Kabuyutan: Jurnal Kajian Iilmu Sosial dan Humaniora Berbasis Kearifan Lokal
KABUYUTAN Jurnal Kajian Iilmu Sosial dan Humaniora Berbasis Kearifan Lokal, yang menjembatani pemikiran-pemikiran kritis menyangkut kearifan lokal tinggalan budaya masa lampau, termasuk di dalamnya kemanusiaan, yang mengedepankan manusia sebagai insan bermartabat dan berbudaya. Filologi secara khusus mengkaji tradisi tulis atau naskah-naskah (kuno, klasik/peralihan, masa kini) tinggalan nenek moyang masa lampau, yang menyimpan ide, gagasan, pandangan hidup, dan lainnya. Naskah sebagai dokumen budaya meliputi tujuh unsur kearifan lokal budaya, sesuai dengan tempat naskah itu ditulis atau disalin. Teks naskah dalam jurnal Kabuyutan bisa dikaji secara multidisiplin dengan ilmu lain, sesuai dengan isi/teks naskah dimaksud, seperti dari sudut pandang sastra, sejarah, hukum, sosial politik, komunikasi, kesehatan masyarakat, farmasi, kedokteran, psikhologi, keperawatan, dan ilmu lainnya yang berkaitan dengan isi teks naskah. Sejarah bisa dikaji dari seluk beluk aspek sejarah, dan berbagai sudut pandang yang berkaitan dengan tinggalan masa lalu, baik dokumen sejarah masa lampau maupun tinggalan/dokumen kekinian/masa kini, yang relevan dengan aspek kesejarahan, termasuk historiografi tradisional yang ada kaitannya dengan tinggalan-tinggalan sejarah masa lampau, baik dengan tradisi tulis (naskah), arkeologi, maupun antropologi, sosial politik, maupun ilmu komunikasi, melalui pendekatan sejarah dan berbagai macan metode yag digunakan dalam penelitian dan kajian ilmu sejarah. Arkeologi pada umumnya berkaitan dengan artefak-artefak tinggalan budaya masa lampau, yang bisa dikaji secara multidisiplin dengan ilmu lain, baik dengan filologi, sejarah, antropologi, geologi, geografi, komunikasi, sosial politik, maupun ilmu lain, yang berkaitan dengan kepurbakalaan.
Articles
109 Documents
FILOSOFI KAPAL DALAM KAIN TAPIS: MAKNA PERJALANAN DAN KEHIDUPAN DALAM BUDAYA LAMPUNG
Auralia, Dini Febra;
Pamuji, Fachriani Shafira;
Alia Abdullah, Mirna Nur
KABUYUTAN Vol 4 No 3 (2025): Kabuyutan, Nopember 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i3.376
Penelitian ini mengkaji makna filosofis motif kapal pada kain Tapis Lampung, sebuah warisan budaya masyarakat pesisir (Saibatin). Kain Tapis tidak hanya berfungsi sebagai pakaian tradisional, tetapi juga sebagai sarana simbolis yang merepresentasikan pandangan hidup masyarakat Lampung. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan interpretatif kualitatif dan teori semiotika Roland Barthes untuk menafsirkan tanda-tanda visual dalam motif kapal. Analisis menunjukkan bahwa motif kapal memiliki makna mendalam sebagai simbol perjalanan manusia—dari lahir, kehidupan di dunia, hingga akhirat. Pada masa lalu, kapal diinterpretasikan sebagai kendaraan bagi roh menuju akhirat, namun setelah kedatangan Islam, simbol ini bergeser menjadi simbol perjuangan hidup dan keteguhan iman. Selain nilai spiritual, motif kapal juga mencerminkan identitas sosial-ekonomi masyarakat pesisir yang erat hubungannya dengan dunia maritim. Dalam konteks etno-kriya kontemporer, filosofi kapal tetap relevan sebagai simbol keberanian, arah, dan keterbukaan terhadap perubahan. Dengan demikian, motif kapal pada kain Tapis Lampung menjadi bukti konkret keberlanjutan nilai-nilai budaya lokal yang bertransformasi dengan dinamika zaman tanpa kehilangan makna aslinya. Nilai-nilai ini terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi generasi masa kini.
