cover
Contact Name
Muhammad Hadi Widanto
Contact Email
lppm@unsurya.ac.id
Phone
+6282113935439
Journal Mail Official
lppm@unsurya.ac.id
Editorial Address
LPPM Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma Kampus A Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma lt. 2 No. 210 Jl. Halim Perdana Kusuma No.1, RT.1/RW.9, Halim Perdana Kusuma Kec. Makasar, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13610
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
ISSN : 3063069X     EISSN : 30629225     DOI : https://doi.org/10.35968/7v6eq255
Core Subject : Health,
AIM Tujuan utama dari jurnal ini adalah untuk menyediakan platform bagi para Mahasiswa, Dosen, Peneliti, praktisi profesional di bidang kesehatan untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan penelitian terkini yang relevan dengan manajemen kesehatan dan keperawatan. Kami bertujuan untuk mendorong pertukaran gagasan yang inovatif dan solusi praktis yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan pengelolaan sumber daya di berbagai konteks pelayanan kesehatan. SCOPE Jurnal ini mencakup berbagai topik dalam manajemen kesehatan dan keperawatan, termasuk namun tidak terbatas pada: Strategi manajemen kesehatan Kebijakan kesehatan dan peraturan Manajemen operasional rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya Manajemen sumber daya manusia di bidang kesehatan Inovasi dalam manajemen layanan kesehatan Penggunaan teknologi informasi dalam manajemen kesehatan Manajemen risiko dan kualitas dalam pelayanan kesehatan Manajemen keperawatan klinis dan administratif Evaluasi dan penelitian kesehatan masyarakat Kolaborasi lintas disiplin dalam manajemen kesehatan Keperawatan medikal bedah Keperawatan Kegawatdaruratan dan bencana keperawatan anak keperawatan maternitas keperawatan jiwa keperawatan gerontik keperawatan komunitas manajemen dan kepemimpinan keperawatan Jurnal ini menyambut kontribusi dari para peneliti, praktisi, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya yang tertarik dalam pengembangan teori dan praktik manajemen kesehatan dan keperawatan.
Articles 65 Documents
Implementasi Terapi Rolling Massage pada Ibu Post Partum Terhadap Produksi ASI di Ruang Nuri RSAU Dr Esnawan Antariksa Nisaalfiyanti, Nisa; Dwi Rahayu , Wahyuni; Eka Meylawati , Luluk
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 1 No. 3 (2024): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/h6139445

Abstract

ASI dikenal sebagai cairan yang dikeluarkan dari kelenjar payudara ibu. Di sisi lain, pemberian ASI eksklusif mengacu pada pemberian ASI kepada bayi tanpa penambahan atau penggantian makanan maupun minuman lain hingga usia enam bulan. Karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas implementasi terapi rolling massage Pada Ibu Post Partum Terhadap Produksi ASI . Penelitian ini dilakukan selam 3 hari dengan setiap melakukan terapi rolling massage selama 20 meni dilakukan 1 kali sehari. Subyek dalam penelitian ini sebanyak 2 orang dengan memberikan teknik pengambilan subyek sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Instrumen yang digunakan standar prosedur operasional pemberian terapi rolling massage, lembar observasi, lembar wawancara, hasil penelitian menunjukkan produksi ASI setelah dilakukan intervensi terjadi peningkatan produksi ASI pada subyek 1 produksi ASI dari tidak keluar menjadi 30ml dan pada subyek 2 produksi ASI dari keluar hanya kurang lebih 10 tetes menjadi 100ml. Kesimpulan penelitian ini terdapat pengaruh produksi ASI pada ibu post partum. Diharapkan kepada petugas kesehatan untuk memberikan terapi rolling massage sebagai terapi komplementer untuk meningkatkan produksi ASI pada ibu post partum.   Breast milk is know as the fluid that is removed from the breast glands of the mother. On the other hand, exclusive breastfeeding refers to giving milk to a baby without adding or replacing any other food or drink up to the age of six months. This scientific paper aims to find out the effectiveness of rolling massage therapy Implementation in postpartum Mother Against Milk Production. This research was conducted for 3 days with each perfoming rolling massage therapy for 20 minutes done 1x a day. Subjects in this study are as many as 2 people by providing the techique of taking subjects according to the inclusion and exclusion criteria. The instrument used is the standard operational procedure for giving therapy rolling massage, observation sheet,interview sheet. The results of the reseacrh showed that milk production after intervention occured increased production of milk in the subjects 1 milk from not out to 30ml and in the subjects 2  production of milk from out only slightly more than 10 drops to 100ml. Health workers are expected to provide rolling massage therapy as a complementary therapy to boost milk production in postpartum mother.
Implementasi Angkle Pump Exercise dengan  Elevasi  30 derajat Untuk Mengurangi Edema pada Pasien CKD ON HD Di RSAU Dr.Esnawan Antariksa lukman al hakim; Harwina Widya Astuti; Sinta Fresia
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 1 No. 3 (2024): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/b4251e28

