cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
JL Pramuka no 27 Kemiling Bandar Lampung, Kode Pos 35152
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : 10.33024
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal akan terbit 8 kali dalam satu tahun (Maret, April, Juni, Juli, September, Oktober, Desember, dan Januari). Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 106 Documents
Penggunaan teknologi dalam pengukuran kekuatan otot pasien kritis: A scoping review Suhartini Ismail; Septiani Pramanasari; Rifky Ismail
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 1 (2024): Volume 18 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i1.218

Abstract

Background: Patients treated in the intensive care unit often experience decreased muscle strength. Continuous muscle weakness will affect muscle condition and have a bad impact and can cause disability. Health workers can use technology to measure muscle strength. Purpose: To examine in depth the technology for measuring muscle strength in critical patients. Method: Scoping review research was conducted in March 2023 using PubMed, ScienceDirect, Scopus, and ProQuest databases published in 2018-2023. Identified and selected through the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses for Scoping Reviews (PRISMA-ScR) guidelines. The inclusion criteria used include muscle strength measurement technology and research participants in critical patients, articles published between 2018-2023, articles that are open access, in English, and relevant. Screening and selection of articles was carried out on the title and abstract, eliminating duplicate articles, articles with full text, according to the research field, type of method, randomized controlled trials and systematic reviews. Results: Identified 663 articles and obtained 10 relevant articles for analysis summarizing the development of technology for measuring muscle strength in critical patients, the nursing implications of technology in assessing muscle strength, and the ease and use of technology in measuring muscle strength. Conclusion: Technological developments have a positive impact on patient treatment, especially for patients with critical conditions who require fast and appropriate treatment so that their quality of life can improve. Utilizing technological developments in accurately measuring muscle strength in critical patients can have a positive impact in selecting the appropriate patient treatment and rehabilitation process as well as preventing complications or muscle contractures. Suggestion: Further research regarding technological innovations in muscle strength in critical patients’ needs to be carried out in more depth because it is useful in helping nurses and health service providers in measuring muscle strength in critical patients, so that it is beneficial for critical patients and provides accurate and valid muscle strength measurement results.   Keywords: Critical Patients; Measurement; Muscle Strength; Technology.   Pendahuluan: Pasien yang dirawat di ICU sering mengalami penurunan kekuatan otot. Kelemahan otot yang terus menerus akan mempengaruhi kondisi otot dan berdampak buruk serta dapat menyebabkan kecacatan. Penggunaan teknologi dapat dimanfaatkan oleh tenaga kesehatan dalam pengukuran kekuatan otot. Tujuan: Untuk mengkaji secara mendalam teknologi dalam pengukuran kekuatan otot pada pasien kritis. Metode: Penelitian scoping review dilakukan pada bulan Maret 2023 melalui database PubMed, ScienceDirect, Scopus, dan ProQuest terbitan tahun 2018-2023. Diidentifikasi dan diseleksi melalui Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analysis for Scoping Review guideline (PRISMA-ScR). Kriteria inklusi yang digunakan adalah memuat teknologi pengukuran kekuatan otot dan partisipan penelitian pada pasien kritis, artikel diterbitkan antara tahun 2018-2023, artikel bersifat open acces, berbahasa Inggris, dan relevan. Penyaringan dan pemilihan artikel dilakukan pada judul dan abstrak, menghapus artikel duplikat, artikel dengan teks lengkap, sesuai dengan bidang penelitian, jenis metode randomized controlled trial dan systematic review. Hasil: Mengidentifikasi 663 artikel dan mendapatkan 10 artikel relevan untuk dianalisis merangkum tentang perkembangan teknologi pengukuran kekuatan otot pada pasien kritis, implikasi keperawatan terhadap teknologi dalam penilaian kekuatan otot, dan kemudahan serta penggunaan teknologi dalam pengukuran kekuatan otot. Simpulan: Perkembangan teknologi memberikan dampak positif terhadap pengobatan pasien, terutama pada pasien dengan kondisi kritis yang memerlukan pengobatan cepat dan tepat agar kualitas hidupnya dapat ditingkatkan. Penggunaan perkembangan teknologi dalam pengukuran kekuatan otot secara akurat pada pasien kritis dapat berdampak positif pada pemilihan proses pengobatan, rehabilitasi yang tepat bagi pasien dan mencegah terjadinya komplikasi maupun kontraktur otot. Saran: Penelitian lebih lanjut mengenai inovasi teknologi kekuatan otot pada pasien kritis perlu dilakukan lebih mendalam karena bermanfaat dalam membantu perawat dan penyedia layanan kesehatan dalam mengukur kekuatan otot pada pasien kritis, sehingga akan bermanfaat bagi pasien kritis dan memberikan hasil pengukuran kekuatan otot yang tepat dan valid.   Kata Kunci: Kekuatan Otot; Pasien Kritis; Pengukuran; Teknologi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi efikasi diri ibu dan praktik menyusui di kalangan ibu yang bekerja: A literature review Risti Linta Chumaira; Anggorowati Anggorowati; Zubaidah Zubaidah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 1 (2024): Volume 18 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i1.219

