cover
Contact Name
Sumardi Efendi
Contact Email
fanshurinstitute@gmail.com
Phone
+6285260083890
Journal Mail Official
fanshurinstitute@gmail.com
Editorial Address
Published By: Fanshur Institute: Research and Knowlade Sharing in Aceh Jl. Daud Dariah Komplek Perumahan Cinta Kasih Paya Peunaga Kec. Meureubo Kab. Aceh Barat – Indonesia. E-mail: jurnalfathir@gmail.com
Location
Kab. aceh barat,
Aceh
INDONESIA
FATHIR: Jurnal Studi Islam
Published by FANSHUR INSTITUTE
ISSN : 30468930     EISSN : 30468922     DOI : -
FATHIR: Jurnal Studi Islam merupakan Jurnal yang diterbitkan 3 (tiga) kali dalam setahun, yaitu pada bulan Februari, Juni dan Oktober oleh FANSHUR INSTITUTE: Research and Knowledge Sharing in Aceh. Sebagai jurnal multidisiplin yang mencakup berbagai isu dalam kajian ilmu keislaman, menerima tulisan hasil kajian dan penelitian dari para peneliti, dosen dan mahasiswa dalam bidang kajian meliputi: 1. Adab dan Humaniora, 2. Sosial dan Politik Islam, 3. Tarbiyah dan Keguruan, 4. Dakwah dan Komunikasi Islam, 5. Ushuluddin dan Pemikiran Islam, 6. Ekonomi, Bisnis dan Perbankan Islam, 7. Syariah, Hukum Islam, Ilmu Al-Quran dan Hadis. Jurnal Fathir bertujuan untuk menyebarluaskan pemikiran konseptual dan hasil penelitian yang telah dicapai.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 69 Documents
Pembacaan Dzikir Al-Ma’tsurat Dalam Meningkatkan Spiritualitas Santri Dayah Al-Athiyah Kota Banda Aceh Sari, Irma; Hakim, Lukman; Zaini, Muhammad
FATHIR: Jurna Studi Islam Vol 3 No 1 (2026): FATHIR: Jurnal Studi Islam
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/fathir.v3i1.394

Abstract

Pembacaan dzikir al-Ma’tsurat di Dayah Al-Athiyah Desa Beurawe Kecamatan Kuta Alam Kota Banda Aceh telah dilakukan sejak tahun 2007. Para santri berdzikir dengan ayat-ayat Alquran dan doa yang terdapat dalam buku dzikir al-Ma’tsurat karangan Imam Hasan al-Banna dan sudah menjadi rutinitas kegiatan santri di Dayah Al-Athiyah setiap harinya. Pembacaan dzikir al-Ma’tsurat diyakini memiliki keutamaan dan menghadirkan ketenangan serta mampu meningkatkan pengaruh spiritualitas yang baik bagi para pembacanya. Penelitian ini dilatar belakangi oleh asumsi tidak nampaknya efek yang mampu menghadirkan ketenangan dan meningkatkan spiritualitas yang baik bagi para santri. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana praktik pembacaan dzikir al-Ma’tsurat di Dayah Al-Athiyah dan bagaimana pengaruh spiritualitas terhadap santri serta bagaimana pandangan guru dan santri terhadap pembacaan dzikir al-Ma’tsurat di Dayah Al-Athiyah. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif yaitu untuk mengetahui fenomena atau setting sosial yang akan dituangkan dalam tulisan bersifat deskriptif-analisis. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik pembacaan dzikir al-Ma’tsurat dzikir al-Ma’tsurat dilakukan secara rutin setiap hari setelah shalat subuh dan shalat asar. Para santri dan guru memiliki pandangan bahwa dzikir tidak hanya berfungsi sebagai sarana ibadah dalam meningkatkan spiritualitas dengan Allah SWT, tetapi juga menjadi pelindung diri dari segala gangguan yang tidak baik dan meningkatkan ketenanangan jiwa bagi para pembacanya serta memberikan pengaruh terhadap perilaku keagamaan dan karakter santri. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian Living Quran dan menjadi referensi bagi lembaga pendidikan Islam dalam mengimplentasikan praktik pembacaan dzikir dalam kehidupan sehari-hari.
Nafkah Masa ‘Iddah Antara Ajaran Al-Qur’an Dan Praktik Masyarakat Gampong Peuniti Kota Banda Aceh Asyraq, Alif Wiga
FATHIR: Jurna Studi Islam Vol 3 No 1 (2026): FATHIR: Jurnal Studi Islam
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/fathir.v3i1.395

