cover
Contact Name
Ahmad Shafwan S. Pulungan
Contact Email
pulungan.shafwan@gmail.com
Phone
+6281370329288
Journal Mail Official
biosains@unimed.ac.id
Editorial Address
Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Medan Jl. Willem Iskandar Psr V Medan Estate, Sumatera Utara
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences)
ISSN : 24431230     EISSN : 24606804     DOI : https://doi.org/10.24114/jbio.v6i1
Jurnal Biosains (JBIO) features works of exceptional significance, originality, and relevance in all areas of biological science, from molecules to ecosystems, (ie genetic, microbiology, ecology, biosystematic, biostatistic) including works at the interface of other disciplines, such as chemistry, medicine,physic and mathematics. We also welcome data-driven meta-research articles that evaluate and aim to improve the standards of research in the life sciences and beyond. Our audience is the international scientific community as well as educators, policy makers, patient advocacy groups, and interested members of the public around the world.
Articles 269 Documents
DNA BARCODING EDELWEISS (Anaphalis longifolia) ASAL SUMATERA UTARA MENGGUNAKAN SEKUEN GEN maturase K Eko Prasetya; Hary Prakasa; Miftahul Jannah; Yuanita Rachmawati
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 6, No 3 (2020): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v6i3.22403

Abstract

Anaphalis longifolia merupakan anggota dari family Asteraceae yang tersebar di dataran tinggi Eropa, Amerika, hingga Asia. Penelitian tentang tanaman ini masih terbatas pada studi habitat, sedangkan penelitian terkait identifikasi molekuler masih belum dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis DNA barcode dari A. longifolia menggunakan sekuen matK gene. Sampel yang diperoleh dari Sumatera Utara kemudian di Isolasi DNA, di amplifikasi menggunakan primer spesifik, lalu disequencing. Hasil sequencing dianalisis menggunakan program Molecular Evolution Genetics Analysis (MEGA) Version X. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekuen matK gen berhasil diamplifikasi pada panjang 800-850 kb. Hasil analisis pohon filogenetik menunjukkan bahwa sekuen matK gene dapat mengelompokkan A. longifolia. Pada sekuen matK gene A. longifolia, AT content lebih tinggi dibandingkan dengan GC conten. Jarak genetik yang diperoleh berkisar 0-0.0014. Hasil analisis alignment sekuen matK gene menunjukkan terdapat 1521 karakter yang dapat diamati, 1403 karakter conserved site, 118 karakter variable site, 9 karakter parsimony informative site, dan 7 karakter single nucleotide polymorphism (SNP) site. Sekuen matK gene dapat digunakan sebagai DNA barcoding untuk mengidentifikasi A. longifolia. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi penting dalam konservasi A. longifolia.
ACTIVITY ETHANOL EXTRACT, ETHYLE ACETATE FRACTION, N-HEXAN FRACTION OF SOFO-SOFO LEAVES (Acmella cf) Against Propionibacterium acnes AND Staphylococcus epidermidis AS ANTIBACTERIES Eva Diansari Marbun; Alfi Sapitri; Vivi Asfianti
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 7, No 1 (2021): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v7i1.23492

Abstract

Sofo-sofo leaves are traditional medicinal plants that have been known by the Nias people to cure fever, coughs, diarrhea and antimicrobial infections on the skin surface. The  purpose  of  this  study  was  to determine the antibacterial activity of ethanol extract, n-hexane fraction and ethylacetate fraction Sofo-sofo leaf (Acmella cf) against Propionibacterium acnes and Staphylococcus epidermidis. Simplicia powder was characterized and phytochemical screening was performed. Furthermore, it was isolated using 96% ethanol solvent and fractionated with  n-hexane and ethylacetate to obtain extracts. Then test the antibacterial activity of each extract against Propionibacterium acne and Staphylococcus epidermidis by using a diffusion method disc paper. The research results obtained water content 5.66%, water soluble extract content 27.33%, ethanol soluble extract content 13.61%, total ash  content 14.39%, and  acid insoluble ash content 6.25%. The highest antibacterial activity was given by ethylacetate extract at a concentration of 2% (23.4 ± 0.2) compared to ethanol extract with a concentration of 2% (21.06 ± 0.85) and 2% concentrated n-hexane extract (19.36 ± 0.16) against the Propionibacterium acne bacteria. The highest antibacterial activity was ethyl acetate extract at a concentration of 2% (23.24 ± 0.23), ethanol extract with a concentration of 2% (16.36 ± 1.76) and n-hexane extract at a concentration of 2% (15.36 ± 0 , 11) against Staphylococcus epidermidis bacteria. The  antibacterial activity results were analyzed by the one way ANOVA test method. Based on these results it can be concluded that there are differences between treatment groups, which is indicated by a significant value <0.05.
TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT DI DESA TANAP KABUPATEN SANGGAU DAN PEMANFAATANNYA UNTUK PERAWATAN BAYI DAN PEREMPUAN PASCA PERSALINAN Yeni Mariani; Evy Wardenaar; Fathul Yusro
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 7, No 2 (2021): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v7i3.24876

