cover
Contact Name
Juli Hadiyanto
Contact Email
julihadiyanto43@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalstandardisasi@gmail.com
Editorial Address
Gedung 1 BSN, KST BJ Habibie, Setu, Tangerang Selatan, Banten, 15314.
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Standardisasi
ISSN : -     EISSN : 23375833     DOI : 10.31153
Jurnal Standarisasi (hence JS) is a journal aims to be a leading peer-reviewed platform and an authoritative source of information. We publish original study or research papers focused on standardization policies, development of standards, harmonization of standards, implementation of standards (accreditation, certification, testing, metrology, technical inspection, pre and post market supervision, socio-economic impacts, etc.), standardization of standards, technical regulations, and aspects related to standardization that has neither been published elsewhere in any language, nor is it under review for publication anywhere.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 227 Documents
MAINTENANCE STRATEGY REVIEW (MSR) BASED ON ISO 14224:2016 IN INDONESIA OIL AND NATURAL GAS COMPANIES Setyoko, Ajun Tri; Nurcahyo, Rahmat; Adipraja, Aulia Sena; Budiono, Hendri Dwi Saptrioratri
JURNAL STANDARDISASI Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v26i1.1013

Abstract

The oil and gas industry is vital for Indonesia, and the safety and effectiveness of work in processing and exploring the oil and gas that operate in Indonesia must comply with existing regulations. This safety and effectiveness are inseparable from how the company maintains the assets and instruments used at the oil and gas production and exploration site. Maintenance of pipes and instruments for production is one of the company's most vital assets. In addition to having appropriate productivity, pipes and instruments must be maintained optimally so that maintenance costs do not exceed the value of the oil and gas production. This study's research subject is a natural gas refinery from an oil and gas company operating in the Madura Strait, East Java, Indonesia. The object of research limited to the company's piping system (pipeline system). This study uses a quantitative assessment using the calculated Mean Time Before Failure (MTBF) method and a qualitative assessment using the asset maintenance standard to  reveals how the maintenance cycle that has been implemented can be optimized. The author carried out a criticality assessment using Maintenance Strategy Review (MSR) to calculate the risk level of asset. This study found that 78 assets must be maintained in their maintenance cycle, two cash assets must be reduced in their maintenance cycle, and seven assets can be extended for their maintenance cycle. The two assets that need to be reduced in maintenance cycles are the shutdown valve asset that goes to the temporary pig receiver and the shutdown valve that goes to the HP flare header. An asset that can be extended its maintenance cycle is a transmitter for flow indicators. 
PENENTUAN NILAI ACUAN UJI BANDING ANTAR LABORATORIUM KALIBRASI UNTUK KALIBRASI MIKROPIPET BERDASARKAN KONSENSUS Renanta Hayu; Zuhdi Ismail
JURNAL STANDARDISASI Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v17i3.319

Abstract

AbstrakDalam uji banding antar laboratorium kalibrasi yang terakreditasi, nilai acuan yang digunakan umumnya dikeluarkan oleh laboratorium metrologi nasional yang bertindak sebagai laboratorium acuan. Tetapi dalam beberapa kasus uji banding, laboratorium metrologi nasional kemungkinan tidak dapat mengeluarkan nilai acuan untuk uji banding karena artefak yang digunakan berada pada level industri, sehingga harus dilakukan cara lain untuk menetapkan nilai acuan. Tulisan ini memaparkan penetapan nilai acuan uji banding berdasarkan konsensus dengan contoh kasus uji banding mikropipet pada nilai nominal 100 μL dan 500 μL menggunakan beberapa pendekatan statistik sebagai estimator. Estimator yang dipilih disesuaikan dengan kondisi data hasil uji banding. Untuk memvalidasi metoda yang digunakan, nilai acuan dari estimator yang dipilih dibandingkan dengan nilai hasil kalibrasi yang dikeluarkan Puslit Metrologi LIPI. Berdasarkan analisis En number diperoleh nilai 0,31 dan 0,21 untuk masing-masing nilai nominal, sehingga dapat disimpulkan bahwa metoda yang digunakan dapat dipertanggungjawabkan..Kata kunci: uji banding, nilai acuan, konsensus, mikropipet.AbstractIn the laboratory comparison between accredited calibration laboratories, generally the reference value used is issued by national metrology laboratory act as reference laboratory. But in some cases, the national metrology laboratory may not provide the reference value for comparisons because of artifacts that are used at the level of the industry, therefore it should be done by another way to determine the reference value. This paper describes the determination of the reference value based on consensus of micropipette laboratory comparison as example cases on the nominal value of 100 μL and 500 μL use several statistical approaches as an estimator. The selected estimator adapted to the conditions of laboratory comparison data. To validate the method used, the reference value of the selected estimator compared with the value of the calibration results issued by Research Center for Metrology LIPI. Based on the analysis of En number, values obtained were 0.31 and 0.21 for each of the nominal value, therefore it can be concluded that the method used is reliableKeywords: laboratory comparison, reference value, consensus, micropipette.
PERANCANGAN KERANGKA KERJA STANDAR PANGAN FUNGSIONAL UNTUK MEMBANTU PENYERAPAN KALSIUM Ellia Kristiningrum; Putty Anggraeni; Arini Widyastuti; Bety Wahyu Hapsari
JURNAL STANDARDISASI Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v21i1.733

