cover
Contact Name
Sumardi Efendi
Contact Email
fanshurinstitute@gmail.com
Phone
+6285260083890
Journal Mail Official
fanshurinstitute@gmail.com
Editorial Address
Published By: Fanshur Institute: Research and Knowlade Sharing in Aceh Jl. Daud Dariah Komplek Perumahan Cinta Kasih Paya Peunaga Kec. Meureubo Kab. Aceh Barat – Indonesia. E-mail: jurnalfathir@gmail.com
Location
Kab. aceh barat,
Aceh
INDONESIA
FATHIR: Jurnal Studi Islam
Published by FANSHUR INSTITUTE
ISSN : 30468930     EISSN : 30468922     DOI : -
FATHIR: Jurnal Studi Islam merupakan Jurnal yang diterbitkan 3 (tiga) kali dalam setahun, yaitu pada bulan Februari, Juni dan Oktober oleh FANSHUR INSTITUTE: Research and Knowledge Sharing in Aceh. Sebagai jurnal multidisiplin yang mencakup berbagai isu dalam kajian ilmu keislaman, menerima tulisan hasil kajian dan penelitian dari para peneliti, dosen dan mahasiswa dalam bidang kajian meliputi: 1. Adab dan Humaniora, 2. Sosial dan Politik Islam, 3. Tarbiyah dan Keguruan, 4. Dakwah dan Komunikasi Islam, 5. Ushuluddin dan Pemikiran Islam, 6. Ekonomi, Bisnis dan Perbankan Islam, 7. Syariah, Hukum Islam, Ilmu Al-Quran dan Hadis. Jurnal Fathir bertujuan untuk menyebarluaskan pemikiran konseptual dan hasil penelitian yang telah dicapai.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 86 Documents
Penerapan Strategi Role Play untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Berbahasa Arab di Pesantren Tgk Chiek Oemar Diyan Aceh Besar Mohammad Rizli Akbar
FATHIR: Jurna Studi Islam Vol 3 No 2 (2026): FATHIR: Jurnal Studi Islam
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/fathir.v3i2.405

Abstract

Keterampilan berbicara bahasa Arab merupakan kompetensi penting bagi santri di pesantren, namun masih ditemukan hambatan dalam kelancaran, penguasaan kosakata, dan kepercayaan diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas strategi Role Play dalam meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Arab santri di Pesantren Tgk Chiek Oemar Diyan Aceh Besar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-test dan post-test. Subjek penelitian berjumlah 32 santri yang dipilih secara purposif. Pembelajaran dilakukan melalui Role Play dalam beberapa pertemuan, dengan skenario percakapan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Data dianalisis dengan membandingkan skor pra-tes dan pasca-tes. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada aspek kelancaran, penguasaan kosakata, struktur tata bahasa, dan pelafalan. Sebagian besar santri mengalami kenaikan skor satu hingga dua kategori dalam penilaian keterampilan berbicara. Selain itu, rasa percaya diri dan partisipasi aktif dalam komunikasi juga meningkat. Strategi Role Play terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Arab, baik dari segi linguistik maupun non-linguistik, serta relevan diterapkan di lingkungan pesantren untuk menciptakan pembelajaran yang interaktif dan komunikatif.
Pemahaman Akademisi Program Studi Ilmu Al-Qur’an Dan Tafsir UIN Ar-Raniry Terhadap Crab Mentality Siti Raudhatul Wahdini
FATHIR: Jurna Studi Islam Vol 3 No 2 (2026): FATHIR: Jurnal Studi Islam
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/fathir.v3i2.409

