cover
Contact Name
Meliana Sari
Contact Email
jrph@apps.uinjkt.ac.id
Phone
+628568402006
Journal Mail Official
jrph@apps.uinjkt.ac.id
Editorial Address
Jl. Kertamukti, Cireundeu, Kec. Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten 15412
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Journal of Religion and Public Health
ISSN : 27146057     EISSN : 27219852     DOI : https://10.15408/jrph
Journal of Religion and Public Health is a peer reviewed journal that established in 2019 by Public Health Study Program, Faculty of Health Science, State Islamic University (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia. The Journal publishes twice a year on April and September. The journal welcomes scholars and professionals to submit original articles, short communications and letters to the editor. This journal is aimed in contributing to knowledge about the relationships between religious factors and health on both a theoretical and practical level that could be a scientific evidence for scholars and professionals in advancing public health practice with individuals and groups. This journal presents papers that investigating in multidimensional approach by using diverse theoretical, conceptual, methodological and analytical in understanding the nature of religious effects on public health practices and outcomes. Journal of Religion and Public Health explores religion beliefs, values, practices, rituals and religious organization effects in various public health scope, including, but not limited to, epidemiology of communicable and non-communicable diseases, health education and promotion, health policy and administration, environmental health, public health nutrition, sexual and reproductive health and occupational health and safety.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 134 Documents
Pengaruh Waktu Pertama Pemberian Makanan Pendamping ASI terhadap Status Gizi Bayi Usia 6 – 24 Bulan Faustine, Gracella; Arfiyanti, Arfiyanti; Makkiyah, Feda Anisah; Nurrizka, Rahmah Huda
Journal of Religion and Public Health Vol. 3 No. 2 (2021)
Publisher : Journal of Religion and Public Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jrph.v3i2.28814

Abstract

Background. Malnutrition is a global problem with high morbidity and mortality rates. The fulfillment of adequate nutrition, especially in the early stage of life, is very important for growth and development. Early nutrition in a child’s life begins with exclusive breastfeeding which contains all the elements of nutrients needed. When breast milk is not sufficient to meet the nutritional needs of infants, specific nutritional interventions in the form of complementary foods are required. A review about the effect of the right time of complementary foods is needed to ensure optimal nutritional status. Objective. Analyzed the effect of timing of introduction to complementary foods on nutritional status in infants aged 6 – 24 months. Methods. A systematic literature review using PRISMA-P 2020 by reviewing studies obtained through databases such as Scopus, PubMed, and Google Scholar. Result. A total of 7 literatures were obtained with 5 literatures having significant results. The incidence of stunting is 1.21-13.3 times higher in complementary foods given at <6 months of age and 1.64-fold in >8 months. The incidence of underweight occurs 2.14 times in complementary foods given at the age of 4-5 months. The incidence of wasting has a 2.86-fold risk in complementary foods given at the age of 0-1 months. The risk of being overweight can occur 1.50-1.66 times in complementary foods given at less than 6 months. Conclusion. Early (<6 months) and late (>8 months) introduction to complementary foods has an effect on the incidence of stunting, underweight, wasting, and overweight in infants aged 6-24 months.Keywords: Malnutrition, Complementary Foods, Nutritional Status AbstrakLatar belakang. Malnutrisi merupakan permasalahan global dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Pemenuhan gizi yang tepat pada fase awal kehidupan sangat penting bagi proses tumbuh kembang. Pemberian gizi anak diawali dengan ASI ekslusif yang mengandung semua unsur zat gizi yang dibutuhkan bayi. Pada saat ASI tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi, diperlukan intervensi gizi spesifik berupa MPASI. Peninjauan pengaruh waktu yang tepat pada pemberian MPASI diperlukan untuk menjamin status gizi anak yang optimal. Tujuan.Menganalisis pengaruh waktu pertama pemberian MPASI terhadap status gizi bayi usia 6 – 24 bulan. Metode.Tinjauan pustaka sistematis metode PRISMA-P 2020 dengan meninjau studi yang diperoleh melalui basis data Scopus, PubMed, dan Google Scholar. Hasil. Didapatkan total 7 literatur dengan 5 menunjukkan hasil signifikan pengaruh waktu pertama pemberian MPASI terhadap status gizi bayi usia 6 – 24 bulan. Kejadian stunting berisiko 1,21 – 13,3 kali lipat pada MPASI < 6 bulan dan 1,64 kali lipat pada MPASI >8 bulan. Underweight berisiko 2,14 kali lipat pada MPASI 4 – 5 bulan. Wasting berisiko 2,86 kali lipat pada MPASI 0-1 bulan. Risiko overweight terjadi 1,50 – 1,66 kali lipat pada MPASI <6 bulan. Kesimpulan. MPASI dini (<6 bulan) dan terlambat (>8 bulan) berpengaruh terhadap stunting, underweight, wasting, dan overweightKata Kunci:  Malnutrisi, MPASI, Status Gizi 
Gambaran Pengetahuan, Sikap Dan Perilaku Pencegahan Covid-19 dengan Penggunaan Masker Pada Masyarakat Di Kota Tangerang Selatan Tahun 2021 Utami, Rizka Afiah
Journal of Religion and Public Health Vol. 3 No. 2 (2021)
Publisher : Journal of Religion and Public Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jrph.v3i2.28815