Abstract

Kekurangan asupan kalsium akan memberikan resiko penyakit osteoporosis yang seringkali ditandai dengan berkurangnya massa tulang dan adanya perubahan mikroarsitektur jaringan tulang yang berakibat menurunnya kekuatan tulang dan meningkatnya kerapuhan tulang serta risiko terjadinya patah tulang. Pengembangan pangan fungsional di Indonesia sangat prospektif dan memiliki peluang dalam perdagangan ekspor, antara lain ke Jepang, Eropa, dan Amerika. Banyaknya penelitian dan pengembangan pangan fungsional yang terbukti dapat membantu penyerapan kalsium yang harus didukung dengan keberadaan SNI sehingga akan memberikan peluang pasar yang lebih besar dan stabil. Hambatan pada saat perumusan standar sering dihadapi pada tahap awal prosesnya karena kurangnya informasi tentang kebutuhan pemangku kepentingan dari perspektif yang berbeda yang dapat menyebabkan standar yang dirumuskan tidak diterima oleh konsensus. Jadi penting untuk mengetahui semua kebutuhan pemangku kepentingan dan mencari kesepakatan bersama untuk masing-masing pemangku kepentingan. Penelitian ini menggunakan metode FACTS (Framework for Analysis, comparison, and Testing of Standards). Metode ini menyediakan sarana untuk menganalisis, membandingkan dan menguji standar yang akan dikembangkan. Penelitian ini menghasilkan kerangka kerja yang dapat digunakan sebagai acuan pada saat penyusunan standar terkait pangan fungsional. Penelitian ini merekomendasikan penyusunan SNI istilah - definisi pangan fungsional dan SNI formula pangan fungsional untuk membantu penyerapan kalsium, yang didalamnya mengatur tentang tata cara klaim pangan fungsional.
KAJIAN PENERAPAN SNI PRODUK TEPUNG TERIGU SEBAGAI BAHAN MAKANAN Eddy Sapto Hartanto
JURNAL STANDARDISASI Vol 14, No 2 (2012): Vol. 14(2) 2012
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v14i2.97

Abstract

Tepung terigu bagi masyarakat Indonesia telah menjadi komoditas pangan kedua setelah beras, sehingga kebutuhan di masa mendatang akan semakin meningkat. Untuk memastikan produk tepung terigu di pasar memenuhi kualitas tepung terigu sebagai bahan makanan, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian telah mengeluarkan peraturan Nomor 49/M-IND/PER/7/2008, tentang Standar Nasional Indonesia (SNI 01-3751-2006) tepung terigu sebagai bahan makanan secara wajib. Dengan adanya revisi SNI 01-3751-2006 menjadi SNI 3751-2009, maka Menteri Perindustrian telah mengeluarkan peraturan Nomor 35/M-IND/PER/3/2011, tentang pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI 3751-2009) tepung terigu sebagai bahan makanan sebagai SNI wajib, yang mulai berlaku pada tanggal 22 Maret 2012. Studi ini dilakukan, untuk mengevaluasi dan melihat pelaksanaan peraturan standar tepung terigu. Hasil studi menunjukkan bahwa 93,99% contoh dari 366 contoh telah memenuhi syarat SNI 01-3751-2006 dan 95,85% dari 217 contoh telah memenuhi syarat SNI 3751-2009.
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PRODUK BERTANDA SNI DI KOTA DENPASAR, BANJARMASIN, MATARAM DAN MANADO Febrian Isharyadi; Suminto Suminto; Ari Wibowo
JURNAL STANDARDISASI Vol 19, No 1 (2017)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v19i1.440

