cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
JL Pramuka no 27 Kemiling Bandar Lampung, Kode Pos 35152
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : 10.33024
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal akan terbit 8 kali dalam satu tahun (Maret, April, Juni, Juli, September, Oktober, Desember, dan Januari). Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 106 Documents
Self diagnose dan tingkat kecemasan pada mahasiswa keperawatan: Studi korelasional Satria Rifqi Farhan; Reni Nuryani; Sri Wulan Lindasari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 3 (2024): Volume 18 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i3.179

Abstract

Background: In pursuing education, it is not uncommon for students to engage in the habit of self-diagnosing or what is usually called self-diagnosis. This behavior can occur because of the large amount of information about health that students learn during lectures and the high level of curiosity about the symptoms of the disease they are experiencing without any follow-up to visit medical personnel. Often nursing students who engage in this habit experience anxiety. Causes of anxiety include worry about contracting a dangerous disease that could spread to people closest to you. Purpose: To determine the relationship between self-diagnosis behavior and anxiety levels. Method: Quantitative descriptive research with a correlational approach. The variables used in this research are self-diagnosis behavior and anxiety level. This was carried out on all nursing students who were indicated to have carried out self-diagnosis with a sample of 204 students using a sampling technique in the form of proportional stratified random sampling. Data analysis used the correlation test with the Chi-square test. Results: Obtained a value of p= <0.001, which means p<α (0.05) of the relationship between self-diagnosing behavior and anxiety levels. There were 161 respondents with a strong self-diagnosis category, 112 respondents (69.6%) experienced mild anxiety and 3 respondents (1.9%). Meanwhile, 46 respondents (28.5%) did not experience anxiety or were in the normal category. Conclusion: There is a significant relationship between self-diagnosing behavior and anxiety levels. Suggestion: For students who experience anxiety due to self-diagnosis, it is best to immediately contact health services for a more in-depth examination and other supporting examinations so that they can identify the disease they are experiencing and receive treatment quickly and accurately.   Keywords: Anxiety; Mental Health; Nursing Students; Self Diagnose.   Pendahuluan: Dalam menempuh pendidikan keperawatan tidak jarang mahasiswa melakukan kebiasaan mendiagnosa diri sendiri atau biasa disebut self-diagnose. Perilaku tersebut bisa terjadi karena banyaknya informasi tentang kesehatan yang dipelajari mahasiswa selama perkuliahan dan rasa penasaran yang tinggi terkait gejala penyakit yang sedang dialami tanpa adanya tindak lanjut untuk mengunjungi tenaga medis. Seringkali mahasiswa keperawatan yang melakukan kebiasaan tersebut mengalami kecemasan. Penyebab kecemasan antara lain, khawatir terkena penyakit yang berbahaya dan dapat menular kepada orang terdekatnya. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara perilaku self-diagnose dengan tingkat kecemasan. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perilaku self diagnose dan tingkat kecemasan. Dilakukan kepada seluruh mahasiswa keperawatan yang terindikasi melakukan self diagnose dengan sampel berjumlah 204 mahasiswa menggunakan teknik pengambilan sampel berupa proportionate stratified random sampling. Analisis data menggunakan uji korelasi dengan uji Chi-square. Hasil: Didapatkan nilai p= <0.001 yang artinya p<α (0.05) hubungan antara perilaku self-diagnose dengan tingkat kecemasan. Responden dengan kategori self diagnose kuat sebanyak 161 responden, sebanyak 112 responden (69.6%) mengalami kecemasan ringan dan sebanyak 3 responden (1.9%). Sedangkan sebanyak 46 responden (28.5%) tidak mengalami kecemasan atau berada pada kategori normal. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku self-diagnose dengan tingkat kecemasan. Saran: Bagi mahasiswa yang mengalami kecemasan akibat melakukan self diagnose, sebaiknya langsung menghubungi pelayanan kesehatan untuk dilakukan pemeriksaan lebih mendalam dan pemeriksaan penunjang lainnya agar dapat diketahui penyakit yang sedang dialami dan mendapat penanganan secara cepat dan akurat.   Kata Kunci: Kecemasan; Kesehatan Mental; Mahasiswa Keperawatan; Self Diagnose.
Kajian skrining risiko hipertensi pada kehamilan menggunakan buku KIA pada usia kehamilan 20 minggu di Posyandu Batujaya Karmilah, Karmilah; Mochartini, Tri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 4 (2024): Volume 18 Nomor 4
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i4.189