Abstract

Gagal Ginjal Kronik merupakan kondisi seseorang yang mengalami kerusakan fungsi ginjal yang bersifat irreversible yang disebabkan hipertensi, diabetes melitus, penyakit sistemik lain, dan batu saluran kemih. Prevalensi GGK di Provinsi DKI Jakarta sebesar 4,5% di tahun 2018. Salah satu terapi yang digunakan untuk menurunkan sisametabolisme tubuh yaitu terapi Hemodialisis. Tanda dan gejala yang muncul pada pasien dengan terapi Hemodialisis adalah peningkatan beratbadan akibat penumpukan cairan yang ditandai dengan edema. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi edema yaitu terapi ankle pump exercisedan elevasi 300. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran pengaruhimplementasi ankle pump exercise dan elevasi 300 untuk mengurangiedema di Ruang Hemodialisis. Metode penelitian jenis rancanganpenelitian ini adalah deskriptif studi kasus. Subjek studi pada penelitian iniberjumlah 2 subjek. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasiedema. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh penurunan edema.Edema pada subjek satu sebelum dilakukan intervensi adalah derajat III (4mm), setelah dilakukan intervensi mengalami penurunan menjadi derajatII (2mm). Derajat edema pada subjek dua sebelum dilakukan intervensiadalah derajat III (5mm), setelah dilakukan intervensi mengalamipenurunan menjadi derajat II (2mm). Kesimpulan dari studi kasus iniadalah terapi kombinasi ankle pump exercise dan elevasi 300 pada keduasubjek memberikan pengaruh terhadap penurunan edema pada pasienCKD di ruang Hemodialisis.   Chronic Kidney Failure is a condition of a person who irreversible damage to kidney function caused by hypertension, diabetes mellitus, other systemic diseases, and urinary tract stones. The prevalence of CKD in DKI Jakarta Province was 4.5% in 2018. One of the therapy used to reduce the body's metabolic waste is hemodialysis therapy. Hemodialysis. Signs and symptoms that appear in patients with Hemodialysis therapy is an increase in body weight due to fluid accumulation characterized by edema. with edema. Efforts made to overcome edema are ankle therapy The purpose of the study was to determine the description of the effect of implementing ankle pump exercise and elevation 300 to reduce edema in the Hemodialysis Room. edema in the Hemodialysis Room. Research method this type of research design is a descriptive case study. The study subjects in this study amounted to 2 subjects. The instrument used was an edema observation sheet. The results showed a decrease in edema. Edema in subject one before the intervention was degree III (4mm), after the intervention decreased to degree II (2mm). The degree of edema in subject two before the intervention was degree III (5mm), after the intervention decreased to degree II (2mm). intervention decreased to degree II (2mm). The conclusion of this case study is that the combination of ankle pump exercise and elevation therapy 30° in both subjects has an effect on reducing edema in patients with COPD.  
Efektivitas Rebusan Air Jahe Merah Terhadap Penurunan Nyeri Menstruasi Pada Remaja di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma Rifka Nurmaya; Luluk Eka Meylawati; Wahyuni Dwi Rahayu
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 1 No. 4 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/bwnakq94