Abstract

On March 11, 2020 the World Health Organization (WHO) officially declared that Covid-19 was a global pandemic. Since the Covid-19 pandemic occurred, all people in the world are required to always follow health protocols, such as wearing masks, washing hands and maintaining distance. This study aims to determine the description of knowledge, attitudes and behavior in the use of masks during the Covid-19 pandemic in South Tangerang City. This study used a cross sectional study design with a total of 264 respondents. The results showed that as many as 60.6% of respondents already had good knowledge in preventing Covid-19 by using masks, then as many as 59.1% of respondents already had a good attitude in preventing Covid-19 by using masks, and for the behavior of using masks themselves when in public places in the community in South Tangerang City is very good. However, there is still a need for participation from religious leaders or community leaders to form obedient attitudes and behavior when using masks when in public places.Keywords: Covid-19, Knowledge in Preventing Covid-19, Attitude Preventing Covid-19, Behavior of Using MasksAbstrakPada 11 Maret 2020 organisasi kesehatan dunia WHO resmi menetapkan bahwa Covid-19 merupakan sebuah pandemi global. Sejak terjadi pandemi Covid-19 ini seluruh masyarakat di dunia diwajibkan untuk selalu mengikuti protokol kesehatan yaitu seperti menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dari pengetahuan, sikap dan perilaku dalam penggunaan masker selama masa pandemi Covid-19  di Kota Tangerang Selatan. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah responden sebanyak 264 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 60,6% responden sudah memiliki pengetahuan yang baik dalam melakukan pencegahan terhadap Covid-19 dalam menggunakan masker, lalu sebanyak 59,1% responden sudah memiliki sikap yang baik dalam melakukan pencegahan terhadap Covid-19 dengan menggunakan masker, dan untuk perilaku penggunaan masker sendiri saat berada di tempat umum pada masyarakat di Kota Tangerang Selatan sudah sangat baik. Namun masih perlu adanya peran serta baik itu dari tokoh agama atau pun tokoh masyarakat untuk membentuk sikap dan perilaku yang taat saat menggunakan masker saat berada di tempat umum. Kata Kunci: Covid-19, Pengetahuan Dalam Pencegahan Covid-19, Sikap Dalam Pencegahan Covid-19, Perilaku Penggunaan Masker 
Determinan Perilaku Periksa Payudara Sendiri (SADARI) pada Perempuan Dewasa Muda di Kota Bandar Lampung Meilina, Risma; Aristi, Dela
Journal of Religion and Public Health Vol. 3 No. 2 (2021)
Publisher : Journal of Religion and Public Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jrph.v3i2.28828

