, improving the provision of facilities and infrastructure and improving the quality of resources and professionalism of officers regarding behavior and communication issues.   Keywords: Maternal; Neonatal; Satisfaction.   Pendahuluan: Angka kematian Ibu dan bayi masih belum memenuhi target yang ditetapkan dalam SDGs. Upaya yang dilakukan dalam menurunkan angka kematian ibu adalah dengan peningkatan pelayanan ibu dan anak, selain itu sebagai tolak ukur kesuksesan   suatu pelayanan kesehatan adalah dengan pengukuran kepuasan. Tujuan: Untuk menganalisis kepuasan klien terhadap pelayanan kesehatan ibu dan bayi di rumah sakit x Jombang. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan metode survei. Populasi adalah pasien atau keluarga yang telah mendapatkan pelayanan secara paripurna di 3 RS Arsinu, yakni RSIA     Muslimat, RSNU, dan RSUM Jombang bulan Januari-April 2023. Pengumpulan sampel menggunakan tabel krejcie and morgan sebanyak 200 responden. Instrumen kuesioner kepuasan mengukur persepsi tentang proses awal persalinan, pelayanan UGD, poliklinik, kamar bersalin, kamar operasi, kamar perawatan, ruang NICU, ruang perawatan, laboratorium dan farmasi, persepsi biaya dan penanganan pengaduan. Analisis data menggunakan univariat dan bivariat. Hasil: Kinerja di semua unit pelayanan RS Arsinu yaitu baik dengan indeks kepuasan pasien antara 3.19-3.51. Indeks kepuasan pelayanan ruang NICU paling tinggi yaitu 3.59 dengan kinerja pelayanan sangat baik atau mutu pelayanan A. Terdapat korelasi antara unsur pelayanan kesehatan. Simpulan: Tingkat kepuasan pelayanan secara umum baik dan tingkat kepuasan berhubungan dengan kualitas pelayanan. Saran: Diharapkan tetap meningkatkan pelayanan dengan menciptakan kebijakan-kebijakan yang mendukung terselenggaranya pelayanan yang berkualitas, efektif, efisien dan akuntabel, meningkatkan penyediaan fasilitas sarana dan prasarana dan peningkatan kualitas sumber daya dan keprofesionalan petugas terkait masalah perilaku dan komunikasi.   Kata Kunci: Kepuasan; Maternal; Neonatal.
Pengaruh pendidikan kesehatan dan effleurage massage terhadap penurunan nyeri dismenore Anggraeni, Surti; Nurayuda, Nurayuda; Kamalia, Rita
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 4 (2024): Volume 18 Nomor 4
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i4.145