Abstract

Keluhan yang paling sering dirasakan saat menstruasi yaitu dismenorea. Darurat dari dismenorea pada umumnya kontraksi uterus tidak dirasakan, namun kontraksi yang hebat dan sering menyebabkan aliran darah ke uterus terganggu sehingga timbul rasa nyeri. Salah satu cara untuk mengatasi dismenorea dengan penerapan pemberian rebusan air jahe merah. Karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas rebusan air jahe merah untuk menurunkan nyeri menstruasi. Rancangan penelitian studi kasus deskriptif. Subjek yang diambil sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Subjek yang terdapat dalam studi kasus ini sebanyak 2 orang. Instrumen yang digunakan standar prosedur operasional (SPO) pemberian minuman jahe merah, format pengkajian gangguan reproduksi, lembar observasi skala nyeri, skala Numerical Rating Scale (NRS). Hasil studi kasus ini sebelum diberikan penerapan pemberian rebusan air jahe merah subjek 1 dengan skala nyeri 6 dan subjek 2 dengan skala nyeri 5. Setelah diberikan intervensi terjadi penurunan skala nyeri yang dirasakan yaitu subjek 1 dengan penurunan nyeri skala 2 dan subjek 2 dengan penurunan skala nyeri 1. Kesimpulan dari penelitian studi kasus ini menunjukkan bahwa rebusan air jahe merah dapat mengurangi nyeri pada saat menstruasi.  The most common complaint during menstruation is dysmenorrhea. The emergency of dysmenorrhea is generally not felt uterine contractions, but severe and frequent contractions cause blood flow to the uterus to be disrupted so that pain occurs. One way to overcome dysmenorrhea is by applying red ginger water decoction. This scientific paper aims to determine the effectiveness of red ginger water decoction to reduce menstrual pain. Descriptive case study research design. Subjects were taken according to the inclusion and exclusion criteria. There were 2 subjects in this case study. The instruments used were standard operational procedures (SPO) for giving red ginger drink, reproductive disorders assessment format, pain scale observation sheet, Numerical Rating Scale (NRS) scale. The results of this case study before being given the application of red ginger water decoction, subject 1 with a pain scale of 6 and subject 2 with a pain scale of 5. After being given the intervention, there was a decrease in the pain scale felt, namely subject 1 with a decrease in pain scale 2 and subject 2 with a decrease in pain scale 1. The conclusion of this case study research shows that red ginger water decoction can reduce pain during menstruation.  
Analisis  Pemberian Jus Stroberi Pada Remaja Dengan Anemia Terhadap Peningkatan Kadar Hemoglobin Di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Dirgantara Marsekal Suryadrma Suwarto, Nadhea; Meylawati, Luluk; Rahayu, Wahyuni; Suroso
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 1 No. 4 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/433kfv93