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesenjangan antara ajaran normatif Al-Qur’an tentang nafkah masa ‘iddah dengan praktik yang berlangsung di masyarakat Gampong Peuniti, Kota Banda Aceh. Permasalahan ini berangkat dari temuan awal bahwa banyak perempuan yang telah dicerai tidak mendapatkan hak nafkah selama masa ‘iddah sebagaimana diatur dalam surat at-Thalaq ayat 6. Penelitian ini menggunakan pendekatan living Qur’an dan teori resepsi fungsional untuk memahami bagaimana masyarakat menerima dan mengamalkan ayat-ayat tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Sumber data meliputi informan utama dari masyarakat setempat serta literatur sekunder seperti buku, artikel, dan tafsir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resepsi masyarakat terhadap ajaran nafkah masa ‘iddah bersifat pasif dan simbolik. Praktik tidak berjalan sesuai syariat karena rendahnya literasi keagamaan, faktor emosional pasca perceraian, serta lemahnya kontrol sosial. Kesimpulannya, implementasi ajaran Al-Qur’an terkait nafkah masa ‘iddah masih belum optimal dan memerlukan pendekatan edukatif dan sosial yang lebih komprehensif.
Keluarga Sakinah Dalam Perspektif Al-Qur’an: Kajian Tematik Atas Tafsir Al-Jāmi‘ Li Aḥkām Al-Qur’ān Dan Tafsir Al- Marāghī Mubarak, Syawal
FATHIR: Jurna Studi Islam Vol 3 No 1 (2026): FATHIR: Jurnal Studi Islam
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/fathir.v3i1.396

Abstract

Penelitian ini membahas konsep keluarga sakinah dalam al-Qur’an dengan mengkaji dua kitab tafsir, yaitu al-Jāmiʿ li Aḥkām al-Qur’ān karya al-Qurṭubī dan Tafsīr al-Marāghī karya Aḥmad Muṣṭafā al-Marāghī. Latar belakang kajian ini berangkat dari kebutuhan untuk memahami nilai-nilai Qur’ani yang bisa dijadikan pedoman dalam membangun keluarga yang harmonis dan damai, khususnya di tengah berbagai tantangan kehidupan modern. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan perbandingan (komparatif) untuk melihat perbedaan serta persamaan antara dua gaya penafsiran yang berasal dari konteks keilmuan dan zaman yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua mufasir sama-sama menekankan pentingnya nilai-nilai utama dalam membangun keluarga sakinah, seperti tauhid, pendidikan moral, hubungan suami istri yang saling mendukung, serta tanggung jawab dalam membina keturunan yang baik. Melalui metode komparatif, terlihat bahwa fokus utama al-Qurṭubī adalah pada tanggung jawab suami istri dalam menjalankan fungsi masing-masing dalam rumah tangga, pentingnya menjaga adab dalam interaksi keluarga, serta urgensi pembinaan akidah dan ibadah sebagai fondasi keluarga sakinah. Pandangannya menekankan ketertiban sosial dan keteguhan dalam menjalankan perintah agama sebagai pilar utama dalam membangun keluarga. Sebaliknya, al-Marāghī lebih menekankan aspek kontekstual dan psikologis dalam memahami ayat-ayat tentang keluarga. Ia tidak hanya membahas hukum atau struktur bahasa, melainkan lebih menyoroti makna ayat secara fungsional dalam kehidupan manusia. Penafsirannya mencerminkan semangat reformis dan humanistik, dengan menekankan pentingnya cinta, kasih sayang, komunikasi yang sehat, serta penguatan nilai-nilai moral dalam relasi keluarga.
Integrasi Sains Dalam Penafsiran Al-Qur’an Tentang Minuman Beralkohol Menurut Tafsir Ilmi Kementerian Agama RI Nur, Alfin
FATHIR: Jurna Studi Islam Vol 3 No 1 (2026): FATHIR: Jurnal Studi Islam
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/fathir.v3i1.398