Abstract

Tumbuhan obat memiliki beragam manfaat, satu diantaranya yaitu untuk perawatan bayi dan perempuan pasca persalinan. Tujuan penelitian yaitu menganalisis jenis-jenis tumbuhan obat yang ada di Desa Tanap dan pemanfaatannya oleh masyarakat untuk perawatan bayi dan perempuan pasca persalinan. Penelitian ini menggunakan metode survey berupa wawancara terhadap masyarakat dan hasil wawancara dibuktikan dengan identifikasi jenis tumbuhan dilapangan. Responden dipilih secara purposive dan dalam penelitian ini jumlah responden terpilih sebanyak 96 orang. Data hasil wawancara dianalisis berupa use value/UV, informant concensus factor/ICF dan fidelity level/FL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 32 jenis tumbuhan digunakan untuk perawatan bayi dan perempuan pasca persalinan. Tanaman dengan UV tertinggi antara lain sirih (1), kumis kucing (0,9) temulawak (0,75), cocor bebek (0,75), kembang sepatu (0,74), dan sahang (0,72). ICF tertinggi terdapat pada kategori menghentikan pendarahan (1), diikuti oleh kategori batuk pilek pada bayi, luka pusar pada bayi, melancarkan ASI dan mengobati keputihan dengan masing-masing nilai ICF 0,99. Tanaman dengan nilai FL tertinggi (100%) antara lain manjakani, asam gandis, dan perenggi (ibu pasca bersalin); perawas (tapal bayi), keminting (batuk pilek bayi), nangka (luka pusar bayi), cocor bebek, kumis kucing, kelapa, kelor, tekabu, meniran, dan kembang sepatu (demam pada bayi), mengkudu dan among-among (sakit perut dan kembung bayi), jantung pisang dan cangkok (melancarkan ASI), cina guri (melancarkan haid), sagu dan nanas (menunda kehamilan) dan simpur (menghentikan pendarahan).
KEANEKARAGAMAN JENIS UMBI-UMBIAN SEBAGAI PANGAN DI BEBERAPA WILAYAH PULAU BUTON S. Hafidhawati Andarias; Agus Slamet; Muhammad Ilsak
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 7, No 1 (2021): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v7i1.20131

Abstract

Umbi-umbian sebagai bahan pangan sumber karbohidrat telah lama dikenal dan dikonsumsi masyarakat, tumbuh subur di daerah tropis dan tidak menuntut iklim serta kondisi tanah spesifik. Umbi-umbian mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai bahan pangan alternatif (pengganti beras dan tepung terigu). Tanaman ini umumnya ditanam di lahan kering sebagai tanaman sela, khususnya ubi kayu dan ubi jalar yang telah dibudidayakan dengan skala luas. Masyarakat Pulau Buton banyak memanfaatkan umbi-umbian dalam pembuatan makanan tradisional seperti kasuami, tuli-tuli, epu-epu, roko-roko serta onde-onde (diolah dari ubi kayu yang diparut) dan kaopi (tepung). Hal inilah yang memungkinkan umbi-umbian menjadi salah satu jenis tanaman yang tetap dilestarikan di samping karena kondisi lingkungan di wilayah ini yang tidak terlalu subur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan sebaran umbi-umbian yang dimanfaatkan sebagai pangan oleh masyarakat di Pulau Buton. Metode eksplorasi dilakukan di empat wilayah yaitu Kota Baubau, Buton Utara, Buton Selatan, dan Kabupaten Buton untuk mengetahui jenis dan sebaran umbi-umbian dan wawancara dengan penduduk setempat guna mengetahui jenis umbi-umbian yang dapat dikonsumsi atau dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, dokumentasi, identifikasi, dan analisis karakter morfologi umbi. Identifikasi umbi-umbian mengacu pada Flora of Java karangan Backer, C.A. dan Bakhuizen van Den Brik dan Flora Sulawesi karangan Yuzammi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 10 jenis umbi-umbian yang dimanfaatkan sebagai pangan oleh masyarakat Pulau Buton.
DETECTION OF PIG DNA FRAGMENTS IN HALAL UNLABLED LIPSTICK SAMPLES USING CONVENTIONAL PCR Misbakhul Munir; Siti Malihatus Sa&#039;adah; Siti Latifa; Nabila Ayu; Oki Rahmatirta W; Najwa Maulidina P; Ameliora C E; Eko Prasetya; Yuanita Rachmawati
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 7, No 1 (2021): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v7i1.23707