Abstract

Anemia terjadi ketika tubuh kekurangan hemoglobin yang diperlukan untuk membawa oksigen ke jaringan. Remaja perempuan merupakan salah satu kelompok yang berisiko lebih tinggi akibat anemia dibandingkan remaja laki-laki. Anemia berdampak dalam menghambat pertumbuhan remaja, kurang mencapai tinggi dan berat badan optimal, mengurangi kekuatan fisik dan produktivitas. Tujuannya untuk mengetahui pengaruh pemberian jus stroberi pada asuhan keperawatan gangguan reproduksi untuk meningkatkan kadar hemoglobin. Dalam penelitian ini menggunakan studi kasus deskriptif. Subjek dalam kasus ini sebanyak 2 orang yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Instrumen yang digunakan lembar informed consent, lembar pengkajian keperawatan, standar prosedur operasional pemeriksaan kadar hemoglobin, standar prosedur operasional pembuatan jus stroberi, lembar kontrol pemberian jus stroberi, dan lembar observasi Hemoglobin. Hasil studi kasus menunjukkan kadar hemoglobin sebelum pemberian jus stroberi pada subjek 1 adalah 9,5 gr/dL dan 8,1 gr/dL pada subjek 2. Setelah dilakukan intervensi terjadi kenaikan kadar hemoglobin pada subjek 1 menjadi 12,5 gr/dL dan 12,2 gr/dL pada subjek 2.  Kesimpulan hasil studi kasus ini adalah pemberian jus stroberi dapat meningkatkan kadar hemoglobin penderita anemia pada remaja perempuan. Diharapkan jus stroberi dapat berguna untuk menangani masalah anemia pada remaja perempuan selain dengan farmakologi.   Anemia occurs when the body lacks the hemoglobin needed to carry oxygen to tissues. Adolescent girls are a group that is at higher risk of anemia than adolescent boys. Anemia has an impact in inhibiting the growth of teenagers, not achieving optimal height and weight, reducing physical strength and productivity. The aim was to determine the effect of giving strawberry juice on nursing care for reproductive disorders to increase hemoglobin levels. This research uses a descriptive case study. The subjects in this case were 2 people who met the inclusion and exclusion criteria. The instruments used were informed consent sheets, nursing assessment sheets, standard operational procedures for checking hemoglobin levels, standard operational procedures for making strawberry juice, control sheets for administering strawberry juice, and hemoglobin observation sheets. The results of the case study show that the hemoglobin level before administering strawberry juice in subject 1 was 9.5 gr/dL and 8.1 gr/dL in subject 2. After the intervention, there was an increase in hemoglobin levels in subject 1 to 12.5 gr/dL. and 12.2 gr/dL in subject 2. This case study concludes that giving strawberry juice can increase the hemoglobin levels of anemia sufferers in adolescent girls. It is hoped that strawberry juice can be useful for treating the problem of anemia in adolescent girls apart from pharmacology.
Efektivitas Terapi Otot Progresif dalam Mengurangi Kram Otot pada Pasien Hemodialisa di RSAU Dr. Esnawan Antariksa Deannova, Farrel Chandra; Harwina Widya Astuti; Sinta Fresia
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 1 No. 4 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/v8gxcx87

Abstract

Gagal ginjal kronis adalah kondisi dimana peran ginjal menurun dan tidak dapat diperbaiki penyakit ini banyak diderita orang di dunia. Di Indonesia sendiri pada tahun 2018 terdapat 66.433 pasien baru. Salah satu terapi untuk penyakit gagal ginjal kronis adalah hemodialisa. Salah satu masalah yang kerap dirasakan oleh pasien hemodialisa adalah kram otot, sebanyak 46,9% pasien hemodialisa mengalami kram otot. Dalam mengurangi kram otot diperlukan teknik non-farmakologi, yaitu terapi otot progresif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskrisikan kram otot sebelum dan sesudah dilakukan Terapi Otot Progresif pada pasien yang menjalani hemodialisa di RSAU Dr. Esnawan Antariksa. Desain penelitian ini adalah deskriptif dengan studi kasus. Penelitian ini menggunakan 2 subyek penelitian. Instrumen penelitian ini dengan alat ukur yang digunakan adalah Cramp Questionnaire Chart. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat penurunan skor kram otot dengan klasifikasi kram sedang menjadi kram ringan. Kesimpulan penelitian ini adalah terapi otot progresif dapat menurunkan skor kram otot pada pasien yang menjalani terapi hemodialisa.    Chronic kidney failure is a condition where the function of the kidneys decreases and cannot be repaired. This disease affects many people in the world. In Indonesia alone, in 2018 there were 66,433 new patients. One of the therapies for chronic kidney failure is hemodialysis. One of the problems often experienced by hemodialysis patients is muscle cramps. As many as 46.9% of hemodialysis patients experience muscle cramps. To reduce muscle cramps, non-pharmacological techniques are needed, namely progressive muscle therapy. The aim of this study was to describe muscle cramps before and after Progressive Muscle Therapy in patients undergoing hemodialysis at RSAU dr. Esnawan Antariksa. This research design is descriptive with a case study. This study used 2 research subjects. The research instrument used for this research is the Cramp Questionnaire Chart. The results of this study showed that there was a decrease in muscle cramp scores with the classification of moderate cramps to mild cramps. The conclusion of this study is that progressive muscle therapy can reduce muscle cramp scores in patients undergoing hemodialysis therapy.
Implementasi Teknik Distraksi Audiovisual Terhadap Penurunan Kecemasan Saat Prosedur Injeksi Pada Anak Usia Prasekolah Renca Latifah; Dwi Ambarwati; Fitri Anggraeni
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 1 No. 4 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/yvb4wt76