Abstract

Background: Breast milk is a source of nutrition that every baby needs which is given exclusively from birth and after the age of 6 months plus complementary breast milk until the age of 2 years. Barriers to breastfeeding for mothers who return to work are the workload, stress and maternal beliefs that interfere with the quality of their relationship with their baby and the mother's employment status. Breastfeeding self-efficacy refers to a mother's ability to breastfeed her baby and is an important variable in breastfeeding duration. Purpose: To determine the factors that contribute to self-efficacy in increasing self-confidence in breastfeeding among working mothers. Method: Literature review research by identifying all quantitative and qualitative study articles related to mothers who work and are providing exclusive breastfeeding, working breastfeeding mothers, and breastfeeding self-efficacy. Literature searches using databases namely Pubmed, Scopus, Willey, and Science Direct. Results: Identified 6,013 articles and found 10 articles that were appropriate and relevant to various factors of breastfeeding self-efficacy for working mothers, such as social support, breastfeeding experience, breastfeeding knowledge, modelling, and psychological conditions of working mothers. Conclusion: There are several factors for the self-efficacy of working breastfeeding mothers, and the most dominant factor in the literature search is social support.   Keywords: Breast-Feed; Self-Efficacy; Working Mother.   Pendahuluan: Air susu ibu (ASI) adalah sumber nutrisi yang dibutuhkan setiap bayi yang diberikan secara eksklusif dari sejak lahir dan setelah usia 6 bulan ditambah dengan makanan pendamping ASI (MPASI) sampai usia 2 tahun. Hambatan menyusui bagi ibu yang kembali bekerja adalah beban kerja, stres, dan keyakinan ibu sehingga mengganggu kualitas dengan bayi mereka dan status pekerjaan ibu. Efikasi diri menyusui mengacu pada kemampuan ibu dalam menyusui bayinya dan merupakan variabel penting dalam durasi menyusui. Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berkontribusi terhadap efikasi diri dalam peningkatan keyakinan diri dalam menyusui pada ibu yang bekerja. Metode: Penelitian literature review dengan melakukan identifikasi semua artikel studi kuantitatif dan kualitatif yang terkait dengan ibu yang bekerja dan sedang memberikan ASI eksklusif, ibu menyusui yang bekerja, dan breastfeeding self-efficacy. Pencarian literatur menggunakan database yaitu Pubmed, Scopus, Willey, dan Science Direct. Hasil: Mengidentifikasi sebanyak 6.013 artikel dan mendapatkan 10 artikel yang sesuai dan relevan dengan berbagai faktor efikasi diri menyusui ibu bekerja, seperti dukungan sosial, pengalaman menyusui, pengetahuan menyusui, modelling, dan kondisi psikologi ibu bekerja. Simpulan: Terdapat beberapa faktor efikasi diri ibu menyusui yang bekerja dan faktor yang paling dominan dalam pencarian literatur adalah dukungan sosial.   Kata Kunci: Efikasi Diri; Ibu Bekerja; Menyusui.
Implementasi perangkat lunak sebagai media edukasi bantuan hidup dasar: A literature review Cecep Yoga Sunendar; Ridlwan Kamaluddin
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 1 (2024): Volume 18 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i1.220