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji integrasi antara ilmu pengetahuan modern dan penafsiran Al-Qur’an dalam menjelaskan larangan konsumsi minuman beralkohol (khamr) melalui Tafsir Ilmi Kementerian Agama RI. Isu ini penting karena pendekatan tafsir berbasis sains masih menuai perdebatan, antara kekhawatiran terhadap kemurnian teks dan kebutuhan akan rasionalitas empiris dalam memahami syariat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interpretatif dan teknik studi pustaka sebagai sumber utama data. Analisis dilakukan terhadap struktur penafsiran ayat-ayat khamr dan integrasinya dengan sains. Penelitian menemukan bahwa Tafsir Ilmi menawarkan pendekatan penafsiran integratif antara dalil naqli (Al-Qur’an dan Hadis) dan temuan ilmiah (‘aqli) dari berbagai disiplin, seperti kimia, biomedis, neurologi, dan sosiologi. Empat model integrasi teridentifikasi: verifikatif, eksplanatoris, komplementer, dan etis-pragmatis. Pendekatan ini tidak hanya memperkaya pemahaman normatif terhadap larangan khamr, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat tentang bahaya medis dan sosial konsumsi alkohol. Tafsir Ilmi berkontribusi pada peningkatan literasi ilmiah umat, mendekatkan wahyu dengan realitas, serta membuka ruang baru bagi pendidikan Islam dan dakwah berbasis bukti ilmiah dan maqāṣid al-sharī‘ah.
Membaca Ulang Tafsir Qarna fī Buyūtikunna dan Kontekstualisasi Peran Publik Perempuan Muslim Althursina, Aliefa Hiraqi
FATHIR: Jurna Studi Islam Vol 3 No 1 (2026): FATHIR: Jurnal Studi Islam
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/fathir.v3i1.401

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menelaah bagaimana para mufasir klasik dan kontemporer menafsirkan QS. al-Aḥzāb: 33 dalam kaitannya dengan posisi perempuan sebagai individu yang aktif di ranah publik, serta mengevaluasi sejauh mana gagasan domestifikasi yang lahir dari ayat tersebut masih memiliki relevansi dalam konteks sosial-keagamaan modern. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif melalui pendekatan studi pustaka, serta analisis komparatif dan hermeneutika gender-kritis terhadap tafsir-tafsir klasik seperti al-Ṭabarī, Ibn Kathīr, dan al-Qurṭubī, maupun tafsir kontemporer karya Yusuf al-Qaradawi, Amina Wadud, dan Muhammad Syahrūr. Temuan penelitian menunjukkan bahwa tafsir klasik cenderung menekankan pendekatan literal yang membatasi ruang gerak perempuan, sedangkan tafsir kontemporer menawarkan pendekatan kontekstual yang mempertimbangkan maqāṣid al-syarī‘ah, keadilan sosial, dan pengalaman perempuan sebagai bagian dari realitas historis. Oleh karena itu, ayat ini tidak seharusnya dipahami sebagai larangan mutlak terhadap aktivitas perempuan di ruang publik. Domestifikasi yang ditarik dari ayat tersebut perlu ditinjau ulang, agar tidak menjadi hambatan bagi aktualisasi peran sosial perempuan secara adil dan etis dalam kerangka nilai-nilai Islam.
Depresi Dan Solusi Dalam Perspektif Al-Qur’an (Studi Analisis Ayat-Ayat Psikologi) Imasakin, Ummu
FATHIR: Jurna Studi Islam Vol 3 No 1 (2026): FATHIR: Jurnal Studi Islam
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/fathir.v3i1.402