Abstract

Background: Hypertension in pregnancy if left unchecked can harm the pregnant mother and her fetus. Efforts to screen for hypertension in pregnant women through maternal and child health (KIA) books. Several factors related to hypertension are eating habits, smoking habits, stress, obesity and family history of the disease. Purpose: To determine the study of hypertension risk screening in pregnancy using the KIA book at 20 weeks. Method: Quantitative analytical research with cross sectional design. The sample in this study was pregnant women aged ≥ 20 weeks who underwent examinations at Posyandu Batujaya, Karawang Regency starting in December 2023, totaling 115 respondents, sampling using accidental sampling technique. The research instrument used a questionnaire and the data used were primary data and secondary data, analyzed using the quadratic test. Results: It is known that there is a relationship between eating habits (p value = 0.037), smoking habits (p value = 0.000), stress (p value = 0.004), obesity (p value = 0.041) and family history of disease (p value = 0.000) with the incidence of hypertension in pregnancy at 20 weeks gestation. Conclusion: Eating habits, smoking habits, stress, obesity, and family history of disease are associated with the incidence of hypertension in pregnancy at 20 weeks' gestation.   Keywords: 20 Weeks Gestation; Mother and Child Health Book; Pregnancy Hypertension Risk Screening.   Pendahuluan: Hipertensi dalam kehamilan jika dibiarkan bisa membahayakan ibu hamil dan janinnya. Upaya untuk melakukan skrining hipertensi pada ibu hamil melalui buku kesehatan ibu dan anak (KIA). Beberapa faktor yang berkaitan dengan hipertensi yakni kebiasaan makan, kebiasaan merokok, stres, obesitas dan riwayat penyakit keluarga. Tujuan: Untuk mengetahui kajian skrining risiko hipertensi pada kehamilan menggunakan buku KIA pada usia kehamilan 20 minggu. Metode: Penelitian analitik kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu hamil usia kehamilan ≥ 20 minggu yang menjalani pemeriksaan di Posyandu Batujaya Kabupaten Karawang mulai bulan Desember 2023 yang berjumlah 115 responden, pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dan data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder, dianalisis menggunakan uji kuadrat. Hasil: Diketahui bahwa ada hubungan antara kebiasaan makan (p value = 0.037), kebiasaan merokok (p value = 0.000), stres (p value = 0.004), obesitas (p value = 0.041) dan riwayat penyakit keluarga (p value = 0.000) dengan kejadian hipertensi pada kehamilan pada usia kehamilan 20 minggu. Simpulan: Kebiasaan makan, kebiasaan merokok, stres, obesitas, dan riwayat penyakit keluarga berhubungan dengan kejadian hipertensi pada kehamilan pada usia kehamilan 20 minggu.   Kata Kunci: Buku KIA; Skrining Risiko Hipertensi Kehamilan; Usia Kehamilan 20 Minggu.
Effectiveness of prolonged prone positioning in acute respiratory distress syndrome using mechanical ports: A systematic review Dewa Ayu Ari Rama Dewi; Tuti Herawati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 2 (2024): Volume 18 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i2.193

Abstract

Background: Acute respiratory distress syndrome (ARDS) is a pulmonary condition that triggers a systemic inflammatory response with different etiologies that has distinctive pathological clinical characteristics. This study discusses the provision of prolonged prone position as supportive therapy to improve oxygenation status in ARDS patients as well as the complications that may arise from prolonged prone position. Purpose: To compile and collect the latest evidence on prolonged prone positioning therapy in ARDS patients. Method: Design a systematic review with PRISMA guidelines using databases from ScienceDirect, Proquest, PubMed, and Scopus. Search for articles with the keywords “prolonged prone position” AND “ARDS” AND “benefits” AND “complications”. Results: All nine articles recognized the positive influence of prolonged prone position on oxygenation status in ARDS patients, but had no effect on patient mortality rates. However, prolonged prone positioning has several complications related to nerve disorders in parts of the body that are under pressure for a long time, prolonged use of sedation medication which affects the prolonged use of mechanical ventilation, long ICU stay, and other complications. In terms of efficiency, prolonged prone positioning provides convenience for health workers because it does not require more time and energy in changing the patient's position repeatedly. Conclusion: Prolonged prone positioning has been proven to be effective and safe for patients. This position can be used and reduces the workload of health care workers, but complications related to this position require good monitoring regarding clinical and neurological parameters. Suggestion: Further research needs to be done regarding the appropriate duration of proneness so that it can provide an optimal positive impact and possibly minimize the risk of complications. Further research involving patient groups may provide a deeper understanding of the benefits and risks of prolonged prone positioning interventions.   Keywords: Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS); Benefit; Complication; Prolonged Prone Position.   Pendahuluan: Acute respiratory distress syndrome (ARDS) merupakan kondisi paru yang memicu respon inflamasi sistemik dengan etiologi yang berbeda yang memiliki ciri-ciri klinis patologis khas. Penelitian ini menganalisis tentang pemberian posisi prolonged prone position sebagai terapi suportif untuk meningkatkan status oksigenasi pada pasien ARDS serta komplikasi yang mungkin ditimbulkan dari pemberian prolonged prone position tersebut. Tujuan: Untuk menyusun dan mengevaluasi bukti-bukti terkini tentang terapi prolonged prone position pada pasien ARDS. Metode: Systematic review design dengan panduan PRISMA menggunakan database dari ScienceDirect, Proquest, PubMed, dan Scopus. Pencarian artikel dengan kata kunci “prolonged prone position” AND “ARDS” AND “benefit” AND “complication”. Hasil: Kesembilan artikel mengakui pengaruh positif prolonged prone position terhadap status oksigenisasi pada pasien dengan ARDS, namun tidak berpengaruh pada tingkat mortalitas pasien. Namun pemberian prolonged prone position memiliki beberapa komplikasi terkait dengan gangguan neurologis pada bagian tubuh yang mendapat penekanan dalam waktu yang lama, penggunaan obat sedasi yang lama yang berpengaruh pada penggunaan ventilasi mekanik yang lama, lama perawatan ICU, dan komplikasinya. Dari segi efisiensi, prolonged prone position memberikan kemudahan bagi tenaga kesehatan karena tidak memerlukan waktu dan tenaga lebih dalam perubahan posisi pasien yang berulang-ulang. Simpulan: Pemberian prolonged prone position (PPP) telah terbukti efektif dan aman untuk pasien. Posisi ini dapat dilakukan untuk mengurangi beban kerja petugas layanan kesehatan, namun komplikasi terkait pemberian posisi ini perlu dilakukan pemantauan yang baik terkait parameter klinis dan neurologisnya. Saran: Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait durasi prone yang tepat, sehingga dapat memberikan dampak positif secara optimal dan kemungkinan risiko komplikasi yang minimal. Penelitian lanjutan yang melibatkan kelompok pasien dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam terkait manfaat dan risiko dari intervensi prolonged prone position.
Menggenggam bola karet dan terapi cermin terhadap kekuatan otot ekstremitas pasien stroke: Tinjauan literatur Putro, Dimas Utomo Hanggoro; Haryati, Tati; Setiawan, Arifin; Wibowo, Arif Apriyanto; Sucipto, Muhamad Bayu; Fesanrey, Rian Andito; Sugandi, Veri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 4 (2024): Volume 18 Nomor 4
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i4.194