Abstract

Background: Learning innovation has now entered into digitalization which utilizes software as an effective distance learning medium to combine various approaches. With the software used for BHD training, it can be an effective and efficient innovation to improve the quality of knowledge and skills of professionals. Purpose: To determine the implementation of software as a BHD educational medium and its effectiveness in increasing the knowledge and skills of users. Method: Literature study research using Scopus, PubMed, and Google Scholar research databases with a publication year range of 2018-2023. Results: There were 5 articles out of 1164 articles that matched the keywords and inclusion and exclusion criteria. Based on these 5 articles, 4 of them reported better learning outcomes when using software or applications compared to the control group. Conclusion: The software method is considered more practical and flexible in the process but requires continuous development to improve the quality of content which can affect the knowledge and skills of learning participants.   Keywords: Basic Life Support; Education; Software.   Pendahuluan: Inovasi pembelajaran saat ini sudah masuk ke dalam digitalisasi yang memanfaatkan perangkat lunak sebagai media pembelajaran jarak jauh yang efektif untuk mengkombinasikan berbagai macam pendekatan. Dengan sebuah perangkat lunak yang digunakan untuk pelatihan BHD dapat menjadi sebuah inovasi yang efektif dan efisien demi meningkatkan kualitas pengetahuan dan keterampilan dari para profesional. Tujuan: Untuk mengetahui implementasi perangkat lunak sebagai media edukasi BHD dan efektifitasnya dalam meningkatkan pengetahuan maupun keterampilan penggunanya. Metode: Penelitian studi literatur dengan menggunakan database penelitian Scopus, PubMed, dan Google Scholar dengan rentang tahun publikasi 2018-2023. Hasil: Ditemukan 5 artikel dari 1164 artikel yang sesuai dengan kata kunci dan kriteria inklusi maupun eksklusi. Berdasarkan 5 artikel tersebut, 4 diantaranya melaporkan hasil pembelajaran yang lebih baik saat menggunakan perangkat lunak ataupun aplikasi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Simpulan: Metode dengan perangkat lunak dinilai lebih praktis dan fleksibel dalam prosesnya akan tetapi membutuhkan pengembangan yang berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas konten yang dapat berpengaruh terhadap pengetahuan dan keterampilan peserta pembelajaran.   Kata Kunci: Bantuan Hidup Dasar; Pendidikan; Perangkat Lunak.
Perlakuan posisi elevasi kepala dalam upaya membuka jalan napas: A systematic literature review Suhartomo Suhartomo; Iwan Punawan
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 1 (2024): Volume 18 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i1.221

Abstract

Background: Head elevation treatment is an action performed on a patient with the aim of opening the airway. This position is part of emergency handling maneuvers in life-threatening situations, especially in conditions where the patient experiences difficulty breathing or stops breathing. The head elevation position helps facilitate air measurements by positioning the patient's head and neck. By lifting your chin and closing your head back, air flow can more easily enter the airways. Head elevation or sniffing position also helps prevent aspiration, namely the entry of objects or fluids into the airways by lifting the chin, the risk of aspiration can be minimized. Treatment of the head elevation position is a critical first step in treating medical emergencies such as cardiac arrest, shock or other emergency conditions. This helps ensure adequate oxygen supply to the lungs. Purpose: To assess whether the head elevation position is the appropriate treatment to open the victim's airway. Method: Articles resulting from a systematic literature review (SLR) which is a critical analysis of selected articles using two article databases, namely PubMed and Google Scholar and presenting data findings originating from various other research. Results: The articles reviewed by the authors highlight the importance of head elevation in opening the airway and benefiting human respiratory health. In the ten articles reviewed, a strong context emerged that head elevation, or positioning the head slightly higher than the body, can increase airflow to the lungs Conclusion: The application of the sniffing position in various medical contexts shows its benefits not only in the respiratory aspect, but also in the diagnostic and therapeutic aspects which are very important for providing quality care for patients.   Keywords: Airway Clearance; Head Elevation Position; Intervention.   Pendahuluan: Perlakuan posisi elevasi kepala adalah suatu tindakan yang dilakukan pada pasien dengan tujuan membuka jalan napas. Posisi ini merupakan bagian dari manuver penanganan darurat pada situasi yang mengancam kehidupan, terutama pada kondisi di mana pasien mengalami kesulitan bernapas atau henti napas. Posisi elevasi kepala membantu memfasilitasi ventilasi udara dengan mengatur posisi kepala dan leher pasien. Dengan mengangkat dagu dan memiringkan kepala ke belakang, aliran udara dapat lebih mudah masuk ke saluran napas. Elevasi kepala atau sniffing position juga membantu mencegah aspirasi, yaitu masuknya benda atau cairan ke saluran napas dengan mengangkat dagu, risiko aspirasi dapat diminimalkan. Perlakuan posisi elevasi kepala merupakan langkah awal yang kritis dalam penanganan kegawatan medis seperti henti jantung, syok atau kondisi darurat lainnya. Hal ini membantu memastikan pasokan oksigen yang memadai ke paru-paru. Tujuan: Untuk menilai apakah perlakuan posisi elevasi kepala merupakan perlakuan yang tepat untuk membuka jalan napas korban. Metode: Artikel hasil dari systematic literature review (SLR) yang merupakan analisis secara kritis artikel terpilih dengan menggunakan dua basis data artikel yaitu PubMed dan Google Scholar serta melakukan penyajian data temuan yang berasal dari berbagai macam penelitian lainnya. Hasil: Artikel yang ditelaah oleh penulis menyoroti pentingnya posisi elevasi kepala dalam membuka jalan napas dan menguntungkan bagi kesehatan pernapasan manusia. Dalam sepuluh artikel yang telah diulas, konsensus yang kuat muncul bahwa posisi elevasi kepala, atau posisi kepala yang sedikit lebih tinggi dari tubuh, dapat meningkatkan aliran udara ke paru-paru Simpulan: Penerapan sniffing position dalam berbagai konteks medis menunjukkan manfaatnya tidak hanya pada aspek pernapasan, tetapi juga pada aspek diagnostik dan terapeutik yang sangat penting untuk memberikan perawatan yang berkualitas bagi pasien.   Kata Kunci: Bersihan Jalan Napas; Perlakuan; Posisi Elevasi Kepala.
Pengaruh teknik guided imagery terhadap penurunan nyeri dismenore pada remaja putri di SMA Pringsewu Desi Ari Madiyanti; Marlinda Marlinda; Dewi Okta Periyanti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 1 (2024): Volume 18 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i1.222