Abstract

Fenomena crab mentality, yakni kecenderungan menjatuhkan orang lain yang dianggap lebih unggul, menjadi tantangan serius dalam kehidupan sosial, termasuk di lingkungan akademik. Padahal, al-Qur’an menekankan nilai qanā‘ah, ukhuwah, solidaritas, dan etika kolegial yang seharusnya menjadi landasan interaksi antarindividu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemahaman akademisi Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir UIN Ar-Raniry terhadap konsep crab mentality dalam perspektif al-Qur’an serta implikasinya terhadap kehidupan akademik kontemporer. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-deskriptif melalui kombinasi studi pustaka dan lapangan. Analisis dilakukan dengan metode tafsir tematik konseptual (al-tafsīr al-mawḍū‘ī). Data diperoleh melalui kajian teks, dokumentasi, dan wawancara mendalam dengan lima akademisi yang dipilih secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Qur’an menggambarkan crab mentality sebagai perilaku yang lahir dari sifat hasad dan penolakan terhadap ketetapan Allah, sebagaimana tergambar dalam kisah Qābil dan Hābil serta saudara-saudara Yusuf. Tafsir klasik menekankan aspek moral-historis, tafsir modern menyoroti sisi psikologis-sosial, sedangkan tafsir kontemporer menegaskan kebijaksanaan Ilahi dalam perbedaan rezeki. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemahaman akademisi mengaitkan fenomena crab mentality dengan praktik akademik seperti penghambatan informasi atau peremehan prestasi. Al-Qur’an menawarkan solusi etis berupa pengendalian diri, empati, solidaritas, dan kesadaran moral untuk membangun lingkungan akademik yang sehat dan produktif.
Kosmologi Tafsir Zaghlul An-Najjar Lila Tursina
FATHIR: Jurna Studi Islam Vol 3 No 2 (2026): FATHIR: Jurnal Studi Islam
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/fathir.v3i2.410

Abstract

Al-Qur’an adalah mukjizat Allah yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad yang tidak akan habis ketika ingin dikaji lebih mendalam. Tokoh kontemporer asal Mesir Zahglul An-Najjar juga ikut serta mengembangkan lebih luas ilmu pengetahuan dengan fokus kajian pada bidang geologi. Zaghlul mengembangkan pemikirannya pada penafsiran Alquran dengan fokus pengembangan kosmologi, I’jaz ilmi dan hemeneutika hadis. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pola kosmologi yang ia bentuk dalam penafsiran ayat Alquran, dan melihat sejauh mana pengembangan penafsiran ilmi yang dilakukan Zaghlul dengan pola pikir yang baru tersebut. Metode yang dipakai dalam penelitian menggunakan metode deskriptif, peneliti akan berfokus pada gambaran umum ilmu kosmologi secara rinci dan sistematis terhadap objek penelitian yaitu kosmologi dan pemikiran Zaghlul secara umum. Bidang kosmologi yang beliau geluti menghasilkan sebuah karya Tafsir Al-Qur’an Al-Ayat Al-Kauniyyah fi Al-Qur’an Al-Karim yang ditafsirkan hanya ayat-ayat yang lekat dengan ilmu sains dan didukung dengan keilmuan ilmiah abad 20. Pemikiran Zaghlul cenderung menggabungkan ilmu pengetahuan dan filsafat serta melihat aspek pemahaman Islam yang mengaitkan unsur agama, ilmu pengetahuan, dan peradaban. Menurut Zaghlul, Allah mangajak manusia untuk berpikir mengenai alam semesta baik darimana alam semesta berasal dan bagaimana berakhirnya alam semesta. Penafsiran Zaghlul, tidak disetujui oleh sebagian mufassir yang berkecimpung dalam dunia penafsiran, karena terkesan memaksakan ayat Alquran berdasarkan ilmu sains, sedangkan ilmu sains tidak tentu akan relevan dengan perkembangan zaman.
Lafaz Kebencian Menurut Tafsir Ma’ālim Al-Tanzīl Dan Mafātīḥ Al-Ghayb) Aya Sumayya
FATHIR: Jurna Studi Islam Vol 3 No 2 (2026): FATHIR: Jurnal Studi Islam
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/fathir.v3i2.412