Abstract

Background: Stroke is a cardiocerebrovascular disease that has broad economic and social impacts. One of the impacts of stroke patients is hemiparesis, so efforts are needed to increase muscle strength in stroke patients. Grasping a rubber ball and mirror therapy are alternatives that can be utilized by stroke patients. Purpose: To find specifically about rubber ball grasping therapy and mirror therapy to increase muscle strength in stroke patients Method: Literature review of national and international literature using google scholar, PubMed, and Science Direct databases Results: Thirty-two articles met the inclusion criteria. Twenty-four articles are case studies, 4 articles are quasi-experiments, 2 articles are pre-experiments, 2 articles are RCT. Rubber ball grasping therapy and mirror therapy can be used as effective stimulants to increase upper extremity muscle strength in stroke patients. Conclusion: This literature review provides evidence that rubber ball grasping therapy and mirror therapy can increase muscle strength in stroke patients. Suggestion: Nurses can provide interventions in the form of rubber ball grasping therapy and mirror therapy to stroke patients to increase upper extremity muscle strength.   Keywords: Grasping a Rubber Ball; Mirror Therapy; Muscle Strength; Stroke.   Pendahuluan: Stroke adalah penyakit kardioserebrovaskular yang memiliki dampak luas secara ekonomi dan sosial. Salah satu dampak dari pasien stroke adalah hemiparesis, maka perlu upaya untuk meningkatkan kekuatan otot pada pasien stroke. Menggenggam bola karet dan terapi cermin merupakan salah satu alternatif yang dapat dimanfaatkan oleh pasien stroke. Tujuan: Untuk mengetahui secara spesifik terapi menggenggam bola karet dan terapi cermin untuk meningkatkan kekuatan otot pasien stroke. Metode: Literature review dari literatur nasional dan internasional menggunakan database Google Scholar, PubMed, dan Science Direct. Hasil: Sebanyak 32 artikel memenuhi kriteria inklusi. Sebanyak 24 artikel merupakan studi kasus, 4 artikel quasi eksperimen, 2 artikel pra-eksperimen, dan 2 artikel merupakan RCT. Terapi menggenggam bola karet dan terapi cermin dapat digunakan sebagai stimulant yang efektif meningkatkan kekuatan otot ekstremitas atas pada pasien stroke. Simpulan: Tinjauan literatur ini memberikan bukti bahwa, terapi menggenggam bola karet dan terapi cermin dapat meningkatkan kekuatan otot pada pasien stroke. Saran: Perawat dapat memberikan intervensi berupa terapi menggenggam bola karet dan terapi cermin kepada pasien stroke untuk meningkatkan kekuatan otot ekstremitas atas.   Kata Kunci: Kekuatan Otot; Menggenggam Bola Karet; Stroke; Terapi Cermin.
Efektivitas varian metode terapi komplementer untuk fatigue pada pasien penyakit paru obstruktif kronik (PPOK): Tinjauan sistematik Gustini Putri Dewanti; I Made Kariasa; Sri Yona
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 2 (2024): Volume 18 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i2.198