Abstract

Background: Menstruation is periodic bleeding from the uterus that begins approximately 14 days after ovulation periodically due to the shedding of the endometrial lining of the uterus. Physical discomfort during menstruation is called dysmenorrhea. Several actions can be taken to reduce dysmenorrhea, such as taking anti-pain medication or warm compresses. Purpose: To determine the effect of guided imagery techniques on dysmenorrhea pain in adolescent girls. Method: This type of quasi-experimental research with a pre-post-test non-equivalent control group approach. The sample of 36 female students was divided into 2 groups, 18 samples in the intervention group and 18 samples in the control group using consecutive sampling. The research instruments were a numeric rating scale (NRS) observation sheet and a standard operating procedure guided imagery. Data were analyzed using the Mann Whitney test. Results: The average age of female adolescent students who experienced dysmenorrhea in the intervention group was 16 years with a minimum age of 15 years and a maximum of 16 years. In the control group, the average age of young female students who experienced dysmenorrhea was 16 years with a minimum age of 15 years and a maximum of 18 years. The average pain in the intervention group before intervention was 6.78 and after intervention 1.94. Conclusion: This research shows that there is an effect of guided imagery techniques on reducing dysmenorrhea pain in young women with a p-value of 0.013 <0.05.   Keywords: Dysmenorrhea; Guided Imagery Therapy; Menstruation.   Pendahuluan: Menstruasi merupakan perdarahan periodik dari rahim yang dimulai sekitar 14 hari setelah ovulasi secara berkala akibat terlepasnya lapisan endometrium uterus. Ketidaknyamanan fisik saat menstruasi disebut dismenore. Beberapa tindakan dapat dilakukan untuk mengurangi dismenore seperti minum obat anti nyeri atau kompres hangat. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh teknik guided imagery terhadap nyeri dismenore pada remaja putri. Metode: Jenis penelitian quasi eksperimen dengan pendekatan pre-post-test non-equivalent control group. Sampel sebanyak 36 siswi terbagi menjadi 2 kelompok, 18 sampel kelompok intervensi dan 18 sampel kelompok kontrol dengan consecutive sampling. Instrumen penelitian berupa lembar observasi numeric rating scale (NRS) dan standar operasi prosedur (SOP) guided imagery. Data dianalisis menggunakan uji mann whitney. Hasil: Rata-rata usia siswi remaja putri yang mengalami dismenore pada kelompok intervensi adalah 16 tahun dengan usia minimal 15 tahun dan maksimal 16 tahun. Pada kelompok kontrol rata-rata usia siswi remaja putri yang mengalami dismenore adalah 16 tahun dengan usia minimal 15 tahun dan maksimal 18 tahun. Rata-rata nyeri pada kelompok intervensi sebelum intervensi 6.78 dan sesudah intervensi 1.94. Simpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh teknik guided imagery terhadap penurunan nyeri dismenore pada remaja putri dengan nilai p-value 0.013 <0.05.   Kata Kunci: Dismenore; Menstruasi; Terapi Guided Imagery.
Terapi komplementer pasien kanker yang menjalani kemoterapi: A literature review Zulfitrah Romadiansyah; Sri Wahyuni
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 1 (2024): Volume 18 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i1.228