Abstract

From a Muslim perspective, it is very important to know the content, raw materials, and processing of the raw materials used in the cosmetic products used. One type of cosmetics that is most often used is lipstick. However, many lipsticks circulating in Indonesia are not equipped with a halal logo. One of the ingredients for lipstick is pork derivatives. These pig derivatives can be detected using PCR. Based on this background, this study aims to test the presence of pig DNA in lipstick samples that have not been certified halal on the market using 4 combinations of pig DNA fragments coding primers by using the conventional PCR method. Five commercial lipstick samples were selected by purposive sampling. DNA isolation was carried out according to the Wizard Promega Universal Kit. The PCR process was carried out with temperature optimization as follows: Predenaturation 98oC: 2 minutes, denaturation of 95oC: 30 seconds, Annealing 61oC: 30 seconds, Extension 72oC: 40 seconds, and Postextension 72oC: 3 minutes. The results showed that of the 5 samples tested by PCR using 5 kinds of primer combination, none of the samples were suspected to contain pork DNA. DNA isolation is the most difficult step in the lipstick sample detection process. Even though the detection result is negative, it is necessary to carry out further tests which become the Gold Standard of DNA-based testing using Real Time PCR.
ISOLATION AND CHARACTERISATION OF Pb RESISTANT BACTERIA FROM MARINE SEDIMENT AFFECTED BY INCONVENTIONAL TIN MINING AT SAMPUR BEACH, BANGKA TENGAH DISTRICT Ina Miranti; Rahmad Lingga; Verry Andre Fabiani
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 7, No 2 (2021): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v7i3.24600

Abstract

Offshore tin mining can causes heavy metal contamination, one of which is lead (Pb) metal. Lead pollution can causes environmental damage and  toxic  to living organisms. One of the methods to reduce lead pollution was by bioremediation techniques. Resistant bacteria were potential to be used as bioremediation agent. This research aimed to determine the lead level in Sampur coastal waters and to obtain bacteria that have resistance to lead (Pb). The research method was purposive sampling to take a sample of water and sediment. The AAS test results indicated that the Pb level in seawater is higher than sediment. A normal sea water pH can caused the Pb solubility in the water to be stable. The Pb level in seawater was passed the established quality standards, so that potentially cause toxicity for the aquatic biota. The highest Pb levels in sediment was found in vicinity of tin mining activities area. The isolation results showed that the number of bacteria ranged from 11,105 – 34,105 CFU/g. The higher Pb levels in sediment causing the number of bacteria will be lower. There were 7 isolates that resistant of Pb 100 ppm and constitute bacteria from the genus Alcaligens, Meniscus, Neisseria, Erythrobacter, and Alteromonas.
VARIATIONS OF FEED AMOUNT AND DIFFERENT TEMPERATURES ON THE DEVELOPMENT OF BSF LARVAE DURING FOURTEEN DAYS OF REARED Trisno Haryanto; Eko Setiyono
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 7, No 1 (2021): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v7i1.21240