Abstract

Peningkatan prevalensi depresi yang berdampak pada penurunan ketahanan psikologis merupakan tantangan serius bagi kesehatan mental, sedangkan Al-Qur’an menekankan pentingnya ketenangan batin, kesabaran, dan optimisme akan kemudahan setelah kesulitan. Penelitian ini bertujuan mengkaji indikator, penyebab, dan solusi depresi dalam perspektif Al-Qur’an melalui analisis ayat-ayat yang berkaitan dengan kondisi psikologis manusia. Metode yang digunakan adalah penelitian pustaka (library research) dengan pendekatan tafsir tematik (maudhu’i). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indikator depresi dalam Al-Qur’an ditunjukkan melalui kesedihan mendalam dan berlarut, putus asa, keinginan untuk mati, kehampaan batin, dorongan membinasakan diri, dan sesak dada. Adapun penyebabnya dapat dikelompokkan ke dalam beberapa faktor, yaitu: kehilangan orang yang dicintai, tidak mendapatkan dukungan dari lingkungan, ketakutan akan stigma sosial, kekosongan dan keterasingan batin, tekanan karena tanggung jawab besar serta olokan dan penolakan. Adapun solusi yang ditawarkan Al-Qur’an meliputi: mengadu hanya kepada Allah, tidak berputus asa dari rahmat-Nya, meyakini kehadiran Allah, tetap teguh di tengah krisis, tidak larut dalam penolakan, serta kelapangan dada. Harapannya Al-Qur’an bukan hanya sebagai pedoman hukum dan ibadah semata, melainkan sumber rujukan spiritual dalam menangani depresi yang memperkuat ketahanan batin secara menyeluruh.
Hermeneutics of Revelation Truth: Attempts to Find Meaning Across the Ages in the Qur'an Nurhuda, Abid; Hariyadi, Muhammad; Al Fajri, Muhammad
FATHIR: Jurna Studi Islam Vol 3 No 1 (2026): FATHIR: Jurnal Studi Islam
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/fathir.v3i1.432

Abstract

This research begins with the realization that the Qur'an, as divine revelation, possesses both finality and openness. Its finality guarantees the authority and authenticity of God's message, while its openness allows the text to continue speaking to humanity across time and space. Using a hermeneutic approach, this research seeks to uncover the dialectic between the two in order to discover the meaning of revelation that is relevant to the various challenges of our time. Hermeneutics is positioned not only as an interpretive method but also as an epistemological framework that places the reader in a critical dialogue with the text, its historical context, and contemporary reality. The results show that applying the hermeneutics of revealed truth can prevent two extremes: the rigid consolidation of meaning within a single historical horizon, and the detachment of the text from its divine roots through overly liberal interpretations. By emphasizing the universality of Qur'anic values such as justice, mercy, and moral responsibility, hermeneutics presents an Islam that remains relevant. This relevance is evident in its ability to contribute to modern issues such as social justice, gender equality, the environmental crisis, and intercivilizational dialogue. Thus, this research confirms that the hermeneutics of revealed truth is a constructive effort to maintain the sacredness of the text while simultaneously revitalizing its transformative power. The Quran exists not only as a spiritual heritage but also as a source of inspiration for the development of a just, inclusive, and global humanity-oriented civilization.
Pemikiran Mohammad Abid al Jabiri tentang Dekonstruksi Pemikiran Islam Izzah, Nurul; Suyanta, Sri
FATHIR: Jurna Studi Islam Vol 3 No 1 (2026): FATHIR: Jurnal Studi Islam
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/fathir.v3i1.437