Abstract

Ketakutan anak-anak yang paling sering ditemui terhadap rumah sakit biasanya disebabkan oleh perawatan yang mengganggu, termasuk prosedur suntikan. Anak-anak pada umumnya tidak suka disuntik karena akan selalu terasa sakit dan mungkin membuat mereka cemas. Salah satu strategi untuk mengurangi stres dan kecemasan adalah distraksi, yaitu mengalihkan fokus pasien ke hal lain dan membuatnya melupakan kekhawatirannya. Tujuan dilakukannya penelitian ini antara lain untuk mengetahui perbandingan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah diberikan teknik distraksi audiovisual menonton film kartun. Metode yang digunakan menggunakan metode studi kasus. Penelitian ini menggunakan lembar kuesioner Preschool Anxiety Scale (PAS). Pada penelitian ini, diambil 3 sampel penelitian dengan keterangan 2 laki-laki dan 1 perempuan dengan usia 3-6 tahun. Penelitian dilaksanakan di Ruang Parkit RSAU dr. Esnawan Antariksa, Halim Perdanakusuma. Hasil didapatkan bahwa tingkat kecemasan sebelum dan sesudah diberikan teknik distraksi berbeda. Setelah dilakukan teknik distraksi berupa menonton film kartun, didapati hasil bahwa kecemasan menurun. Masing-masing anak menunjukkan respon yang kurang baik atau negatif saat belum diberikan teknik distraksi, diantaranya yaitu menangis kencang, berteriak, menolak untuk diberikan tindakan injeksi, dan tidak mau berinteraksi dengan perawat. Setelah diberikan teknik distraksi, anak menunjukkan respon positif diantaranya yaitu, sudah mulai mau berinteraksi dengan perawat, sudah jarang menangis, jarang berteriak, dan sudah jarang menolak untuk diberikan injeksi.   Children's most common fear of hospitals is usually caused by intrusive treatments, including injection procedures. Children generally dislike injections because they always hurt and may make them anxious. One strategy to reduce stress and anxiety is distraction, which is shifting the patient's focus to something else and making him forget his worries. The purpose of this study, among others, is to determine the comparison of anxiety levels before and after being given audiovisual distraction techniques watching cartoons. The method used was a case study method. This study used the Preschool Anxiety Scale (PAS) questionnaire sheet. In this study, 3 research samples were taken with the information of 2 boys and 1 girl with ages 3-6 years. Research was conducted in the Parkit Room of RSAU Dr. Esnawan Antariksa, Halim Perdanakusuma. The results showed that the level of anxiety before and after being given distraction techniques was different. After the distraction technique was carried out in the form of watching a cartoon movie, it was found that anxiety decreased. Each child showed an unfavorable or negative response when not given the distraction technique, including crying loudly, screaming, refusing to be given an injection, and not wanting to interact with the nurse. After being given the distraction technique, the child showed a positive response, including starting to want to interact with the nurse, rarely crying, rarely yelling, and rarely refusing to be given injections.
Kesiapan Teknisi Awak Pesawat Udara Menghadapi Pajanan Bahan Toksik di Bandar Udara Subiakto, Yuli
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 1 No. 4 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/qekzjv96