Abstract

Background: The process of fighting chronic obstructive pulmonary disease (COPD) is a challenge that affects the patient's quality of life. Moreover, the inevitable symptoms of fatigue often result in limitations in physical, emotional, cognitive and social aspects. However, in overcoming this there are new opportunities, namely the use of complementary therapies to optimally treat fatigue, paving the way for more effective health care for COPD sufferers. Purpose: To investigate and synthesize scientific evidence regarding the use of complementary therapies for fatigue in COPD patients. Method: Systematic review using PRISMA guidelines using five databases, including PubMed, Scopus, ScienceDirect, Cochrane and EMBASE. Search using the keyword combination "COPD" OR "Chronic Obstructive Pulmonary Disease" AND "Complementary Therapy" OR "Nonpharmacologic Therapy" OR "Supportive Therapy" AND "Fatigue" OR "Overtiredness" OR "Exhaustion". The article criteria used were quantitative research, RCT design, COPD patient respondents in inpatient or outpatient settings, complementary therapy or non-pharmacological interventions with a minimum duration of 2 weeks, measuring fatigue with fatigue instruments, English language, full text, and publication 2016-2023 . Results: Seven articles were found that met the criteria for analysis. Complementary therapy is grouped as follows, therapy with additional equipment, therapy carried out by professionals, therapy combined with additional equipment and carried out by professionals, and therapy without additional equipment and not carried out by professionals. Conclusion: Therapy with professional assistance such as yoga and reflexology reduces the average fatigue score the most, followed by therapy without additional equipment and without professional assistance such as PMR and DB, as well as therapy with additional equipment such as TENS and IMT or a combination of additional equipment and carried out professionally (MT on IMT). Yoga with online classes or through media such as videos can be adopted as a rehabilitation program at home. Suggestion: Future research is expected to examine the advantages and limitations of complementary therapies to reduce fatigue, so that they can be combined for better results.   Keywords: Complementary Therapy; Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD); Fatigue.   Pendahuluan: Proses melawan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) menjadi sebuah tantangan yang mempengaruhi kualitas hidup pasien. Terlebih, gejala fatigue yang tak terhindarkan sering kali menjadi keterbatasan dalam aspek fisik, emosional, kognitif, dan sosial. Namun, dalam mengatasi hal tersebut terdapat peluang baru, yakni dengan penggunaan terapi komplementer untuk menangani fatigue secara optimal, membuka jalan bagi perawatan kesehatan yang lebih efektif untuk para penderita PPOK. Tujuan: Untuk menyelidiki dan menyintesis bukti-bukti ilmiah mengenai penggunaan terapi komplementer untuk fatigue pada pasien PPOK. Metode: Tinjauan sistematis dengan panduan PRISMA menggunakan lima database antara lain, PubMed, Scopus, ScienceDirect, Cochrane dan EMBASE. Pencarian dengan kombinasi kata kunci ”COPD” OR ”Chronic Obstructive Pulmonary Disease” AND ”Complementary Therapy” OR ”Nonpharmacologic Therapy” OR ”Supportive Therapy” AND ”Fatigue” OR ”Overtiredness” OR ”Exhaustion”. Kriteria artikel yang digunakan adalah penelitian kuantitatif, desain RCT, responden pasien PPOK di rawat inap ataupun rawat jalan, intervensi terapi komplementer atau non-farmakologis berdurasi minimal 2 minggu, mengukur fatigue dengan instrumen fatigue, berbahasa inggris, teks lengkap, dan publikasi 2016-2023. Hasil: Ditemukan tujuh artikel yang sesuai kriteria untuk dilakukan analisis. Terapi komplementer dikelompokkan sebagai berikut, terapi dengan alat tambahan, terapi dilakukan profesional, terapi kombinasi alat tambahan dan dilakukan profesional, serta terapi tanpa alat tambahan dan tanpa dilakukan profesional. Simpulan: Terapi dengan bantuan profesional seperti, yoga dan reflexology menurunkan skor rata-rata fatigue paling besar, diikuti terapi tanpa alat tambahan dan tanpa dilakukan profesional seperti, PMR dan DB, serta terapi dengan alat tambahan seperti, TENS dan IMT maupun kombinasi alat tambahan dan dilakukan profesional (MT pada IMT). Yoga dengan kelas online atau melalui media seperti video dapat diadopsi untuk menjadi program rehabilitasi di rumah. Saran: Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengkaji kelebihan dan keterbatasan terapi komplementer untuk menurunkan fatigue, sehingga dapat dikombinasikan untuk hasil yang lebih baik.   Kata Kunci: Fatigue; Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK); Terapi Komplementer.
Efektivitas edukasi melalui webapps pencegahan perdarahan berulang varises esofagus terhadap pengetahuan pasien sirosis hepatis Butarbutar, Sonang Veronika; Waluyo, Agung; Edison, Chiyar
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 4 (2024): Volume 18 Nomor 4
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i4.205