PEMBERDAYAAN KELOMPOK PENGOLAH DAN PEMASAR HASIL PERIKANAN UNTUK PENGUATAN INDUSTRI PARAWISATA DI PANGANDARAN: -
Setiaman, Agus;
Nurrakhman, Raden Fachry;
Rahman, Azizul
KABUYUTAN Vol 4 No 3 (2025): Kabuyutan, Nopember 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i3.388
Abstrak Poklahsar dapat memainkan peran penting dalam mendukung sektor industry pariwisata di Pangandaran melalui penyediaan produk kuliner khas Pangandaran yang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pengalaman wisata. Produk seperti kerupuk ikan, jambal roti, abon ikan, hingga terasi khas Pangandaran merupakan ikon yang memperkuat daya tarik sebuah destinasi wisata. Keberadaan produk lokal yang unik merupakan elemen penting dalam pariwisata berbasis komunitas karena mampu memperkuat identitas daerah sekaligus mendistribusikan manfaat ekonomi secara langsung ke masyarakat lokal. Keberhasilan Poklahsar dapat dijadikan model replikasi bagi wilayah pesisir lainnya di Indonesia. Tak kalah penting, perlu dibangun pola kemitraan strategis antara Poklahsar dan pelaku industri pariwisata, seperti hotel, restoran, pusat oleh-oleh, serta biro perjalanan. Kolaborasi ini tidak hanya memperluas distribusi produk Poklahsar, tetapi juga memperkuat keterkaitan antara sektor ekonomi lokal dan sektor pariwisata secara langsung.
A PERSPEKTIF SOSIOLINGUISTIK PENGGUNAAN VOKATIF SERAPAN BAHASA SUNDA
wahya
KABUYUTAN Vol 4 No 3 (2025): Kabuyutan, Nopember 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i3.393
Abstrak Tulisan ini membahas vokatif serapan dalam bahasa Sunda. Penelitian bersifat deskriptif kualitatif. Penyediaan data menggunakan metode simak, yakni menyimak penggunaan vokatif serapan bahasa Sunda oleh para tokoh dalam buku fiksi berbahasa Sunda. Analisis data menggunakan metode padan, yakni padan referensial dan translasional dengan pendekatan sosiolinguistik. Sumber data yang digunakan sebanyak tujuh buah buku fiksi berbahasa Sunda sebagai sampel. Berdasarkan sumber data dan kriteria data yang ditentukan ditemukan dua puluh kalimat yang memuat empat belas vokatif serapan yang dituturkan penutur kepada mitra tutur. Keempat belas vokatif serapan yang sudah diadaptasi dalam bahasa Sunda ini adalah (1) Nyonya, (2) Babah, (3) Engko, dan (4) Ko dari bahasa Tionghoa; (5) Enon, (6) Non, dan (7) Mandor dari bahasa Portugis; (8) Embok, (9) Mas, dan (10) Lurah dari bahasa Jawa; (11) Tuan dari bahasa Indonesia/Melayu, (12) Sobat dan (13) Ketib dari bahasa Arab; (14) Lebé dari bahasa Tamil. Berdasarkan jenisnya, vokatif serapan ini ada enam, yaitu (1) vokatif kekerabatan, (2) vokatif penghormatan, (3) vokatif keakraban, (4) vokatif keagamaan, (5) vokatif profesi, dan (6) vokatif jabatan dalam pemerintah. Hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur dalam penggunaan vokatif serapan ini ada sembilan, yaitu (1) pembantu-majikan, (2) pembantu-anak majikan, (3) ketetanggaan, (4) pejabat pemerintah-warga, (5) warga-pejabat pemerintah, (6) pembeli-pedagang, (7) kenalan baru, (8) antara pejabat pemerintah, dan (9) kenalan lama. Penggunaan tingkat tutur dalam penggunaan vokatif serapan ada dua kode, yaitu kode akrab dan kode hormat dengan penggunaan yang seimbang. Kata Kunci: vokatif serapan, sosiolinguistik, adaptasi, hubungan sosial, tingkat tutur
