cover
Contact Name
Juli Hadiyanto
Contact Email
julihadiyanto43@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalstandardisasi@gmail.com
Editorial Address
Gedung 1 BSN, KST BJ Habibie, Setu, Tangerang Selatan, Banten, 15314.
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Standardisasi
ISSN : -     EISSN : 23375833     DOI : 10.31153
Jurnal Standarisasi (hence JS) is a journal aims to be a leading peer-reviewed platform and an authoritative source of information. We publish original study or research papers focused on standardization policies, development of standards, harmonization of standards, implementation of standards (accreditation, certification, testing, metrology, technical inspection, pre and post market supervision, socio-economic impacts, etc.), standardization of standards, technical regulations, and aspects related to standardization that has neither been published elsewhere in any language, nor is it under review for publication anywhere.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 227 Documents
IMPLEMENTATION OF LABORATORY MEASUREMENT OF AIRBORNE SOUND INSULATION BASED ON ISO AND ASTM STANDARDS IN NATIONAL STANDARDIZATION AGENCY OF INDONESIA (BSN) Bondan Dwisetyo; Maharani Ratna Palupi; Fajar Budi Utomo; Chery Chaen Putri; Dodi Rusjadi; Ninuk Ragil Prasasti; Denny Hermawanto
JURNAL STANDARDISASI Vol 23, No 1 (2021)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v23i1.861

Abstract

The implementation of laboratory measurement of airborne sound insulation based on ISO and ASTM standards was carried out at SNSU BSN. The aim of this work to realize the measurement of airborne sound insulation for several sample tests, where the procedure of the test is performed according to the updated standard ISO 10140 and ASTM E90. Besides, the single number rating also is determined based on ISO 717-1 and ASTM E413. This measurement has been conducted in the two reverberation rooms using pressure method consist of measuring the sound pressure level, measuring the reverberation time, obtaining the sound reduction index (R) or sound transmission loss (STL), and determination of a single-number ratings of the samples test. From the results, some parameter requirements such as the frequency range and the rounding procedure of R or STL influence the measurement result slightly. Subsequently, the significant difference is obtained for the determination of single number rating in the shifting procedure of the reference curve.
KAJIAN STANDAR SATUAN UKURAN A. Rachman Mustar
JURNAL STANDARDISASI Vol 12, No 3 (2010): Vol. 12(3) 2010
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v12i3.153

Abstract

Kesepakatan CAFTA antara Cina dan negara-negara ASEAN termasuk Indonesia, telah menempatkan standar menjadi salah satu faktor penting dalam perdagangan antara Cina dan negara-negara ASEAN. Standar pengukuran menjadi penting karena sangat erat kaitannya dengan kegiatan penilaian kesesuaian seperti pengukuran, pengujian dan inspeksi. Di samping itu kesepakatan TBT (Technical Barrier to Trade) juga mendorong negara-negara anggota WTO (World Trade Organization) untuk menggunakan standar internasional sebagai basis dalam penerapan regulasi teknis. Oleh karena itu didalam perumusan suatu standar nasional harus harmonis dengan standar internasional. Untuk mengetahui sejauh mana standar SNI untuk satuan ukuran yang merupakan standar penting dalam kegiatan penilaian kesesuaian,harmonis dengan standar internasional dan perkembangan ilmu pengetahuan/teknologi terkait dengan CAFTA, telah dilakukan suatu kajian terhadap 20 SNI satuan ukuran yang terkait dengan pengukuran dan pengujian. Hasil kajian menunjukkan bahwa ke 20 SNI tersebut masih digunakan oleh pemangku kepentingan dan perlu direvisi untuk menghadapi CAFTA karena belum mengikuti cara penulisan yang benar sesuai dengan aturan internasional.
HUBUNGAN STANDAR PRODUK DENGAN INOVASI PRODUK PADA INDUSTRI ELEKTRONIK (Studi Kasus Pada Pt. Hartono Istana Teknologi) Aries Susanty; Arfan Bakhtiar; Diana Puspitasari; Karlina Arfiani
JURNAL STANDARDISASI Vol 11, No 3 (2009): Vol. 11(3) 2009
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v11i3.678