Abstract

Background: Dysmenorrhea is a condition characterized by abdominal pain or menstrual cramps. Students often experience dysmenorrhea, which can affect their quality of life and academic performance. Health education and effleurage massage have been proposed as nonpharmacological interventions that can help reduce dysmenorrhoea pain in college students. Purpose: To evaluate the effect of health education and effleurage massage on reducing dysmenorrhea pain in college students. Method: Quasy eksperiment pre-test and post-test with a control group Design. The number of second-semester students who experienced dysmenorrhea pain was 80 people then divided into two groups with control and intervention groups. Assessment instrument using dysmenorrhea knowledge and pain questionnaire with Numeric Rating Scale. Data analysis using Independent T-test and Mann-Whitney test. Results: The analysis found that the increase in pain management knowledge in the control group was significantly lower than in the intervention group (25.38 (11.11); 32.40 (14.34); p-value 0.017). The result of pain reduction in the control group was less than the decrease in pain in the intervention group significantly (-0.23 (0.62); -3.68 (0.76); p-value 0.000). Conclusion: Health education and effleurage massage are effective in increasing knowledge in the treatment of dysmenorrhea and can reduce dysmenorrhea pain. Suggestion: In addition to measuring pain intensity, data collection on changes in quality of life, anxiety levels, or stress in students after the intervention is also considered to provide a more comprehensive understanding of the impact of health education and massage effleurage on students with dysmenorrhea.   Keywords: Dysmenorrhea Pain; Effleurage Massage; Health Education; Knowledge.   Pendahuluan: Dismenore adalah suatu kondisi yang ditandai dengan nyeri perut atau kram saat menstruasi. Mahasiswa sering mengalami dismenore yang dapat memengaruhi kualitas hidup dan prestasi akademik mereka. Pendidikan kesehatan dan pijat effleurage telah diusulkan sebagai intervensi non farmakologis yang dapat membantu mengurangi nyeri dismenore pada mahasiswa. Tujuan: Untuk mengevaluasi pengaruh pendidikan kesehatan dan pijat effleurage terhadap penurunan nyeri dismenore pada mahasiswa. Metode: Quasy eksperimental pre-test and post-test with control group design. Jumlah mahasiswa semester II yang mengalami nyeri dismenore yaitu sebanyak 80 orang, kemudian dibagi menjadi dua kelompok yakni kontrol dan intervensi. Penilaian instrumen menggunakan kuesioner pengetahuan dan nyeri dismenore dengan Numeric Rating Scale. Analisis data menggunakan uji - Independent dan uji Mann Whitney. Hasil: Analisis diperoleh bahwa peningkatan pengetahuan manajemen nyeri pada kelompok kontrol lebih rendah dibandingkan kelompok intervensi secara signifikan ( 25.38 (11.11); 32.40 (14.34); p value 0.017) . Hasil penurunan nyeri pada kelompok kontrol lebih sedikit dibandingkan penurunan nyeri pada kelompok intervensi secara signifikan (-0.23 (0.62); -3.68 (0.76); p value 0.000). Simpulan: Pendidikan kesehatan dan massage effleurage efektif dalam meningkatkan pengetahuan dalam menangani dismenore dan mampu mengurangi nyeri dismenore. Saran: Selain pengukuran intensitas nyeri, dipertimbangkan juga pengumpulan data tentang perubahan dalam kualitas hidup, tingkat kecemasan, atau stres pada mahasiswa setelah intervensi sehingga memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang dampak pendidikan kesehatan dan effleurage massage pada mahasiswa dengan dismenore.   Kata Kunci: Effleurage Massage; Nyeri Dismenore; Pendidikan Kesehatan; Pengetahuan.
Hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan perilaku penanganan demam pada balita Fitria, Nadira Jihan; Arifah, Siti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 4 (2024): Volume 18 Nomor 4
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i4.151

Abstract

Background: Fever is a normal response to many conditions, most commonly infection; no other value is defined as fever. Fever generally occurs when there is an increase in temperature caused by an increase in the temperature-regulating center in the hypothalamus. The mother's role is very important in caring for a child who has a fever. The mother's knowledge is needed so that the actions given are correct or not, such as how you determine if the child has a fever and when you take him to a health worker. Purpose: To determine the relationship between mothers' level of knowledge and fever handling behavior in toddlers. Method: This research is a quantitative study with a cross-sectional design. The population of this study was 216 people, with a sample of 68 mothers taken using a proportionate stratified random sampling technique and an instrument in the form of a questionnaire on the level of control and fever management behavior. Data on respondents' level of knowledge and fever handling behavior were collected using a questionnaire and analyzed using the Kendall’s-Tau test. Results: Showed that the level of knowledge of mothers about fever was mostly in the good category, namely 58 mothers (85.3%). Most mothers' behavior in treating fever was in the good category, namely 61 mothers (89.7%). The Kendall’s-Tau test on the level of knowledge and behavior of treating fever of respondents showed a p value of 0.000 or smaller than α = 0.05. Conclusion: There is a significant relationship between the level of fever knowledge and fever management behavior in children under five.   Keywords: Fever; Fever Management Behavior; Knowledge Level; Mother.   Pendahuluan: Demam merupakan respon normal untuk berbagai kondisi, yang paling umum dari infeksi, tidak ada nilai lain yang didefinisikan sebagai demam. Demam umumnya terjadi ketika adanya peningkatan suhu disebabkan oleh peningkatan pusat pengatur suhu di hipotalamus. Peran ibu sangat penting dalam merawat anak yang sedang demam, pengetahuan ibu diperlukan agar tindakan yang diberikan itu benar atau tidak seperti cara ibu menentukan anak demam dan kapan ibu membawa ke petugas kesehatan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan perilaku penanganan demam pada balita. Metode: Penelitian kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 68 orang ibu yang diambil menggunakan teknik proportionate stratified random sampling dengan instrumen berupa kuesioner tingkat pengetahuan dan perilaku penanganan demam. Data tingkat pengetahuan dan perilaku penanganan demam responden dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Kendall’s-Tau. Hasil: Menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan ibu tentang demam sebagian besar dalam kategori baik yaitu sebanyak 58 ibu (85.3%). Perilaku ibu dalam penanganan demam Sebagian besar dalam kategori baik yaitu sebanyak 61 ibu (89.7%). Uji Kendall’s-Tau terhadap tingkat pengetahuan dan perilaku penanganan demam responden menunjukkan p value = 0.000 atau lebih kecil dari α = 0.05. Simpulan Terdapat hubungan yang signifikan antara hubungan tingkat pengetahuan demam dengan perilaku penanganan demam pada anak balita..   Kata Kunci: Demam; Ibu; Perilaku Penanganan Demam; Tingkat Pengetahuan.
Accuracy and effectiveness of electronic pediatric early warning score (PEWS): A literature review Dewi Natalia; Dian Ramawati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 3 (2024): Volume 18 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i3.154