Abstract

Breast cancer is one of the leading causes of death in women. Efforts that can be made to detect breast cancer early is the Breast Self-Examination (BSE). BSE behavior can be done since the age of 20 years, one of the groups who have reached that age are young adult women. This study aims to determine the factors related to the behavior of breast self-examination (BSE) in Midwifery Students at Tanjung Karang Health Polytechnic, Bandar Lampung. This study used a cross sectional study design with 108 female respondents. The data analysis used was univariate and bivariate analysis using chi square test. The results showed that 52.8% of respondents did BSE on a regular basis. Factors related to BSE behavior are perceived barriers (p value = 0.05) and self-efficacy (p value = 0.02).Keywords: BSE Behavior, Health Belief Model, StudentAbstrakKanker payudara menjadi salah satu penyebab utama kematian pada wanita. Upaya yang bisa dilakukan untuk mendeteksi kanker payudara secara dini yaitu dengan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI). Perilaku SADARI dapat dilakukan sejak usia 20 tahun, salah satu kelompok yang telah mencapai usia tersebut adalah perempuan dewasa muda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) pada Mahasiswi Kebidanan Poltekkes Tanjung Karang, Bandar Lampung. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah responden sebanyak 108 mahasiswi. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 52,8% responden melakukan SADARI secara rutin. Faktor yang berhubungan dengan perilaku SADARI yaitu persepsi hambatan (p value=0,05) dan efikasi diri (p value=0,02).Kata Kunci: Perilaku SADARI, Health Belief Model, Mahasiswi
Hubungan Pengetahuan dan Sikap Terhadap Perilaku Pencegahan Penularan Tuberkulosis pada Penderita TB di Fasilitas Pelayanan Tingkat Pertama Ramadhani, Asri; Aristi, Dela
Journal of Religion and Public Health Vol. 3 No. 2 (2021)
Publisher : Journal of Religion and Public Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jrph.v3i2.28829

Abstract

Tuberculosis (TB) transmission prevention behavior is an effort to break the chain of transmission of TB disease to people around, especially family members. Knowledge and attitudes of TB sufferers related to TB disease will influence their preventive behavior. The purpose of this study was to determine the relationship between knowledge and attitudes with the behavior of preventing TB transmission in TB patients in the working area of the Wanasari Public Health Center, Brebes Regency. This study used a cross-sectional study design involving 62 respondents. The results showed that the respondents had poor tuberculosis transmission prevention behavior (62.9%). Knowledge (p-value = 0.127) is not related to the behavior of preventing TB transmission, but there is a relationship between attitude (p-value = 0.012) and the behavior of preventing TB transmission. Public health centers are recommended to conduct health counseling for TB patients as an effort to improve attitudes and for TB patients it is important to carry out TB prevention behaviors such as coughing and sneezing etiquette, opening the windows of the house every day, separating eating utensils from other family members, drying mattresses and pillows a week. once, and bask in the sun every day.Keywords: TB transmission prevention behavior, Knowledge, AttitudeAbstrakPerilaku pencegahan penularan Tuberkulosis (TB) merupakan upaya untuk memutus rantai penularan penyakit TB kepada orang-orang sekitar terutama anggota keluarga. Pengetahuan dan sikap penderita TB terkait penyakit TB akan mempengaruhi dalam melakukan perilaku pencegahan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap dengan perilaku pencegahan penularan TB pada penderita TB di wilayah kerja Puskesmas Wanasari Kabupaten Brebes. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan melibatkan responden yang berjumlah 62 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahawa responden memiliki perilaku pencegahan penularan tuberkulosis yang buruk (62,9%). Pengetahuan (pvalue = 0,127) tidak berhubungan dengan perilaku pencegahan penularan TB namun terdapat hubungan antara sikap (pvalue = 0,012) dengan perilaku pencegahan penularan TB. Puskesmas dianjurkan untuk melakukan konseling kesehatan kepada penderita TB sebagai upaya untuk meningkatkan sikap dan bagi penderita TB penting untuk melakukan perilaku pencegahan TB seperti melakukan etika batuk dan bersin, membuka jendela rumah setiap hari, memisahkan alat makan dengan anggota keluarga lainnya, menjemur kasur dan bantal seminggu sekali, dan berjemur di bawah sinar matahari setiap hari.  Kata Kunci: Perilaku Pencegahan Penularan TB, Pengetahuan, Sikap
Hubungan Kualitas Tidur Dengan Kecerdasan Emosional Selama Masa Pandemi Covid-19 Di Tahun 2021 Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta Natanel, Handro Steve; Pasiak, Taufiq Fredrik; Prabowo, Imam; Makkiyah, Feda Anisah; Nurrizka, Rahmah Hida
Journal of Religion and Public Health Vol. 4 No. 1 (2022)
Publisher : Journal of Religion and Public Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jrph.v4i1.28830