Abstract

Background: Complementary therapy is part of a nursing intervention that is simple and has no side effects but provides great benefits for cancer patients who experience side effects from chemotherapy treatment that cancer patients undergo. Purpose: To determine and analyze complementary therapies that can be applied to cancer patients undergoing chemotherapy. Method: Literature review search from various online databases from 2018-2023, namely Google Scholar, Pubmed, and ScienceDirect, with the search keywords "Nursing interventions AND Complementary Therapy AND Cancer Patients AND Chemotherapy". This literature analysis uses guidelines from PRISMA and the Joanna Briggs Institute (JBI). Result: From the study and review of 10 selected journals, that nursing intervention with a complementary therapy approach had a significant impact in overcoming the side effects caused by chemotherapy in cancer patients. Conclusion: Nursing intervention with a complementary therapy approach provide a significant impact in overcoming the side effects caused by chemotherapy in cancer patients. Suggestion: Various surgical interventions are useful in overcoming side effects in cancer patients undergoing chemotherapy treatment, one of which is evidence-based nursing practice (EBNP) and is applied in clinical practice. In addition, this independent nursing intervention can be carried out directly by the nurse to the patient.   Keywords: Cancer; Chemotherapy; Complementary Therapy.   Pendahuluan: Terapi komplementer merupakan bagian dari intervensi keperawatan yang sederhana dan tidak memiliki efek samping namun memberikan manfaat yang besar bagi pasien kanker yang mengalami efek samping dari pengobatan kemoterapi yang dijalani oleh pasien kanker. Tujuan: Untuk mengetahui dan menganalisis terapi komplementer yang dapat diterapkan untuk pasien kanker yang menjalani kemoterapi. Metode: Penelitian literature review dari berbagai database online dari tahun 2018-2023 yaitu Google Scholar, Pubmed, dan ScienceDirect, dengan kata kunci pencarian “nursing interventions AND complementary therapy AND cancer patients AND chemotherapy”. Analisis literatur ini menggunakan panduan dari PRISMA dan Joanna Briggs Institute (JBI). Hasil: Berdasarkan telaah dan review 10 jurnal pilihan, didapatkan bahwa intervensi keperawatan dengan pendekatan terapi komplementer memberikan dampak yang signifikan dalam mengatasi efek samping yang ditimbulkan oleh kemoterapi pada pasien kanker. Simpulan: Intervensi keperawatan dengan pendekatan terapi komplementer memberikan dampak yang signifikan dalam mengatasi efek samping yang ditimbulkan oleh kemoterapi pada pasien kanker. Saran: Berbagai intervensi keperawatan yang bermanfaat dalam mengatasi efek samping pada pasien kanker yang menjalani pengobatan kemoterapi salah satunya, evidence based nursing practice (EBNP) dan diterapkan pada praktik klinik. Selain itu, intervensi keperawatan mandiri ini dapat langsung dilakukan oleh perawat kepada pasien.   Kata Kunci: Kanker; Kemoterapi; Terapi Komplementer.
Hubungan kejadian dispepsia dengan kebutuhan istirahat tidur pada mahasiswa S1 keperawatan Ridha Ghina Nurjanah; Ahmad Purnama Hudayana; Ria Inriyana
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 1 (2024): Volume 18 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i1.239