Abstract

Background: Esophageal varices is one of the serious complications of portal vein hypertension. Utilization of information technology in nursing services can help monitor the condition of hepatic cirrhosis clients after hospitalization. Although some education is well received, often the education provided is not optimal, especially for outpatients at the polyclinic. Purpose: To analyze the effectiveness of education through Webapps to prevent recurrent bleeding of esophageal varices on the knowledge of patients with hepatic cirrhosis. Method: Quasi Experiment with Nonequivalent Control Group Design. The sample was purposively selected as many as 132 respondents with 66 in the control group and 66 in the intervention group. Results: No significant relationship between age group, gender, occupation, and knowledge (p>0.05). Length of stay (<5 days and ≥5 days) had a significant association with pre-test knowledge (p=0.003<0.05), but not significant at post-test (p=0.468>0.05). Education (low, middle, high) showed no significant difference in pre-test and post-test knowledge scores in the intervention group. Despite the variation, the pre-test and post-test scores at all education levels were not significantly different. Conclusion: The conclusion of this study is that the characteristics of respondents such as age, gender, occupation are not significantly related to knowledge, although education has a slight variation in value, but not significant. While the length of hospitalization is only significant in pre-test knowledge.   Keywords: Cirrhosis Hepatis; Education; Knowledge; Webapps.   Pendahuluan: Varises esofagus (VE) merupakan salah satu komplikasi hipertensi vena porta yang serius. Pemanfaatan teknologi informasi dalam pelayanan keperawatan dapat membantu memonitor kondisi klien sirosis hepatis setelah perawatan di Rumah Sakit. Meskipun sebagian edukasi diterima dengan baik, seringkali edukasi yang diberikan kurang optimal, khususnya pada pasien berobat jalan di poliklinik. Tujuan: Untuk menganalisis efektivitas edukasi melalui Webapps pencegahan perdarahan berulang varises esofagus terhadap pengetahuan pasien sirosis hepatis. Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan quasi eksperimental design yang menerapkan desain non-equivalent (pre-test and post-test) control group. Penelitian ini dilakukan di Ruang Prosedur Terpadu Ilmu Penyakit Dalam RSUPN DR. Cipto Mangunkusumo Jakarta, dilaksanakan pada bulan Agustus 2023 dengan populasi sebanyak 132. Analisa bivariat digunakan untuk menganalisis keefektifan pengaruh Webapps. Skala data yang digunakan pada penelitian ini menggunakan data rasio. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji T-test menggunakan SPSS 21 dengan nilai kesalahan (α 0.05). Hasil: Tidak ada hubungan signifikan antara kelompok usia, jenis kelamin, dan pekerjaan terhadap pengetahuan (p>0.05). Lama rawat (<5 hari dan ≥5 hari) memiliki hubungan signifikan dengan pengetahuan pre-test (p=0.003<0.05), tetapi tidak signifikan pada post-test (p=0.468>0.05). Tingkat pendidikan tidak menunjukkan perbedaan signifikan dalam nilai pengetahuan pre-test dan post-test pada kelompok intervensi. Meskipun terdapat variasi, nilai pre-test dan post-test pada semua tingkat pendidikan tidak berbeda secara signifikan. Simpulan: Karakteristik partisipan seperti usia, jenis kelamin, dan pekerjaan tidak berhubungan signifikan dengan pengetahuan. Meskipun pendidikan sedikit memiliki variasi nilai, namun tidak signifikan dan lama rawat hanya signifikan pada pengetahuan pre-test.   Kata Kunci: Edukasi; Pengetahuan; Sirosis Hepatis; Webapps.
Efektivitas modul lampu juara terhadap pengetahuan dan sikap ibu dalam pencegahan stunting Syafa Kamila Aulia; Ida Maryati; Sukmawati Sukmawati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 1 (2024): Volume 18 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i1.211