Abstract

Sleep quality may affect many important things in life. Medical students are one of the groups at risk of experiencing poor sleep quality, especially during the COVID-19 pandemic. Various stressors to medical students might cause poor sleep quality and affect emotional intelligence which is an important indicator of social functioning. The purpose of this study was to determine the relationship between sleep quality and emotional intelligence during the COVID-19 pandemic in medical students. This research is a cross-sectional study. Data collection was done by a simple random sampling technique with a total sample of 120 respondents. Data based on the characteristics of respondents, univariate analysis, and bivariate analysis using the Spearman correlation test. The instruments used are the Pittsburgh Sleep Quality Index and the Schutte Emotional Intelligence Scale. The results of the bivariate analysis showed a p-value of 0.000 < 0.05 (α) and a calculated r-value of 0.674. Therefore, it can be concluded that there is a strong relationship between sleep quality and emotional intelligence in medical students during the COVID-19 pandemic.Keywords: COVID-19 Pandemic, Emotional Intelligence, Medical Student, Sleep QualityAbstrak Tidur yang berkualitas dibutuhkan oleh makhluk hidup. Kualitas tidur yang terganggu dapat mempengaruhi kesehatan karena dapat mempengaruhi proses metabolik, kesehatan fisik, mental, kemampuan kognitif, dan kecerdasan emosional. Mahasiswa kedokteran merupakan salah satu kelompok yang berisiko mengalami kualitas tidur yang buruk, terutama di masa pandemi COVID-19. Berbagai stresor pada mahasiswa kedokteran dapat menyebabkan kualitas tidur yang buruk dan mempengaruhi kecerdasan emosional yang merupakan indikator penting dari fungsi sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kualitas tidur dengan kecerdasan emosional selama pandemi COVID-19 pada mahasiswa kedokteran. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik simple random sampling dengan jumlah sampel 120 responden. Data dianalisis berdasarkan karakteristik responden, analisis univariat, dan analisis bivariat menggunakan uji korelasi Spearman. Instrumen yang digunakan adalah Pittsburgh Sleep Quality Index dan Schutte Emotional Intelligence Scale. Hasil analisis bivariat menunjukkan nilai p-value 0,000 < 0,05 (α) dan nilai r hitung 0,674. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara kualitas tidur dengan kecerdasan emosional pada mahasiswa kedokteran selama masa pandemi COVID-19.Kata kunci: Kualitas Tidur, Kecerdasan Emosional, Mahasiswa Kedokteran, Pandemi COVID-19
Efek Penggunaan Antikoagulan Dalam Menurunkan Kematian Pasien Covid-19 Di Rumah Sakit: Literature Review Salsabila, Sapphira Mazaya; Yusmaini, Hany; Makiyah, Feda Anisah
Journal of Religion and Public Health Vol. 4 No. 1 (2022)
Publisher : Journal of Religion and Public Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jrph.v4i1.28832

Abstract

Introduction: The incidence of coagulopathy is one out of many cause of death due to endothelial damage caused by hyperinflammatory state in COVID-19 patients. COVID-19 treatment guidelines by the Indonesian Association of Pulmonary, Cardiovascular, and Internal Medicine Doctors widely recommend the use of anticoagulants in hospitalized COVID-19 patients even though there is no evidence of thrombosis or only suspected thrombosis by looking at the contraindication. This literature review was conducted to analyze the effect of anticoagulant use on mortality in hospitalized COVID-19 patients.Keywords: Anticoagulant, coagulopathy, COVID-19, mortalityAbstrakSalah satu penyebab kematian pasien COVID-19 adalah kejadian koagulopati dengan manifestasi trombosis akibat dari kerusakan endotel oleh keadaan hiperinflamasi pada pasien COVID-19. Pedoman tatalaksana COVID-19 yang disusun oleh Perhimpunan Dokter Paru, Kardiovaskuler, dan Penyakit Dalam Indonesia merekomendasikan penggunaan antikoagulan pada pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit, meskipun tidak terlihat adanya trombosis maupun baru dicurigai trombosis dengan mempertimbangkan kontraindikasi pada pasien. Tinjauan literatur ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh penggunaan antikoagulan terhadap mortalitas pasien COVID-19 dengan risiko koagulopati. Kata Kunci: Antikoagulan; COVID-19; koagulopati; mortalitas
Faktor- Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Terhadap Protokol Pencegahan Covid-19 Pada Pegawai Minimarket Di Jakarta Barat Tahun 2021 Baijuri, Ahmad; Alkaff, Raihana Nadra
Journal of Religion and Public Health Vol. 4 No. 1 (2022)
Publisher : Journal of Religion and Public Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jrph.v4i1.28836