Abstract

Perkembangan teknologi dan persaingan global mendorong perusahaan untuk selalu mencari dan mengembangkan cara yang lebih efektif dan efisien dalam merancang, memproduksi, dan memasarkan berbagai jenis produk yang bermanfaat dengan harga terjangkau. Dalam hal ini, inovasi produk sangat diperlukan agar dapat bersaing dengan produk sejenis lainnya. Inovasi dilakukan dengan maksud menghasilkan suatu produk dengan tawaran baru yang menarik bagi konsumen. Seiring dengan perkembangan inovasi dan teknologi, standar pun diperlukan untuk menjamin performansi, kesesuaian, dan keamanan dari suatu produk yang dihasilkan maupun proses-prosesnya. Standar dapat menjadi sumber informasi bagi pelaksanaan inovasi dan juga dapat menjadi batasan apa saja yang dapat dan tidak dapat dilakukan. Penelitian ini memaparkan mengenai bagaimana kebijakan perusahaan dalam mengembangkan inovasi produknya, bagaimana kebijakan perusahaan dalam penggunaan standar produk tertentu, bagaimana peran perusahaan dalam perumusan standar produk yang digunakan, dan bagaimana hubungan standar produk dengan keberhasilan inovasi produk yang dilakukan perusahaan dalam konteks sebagai perusahaan elektronik nasional.
KAJIAN PENGEMBANGAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) BIDANG AGROBASED DALAM RANGKA ASEAN ECONOMIC INTEGRATION Muti Sophira Hilman; Ellia Kristiningrum
JURNAL STANDARDISASI Vol 7, No 2 (2005): Vol. 7(2) 2005
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v7i2.26

Abstract

Indonesia adalah negara agraris yang memiliki sumber daya alam pertanian, perkebunan, kelautan yang sangat memadai, dan Indonesia mempunyai nilai ekspor terbesar untuk produk agro based. Integrasi ekonomi ASEAN menetapkan 11 sektor prioritas ASEAN yang perlu di integrasikan, salah satunya adalah sektor agro-based product. Perkembangan ASEAN integration saat ini telah mengharuskan setiap negara ASEAN untuk menentukan program-program prioritas produk yang perlu diharmonisasikan standarnya, termasuk standar untuk produk agro-based. Kajian ini menganalisa tentang keberadaan SNI produk agro-based yang harus dirumuskan atau di kaji ulang dalam rangka pengembangan standar produk agro-based. Dari kajian ini dapat disimpulkan bahwa prioritas pengembangan SNI untuk produk agro-based dapat ditentukan berdasarkan pada nilai terbesar dari ekspor dan impor, selain itu juga berdasarkan value chain produk agro-based dan kesepakatan harmonisasi standar agro-based di ASEAN, dimana perkembangan SNI produk agro-based tidak hanya standar produk tetapi juga standar mengenai food safety, food higiene, dan labelling
Penentuan Titik Kritis Persyaratan pada SNI 8211:2015 dan Regulasi Teknis terkait Benih Tanaman Kelapa Sawit untuk Meningkatkan Produktivitas Utari Ayuningtyas; Febrian Isharyadi; Ary Budi Mulyono; Ellia Kristiningrum; Biatna Dulbert Tampubolon; Nur Tjahyo Eka Damayanti; Novin Aliyah; Daryono Restu Wahono; Nuri Wulansari; Rika Dwi Susmiarni
JURNAL STANDARDISASI Vol 24, No 1 (2022)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v24i1.964