Abstract

Transportasi udara merupakan sarana transportasi secara cepat ke daerah yang jauh.    Pada masa pandemi Covid-19 yang terjadi tahun 2020 sampai dengan pertengahan tahun 2022 terjadi penurunan jumlah penumpang dan barang, tetapi pasca pandemi Covid-19 tahun 2022 s.d 2023 terjadi peningkatnya jumlah penumpang dan barang domestik dan penerbangan internasional. Bandar udara sebagai area penyiapan pesawat udara dan pergerakan sarana transportasi pendukung terjadi polusi udara akibat pembakaran mesin pesawat dan transportasi pendukung.  Semakin banyaknya jumlah penerbangan di bandar udara berdampak terhadap peningkatan polutan berupa sisa pembakaran, sisa pelumas, sisa pembakaran bahan bakar berupa Karbon monoksida (CO), Hidrogen sianida (HCN), Natrium dioksida (NO2), Sulfur dioksida (SO2), dan bahan lain.  Kondisi tersebut berdampak terhadap kesehatan personel penerbangan khususnya teknisi awak pesawat. Efek tersebut dapat mengganggu kinerja dan kesehatan teknisi awak pesawat mulai dari gangguan pernafasan, gangguan mata, gangguan kulit, gangguan darah, gangguan saraf, gangguan sistem imun, kanker dll.   Teknisi awak pesawat diharapkan memiliki derajat kesehatan yang tinggi agar tidak mempengaruhi kinerja dan memiliki kesiapan yang tinggi dalam menyiapkan pesawat udara. Sehingga teknisi pesawat udara harus memiliki derajat kesehatan yang tinggi terbebas dari paparan bahan bakar, sisa bahan bakar, dan bahan pelumas pada saat mempersiapkan pesawat di bandar udara. Langkah yang disiapkan untuk mencegah paparan bahan toksik di bandar udara tersebut dilakukan langkah promotive, preventif, kuratif dan rehabilitative.  Air transportation is a means of transportation that is capable of moving people and goods quickly to distant areas.    During the Covid-19 pandemic which occurred in 2020 to mid-2022, there was a decrease in the number of passengers and goods, but after the Covid-19 pandemic in 2022 to 2023, there was an increase in the number of domestic passengers and international flights.    Airports as an area for preparing aircraft and the movement of supporting transportation means cause air pollution due to the combustion of aircraft engines and supporting transportation.  The increasing number of flights at airports has an impact on increasing pollutants in the form of combustion residue, lubricant residue, fuel combustion residue in the form of carbon monoxide (CO), hydrogen cyanide (HCN), sodium dioxide (NO2), sulfur dioxide (SO2), and other materials. This condition has an impact on the health of flight personnel, especially flight crew technicians.   These effects can interfere with the performance and health of flight crew technicians, ranging from respiratory problems, eye problems, skin disorders, blood disorders, nervous disorders, immune system disorders, cancer, etc.   Flight crew technicians are expected to have a high level of health so as not to affect performance and have high readiness in preparing the aircraft. Aircraft technicians must have a high level of health free from exposure to fuel, residual fuel and lubricants when preparing the aircraft at the airport.   The steps taken to prevent exposure to toxic materials at airports include promotive, preventive, curative and rehabilitative.
Evakuasi Medik Udara Gobal ( EMUG ) Sebagai Inovasi Transportasi Antarnegara dalam Penanganan Darurat Medis Mintoro Sumego
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 1 No. 4 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/74997n10