Abstract

Background: WHO declared the world was in a state of COVID-19 pandemic on March 11, 2020 due to the rapid spread to various countries with 120,915,219 cases worldwide in early 2021. Various efforts to reduce the transmission rate were carried out such as the implementation of PSBB and so on, but the country's economy must continue to run.Objective: This study aims to describe the problem and factors related to compliance behavior with the COVID-19 prevention protocol in minimarket employees in the West Jakarta City area in 2021. Methods: The study design in this study was cross-sectional with a total of 71 respondents. The analysis was carried out using bivariate analysis with chi-square test. Results: Poor behavior towards the COVID-19 prevention protocol in respondents reached 47.4% (27 respondents). Of the six factors, only company commitment (P-value=0.024) and infrastructure (P-value=0.007) had a significant relationship to compliance behavior. Conclusion: The company's commitment and infrastructure affect the behavior compliance of minimarket employees with the COVID-19 prevention protocol. Suggestions for companies to form policies that support COVID-19 prevention protocols.Keywords: COVID-19, Factors,Employees, MinimarketAbstrakLatar Belakang: WHO menyatakan dunia dalam keadaan pandemic COVID-19 pada tanggal 11 Maret 2020 karena penyebaran yang cepat hingga ke berbagai negara dengan 120.915.219 jumlah kasus di seluruh dunia di awal tahun 2021. Berbagai upaya untuk menurunkan angka penularan dilaksanakan seperti pemberlakuan PSBB dan sebagainya, tetapi perekonomian negara tetap harus berjalan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran masalah serta faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku kepatuhan terhadap protokol pencegahan COVID-19 pada pegawai minimarket di wilayah Kota Jakarta Barat tahun 2021. Metode: Desain studi pada penelitian ini berupa cross-sectional dengan jumlah responden sebanyak 71 responden. Analisis yang dilakukan menggunakan analisis bivariat dengan uji chi-square. Hasil: Perilaku yang kurang baik terhadap protokol pencegahan COVID-19 pada responden mencapai 47,4% (27 responden). Dari enam faktor hanya komitmen perusahaan (P-value=0,024) dan sarana prasarana (P-value=0,007) yang memiliki hubungan bermakna terhadap perilaku kepatuhan. Simpulan: Komitmen perusahaan dan sarana prasarana mempengaruhi kepatuhan perilaku pegawai minimarket terhadap protokol pencegahan COVID-19. Saran bagi perusahaan agar membentuk kebijakan yang mendukung protokol pencegahan COVID-19.Kata Kunci: COVID-19, Faktor-Faktor, Pegawai, Minimarket
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kelelahan Kerja pada Guru Sekolah Menengah Atas (SMA) dalam Kondisi Bekerja dari Rumah Gunawan, Dio; Febrianti, Febrianti
Journal of Religion and Public Health Vol. 4 No. 1 (2022)
Publisher : Journal of Religion and Public Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jrph.v4i1.28837