KARAWANG DARI MASA KERAJAAN SUNDA HINGGA MENJADI KABUPATEN
Herlina, Nina
KABUYUTAN Vol 4 No 3 (2025): Kabuyutan, Nopember 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i3.399
Nama Karawang semula dikenal sebagai nama sebuah pelabuhan Kerajaan Sunda yang terletak di pantai utara Pulau Jawa. Pelabuhan Karawang memiliki peran penting dalam perekonomian Kerajaan Sunda. Setelah Kerajaan Sunda runtuh 1579, wilayahnya terbagi atas empat pusat kekuasaan yaitu, Banten, Sumedanglarang, Cirebon, dan Galuh. Karawang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sumedanglarang yang dianggap sebagai penerus Kerajaan Sunda. Sejak 1620 an, Kerajaan Mataram melakukan invasi ke Jawa bagian Barat sehingga Sumedanglarang berada di bawah pengaruh Kerajaan Mataram. Akibatnya Karawang pun menjadi bawahan Kerajaan Mataram. Sultan Agung, penguasa Mataram, memerintahkan Rangga Gede, Raja Sumedanglarang untuk menyerahkan kekuasaannya atas daerah Karawang kepada Adipati Kertabumi IV. Pengangkatan Adipati Kertabumi IV sebagai Bupati Karawang tercantum dalam sebuah piagam Pelat Tembaga Kandang Sapi Gede. Masyarakat Karawang lebih mengenalnya sebagai Pelat Kuningan Kandang Sapi Gede. Dalam pelat tembaga tersebut tertulis pengangkatan dilakukan pada 10 mulud tahun alif yang bila dikonversikan menjadi tanggal 14 September 1633. Tanggal ini selanjutnya diputuskan Pemerintah Kabupaten Karawang sebagai Hari Jadi Kabupaten Karawang.
INVENTARISASI GOLOK TATAR KARANG UPAYA HIMPUN MEMORI KOLETIF BANGSA
CMS, Samson;
Bajari, Atwar;
Sugiana, Dadang;
Mohammad Adnan4, Hamedi Bin
KABUYUTAN Vol 4 No 3 (2025): Kabuyutan, Nopember 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i3.400
Globalisasi dan persaingan antarbangsa menghadirkan ancaman terhadap identitas budaya lokal. UNESCO merekomendasikan inventarisasi dan dokumentasi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) sebagai langkah preventif. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan Golok Tatar Karang sebagai upaya menghimpun memori kolektif bangsa dan mencegah kepunahan pengetahuan tradisional. Penelitian menggunakan paradigma konstruktivis dengan pendekatan kualitatif dan metode dokumentasi budaya, berfokus pada sumber informasi non-dokumenter. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan lima informan kunci serta observasi lapangan di Desa Sidangkerta, Tasikmalaya. Hasil penelitian mengungkapkan: (1) profil empu golok dari generasi Puh Janam (1920-an) hingga penerusnya Ki Awa; (2) filosofi hidup masyarakat Tatar Karang yang tercermin dalam peribahasa tentang golok, menekankan nilai penghormatan, kejujuran, dan pengendalian diri; (3) klasifikasi dan ragam golok berdasarkan fungsi (Sapopoé dan Pasrén) serta bentuk visual (Bodasan, Beureuman, Papaés); dan (4) kondisi faktual di mana produksi golok Walahiran asli telah terputus sejak 1940-an, dengan upaya pewarisan pengetahuan kini dilakukan secara parsial dan terencana oleh Ki Awa. Simpulan penelitian menegaskan bahwa golok bukan hanya alat fisik, melainkan simbol identitas yang mengandung kearifan lokal mendalam. Pendokumentasian ini mengonversi pengetahu-an tacit menjadi eksplisit, sehingga dapat berfungsi sebagai sumber belajar dan dasar perencanaan pelestarian yang konkret bagi masyarakat dan pemangku kebijakan.