Abstract

Evakuasi Medik Udara Global (EMUG) merupakan salah satu solusi transportasi medis lintas negara yang menghadapi berbagai tantangan, seperti perbedaan regulasi penerbangan dan standar medis antarnegara. Ketidaksinambungan ini berpotensi menghambat efisiensi pelaksanaan EMUG, terutama dalam kondisi darurat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika dan tantangan pelaksanaan EMUG berdasarkan pengalaman nyata, termasuk operasi menggunakan Kontainer Medik Udara (KMU) TNI AU. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan mengumpulkan data dari dokumen kebijakan maskapai, pedoman medis penerbangan, serta regulasi internasional terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Commercial Stretcher Service pada penerbangan komersial menawarkan solusi yang ekonomis dan efisien dibandingkan air ambulance, dengan fasilitas medis setara, fleksibilitas bagasi, serta pendampingan keluarga. Namun, layanan ini memiliki tantangan, seperti waktu persiapan yang panjang, kondisi pasien yang harus stabil, dan kebutuhan penerbangan langsung tanpa transit. Kesimpulan penelitian menekankan pentingnya koordinasi antara pihak medis, maskapai penerbangan, dan otoritas terkait untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan pasien. Harmonisasi regulasi penerbangan dan standar medis diperlukan untuk meningkatkan efektivitas EMUG, baik untuk keperluan sipil maupun militer, sehingga layanan ini dapat berkontribusi pada pengembangan transportasi medis lintas negara yang berorientasi pada penyelamatan nyawa. Global Air Medical Evacuation (EMUG) is a cross-border medical transportation solution that faces various challenges, including differences in aviation regulations and medical standards between countries. This discontinuity potentially hampers the efficiency of EMUG, particularly in emergency conditions. This study aims to analyze the dynamics and challenges of EMUG implementation based on real-world experiences, including operations using the Indonesian Air Force’s Air Medical Container (KMU). A descriptive method was employed by collecting data from airline policy documents, aviation medicine guidelines, and related international regulations. The findings reveal that Commercial Stretcher Service in commercial flights provides an economical and efficient alternative to air ambulances, offering comparable medical facilities, flexible baggage options, and family accompaniment. However, this service also poses challenges, such as long preparation times, the requirement for patient stability, and the need for direct, non-stop flights. The study concludes by emphasizing the importance of coordination among medical teams, airlines, and relevant authorities to ensure patient safety and comfort. Harmonizing aviation regulations with medical standards is crucial to enhancing EMUG effectiveness for both civilian and military purposes, thereby contributing to the advancement of cross-border medical transportation focused on saving lives.  
Hubungan Perilaku Bullying dengan Kemampuan Interaksi Sosial pada Remaja Sihol, Anggiat; Sri Hunun Widiastuti; Sarti Oktarina Purba; Santa Maria Pangaribuan
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 1 No. 4 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/grbkre73

Abstract

Bully yang artinya menggertak, orang yang mengganggu orang lain yang lebih lemah. Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik yang terjadi antar individu dengan individu, individu dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok dimana dalam kegiatan ini saling mempengaruhi perilaku. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan perilaku bullying dengan kemampuan interaksi sosial pada remaja. Kole rasional dengan jumlah responden 188 yaitu siswa/I SMAN 24 Jakarta, menggunakan Analisa uji chi square. Perilaku bullying sebagian besar di SMAN 24 Jakarta adalah perilaku bullying dengan kategori tidak, kemampuan interaksi sosial Sebagian besar baik dan hasil chi square di dapatkan ada hubungan yang signifikan antara perilaku bullying dengan kemampuan interaksi sosial dengan nilai significance 0,001, dengan nilai p-value = 0,005. Pada kategori umur menunjukkan mayoritas responden umur 16-18 tahun, yaitu kelompok remaja tengah yang mendominasi dengan persentase mencapai (66,5%). Selain itu, sebagian besar responden dalam penelitian ini adalah perempuan dengan persentase (50,5%). Pada kategori perilaku bullying tidak (87,8%) dan pada kategori kemampuan interaksi sosial Sebagian besar baik (61,2%).   Bully which means to bully, a person who bullies others who are weaker. Social interaction is a reciprocal relationship that occurs between individuals with individuals, individuals with groups and groups with groups where in this activity they influence each other's behaviour. The purpose of the study was to determine the relationship between bullying behaviour and social interaction skills in adolescents. Rational colleges with a total of 188 respondents, namely students of SMAN 24 Jakarta, using chi square test analysis. Bullying behaviour mostly in SMAN 24 Jakarta is bullying behaviour with no category, social interaction ability is mostly good and the results of chi square obtained there is a significant relationship between bullying behaviour and social interaction ability with a significance value of 0.001, with a p-value = 0.005. The age category shows the majority of respondents aged 16-18 years, namely the middle adolescence group which dominates with a percentage reaching (66.5%). group dominates with a percentage reaching (66.5%). In addition, most of the respondents in this study were female with a percentage of (50.5%). At the category of bullying behaviour is not (87.8%) and in the category of social interaction skills, most of them are good (61.2%)
Hubungan Tingkat Kecerdasan Emosional (EQ) Dengan Kemampuan Komunikasi Terapeutik Mahasiswa Keperawatan Natasya Cindy; Sri Hunun Widiastuti; Lince Siringo Ringo
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 1 No. 4 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/cs5znj76