Abstract

Dalam memenuhi kebutuhannya, masyarakat sebagai konsumen akan berusaha untuk mendapatkan suatu barang ataupun jasa yang terjamin keamanan dan keselamatannya.  Dalam meningkatkan kepercayaan konsumen, produsen akan menerapkan SNI untuk produk yang dihasilkandengan dibubuhkannya tanda SNI pada produk yang dihasilkan. Hal ini  untuk  memberikan kepercayaan bagi masyarakat bahwa produk yang dihasilkan memenuhi standar sehingga aman untuk dikonsumsi. Namun demikian, diperkirakan belum semua masyarakat Indonesia memiliki persepsi yang sama terhadap produk bertanda SNI. Oleh karena perlu diketahui persepsi masyarakat khususnya terhadap produk bertanda SNI dalam menjaga keselamatan, keamanan, kesehatan masyarakat dan kelestarian fungsi lingkungan hidup untuk memberikan gambaran mengenai pemahaman publik terhadap produk bertanda SNI. Penelitian ini dilakukan di 4 (empat) kota besar wilayah Indonesia bagian tengah yaitu Denpasar, Banjarmasin, Mataram dan Manado dengan teknik incidental sampling yaitu dengan melakukan wawancara kepada siapa saja masyarakat atau pengunjung yang sedang berbelanja di supermarket atau hypermarket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap produk bertanda SNI di empat kota tersebut (Denpasar, Banjarmasin, Mataram dan Manado) khususnya dalam hal keamanan, keselamatan, kesehatan dan lingkungan hidup sebagian besar telah baik (73.74%), namun hal tersebut masih perlu ditingkatkan karena masih ada beberapa masyarakat yang memiliki persepsi lain terhadap produk bertanda SNI. Untuk meningkatkan persepsi masyarakat terhadap produk bertanda SNI dapat dilakukan melalui pendidikan standardisasi sejak dini sehingga pemahaman masyarakat terhadap produk bertanda SNI akan lebih baik.
PENGENDALIAN HISTAMIN PADA RANTAI PROSES PRODUK IKAN TUNA BEKU EKSPOR Agung Santoso; Nurheni Sri Palupi; Harsi D Kusumaningrum
JURNAL STANDARDISASI Vol 22, No 2 (2020)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v22i2.814

Abstract

 Tuna adalah salah satu spesies scombridae yang memiliki bahaya keamanan pangan, yaitu histamin. Unit Pengolahan Ikan (UPI) mengendalikan bahaya histamin pada produk tuna yang dapat terjadi sepanjang rantai proses dengan menerapkan prinsip Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui variabel persyaratan penting pada rantai proses yang belum diterapkan dengan optimal oleh UPI yang dapat berkontribusi terhadap meningkatnya kandungan histamin pada produk tuna. Metode penelitian menggunakan survei terhadap penanggung jawab mutu UPI di Indonesia yang mengolah produk tuna beku ekspor. Data hasil survei dianalisis untuk perhitungan tingkat pemenuhan persyaratan, korelasi dan determinasi antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan variabel persyaratan yang belum dipenuhi secara optimal oleh UPI adalah bahan baku tuna yang diterima oleh UPI hanya berasal dari kapal yang sudah memiliki sertifikat Cara Penanganan Ikan yang Baik (CPIB). Tingkat pemenuhan persyaratan oleh UPI terhadap bahan baku hanya berasal dari kapal ikan yang memiliki sertifikat CPIB sebesar 29.89%. Persyaratan untuk bahan baku hanya berasal dari kapal ikan yang memiliki sertifikat CPIB berkorelasi positif terhadap UPI mensyaratkan sertifikat CPIB untuk kapal ikan pemasok bahan baku (Phi Correlation 0,509), dengan nilai determinasi sebesar 25.91%.  
IDENTIFIKASI KUALITAS PRODUK GENTENG KERAMIK PRODUKSI INDUSTRI KECIL DI WILAYAH ACEH, JAWA DAN NUSA TENGGARA BARAT BERBASIS STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) Arini Rasma; Apriani Setiati; Subari Subari
JURNAL STANDARDISASI Vol 13, No 2 (2011): Vol. 13(2) 2011
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v13i2.130