Abstract

Background: The Pediatric Early Warning Score (PEWS) is important in assessing the risk of worsening of the condition in hospitalized pediatric patients. PEWS can be done manually and electronically. Purpose: To determine the effectiveness of using electronic PEWS in inpatient pediatric patients. Method: Literature study using the PRISMA diagram approach. Search for articles using the PICO formula in the Pubmed, Science Direct, Google Scholar, Sage Journal and Scopus databases for 2017-2023 with the keywords "pediatric early warning score" OR "PEWS score", AND "electronic" AND "hospitalization" AND "accuracy" OR "effectiveness". Results: A total of four electronic PEWS were implemented with integration into electronic health records, two articles used mobile applications, and two articles used bedside electronic PEWS. PEWS can be applied in the emergency unit (IGD) and general inpatient wards to assess the level of emergency, predict deterioration and anticipate transfer to intensive care. Electronic PEWS is accurate in recording vital signs, measuring scores, improving treatment decision making, saving documentation time compared to manual PEWS. Conclusion: Electronic PEWS can be used to monitor hospitalized pediatric patients.   Keywords: Accuracy; Effectiveness; Electronic; Hospitalisation; Pediatric Early Warning Score.   Pendahuluan: Pediatric early warning score (PEWS) penting dalam memantau risiko kondisi memburuk pada pasien anak yang dirawat di rumah sakit. PEWS dapat dilakukan dengan manual dan elektronik. Tujuan: Untuk mengetahui efektifitas penggunaan PEWS elektronik pada pasien anak yang dirawat di rumah sakit. Metode: Studi literatur menggunakan pendekatan diagram PRISMA. Pencarian artikel dengan formula PICO pada database Pubmed, Science Direct, Google Scholar, Sage Jurnal dan Scopus dari tahun 2017-2023 dengan kata kunci “pediatric early warning score” OR “PEWS score”, AND “electronic” AND “hospitalization” AND “accuracy” OR “effectiveness”. Hasil: Sebanyak empat PEWS elektronik diterapkan dengan integrasi ke dalam electronic health record, dua artikel menggunakan aplikasi mobile, dan dua artikel menggunakan bedside PEWS elektronik. PEWS dapat diterapkan di ruang IGD maupun bangsal rawat inap umum untuk menilai tingkat kegawatan, memprediksi perburukan, dan mengantisipasi transfer ke perawatan intensif. PEWS elektronik akurat dalam perekaman tanda vital, ketepatan perhitungan skor, meningkatkan pengambilan keputusan perawatan, dan menghemat waktu dokumentasi dibanding PEWS manual. Simpulan: PEWS elektronik dapat digunakan untuk pemantauan pasien anak yang dirawat di rumah sakit.   Kata Kunci: Efektivitas; Elektronik; Ketepatan; Rawat Inap; Skor Peringatan Dini Pediatrik.
Manajemen nyeri non farmakologis dalam pengurangan nyeri pada bayi berat badan lahir rendah (BBLR): A systematic review Setyaningsih, Wahyu; Ramawati, Dian
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 4 (2024): Volume 18 Nomor 4
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i4.155