Abstract

Work fatigue often occurred amongteachers before COVID-19 pandemic. Working from home due to pandemic COVID-19, might cause work burnout for high school teachers. Therefore, this study aimed to determine the factors associated with work burnout in high school teachers in WFH conditions. This study used a cross-sectional study design with snowball sampling and accidental sampling where the number of respondents was 144 high school teachers. Data analyzed with chi square test. The results showed that sleep quality (p-value 0.024), interpersonal relationships (p-value 0.000) and length of work online (p-value 0.022) were associated with work fatigue. It is suggested to the health office to work together with the education and culture office to spread educational media to increase the knowledge of teachers so that they can improve sleep quality, increase happy interpersonal communication, and implement the 20-20-20 formula when working in front of a computer screen or device to reduce eye fatique.Keywords: Work Fatigue, High School Teacher, Work-From Home (WFH)AbstrakKelelahan kerja kerap terjadi pada guru sebelum pandemi COVID-19. Adanya kondisi bekerja dari rumah akibat  pandemi COVID-19, berpotensi menimbulkan kelelahan kerja pada guru SMA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja pada guru SMA dalam kondisi bekerja dari rumah. Penelitian dilakukanmenggunakan desain studi cross sectional dengan teknik snowball sampling dan accidental sampling dimana jumlah responden sebanyak 144 guru SMA. Analisis data dilakukan dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara kualitas tidur (p-value 0,024), hubungan interpersonal (p-value 0,000) dan lama kerja online (p-value 0,022) dengan kelelahan kerja pada guru SMA dalam kondisi bekerja di rumah. Disarankan kepada dinas kesehatan agar bekerjasama dengan dinas pendidikan dan kebudayaan menyebarkan media edukasi untuk meningkatkan pengetahuan para guru agar mereka dapat meningkatkan kualitas tidur, meningkatkan komunikasi interpersonal yang membahagiakan, dan menggunakan rumus 20-20-20 ketika bekerja di depan layar komputer atau gawai untuk mengurangi kelelahan mata.Kata Kunci: Kelelahan Kerja, Guru SMA, Work-From Home (WFH)
Perilaku Remaja Putri Mengonsumsi Tablet Tambah Darah: Studi Kualitatif Di Smk An-Nuriyah Jakarta Tahun 2021 Haerani, Alfiana Riedha; Febrianti, Febrianti
Journal of Religion and Public Health Vol. 4 No. 1 (2022)
Publisher : Journal of Religion and Public Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jrph.v4i1.28840

Abstract

Program of iron tablet supplementation to female adolescent  in schools has conducted to overcome the problem of anemia. It was found that at SMK An-Nuriyah Jakarta in November 2020 only 41.7% of  female adolescent consumed iron tablets, while the coverage of iron tablet supplementation was already 100%. This study was conducted to know behavior and perceptions behind the behavior of the female at the school in consuming iron tablets. The study used a qualitative approach and thematic analysis, conducted from October 2020 to August 2021 at SMK An-Nuriyah Jakarta. Data was obtained from 5 females as key informants, 4 parents and 1 school health unit teacher as supporting informants. All the key informants in this study had received 60 tablets of iron tablets from the school and consumed them. Two types of behavior were found in consuming iron tablets: drinking according to the rules and not according to the rules. Those who did not drink according to the rules, did not drink iron tablets regularly once a week outside the menstrual period and or did not drink once a day during menstruation period. Some of the informants who did not consume according to the rules felt that they were not threatened by the dangers of anemia because they did not have good knowledge about the impact of anemia. There were also those who felt threatened by the dangers of anemia but did not have good self-efficacy to face obstacles in drinking iron tablets. It was recommended to the community health center and the school to increase students' knowledge of the impact of anemia on the future of young women during pregnancy and childbirth. In addition, there should be peer counselors to increase the girls’ self-efficacy in overcoming the obstacles in consuming iron tablets. Keywords: Anemia, Consumption of iron tablets, Health Behavior, Female Adolescent AbstrakProgram Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) dilaksanakan pada remaja putri di sekolah untuk mengatasi masalah anemia. Ditemukan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) An-Nuriyah Jakarta pada bulan November 2020 hanya 41,7% remaja putri mengonsumsi TTD, meskipun cakupan pemberian TTD di sekolah sudah 100%. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perilaku dan persepsi yang melatarbelakangi perilaku remaja putri dalam mengkonsumsi TTD pada SMK tersebut. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif menggunakan analisis tematik, dilakukan pada Oktober 2020 sampai Agustus 2021 di SMK An-Nuriyah Jakarta. Data diperoleh dari 5 remaja putri sebagai informan utama, 4 orang tua dan 1 orang guru Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) sebagai informan pendukung. Semua informan utama dalam penelitian ini memperoleh TTD dari sekolah sebanyak 60 tablet dan mengkonsumsinya. Ditemukan dua perilaku dalam mengkonsumsi TTD yaitu: meminum sesuai aturan dan tidak sesuai aturan. Yang meminum tidak sesuai aturan meminum TTD tidak rutin seminggu sekali diluar masa haid dan atau tidak minum sehari sekali pada saat haid. Informan yang meminum tidak sesuai aturan ada yang merasa tidak terancam oleh bahaya anemia karena tidak memiliki pengetahuan yang benar mengenai dampak anemia. Ada juga yang merasa terancam akan bahaya anemia tetapi tidak memiliki self efficacy yang baik untuk menghadapi kendala dalam minum TTD. Disarankan kepada puskesmas dan pihak sekolah untuk meningkatkan pengetahuan siswa terhadap dampak anemia pada masa depan remaja putri, ketika hamil dan melahirkan. Selain itu, perlu ada konselor sebaya untuk meningkatkan self efficacy remaja putri yang belum mampu mengatasi kendala dalam mengkonsumsi TTD.Kata kunci: Anemia, Konsumsi TTD, Perilaku Kesehatan, Remaja Putri 
Faktor-Faktor yang berhubungan dengan Perilaku Vulva Hygiene pada Remaja Putri di SMP X Kota Bekasi Indonesia Wardani, Arum Cahya; Nasir, Narila Mutia; Alkaff, Raihana Nadra; Hananingtyas, Izza
Journal of Religion and Public Health Vol. 4 No. 1 (2022)
Publisher : Journal of Religion and Public Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jrph.v4i1.28841