Abstract

 Mutu benih sawit merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi produktivitas kelapa sawit. Terjadinya pemalsuan benih sawit atau benih yang tidak bersertifikat akan berdampak buruk bagi perkebunan kelapa sawit Indonesia, karena menyebabkan penurunan produktivitas benih kelapa sawit. Oleh sebab itu diperlukan penentuan titik kritis persyaratan atau tolok ukur untuk meningkatkan produktivitas benih kelapa sawit. Pada SNI 8211:2015 dan beberapa peraturan Kementerian Pertanian terdapat persyaratan atau tolok ukur yang masing-masing memiliki konteks yang mendukung perbaikan mutu benih kelapa sawit. Untuk dapat menentukan titik kritis dari persyaratan atau tolok ukur yang ditetapkan, maka dalam penelitian ini dilakukan penyandingan atau komparasi antara SNI dengan beberapa peraturan Kementerian Pertanian tersebut yang selanjutnya dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Berdasarkan hasil identifikasi dan analisis, tahapan dalam produksi benih kelapa sawit dibagi menjadi 4 bagian diantaranya tahapan pemuliaan, tahapan reproduksi benih, tahapan pemrosesan benih, dan tahapan pengecambahan benih. Dari masing-masing tahapan tersebut diperoleh titik kritis persyaratan atau tolok ukur yaitu pada tahapan pemuliaan terdapat 4 parameter kritis seperti pembentukan populasi dasar, prosedur pemuliaan, pengujian progeni, dan kriteria seleksi persilangan. Pada tahapan reproduksi benih terdapat 2 parameter kritis yaitu mating design dan reproduksi benih, dan kondisi fisik tanaman. Pada tahapan pemrosesan benih terdapat 2 parameter kritis yaitu unit persiapan benih, dan unit pengecambahan. Kemudian tahapan selanjutnya pengecambahan benih terdapat 1 titik kritis yaitu mutu fisiologis kecambah. Titik kritis persyaratan atau tolok ukur dari setiap tahapan tersebut jika dipenuhi dan diterapkan dengan baik dan benar akan meningkatkan produktivitas mutu benih unggul yang komersil dan berkualitas tinggi.
PENETAPAN SISTEM ACUAN DAYA AC UNTUK LABORATORIUM STANDAR NASIONAL BERDASARKAN STANDARD WATT CONVERTER Agah Faisal
JURNAL STANDARDISASI Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v17i1.287

Abstract

AbstrakPuslit KIM-LIPI telah mengembangkan suatu sistem pengukuran acuan daya AC untuk laboratorium standar nasional dengan ketelitian pengukuran yang lebih baik dari 75 ppm pada faktor cakupan 2 dan tingkat kepercayaan 95%. Sistem tersebut berbasis Standard Watt Converter (SWC), beban semu, dan digital DC voltmeter yang telah diketahui koreksinya melalui proses kalibrasi kepada standar yang dimiliki Lembaga Metrologi Nasional Australia (NMIA) dan Lembaga Metrologi Nasional Indonesia (Puslit KIM-LIPI). Metode perbandingan terhadap sistem acuan tersebut telah diterapkan pada suatu Unit Under Calibration (UUC) yang berupa power meter berketelitian tinggi. Hal ini dilakukan untuk menampilkan unjuk kerja sistem acuan daya AC dalam proses pengukuran koreksi pembacaan dari power meter. Hasil evaluasi pada titik-titik pengukuran 120 V, 5 A, dan 53 Hz menunjukkan bahwa koreksi pembacaan terbesar adalah 133 ppm. Nilai tersebut berkesesuian dengan kelas akurasi power meter ZERA RMM3001 yaitu 0,02% atau sebesar 200 ppm. Dari hasil unjuk kerja sistem pengukuran ini maka penetapan acuan daya AC untuk laboratorium standar nasional seperti Puslit KIM-LIPI mencukupi.Kata kunci: sistem pengukuran acuan, daya AC, standard watt converter, koreksi pembacaan, power meter.AbstractPuslit KIM-LIPI has developed an AC power reference measurement system for a national standard laboratory with a measurement precision better than 75 ppm at coverage factor 2 and confidence level 95 %. The system was based on the instruments of a standard watt converter, a phantom load, and a standard digital voltmeter, which the corrections of those readings are known by calibration processes to both National Metrology Institute of Australia (NMIA) and Puslit KIM-LIPI. The comparison method of the AC power reference system has been applied to the high precision power meter as a unit under calibration (UUC). This was done to show the measurement performance of AC power reference system in the process to find the reading correction of the power meter under calibration. The measurement evaluation at 120 V, 5 A, and 53 Hz showed that the worst reading correction was 133 ppm. That value was on the agreement with the class accuracy of ZERA RMM3001 power meter which is 0,02 % or 200 ppm. The performance of the measurement system indicated that the establishment of the ac power reference for a national standard laboratory such as Puslit KIM-LIPI was adequate.Keywords: reference measurement system, AC power, standard watt converter, reading correction, power meter.
EVALUASI INSTALASI POMPA AIR TENAGA SURYA DI INDONESIA DENGAN MENGGUNAKAN STANDAR IEC 62253-2011 Danar Agus Susanto; Utari Ayuningtyas; Hermawan Febriansyah; Meilinda Ayundyahrini
JURNAL STANDARDISASI Vol 20, No 2 (2018)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v20i2.687