Abstract

Background: Pain management for LBW undergoing treatment in hospital is crucial. LBW often receive invasive procedures, so both pharmacological and non-pharmacological pain management is needed. Therefore, non-pharmacological pain management is needed which not only reduces pain but can stimulate the baby's growth and development. Purpose: To analyze the success of pain management using non-pharmacological methods during intravenous insertion procedures, blood sampling, and to assess the effect on pain reduction by measuring using the Premature Infant Pain Profile (PIPP) score. Method: Review of research articles obtained from the ProQuest, Science Direct, PubMed, Oxford, and SAGE Journal databases. The inclusion criteria for this study were articles with a randomized control trial (RCT) research design published between 2017-2023. The keywords used in the PICO search process were "Neonate, pain assessment, reduced pain, invasive procedures. The search identified 938 studies that were relevant, and seven studies met the inclusion criteria. Article quality evaluation was carried out through the Joanna Briggs Institute (JBI) to assess the quality of research articles, and thematic analysis was used as a data analysis method. Results: A review of seven articles shows that various effective non-pharmacological pain management in premature and full-term babies are oral stimulation using sweet solutions, audio stimulation, kangaroo mother care (KMC), crochet octopus, HSTT and baby swaddling. A combination of several interventions Non-pharmacological pain management is more effective than one type of intervention. Conclusion: A combination of several non-pharmacological pain management interventions can effectively reduce pain in LBW. Suggestion: Neonatal nurses are expected to be able to utilize the KMC method, use of octopus crochet, baby positioning, and swaddling techniques to reduce pain response, increase comfort, and growth and development in low birth weight (LBW) babies.   Keywords: Decreased Pain; Invasive Action; Neonate; Non Pharmacological; Pain Management.   Pendahuluan: Manajemen nyeri untuk BBLR yang menjalani perawatan di RS menjadi krusial. BBLR seringkali menerima prosedur tindakan invasif, sehingga diperlukan manajemen nyeri baik farmakologi maupun non-farmakologi. Oleh karena itu, diperlukan manajemen nyeri non-farmakologi yang tidak hanya mengurangi nyeri tetapi dapat menstimulasi tumbuh kembang bayi. Tujuan: Untuk menganalisis keberhasilan manajemen nyeri dengan metode non farmakologi selama prosedur tindakan insersi intravena, blood sampling, dan untuk menilai efek terhadap pengurangan nyeri dengan pengukuran menggunakan skor premature infant pain profile (PIPP). Metode: Review artikel penelitian yang diperoleh dari database ProQuest, Science Direct, PubMed, Oxford, dan SAGE Journal. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah artikel desain penelitian randomized control trial (RCT) yang diterbitkan antara tahun 2017-2023. Kata kunci yang digunakan dalam proses pencarian PICO yaitu "Neonate, pain assessment, reduced pain, dan invasive prosedur. Pencarian mengidentifikasi 938 studi yang relevan dan tujuh studi memenuhi kriteria inklusi. Evaluasi kualitas artikel dilakukan melalui Joanna Briggs Institute (JBI) untuk menilai kualitas artikel penelitian, dan analisis tematik digunakan sebagai metode analisis data. Hasil: Review pada tujuh artikel menunjukkan bahwa berbagai manajemen nyeri non-farmakologis yang efektif pada bayi prematur dan cukup bulan adalah stimulasi oral menggunakan larutan manis, stimulasi audio, kangaroo mother care (KMC), crochet octopus, HSTT dan baby swaddling Kombinasi dari beberapa intervensi manajemen nyeri non-farmakologi lebih efektif daripada satu jenis intervensi. Simpulan: Kombinasi beberapa intervensi manajemen nyeri non farmakologi dapat secara efektif menurunkan nyeri pada BBLR. Saran: Bagi Perawat neonatal diharapkan dapat memanfaatkan metode KMC, penggunaan crochet octopus, posisi bayi, dan teknik pembedongan untuk mengurangi respon nyeri, meningkatkan kenyamanan, dan tumbuh kembang pada bayi berat badan lahir rendah (BBLR).   Kata Kunci: Manajemen Nyeri; Neonatus; Non Farmakologis; Penurunan Nyeri; Tindakan Invasif.
The effects of foot massage on restless leg syndrome in hemodialysis patients: A systematic review Kusnendar, Kusnendar; Awaludin, Sidik
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 4 (2024): Volume 18 Nomor 4
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i4.157