Abstract

Adolescent girls are vulnerable to reproductive health problems such as vulva hygiene behavior. Data indicated that they do not understand about vulva hygiene, especially those who in early adolescent stage. Thus, this study aims to know the factors associated with vulva hygiene behavior among adolescent girls of X Junior High School in Bekasi City, Indonesia. Using quantitative research design with cross-sectional study, 82 respondents who participated in this research were recruited as sample by utilizing proportional stratified random sampling. The data were collected online through google form. Data analysis was performed using chi-square test. The results illustrate that 48.8% of adolescent girls had poor vulva hygiene behavior, 62.2% of them had poor knowledge. 74.4% adolescent girls had lack exposure to information, and 85.4% of them did not get enough support from health workers. Furthermore, data analysis shows there were relationships between knowledge behavior (p value = 0.014), information exposure (p value = 0.031), and teacher support (p value = 0.004) with vulva hygiene behavior. It is important to pay attention to vulva hygiene behavior as early as possible to prevent a negative impact to the future. Reproductive health education and providing information especially about vulva hygiene behavior should be improved at school through collaboration with the health workers, such as counseling or peer-group training.  Keywords: adolescent, vulva hygiene, behaviorAbstrakRemaja putri merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap masalah kesehatan reproduksi, salah satunya adalah mengenai perilaku vulva hygiene. Data menunjukkan bahwa masih banyak remaja putri terutama remaja awal yang kurang memahami tentang vulva hygiene. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku vulva hygiene pada remaja putri SMP X di Kota Bekasi, Indonesia. Dengan menggunakan desain penelitian kuantitatif secara cross-sectional, 82 responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini diambil sebagai sampel dengan menggunakan propotional stratified random sampling. Pengumpulan data dilakukan secara online menggunakan google form. Analisa data dilakukan dengan uji Chi Square. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa 48.8% remaja memiliki perilaku vulva   hygiene yangburuk. Sebanyak 62.2% remaja memiliki pengetahuan buruk tentang vulva hygiene, 74.4% remaja kurang mendapatkan paparan informasi, dan 85.4% remaja tidak mendapatkan dukungan dari tenaga kesehatan. Selanjutnya, analisis data menunjukkan bahwa terhadap hubungan antara pengetahuan dan perilaku vulva hygiene (p value= 0.014), paparan informasi dan perilaku vulva hygiene (p value= 0.031), dan dukungan guru dan perilaku vulva hygiene (p value= 0.004). Perilaku vulva hygiene perlu diperhatikan sejak dini agar tidak berdampak negatif terhadap kesehatan dimasa yang akan datang. Pendidikan kesehatan reproduksi dan penyediaan informasi terutama mengenai perilaku vulva hygiene perluditingkatkan di sekolah melalui kerja sama dengan tenaga kesehatanseperti melakukan penyuluhan atupun melatih konselor teman sebaya.Kata Kunci: remaja, vulva hygiene, perilaku

Page 10 of 14 | Total Record : 134