Abstract

Water pumps using solar power have been widely applied in Indonesia, especially in remote areas with limited power and the difficulty of fuel oil. Installation of PATS for remote areas is very beneficial, both socially, economically and environmentally. However, PATS installed can not maximize its efficiency even can experience problems and system failures when installed, used and maintained not in accordance with the procedure. The International Electrotechnical Commission (IEC) has established the IEC 62253-2011 standard on Photovoltaic pumping systems - Design qualification and performance measurements. This standard can be used as guidance and procedure in PATS installation system, so the problems in PATS can be minimized. The purpose of this research is to mapping the problem of installation of PATS by using parameters in standard IEC 62253-2011. This research uses gap analysis method to find the gap between PATS installation in Indonesia with standard parameter of IEC 62253-2011. The result of research through gap analysis indicate that 51% aspect in IEC 62253-2011 is not fulfilled by user which enable decrease efficiency even PATS system failure, although actually all parameters in the IEC 62253-2011 standard may be possible. The biggest aspect that is not met is related to the availability of operating and maintenance handbook for the pump maintenance staff at the PV pumping site and maintenance handbook covering operation, repair and servicing. This makes it possible for operator ignorance to install, operate and maintain the system, so that human error becomes the most dominant factor in PATS system application. The PV generator becomes the product aspect that most not complies with standard with percentage of 71%, although there are 22 SNI about PV covering module, installation, testing and construction.
STANDARDISASI KLASIFIKASI DAN SIMBOL LAHAN PERKOTAAN DITURUNKAN DARI CITRA RESOLUSI SPASIAL TINGGI Wiweka Wiweka
JURNAL STANDARDISASI Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v16i1.74

Abstract

Standardisasi ektraksi citra resolusi tinggi di kawasan perkotaan merupakan kegiatan penelitian yang rumit dan menantang yang dihadapi oleh masyarakat penginderaan jauh, terutama dalam mengekstraksi pengenalan penggunaan lahan, seperti bangunan memiliki bentuk yang kompleks dan jenis atap yang terbuat dari berbagai komposisi material. Citra resolusi tinggi Quickbird yang digunakan dalam penelitian ini dapat menghasilkan peta tematik perkotaan 1:5.000, hal yang perlu diperhatikan dalam pengkelasan adalah akurasi atribut tematik, kelengkapan dan kualitas geometris. Dalam penelitian ini digunakan metoda intepretasi, delineasi manual dan survey toponimi, pemakaian metoda ini mempersyaratkan operator yang terlatih.Hasil dalam penelitian ini klasifikasi dan simbologi lahan perkotaan yaitu batas administrasi, sarana pendidikan,sarana kesehatan, sarana komersial, sarana industri/pergudangan, sarana tempat ibadah, sarana perkantoran dan pelayanan masyarakat, prasarana, penggunaan tanah.
KEBUTUHAN STANDAR METODE UJI, BAHAN ACUAN, DAN KOMPETENSI SDM BERBASIS BIOTEKNOLOGI DI SEKTOR AGROINDUSTRI Juli Hadiyanto; Bendjamin B.L; Himawan Adinegoro
JURNAL STANDARDISASI Vol 19, No 1 (2017)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v19i1.420