Abstract

Background:  Indonesia is still the country with the highest stunting prevalence rate, occupying the 5th position in the world and the 2nd highest in Southeast Asia. Reducing the incidence of stunting is one of the goals in Indonesia's global target in 2025 and is also an indicator of the Sustainable Development Goals (SDGs), namely zero hunger. Data from the Indonesian Nutrition Status Survey shows that the prevalence of stunting in Indonesia from 2021 to 2022 has decreased from 24.4% to 21.6%. The media used is the Lampu Juara module with the consideration that this module has an attractive design and is divided into three special series which makes it easy for readers to take it anywhere. Purpose: To determine the effect of the Lampu Juara module on mothers' knowledge and attitudes regarding stunting prevention. Method: Quantitative research pre-experimental one group and post test design and the sample was selected using total sampling. Carried out in Jatimukti Village, Jatinangor District in October 2023. The population in this research is Women of Childbearing Age (WUS) who are 50 Lampu Juara participants. The independent variable in this research is the Lampu Juara module and the dependent variable is the mother's knowledge and attitude in preventing stunting. Inclusion criteria include WUS and mothers who actively participate in the Lampu Juara girls' school program. Data analysis uses univariate analysis, namely frequency distribution and bivariate using the Paired Sample T-test. Results: For the knowledge variable, a p-value was obtained of 0.001 (< α=0.05), so that H0 was rejected and Ha was proven, namely that there was an influence of the Lampu Juara module on maternal knowledge in preventing stunting. Meanwhile, for the attitude variable, a p-value was obtained of 1,000 (> α= 0.05), so that H0 was accepted and Ha was rejected, namely that there was no influence of the Lampu Juara module on mothers' attitudes in preventing stunting. Conclusion: Shows that there is a positive relationship between the Lampu Juara module and mothers' knowledge in preventing stunting (p= 0.001 < α 0.05). However, there was no positive relationship with mothers' attitudes towards preventing stunting (p= 1,000 > α 0.05).   Keywords: Attitude; Knowledge; Module; Stunting.   Pendahuluan: Indonesia masih menjadi negara dengan angka prevalensi stunting tertinggi yang menduduki posisi ke-5 di dunia dan peringkat ke-2 tertinggi di Asia Tenggara. Penurunan angka kejadian stunting merupakan salah satu tujuan dalam target global Indonesia di tahun 2025 dan juga merupakan salah satu indikator dari Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu zero hunger. Data hasil Survei Status Gizi Indonesia menunjukan bahwa prevalensi stunting di Indonesia dari tahun 2021 hingga 2022 telah menurun dari 24.4% menjadi 21.6%. Media yang digunakan adalah modul Lampu Juara dengan pertimbangan modul ini memiliki desain yang menarik dan terbagi menjadi tiga series khusus yang memudahkan pembaca untuk membawanya kemana saja. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh modul Lampu Juara terhadap pengetahuan dan sikap ibu tentang pencegahan stunting.  Metode: Penelitian kuantitatif pre-experimental one group and post test design dan sampel dipilih secara total sampling. Dilaksanakan di Desa Jatimukti, Kecamatan Jatinangor pada bulan Oktober 2023. Populasi dalam penelitian ini adalah Wanita Usia Subur (WUS) yang merupakan peserta Lampu Juara sebanyak 50 responden.Variabel bebas dalam penelitian ini adalah modul Lampu Juara dan variabel terikat adalah pengetahuan dan sikap ibu dalam pencegahan stunting. Kriteria inklusi antara lain, WUS dan ibu yang aktif berpartisipasi dalam program sekolah perempuan Lampu Juara. Analisis data menggunakan analisis univariat yaitu distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji Paired Sample T-test. Hasil: Pada variabel pengetahuan diperoleh p-value sebesar 0.001 (< α=0.05), sehingga H0 ditolak dan Ha terbukti, yaitu terdapat pengaruh modul Lampu Juara terhadap pengetahuan ibu dalam pencegahan stunting. Sedangkan pada variable sikap diperoleh p-value sebesar 1.000 (> α= 0.05), sehingga H0 diterima dan Ha ditolak, yakni tidak terdapat pengaruh modul Lampu Juara terhadap sikap ibu dalam pencegahan stunting. Simpulan: Menunjukkan terdapat hubungan positif antara modul Lampu Juara terhadap pengetahuan ibu dalam pencegahan stunting (p= 0.001 < α 0.05). Namun, tidak terdapat hubungan positif terhadap sikap ibu dalam pencegahan stunting (p= 1.000 > α 0.05).   Kata Kunci: Modul; Pengetahuan; Sikap; Stunting.
Pengetahuan ibu hamil trimester III tentang manajemen nyeri persalinan dan melahirkan dengan breath exercise dan deep back massage Desy Darmayanti; Andriyani Rahmah Fahriati; Rita Dwi Pratiwi; Siti Novy Romlah; Saripa Muda Im
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 1 (2024): Volume 18 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i1.212

