cover
Contact Name
Sumardi Efendi
Contact Email
fanshurinstitute@gmail.com
Phone
+6285260083890
Journal Mail Official
fanshurinstitute@gmail.com
Editorial Address
Published By: Fanshur Institute: Research and Knowlade Sharing in Aceh Jl. Daud Dariah Komplek Perumahan Cinta Kasih Paya Peunaga Kec. Meureubo Kab. Aceh Barat – Indonesia. E-mail: jurnalfathir@gmail.com
Location
Kab. aceh barat,
Aceh
INDONESIA
FATHIR: Jurnal Studi Islam
Published by FANSHUR INSTITUTE
ISSN : 30468930     EISSN : 30468922     DOI : -
FATHIR: Jurnal Studi Islam merupakan Jurnal yang diterbitkan 3 (tiga) kali dalam setahun, yaitu pada bulan Februari, Juni dan Oktober oleh FANSHUR INSTITUTE: Research and Knowledge Sharing in Aceh. Sebagai jurnal multidisiplin yang mencakup berbagai isu dalam kajian ilmu keislaman, menerima tulisan hasil kajian dan penelitian dari para peneliti, dosen dan mahasiswa dalam bidang kajian meliputi: 1. Adab dan Humaniora, 2. Sosial dan Politik Islam, 3. Tarbiyah dan Keguruan, 4. Dakwah dan Komunikasi Islam, 5. Ushuluddin dan Pemikiran Islam, 6. Ekonomi, Bisnis dan Perbankan Islam, 7. Syariah, Hukum Islam, Ilmu Al-Quran dan Hadis. Jurnal Fathir bertujuan untuk menyebarluaskan pemikiran konseptual dan hasil penelitian yang telah dicapai.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 84 Documents
Tradisi Khataman Al-Qur’an Pengantin Perempuan Pra Pernikahan Di Aceh Singkil: Sebuah Studi Living Qur’an Dan Negosiasi Peran Gender Jasriani Ainun; Maizuddin Maizuddin; Samsul Bahri
FATHIR: Jurna Studi Islam Vol 3 No 2 (2026): FATHIR: Jurnal Studi Islam
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/fathir.v3i2.488

Abstract

Penelitian ini mengkaji fenomena Living Qur’an dalam tradisi khataman Al-Qur’an pra-nikah di Kecamatan Simpang Kanan, Aceh Singkil. Tradisi ini memantik diskursus gender yang unik karena kewajiban ritual publik ini secara adat hanya dibebankan kepada calon pengantin perempuan, sementara calon pengantin laki-laki tidak dilibatkan dalam prosesi serupa menjelang pernikahannya. Penelitian lapangan (field research) kualitatif ini bertujuan untuk membedah praktik, pemaknaan, dan alasan di balik disparitas gender tersebut dengan menggunakan tiga pisau analisis: pendekatan Living Qur’an, teori Tindakan Sosial Max Weber, dan Analisis Gender. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif pada prosesi adat, serta wawancara mendalam dengan tokoh agama, tokoh adat, dan para pengantin. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, praktik khataman di Aceh Singkil merupakan bentuk hibridasi harmonis antara syariat Islam dan adat lokal, yang terlihat dari integrasi ritual peusijuk (tepung tawar) dan kenduri pulut kuning dalam rangkaian pembacaan surah-surah pilihan Al-Qur’an. Kedua, dalam perspektif Weber, tradisi ini dimaknai sebagai tindakan rasional berorientasi nilai (kepatuhan pada norma agama untuk tabarruk) sekaligus tindakan afektif (momen pelepasan emosional antara anak dan orang tua). Ketiga, analisis gender mengungkap bahwa ketiadaan khataman bagi laki-laki bukan bentuk diskriminasi, melainkan pembagian peran berbasis siklus hidup (lifecycle-based role division). Laki-laki dianggap telah menuntaskan kewajiban khataman publik pada fase walīmat al-khitān (aqil baligh), sedangkan perempuan melaksanakannya jelang pernikahan sebagai validasi kesiapan menjadi al-Madrasah al-Ūlā (pendidik utama) bagi anak-anaknya kelak. Tradisi ini berfungsi sebagai mekanisme legitimasi sosial bagi transisi otoritas keagamaan domestik perempuan dan strategi kebudayaan dalam menjaga literasi Al-Qur’an di tengah masyarakat.
Hikmah Menyaksikan Ḥudūd Menurut Al-Qur’an Muhammad Iqbal
FATHIR: Jurna Studi Islam Vol 3 No 2 (2026): FATHIR: Jurnal Studi Islam
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/fathir.v3i2.493