Abstract

Background: Restless leg syndrome (RLS) is a neurological disorder that causes an irresistible desire to move the legs. RLS is a problem that is often encountered in hemodialysis (HD) patients and can affect the patient's quality of life. Purpose: To compare the effectiveness of massage therapy and aromatherapy on symptoms of restless leg syndrome and sleep quality in hemodialysis patients. Method: Systematic review study design that refers to the Preferred Reporting Items for Literature Review and Meta-Analyses (PRISMA). The literature used was published from 2013-2023 through databases including, ProQuest, Science Direct, Cochrane, Ebsco Host, SAGE Journal, Taylor & Francis, and Scopus with the keywords "Restless Leg Syndrome", "Leg Massage", and "Dialysis". Results: This study recorded significant massage interventions in hemodialysis patients in seven articles with varying massage methods, including stretching, reflexology, and Swedish massage. Another method also adds aromatherapy massage using essential oils. Muscle massage can increase relaxation and blood circulation in the legs, as well as improve the patient's sleep quality. Adding sensory nerve stimulation using aromatherapy will increase the patient's relaxation speed. Apart from massage therapy using hands, vibrators can also be used and have been proven to be effective in reducing restless leg syndrome. However, currently the use of vibrators is not yet widespread. Conclusion: Massage therapy is effective in reducing restless legs syndrome and improving the quality of life of hemodialysis patients. When carrying out massage therapy, several types of lubricants can be used to increase the effectiveness of massage therapy, such as lavender, olive oil, glycerine and citrus.   Keywords: Dialysis; Foot massage; Restless Legs Syndrome (RLS).   Pendahuluan: Restless leg syndrome (RLS) merupakan gangguan neurologis yang menyebabkan keinginan yang tidak dapat ditahan untuk menggerakkan kaki. RLS menjadi salah satu permasalahan yang sering ditemui di kalangan pasien hemodialisis (HD) dan dapat memengaruhi kualitas hidup pasien. Tujuan: Untuk membandingkan efektifitas terapi pijat dan aromaterapi terhadap gejala sindrom kaki gelisah serta kualitas tidur pada pasien hemodialisis. Metode: Desain studi sistematik review yang merujuk pada Preferred Reporting Items for Literature Review and Meta-Analyses (PRISMA). Literatur yang digunakan merupakan terbitan dari tahun 2013-2023 didapat melalui database antara lain, ProQuest, Science Direct, Cochrane, Ebsco Host, Jurnal SAGE, Taylor & Francis, serta Scopus dengan kata kunci "Restless Leg Syndrome", "Leg Massage", dan "Dialysis". Hasil: Penelitian ini mencatat intervensi pijat yang signifikan terhadap pasien hemodialisis dalam tujuh artikel dengan metode pijat bervariasi, termasuk peregangan, refleksologi, dan pijat Swedia. Metode lain juga menambahkan pijatan dengan aromaterapi menggunakan minyak esensial. Pijatan otot dapat meningkatkan relaksasi, dan peredaran darah di kaki, serta memperbaiki kualitas tidur pasien. Penambahan stimulasi saraf sensorik menggunakan aromaterapi akan meningkatkan kecepatan relaksasi pasien. Selain terapi pijat menggunakan tangan, vibrator juga dapat digunakan dan terbukti efektif mengurangi restless leg syndrome. Akan tetapi, saat ini penggunaan vibrator belum luas. Simpulan: Terapi pijat efektif dalam mengurangi restless leg syndrome dan meningkatkan kualitas hidup pasien hemodialisa. Dalam melakukan terapi pijat, beberapa jenis pelumas dapat digunakan untuk meningkatkan efektifitas terapi pijat seperti, lavender, minyak zaitun, gliserin, dan citrus.   Kata Kunci: Dialisis; Pijat Kaki; Sindrom Kaki Gelisah.
Penggunaan metronom untuk optimalisasi pelatihan resusitasi jantung paru dengan manekin: A systematic literature review Rismah, Rismah; Purnawan, Iwan
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 4 (2024): Volume 18 Nomor 4
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i4.159