Abstract

Background: Functional Dyspepsia is a group of symptoms in the upper digestive tract which are characterized by pain or discomfort in the pit of the stomach, stomach feeling bloated, feeling full quickly, and nausea and vomiting without any organic abnormalities and generally occurs in the productive age. Symptoms of dyspepsia will get worse if not treated quickly, such as avoiding the factors that cause it. Bad lifestyle factors are the biggest contributor to the incidence of dyspepsia, one of which is the lack of need for sleep rest. Purpose: To determine the relationship between the need for sleep rest and the incidence of dyspepsia in undergraduate nursing students. Method: Quantitative descriptive research with a cross sectional approach. The sampling technique is total sampling with a sample size of 153 respondents. Data collection uses PADYQ and PSQI instruments. The statistical analysis test in this research used descriptive and Pearson correlation (p<0.05). Results: Shows that there is a significant relationship between the need for sleep rest and the incidence of dyspepsia (p-value = 0.000), obtained a positive value or in the same direction (r = 0.396). Conclusion: The need for poor sleep rest greatly influences the increase in dyspepsia symptoms. Suggestion: Students can carry out self-management to fulfill the need for good sleep rest by paying attention to various factors that trigger and prevent it, such as managing good sleep duration, managing sleep patterns, comfort while sleeping, and managing lifestyle patterns.   Keywords: Dyspepsia; Nursing; Sleep Rest.   Pendahuluan: Dispepsia Fungsional merupakan sekumpulan gejala pada saluran pencernaan atas yang ditandai dengan adanya rasa nyeri atau tidak nyaman pada ulu hati, perut terasa kembung, cepat kenyang, serta mual muntah tanpa adanya kelainan organik dan umumnya terjadi pada usia produktif. Gejala dispepsia akan semakin buruk jika tidak ditangani dengan cepat seperti menghindari faktor-faktor penyebabnya. Faktor gaya hidup yang buruk penyumbang terbesar kejadian dispepsia, salah satunya adalah kurangnya kebutuhan istirahat tidur. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kebutuhan istirahat tidur dengan kejadian dispepsia pada mahasiswa S1 Keperawatan. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel yaitu total sampling dengan jumlah sampel 153 responden. Pengumpulan data menggunakan instrumen yang PADYQ dan PSQI. Uji analisis statistik dalam penelitian ini menggunakan deskriptif dan pearson correlation (p<0.05). Hasil: Menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kebutuhan istirahat tidur dengan kejadian dispepsia (p-value = 0.000), didapatkan nilai positif atau searah (r = 0.396). Simpulan: Kebutuhan istirahat tidur yang buruk sangat berpengaruh terhadap peningkatan gejala dispepsia. Saran: Mahasiswa dapat melakukan self management untuk pemenuhan kebutuhan istirahat tidur yang baik dengan memperhatikan berbagai faktor pencetus dan pencegahannya seperti pengaturan durasi tidur yang baik, pengelolaan pola tidur, kenyamanan saat tidur, dan pengaturan pola gaya hidup.   Kata Kunci: Dispepsia; Istirahat Tidur; Keperawatan.
Manfaat senam tai chi untuk menurunkan gula darah pada penderita diabetes melitus tipe II: An evidence based case report Ina Hidayati; Isnaini Herawati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 1 (2024): Volume 18 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i1.244