Abstract

Pengembangan standar berbasis bioteknologi pada sektor agroindustri dilakukan melalui peningkatan mutu laboratorium merupakan bagian infrastruktur standardisasi. Kondisi laboratorium bioteknologi di Indonesia yang diindikasikan di lapangan antara lain, metode uji, bahan acuan dan sebagian kompetensi SDM yang bekerja di laboratorium bioteknologi beragam. Penelitian ini dilakukan untuk memperkuat pengembangan metode uji, bahan acuan, dan standar SDM untuk  mendukung pengembangan lingkup akreditasi laboratorium bioteknologi di Indonesia. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan desk study dan FGD. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa beberapa acuan standar Internasional dapat dijadikan sebagai acuan dalam penembangan Standar Nasional Indonesia terkait deteksi GMO dan spesifik DNA  spesies antara lain, ISO 21569:2013 (Qualitative nucleic acid based methods), ISO 21570:2013 (Quantitative nucleic acid based methods), ISO 21571:2013 (Nucleic acid extraction), dan ISO 21572:2013 (Protein based methods), Selain itu, metode uji yang dikembangkan oleh European Union Laboratory for GM Food and Feed dan ENGL dapat digunakan sebagai rujukan dalam pengembangan SNI. Pengembangan bahan acuan pengujian GMO dan spesifik DNA dapat dirujuk dari Institute Materials and Measurements yang merupakan salah satu Joint Research Centre EURL-GMFF maupun LGC. InaCC di bawah Pusat Penelitian Biologi LIPI dapat dijadikan sebagai Bank RM sesuai skema yang dikonsepkan oleh KAN dilihat dari kesiapan dan kemampuannya. Beberapa rujukan standar SDM merujuk pada Peraturan bersama Kemendiknas dan Kepala BKN Nomor 02/V/PB/2010 dan Nomor 13 Tahun 2010 tanggal 6 Mei 2010 menjelaskan terkait dengan jabatan fungsional Pranata Laboratorium Pendidikan dan SKKNI bidang Jasa Pengujian Laboratorium merujuk poin MSL957014A mengenai Perform Moleculer Biology Tests Procedures.
A METHOD FOR CALIBRATING 10-TURN AND 50-TURN CURRENT COIL USING MULTIPRODUCT CALIBRATOR Hayati Amalia; Agah Faisal
JURNAL STANDARDISASI Vol 21, No 3 (2019)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v21i3.749

Abstract

This paper presents a traceable measurement method developed in the Laboratory of National Measurement Standards for Electricity and Time (NMS Lab for Electricity and Time) - National Standardization Agency of Indonesia for calibrating current coil in order to obtain correction and uncertainty estimation of the current coil windings number (N). Current coils as objects of this research were 10-turn and 50-turn current coil. Calibration was performed using standard multiproduct calibrator (MPC) and two auxiliary devices, current coil F-5500 and clamp meter F-337. Correction and uncertainty values of N current coil were evaluated for DC and AC supplied current using formulation developed based on principle of current division between current coil output and supplied current from MPC. Based on evaluation result analysis, the expanded uncertainties of this method span from 0.47% to 1.0% (when supplied by DC current) and from 0.57% to 1.1% (when supplied by AC current) for 10-turn current coil, and span from 0.44% to 0.65% (when supplied by DC current) and from 0.54% to 0.96% (when supplied by AC current) for 50-turn current coil. Moreover, it also showed that the largest uncertainty component came from current coil F-5500. Meanwhile, the largest correction for 10-turn current coil was obtained 1.2% at 10 A DC, and for 50-turn current coil was obtained -0.47% at 700 A AC. Verification of the calibration and evaluation methods had also been carried out and it indicated that the calibration and analysis methods developed can be used to examine the performance of the current coil.

Page 6 of 23 | Total Record : 227


Filter by Year

2005 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 2 (2014): Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 3 (2012): Vol. 14(3) 2012 Vol 14, No 2 (2012): Vol. 14(2) 2012 Vol 14, No 1 (2012): Vol. 14(1) 2012 Vol 13, No 2 (2011): Vol. 13(2) 2011 Vol 13, No 1 (2011): Vol. 13(1) 2011 Vol 13, No 3 (2011): Vol 12, No 3 (2010): Vol. 12(3) 2010 Vol 12, No 2 (2010): Vol. 12(2) 2010 Vol 12, No 1 (2010): Vol. 12(1) 2010 Vol 11, No 3 (2009): Vol. 11(3) 2009 Vol 11, No 2 (2009): Vol. 11(2) 2009 Vol 11, No 1 (2009): Vol. 11(1) 2009 Vol 10, No 3 (2008): Vol. 10(3) 2008 Vol 10, No 2 (2008): Vol. 10(2) 2008 Vol 10, No 1 (2008): Vol. 10(1) 2008 Vol 9, No 3 (2007): Vol. 9(3) 2007 Vol 9, No 2 (2007): Vol. 9(2) 2007 Vol 9, No 1 (2007): Vol. 9(1) 2007 Vol 8, No 3 (2006): Vol. 8(3) 2006 Vol 8, No 2 (2006): Vol. 8(2) 2006 Vol 8, No 1 (2006): Vol. 8(1) 2006 Vol 7, No 3 (2005): Vol. 7(3) 2005 Vol 7, No 2 (2005): Vol. 7(2) 2005 Vol 7, No 1 (2005): Vol 7(1) 2005 More Issue