Abstract

Keperawatan adalah aktivitas pelayanan profesional yang merupakan bagian penting dari layanan kesehatan secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecerdasan emosional (EQ) dengan kemampuan komunikasi terapeutik mahasiswa keperawatan STIKes PGI Cikini. Dilaksanakan pada bulan Juni-Agustus 2024, melibatkan 83 responden dengan karakteristik jenis kelamin perempuan (91,3%), jenis kelamin laki-laki (8,7%) dan angkatan 53 (52,2%), angkatan 54 (47,8%). Tingkat kecerdasan emosional responden terbagi menjadi kategori sangat tinggi (58,0%), tinggi (36,2%), cukup (5,8%). Tingkat kemampuan komunikasi terapeutik terbagi menjadi kategori sangat tinggi (69,6%), tinggi (24,6%), cukup (5,8%). Responden dengan tingkat kecerdasan emosional pada kategori Sangat Tinggi memiliki tingkat komunikasi terapeutik pada kategori Sangat Tinggi sebanyak 40 responden (58.0%). Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif kuantitatif dengan melakukan pendekatan cross sectional, yaitu suatu penelitian yang mempelajari korelasi antara paparan atau faktor resiko (independen) dengan akibat atau efek (dependen), dengan pengumpulan data dilakukan secara serentak dalam satu waktu antara faktor risiko dengan efeknya. Analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat kecerdasan emosional dan kemampuan komunikasi terapeutik di kalangan mahasiswa keperawatan di STIKes PGI Cikini. Berdasarkan karakteristik 69 responden, sebagian besar adalah perempuan, dengan 63 responden (91,3%). Mayoritas responden juga berasal dari angkatan 53, yaitu sebanyak 36 responden (52,2%).   Nursing is a professional service activity which is an important part of overall health services. This study aims to determine the relationship between the level of emotional intelligence (EQ) and the therapeutic communication abilities of STIKes PGI Cikini nursing students. Carried out in June-August 2024, involving 83 respondents with characteristics of female gender (91.3%), male gender (8.7%) and class 53 (52.2%), class 54 (47.8 %). The level of emotional intelligence of respondents was divided into very high (58.0%), high (36.2%), fair (5.8%) categories. The level of therapeutic communication skills is divided into very high (69.6%), high (24.6%), sufficient (5.8%) categories. Respondents with a level of emotional intelligence in the Very High category had a level of therapeutic communication in the Very High category of 40 respondents (58.0%). The type of research used is quantitative descriptive research using a cross sectional approach, namely research that studies the correlation between exposure or risk factors (independent) and consequences or effects (dependent), with data collection carried out simultaneously at one time between risk factors. with the effect. Results: analysis shows that there is a significant relationship between the level of emotional intelligence and therapeutic communication skills among nursing students at STIKes PGI Cikini. Based on the characteristics of 69 respondents, the majority were women, with 63 respondents (91.3%). The majority of respondents also came from class 53, namely 36 respondents (52.2%).