Abstract

Bahasa Arab dikenal kaya kosakata dengan banyak sinonim, namun setiap lafaz memiliki nuansa semantik yang khas. Dalam kajian al-Qur’an, perbedaan makna ini penting untuk menghindari penyamaan yang dapat mengaburkan pesan etis. Penelitian ini membandingkan penafsiran tiga lafaz kebencian al-maqt, al-karh, dan al-baghdā’ menurut al-Baghawī dalam Ma‘ālim al-Tanzīl dan Fakhr al-Dīn al-Rāzī dalam Mafātīḥ al-Ghayb. Pemilihan ketiganya pada kajian ini untuk menelusuri hierarki intensitas kebencian dalam teks al-Qur’an Dengan metode tafsir muqāran dan teori taraduf, ditemukan bahwa al-Baghawī menafsirkan secara ringkas, normatif, dan berbasis riwayat, sementara al-Rāzī lebih analitis-filosofis dengan penekanan pada aspek linguistik, etika, dan sosial. Perbedaan ini tampak misalnya pada al-karh, di mana al-Baghawī menegaskan makna keterpaksaan, sedangkan al-Rāzī memperluasnya pada dinamika psikologis manusia. Meski berbeda pendekatan, keduanya sepakat bahwa al-maqt merepresentasikan kebencian Ilahi, al-karh terkait kebencian atau keterpaksaan, dan al-baghdā’ menggambarkan kebencian sosial destruktif. Penelitian ini menegaskan bahwa ketiga lafaz tersebut bukan sekadar sinonim, melainkan memiliki distingsi semantik dan etis yang signifikan, sekaligus memberikan kontribusi pada pengembangan studi linguistik Qur’ani dan pemahaman sosial yang konstruktif.
Dialektika Kesucian dan Kemanusiaan: Analisis Filosofis-Maqashidi terhadap Hukum Bersuci bagi Orang yang Luka dan Memakai Perban Reza Fahlevi; Saifullah M Yunus; Muhammad Husnul
FATHIR: Jurna Studi Islam Vol 3 No 2 (2026): FATHIR: Jurnal Studi Islam
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/fathir.v3i2.465

Abstract

Hukum bersuci bagi orang yang luka dan memakai perban merupakan isu penting dalam fikih karena menyingkap hubungan dialektis antara teks syariat dan realitas manusia. Kesucian, dalam konteks ini, tidak semata persoalan ritual, tetapi refleksi ontologis tentang bagaimana hukum Islam memahami keterbatasan fisik manusia tanpa meniadakan kewajiban ibadah. Permasalahan penelitian ini mencakup bagaimana konstruksi hukum bersuci bagi orang luka dipahami oleh empat mazhab fikih, bagaimana perbedaan metodologis antara Syafi’i, Hanbali, Hanafi, dan Maliki menjelaskan praktik tayammum dan pengusapan perban, serta bagaimana maqashid syariah menata prinsip kemudahan dan kemaslahatan di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode normatif-filosofis dengan pendekatan kualitatif kepustakaan melalui analisis terhadap teks-teks klasik seperti Al-Umm, Al-Mughni, Bada’i‘ al-Shana’i‘, Al-Mudawwanah al-Kubra, serta sumber kontemporer seperti Fiqh al-Islam wa Adillatuhu karya Wahbah al-Zuhaili. Analisis dilakukan secara hermeneutik-komparatif untuk menyingkap rasionalitas hukum di balik perbedaan pandangan mazhab. Hasil kajian menunjukkan bahwa hukum bersuci bagi orang yang luka merupakan sintesis antara ketaatan dan rahmat; mazhab Syafi’i-Hanbali menekankan integrasi wudhu dan tayammum, sedangkan Hanafi-Maliki menonjolkan keseimbangan antara bahaya dan kemaslahatan. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa hukum ini menggambarkan fleksibilitas dan kedalaman moral hukum Islam dalam menjaga kesucian dan kemanusiaan secara bersamaan.
Asbabun Nuzul dalam Studi Al-Qur’an: Pengertian, Urgensi, Kaedah, dan Aplikasinya dalam Penafsiran Al-Qur’an Cut Ismalia Benazir; Hidayatil Muslimah
FATHIR: Jurna Studi Islam Vol 3 No 2 (2026): FATHIR: Jurnal Studi Islam
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/fathir.v3i2.472