Abstract

Pertumbuhan larva Black Soldier Fly/BSF secara optimal dapat berlangsung selama 14 hari dengan kualitas dan kuantitas makanan yang ideal. Siklus hidup BSF dipengaruhi oleh media pakan dan temperatur. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi pemberian pakan dan temperatur terhadap perkembangan larva BSF. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan variasi komposisi pakan (100; 150; dan 200 mg/larva/hari) dan kombinasi temperatur dengan variasi 25oC; 27oC; 30oC: 35oC). Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga ada 36 unit percobaan. Data dianalisis mengunakan uji Kruskal Wallis pada taraf signifikansi 95%. Hasil penelitian menunjukkan pertambahan bobot dan panjang larva secara bertahap dipengaruhi oleh variasi jumlah pakan dan temperatur (P<0,05). Penambahan panjang dan bobot larva sangat berhubungan dengan adanya variasi jumlah pakan dan temperatur yang diberikan dalam perlakuan. Variasi jumlah pakan dan temperatur mempengaruhi perkembangan larva BSF (P<0,05). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa variasi jumlah pakan dan temperatur mempengaruhi perkembangan larva BSF. 
DETEKSI DAN PREVALENSI JENIS TELUR CACING FESES KUCING DI KOTA SURABAYA Hana Cipka Pramuda Wardhani; Indra Rahmawati; Marek Yohana Kurniabudhi
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 7, No 2 (2021): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v7i3.23777

Abstract

Salah satu pemicu infeksi parasit pada kucing adalah cara hidup dan sistem pemeliharaan yang kurang baik disamping faktor lain sebagai pendukung gangguan penyakit tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk Mengetahui jenis-jenis telur cacing apa saja yang terdapat pada feses kucing liar dan kucing peliharaan di kota Surabaya serta mengetahui tingkat kejadian infeksi cacing yang terdapat pada feses kucing liar dan kucing peliharaan di kota Surabaya. Jenis penelitian ini adalah observasional. Metode yang digunakan adalah pemeriksaan metode natif, pemeriksaan metode sedimentasi dan pemeriksaan metode apung. Total sampel yang digunakan dalam penelitian ini sejumlah 100 sampel feses, dengan ditambahkan pencatatan Historytical data. Dari jumlah sampel tersebut angka kejadian positif tertinggi ditemukan pada kucing liar sebanyak 26 (52%) dan kucing peliharaan sebanyak 4 (8%). Data ini menunjukkan bahwa prevalensi cacing pada kucing liar masih cukup tinggi dibandingkan dengan kucing peliharaan di kota Surabaya. Jenis telur cacing yang paling banyak ditemukan pada kasus kucing positif pada kucing liar adalah Toxocara cati sebanyak 18 sampel (83,4%) dan Ancylostoma sp sebanyak 12 sampel (91,7%). Hasil total pemeriksaan 100 sampel feses kucing didapatkan sebanyak 30 (30%) sampel positif ditemukan adanya telur cacing, dan sebanyak 70 (70%) sampel negative. Sehingga prevalensi kejadian kasus infeksi cacing pada kucing di kota Surabaya sebanyak 30%.
SPECIES OF FLIES LARVAE IN MICE (Mus musculus L.) WITH DISLOCATION, POISONED, AND BEHEADED TREATMENT IN BEDOYO, PONJONG, GUNUNGKIDUL Ichsan Luqmana Indra Putra; Nuri Dwi Astuti
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 7, No 2 (2021): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v7i3.23942

Abstract

Flies are insects that are often used in the field of forensic entomology as an indicator for determining the length of time of death (Post Mortem Interval). This study aims to determine the types and abundance of flies that come to the carcass of mice (Mus musculus L.) in several outdoor treatments. The research was conducted in an open area of 21 x 24 m in Bedoyo Village, Ponjong District, Gunung Kidul. There were 3 treatment groups, namely neck dislocation, poisoning and decapitation. Neck dislocation was performed by pulling the neck of the mice to death. Poisoned by using a sonde filled with 1 mL of liquid mosquito repellent and put into the digestive system of the mice. Beheading was done by cutting the neck of the mice. Place each carcass 2.5 meters apart. The collection of fly larvae was carried out every 2 days for 8 days. The fly larvae obtained were then identified up to the species level morphologically. The data obtained will be analyzed by inferential descriptive analysis. There are 3 species found on the carcass, namely Chrysomya megacephala, Chrysomya rufifacies, and Sarcophaga haemorrhoidalis. The highest abundance waslarvae with S. haemorrhoidalis 139 tails and the lowest C. rufifacies with 14 tails. The conclusion of this study is that each treatment given will bring fly larvae with different species and abundances.
ANALISIS HUBUNGAN KEKERABATAN Drosophila sp. (LALAT BUAH) DARI TUBAN, KEDIRI, DAN TULUNGAGUNG BERDASARKAN INDEKS SIMILARITAS DAN DENDOGRAM Maisuna Kundariati; Abdul Rasyid Fakhrun Gani; Jefti Salma Pratiwi
JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 7, No 1 (2021): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jbio.v7i1.20448