Abstract

Background: Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) is an emergency action that is very important to increase the chances of survival of someone who experiences cardiac arrest. CPR guidelines generally recommend a specific chest compression rate of around 100-120 compressions per minute. The metronome provides consistent sound guidance, helping trainees measure and maintain the correct pace during practice. This can reduce the risk of errors in providing inadequate chest pressure. Purpose: To assess whether use of a metronome can improve participants' skills in maintaining chest compression rates in accordance with CPR guidelines. Method: Systematic literature review (SLR) databases PubMed and Google Scholar use the keywords chest compression, metronome, and cardiopulmonary resuscitation. Researchers determined relevant and specific questions to dig deeper into this problem, "Does a metronome have a good and positive impact when used during CPR simulations or treatment?" This research uses Preferred Reporting Items for Literature Review and Meta-Analysis (PRISMA) for selecting articles to be reviewed. Results: The metronome on the CPR mannequin can be a tool that facilitates synchronization of resuscitation steps between team members. This can increase speed and coordination in handling emergency situations. Conclusion: That the use of a metronome in cardiopulmonary resuscitation (CPR) training provides significant benefits. The metronome is a very useful tool in the context of CPR training, both for medical personnel and lay people.   Keywords: Chest Compression; Metronome; Cardiopulmonary Resuscitation.   Pendahuluan: Resusitasi Jantung Paru (RJP) merupakan sebuah tindakan darurat yang sangat penting untuk meningkatkan peluang kelangsungan hidup seseorang yang mengalami henti jantung. Pedoman RJP umumnya merekomendasikan laju kompresi dada yang spesifik, yaitu sekitar 100-120 kompresi per menit. Metronom memberikan panduan suara yang konsisten, membantu peserta pelatihan untuk mengukur dan memelihara kecepatan yang benar selama latihan. Hal ini dapat mengurangi risiko kesalahan dalam memberikan tekanan dada yang tidak memadai. Tujuan: Untuk menilai apakah penggunaan metronom dapat meningkatkan keterampilan peserta dalam memelihara kecepatan kompresi dada yang sesuai dengan pedoman RJP. Metode: Systematic literature review (SLR) basis data PubMed dan Google Scholar menggunakan kata kunci kompresi dada, metronome, dan resusitasi jantung paru. Peneliti menentukan pertanyaan yang relevan dan spesifik untuk menggali lebih dalam permasalahan ini “Apakah metronom memiliki dampak yang baik dan positif apabila digunakan pada saat simulasi maupun perlakuan RJP?”. Penelitian ini menggunakan Preferred Reporting Items for Literature Review and Meta-Analysis (PRISMA) untuk seleksi artikel yang akan di review. Hasil: Metronom pada manekin RJP dapat menjadi alat bantu yang memfasilitasi sinkronisasi langkah-langkah resusitasi diantara anggota tim. Hal ini dapat meningkatkan kecepatan dan koordinasi dalam menangani keadaan gawat darurat. Simpulan: Penggunaan metronom dalam pelatihan resusitasi jantung paru (RJP) memberikan manfaat yang signifikan. Metronom menjadi alat yang sangat berguna dalam konteks pelatihan RJP, baik untuk tenaga medis maupun orang awam.   Kata Kunci: Kompresi Dada; Metronom; Resusitasi Jantung Paru.
Hubungan konsumsi minuman berpemanis dengan kejadian obesitas pada anak dan remaja: A systematic literature review Emiliana, Niti; Setiarini, Asih
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 4 (2024): Volume 18 Nomor 4
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i4.161