Abstract

Identifikasi kualitas produk genteng keramik dari beberapa perusahaan kecil di wilayah Jawa (Jatiwangi, Yogyakarta, Tulung Agung, Kebumen, Trenggalek, Serang), Aceh dan Nusa Tenggara Barat telah dilakukan dengan melakukan pengujian mutu produk sesuai dengan persyaratan Standar Nasional Indonesia (SNI), SNI 03-2095-1998 Genteng Keramik dan SNI 15-2134-1996 Genteng Keramik Berglasir serta kajian/analisis terhadap berbagai karakteristik teknis bahan baku genteng keramik untuk memperbaiki mutu genteng keramik. Penelitian dilakukan terhadap 16 produk genteng keramik tidak berglasir dan 7 produk genteng keramik berglasir. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa, genteng dengan kualitas paling baik yaitu genteng keramik tidak berglasir dengan kode Genteng A (kesesuaian dengan syarat mutu SNI 84,6 %) yang termasuk genteng ukuran kecil dengan jumlah genteng/m2Kata kunci: identifikasi produk, pengujian, syarat mutu, SNI terdapat 23 buah. Permukaan genteng cukup halus, tidak terdapat retak-retak dan bintik-bintik hitam, warna permukaan genteng merata, bentuk kurang seragam, pemasangan genteng di atas atap rapi dan baik. Panjang berguna 236 mm, lebar berguna 182 mm, jarak penutup memanjang dan melintang adalah 62 mm dan 34 mm, kaitan panjang; lebar dan tinggi adalah 36; 16 dan 8 mm, penyerapan air 11,81 % (mutu I) dan beban lentur 85 kgf (mutu III).
KEBUTUHAN STANDAR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN SUMBER ENERGI BARU (BIOGAS) Suminto Suminto; Danar Agus Susanto; Reza Lukiawan
JURNAL STANDARDISASI Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v15i1.654

Abstract

Saat ini energi menjadi persoalan yang krusial di dunia. Meningkatnya pertumbuhan populasi penduduk, pertumbuhan industri, dan transportasi menyebabkan terjadinya peningkatan permintaan akan kebutuhan energi. Konsumsi bahan bakar minyak yang seringkali tidak seimbang dengan jumlah produksinya mengakibatkan terjadinya defisit, sehingga kebutuhan harus dipenuhi dengan cara mengimpor bahan bakar minyak tersebut. Upaya untuk menurunkan angka pemakaian energi dapat dilakukan dengan beberapa langkah, antara lain melalui efisiensi energi, konservasi energi dan diversifikasi energi. Salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak adalah dengan pengembangan sumber energi alternatif melalui biogas sebagai pengganti bahan bakar minyak. Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan standar terkait dengan skema pengembangan energi biogas. Hasil kajian ini dapat digunakan sebagai masukan atau rekomendasi kepada pemerintah dalam rangka pengembangan sumber energi baru (biogas) yang sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal. Hasil yang dapat disimpulkan dari kajian ini yaitu Standar Nasional Indonesia yang ada belum cukup tersedia sehingga perlu pengembangan SNI terkait skema biogas agar dapat mendukung pegembangkan sumber energi baru (biogas).
Analisis senjata kimia melalui uji profisiensi organisation prohibition of chemical weapon (OPCW) Evita Boes; Dyah Styarini; Nuryatini Nuryatini; Harry Budiman
JURNAL STANDARDISASI Vol 11, No 1 (2009): Vol. 11(1) 2009
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v11i1.12