EKSISTENSI SENI TRADISIONAL MASYARAKAT ADAT SUNDA DI ERA GENERASI Z
Nani Sumarlina, Elis Suryani;
Mohamad Permana, Rangga Saptya;
Darsa, Undang Ahmad
KABUYUTAN Vol 4 No 3 (2025): Kabuyutan, Nopember 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i3.401
Zaman berkembang dan berubah dari masa ke masa seiring pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi. Hal itu berlaku juga terhadap ketujuh unsur budaya Sunda. Kenyataan ini tentu saja memengaruhi situasi dan kondisi serta eksistensi tatanan kehidupan masyarakat, termasuk unsur seni. Di era Gen Z saat ini, kecanggihan yang terjadi berimbas pula terhadap perkembangan kemampuan manusia dalam berinteraksi sosial. Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri juga bahwa ada beberapa suku Sunda yang masih bersikukuh dan taat asas mempertahankan ketradisionalan dan adat istiadatnya. Salah satunya masyarakat adat Sunda yang ada di wilayah Jawa Barat dan Banten, seperti Kampung Naga, Kanekes Baduy, Kampung Dukuh, Kampung Kuta, Kampung Sinar Resmi atau Ciptagelar. Terkait dengan hal itu, tentu saja masyarakat adat tersebut harus lebih kuat membentengi diri dari pengaruh luar, yang semakin menggerus unsur-unsur budaya, salah satunya unsur seni, termasuk waditra yang digunakan dan mengiringinya, agar seni yang mereka miliki tidak musnah ditelan masa. Beragam serpihan terpendam berkenaan dengan seni, dapat kita gali dan kita ungkap, dalam upaya menelusuri dan mengkaji warisan tinggalan leluhur orang Sunda. Untuk mengkaji masalah tersebut, tulisan ini menggunakan metode kualitatif, melalui metode deskriptif analisis. Melibatkan metode kajian estetika, hermeneutik, historiografi seni, filosofi seni, sosiologis, antropologis, maupun kajian budaya secara umum.
EFEKTIVITAS MEDIASI SEBAGAI UPAYA NON-LITIGASI DALAM SISTEM PERADILAN AGAMA (Studi Normatif Implementasi PERMA No. 1 Tahun 2016)
Fitria, Anita
KABUYUTAN Vol 4 No 3 (2025): Kabuyutan, Nopember 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i3.403
Mediasi merupakan salah satu instrumen penyelesaian sengketa non-litigasi yang diwajibkan dalam proses berperkara di pengadilan, termasuk dalam sistem Peradilan Agama. Pemberlakuan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan bertujuan untuk meningkatkan efektivitas penyelesaian perkara secara damai, cepat, dan berbiaya ringan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas mediasi sebagai upaya non-litigasi dalam Peradilan Agama melalui kajian normatif terhadap implementasi PERMA No. 1 Tahun 2016. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual, yang menelaah ketentuan hukum terkait mediasi serta prinsip-prinsip penyelesaian sengketa dalam hukum Islam dan sistem peradilan nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara normatif, pengaturan mediasi dalam PERMA No. 1 Tahun 2016 telah memberikan dasar hukum yang kuat dan sistematis bagi pelaksanaan mediasi di Peradilan Agama. Mediasi memiliki peran strategis dalam mengurangi penumpukan perkara dan mendorong penyelesaian sengketa yang berorientasi pada perdamaian. Namun, dalam praktiknya, efektivitas mediasi masih menghadapi berbagai kendala, antara lain rendahnya itikad baik para pihak, keterbatasan kompetensi mediator, serta budaya hukum masyarakat yang belum sepenuhnya mendukung penyelesaian sengketa melalui mediasi. Oleh karena itu, diperlukan penguatan implementasi mediasi melalui peningkatan kualitas mediator, optimalisasi peran hakim, dan peningkatan kesadaran hukum masyarakat agar mediasi dapat berfungsi secara optimal sebagai upaya non-litigasi dalam sistem Peradilan Agama.