Abstract

Keanekaragaman jenis Drosophila sp. terdistribusi luas di dunia. Hal penting yang mendasari keanekaragaman tersebut adalah bentuk dan ukuran tubuhnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kekerabatan Drosophila sp. (lalat buah) dari Tuban, Kediri, dan Tulungagung. Penelitian ini merupakan penelitian ekspos fakto (expost facto research) yang dilakukan  dengan cara mengamati ciri morfologi masing-masing daerah yaitu Tuban, Kediri, dan Tulungagung. Selanjutnya dilakukan analisis kesamaan ciri morfologi yang diperoleh dengan indeks similaritas dan disajikan dalam bentuk dendogram untuk mengetahui kekerabatan antar jenis Drosophila sp. dari ketiga daerah tersebut. Hasil pada penelitian ini adalah berdasarkan morfometriknya Drosophila sp. dari daerah Kediri dan Tulungagung memiliki hubungan kekerabatan lebih dekat dibandingkan dengan Drosophila sp. dari daerah Tuban. Didapatkan hasil indeks similaritas antara daerah Kediri dan Tulungagung adalah  0,961 sedangkan indeks similaritas antara daerah Tuban dengan kedua daerah tersebut adalah 0,872. Keragaman Drosophila dari ketiga daerah dipengaruhi oleh jarak antar daerah dan suhu wilayah yang mempengaruhi gen, gene flow, dan rekombinasi.

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 11 No. 3 (2025): JURNAL BIOSAINS Vol. 11 No. 2 (2025): JURNAL BIOSAINS Vol. 11 No. 1 (2025): JURNAL BIOSAINS Vol. 10 No. 3 (2024): JBIO : JURNAL BIOSAINS (THE JOURNAL OF BIOSCIENCES) Vol 10, No 2 (2024): JBIO : JURNAL BIOSAINS (THE JOURNAL OF BIOSCIENCES) Vol. 10 No. 2 (2024): JBIO : JURNAL BIOSAINS (THE JOURNAL OF BIOSCIENCES) Vol 10, No 1 (2024): JBIO : JURNAL BIOSAINS (THE JOURNAL OF BIOSCIENCES) Vol. 10 No. 1 (2024): JBIO : JURNAL BIOSAINS (THE JOURNAL OF BIOSCIENCES) Vol. 9 No. 3 (2023): JBIO : Jurnal Biosains (The Journal of Biosciences) Vol 9, No 3 (2023): JBIO : Jurnal Biosains (The Journal of Biosciences) Vol 9, No 2 (2023): JBIO : Jurnal Biosains (The Journal of Biosciences) Vol 9, No 1 (2023): JBIO : Jurnal Biosains (The Journal of Biosciences) Vol 8, No 3 (2022): JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 8, No 2 (2022): JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 8, No 1 (2022): JBIO: jurnal biosains (the journal of biosciences) Vol 7, No 3 (2021): Jurnal Biosains Vol 7, No 2 (2021): Jurnal Biosains Vol 7, No 1 (2021): Jurnal Biosains Vol 6, No 3 (2020): Jurnal Biosains Vol 6, No 2 (2020): Jurnal Biosains Vol 6, No 1 (2020): Jurnal Biosains Vol 5, No 3 (2019): Jurnal Biosains Vol 5, No 2 (2019): Jurnal Biosains Vol 5, No 1 (2019): Jurnal Biosains Vol 4, No 3 (2018): Jurnal Biosains Vol 4, No 2 (2018): Jurnal Biosains Vol 4, No 1 (2018): Jurnal Biosains Vol 3, No 3 (2017): Jurnal Biosains Vol 3, No 2 (2017): Jurnal Biosains Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Biosains Vol 2, No 3 (2016): Jurnal Biosains Vol 2, No 2 (2016): Jurnal Biosains Vol 2, No 1 (2016): Jurnal Biosains Vol 1, No 3 (2015): Jurnal Biosains Vol 1, No 2 (2015): Jurnal Biosains Vol 1, No 1 (2015): Jurnal Biosains Vol 1, No 2 (2013): Bio Hasil Review Fauziyah Harahap More Issue