Abstract

Identification of some chemicals weapons in the water and organic sample has been carried out during 21th proficiency testing conducted by OPCW (Organisation Prohibition of Chemical Weapon). The samples were prepared and analysed in accordance with the principles describe in the work instructions for the preparation of test samples for OPCW proficiency test. The extract of samples were analysed and identified by GC-EI-MS, GCCI-MS, GC-FPD, GC-NPD and LC-MS. From 7 spiking chemical weapons introduced to water and organic sample, 3 spiking chemicals could be identified such as Bis(2,4,4 trimethylpentyl)methylphosphonate, 2-(N-Ethyl-N-isoprophylamino)etanol and Bis(2-diisoprophylaminoethyl)disulfide.
KESESUAIAN BATIK TULIS IKM BERDASARKAN SNI 08-0513-1989 Joni Setiawan; Vivin Atika; Titiek Pujilestari; Agus Haerudin
JURNAL STANDARDISASI Vol 20, No 1 (2018)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v20i1.618

Abstract

Kualitas batik tulis sangat beragam, ini didasarkan atas kehalusan ukuran canting tulis. Pengklasifikasian batik tulis didasarkan pada SNI 08-0513-1989 Cara uji batik tulis yaitu batik tulis halus, sedang dan kasar. Parameter yang diatur  dalam SNI tersebut adalah jumlah isen dan ukuran garis klowong. Penggunaan canting tulis di tiap daerah berbeda – beda sehingga akan menghasilkan kualitas yang berbeda. Penelitian ini bertujuan mengkaji kesesuaian produk batik tulis dari Yogyakarta, Pekalongan, Cirebon, Madura dan Lasem dengan persyaratan pada SNI 08-0513-1989. Sampel batik tulis didapatkan dengan metode purpossive sampling. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif yaitu jumlah isen dan ukuran garis klowong. Pertama – tama sampel batik tulis diambil gambar dengan mikroskup digital Dino-Lite AM-3013T pada enam lokasi yang berbeda yang mewakili garis klowong, isen (cecek dan sawut) dan diukur dengan aplikasi Dino Capture 2.0. Jumlah isen (cecek dan sawut) dihitung secara manual. Data hasil pengukuran menunjukkan bahwa ada ketidaksesuaian antara data hasil pengukuran dan perhitungan dengan persyaratan mutu SNI 08-0513-1989. Oleh karena itu perlu dipertimbangkan untuk merevisi SNI 08-0513-1989. 

Page 4 of 23 | Total Record : 227


Filter by Year

2005 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 2 (2014): Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 3 (2012): Vol. 14(3) 2012 Vol 14, No 2 (2012): Vol. 14(2) 2012 Vol 14, No 1 (2012): Vol. 14(1) 2012 Vol 13, No 2 (2011): Vol. 13(2) 2011 Vol 13, No 1 (2011): Vol. 13(1) 2011 Vol 13, No 3 (2011): Vol 12, No 3 (2010): Vol. 12(3) 2010 Vol 12, No 2 (2010): Vol. 12(2) 2010 Vol 12, No 1 (2010): Vol. 12(1) 2010 Vol 11, No 3 (2009): Vol. 11(3) 2009 Vol 11, No 2 (2009): Vol. 11(2) 2009 Vol 11, No 1 (2009): Vol. 11(1) 2009 Vol 10, No 3 (2008): Vol. 10(3) 2008 Vol 10, No 2 (2008): Vol. 10(2) 2008 Vol 10, No 1 (2008): Vol. 10(1) 2008 Vol 9, No 3 (2007): Vol. 9(3) 2007 Vol 9, No 2 (2007): Vol. 9(2) 2007 Vol 9, No 1 (2007): Vol. 9(1) 2007 Vol 8, No 3 (2006): Vol. 8(3) 2006 Vol 8, No 2 (2006): Vol. 8(2) 2006 Vol 8, No 1 (2006): Vol. 8(1) 2006 Vol 7, No 3 (2005): Vol. 7(3) 2005 Vol 7, No 2 (2005): Vol. 7(2) 2005 Vol 7, No 1 (2005): Vol 7(1) 2005 More Issue