Abstract

Background: In the third trimester pregnant women must prepare for all labor needs, including labor pain management that will be applied during the labor process. Pregnant women's knowledge of labor pain management is very important because it will help mothers deal with pain during labor, so that the labor process can run smoothly and reduce maternal morbidity. Labor pain is a physiological condition that occurs in mothers giving birth. Pain in the first stage of labor occurs due to involuntary contractions of the uterine muscles. Purpose: To determine the relationship between characteristics and knowledge of third trimester pregnant women regarding labor pain management using breath exercise and deep back massage techniques. Method: Descriptive analytical research using quantitative methods with a cross sectional design approach. This research was carried out at the Independent Midwife Practice N South Tangerang in April-June 2023. The inclusion criteria in this study were pregnant women who were willing to be respondents, were able to communicate well, and had received information about labor pain management. The data analysis used was univariate and bivariate using the Chi-Square statistical test with a confidence level of 95% with a p-value (<0.05). Results: In the education variable, those with good knowledge, namely mothers with higher education, numbered 21 (87.5%). The results of the chi-square statistical test obtained a p-value of 0.002 (p<0.05), so there is a significant relationship between education and the respondent's knowledge. Meanwhile, other independent variables show a p-value >0.05 so there is no significant relationship. Conclusion: There is a significant relationship between education and knowledge with a value of p=0.002 and there is no significant relationship between age, occupation, gravida, and source of information on the knowledge of pregnant women in the third trimester. Suggestion: This research is expected to increase public knowledge about maternal and child health, especially in the management of labor pain. Health workers, especially midwives, can provide information about labor pain management techniques and can also apply them. It is hoped that institutions can improve the quality of education and can be used as reference material in libraries, especially regarding labor pain management techniques.   Keywords: Knowledge; Labor Pains; Pregnant Mother.   Pendahuluan: Pada trimester III ibu hamil sudah harus mempersiapkan segala kebutuhan persalinan, termasuk mengenai manajemen nyeri persalinan yang akan diterapkan pada saat proses persalinan. Pengetahuan ibu hamil terhadap manajemen nyeri persalinan sangat penting karena akan membantu ibu dalam menghadapi rasa nyeri pada saat persalinannya, sehingga proses persalinan dapat berjalan dengan lancar dan mengurangi angka kesakitan ibu. Nyeri persalinan merupakan kondisi fisiologis yang terjadi pada ibu bersalin. Nyeri persalinan kala I terjadi akibat kontraksi involunter otot uterus. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan karakteristik dengan pengetahuan ibu hamil trimester III tentang  manajemen nyeri persalinan dengan teknik Breath exercise dan Deep back massage. Metode: Penelitian deskriptif analitik menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan desain cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan di Praktik Mandiri Bidan N Tangerang Selatan pada bulan April-Juni 2023. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah ibu hamil yang bersedia menjadi responden, mampu berkomunikasi dengan baik, dan pernah mendapatkan informasi tentang manajemen nyeri persalinan. Analisis data yang digunakan adalah univariat dan bivariat menggunakan uji statistik Chi-Square dengan derajat kepercayaan 95% dengan p-value (<0.05). Hasil: Pada variabel pendidikan yang memiliki pengetahuan baik yaitu ibu dengan pendidikan tinggi berjumlah 21 (87.5%). Hasil uji statistik chi-square diperoleh p-value 0.002  (p<0.05), maka ada hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan pengetahuan responden. Sedangkan variabel independen lainnya menunjukkan hasil p-value >0.05 sehingga tidak ada hubungan yang bermakna. Simpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan pengetahuan dengan nilai p=0.002 dan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara usia, pekerjaan, gravida, dan sumber informasi terhadap pengetahuan ibu hamil trimester III. Saran: Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan ibu dan anak terutama dalam manajemen nyeri persalinan. Para tenaga kesehatan khususnya bidan dapat memberikan informasi mengenai teknik manajemen nyeri persalinan dan juga dapat menerapkannya. Bagi institusi diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan referensi di perpustakaan terutama tentang teknik manajemen nyeri persalinan.   Kata Kunci: Ibu hamil; Nyeri Persalinan; Pengetahuan.
Penyuluhan kesehatan masyarakat: Penatalaksanaan perawatan penderita asam urat menggunakan media booklet Tasya Astrilian; Wachidah Yuniartika
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 1 (2024): Volume 18 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i1.213

Abstract

Background: Elderly people who suffer from gout tend to experience relapses which are influenced by a lack of understanding and awareness about gout. In the elderly, gout is a major complaint that interferes with daily activities, even resulting in difficulty sleeping and limitations in activities. Therefore, providing health education about gout is needed to increase promotive and preventive actions so that knowledge regarding gout in sufferers can increase. Purpose: To increase the knowledge of gout sufferers using health education with booklet media. Method: Quantitative research with a pre-experiment design, one group pre-test and post-test. This research was conducted at integrated service post for the elderly in Mayang Village, Gatak District on 15-22 November 2023. This research used a purposive sampling technique of 40 participants with inclusion criteria including, adult and elderly people at the posyandu for the elderly in Mayang village, suffering from gout. , don't know about gout. Meanwhile, the exclusion criteria are people who are seriously ill and sufferers of other non-communicable diseases. The instrument in this research is a questionnaire sheet with the Gutman Scale measuring instrument. Results: The research conducted showed that knowledge after being given the intervention was higher than before being given the intervention with a difference value of 4.05 standard deviation -0.419. The results of bivariate data analysis using the Wilcoxon signed rank test showed a p-value of 0.000 (<0.05). Conclusion: Providing health education using booklet media to gout sufferers can increase knowledge.   Keywords: Gout; Health Education; Media Booklet.   Pendahuluan: Lansia yang menderita penyakit asam urat cenderung mengalami kekambuhan yang dipengaruhi oleh kurangnya pemahaman dan kesadaran mengenai asam urat. Pada lansia penyakit asam urat menjadi keluhan utama yang mengganggu aktivitas sehari-hari, bahkan mengakibatkan kesulitan tidur, dan keterbatasan beraktivitas. Oleh karena itu, pemberian pendidikan kesehatan tentang penyakit asam urat diperlukan untuk meningkatkan tindakan promotif dan preventif sehingga pengetahuan terkait penyakit asam urat pada penderita dapat meningkat. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan penderita asam urat menggunakan pendidikan kesehatan dengan media booklet. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain pre-eksperiment one group pre-test dan post-test. Penelitian ini dilakukan di Posyandu lansia Desa Mayang, Kecamatan Gatak pada 15-22 November 2023. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling sebanyak 40 partisipan dengan kriteria inklusi antara lain, masyarakat dengan usia dewasa dan usia lansia di posyandu lansia desa Mayang, menderita penyakit asam urat, belum mengetahui terkait penyakit asam urat. Sedangkan kriteria eksklusi adalah masyarakat yang sedang sakit berat dan penderita penyakit tidak menular lainnya. Instrumen dalam penelitian ini adalah lembar kuesioner dengan alat ukur Skala Gutman. Hasil: Pengetahuan setelah diberikan intervensi lebih tinggi dari pada sebelum diberikan intervensi dengan nilai selisih sebesar 4.05 standar deviasi -0.419. Hasil analisa data bivariat menggunakan uji wilcoxon signed rank test didapatkan nilai p-value sebesar 0.000 (<0.05). Simpulan: Pemberian pendidikan kesehatan menggunakan media booklet pada penderita asam urat dapat meningkatkan pengetahuan.   Kata Kunci: Asam Urat; Media Booklet; Pendidikan Kesehatan.
Pola makan, aktivitas fisik, gula darah, dan risiko luka kaki diabetik pada pasien diabetes melitus Tuti Suprapti; Asep Aep Indarna
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 1 (2024): Volume 18 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i1.217