Abstract

Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW dalam konteks sejarah, sosial, dan budaya tertentu. Oleh karena itu, pemahaman terhadap sebab-sebab turunnya ayat (Asbābun Nuzūl) menjadi bagian penting dalam studi Al-Qur’an, khususnya dalam penafsiran ayat secara tepat dan komprehensif. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji pengertian Asbābun Nuzūl, urgensi dan kegunaannya, kaidah-kaidah yang berkaitan dengannya, serta aplikasinya dalam penafsiran Al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-kualitatif, melalui penelaahan terhadap kitab-kitab tafsir, Ulumul Qur’an, dan literatur terkait. Hasil kajian menunjukkan bahwa Asbābun Nuzūl memiliki peran penting dalam membantu mufasir memahami konteks turunnya ayat, menghindari kesalahan penafsiran, serta menjelaskan hikmah dan tujuan pensyariatan hukum dalam Al-Qur’an. Selain itu, penerapan Asbābun Nuzūl harus dilakukan secara hati-hati dengan memperhatikan validitas riwayat dan kaidah-kaidah yang telah disepakati para ulama, khususnya prinsip keumuman lafaz dan kekhususan sebab. Dengan demikian, Asbābun Nuzūl tidak hanya berfungsi sebagai informasi historis, tetapi juga sebagai instrumen metodologis yang penting dalam menghasilkan penafsiran Al-Qur’an yang kontekstual, relevan, dan bertanggung jawab secara keilmuan.
Agama dan Kepribadian Manusia: Kajian Psikologi Agama tentang Religiusitas dan Pembentukan Diri Nurul Izzah; Mifahul Jannah; Salami Mahmud
FATHIR: Jurna Studi Islam Vol 3 No 2 (2026): FATHIR: Jurnal Studi Islam
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/fathir.v3i2.473

Abstract

Tulisan ini membahas hubungan antara agama dan kepribadian manusia dalam perspektif psikologi agama melalui pendekatan kajian pustaka (library research). Fokus utama kajian ini adalah menelusuri bagaimana religiusitas memengaruhi pembentukan diri manusia — baik dari sisi moral, emosional, maupun spiritual. Agama tidak hanya dipahami sebagai sistem kepercayaan, tetapi juga sebagai kekuatan psikologis yang menata arah hidup, mengendalikan perilaku, serta membentuk keseimbangan kepribadian. Melalui telaah atas pemikiran tokoh-tokoh seperti William James, Gordon Allport, Al-Ghazali, dan Ibnu Miskawaih, kajian ini menemukan bahwa pengalaman spiritual dan internalisasi nilai-nilai agama memiliki peran penting dalam membentuk keutuhan diri, kedewasaan moral, dan kesejahteraan psikologis individu. Di tengah tantangan modernisasi dan krisis identitas yang dihadapi manusia masa kini, religiusitas berfungsi sebagai sumber makna dan mekanisme koping yang membantu individu menghadapi tekanan hidup dengan tenang dan berorientasi nilai. Dengan demikian, psikologi agama menawarkan kerangka konseptual yang kaya untuk memahami bagaimana agama berkontribusi terhadap pembentukan kepribadian yang utuh — sehat secara mental, matang secara moral, dan tenang secara spiritual
Kepemimpinan Perempuan dalam QS. An-Nisa’ 34: Komparasi Tafsir Al-Thabari dan Al-Manar dalam Perspektif Amina Wadud Muhammad Nur; Wawan Susanto
FATHIR: Jurna Studi Islam Vol 3 No 2 (2026): FATHIR: Jurnal Studi Islam
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/fathir.v3i2.474

Abstract

Isu kepemimpinan perempuan dalam Islam, khususnya terkait Q.S. An-Nisa' [4]:34, memicu perdebatan teologis dan sosial. Tafsir klasik cenderung mengukuhkan dominasi laki-laki, sementara pemikir modern menawarkan pembacaan yang lebih kontekstual. Penelitian ini bertujuan membandingkan penafsiran Q.S. An-Nisa' [4]:34 oleh Al-Thabari (klasik) dan Muhammad Abduh (modern) mengenai kepemimpinan Perempuan, serta menganalisisnya melalui hermeneutika keadilan gender Amina Wadud. Penelitian ini menggunakan pendekatan komparatif dengan metode deskriptif-analitik. Hasilnya menunjukkan bahwa Al-Thabari menafsirkan kepemimpinan sebagai hierarkis dan kodrati. Al-Thabari memahami qiwāmah sebagai bentuk keunggulan laki-laki, dengan landasan biologis dan sosial yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat. Sebaliknya, Muhammad Abduh memaknai qiwāmah sebagai tanggung jawab sosial yang dapat dijalankan oleh siapapun yang memiliki al-fadhl (keunggulan), termasuk perempuan. Dalam perspektif Wadud, tafsir Al-Thabari bersifat normatif-patriarkal, sedangkan Abduh lebih progresif dan mendekati prinsip keadilan gender. Kesimpulannya, penafsiran Abduh lebih relevan untuk kesetaraan gender kontemporer yang menyoroti urgensi pembaruan tafsir  inklusif dan non-diskriminatif
Pendekatan Psikolinguistik dalam Pengayaan Pemahaman Tafsir Al-Qur’an Denie Ekaputra
FATHIR: Jurna Studi Islam Vol 3 No 2 (2026): FATHIR: Jurnal Studi Islam
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/fathir.v3i2.484