Abstract

Background: Sugar-sweetened beverages are any liquid that is sweetened with added sugar in various forms. Sugar-sweetened beverages are a potential risk factor for overweight in children and adolescents. Purpose: To explore and look for scientific evidence of the relationship between consumption of sugar-sweetened beverages and the incidence of obesity in children and adolescents. Method: This research used a systematic literature review which was searched from three database sources, PubMed, Embase, and ScienceDirect. Determining search keywords based on the MeSH Term database. There were 7 journals analyzed based on inclusion criteria; they were international journals, published in the last 5 years, with a population of children and adolescents aged 5–19 years, and focused on the incidence of obesity from the consumption of sugar-sweetened beverages. Result: The serving size and frequency of consumption of sugar-sweetened beverages influence the increase in body weight changes, which have an impact on the incidence of obesity and overweight in children and adolescents. Conclusion: Consumption of sugar-sweetened beverages is associated with an increased incidence of overweight and obesity in children and adolescents. Suggestion: Further research is needed on effective solutions to reduce the consumption of sugar-sweetened beverages and address cases of obesity and overweight in children and adolescents.   Keywords: Adolescents; Children; Obesity; Overweight; Sugar-Sweetened Beverages.   Pendahuluan: Minuman berpemanis adalah segala cairan yang dimaniskan dengan tambahan gula dalam berbagai bentuk. Minuman tersebut menjadi salah satu faktor risiko yang potensial terhadap kejadian kelebihan berat badan dan obesitas pada anak-anak dan remaja. Tujuan: Untuk mengeksplorasi dan mencari bukti-bukti ilmiah hubungan konsumsi minuman berpemanis dengan kejadian obesitas pada anak dan remaja. Metode: Penelitian systematic literature review dengan pencarian menggunakan tiga sumber database yaitu, PubMed, Embase dan ScienceDirect. Penentuan kata kunci pencarian berdasarkan database pada MeSH Term. Terdapat 7 jurnal yang dianalisis berdasarkan kriteria inklusi yaitu jurnal internasional, dipublikasikan pada 5 tahun terakhir, populasi pada anak dan remaja usia 5-19 tahun, serta berfokus pada kejadian obesitas dari faktor konsumsi minuman berpemanis. Hasil: Takaran porsi dan frekuensi konsumsi minuman berpemanis memengaruhi peningkatan perubahan berat badan yang berdampak pada kejadian obesitas dan kelebihan berat badan pada anak dan remaja. Simpulan: Mengonsumsi minuman berpemanis berhubungan dengan kelebihan berat badan dan obesitas pada anak dan remaja. Saran: Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai solusi yang efektif untuk mengurangi konsumsi minuman berpemanis dan menangani kasus obesitas dan kelebihan berat badan pada anak dan remaja.   Kata Kunci: Anak; Kelebihan Berat Badan; Minuman Berpemanis; Obesitas; Remaja.
Evaluasi sensitivitas dan spesifisitas Xpert MTB RIF dan Xpert MTB RIF Ultra pada berbagai spesimen untuk mendiagnosis tuberkulosis ekstra paru: Sebuah telaah literatur sistematis Ikfana Syafina
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 3 (2024): Volume 18 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i3.166

Abstract

Background: Molecular examination using Xpert MTB RIF and Xpert MTB RIF Ultra was introduced by WHO in 2010 as a fast and practical supporting examination in detecting Mycobacterium tuberculosis. However, not many studies have reported how sensitive and specific this method is in the examination of various specimens in establishing the diagnosis of extrapulmonary tuberculosis. Purpose: To evaluate the sensitivity and specificity of Xpert MTB RIF and Xpert MTB RIF Ultra on various specimens to establish the diagnosis of extrapulmonary tuberculosis. Method: Systematic literature review by searching literature published in reputable international journals in the last 5 years using the keywords Xpert MTB RIF for EPTB. The search was carried out using the literature search engines Mendeley.com and Science Direct.com. Results: The Xpert MTB RIF examination has different sensitivity and specificity for different specimen sources, this is influenced by the place where the specimen was taken, the technique of taking the specimen and the shape of the specimen being examined. Xpert MTB RIF Ultra has higher sensitivity and specificity compared to Xpert MTB RIF. Conclusion: In each study the sensitivity values were different, this could be due to differences in the location of specimen collection, the specimens used, as well as differences in the gold reference standard used.   Keywords: Electronically Transmitted Postal Ballot; Mycobacterium Tuberculosis; Sensitivity; Specificity; Xpert MTB RIF; Xpert MTB RIF Ultra.   Pendahuluan: Pemeriksaan molekuler dengan menggunakan Xpert MTB RIF dan Xpert MTB RIF Ultra telah diperkenalkan oleh World Health Organization pada tahun 2010 sebagai pemeriksaan penunjang yang cepat dan praktis dalam mendeteksi mycobacterium tuberculosis. Namun belum banyak penelitian yang melaporkan sensitivitas dan spesifisitas metode ini dalam pemeriksaan berbagai spesimen dalam menegakkan diagnosis tuberkulosis ekstra paru. Tujuan: Untuk mengevaluasi sensitivitas dan spesifitas Xpert MTB RIF dan Xpert MTB RIF Ultra pada berbagai spesimen untuk menegakkan diagnosis tuberkulosis ekstra paru. Metode: Telaah literatur sistematis dengan melakukan penelusuran literatur yang dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi dalam 5 tahun terakhir menggunakan kata kunci Xpert MTB RIF for EPTB. Penelusuran dilakukan menggunakan mesin pencari literatur Mendeley.com dan Science Direct.com. Hasil: Pemeriksaan Xpert MTB RIF memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang berbeda pada sumber spesimen yang berbeda, hal ini dipengaruhi oleh tempat pengambilan spesimen, teknik pengambilan spesimen dan bentuk spesimen yang diperiksa. Xpert MTB RIF Ultra memiliki sensitivitas dan spesifitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan Xpert MTB RIF. Simpulan: Pada masing-masing studi nilai sensitivitas berbeda-beda, hal ini dapat disebabkan oleh perbedaan lokasi pengambilan spesimen, spesimen yang digunakan, dan perbedaan dalam standar acuan emas yang digunakan.   Kata Kunci: Electronically Transmitted Postal Ballot; Mycobacterium Tuberculosis; Sensitivitas; Spesifisitas; Xpert MTB RIF; Xpert MTB RIF Ultra.
Evaluasi tingkat akurasi penggunaan metode deep learning dengan algoritma convolutional neural network pada citra dermatoskopi untuk efisiensi diagnosis kutaneus melanoma: Sebuah telaah literatur sistematis Riri Arisanty Syafrin Lubis
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 3 (2024): Volume 18 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i3.167