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemikiran Mohammad Abid al-Jabiri tentang dekonstruksi pemikiran dalam konteks kritik terhadap nalar Arab-Islam. Al-Jabiri dikenal sebagai salah satu pemikir kontemporer Arab yang berupaya membongkar struktur epistemologis peradaban Islam melalui proyek besar Naqd al-‘Aql al-‘Arabi (Kritik Nalar Arab). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian pustaka (library research), yang berfokus pada sumber-sumber sekunder berupa buku, artikel ilmiah, dan penelitian akademik yang membahas serta menafsirkan pemikiran al-Jabiri. Melalui pendekatan hermeneutik-filosofis, kajian ini berupaya merekonstruksi gagasan dekonstruktif al-Jabiri sebagaimana direpresentasikan dalam wacana akademik kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dekonstruksi pemikiran versi al-Jabiri tidak dimaksudkan sebagai pembongkaran destruktif terhadap tradisi intelektual Islam, melainkan sebagai upaya kritis untuk menata ulang rasionalitas Arab-Islam agar lebih produktif dan kontekstual dengan modernitas. Konsep dekonstruksi ini berporos pada distingsi antara tiga bentuk nalar—‘aql bayani, ‘aql irfani, dan ‘aql burhani—yang digunakan al-Jabiri untuk mengidentifikasi struktur berpikir dalam sejarah peradaban Arab-Islam. Penelitian ini menegaskan pentingnya pembacaan hermeneutik terhadap warisan intelektual Islam melalui kacamata pemikiran al-Jabiri, agar tradisi Islam tetap dinamis dan relevan dalam menghadapi tantangan zaman.
Konsep Nûr Muhammad Dalam Kitab Al-Insân Al-Kâmil Karya ‘Abdul Karim Al-Jîlî (Studi Kasus Dhamîr Huwa Dalam Surat Al-Ikhlas) Rajes, Irfan
FATHIR: Jurna Studi Islam Vol 3 No 1 (2026): FATHIR: Jurnal Studi Islam
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/fathir.v3i1.439

Abstract

‘Abdul Karim al-Jîlî dalam kitabnya al-Insân al-Kâmil menafsirkan Dhamîr Huwa (insan) dalam surat Al-Ikhlas dengan narasi ”Katakan Dia-nya Muhammad itu Allah”. Al-Jîlî menafsirkan Dhamîr Huwa dengan metode tafsir isyârî dalam konteks hakikat sebagai kapasitasnya ulama sufi. Tafsir isyârî memberikan makna yang lebih mendalam dengan melihat hubungan antara Tuhan dan makhluk dalam konteks spiritualitas sufi. Syaikh Amran Waly al-Khalidi, seorang ulama sufi kontemporer di Aceh, mempertahankan ajaran tasawuf kesufian untuk menghidupkan kembali nilai-nilai spiritual dalam masyarakat modern, meskipun menghadapi tantangan berupa penolakan dan stigma dari sebagian kalangan. Dukungan beliau terhadap pendapat ‘Abdul Karim al-Jîlî dalam penafsiran Dhamîr Huwa dalam Surat Al-Ikhlas menimbulkan kontroversi, termasuk tuduhan bahwa ajaran ini mengarah pada paham panteisme. Perbedaan pendekatan ini mencerminkan dinamika pemikiran Islam dalam memahami hakikat ketuhanan dan peran manusia dalam kosmos. Polemik yang muncul terkait dengan konsep ini menunjukkan adanya perbedaan pendapat antara ulama yang mendukung pendekatan tasawuf hakiki/zati/irfani dengan mereka yang berpegang pada tafsir tekstual. Pendekatan tafsir isyârî yang digunakan dalam penafsiran Dhamîr Huwa pada Surat Al-Ikhlas memberikan alternatif hermeneutik yang memperkaya khazanah tafsir Al-Qur’an. Tafsir ini tidak bersifat legalistik-formal, tetapi lebih berfokus pada penggalian makna batiniah dan esoterik dari teks suci. Dhamîr Huwa dalam ayat “Qul Huwa Allâhu Ahad” dimaknai secara simbolik sebagai cerminan hakikat Muhammadiyyah yang menyatu secara spiritual dalam kesempurnaan tauhid dan bukanlah bentuk penyamaan makhluk dengan Tuhan, melainkan cara untuk memahami kedekatan spiritual antara keduanya dalam perspektif sufi.