Abstract

Background: Diabetes mellitus is a chronic metabolic disorder characterized by increased blood glucose (hyperglycemia). The prevalence of diabetes continues to increase until it reaches 578 million in 2030 and 700 million in 2045. Physical activity has an impact on insulin action in people at risk of diabetes mellitus. Lack of activity is one of the factors that plays a role in causing insulin resistance, Purpose: To analyze diet patterns, physical activity, and the risk of diabetic foot injuries in diabetes mellitus patients. Method: Descriptive analytical research using the sampling technique is accidental sampling, with a total sample of 40 DM patients without wounds. The instruments used were questionnaire sheets in the form of eating patterns and physical activity with international physical activity questionnaire (IPAQ) measuring instruments and blood sugar measuring instruments. The analysis used in this research is univariate analysis. Results: As many as 82.5% of blood sugar was controlled at 100-199 mg/dl, 90% of sufferers had a risk of injury using footwear, 75% felt heat in their feet, 95% felt their pulse in their feet was weak and irregular. The food frequency questionnaire (FFQ) consists of 28 staple foods in the form of white rice with a frequency of 4-6 times/day, 40%, fresh fish, and 42.5% consume meat with a frequency of 1-3 times/week, so it is necessary to take precautions to prevent neuropathy. . Conclusion: The type and amount of food greatly influences the incidence of DM, so assessment and screening of food patterns needs to be carried out. Apart from that, DM sufferers need to increase physical activity according to their abilities and the assessment of injury risk needs to be improved to prevent neuropathy. Suggestion: Health workers need to increase education about wound care, early detection of the risk of diabetic foot wounds, and carrying out physical activities such as foot exercises.   Keywords: Blood Sugar; Diabetes Mellitus; Physical Activity; Wound Prevention.   Pendahuluan: Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit gangguan metabolisme kronis yang ditandai peningkatan glukosa darah (hiperglikemi). Prevalensi diabetes terus meningkat hingga mencapai 578 juta pada 2030 dan 700 juta di tahun 2045. Aktivitas fisik berdampak terhadap aksi insulin pada orang yang berisiko diabetes melitus. Kurangnya aktivitas merupakan salah satu faktor yang ikut berperan yang menyebabkan resistensi insulin,  Tujuan: Untuk menganalisa pola makan, aktivitas fisik, dan risiko luka kaki diabetik pada pasien DM. Metode: Penelitian deskriptif analitik menggunakan teknik pengambilan sampel adalah accidental sampling,  dengan jumlah sampel 40 pasien DM tanpa luka. Instrumen yang digunakan  lembar kuesioner berupa pola makan dan aktivitas fisik dengan alat ukur international physical activity questionnaire (IPAQ) dan alat ukur gula darah. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat . Hasil: Sebanyak 82.5% gula darah terkontrol 100-199 mg/dl, risiko terjadinya luka 90% penderita menggunakan alas kaki, 75% merasakan panas pada kaki, 95% merasakan denyut nadi sedang di kaki. Food frekuensi quesionere (FFQ) sebanyak 28 makanan pokok berupa nasi putih dengan frekuensi 4-6 kali/hari, 40%  ikan segar, dan 42.5% mengkonsumsi daging dengan frekuensi 1-3 kali/minggu, sehingga perlu dilakukan pencegahan agar tidak terjadi neuropati. Simpulan: Jenis dan jumlah makanan sangat berpengaruh terhadap kejadian DM, sehingga pengkajian dan screening pola makanan perlu dilakukan. Selain itu, penderita DM perlu meningkatkan aktivitas fisik sesuai kemampuan dan pengkajian risiko luka perlu ditingkatkan untuk mencegah terjadinya neuropati. Saran: Petugas kesehatan perlu meningkatkan edukasi tentang perawatan luka, deteksi dini risiko luka kaki diabetik, dan dilakukannya aktivitas fisik seperti senam kaki.   Kata Kunci: Aktivitas Fisik; Diabetes Melitus; Gula Darah; Pencegahan Luka.

Page 3 of 11 | Total Record : 106