Abstract

Pemahaman terhadap Al-Qur’an sebagai teks wahyu tidak hanya menuntut penguasaan aspek kebahasaan secara struktural, seperti gramatika dan semantik, tetapi juga pemahaman terhadap proses mental dan kognitif yang terlibat dalam penerimaan, pemrosesan, dan pemaknaan bahasa. Salah satu persoalan mendasar dalam kajian tafsir Al-Qur’an adalah adanya keragaman penafsiran yang dipengaruhi oleh perbedaan latar belakang linguistik, psikologis, dan kognitif para penafsir, yang belum sepenuhnya dijelaskan oleh pendekatan tafsir konvensional. Berangkat dari problematika tersebut, penelitian ini merumuskan pertanyaan mengenai bagaimana pendekatan psikolinguistik dapat berfungsi sebagai nilai tambah dalam memahami tafsir Al-Qur’an serta sejauh mana kontribusinya dalam menjelaskan proses pemaknaan ayat-ayat Al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan (library research). Data diperoleh melalui penelaahan kitab tafsir klasik dan kontemporer, buku-buku psikolinguistik dan linguistik, serta artikel ilmiah yang relevan dengan tema penelitian. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis dengan mengkaji konsep-konsep utama psikolinguistik, seperti pemrosesan bahasa, pemahaman makna, relasi bahasa dan pikiran, serta mekanisme encoding dan decoding pesan, kemudian mengaitkannya dengan teori dan praktik penafsiran Al-Qur’an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan psikolinguistik memberikan kontribusi signifikan dalam memperkaya pemahaman tafsir Al-Qur’an. Psikolinguistik mampu menjelaskan variasi penafsiran sebagai konsekuensi dari perbedaan struktur kognitif, pengalaman linguistik, dan konteks psikologis pembaca. Dengan demikian, integrasi psikolinguistik dalam kajian tafsir berfungsi sebagai pendekatan komplementer yang memperluas horizon pemaknaan Al-Qur’an agar lebih kontekstual, holistik, dan relevan dengan dinamika kehidupan masyarakat kontemporer.
Kontribusi Pembelajaran Matan Al-Syatibiyyah Terhadap Transmisi Ilmu Qira’at Di Aceh Naurah Adelia
FATHIR: Jurna Studi Islam Vol 3 No 2 (2026): FATHIR: Jurnal Studi Islam
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/fathir.v3i2.487

Abstract

Pembelajaran matan al-Syatibiyyah memiliki peran strategis dalam menjaga keberlangsungan tradisi qira’at sebagai salah satu cabang utama ilmu al-Qur’an. Namun, praktik pembelajarannya di Aceh masih berlangsung secara beragam dan belum sepenuhnya terlembaga secara sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk dan pelaksanaan pembelajaran matan al-Syatibiyyah dalam konteks formal dan nonformal, mengkaji metode, strategi, serta tantangan yang dihadapi, dan mengungkap kontribusinya terhadap transmisi ilmu qira’at di Aceh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian lapangan yang dipadukan dengan studi kepustakaan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan dosen qira’at Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Ar-Raniry, muqri’ Halaqah Syaykh Abdul Qadir, pembina dan dewan juri MTQ Aceh, serta pengajar dan santri qira’at di RIAB. Analisis data dilakukan secara tematik melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran matan al-Syatibiyyah dilaksanakan melalui hafalan parsial bait-bait tertentu, penjelasan kaidah qira’at, dan praktik talaqqi langsung dengan strategi yang adaptif terhadap kondisi peserta didik. Tantangan utama meliputi keterbatasan waktu, perbedaan kemampuan dasar peserta, serta minimnya dukungan kelembagaan. Meski demikian, pembelajaran matan al-Syatibiyyah berkontribusi nyata dalam memperkuat otoritas keilmuan, menjaga kesinambungan sanad, memetakan perbedaan qira’at, serta melestarikan tradisi qira’at melalui MTQ dan komunitas nonformal di Aceh.