Abstract

Background: Cutaneous melanoma (KM) is a malignant cancer on the surface of the skin that requires immediate diagnosis. Deep learning methods using artificial intelligence with various algorithms have been applied to analyze dermatoscopy image results with the aim of making diagnosis more efficient. Purpose: To use deep learning methods with convolutional neural network (CNN) algorithms to accurately identify skin melanoma from dermatoscopy images. Method: Systematic literature review study using the Mendeley.com literature search application. The keywords used are deep learning in cutaneous melanoma. The inclusion criteria in this study are articles published in reputable international journals indexed by Scopus and have been cited, published within the last 5 years, discussing the use of deep learning methods with convolutional neural networks (CNN) algorithms in interpreting dermatoscopy image results with suspected cutaneous melanoma, and include clear accuracy values. Results: There are 15 articles that meet the inclusion criteria, the results show that the accuracy of using deep learning with the CNN algorithm reaches 92%, this accuracy exceeds the accuracy used by dermatologists and other machine learning methods. Conclusion: The application of deep learning methods with the CNN algorithm can produce accurate diagnoses in a short time. This gives hope that it can be integrated into smartphones, so that the diagnosis of skin melanoma becomes more efficient.   Keywords: Convolutional Neural Network (CNN); Cutaneous Melanoma; Deep Learning; Dermatoscopic Image.   Pendahuluan: Kutaneus melanoma (KM) merupakan kanker pada permukaan kulit yang dapat bersifat ganas, sehingga membutuhkan diagnosis segera. Metode deep learning pada kecerdasan buatan dengan berbagai algoritma telah diterapkan dalam menganalisis hasil citra dermatoskopi yang bertujuan agar penegakan diagnosis dapat lebih efisien. Tujuan: Untuk mengevaluasi akurasi penggunaan metode deep learning dengan algoritma convolutional neural network (CNN) dalam mengidentifikasi kutaneus melanoma hasil citra dermatoskopi. Metode: Studi telaah literatur sistematis menggunakan aplikasi penelusuran literatur Mendeley.com. Kata kunci yang digunakan adalah deep learning in cutaneus melanoma. Kriteria inklusi dalam penelitian ini merupakan artikel yang terpublikasi di jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus dan telah disitasi, dipublikasi dalam waktu 5 tahun terakhir, membahas tentang penggunaan metode deep learning dengan algoritma convolutional neural networks (CNN) dalam menginterpretasi hasil citra dermatoskopi dengan dugaan kutaneus melanoma, dan mencantumkan nilai akurasi yang jelas. Hasil: Didapatkan 15 artikel yang masuk dalam kriteria inklusi, hasil menunjukkan bahwa akurasi penggunaan deep learning dengan algoritma CNN mencapai 92%, akurasi ini melampaui akurasi yang dilakukan oleh ahli dermatologi maupun metode machine learning lainnya. Simpulan: Penerapan metode deep learning dengan algoritma CNN dapat menghasilkan diagnosis yang akurat dalam waktu yang singkat. Hal ini memberikan harapan untuk dapat diintegrasikan dalam smartphone, sehingga diagnosis kutaneus melanoma menjadi lebih efisien.   Kata Kunci: Citra Dermatoskopi; Convolutional Neural Network (CNN); Deep Learning; Kutaneus Melanoma.  

Page 2 of 11 | Total Record : 106