Abstract

Background: Type II diabetes mellitus (DM) is a metabolic disorder that causes blood sugar to rise because the beta cells in the pancreas make less insulin and the insulin does not work properly (insulin resistance) or better known as diabetes. Data from the International Diabetes Federation (IDF) in 2015 shows that 415 million people worldwide suffer from DM and it is estimated that this will increase to around 642 million people in 2040. Purpose: To determine the benefits of tai chi exercise in lowering blood sugar in people with type II diabetes mellitus Method: Case study research using pre and post-test by providing tai chi exercise intervention to type II DM patients to control blood sugar levels. The DM patient was 53 years old, female, willing to be a research sample, took part in an exercise program for 2 weeks, and the patient was not sick at the fit sport clinic and rehabilitation center. Results: Giving tai chi exercises can reduce blood sugar levels in type II DM cases by showing a decrease in blood sugar levels with the results of the first therapy being 307 mg/dl and the third measurement after 6 treatments being 219 mg/dl. Conclusion: Tai chi exercise can reduce blood sugar levels in patients with type II DM. Suggestion: The patient's family is advised to collaborate with medical personnel to carry out physiotherapy regarding the importance of maintaining a healthy diet and lifestyle to normalize blood sugar levels.   Keywords: Blood Sugar; Diabetes Mellitus Type II; Tai Chi Gymnastics.   Pendahuluan: Diabetes melitus (DM) tipe II merupakan gangguan metabolisme yang menyebabkan gula darah naik karena sel beta di pankreas membuat lebih sedikit insulin dan insulin tidak bekerja dengan baik (resistensi insulin) atau lebih dikenal dengan istilah kencing manis. Data International Diabetes Federation (IDF) tahun 2015 menunjukkan bahwa 415 juta orang di seluruh dunia menderita DM dan diperkirakan akan meningkat menjadi sekitar 642 juta orang pada 2040. Tujuan: Untuk mengetahui manfaat senam tai chi dalam menurunkan gula darah pada penderita diabetes melitus tipe II Metode:  Penelitian studi kasus menggunakan pre and post test dengan pemberian intervensi senam tai chi pada pasien DM tipe II untuk mengontrol kadar gula darah. Pasien DM berusia 53 tahun, berjenis kelamin wanita, bersedia menjadi sampel penelitian, mengikuti program latihan selama 2 minggu, dan pasien dalam kondisi tidak sedang sakit di klinik fit sport dan rehabilitation centre. Hasil: Pemberian senam tai chi bisa menurunkan kadar gula darah pada kasus DM tipe II dengan menunjukkan adanya penurunan kadar gula darah dengan hasil terapi pertama yaitu 307 mg/dl dan pengukuran ketiga setelah 6 kali terapi menjadi 219 mg/dl. Simpulan: Latihan senam tai chi mampu menurunkan kadar gula darah pada pasien dengan kondisi DM tipe II. Saran: Kepada pihak keluarga pasien disarankan agar berkolaborasi dengan tenaga medis untuk melakukan fisioterapi terkait pentingnya menjaga pola makan dan pola hidup sehat untuk menormalkan kadar gula darah.   Kata Kunci: Diabetes Melitus Tipe II; Gula Darah; Senam Tai Chi.
Pengaruh mirror therapy terhadap pemenuhan activity daily living (ADL) pada lansia penderita stroke Meivi Sesanelvira Achiroh Dinul Islam; Yuswandi Yuswandi; Oop Ropei; Asep Badrujamaludin
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 2 (2024): Volume 18 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i2.247

Abstract

Background: Stroke is a disease caused by a sudden cessation of blood flow to the brain, either due to a blockage or rupture of a blood vessel. Stroke sufferers cannot carry out daily activities optimally, resulting in dependency in meeting their needs. Recovery efforts are carried out through rehabilitation. Mirror therapy is a rehabilitation therapy or exercise that relies on and trains motor imagery or imagination. The mirror will provide visual stimulation that the affected body part tends to imitate. Purpose: To analyze the effect of mirror therapy on fulfilling daily living activities (ADL) in elderly people with stroke. Method: This type of quasi-experimental research with a pre-post-test control group. The research was conducted in the work area of the Central Cimahi community health center with a sample size of 50 participants. The research lasted for 8 weeks through 4 stages which were carried out in 3 meetings a week with a duration of 20 minutes. Measurement of daily activities uses the Barthel Index observation sheet with 13 items. Results: In the intervention group there was a significant effect between mirror therapy before and after the intervention was given on the fulfillment of activities of daily living (ADL) in stroke elderly (p-value= 0.014). Meanwhile, the control group showed no significant change between before and after the mirror therapy intervention in fulfilling ADLs in stroke elderly (p-value= 0.083). This research shows that providing mirror therapy to elderly stroke sufferers can meet their ADL needs. Conclusion: Mirror therapy has proven effective in elderly stroke sufferers in meeting ADL needs. Suggestion: The elderly and their families should apply mirror therapy to increase the independence of the elderly in fulfilling ADLs.   Keywords: Activity Daily Living (ADL); Elderly; Mirror Therapy; Stroke.   Pendahuluan: Stroke merupakan penyakit yang disebabkan oleh terhentinya aliran darah ke otak secara tiba-tiba, baik karena adanya penyumbatan maupun pecahnya pembuluh darah. Penderita stroke tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara maksimal sehingga mengakibatkan ketergantungan dalam memenuhi kebutuhannya. Upaya pemulihan dilakukan melalui rehabilitasi. Mirror therapy merupakan terapi rehabilitasi atau latihan yang mengandalkan dan melatih motor imagery atau imajinasi. Cermin akan memberikan rangsangan visual yang cenderung ditiru oleh bagian tubuh yang terkena. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh mirror therapy terhadap pemenuhan activity daily living (ADL) pada lansia stroke. Metode: Jenis penelitian quasi eksperiment dengan kelompok kontrol pre-post test. Penelitian dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Cimahi Tengah dengan jumlah sampel sebanyak 50 partisipan. Penelitian berlangsung selama 8 minggu melalui 4 tahap yang dilaksanakan dalam 3 kali pertemuan dalam seminggu dengan durasi 20 menit. Pengukuran aktivitas sehari-hari menggunakan lembar observasi Barthel Index dengan jumlah 13 item. Hasil: Pada kelompok intervensi terdapat pengaruh yang signifikan antara mirror therapy sebelum dan sesudah diberikan intervensi terhadap pemenuhan activity daily living (ADL) pada lansia stroke (p-value= 0.014). Sedangkan pada kelompok kontrol menunjukkan tidak adanya perubahan yang signifikan antara sebelum dan sesudah intervensi mirror therapy dalam pemenuhan ADL pada lansia stroke (p-value= 0.083). Penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian mirror therapy pada lansia penderita stroke dapat memenuhi kebutuhan ADL mereka. Simpulan: Mirror therapy terbukti efektif pada lansia penderita stroke dalam memenuhi kebutuhan ADL. Saran: Lansia dan keluarganya sebaiknya menerapkan mirror therapy untuk meningkatkan kemandirian lansia dalam memenuhi ADL.   Kata Kunci: Activity Daily Living (ADL); Lansia; Mirror Therapy; Stroke.
Meningkatkan kualitas hidup pasien kanker: Peran perawat dalam mengatasi tantangan seksual Rizka Amelia; Agung Waluyo
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 3 (2024): Volume 18 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i3.252