Abstract

Kajian mengenai ḥudūd telah banyak dibahas dalam literatur keislaman, namun penelitian yang secara khusus mengkaji hikmah penyaksian pelaksanaan ḥudūd masih relatif terbatas. Padahal, hikmah ḥudūd hanya dapat terwujud secara optimal apabila pelaksanaannya disaksikan oleh sekelompok orang mukmin sebagaimana ditegaskan dalam QS. al-Nūr: 2. Dalam konteks masyarakat kontemporer, konsep penyaksian tersebut memerlukan peninjauan ulang agar tetap relevan tanpa menghilangkan esensi normatifnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna penyaksian ḥudūd menurut para mufassir serta mengontekstualisasikannya dalam realitas modern. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan kajian pustaka (library research), merujuk pada kitab-kitab tafsir bercorak bayānī dan aḥkām, dengan analisis berbasis maqāṣid al-syarī‘ah, ta‘līl al-aḥkām, serta pendekatan kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bayānī, istilah penyaksian bermakna melihat dan memberikan kesaksian, sementara istilah “sekelompok” tidak dibatasi oleh jumlah tertentu. Dari perspektif maqāṣid al-syarī‘ah, penyaksian ḥudūd mengandung hikmah penjagaan agama, akal, dan kehormatan individu maupun sosial. Secara kontekstual, penyaksian dapat dilakukan melalui media visual dengan tetap menjaga etika dan martabat terpidana. Kesimpulannya, kontekstualisasi penyaksian ḥudūd diperlukan sebagai sarana edukasi, pencegahan moral, dan transparansi publik tanpa menghilangkan ketentuan syariat.
Konsep Amor Fati Menurut Islam Dan Filsafat Stoa Muhammad Adly; Sullati Armawi
FATHIR: Jurna Studi Islam Vol 3 No 2 (2026): FATHIR: Jurnal Studi Islam
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/fathir.v3i2.514

Abstract

Takdir merupakan realitas eksistensial yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, namun sering kali dipahami secara tidak tepat. Sebagian manusia cenderung menerima ketentuan yang menyenangkan dan menolak ketentuan yang menyakitkan, sehingga melahirkan sikap keluh kesah dan prasangka negatif terhadap Tuhan. Dalam filsafat Stoa, terdapat konsep amor fati, yaitu sikap mencintai takdir sebagai bagian dari keteraturan rasional alam semesta. Sementara itu, dalam Islam dikenal konsep ridha terhadap qadha dan qadar sebagai bentuk kedewasaan spiritual dan keimanan. Berdasarkan problematika tersebut, penelitian ini merumuskan pertanyaan utama: bagaimana konsep amor fati dalam filsafat Stoa, dan bagaimana konsep penerimaan takdir dalam Islam, serta bagaimana kemungkinan sintesis teologis-filosofis antara keduanya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research). Data diperoleh dari sumber primer berupa karya filsuf Stoa, Al-Qur’an, dan kitab tafsir, serta sumber sekunder berupa buku dan artikel ilmiah yang relevan. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis dan komparatif untuk menemukan titik temu dan perbedaan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa amor fati dalam Stoikisme menekankan penerimaan rasional terhadap ketentuan realitas alam semesta, sedangkan Islam menekankan penerimaan takdir berbasis tauhid, ikhtiar, dan tawakkal. Kesimpulannya, kedua konsep tersebut dapat dipertemukan dalam kerangka sintesis, di mana mencintai takdir tidak meniadakan usaha, melainkan menumbuhkan ketenangan batin, kedewasaan moral dan kebahagiaan sejati.
Hambatan Belajar Nagham Mujawwad Bagi Kalangan Qori/Qori’ah di Aceh Barat Denna Maryawi; Sullati Armawi
FATHIR: Jurna Studi Islam Vol 3 No 2 (2026): FATHIR: Jurnal Studi Islam
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/fathir.v3i2.515

Abstract

Al-Qur’an memiliki nilai estetika tinggi, baik dari aspek teks maupun seni pembacaannya melalui nagham. Salah satu bentuk tilawah yang berkembang adalah nagham mujawwad yang menuntut penguasaan tajwid, teknik vokal, dan maqamat. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi hambatan yang dihadapi qari dan qariah dalam mempelajari nagham mujawwad di Aceh Barat serta merumuskan solusi peningkatan kualitas tilawah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Temuan menunjukkan bahwa pembelajaran nagham mujawwad masih berlangsung secara tradisional dan belum terstruktur. Hambatan utama meliputi keterbatasan tenaga pengajar yang kompeten, minimnya fasilitas dan media pembelajaran, keterbatasan waktu dan konsistensi latihan, serta rendahnya pemahaman terhadap urgensi ilmu nagham. Kondisi tersebut berdampak pada belum optimalnya kualitas tilawah, baik dari aspek teknis maupun estetika. Kesimpulan diperlukan langkah strategis berupa peningkatan kompetensi pelatih, pengembangan kurikulum dan modul yang sistematis, pemanfaatan media digital, serta penguatan kesadaran masyarakat terhadap nilai estetika Al-Qur’an. Penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan pembinaan tilawah Al-Qur’an di Aceh Barat.