KONTROVERSI HERMENEUTIKA DALAM PENAFSIRAN TEKS AL-QURAN: PERSPEKTIF FILOLOGI
Kosasih, Ade
KABUYUTAN Vol 4 No 3 (2025): Kabuyutan, Nopember 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i3.404
Pendekatan hermeneutika dalam penafsiran Al-Quran dapat dianggap sebagai isu kontroversial di ranah studi Islam dewasa ini. Hermeneutika dipandang sebagai metodologi ilmiah yang mampu menjembatani jarak historis, linguistik, dan kultural antara teks suci dan realitas modern. Bahkan, pendekatan itu dikritik keras karena dianggap berakar dari tradisi filsafat Barat sekuler, berpotensi merelatifkan makna wahyu, serta menggeser otoritas tafsir dari teks ilahi kepada subjektivitas penafsir. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara kritis kontroversi di kalangan para ahli terkait penafsiran hermeneutika Al-Quran dengan menelusuri basis epistemologis, metodologis, serta implikasi teologisnya. Penelitian ini memanfaatkan metode kualitatif dengan melakukan studi literatur untuk membahas, secara deskriptif-kritis, karya-karya tokoh yang berbeda dalam memandang penafsiran Al-Quran sekarang, baik dari para pemikir Muslim maupun sarjana Barat. Data dianalisis melalui pendekatan komparatif antara metodologi tafsir model hermeneutika filosofis Hans-Georg Gadamer dan hermeneutika kritis Paul Ricoeur. Hasil kajian menunjukkan bahwa kontroversi hermeneutika Al-Quran tidak semata-mata bersumber dari perbedaan metode, tetapi juga dari perbedaan paradigma epistemologi tentang hakikat wahyu, bahasa ilahi, dan otoritas penafsiran. Artikel ini menyimpulkan bahwa hermeneutika dapat berfungsi sebagai perangkat bantu metodologis sepanjang ditempatkan secara proporsional, tidak menggantikan prinsip dasar ulūm al-Qur’ān, serta tetap berlandaskan pada akidah Islam. Dengan demikian, dialog metodologis antara tafsir klasik dan hermeneutika modern perlu dikembangkan secara kritis dan selektif, bukan ditolak atau diterima secara absolut.
UNGKAPAN BAHASA SUNDA SEBAGAI MEDIUM INTERNALISASI NILAI-NILAI ISLAM
Zakaria, Mumuh Muhsin
KABUYUTAN Vol 4 No 3 (2025): Kabuyutan, Nopember 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i3.405
Artikel ini mengkaji ungkapan-ungkapan dalam bahasa Sunda sebagai medium kultural dalam proses internalisasi nilai-nilai Islam di masyarakat Sunda. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai wahana transmisi nilai, norma, dan pandangan hidup. Melalui ungkapan, peribahasa, babasan, dan paribasa Sunda, ajaran-ajaran Islam seperti keikhlasan, kesabaran, tawakal, adab sosial, dan kesalehan individual disampaikan secara kontekstual dan membumi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis wacana kultural dan semiotik terhadap sejumlah ungkapan Sunda yang mengandung pesan moral dan religius. Data diperoleh dari sumber lisan, naskah tradisional, serta literatur kebahasaan dan keislaman Sunda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses islamisasi di tanah Sunda tidak berlangsung secara konfrontatif, melainkan melalui mekanisme akulturasi yang harmonis, di mana nilai-nilai Islam terinternalisasi dalam struktur bahasa dan ekspresi budaya lokal. Ungkapan bahasa Sunda berperan sebagai medium efektif dalam mentransformasikan ajaran Islam menjadi etika sosial yang mudah diterima oleh masyarakat. Temuan ini menegaskan pentingnya bahasa daerah sebagai instrumen strategis dalam dakwah kultural dan pelestarian nilai-nilai keislaman yang berakar pada kearifan lokal.