Abstract

Background: Sexuality is an important part of life. However, treatment for cancer patients such as chemotherapy, radiation therapy, surgery and hormone therapy can affect sexuality in cancer patients. Physical, psychological, and social changes, both acute and long-term, can affect the sexual health of cancer patients. Nurses have an important role in helping overcome sexual problems faced by cancer patients. Purpose: To assess the effectiveness of nursing interventions on the sexual quality of life of cancer patients. Method: Non-systematic literature review to analyze published articles. The search was carried out on five databases, namely ProQuest, Science Direct, PubMed, Embase, and Taylor & Francis in the 2013-2023 period. Selection of articles using the PRISMA flow diagram to evaluate the impact of nursing interventions on sexual problems in cancer patients. . Results: 2.296 articles were identified and 10 relevant articles were obtained for analysis regarding nursing interventions that can help overcome sexual problems in cancer patients, such as consultation, physical therapy, psychological therapy and health education. Conclusion: Nurse intervention significantly improves the quality of sexual life of cancer patients thereby reducing levels of depression and anxiety.   Keywords: Cancer Patients; Nurses; Quality of Life; Sexual Issues.   Pendahuluan: Seksualitas adalah bagian penting dari kehidupan. Namun, perawatan pasien kanker seperti kemoterapi, terapi radiasi, pembedahan, dan terapi hormon dapat memengaruhi seksualitas pada pasien kanker. Perubahan fisik, psikologis, dan sosial, baik akut maupun lama dapat memengaruhi kesehatan seksual pasien kanker. Perawat memiliki peran penting dalam membantu mengatasi masalah seksual yang dihadapi pasien kanker. Tujuan: Untuk menilai efektivitas intervensi keperawatan terhadap kualitas hidup seksual pasien dengan kanker. Metode: Literature review non-sistematis untuk menganalisis artikel publikasi. Pencarian dilakukan pada lima database yaitu ProQuest, Science Direct, PubMed, Embase, dan Taylor & Francis dalam periode tahun 2013 - 2023. Pemilihan artikel menggunakan diagram alur PRISMA untuk mengevaluasi dampak intervensi keperawatan pada masalah seksual pasien kanker. Hasil: Mengidentifikasi 2.296 artikel dan mendapatkan 10 artikel yang relevan untuk dianalisis yang berkaitan dengan intervensi keperawatan dapat membantu mengatasi masalah seksual pasien kanker, seperti konsultasi, terapi fisik, terapi psikologis, dan pendidikan kesehatan. Simpulan: Tindakan intervensi perawat secara signifikan meningkatkan kualitas hidup seksual pasien kanker, sehingga dapat menurunkan tingkat depresi dan kecemasan.   Kata Kunci: Kualitas Hidup; Masalah Seksual; Perawat; Pasien Kanker.

Page 4 of 11 | Total Record : 106